Topik: diabetes

  • Sederet Gejala Diabetes yang Tak Biasa, Kerap Kali Tak Disadari

    Sederet Gejala Diabetes yang Tak Biasa, Kerap Kali Tak Disadari

    Jakarta

    Diabetes tipe 2 kerap kali disebut sebagai silent killer lantaran tak memicu gejala signifikan, bahkan jarang disadari. Banyak orang tidak menyadari mereka mengidap kondisi ini hingga muncul komplikasi serius, seperti gangguan jantung, kerusakan ginjal, atau penglihatan yang memburuk.

    Meskipun gejala umum seperti sering buang air kecil dan mudah lelah cukup dikenal, ada sejumlah tanda lain yang sering luput dari perhatian. Gejala-gejala ini kerap dianggap sepele atau dikaitkan dengan masalah kesehatan lain, sehingga tidak langsung dikenali sebagai bagian dari diabetes.

    Gejala Tak Biasa yang Jarang Disadari dari Diabetes Tipe 2

    Terdapat beberapa gejala yang tidak biasa yang dapat dialami oleh pengidap diabetes tipe 2. Dikutip dari laman The Healthy, ahli diet Erin Palinski-Wade, RD, CDCES mengungkapkan sejumlah gejalanya.

    1. Perubahan Berat Badan

    Perubahan berat badan pada pengidap diabetes tipe 2 terkadang disebabkan oleh hilangnya cairan dari tubuh. Kondisi ini terjadi karena diabetes dapat menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat, yang pada akhirnya mengakibatkan tubuh kehilangan banyak air dan kalori.

    2. Gusi nyeri hingga Gigi Berlubang

    Mulut kering serta gusi yang nyeri atau mudah berdarah merupakan gejala diabetes tipe 2 yang sering luput dikenali.

    “Hal ini dapat terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan berkurangnya produksi air liur dan meningkatnya pertumbuhan bakteri, sehingga meningkatkan risiko penyakit gusi dan gigi berlubang,” kata ahli gizi di New Jersey, Palinski-Wade, RD, CDCES, CPT.

    3. Sensasi Terbakar di Kaki

    Kaki yang mati rasa atau kesemutan menjadi gejala umum diabetes tipe 2. Tapi, jika merasakan seperti berjalan di trotoar yang panas atau sensasi terbakar, kemungkinan merupakan tanda dari neuropati diabetik.

    “Ini mungkin merupakan tanda kerusakan saraf yang mungkin disebabkan oleh kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu lama,” kata ahli diabetes Vandana Sheth, RDN, CDCES, FAND.

    “Ini bisa menjadi tanda awal, tetapi jika diabaikan, dapat memperburuk kerusakan,” tambahnya.

    4. Infeksi Jamur dan ISK

    Kadar gula yang tinggi bisa meningkatkan risiko infeksi jamur dan infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada wanita . Menurut Wade, kelebihan glukosa dalam darah dan cairan tubuh, seperti urin, keringat, dan lendir menciptakan tempat jamur dan bakteri berkembang biak.

    “Jika hal ini dikombinasikan dengan kadar gula darah yang tinggi, sistem kekebalan tubuh akan melemah, dan tubuh akan semakin sulit melawan infeksi, yang menyebabkan jenis infeksi ini lebih sering terjadi.” kata Wade.

    5. Bercak Gelap pada Kulit

    Akantosis nigrikans adalah kondisi munculnya bercak gelap seperti beludru di kulit sekitar leher, ketiak, atau selangkangan. Kondisi ini bisa menjadi tanda peringatan resistensi insulin dan kadar gula darah yang tinggi.

    6. Kabut Otak

    Masalah kognitif juga berpotensi menjadi gejala diabetes tipe 2. Berdasarkan penelitian tahun 2023 yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology, ada kondisi yang disebut sebagai disfungsi kognitif diabetik, di mana kadar gula darah yang tinggi secara konsisten bisa mengganggu fungsi otak. Gangguan ini muncul dalam bentuk kabut otak atau brain fog.

    Selain itu, gula darah tinggi juga terkadang bisa memengaruhi suasana hati dan menyebabkan mudah tersinggung.

    (elk/suc)

  • Gejala Diabetes Awal yang Muncul Saat Bangun Tidur

    Gejala Diabetes Awal yang Muncul Saat Bangun Tidur

    Jakarta

    Meski tak selalu bergejala, Diabetes Mellitus (DM) juga bisa memicu keluhan tertentu yang muncul di pagi hari saat bangun tidur. Berbagai keluhan tersebut berkaitan dengan melonjaknya kadar gula darah di pagi hari.

    Lonjakan gula darah atau hiperglikemia di pagi hari tersebut dikenal dengan istilah dawn phenomenon atau fenomena fajar, yang biasanya terjadi antara pukul 3-8 pagi. Pada saat itu, fluktuasi hormonal mempengaruhi kerja insulin dalam mengatur kadar gula darah.

    Dikutip dari Cleveland Clinic, hiperglikemia di pagi hari juga bisa terjadi karena Somogyi Effect. Pada pengidap DM yang menggunakan insulin, terjadi lonjakan hormon di pagi hari yang memicu hiperglikemia setelah pada malam harinya mengalami hipoglikemia atau anjloknya kadar gula darah.

    Dawn phenomenon umum dialami pengidap diabetes. Menurut sebuah studi, fenomena ini dialami 50 persen pengidap DM baik tipe 1 maupun tipe 2.

    Bagaimana Mendeteksinya?

