Topik: diabetes

  • Lagi Viral Jalan Kaki 6-6-6, Ini Saran Dokter Buat yang Mau Cobain

    Lagi Viral Jalan Kaki 6-6-6, Ini Saran Dokter Buat yang Mau Cobain

    Jakarta

    Tren olahraga berjalan kaki dengan metode 6-6-6 populer di media sosial. Meski dianggap sebagai cara sederhana untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan, ternyata ada kelompok tertentu yang tidak disarankan untuk langsung mengikuti tren ini.

    Metode 6-6-6 adalah program berjalan kaki yang dianggap sederhana dan efektif untuk membantu menurunkan berat badan serta mengurangi stres. Tren ini dilakukan dengan berjalan kaki selama 60 menit sebanyak tiga hari dalam seminggu, yang bisa dimulai pada pukul 6.00 pagi atau 6.00 sore.

    “48 menit di antaranya harus dilakukan dengan ‘kecepatan tinggi’ atau zona 2. Ini berfungsi untuk meningkatkan detak jantung dan menantang sistem kardiovaskular,” jelas dokter intervensi nyeri dan pengobatan regeneratif di DISC Sports and Spine Center di Encino, California, AS, Dr Raj Desai, MD kepada Everyday Health.

    Dr Desai sendiri sangat mendukung olahraga dan jalan kaki secara teratur karena memiliki banyak manfaat, seperti:

    Menjaga berat badan yang sehat.Mengurangi lemak tubuh.Menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, kanker, dan diabetes tipe 2.Meningkatkan kebugaran kardiovaskular.Meningkatkan kekuatan tulang dan otot.Meningkatkan energi.Memperkuat sistem kekebalan tubuh.Meminimalkan stres.Meningkatkan suasana hati.

    Saran Dokter Buat yang Mau Coba Jalan Kaki 6-6-6

    Meskipun memiliki banyak manfaat, ada beberapa orang yang perlu berhati-hati sebelum langsung melakukan tren 6-6-6 ini. Hukuman ini tidak disarankan bagi mereka yang baru pertama kali berolahraga atau tidak pernah berolahraga secara teratur.

    Langsung berjalan kaki selama 60 menit bisa jadi terlalu berat. Oleh karena itu, bagi pemula, disarankan untuk memulainya dengan beban yang lebih kecil dan secara bertahap meningkatkan durasi hingga 60 menit.

    Selain itu, tren ini juga tidak disarankan bagi mereka yang sedang mengalami cedera. Kelompok ini akan lebih baik jika berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli fisioterapi sebelum memulai program latihan apa pun.

    Dr. Desai juga menekankan, bagi individu dengan riwayat atau masalah kondisi jantung, masalah sendi, atau yang umumnya kurang bergerak, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai tren ini.

    Pada intinya, olahraga dengan berjalan kaki sangat direkomendasikan. Namun, jika tidak memiliki waktu 60 menit atau belum sanggup melakukannya, mulailah secara perlahan sesuai dengan jadwal dan kemampuan masing-masing.

    “Program olahraga terbaik adalah program yang benar-benar Anda jalani dengan rutin dan jangka panjang,” tegas Dr Desai.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Ternyata Ini Waktu Terbaik Minum Kopi demi Cegah Kematian akibat Jantung

    Ternyata Ini Waktu Terbaik Minum Kopi demi Cegah Kematian akibat Jantung

    Jakarta

    Riset terbaru di 2025 menunjukkan orang yang terbiasa meminum kopi di pagi hari memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular atau masalah jantung, lebih rendah dibandingkan waktu-waktu lainnya.

    Penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal tersebut melibatkan analisis 40.725 orang dewasa yang berpartisipasi dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS atau National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES).

    Peserta ditanya soal semua makanan dan minuman yang mereka konsumsi setidaknya dalam satu hari, termasuk apakah mereka minum kopi, berapa banyak, dan kapan waktu meminum kopi. Subkelompok yang terdiri dari 1.463 orang juga diminta untuk mengisi catatan harian makanan dan minuman rinci selama seminggu penuh.

    “Penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa minum kopi tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dan tampaknya menurunkan risiko beberapa penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2. Mengingat efek kafein pada tubuh kita, kami ingin melihat apakah waktu minum kopi memiliki dampak pada kesehatan jantung,” tutur Dr Lu Qi, dari Tulane University, New Orleans, AS, yang memimpin penelitian.

    Para peneliti berhasil menghubungkan informasi kebiasaan meminum kopi dengan catatan kematian dan penyebab kematian selama periode sembilan hingga sepuluh tahun.

