Jakarta (beritajatim.com)- Bencana alam hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra tidak hanya menyisakan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga membuka ancaman serius lain yang kerap luput dari perhatian yakni perdagangan orang dan migrasi tidak aman.
Caritas Indonesia (KARINA KWI) mengeluarkan peringatan dini berupa seruan kepada pemerintah dan masyarakat sipil agar meningkatkan kewaspadaan terhadap praktik-praktik eksploitasi manusia di wilayah pascabencana, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan pemantauan langsung para staf dan relawan Caritas Indonesia di lapangan, banyak warga terdampak kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, anggota keluarga, hingga dokumen penting seperti kartu identitas dan ijazah. Kondisi ini membuat warga berada dalam situasi psikologis yang rapuh trauma, bingung, dan putus asa yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku perdagangan orang.
“Dalam situasi seperti ini, tawaran bantuan berupa uang, pekerjaan, relokasi, bahkan adopsi anak bisa menjadi pintu masuk praktik perdagangan orang,” ujar Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk dalam siaran pers Selasa (6/1/2026).
Ia juga menyatakan jika isu perdagangan orang bukan semata persoalan satu lembaga.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Negara harus hadir memberikan perlindungan hukum, dan masyarakat sipil perlu terlibat aktif mencegah eksploitasi,” ujarnya.
Anggota Komite Migran dan Anti-Perdagangan Orang Caritas Indonesia, Dinna Prapto Raharja, mengingatkan sejumlah modus yang perlu diwaspadai masyarakat seperti memainkan emosi korban yang sedang kehilangan, serta menjanjikan pekerjaan, pendidikan, atau dokumen resmi untuk berpindah ke daerah lain.
“Korban sering didesak untuk bertindak cepat, diisolasi dari lingkungan sekitar, dan dibuat tidak sempat melakukan pengecekan kepada otoritas,” jelas Dinna.
Hal senada disampaikan Romo Chrisantus Paschalis, pendamping pastoral migran di Batam. Menurutnya, wilayah pascabencana kerap menjadi sasaran empuk calo dan sindikat.
“Proses pemulihan yang memakan waktu panjang membuat masyarakat rentan tergiur tawaran keluar dari wilayah bencana tanpa prosedur yang aman,” katanya.
Caritas Indonesia menekankan pentingnya pengawasan ketat di lokasi pengungsian dan rumah-rumah warga terdampak agar tidak dimasuki pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Suster Laurentina SDP mengingatkan bahwa korban sering kali tidak menyadari sedang dijebak.
“Di sinilah peran media menjadi sangat penting untuk menyebarluaskan kewaspadaan akan bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret pencegahan, Caritas Indonesia membuka hotline pelaporan dugaan perdagangan orang dan migrasi tidak aman bagi warga terdampak bencana di Sumatra.
Selain itu, Caritas Indonesia bersama jaringan keuskupan di Medan, Sibolga, dan Padang juga melakukan sosialisasi bahaya perdagangan orang serta mendorong pemerintah menjadikan isu ini sebagai program prioritas Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di wilayah pascabencana.
Berdasarkan laporan situasi Caritas Indonesia per 3 Januari 2026, bencana hidrometeorologi di tiga provinsi Sumatra berdampak pada lebih dari 3,3 juta jiwa, dengan sekitar 1 juta orang mengungsi. Jumlah korban meninggal mencapai 1.157 orang, sementara ribuan lainnya luka-luka dan ratusan ribu rumah mengalami kerusakan.
Dalam merespons situasi tersebut, Caritas Indonesia bersama jaringan keuskupan telah menyalurkan dukungan material dan pendampingan psikososial bagi puluhan ribu warga terdampak. [aje]