    Cara paling akurat untuk mendeteksi peningkatan kadar gula darah adalah dengan pemeriksaan. Pada pengidap DM, pemeriksaan secara terus menerus selama 24 jam bisa dilakukan dengan Continuous Glucose Monitoring (CGM).

    Berbeda dengan tes gula darah manual yang dilakukan dengan tusuk ujung jari (finger prick) sebelum tidur dan setelah bangun, CGM memungkinkan pemeriksaan secara berkelanjutan sepanjang malam. Karenanya, episode hipoglikemia atau anjloknya kadar gula darah pada malam hari bisa terdeteksi.

    Gejala Diabetes di Pagi Hari

    Pada dasarnya, diabetes mellitus tidak selalu bergejala sehingga screening atau pemeriksaan rutin penting dilakukan terutama jika punya faktor risiko. Kalaupun ada gejala yang muncul, seringkali tidak spesifik sehingga kerap kali terabaikan.

    “Hasil Riskesdas itu 70 persen di antaranya nggak tahu bahwa dia ada gejala (penyakit diabetes) atau jadi ketahuannya kebetulan waktu dicek,” kata dr Em Yunir, SpPD-KEMD, pakar diabetes dari RS Cipto Mangunkusumo dalam sebuah kesempatan.

    Meski tetap harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan yang akurat, hiperglikemia saat bangun tidur di pagi hari pada pengidap diabetes mellitus juga dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut.

    1. Polidipsia atau haus berlebihan

    Polidipsia, istilah medis untuk rasa haus berlebihan, merupakan salah satu gejala umum pada diabetes mellitus. Rasa haus merupakan sinyal tubuh untuk mengimbangi lonjakan gula darah, sebab ginjal bekerja keras untuk menyerap kelebihan glukosa sehingga tubuh banyak kehilangan cairan.

    2. Poliuria atau sering buang air kecil

    Sama seperti polidipsia, poliuria atau sering buang air kecil juga merupakan tanda khas diabetes mellitus yang utamanya teramati pada malam dan pagi hari. Kondisi ini terjadi karena ginjal bekerja keras mengeluarkan glukosa.

    3. Letih saat bangun tidur

    Polidipsia dan poliuria sedikit-banyak dapat mengganggu kualitas tidur, sehingga pengidap diabetes mellitus bangun dalam kondisi tidak bugar. Selain itu, hiperglikemia juga membuat metabolisme glukosa sebagai sumber energi jadi tidak efisien.

    4. Mulut kering

    Mulut kering atau dry mouth merupakan tanda-tanda dehidrasi. Pengidap diabetes mellitus rawan mengalaminya karena cairan tubuh banyak terpakai untuk mengeluarkan kelebihan glukosa dalam darah.

    5. Mata kabur

    Dikutip dari Mayo Clinic, kadar gula darah tinggi dapat menarik cairan dari jaringan tubuh, termasuk dari jaringan lensa mata. Akibatnya, kemampuan untuk mengatur fokus terganggu sehingga pandangan jadi kabur.

    6. Kebas dan kesemutan

    Meski jarang, kebas dan kesemutan dapat terjadi di tangan dan kaki pada pengidap diabetes. Meningkatnya kadar gula darah menyebabkan kerja saraf terganggu.

    7. Polifagia atau cepat lapar

    Melengkapi polidipsia dan poliuria, polifagia atau cepat lapar merupakan 3 gejala khas pada diabetes mellitus. Cepat lapar dan sangat lapar merupakan sinyal tubuh yang menandakan kerja insulin yang tidak efektif dalam mengatur kadar gula darah.

    Wajib Waspada dan Langsung Periksa

    Diabetes Mellitus dapat tertangani dengan lebih baik jika terdeteksi sebelum muncul gejala, dan ini dimungkinkan lewat screening atau cek rutin. Namun jika telanjur mengalami gejalanya, maka disarankan untuk tidak menunda pemeriksaan agar dapat segera tertangani sebelum memicu komplikasi yang lebih fatal.

    (up/up)

  • Ingin Hilangkan Lemak Perut? Ini Waktu Sarapan dan Makan Malam Terbaik

    Ingin Hilangkan Lemak Perut? Ini Waktu Sarapan dan Makan Malam Terbaik

    Jakarta

    Upaya menghilangkan lemak di perut bukan hanya tentang apa yang dimakan, tapi juga kapan pemilihan waktu makan. Penelitian menemukan bahwa waktu makan memiliki peran dalam proses pembakaran lemak di area perut.

    Jadi, penting untuk mengetahui waktu makan yang baik untuk sarapan dan makan malam. Seperti apa pembagiannya?

    Waktu Terbaik Sarapan dan Makan Malam untuk Hilangkan Lemak Perut

    Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti spanyol mengungkapkan bahwa diet seseorang bisa membantu menghilangkan lemak di perut dengan mengatur waktu makan. Dikutip dari laman The Sun, tim ilmuwan yang dipimpin oleh University of Granada (UGR) dan Public University of Navarra (UPNA) melakukan penelitian terkait puasa intermiten dalam mengurangi lemak.

    Dalam penelitian ini, waktu makan peserta dikurangi menjadi 6-8 jam. Ada sebanyak 197 peserta yang berusia antara 30 dan 60 tahun. Mereka mencoba tiga metode puasa berbeda selama 12 minggu. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

    Puasa dini: Makan antara pukul 9 pagi dan 5 sore (49 peserta)Puasa larut: Makan antara pukul 2 siang dan 10 malam (52 peserta)Puasa yang dipilih sendiri: Memilih slot makan yang diinginkan, biasanya di antara pukul 12 malam dan 8 malam. (47 peserta)

    Sementara, 49 peserta yang tersisa mengikuti program pendidikan gizi tentang diet mediterania dan gaya hidup sehat

    Kelompok yang berpuasa, terlepas dari jenis puasa yang dijalankan kehilangan lebih banyak berat badan, rata-rata 3-4 kg, dibandingkan dengan peserta yang makan secara normal.