    Sekitar 36 persen orang dalam penelitian ini adalah peminum kopi di pagi hari, terbiasa, jam 4 pagi hingga 12 siang. Sementara 16 persen lainnya terbiasa minum kopi kapan saja, entah pagi, siang, dan malam, 48 persen bukan peminum kopi.

    Dibandingkan dengan orang yang tidak minum kopi, peminum kopi pagi memiliki kemungkinan 16 persen lebih rendah untuk meninggal karena penyakit apapun dan 31 persen lebih rendah untuk meninggal karena penyakit kardiovaskular.

    “Ini adalah studi pertama yang menguji pola waktu minum kopi dan hasil kesehatan. Temuan kami menunjukkan yang penting bukan hanya apakah minum kopi atau seberapa banyak minum, tetapi juga waktu minum kopi. Kami biasanya tidak memberikan saran tentang waktu minum kopi dalam panduan diet kami, tetapi mungkin kami harus mempertimbangkannya di masa mendatang,” terang Dr. Qi, dikutip dari European Society of Cardiology.

    “Studi ini tidak menjelaskan mengapa minum kopi di pagi hari mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Kemungkinan penjelasannya adalah bahwa mengonsumsi kopi di sore atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian dan kadar hormon seperti melatonin. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan perubahan faktor risiko kardiovaskular seperti peradangan dan tekanan darah,” lanjutnya.

    Meski begitu, sebagai catatan, studi lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuan tersebut pada populasi lain, dan memerlukan uji klinis untuk menguji dampak potensial dari perubahan waktu minum kopi.

    Mengapa waktu menjadi penting?

    Di pagi hari, biasanya terjadi peningkatan aktivitas simpatis yang signifikan saat seseorang bangun dan beranjak dari tempat tidur, efek yang memudar di siang hari dan mencapai titik terendah saat tidur.

    Oleh karena itu, seperti yang ditunjukkan para penulis studi, minum kopi di sore atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian aktivitas simpatis. Memang, banyak peminum kopi sepanjang hari mengalami gangguan tidur. Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa kopi tampaknya menekan melatonin, mediator penting pemicu tidur di otak.

    “Secara keseluruhan, kita harus menerima bukti substansial yang ada bahwa minum kopi, terutama di pagi hari, kemungkinan besar menyehatkan. Oleh karena itu, minumlah kopi, tetapi lakukanlah di pagi hari,” saran peneliti.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Kopi Panas atau Dingin, Mana yang Lebih Sehat?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/naf)

  • Ilmuwan Ciptakan ‘Kalkulator’ Usia Organ, Bisa Ramal Risiko Kena Sakit Jantung

    Ilmuwan Ciptakan ‘Kalkulator’ Usia Organ, Bisa Ramal Risiko Kena Sakit Jantung

    Jakarta

    Organ jantung di dalam tubuh mungkin lebih tua dari usia kronologis atau usia yang dihitung sejak seseorang dilahirkan. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian

    Dikutip dari laman New York Post, sebuah studi dari Northwestern Medicine menemukan bahwa sebagian besar orang dewasa Amerika memiliki usia jantung beberapa tahun lebih tua dari pada usia kronologis mereka.

    Untuk membantu dalam menilai usia jantung, para peneliti mengembangkan sebuah alat daring yang bisa melakukan perhitungan.

    Dengan menggunakan pedoman dari American Heart Association, alat daring bernama Prevent Risk Age Calculator menentukan risiko penyakit jantung seseorang berdasarkan beberapa faktor, seperti tekanan darah, kadar kolesterol, status merokok, pengobatan yang dilakukan, dan adanya diabetes.

    Berbeda dengan alat konvensional yang menyajikan risiko dalam bentuk persentase, kalkulator ini memberi hasil dalam bentuk usia, sehingga lebih mudah dipahami.

    “Usia jantung mungkin sangat bermanfaat bagi pasien dan dokter, serta lebih efektif dalam mencegah penyakit jantung.” kata penulis senior, Dr Sadiya Khan.

    “Ini menerjemahkan informasi kompleks tentang risiko serangan jantung, stroke, atau gagal jantung selama 10 tahun ke depan,” tambahnya.

    Tujuan utama dari alat adalah membantu dokter dan pasien berdiskusi lebih efektif tentang risiko penyakit jantung dan menentukan terapi yang tepat untuk mencegah serangan jantung, stroke, atau gagal jantung.

