Warga Kavling DKI Meruya Tolak Sodetan Air, Khawatir Jadi Langganan Banjir
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Warga di kawasan permukiman Jalan Kavling DKI, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, menolak rencana pembuatan sodetan air ke lingkungan mereka.
Penolakan tersebut dipicu kekhawatiran warga terhadap potensi banjir akibat pengalihan jalur pembuangan air dari proyek perumahan Pacific Garden Puri.
Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk berukuran besar di kawasan permukiman.
Spanduk tersebut menyuarakan penolakan atas rencana pengalihan aliran air yang dinilai berisiko bagi lingkungan Kavling DKI.
Ketua RT 04 RW 06 Meruya Selatan, Fajar Aridwianto, mengatakan warga tidak menolak pembangunan secara umum.
Namun, rencana pembuatan
sodetan air
ke wilayah mereka menjadi persoalan serius.
“Sebenarnya kita enggak ada masalah dengan adanya pembangunan. Hanya pada waktu mereka punya rencana untuk melakukan sodetan dari saluran ke sini, makanya kita mempersoalkannya,” ucap Fajar kepada wartawan di lokasi, Kamis (15/1/2026).
Menurut Fajar, posisi tanah perumahan yang baru dibangun tersebut berada sekitar satu meter lebih tinggi dibandingkan permukiman Kavling DKI.
Kondisi ini membuat warga khawatir lingkungan mereka akan menjadi penampungan air kiriman.
“Jadi kalau aliran air masuk ke saluran RT 04, yang terjadi kita berubah dari RT yang kering jadi embung. Air pasti mengalir ke bawah,” kata Fajar.
Kekhawatiran serupa disampaikan Jimmy, salah satu warga setempat. Ia menyebut dampak pembangunan sudah mulai dirasakan warga, terutama saat musim hujan.
“Sekarang lingkungan permukiman kami kebanjiran, kalau dulu enggak. Bisa sebetis orang dewasa,” ungkap Jimmy.
Jimmy menjelaskan, saluran air di sepanjang jalan memang dibangun oleh Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA).
Namun, ia meragukan kapasitas saluran tersebut untuk menampung limpasan air dari perumahan yang posisinya lebih tinggi.
“Kalau umpama dibuat sodetan dari saluran air ini kemudian memaksa dibuat, ya perumahan itu datarannya lebih tinggi bila dibandingkan lingkungan kami. Jadi air imbasnya bisa ke lingkungan permukiman kami,” tambah Jimmy.
Fajar mengungkapkan, keresahan warga diperparah oleh proses perencanaan yang dinilai tidak melibatkan pengurus lingkungan setempat.
Ia menyebut sempat ada aktivitas pengukuran di sekitar Jalan Cemara, tak jauh dari permukiman Kavling DKI.
“Ada pihak-pihak yang datang langsung ke Jalan Cemara. Itu satu jalan dari sini. Mereka melakukan pengukuran, melakukan semacam coretan-coretan dari pilox merah di tanah,” kata Fajar.
Saat itu, Fajar menyebut pihak Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA), kelurahan, serta pengembang hadir di lokasi.
Namun, kegiatan tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan kepada pengurus RT maupun warga.
“Tapi ironisnya warga tidak tahu, apalagi saya sebagai Ketua RT. Saya seperti angin, tidak dianggap ada orang di situ,” keluh Fajar.
Ia menambahkan, pihaknya telah menyurati sejumlah instansi Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui Lurah Meruya Selatan, namun tidak mendapatkan respons.
“Akhirnya warga memutuskan untuk melaporkannya langsung kepada Kegubernuran. Jadi langsung ke Pak Pramono,” ucap Fajar.
Surat tersebut juga ditembuskan ke sekitar 15 instansi terkait, termasuk DPRD DKI Jakarta, sebagai bentuk keseriusan warga menolak rencana sodetan air.
“Usaha itu yang kita lakukan. Tapi warga masih sangat marah, akhirnya mereka memasang spanduk penolakan sodetan,” tutur Fajar.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, membenarkan adanya rencana pembuatan sodetan air di wilayah tersebut.
Purwanti menjelaskan, sodetan tersebut dirancang sebagai solusi untuk menangani genangan di kawasan Kompleks DPA dan DPR yang lokasinya tidak jauh dari Kavling DKI.
“Pembuatan sodetan merupakan salah satu jalur alternatif untuk mengatasi genangan di Komplek DPA dan DPR yang diakibatkan oleh pembangunan perumahan di hilir komplek tersebut,” ujar Purwanti saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Kamis.
Namun, ia menegaskan bahwa aktivitas di lapangan saat ini masih sebatas tahap awal.
“Saat ini kami baru melakukan pengukuran untuk melihat elevasi saluran yang ada saat ini,” jelas Purwanti.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Warga Kavling DKI Meruya Tolak Sodetan Air, Khawatir Jadi Langganan Banjir Megapolitan 15 Januari 2026
/data/photo/2026/01/15/6968ddb811916.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)