    Namun, kelompok orang yang menjalani puasa dini kehilangan lebih banyak lemak subkutan perut, dibandingkan kelompok lain. Hal ini berarti, sarapan pada pukul 9 pagi dan makan malam sebelum pukul 5 sore bisa menjadi cara yang terbaik.

    Menurut seorang profesor madya di Fakultas Ilmu Olahraga di Universitas Granada, Jonatan Ruiz, makan dengan batasan waktu, khususnya menyelesaikan makan sebelum pukul 5 sore bisa menjadi cara efektif untuk mengelola berat badan dan mengurangi lemak perut setelah periode makan berlebihan.

    “Pendekatan ini selaras dengan ritme sirkadian alami, yang meningkatkan kesehatan metabolisme dan pengurangan lemak,” katanya.

    Tim penelitian juga mengklaim, makan di waktu yang tidak teratur atau larut malam bisa mengganggu ritme biologis tubuh dan meningkatkan risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, dan diabetes tipe 2.

    (elk/tgm)

  • Apa Itu CAPD? Jokowi Disebut Pakai Alat Kesehatan Khusus di Perut saat Ultah ke-64

    Apa Itu CAPD? Jokowi Disebut Pakai Alat Kesehatan Khusus di Perut saat Ultah ke-64

    GELORA.CO – Momen kemunculan mantan Presiden RI, Joko Widodo, saat merayakan ulang tahunnya yang ke-64 di kediamannya di Solo pada Sabtu (21/6/2025) ramai menjadi sorotan publik.

    Warganet menyoroti sikap Jokowi yang enggan tampil ke depan, menolak berfoto bersama, serta terlihat dalam kondisi lemah dengan wajah tampak bengkak.

    Selain itu, bagian perut Jokowi juga menjadi perhatian. 

    Warganet menduga adanya alat khusus yang terpasang di area tersebut, karena terlihat ada tonjolan mencolok pada bagian perutnya.

    “Doktif, yang di perut pak JW itu alkes apa?” tulis salah satu warganet.

    Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian dijawab oleh dokter Tifauzia Tyassuma, atau yang dikenal sebagai Dokter Tifa, yang selama ini aktif menyuarakan kritik soal dugaan ijazah palsu Jokowi.

    Melalui unggahan yang dipublikasikan pada Minggu, 22 Juni 2025, dan telah dibagikan lebih dari 400 kali serta ditonton lebih dari 466 ribu kali, Dokter Tifa memberikan penjelasan.

    Ia menyampaikan analisis medis berdasarkan tanda-tanda yang tampak sejak April 2025 hingga saat ini.

    Menurutnya, berdasarkan pengamatan tersebut, Jokowi diduga menderita penyakit Autoimun Agresif. 

    Alat yang terlihat menonjol di bagian perut mantan presiden itu, menurut penilaian Dokter Tifa, kemungkinan besar adalah CAPD.

    “Ini adalah assessment dari seorang dokter atas pertanyaan para netizen,” jelasnya.

    Ia pun menegaskan bahwa kekhawatirannya terhadap kondisi kesehatan Jokowi tidak terkait dengan perbedaan pandangan politik.

    “Karena berulangkali saya sampaikan, saya mengkhawatirkan kesehatan Pak JW, terlepas dari saat ini kita berseberangan. Padahal bukan maksud saya untuk menjadi lawan beliau atau apa. Yang saya lakukan adalah menegakkan kebenaran soal ijazah. Kalau dengan itu beliau tersinggung dan memusuhi saya, ya kita lihat saja bagaimana kebenaran itu akan membela dirinya sendiri,” ujarnya.

    Kembali membahas soal kondisi medis, Dokter Tifa menjelaskan bahwa penyakit Autoimun Agresif dapat berkembang sangat cepat menuju kondisi terminal hanya dalam waktu kurang dari enam bulan. 

    Gejalanya antara lain: perubahan kulit yang ekstrem, gatal luar biasa, sarkopenia atau penyusutan massa otot yang cepat, kelemahan tubuh, hingga penurunan berat badan drastis.

    Ia juga menyebut kemungkinan kerusakan organ, terutama ginjal dan sistem imun, yang bisa disebabkan oleh penyakit seperti Lupus Nephritis stadium IV-V, Rapid Progressive Glomerulonephritis (RPGN), hingga Scleroderma Renal Crisis—semuanya berpotensi merusak ginjal hanya dalam hitungan minggu.

    “Sebagai dokter dan sesama manusia, saya khawatir terhadap kesehatan beliau,” ucapnya.

    Menurut Dokter Tifa, dalam kondisi seperti ini, CAPD justru tidak cukup memadai. 

    Ia pun membantah klaim bahwa kondisi Jokowi hanya akibat alergi kulit ringan pasca kunjungan ke Vatikan.

    “Justru yang hoaks adalah, orang yang mengatakan ini hanya alergi kulit biasa,” tegasnya. “Sekali lagi, ini sakit berat. Berat sekali.”

    Ia pun menyarankan agar Jokowi segera dirawat secara intensif di rumah sakit terbaik dunia, dan menyebut China sebagai opsi yang mungkin relevan karena faktor hubungan darah.

    “Apakah negara masih memfasilitasi mantan presiden untuk mendapatkan perawatan terbaik?” tanyanya menutup pernyataan.

