Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor mineral dan batu bara (minerba) mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56% lebih tinggi dari target APBN 2025.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan, capaian tersebut diperoleh meskipun kondisi pasar komoditas global sedang fluktuatif, termasuk batu bara, nikel, ataupun minyak dan gas bumi (migas).
“Di saat harga komoditas lagi jatuh, batu bara harganya tidak terlalu menggembirakan, serta beberapa komoditas yang lain, tapi alhamdulillah kerja dari Kementerian ESDM menunjukkan pencapaian target PNBP di sektor minerba mencapai 108,56%,” ujar Bahlil, Kamis (8/1/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan, target PNBP sektor minerba dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN dipatok sebesar Rp127,44 triliun. Namun, realisasi di lapangan justru menembus angka Rp138,37 triliun.
Bahlil menegaskan bahwa capaian ini merupakan buah dari kerja keras dan inovasi di internal kementerian.
Berbeda dengan sektor minerba, PNBP di sektor minyak dan gas bumi (migas) menghadapi tantangan besar akibat dinamika harga minyak mentah dunia.
Bahlil menjelaskan bahwa realisasi pendapatan migas tercatat sebesar Rp105,4 triliun atau sekitar 83% dari target yang ditetapkan sebesar Rp125 triliun.
Menurutnya, kendala utama bukan berasal dari volume produksi, melainkan selisih harga pasar dengan asumsi makro.
“Lifting kita berada di angka 605.300 barel per hari. Namun, dalam APBN asumsi harga ICP [Indonesian Crude Price] kita adalah US$82 dolar, sementara kenyataannya rata-rata harga minyak sejak Januari hingga Desember hanya di kisaran US$68 dolar AS,” jelasnya.
Penurunan harga minyak dunia yang cukup signifikan tersebut berdampak langsung pada perolehan pendapatan negara dari sektor migas, meskipun target lifting secara volume tetap diupayakan tercapai.
“Alasannya sekali lagi karena asumsi di APBN harga ICP itu US$82 tapi riilnya US$68. Lifting tercapai, tapi harga memang lagi turun,” pungkasnya.
