Lailatulqadar, Malam Penuh Keutamaan dan Keberkahan

Lailatulqadar, Malam Penuh Keutamaan dan Keberkahan

Malam Lailatulqadar adalah malam yang paling mulia dalam Islam. Malam ini disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan memiliki keutamaan luar biasa dan sangat misterius. Setiap tahun, kaum muslim di seluruh dunia menantikan datangnya malam Lailatulqadar dengan  penuh harap karena diyakini malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. 

Ulama berbeda pendapat mengenai peristiwa terjadinya malam Lailatulqadar, Sebagian ulama mengatakan malam tersebut terjadi sejak awal Ramadan. Ulama lain mengatakan akan turun pada 10 hari terakhir Ramadan dan sebagain berpendapat terjadi pada malam ganjil dalam setiap akhir Ramadan. Perbedaan pendapat ini membuat umat muslim serius mencari keutamaan dan keberkahan setiap malam dari bulan penuh berkah ini. 

Hakikat keistimewaan malam tersebut bukan hanya karena diturunkannya Al-Qur’an sebagai kalamullah, juga limpahan rahmat, ampunan (maghfirah), dan keberkahan  yang menyertai bulan suci ini. 

Artikel ini membahas keutamaan Lailatulqadar berdasarkan tafsir Al-Qur’an dalam perspektif ulama tafsir disertai hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang  menjelaskan tanda-tanda atau ciri-ciri hadirnya malam tersebut dan bagaimana umat Islam dapat  meraihnya. 

A. Makna dan keutamaan Lailatulaadar dalam Al-Qur’an 

Majalah al-buhus al-islamiyah menyebutkan kalimat Lailatulqadar diambil dari bahasa Arab,  Lailah artinya malam, sedangkan qadar. yaitu masdar bermakna qada’ dan hukum (ketetapan). Secara eksplisit dalam surat Al-Qadr (97:1-5), Allah Swt berfirman.”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatulaadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari  seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk  mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” 

Dari ayat-ayat di atas, dapat dipahami beberapa keutamaan Lailatulqadar: 

1. Malam diturunkannya kalamullah Al-Qur’an Al-Karim

Lailatulqadar adalah malam diturunkannya kitab suci umat Islam, Al-Qur’an, kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril alaihi salam. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya status malam tersebut dalam sejarah  Islam. 

2. Lebih Baik daripada Seribu Bulan 

Allah Swt menjelaskan kalamnya bahwa ibadah yang dilakukan pada malam tersebut lebih utama daripada ibadah selama malam seribu bulan, yaitu setara dengan sekitar 83 tahun.  Ini menunjukkan betapa besar pahala yang bisa diraih seorang muslim dalam satu malam.  Kemuliaan yang sangat besar ini ditawarkan dan diberikan Allah Swt kepada para hambanya yang senantiasa mencari dan menjalankannya. 

3. Turunnya malaikat dan Jibril alaihi salam

Para malaikat turun ke bumi pada malam tersebut untuk menyampaikan rahmat dan keberkahan bagi orang-orang yang beribadah. Turunnya para malaikat adalah bukti malam tersebut sangat luar biasa dan mulia di sisi-Nya. Pemantauan para malaikat langsung ke bumi menjadikan bumi semakin berkah dan mulia karena turunnya makhluk Allah yang super dalam ketaatannya. Para ulama menjelaskan pengalaman mereka yang penuh kedamaian hingga fajar. Lailatulqadar dipenuhi ketenangan, kesejahteraan, dan keberkahan hingga fajar menyingsing. 

Selain dalam surat Al-Qadr, Allah juga menyebutkan malam mulia ini dalam surat Ad Dukhan. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.  Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.” Ayat ini menunjukkan betapa mulianya momen ini. Ayat ini menegaskan bahwa Lailatulqadar adalah malam yang diberkahi karena Allah Swt menetapkan dan memberikan takdir  bagi makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. 

B. Penjelasan ulama tafsir 

Para ulama tafsir memberikan berbagai penjelasan mengenai keutamaan Lailatulaadar, di  antaranya: 

1. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa malam itu disebut Lailatulqadar karena memiliki kemuliaan dan keagungan yang luar biasa. Ia juga menyebutkan bahwa pada malam itu, ketentuan-ketentuan Allah ditetapkan untuk satu tahun ke depan, termasuk rezeki, ajal, dan kejadian-kejadian lainnya.

2. Imam al-Qurthubi juga menafsirkan bahwa keberkahan malam tersebut bukan hanya terkait dengan turunnya Al-Qur’an, juga dengan rahmat dan ampunan yang diberikan Allah kepada  hamba-Nya yang beribadah dengan penuh keikhlasan. 

3. Imam al-Razi dalam tafsirnya menekankan bahwa Lailatulqadar adalah malam ketika doa-doa dikabulkan dan dosa-dosa diampuni. Ia juga menyoroti makna “lebih baik dari seribu bulan” sebagai bentuk kemurahan Allah dalam memberikan pahala yang luar biasa kepada hamba-Nya.

C. Argumentasi Lailatulqadar dalam hadis Nabi Muhammad SAW 

Selain dalam kitab suci al-Qur’an, keutamaan Lailatulqadar juga disebutkan dalam banyak hadis Nabi Muhammad SAW. Beberapa di antaranya yaitu:  

1. Malam ampunan dosa 

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa yang menghidupkan Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang  telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim) 

2. Tanda-tanda Lailatulqadar 

Dalam hadis lain, Nabi menyebutkan beberapa tanda malam tersebut, yaitu udara terasa sejuk dan tidak panas. Matahari pada pagi harinya terbit tanpa sinar (cahaya) yang menyilaukan. Malamnya terasa damai dan penuh ketenangan. 

3. Mencari atau menggapai Lailatulqadar pada 10 malam terakhir Ramadan

“Carilah Lailatulqadar pada 10 malam terakhir pada Ramadan, terutama pada  malam-malam ganjil.” (HR Bukhari) 

Hadis ini menunjukkan Lailatulqadar terjadi di antara malam-malam ganjil dalam 10 hari terakhir Ramadan, meskipun tanggal pastinya tidak disebutkan secara eksplisit. Para ulama menjelaskan bahwa banyaknya perbedaan pendapat kapan terjadinya malam Lailatulqadar bertujuan membuat umat muslim lebih khusyuk beribadah setiap hari dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. 

D. Refleksi dan kesimpulan

Lailatulqadar adalah malam yang penuh berkah dan rahmat. Malam tersebut memberikan kesempatan bagi setiap muslim untuk mendapatkan pahala besar dan ampunan dari Allah Swt.  Untuk meraih keutamaan pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan untuk: 

1. Meningkatkan ibadah mereka dan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir.  
2. Memperbanyak doa. Salah satu doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk  malam tersebut adalah,”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka ampunilah aku). Ulama Aswaja sering mengamalkan  doa ini dalam ritual mereka. 
3. Melakukan iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4. Menghidupkan malam dengan amal saleh, memperbanyak sedekah, berbuat baik kepada sesama, dan meningkatkan amal kebajikan dan perbuatan positif lainnya semampu dan sekuatnya. 

Sebagai umat Islam dan umat nabi terakhir, umat muslim sebaiknya tidak menyia-nyiakan kesempatan meraih kemuliaan malam tersebut. Dengan beribadah penuh keikhlasan,  kesungguhan, dan keteguhan, semoga umat muslim dapat meraih pahala yang lebih baik daripada seribu bulan dan mendapatkan ampunan serta rahmat dari Allah Swt.