    Lantas apa itu CAPD?

    Melansir laman Alodokter, CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis) merupakan metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. 

    Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum), yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah, sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa.

    Cuci darah bermanfaat untuk membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme, elektrolit, mineral, dan cairan berlebihan akibat penurunan fungsi ginjal. 

    Prosedur cuci darah, baik dengan metode CAPD atau hemodialisis, juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

    Faktor Risiko CAPD yang Mungkin Terjadi

    Meski semua metode cuci darah memiliki risiko atau efek samping, ada beberapa risiko yang lebih rentan terjadi akibat prosedur CAPD, seperti:

    1. Hernia

    Adanya lubang di otot perut sebagai tempat masuknya kateter, serta tekanan dari dalam rongga perut akibat cairan dialisis, dapat mengakibatkan munculnya hernia di dekat pusar, selangkangan, atau dekat tempat masuknya kateter.

    2. Kenaikan berat badan dan kadar gula darah

    Cairan dialisis mengandung gula yang bisa terserap oleh tubuh, sehingga pasien berisiko mengalami kenaikan berat badan dan diabetes.

    3. Perut membesar

    Selama cairan dialisis ada di dalam perut, perut mungkin membesar dan terasa seperti kembung atau penuh. Namun, kondisi ini umumnya tidak sampai menyebabkan nyeri.

    4. Masalah pencernaan

    Pasien yang menjalani CAPD lebih sering mengalami masalah pencernaan, seperti penyakit asam lambung (GERD), sakit maag (dispepsia), obstruksi usus (penyumbatan usus), atau perlengketan usus, daripada pasien yang menjalani hemodialisis.

    5. Infeksi

    Komplikasi yang paling serius dari prosedur CAPD adalah infeksi. Infeksi bisa terjadi pada kulit di sekitar tempat masuknya kateter atau di dalam rongga perut (peritonitis) akibat masuknya kuman melalui kateter.

    Gejala dari infeksi kulit akibat CAPD meliputi kulit kemerahan, bernanah, bengkak, dan nyeri tekan pada tempat keluarnya kateter.

    Cuci darah memang bisa membantu mengurangi keluhan gagal ginjal dan memperpanjang harapan hidup. 

    Namun, prosedur ini tidak dapat mengobati penyakit gagal ginjal.

    Kondisi Jokowi saat Ultah

    Mantan Presiden Joko Widodo genap berusia 64 tahun pada Sabtu (21/6/2025). 

    Meski mendapat sambutan meriah dari warga di Solo, penampilannya tetap jadi sorotan. 

    Jokowi hanya tampil singkat dengan baju lengan panjang tertutup, di tengah kabar soal penyakit langka Stevens-Johnson Syndrome (SJS) yang sempat dikaitkan dengannya.

    Sejumlah warga tampak berbondong-bondong mendatangi rumahnya di Solo untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun.

    Mereka datang membawa tumpeng dan kue tart, yang kemudian disusun rapi di meja depan rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo.

    Warga pun menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuk menarik perhatian sang mantan presiden agar keluar rumah. 

    Tak lama kemudian, Jokowi keluar mengenakan baju putih lengan panjang, didampingi istrinya Iriana dan ketiga adik perempuannya, Lit Sriyantini, Idayati, dan Titik Relawati.

    Salah satu warga, Darsini, asal Boyolali, mengaku sengaja datang untuk memberi ucapan ulang tahun.

    “Selamat Ulang Tahun ke-64 Pak Jokowi, sehat selalu panjang umur,” ujarnya.

    Sebelum tumpeng dibagikan, Jokowi dan keluarganya bersama warga sempat memanjatkan doa bersama. 

    Namun berbeda dari biasanya, kali ini Jokowi tidak melayani permintaan foto bersama. 

    Ia hanya beberapa saat menemui warga sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

    “Ya terima kasih ucapan ulang tahunnya,” ucap Jokowi sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

    Penampilan Jokowi yang selalu mengenakan baju tertutup dan hanya tampil singkat di luar rumah memperkuat dugaan bahwa dirinya masih dalam masa pemulihan alergi kulit. 

    Namun hingga kini, aktivitasnya tetap berjalan, dan kehadirannya di berbagai momen publik menunjukkan kondisinya yang perlahan membaik.

    Disebut Idap Autoimun hingga Penyakit Langka Sindrom Stevens-Johnson

    Sebelumnya, kondisi Mantan Presiden Joko Widodo sempat menjadi sorotan publik usai pulang dari kunjungannya ke Vatikan. 

    Perubahan pada wajahnya yang tampak terdapat bercak-bercak hitam, sembab dan pucat memunculkan spekulasi soal kondisi kesehatannya.

    Sorotan ini berawal dari unggahan seorang dokter, Tifa, di media sosial X (dulu Twitter), yang menyoroti adanya flek atau bintik hitam di Joko. 

    Namun, kabar soal kondisi Jokowi tersebut segera diklarifikasi oleh ajudan pribadi Jokowi, Kompol Syarif Fitriansyah.

    Syarif menjelaskan bahwa Jokowi dalam kondisi fisik yang bugar dan tidak mengalami masalah kesehatan serius.

    “Bapak saat ini sedang pemulihan dari alergi kulit pasca-pulang dari Vatikan,” ujar Kompol Syarif di Solo, Kamis (5/6/2025).

    Ia menyebut, alergi itu muncul karena faktor penyesuaian cuaca di Vatikan dan baru menampakkan gejala beberapa hari setelah Jokowi kembali ke Indonesia.