    Alat ini diujikan pada lebih dari 14.100 orang dewasa Amerika berusia antara 30-79 tahun yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Data ini diambil dari survei National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) antara tahun 2011-2020.

    Hasilnya cukup mengejutkan:

    Wanita memiliki rata-rata usia jantung 55,4 tahun, atau hampir 4 tahun lebih tua dari usia biologis rata-rata mereka (51,3 tahun).

    Pria memiliki usia jantung rata-rata 56,7 tahun, atau sekitar 7 tahun lebih tua dari usia kronologis rata-rata mereka (49,7 tahun).

    baca juga

    ====BREAK===

    Dari penelitian ini, diharapkan, semakin banyaknya informasi tentang risiko kesehatan jantung bisa meningkatkan perawatan pencegahan. Sebab, penyakit jantung telah menjadi penyebab utama kematian di Amerika selama lebih dari 100 tahun.

    “Banyak orang yang seharusnya mengonsumsi obat untuk menurunkan risiko serangan jantung, stroke, atau gagal jantung justru tidak mengonsumsi obat-obatan ini,” kata Dr Sadiya.

    “Kami berharap, kalkulator usia jantung baru ini akan membantu diskusi tentang pencegahan dan pada akhirnya meningkatkan kesehatan semua orang,” tambahnya.

    Dia mencatat, hal ini mungkin lebih penting jika dimanfaatkan oleh orang yang lebih muda. Sebab, mereka cenderung kurang menyadari risiko penyakit jantung merek. Kendati demikian, kalkulator ini tidak ditujukan untuk menggantikan penilaian langsung dari dokter.

    (elk/kna)

  • Buah Ini Kehilangan Banyak Nutrisinya jika Dimakan Terlalu Matang

    Buah Ini Kehilangan Banyak Nutrisinya jika Dimakan Terlalu Matang

    Jakarta, Beritasatu.com – Banyak orang mengira rasa manis pisang yang sangat matang menandakan kandungan nutrisinya lebih kaya. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal sebaliknya, ketika pisang melewati tingkat kematangan ideal, kandungan nutrisi esensialnya justru berkurang.

    Beberapa studi yang diterbitkan di jurnal Nutrients dan basis data ilmiah PubMed Central mengungkapkan, proses kimia saat pematangan memengaruhi vitamin C, serat prebiotik, dan pati resisten dalam pisang. Saat buah ini menjadi lebih lunak dan muncul bintik-bintik hitam, rasanya memang lebih manis, tetapi kandungan nutrisinya menurun.

    Penelitian yang dikutip oleh ahli gizi Amparo Gamero dari La Vanguardia menyebut, salah satu perubahan terbesar pada pisang terlalu matang adalah konversi pati resisten menjadi gula sederhana. Pati resisten berperan penting untuk kesehatan pencernaan dan metabolisme. Ketika berkurang, efek kenyang lebih cepat hilang dan kadar gula darah cenderung naik.

    Selain itu, kandungan vitamin C dalam pisang yang terlalu matang juga menurun. Vitamin C, yang penting untuk daya tahan tubuh, mudah rusak karena oksidasi saat buah melewati masa kematangan optimal.

    Studi yang dipublikasikan di Scielo menambahkan, proses pematangan berlebihan menurunkan kadar serat larut dan pati resisten, yang penting untuk kesehatan pencernaan dan fungsi usus.

    Saat gula sederhana meningkat, indeks glikemik pisang pun naik, sehingga dapat memicu lonjakan gula darah. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi penderita diabetes atau resistensi insulin.

    Untuk memaksimalkan manfaat pisang, termasuk serat, vitamin C, dan pati resisten, sebaiknya konsumsi saat teksturnya masih padat dengan warna kuning merata tanpa bintik cokelat. Mengonsumsi buah pada tingkat kematangan optimal tidak hanya memberikan rasa terbaik, tetapi juga menjaga kualitas gizi yang terkandung di dalamnya.

  • Terungkap Lewat Studi, Pola Tidur Seperti Ini Berisiko Kena 172 Penyakit

    Terungkap Lewat Studi, Pola Tidur Seperti Ini Berisiko Kena 172 Penyakit

    Jakarta

    Para ahli sepakat bahwa tidur selama tujuh hingga sembilan jam per malam merupakan durasi ideal bagi sebagian besar orang dewasa. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh kuantitas, tetapi juga oleh konsistensi dan ketepatan waktu tidur.

    Dalam sebuah studi besar yang dipimpin oleh tim dari Peking University dan Army Medical University, ditemukan ketidakteraturan pola tidur berkaitan dengan peningkatan risiko terhadap 172 jenis penyakit.

