Tukang Ramal Kota Tua Bertahan di Tengah Modernitas: Boleh Percaya, Boleh Tidak
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Di bawah langit mendung yang menyelimuti kawasan wisata Kota Tua Jakarta, denyut aktivitas warga dan wisatawan tetap terasa di Jalan Pintu Besar Utara, Senin (12/1/2026). Kawasan bersejarah itu terus hidup, meski cuaca tak sepenuhnya bersahabat.
Langkah kaki para pengunjung berpadu dengan bunyi kamera ponsel yang sesekali terdengar, merekam potongan-potongan sejarah yang melekat pada bangunan kolonial berusia ratusan tahun.
Di tengah lalu-lalang wisatawan yang berjalan santai di atas ubin batu abu-abu, tampak deretan penyedia jasa unik yang telah lama menjadi bagian dari lanskap budaya Kota Tua.
Mereka duduk berjejer di kursi plastik, membuka lapak sederhana di selasar bangunan tua, menawarkan jasa yang di era digital kerap dianggap tak lagi relevan: membaca garis tangan dan meramal nasib.
Salah satunya adalah Dede (60), pembaca garis tangan yang telah 25 tahun menggantungkan hidupnya di kawasan Kota Tua.
Ia membuka praktik tepat di bawah naungan bangunan kolonial ikonik, menawarkan jasa konsultasi bagi mereka yang mencari jawaban atas misteri hidup, atau sekadar ingin didengarkan di tengah laju modernitas kota.
Lapak Dede tampak mencolok dibandingkan kios cendera mata di sekitarnya. Spanduk kuning terang terbentang di belakangnya, dipenuhi ilustrasi anatomi telapak tangan.
Spanduk tersebut merinci berbagai kategori konsultasi, mulai dari nasib, peruntungan, pekerjaan, hingga urusan jodoh. Di sudutnya, sebuah jargon terpampang jelas, “Boleh Percaya Boleh Tidak.”
Kalimat itu seolah menjadi penanda sikap Dede terhadap profesinya. Ia tidak memaksa keyakinan, juga tidak mengeklaim kebenaran mutlak.
“Kalau percaya, silakan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa,” ujar Dede saat ditemui
Kompas.com
di lapaknya.
Dede duduk tenang mengenakan baju koko hitam-putih dan penutup kepala tradisional khas Betawi.
Raut wajahnya kalem, gerak-geriknya terukur. Ia menyambut siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk wisata Kota Tua, entah untuk benar-benar berkonsultasi atau sekadar bertanya.
Di atas meja kayu sederhana miliknya, tersusun sejumlah benda yang menambah kesan simbolis. Terdapat papan bertuliskan “Naftu Kelahiran” yang menghubungkan hari lahir dengan elemen alam seperti api, daun, bumi, dan angin.
Di sisi meja, tumpukan kartu tarot yang sudah lusuh terlihat berdampingan dengan botol air mineral serta beberapa peralatan ramuan tradisional.
Tarif konsultasi yang dipatok relatif terjangkau, sekitar Rp 30.000 per sesi. Durasi konsultasi bergantung pada pertanyaan klien, bisa berlangsung 15 menit hingga berjam-jam.
“Kalau ada yang benar-benar butuh cerita, ya kita layani. Kayak dokter konsul,” kata Dede.
Dede mulai membuka lapak di kawasan ini jauh sebelum Kota Tua bertransformasi menjadi destinasi wisata seperti sekarang.
Dua setengah dekade lalu, kawasan tersebut masih identik dengan terminal bus dan lalu lintas yang semrawut.
“Dulu ini terminal, ramai bus. Sekarang wisata,” ujar Dede mengenang.
Sejak awal 2000-an, ia menetap di Kota Tua setelah sebelumnya berpindah-pindah lokasi.
Kini, aktivitasnya berada di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, serta mengikuti aturan yang berlaku.
Keberadaan para tukang ramal di kawasan ini bukan praktik liar. Ada pengawasan, aturan, serta komunitas yang menaungi.
“Kami bukan sembarangan. Ada aturannya,” katanya.
Dalam sehari, jumlah klien yang datang tidak menentu. Terkadang hanya beberapa orang, namun bisa pula lebih dari lima.
Cuaca menjadi faktor penentu. Hujan membuat kawasan cenderung sepi, sementara akhir pekan mendatangkan lonjakan pengunjung.
Media sosial memberi napas baru bagi profesi ini. Banyak klien datang setelah melihat konten di
TikTok
atau
YouTube
.
Sebagian pengunjung bahkan datang setelah melihat unggahan orang lain yang membagikan pengalaman diramal di Kota Tua.
Di salah satu spanduk lapak Dede, terpampang dokumentasi kunjungan
YouTuber
asal Amerika Serikat,
IShowSpeed
, yang sempat mencoba jasa ramalan saat berkunjung ke Indonesia.