    “Ya, mungkin cuaca ya, di Vatikan. Jadi penyesuaian, lalu pulang ke Indonesia, beberapa hari setelah itu baru muncul alerginya,” lanjutnya.

    Alergi kulit tersebut, menurut Syarif, telah ditangani oleh tim dokter pribadi di kediaman Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

    Syarif juga membantah keras rumor yang menyebut Jokowi terkena penyakit serius seperti Stevens Johnson Syndrome (SJS) atau autoimun.

    “Wah, hoaks itu, enggak benar itu. Beliau enggak ada ngerasain panas, enggak ada ngerasain gatal. Jadi, pure hanya alergi biasa. Autoimun juga enggak,” tegasnya.

    Kondisi tersebut sempat membuat publik bertanya-tanya karena Jokowi tidak hadir dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di Istana Negara pada Senin (2/6/2025).

    Namun, aktivitas Jokowi disebut tetap berjalan seperti biasa. Ia masih rutin berolahraga, bermain dengan cucu, hingga sarapan bersama keluarga.

    “Kemarin sempat sepedaan, lalu beliau sempat main sama cucu, lalu sempat kita sarapan bareng sama beliau. Jadi sama sekali tidak mengganggu aktivitas beliau,” ujar Syarif.

  • Daftar Makanan-Minuman yang Diam-diam Bisa Ganggu Fungsi Otak

    Daftar Makanan-Minuman yang Diam-diam Bisa Ganggu Fungsi Otak

    Jakarta

    Otak adalah pusat kendali tubuh yang memengaruhi pikiran, emosi, dan juga gerakan. Penting untuk menjaganya tetap sehat.

    Namun, tanpa disadari, asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi otak. Lantas, jenis makanan dan minuman apa saja yang perlu diwaspadai?

    6 Makanan dan Minuman yang Tidak Baik untuk Kesehatan Otak

    Jika dikonsumsi berlebihan, karbohidrat olahan, makanan yang mengandung lemak trans, hingga alkohol bisa memberikan efek buruk pada otak.

    1. Makanan yang Mengandung Banyak Lemak Trans

    Lemak trans adalah lemak tak jenuh yang bisa memberi dampak negatif terhadap kesehatan otak. Dikutip dari laman Healthline, lemak trans yang secara alami terdapat dalam produk hewani tidak menjadi masalah utama. Yang perlu diwaspadai adalah lemak trans hasil produksi industri yang dikenal sebagai minyak nabati terhidrogenasi.

    Lemak trans buatan bisa ditemukan dalam mentega, makanan ringan, hingga kue kering. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lemak trans dalam jumlah banyak bisa berdampak negatif pada memori dan ingatan pada orang berusia di bawah 45 tahun. Lemak trans juga bisa meningkatkan peradangan, insulin, dan kolesterol yang memengaruhi otak.

    2. Karbohidrat Olahan

    Karbohidrat olahan meliputi biji-bijian yang diproses secara berlebihan. Dikutip dari laman Healthline, karbohidrat ini umumnya mempunyai indeks glikemik (GI) yang tinggi, sehingga tubuh mencerna dengan cepat dan menyebabkan lonjakan gula darah dan insulin.

    Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, seringkali karbohidrat olahan memiliki beban glikemik (GL) yang tinggi. Makanan yang memiliki indeks glikemik dan beban glikemik tinggi diketahui bisa mengganggu fungsi otak.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat olahan dalam jangka panjang bisa memengaruhi hipokampus dan korteks prefrontal, yang berperan dalam memori, pembelajaran, perilaku sosial dan lain sebagainya.

    3. Makanan Ultra Olahan

    Biasanya, makanan ultra-olahan mengandung banyak gula tambahan, lemak, natrium, dan bahan pengawet lainnya. Contoh makanan ultra olahan yaitu keripik, permen, nugget ayam, mie instan, dan makanan siap saji.

    Penelitian menemukan, lebih dari 19,9 persen dari total harian dari makanan ultra olahan selama 8 tahun meningkatkan risiko mengalami dampak negatif pada kemampuan berpikir.

    4. Aspartam

    Aspartam adalah pemanis buatan yang terbuat dari fenilalanin, metanol, dan asam aspartat. Penelitian menunjukkan, mengonsumsi terlalu banyak aspartam dikaitkan dengan masalah perilaku, emosi, dan kognitif, seperti kesulitan belajar, kecemasan, hingga depresi.

    5. Alkohol

    Mengonsumsi alkohol bisa mengganggu neurotransmitter di otak. Neurotransmitter merupakan zat kimia yang digunakan otak untuk berkomunikasi.

    Sehingga, alkohol bisa memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang pada otak, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dari waktu ke waktu. Dalam jangka pendek alkohol yang terlalu banyak bisa menyebabkan gangguan memori atau blackout. Selama periode tersebut, sebuah proses yang dikenal dengan konsolidasi memori di hipokampus terganggu.

    6. Minuman Manis

    Tak hanya bisa meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan gigi berlubang, minum minuman manis yang mengandung gula dalam jumlah banyak bisa berdampak negatif pada otak. Sebuah studi kecil di tahun 2023 menunjukkan, peserta yang mengonsumsi gula paling banyak memiliki kemungkinan dua kali lipat mengalami demensia, dibandingkan mereka yang mengonsumsi paling sedikit.

    (elk/tgm)

  • Tanda Penyakit Ginjal Kronis yang Bisa Dilihat di Kulit hingga Kaki

    Tanda Penyakit Ginjal Kronis yang Bisa Dilihat di Kulit hingga Kaki

    Jakarta

    Penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) terjadi akibat adanya kerusakan pada ginjal dan ginjal tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

    Ginjal berperan sebagai penyaring dalam tubuh, menyaring limbah, racun, dan kelebihan air dari darah. Selain itu, ginjal juga berperan dalam fungsi lain seperti menjaga kesehatan tulang dan produksi sel darah merah.