    Dikutip laman New York Post, para peneliti menganalisis data dari UK Biobank selama hampir tujuh tahun, yang melibatkan 88.461 orang dewasa dengan usia rata-rata 62 tahun. Analisis ini mencakup berbagai aspek tidur, seperti durasi tidur malam, waktu mulai tidur, ritme tidur, hingga tingkat fragmentasi atau gangguan tidur.

    Dikutip dari laman Times of India, penelitian yang dipimpin oleh Dr Qing Chen dari Universitas Kedokteran Militer Ketiga China menemukan pola tidur yang tidak teratur dan terfragmentasi berkaitan dengan 172 penyakit, seperti:

    -Risiko penyakit parkinson 37 persen lebih tinggi
    -Risiko diabetes tipe 2 36 persen lebih tinggi
    -Risiko gagal ginjal akut 22 persen lebih tinggi

    Gangguan tidur juga melipatgandakan risiko kelemahan orang dewasa yang lebih tua dan melipatgandakan risiko timbulnya gangren. Gangren adalah kematian jaringan tubuh akibat kurangnya aliran darah.

    “Beberapa penyakit umum menunjukkan risiko yang bisa dikaitkan dengan risiko yang cukup besar, seperti penyakit Parkinson, penyakit jantung paru, diabetes melitus tipe 2, obesitas, tirotoksikosis (hipertiroidisme), dan inkontinensia urine,” tulis para peneliti.

    “Temuan kami menggarisbawahi pentingnya keteraturan tidur yang seringkali terabaikan,” kata penulis senior dalam studi, Prof Shengfeng Wang.

    Menurutnya, sudah saatnya para peneliti memperluas definisi tidur yang baik, bukan hanya terkait durasinya.

    “Studi ini berkontribusi pada semakin banyaknya bukti yang mendukung peran penting tidur sebagai faktor risiko utama yang bisa dimodifikasi dalam berbagai gangguan medis, terutama di usia paruh baya hingga akhir hayat,” tutur Asisten profesor dan direktur lab Cognition, Aging, Sleep, and Health (CASH) di University of South Florida, Ashley Curtis, PhD.

    “Namun, studi ini juga menekankan cara kita mengukur tidur berpengaruh terhadap kesimpulan yang kita buat mengenai dampaknya terhadap kesehatan sepanjang hidup,” dia menambahkan.

    Kendati demikian, para peneliti mencatat adanya beberapa keterbatasan utama dalam penelitian ini. Hal yang paling umum adalah sebagian besar peserta berusia paruh baya atau lanjut usia. Mereka lebih rentan terkena penyakit tertentu.

    Ashley mencatat bahwa dalam penelitian ini, waktu tidur hanya diukur dalam satu periode selama tujuh hari, tanpa mempertimbangkan variabilitas pola tidur dari waktu ke waktu.

    “Selain itu, terdapat kurangnya pertimbangan terhadap gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea,: layata Ashley.

    Mengingat kedua gangguan tidur ini sangat umum dialami oleh populasi lanjut usia, diperlukan penelitian lebih lanjut mencakup penilaian klinis yang lebih komprehensif. Hal tersebut bisa sepenuhnya menjelaskan hubungan profil antara gangguan tidur dan risiko komorbiditas medis lainnya.

    Meski anjuran untuk tidur 7-9 jam per malam bermanfaat, studi ini menekankan waktu tidur dan konsistensi jadwal tidur mungkin jauh lebih penting. Orang dengan waktu tidur tak menentu dan rutinitas tidak konsisten akan mengalami dampak kesehatan yang jauh lebih buruk, meski mendapat total jam tidur yang cukup.

    Halaman 2 dari 2

    (elk/suc)

  • 24.000 Anak di Semarang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 74 Persen Siswa Obesitas
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        4 Agustus 2025

    24.000 Anak di Semarang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 74 Persen Siswa Obesitas Regional 4 Agustus 2025

