21 Warga Binaan Lapas Kelas I Malang Jalani Asimilasi Untuk Ketahanan Pangan

21 Warga Binaan Lapas Kelas I Malang Jalani Asimilasi Untuk Ketahanan Pangan

Malang (beritajatim.com) – Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) dilakukan Lapas Kelas I Malang di halaman Museum Pendjara Lowokwaru, pada Senin, (5/1/2026) kemarin. Sidang TPP dianggap sebagai langkah percepatan pelaksanaan program ketahanan pangan Pemasyarakatan Jawa Timur..

Sebanyak 28 warga binaan diajukan dalam sidang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pembinaan di pusat ketahanan pangan SAE L’SIMA Ngajum, Kabupaten Malang. Para napi ini dinilai layak mengikuti program asimilasi di luar Lapas Kelas I Malang.

“Ini menjadi bagian dari strategi awal tahun Lapas Malang dalam mengoptimalkan peran SAE sebagai pusat pembinaan produktif. Sidang berlangsung dengan mengedepankan prinsip objektivitas dan akuntabilitas,” kata Kalapas Malang, Teguh Pamuji, Selasa, (6/1/2026).

Dari 28 warga binaan, sebanyak 21 warga binaan dinyatakan memenuhi persyaratan administratif dan substantif setelah melalui pembahasan dan penilaian seluruh anggota TPP. Warga binaan yang disetujui tersebut selanjutnya akan menjalani asimilasi di luar lapas dengan melaksanakan pembinaan sekaligus bekerja di SAE L’SIMA Ngajum.

Penempatan dilakukan secara terukur sesuai minat dan kemampuan warga binaan pada berbagai bidang kegiatan. Bidang tersebut meliputi sektor pertanian, perikanan, hingga peternakan yang menjadi fokus pengembangan SAE. Proses seleksi ini bertujuan memastikan keberlangsungan program berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Sidang TPP ini adalah percepatan awal tahun agar program ketahanan pangan di SAE L’SIMA Ngajum dapat segera berjalan maksimal dengan dukungan sumber daya manusia yang siap,” ujar Teguh.

Teguh mengatakan SAE terus didorong menjadi pusat pembinaan yang produktif dan berdampak nyata. Menurutnya keterlibatan warga binaan dalam berbagai sektor di SAE juga menjadi sarana pembinaan kemandirian yang terarah.

“Kami ingin SAE tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga pusat kontribusi nyata Pemasyarakatan bagi ketahanan pangan,” ujar Teguh. (luc/ian)