Foto tersebut menjadi semacam legitimasi populer bahwa praktik ini masih menarik perhatian lintas generasi dan kewarganegaraan.
Meski dikenal sebagai tukang ramal, Dede menolak disebut sebagai dukun atau paranormal. Ia lebih memilih menyebut dirinya sebagai konsultan.
“Kami ini bukan meramal supranatural. Ini seni baca garisan tangan. Boleh percaya, boleh tidak,” ujar dia.
Menurut Dede, proses membaca garis tangan hanyalah pintu masuk. Hal yang lebih penting adalah percakapan yang terbangun.
Klien datang membawa keresahan, dan ia berusaha membantu menyusunnya kembali dengan logika serta motivasi.
“Kayak orang mau ke Monas atau Bogor. Nanya jalan. Kita kasih pilihan. Naik apa, lewat mana. Yang jalan tetap orangnya,” tutur Dede memberi analogi.
Masalah yang paling sering dibawa klien berkaitan dengan percintaan dan ekonomi. Garis kawin, garis cerai, hingga garis rezeki kerap menjadi topik diskusi. Namun, Dede menegaskan bahwa semuanya kembali pada pilihan hidup masing-masing.
“Takdir itu dari Allah. Kami cuma kasih pertimbangan,” kata Dede.
Dalam praktiknya, ia juga menghindari hal-hal yang berpotensi menjerumuskan klien pada ketakutan berlebihan. Ia tidak ingin profesinya dianggap syirik atau menyesatkan.
“Kalau orang percaya berlebihan, itu bisa jadi sirik kecil. Makanya saya selalu bilang, jangan bergantung,” ujar dia.
Fenomena serupa juga dirasakan Ulun (58), tukang ramal telapak tangan lain di kawasan Kota Tua. Ulun telah menetap di kawasan ini sejak 2014 setelah sebelumnya berpindah-pindah dari Monas hingga Glodok.
“Banyak yang datang bukan mau tahu masa depan, tapi mau didengar,” ujar Ulun.
Menurut dia, perbedaan utama antara ramalan langsung dan aplikasi digital terletak pada kehadiran manusia. Aplikasi hanya membaca teks, sementara tukang ramal membaca ekspresi, bahasa tubuh, dan emosi.
“Saya lihat wajahnya, cara ngomongnya. Dari situ kelihatan masalahnya,” kata Ulun.
Hal senada disampaikan Bambang (54), tukang ramal lain yang telah berpraktik sejak 2013. Ia belajar meramal dari orang tua di kampung, lalu mengasah kemampuannya melalui pengalaman bertemu beragam karakter manusia di Kota Tua.
“Saya tidak menakut-nakuti. Saya lebih ke kasih saran,” ujar dia.
Bagi Bambang, Kota Tua adalah ruang jeda. Orang-orang datang dengan pikiran santai, tidak terburu-buru. Di ruang publik semacam ini, percakapan pun menjadi mungkin.
“Kalau di kota lain, orang buru-buru. Di sini mau dengar cerita,” kata Bambang.
Di era media sosial, ramalan tidak lagi eksklusif milik tukang ramal jalanan. Zodiak, tarot, dan ramalan harian membanjiri lini masa TikTok dan Instagram.
Alya (25), pekerja swasta yang berkunjung ke Kota Tua, mengaku lebih sering membaca zodiak melalui ponsel. Meski begitu, ia tetap tertarik mencoba ramalan langsung.
“Ketemu langsung itu beda. Kayak diajak ngobrol psikolog,” ujar dia.
Bagi Alya, ramalan bukanlah kebenaran mutlak, melainkan sarana refleksi. Ia melihat ramalan tradisional kini lebih berfungsi sebagai teman bicara atau hiburan bermakna.
“Bukan soal percaya atau enggak, tapi merasa didengarkan,” kata Alya.
Sosiolog Nia Elvina menilai profesi tukang ramal akan tetap eksis di masyarakat Indonesia.
Menurutnya, kepercayaan terhadap hal-hal adikodrati masih hidup, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi dan sosial.
“Dalam situasi tidak pasti, orang mencari pegangan,” ujar Nia saat dihubungi.
Ia menambahkan, meski secara resmi masyarakat menganut agama yang diakui negara, praktik kepercayaan lain tetap berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks perkotaan, tukang ramal bukan sekadar simbol mistik, melainkan bagian dari ekosistem budaya urban, sejajar dengan seniman jalanan dan pedagang kaki lima.
Hingga siang hari, Jalan Pintu Besar Utara tetap ramai meski rintik hujan turun tipis. Di satu sisi, wisatawan sibuk berswafoto. Di sisi lain, para tukang ramal tetap setia menunggu, menjaga tradisi yang perlahan tergerus modernitas.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tukang Ramal Kota Tua Bertahan di Tengah Modernitas: Boleh Percaya, Boleh Tidak Megapolitan 13 Januari 2026
/data/photo/2026/01/13/6965ddd7a3023.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)