    Ketika fungsi ginjal mulai menurun, proses penyaringan tidak berjalan optimal, sehingga limbah dapat menumpuk di dalam darah.

    Penyakit ginjal disebut ‘kronis’ karena fungsi ginjal menurun secara perlahan seiring berjalannya waktu. CKD dapat menyebabkan gagal ginjal, yang juga disebut penyakit ginjal stadium akhir.

    Berikut gejala penyakit ginjal kronis yang dapat muncul di bagian kaki, dada, hingga kulit.

    Gejala Awal Penyakit Ginjal Kronis

    Kebanyakan orang yang mengalami penyakit ginjal kronis tidak memiliki gejala. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah mereka mengidap penyakit ginjal kronis atau tidak adalah dengan melakukan tes darah dan urine.

    Meski demikian, orang dengan penyakit ginjal kronis mungkin mengalami pembengkakan yang disebut dengan edema. Dikutip dari laman National Institut of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, kondisi ini terjadi saat ginjal tidak bisa membuang cairan dan garam berlebih dari tubuh.

    Edema bisa terjadi di tungkai, telapak kaki, dan pergelangan kaki. Pada kasus yang jarang, edema bisa dialami di tangan atau wajah.

    Gejala Penyakit Ginjal Kronis Tingkat Lanjut

    Saat penyakit ginjal semakin parah, gejalanya bisa meliputi:

    Gatal, mati rasa, kulit kering, atau kulit menjadi gelapNyeri dada atau sesak napasKehilangan nafsu makan, mual, dan muntahMerasa lelah atau memiliki masalah tidurSulit berkonsentrasiPerubahan pada seberapa sering buang air kecilKencing berbusaPerubahan berat badanNyeri ototEdema yang semakin memburuk.Penyebab Penyakit Ginjal Kronis

    Dikutip dari laman Mayo Clinic, penyakit ginjal kronis terjadi saat suatu penyakit atau kondisi mengganggu fungsi ginjal dan menyebabkan kerusakan ginjal yang semakin parah. Adapun penyakit dan kondisi yang menyebabkan penyakit ginjal kronis yaitu:

    Diabetes tipe 1 atau tipe 2Tekanan darah tinggiGlomerulonefritis atau peradangan pada penyaringan ginjalNefritis interstisial atau peradangan pada tubulus ginjal dan struk di sekitarnyaPenyakit ginjal polikistikObstruksi saluran kemih yang berlangsung lama akibat kondisi seperti pembesaran prostat, batu ginjal, dan beberapa jenis kankerRefluks vesicoureteral, kondisi yang menyebabkan urine kembali ke ginjalInfeksi ginjal berulang

    NEXT: Cara Mencegah Penyakit Ginjal

    Cara Mencegah Penyakit Ginjal

    Untuk meminimalisir risiko terkena penyakit ginjal, lakukan hal berikut:

    Ikuti petunjuk penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas. Sebab, mengonsumsi terlalu banyak dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan ginjalPertahankan berat badan sehat. Lakukan aktivitas fisik hampir setiap hari dalam seminggu.Hindari rokok. Merokok bisa merusak ginjal dan memperparah kerusakan ginjal yang sudah ada

  • 5 Tanda Gula Darah Naik yang Sering Diabaikan

    5 Tanda Gula Darah Naik yang Sering Diabaikan

    Jakarta

    Kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia seringkali muncul diam-diam tanpa disadari. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu masalah kesehatan yang lebih serius.

    Banyak orang mengabaikan gejala awal kadar gula darah tinggi. Padahal, mengenali perubahan tubuh secara dini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi.

    Tanda Gula Darah Naik

    Ada banyak hal pada tubuh yang bisa menandakan kadar gula darah sedang tinggi. Berikut ini beberapa di antaranya:

    1. Suka Haus dan Kebelet

    Mudah haus dan sering buang air kecil merupakan salah dua tanda gula darah naik. Kedua gejala ini seringkali muncul bersamaan.

    “Kelebihan gula dalam darah membuat ginjal bekerja lebih keras untuk membuangnya. Ginjal menarik air dalam jaringan tubuh Anda untuk mengencerkan glukosa agar bisa dikeluarkan lewat urine, sehingga Anda jadi lebih sering buang air kecil,” kata ahli gizi Maria Elena Fraga, dikutip dari Eat Well, Sabtu (21/6/2025).

    2. Gampang Lapar

    Tubuh mengubah makanan menjadi glukosa yang kemudian digunakan sel sebagai energi. Namun, terkadang glukosa itu tidak bisa masuk dalam sel. Ini terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin secara cukup. Akhirnya, tubuh menjadi mudah lapar.

    “Ketidakmampuan menggunakan glukosa menyebabkan kekurangan energi yang bisa membuat Anda merasa lebih lapar dari biasanya,” sambung Fraga.

    3. Pandangan Kabur

    Gula darah tinggi dapat memengaruhi pembuluh darah kecil di mata yang memicu penglihatan kabur. Kondisi ini seringkali muncul pada orang sebelum didiagnosis diabetes.

    Seiring waktu, kondisi ini dapat merusak retina dan memicu retinopati diabetik. Itulah sebabnya American Diabetes Association merekomendasikan orang dengan diabetes tipe 2 untuk menjalani pemeriksaan mata setelah mendapat diagnosis.

