TRIBUNNEWS.COM, MYANMAR – Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Myanmar, Jumat (28/3/2025) menewaskan setidaknya 144 korban.
Sementara korban terluka mencapai 730 orang, kata kepala pemerintahan militer Myanmar pada Jumat malam.
Kematian juga dilaporkan di Thailand, dikutip dari CNN.
Gempa bumi tersebut mengguncang sebagian besar wilayah Asia Tenggara, mengirimkan getaran yang mengerikan melalui desa-desa terpencil di tengah perang saudara Myanmar hingga ke gedung-gedung pencakar langit yang mewah di ibu kota Thailand yang padat lalu lintas, Bangkok.
Getaran bahkan terasa di seberang perbatasan di Provinsi Yunnan yang terpencil dan bergunung-gunung di barat daya China.
Bencana alam ini mendorong junta militer negara itu untuk mengajukan permohonan bantuan internasional yang jarang terjadi.
Setelah menutup negara itu dari dunia luar selama empat tahun perang saudara, Min Aung Hlaing–pemimpin pemerintahan militer Myanmar–mengumumkan keadaan darurat dan mengeluarkan “undangan terbuka bagi organisasi dan negara mana pun yang bersedia datang dan membantu orang-orang yang membutuhkan di negara kita,” seraya menambahkan jumlah korban kemungkinan akan bertambah.
Dengan listrik dan internet yang padam di beberapa bagian Myanmar, permintaan bantuan Hlaing yang tak terduga merupakan ukuran kehancuran yang ditimbulkan gempa bumi di negara yang telah diubah oleh junta militernya menjadi negara paria.
Upaya penyelamatan kemungkinan besar akan sangat bervariasi antara kedua negara.
Myanmar, salah satu negara termiskin di Asia, memiliki rekam jejak yang panjang dan bermasalah dalam menanggapi bencana alam besar.
Sebaliknya, negara tetangga Thailand jauh lebih makmur dan menjadi tujuan wisata utama, dengan tim penyelamat yang berpengalaman dan memiliki sumber daya yang baik. (CNN)