Di dalam negeri, pasar properti masih berjuang dan tekanan deflasi meningkat karena bisnis memangkas harga untuk mempertahankan pelanggan yang menghadapi prospek pendapatan yang suram.
Huang dan rekan-rekannya juga melihat peluang bagi PBOC untuk memangkas suku bunga kebijakan lebih lanjut dan mengarahkan bank untuk menurunkan Suku Bunga Dasar Pinjaman (Loan Prime Rate) guna membantu memperkuat ekspektasi pertumbuhan nominal yang lebih kuat, yang merupakan kunci bagi laba perusahaan.
Mereka menyarankan bank sentral untuk mempertahankan fleksibilitas yuan yang “cukup” guna menyerap guncangan eksternal di masa mendatang.
Meskipun demikian, Guo, yang pernah menjabat sebagai wakil kepala departemen kebijakan moneter PBOC, tidak yakin bahwa Tiongkok akan memangkas suku bunga di bawah nol, dengan alasan potensi tekanan terhadap laba bank dan ketidakstabilan keuangan.
“PBOC memiliki lebih banyak instrumen untuk digunakan selain suku bunga negatif,” ujarnya dalam sebuah pengarahan daring. Ia memberikan contoh langkah-langkah “kuasi-fiskal” yang bertujuan mendorong pengeluaran di area-area yang ditargetkan, seperti instrumen Pinjaman Tambahan Terjanji (Pledged Supplemental Lending) yang digunakan bank sentral Tiongkok untuk mendukung pasar properti yang melambat satu dekade lalu.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4347728/original/078479900_1678087557-20230306-Ekonomi-China-AP-5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)