Bisnis.com, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kelangkaan susu UHT yang ramai diperbincangkan di media sosial X.
Pasalnya, warganet mengeluhkan tidak tersedianya susu UHT kemasan di media sosial X. Dalam unggahan foto tersebut tertulis bahwa pasokan produk susu UHT tengah terkendala dari pemasok. Alhasil, ritel tersebut membatasi pembeli membeli susu tersebut.
Berdasarkan penelusuran Bisnis, stok susu UHT kemasan tetap tersedia di sejumlah gerai ritel modern. Tidak ada pembatasan pembelian.
Salah satu pegawai di Indomaret, Parung Panjang, Jawa Barat mengatakan bahwa para Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membeli susu UHT dengan volume jumbo, terutama saat malam hari.
“Sudah sebulan yang lalu [SPPG membeli susu UHT kemasan], kemarin belanja sampai Rp2 juta. Beli yang dus isi 1 liter sama yang [ukuran] kecil. Datangnya malam, itu yang dari Griya kalau nggak salah [SPPG],” katanya saat ditemui Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Tak jauh dari sana, pantauan Bisnis di Alfamart, Parung Panjang, Jawa Barat juga terdapat susu UHT kemasan. Pegawai di ritel tersebut menyebut kadang kala stok susu kosong meski tak tahu apa penyebabnya.
Senada, stok susu UHT kemasan juga terpampang di rak salah satu gerai Alfamart Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Menanggapi hal itu, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menegaskan stok susu UHT di ritel modern masih tersedia. Dia menilai para SPPG yang membeli susu UHT kemasan di gerai ritel justru memberikan efek berganda.
“Ya benar kan ada stok [susu UHT di ritel], ya nggak langka? Kalau malam dibeli [SPPG] kan senang dong tokonya jadi laku, kalau laku pabriknya nambah volume, berarti tenaga kerjanya tambah,” ujar Nanik kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Nanik menjelaskan, susu UHT saat ini memang menjadi salah satu komponen dalam program MBG. Kendati demikian, dia menyatakan BGN sebenarnya lebih mengutamakan penggunaan susu segar. Namun, keterbatasan distribusi dan risiko keamanan pangan membuat susu segar belum bisa digunakan secara luas.
“Sebenarnya kami maunya susu segar, tetapi susu segar kalau mau didistribusikan kita terbentur pada waktu, misalnya tidak boleh lebih 3–4 jam di suhu ruangan, artinya harus dalam kondisi dingin. Nah ini kalau nggak demikian, susunya rusak dan malah bisa keracunan anak-anak,” jelasnya.
Selain persoalan distribusi, Nanik menuturkan keterbatasan produksi susu segar dalam negeri juga menjadi faktor utama.
Dia menjelaskan, tidak semua wilayah memiliki peternakan sapi perah. Di sisi lain, distribusi dari daerah sentra produksi membutuhkan infrastruktur logistik yang belum merata.
Menurut Nanik, saat ini produksi susu segar nasional baru mencapai sekitar 1 juta liter per tahun. Jika dikemas, jumlah tersebut setara dengan sekitar 8 juta kemasan. Angka itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan MBG secara nasional.
“Kalau dibagi per SPPG dapatnya 2.700 SPP itu hanya satu kali. Kita sekarang 19.188 SPP, berarti kan ada 17.000 SPPG yang tidak bisa terpenuhi, itu pun dengan asumsi sekali diberi dalam setahun,” ungkapnya.
Untuk itu, BGN membuka peluang penggunaan susu segar, khususnya jika peternak lokal mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menyediakan sistem pengemasan serta distribusi yang aman.
