Ponorogo (beritajatim.com) – Meski angka kejadian kebakaran di Kabupaten Ponorogo menunjukkan tren menurun sepanjang 2025, faktor kelalaian manusia masih menjadi penyebab dominan terjadinya peristiwa kebakaran. Korsleting listrik hingga aktivitas pembakaran yang tidak diawasi dengan baik tercatat sebagai pemicu utama dalam sebagian besar kasus.
Data Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Ponorogo mencatat, sepanjang 2025 terjadi 61 kejadian kebakaran. Jumlah ini turun signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 100 kejadian atau turun sekitar 40 persen.
Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Ponorogo, Bambang Supeno, mengungkapkan bahwa kebakaran rumah warga masih mendominasi kasus kebakaran sepanjang tahun lalu. Dari total kejadian, sekitar 30 peristiwa atau hampir separuh merupakan kebakaran bangunan rumah.
“Selain rumah, kebakaran juga banyak terjadi pada lahan atau bambu, totalnya 13 kejadian,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Bambang menjelaskan, puncak kejadian kebakaran terjadi pada September 2025. Dalam satu bulan tersebut, tercatat 13 kejadian kebakaran, tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.
Meski jumlah kejadian kebakaran menurun, nilai kerugian yang ditimbulkan masih tergolong besar. Bambang menyebutkan, total kerugian akibat kebakaran sepanjang 2025 di Kabupaten Ponorogo mencapai miliaran rupiah, terutama pada kejadian kebakaran berskala besar.
“Kerugian bisa sangat besar, apalagi kalau yang terbakar kandang ayam seperti yang pernah terjadi di wilayah Jenangan dan Balong beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Dari sisi penyebab, Bambang menegaskan bahwa faktor kelalaian manusia atau human error masih menjadi pemicu utama kebakaran di Ponorogo. Bentuk kelalaian tersebut antara lain korsleting listrik, penggunaan peralatan elektronik yang tidak standar, serta aktivitas pembakaran yang tidak diawasi.
Sebagai upaya pencegahan, Damkar Ponorogo terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat desa. Edukasi dilakukan secara masif dengan melibatkan pemerintah desa guna meningkatkan kesadaran warga terhadap bahaya kebakaran.
“Kami aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah desa untuk memberikan edukasi tentang bahaya kebakaran dan cara pencegahannya,” ungkapnya.
Selain kebakaran bangunan dan lahan, Satpol PP dan Damkar Ponorogo juga menangani kebakaran kendaraan. Sepanjang 2025, tercatat empat kejadian kebakaran kendaraan yang berhasil ditangani oleh petugas.
Dengan tren penurunan jumlah kejadian kebakaran tersebut, Satpol PP dan Damkar Ponorogo berharap kesadaran masyarakat terus meningkat. Upaya pencegahan berbasis perubahan perilaku dinilai menjadi kunci utama agar risiko kebakaran dan besarnya kerugian dapat ditekan lebih jauh di tahun-tahun mendatang. [end/beq]
