Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah hingga hari ini, Jumat (9/1/2026). Bergerak melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.829 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.798 per dolar AS. Salah satu sentimen yang akan menekan rupiah terhadap kurs dolar AS yakni inflasi.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menilai, perlemahan rupiah ini terjadi karena faktor global, pasca-invasi AS ke Venezuela. Belum lagi, ada ketidakpastian suku bunga dari The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS.
“Perlemahan rupiah di awal tahun 2026 lebih dipengaruhi oleh faktor global risiko geopolitik setelah AS menginvansi Venezuela dan ketidakpastian arah suku bunga the Fed,” ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat, 9 Januari 2026.
Ia mengatakan, kondisi dalam negeri juga memberikan sumbangsih pelemahan rupiah. Yakni, fiskal pemerintah dalam kondisi defisit anggaran 2,9%. Sementara thereshold untuk defisit anggaran adalah 3%.
Menurut Rully, tren peningkatan inflasi ini akan terjadi sepanjang 2026. Terlebih, inflasi barang impor, listrik, dan BBM juga akan menambah sumbangsihnya.
“Dan trend peningkatan inflasi yang diperkirakan masih akan terus berlanjut di 2026,” ucapnya.
“Betul (bisa terjadi sepanjang tahun ini) trend peningkatan inflasi masih akan berlanjut disumbang oleh inflasi barang impor dan harga-harga yang dikendalikan pemerintah terutama listrik dan BBM,” ia menambahkan.
Kurs Dolar Menguat, Rupiah Melemah ke Rp 16.829 per Dolar AS
Sebelumnya, kurs dolar terhadap rupiah kembali menguat pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, 9 November 2026. Nilai tukar rupiah tercatat melemah 31 poin atau 0,18 persen ke level Rp 16.829 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.798 per dolar AS.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5170214/original/048710600_1742596937-20250322-Penukaran_Uang-ANG_3.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)