Merangkum Semua Peristiwa
Indeks

Tren Foto Animasi Ghibli Pakai ChatGPT Ilegal? Ucapan Hayao Miyazaki Kembali Ramai: Ini Penghinaan!

Tren Foto Animasi Ghibli Pakai ChatGPT Ilegal? Ucapan Hayao Miyazaki Kembali Ramai: Ini Penghinaan!

PIKIRAN RAKYAT – Tren gambar bergaya Studio Ghibli yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) kembali mengundang kontroversi. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, baru-baru ini meluncurkan model baru bernama GPT-4o yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dalam berbagai gaya artistik, termasuk yang menyerupai estetika khas Studio Ghibli.

Hal ini memicu perdebatan etis dan hukum seputar penggunaan AI dalam dunia seni.

OpenAI dan Ambiguitas Kebijakan

Ketika gambar AI bergaya Ghibli mulai beredar luas di media sosial, Business Insider menghubungi OpenAI untuk klarifikasi. Juru bicara perusahaan menjelaskan bahwa kebijakan mereka mencegah pembuatan gambar dalam gaya “seniman yang masih hidup”, termasuk Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli yang masih aktif berkarya.

Akan tetapi, mereka tetap mengizinkan gambar dalam “gaya studio yang lebih luas.”

Pernyataan ini mengundang pertanyaan: mengapa beberapa pengguna dapat menghasilkan gambar bergaya Ghibli, sementara yang lain mendapatkan penolakan berdasarkan kebijakan hak cipta?

Pranav Dixit, seorang reporter teknologi, menguji perbedaan ini dengan dua versi ChatGPT: yang gratis dan yang berbayar. Versi gratis dengan model DALL-E 3 menolak permintaan gambar bergaya Ghibli dengan alasan hak cipta, sedangkan versi berbayar dengan GPT-4o berhasil membuatnya.

“Saya sangat merasa bahwa ini adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri,” ujar Miyazaki dalam sebuah wawancara tahun 2016 yang kembali viral seiring tren ini.

Kemarahan Miyazaki dan Etika AI

Hayao Miyazaki, yang dikenal karena pendekatan gambar tangan dan storytelling yang mendalam, telah lama skeptis terhadap peran AI dalam animasi. Ketika ia diperlihatkan demo animasi AI pada 2016, ia mengungkapkan rasa jijiknya terhadap teknologi tersebut.

“Siapa pun yang menciptakan hal ini tidak tahu apa itu rasa sakit. Saya sangat merasa bahwa ini adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri,” katanya.

Klip ini kembali viral ketika pengguna media sosial mengaitkannya dengan tren “Ghiblification”—sebutan bagi proses mengubah gambar biasa menjadi gambar bergaya Ghibli menggunakan AI.

CEO OpenAI, Sam Altman, bahkan mengubah foto profilnya di media sosial X menjadi potret bergaya Ghibli, semakin memicu perdebatan tentang eksploitasi seni.

Aspek Hukum: Hak Cipta dan Lisensi

Josh Weigensberg, seorang pengacara dari firma hukum Pryor Cashman, menyoroti aspek hukum dari tren ini. Dia menjelaskan bahwa meskipun gaya artistik secara umum tidak dapat dilindungi hak cipta, elemen spesifik dalam sebuah karya bisa jadi dilindungi.

“Apakah model AI ini dilatih dengan karya Miyazaki atau Studio Ghibli? Jika ya, apakah mereka memiliki lisensi atau izin untuk itu?” katanya.

OpenAI tidak memberikan tanggapan mengenai pertanyaan tersebut.

Seniman Karla Ortiz, yang juga menggugat perusahaan AI atas pelanggaran hak cipta, menyebut ini sebagai “contoh lain bagaimana perusahaan seperti OpenAI tidak peduli dengan karya dan mata pencaharian seniman.”

Dia menambahkan bahwa eksploitasi gaya Ghibli oleh AI adalah “penghinaan dan eksploitasi yang terang-terangan.”

Respon Gedung Putih dan Kontroversi Politik

Situasi semakin memanas ketika Gedung Putih di bawah pemerintahan Donald Trump ikut memanfaatkan tren ini dengan cara yang kontroversial. Mereka mengunggah gambar bergaya Ghibli dari seorang wanita Republik Dominika yang menangis setelah ditangkap oleh agen imigrasi AS.

Hal ini memicu kecaman luas, termasuk dari Ortiz.

“Untuk melihat sesuatu yang begitu brilian seperti karya Miyazaki digunakan untuk sesuatu yang begitu kotor adalah hal yang menyedihkan. Saya berharap Studio Ghibli menuntut OpenAI atas ini,” tuturnya.***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

Merangkum Semua Peristiwa