    4. Mudah Lelah

    Kekurangan insulin dan resistensi insulin dapat menghambat sel menyerap glukosa dari aliran darah sebagai sumber energi. Tanpa bahan bakar yang cukup, tubuh akan merasa lelah dan lesu.

    5. Muncul Bercak Hitam Kulit

    Bercak hitam di celah-celah kulit seperti lipatan leher, ketiak, jari, dan selangkangan bisa menjadi tanda kadar gula darah tinggi. Gejala-gejala tersebut biasanya berkaitan dengan indikasi diabetes yang disebut acanthosis nigricans.

    Kondisi ini disebabkan tingginya kadar insulin yang menjadi tanda awal prediabetes, diabetes, atau resistensi insulin. Tanda lain yang bisa muncul di kulit seperti skin tags, dermatitis, infeksi jamur dan bakteri, serta kulit kering dan gatal.

    Jika mengalami tanda-tanda di atas, tidak ada salahnya untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah atau langsung ke dokter. Ini perlu dilakukan untuk memastikan gejala yang dialami memang berkaitan dengan kadar gula darah tinggi atau bukan.

    (avk/tgm)

  • Orang dengan Kondisi Ini Paling Berisiko Idap Gula Darah Tinggi, Kamu Termasuk?

    Orang dengan Kondisi Ini Paling Berisiko Idap Gula Darah Tinggi, Kamu Termasuk?

    Jakarta

    Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan kondisi ketika gula darah berada dalam kadar terlalu tinggi. Kondisi ini dapat memicu komplikasi serius bila tidak ditangani dengan benar.

    Meski siapapun bisa terkena, ada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih besar untuk mengalami hiperglikemia. Berikut ini beberapa di antaranya:

    1. Orang dengan Obesitas

    Orang dengan masalah obesitas atau kelebihan berat badan lebih rentan mengalami resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel otot, lemak, dan hati tidak merespon insulin sebagaimana mestinya.

    Dikutip dari Cleveland Clinic, ketika sel tidak merespons insulin, tubuh membutuhkan lebih banyak insulin untuk mengatur darah. Produksi insulin yang kurang dapat memicu hiperglikemia.

    2. Orang dengan Gangguan Pankreas

    Orang dengan gangguan pada pankreas juga memiliki risiko hiperglikemia yang lebih tinggi. Kerusakan pankreas dapat memicu kurangnya produksi insulin, sehingga memicu hiperglikemia.

    Beberapa masalah pankreas yang dapat memicu hiperglikemia seperti autoimun, pankreatitis kronis, kanker pankreas, dan fibrosis kistik. Fibrosis kistik merupakan penyakit genetik langka yang menyebabkan lendir tubuh menjadi kental dan lengket, sehingga mengganggu fungsi organ pernapasan dan pencernaan.

    3. Orang dengan Riwayat Keluarga Diabetes

    Orang yang memiliki riwayat keluarga diabetes lebih mungkin mengalami hiperglikemia, sebagai salah satu awal berkembangnya diabetes.

    Contohnya, pada diabetes tipe 2. Meskipun pola penurunan masih belum jelas, seseorang yang memiliki orang tua dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih besar untuk mengalami hal yang sama. Terlebih, jika pola hidup yang diterapkan juga tidak sehat.

    4. Orang dengan Hipertensi

    Dikutip dari Medical News Today, seseorang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi biasanya juga memiliki masalah resistensi insulin. Orang dengan kondisi ini lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi hingga diabetes dibandingkan orang-orang dengan tekanan darah normal.

    Tekanan darah tinggi dan kadar gula dara berkaitan melalui mekanisme peradangan, stres oksidatif, penebalan pembuluh darah, dan obesitas.

    5. Orang dengan Riwayat Diabetes Gestasional

    Orang dengan riwayat diabetes gestasional memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami hiperglikemia dan diabetes di kemudian hari. Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang terjadi selama kehamilan.

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention, hingga 50 persen wanita dengan diabetes gestasional akan mengidap diabetes tipe dua di kemudian hari.

    (avk/kna)

  • Kasus Medis Aneh, Pasien Gagal Ginjal Makan Busa Kursi saat Cuci Darah

    Kasus Medis Aneh, Pasien Gagal Ginjal Makan Busa Kursi saat Cuci Darah

    Jakarta

    Seorang wanita berusia 31 tahun di Inggris Raya diharuskan menjalani dialisis atau cuci darah sebanyak tiga kali seminggu.

    Pasien itu memiliki riwayat diabetes tipe 1, kesulitan belajar ringan, dan gagal ginjal stadium akhir. Dialisis ini berfungsi menggantikan peran ginjal untuk membersihkan limbah dan cairan berlebih dari aliran darah.

    Selain itu, pasien juga disarankan untuk membatasi asupan cairan dan garam di antara sesi dialisis tersebut. Jika tidak, cairan dapat menumpuk di dalam tubuh karena ginjal tidak menyaring dari darah, yang menyebabkan penambahan berat badan dan tekanan pada jantung.

    Dalam kasus ini, wanita tersebut terus-menerus mengalami penumpukan cairan berlebihan di antara jadwal dialisis. Hal ini terus terjadi meskipun telah dilakukan beberapa intervensi untuk mengatasinya.

    Seiring berjalannya waktu, pasien tidak dapat lagi mentoleransi sesi dialisis yang lama, sehingga ia akan memulai dan mengakhiri setiap sesi di atas berat badan targetnya karena semua penumpukan cairan. Pasien juga dilaporkan sesekali mengalami sembelit.

    Setelah satu sesi dialisis, seorang perawat yang membersihkan kursi tempat wanita itu duduk merasa kursinya agak ringan. Setelah diperiksa, ia melihat potongan-potongan besar busa, khususnya busa poliuretan berdensitas rendah, hilang dari kursi itu.

    Hasil Diagnosis

    Tim medis wanita itu menemukan bahwa pasien tersebut mengidap gangguan makan pica, yakni secara impulsif mengonsumsi barang-barang yang bukan makanan.

    “Kami terkejut menemukan bahwa pasien kami telah memakan busa itu dan telah meningkatkan asupan cairannya dengan asumsi bahwa busa itu akan menyerap kelebihan air di lambung, dan dengan demikian mencegah penyerapan sistemik,” tulis dokter dalam laporan yang dipublikasikan di BMJ Case Reports.

    “Ternyata ini tidak terjadi. Dengan kata lain, dia berharap busa itu akan bertindak seperti spons dan menyerap kelebihan cairan yang tertahannya,” sambungnya.

    Pica terkadang dikaitkan dengan kekurangan nutrisi, seperti kekurangan zat besi atau zinc, yang menyebabkan beberapa ilmuwan berteori bahwa kekurangan ini menyebabkan keinginan yang tidak biasa. Sebaliknya, beberapa orang berpikir bahwa penderita pica mungkin tertarik pada sensasi, seperti rasa, tekstur, atau bau, dari zat-zat yang bukan makanan.

    Kondisi ini terkadang dikaitkan dengan kehamilan atau anemia bulan sabit, serta gangguan kesehatan mental dan pengobatan tertentu.

    Dalam kasus ini, dokter wanita tersebut menjalankan tes dan mengesampingkan kekurangan gizi sebagai faktor. Mereka juga tidak menemukan pemicu psikososial akut terkait perilakunya itu dan pasien tidak memiliki riwayat pica sebelumnya.

    Mereka menduga bahwa kesulitan belajarnya mungkin berperan.

    NEXT: Perawatan yang dilakukan

    Perawatan yang Dilakukan

    Pasien diberitahu tentang konsekuensi memakan busa dan menerima bimbingan rutin dari ahli gizi dengan spesialisasi dalam membantu pasien dengan disfungsi ginjal. Keluarganya juga menjadi lebih terlibat dalam perawatannya.

    Kasus pica biasanya diobati dengan terapi perilaku, tetapi laporan kasus ini tidak mencatat apakah ada pilihan seperti itu yang dieksplorasi. Pasien juga diberikan obat pencahar untuk membantunya mengeluarkan busa yang telah dimakannya tanpa komplikasi apapun.

    Pada saat laporan kasus tersebut dipublikasikan pada 2010, pasien masih menjalani dialisis tiga kali seminggu.

    Dokter yang menangani wanita itu mencari literatur medis untuk kasus pasien penyakit ginjal yang memakan busa poliuretan dan tidak menemukannya. Tetapi, mereka menemukan beberapa kasus orang tanpa penyakit ginjal yang memakan bahan tersebut.

    “Kasus ini menyoroti fenomena yang diketahui, tetapi kurang terdiagnosis pada pasien ginjal, yang dikenal sebagai pica,” tulis para dokter.

    “Meskipun konsumsi es, aspirin, tanah liat, dan soda kue telah dilaporkan pada pasien hemodialisis, kasus ini unik karena pasien terpaksa memakan busa dari kursi dialisisnya,” pungkasnya.

  • Pihak Keluarga Ungkap Penyebab Kematian Desainer Kenamaan Tanah Air, Hengki Kawilarang

    Pihak Keluarga Ungkap Penyebab Kematian Desainer Kenamaan Tanah Air, Hengki Kawilarang

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Hengki Kawilarang dinyatakan wafat dalam usia 47 tahun pada Jumat, (20/6/2025).

    Berpulangnya desainer kenamaan Tanah Air itu, dikabarkan langsung oleh pihak keluarga melalui unggahan sosial Instagram pribadi akun mendiang.

    “Innalillahi wainna ilahi rojiun. Telah berpulang Hengki Candra Kusuma Kawilarang Bin Yohan Ahmad Fauzi Kawilarang,” bunyi kabar berita tersebut.

    Pihak keluarga kemudian meminta doa dan menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan almarhum semasa hidupnya.

    “Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf sedalam dalamnya jika ada perkataan maupun perlakuan yang pernah menyakiti,” sambungnya.

    Adapun kronologi sang desainer hingga dinyatakan meninggal dunia yakni komplikasi diabetes yang telah lama dideritanya

    Dengan demikian, reaksi dari komplikasi yang tejadi secara tiba-tiba mengalami penurunan kondisi kesehatannya.

    Tidak hanya itu, Ia juga mengalami cedera kepala yang membuat kondisinya semakin menurun.

    Kronologi tersebut disampaikan langsung oleh keponakan almarhum, Audrey saat ditemui awak media.

    “Kemarin itu dirawat dua hari, karena Om Hengki nggak sadarkan diri. Dari situ didiagnosa kreatininnya tinggi, sehingga ginjalnya bermasalah,” kata Audrey, dikutip Sabtu, (21/6/2025).

    Lebih lanjut, Audrey juga mengungkapkan bahwa pamannya itu sudah bolak-balik rumah sakit belakangan ini.

    “Jadi Om Hengki udah dari akhir tahun 2024 itu masih prima. Jadi, walaupun bolak-balik RS, sembuh lagi, fit lagi. Dia masih bisa ke luar negeri, masih bisa ketemu klien ke Jakarta.” pungkasnya.