    24.000 Anak di Semarang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 74 Persen Siswa Obesitas
    Tim Redaksi
    SEMARANG, KOMPAS.com –
    Sebanyak 24.900 anak di Kota Semarang telah mendapat layanan cek kesehatan gratis (CKG) sejak 21 Juli 2025.
    Pemerintah Kota Semarang menargetkan sekitar 291.000 anak sekolah menerima layanan tersebut sepanjang 2025.
    Hasil awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar puluhan ribu anak sekolah di Kota Semarang mengungkap fakta yang mengkhawatirkan, sekitar 74 persen anak mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.
    Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam, saat mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Arifah Choiri Fauzi meninjau pelaksanaan CKG di SLB Negeri Semarang, Senin (4/8/2025).
    “Hari ini kita launching untuk CKG anak sekolah. Sebenarnya sudah kita mulai sejak 21 Juli dan saat ini sudah mencapai 24.900 anak yang diperiksa,” ujar Hakam.
    Dia menuturkan CKG melayani skrining kesehatan secara menyeluruh kepada siswa di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mulai dari pemeriksaan status gizi, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan indera (mata dan telinga), pemeriksaan gigi, hingga kesehatan jiwa.
    “Total anak-anak di Kota Semarang ada sekitar 291 ribu dari 1.023 sekolah, terdiri dari 613 SD, 230 SMP, dan 182 SMA,” ungkap dia.
    Hakam mengatakan pengecekan melibatkan 13 indikator untuk SD serta 15 indikator untuk SMP dan SMA. Hasil awal skrining terhadap 24.900 anak menunjukkan berbagai temuan yang perlu ditindaklanjuti.
    “Paling banyak ditemukan masalah status gizi. Sekitar 74 persen anak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Gigi karies juga tinggi, mencapai 36 persen. Selain itu, ada yang prehipertensi sebesar 5,8 persen, prediabetes 5,65 persen, dan diabetes 0,14 persen,” lanjutnya.
    Tak hanya itu, kesehatan telinga seperti sumbatan serumen juga menjadi sorotan dalam pelaksanaan CGK di Semarang. Dia menyebut semua jenis pemeriksaan untuk anak-anak setara dengan orang dewasa.
    Lebih lanjut, Pemkot Semarang menargetkan seluruh pelajar di Semarang dapat mengikuti CKG ini dalam waktu satu tahun. Sehingga temuan penyakit dapat ditangani lebih dini untuk mencegah risiko lebih serius.
    “Begitu ditemukan anomali, langsung ditindaklanjuti oleh Puskesmas. Kalau perlu rujukan, akan diteruskan ke dokter spesialis,” katanya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 5 Cara Mengatasi Lemah Syahwat secara Alami dan Efektif

    5 Cara Mengatasi Lemah Syahwat secara Alami dan Efektif

    Jakarta

    Lemah syahwat, juga dikenal sebagai impotensi atau disfungsi ereksi (erectile dysfunction/ED), adalah kondisi ketika penis tidak mampu mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.

    Kondisi ini lebih sering dialami oleh pria seiring bertambahnya usia, terutama mereka yang berusia di atas 60 tahun. Namun, bukan berarti pria yang masih berada di usia produktif terbebas dari risiko lemah syahwat.

    Apa Itu Lemah Syahwat?

    Dikutip dari Harvard Health Publishing, lemah syahwat terjadi ketika penis tidak cukup keras atau ereksi tidak bertahan lama selama hubungan intim. Setidaknya 25 persen dari waktu, penis tidak bisa mempertahankan kekerasannya. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari stres, efek samping obat, depresi, hingga gangguan sirkulasi darah.

    Menurut Harvard Health Publishing, sekitar 75 persen kasus lemah syahwat berhubungan dengan kondisi medis serius, seperti:
    Penyakit jantung dan pembuluh darah

    DiabetesGangguan sarafPengobatan atau operasi prostat

    Bahkan, dalam 30 persen kasus, lemah syahwat atau disfungsi ereksi menjadi tanda awal dari penyakit kardiovaskular.

    Cara Mengatasi Lemah Syahwat Secara Alami

    Beberapa langkah gaya hidup sehat berikut ini terbukti secara ilmiah bisa membantu mengatasi disfungsi ereksi atau lemah syahwat.

    1. Rutin Berjalan Kaki

    Studi dari Harvard menunjukkan bahwa berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat menurunkan risiko disfungsi ereksi hingga 41 persen. Aktivitas fisik sedang, terutama pada pria paruh baya yang mengalami obesitas, terbukti membantu mengembalikan fungsi seksual.

    2. Konsumsi Makanan Sehat

    Menurut Massachusetts Male Aging Study, pola makan yang kaya akan buah, sayur, biji-bijian utuh, dan ikan terbukti mengurangi risiko disfungsi ereksi. Hindari daging merah, makanan olahan, serta karbohidrat olahan seperti roti putih atau makanan tinggi gula.

    3. Jaga Kesehatan Pembuluh Darah

    Tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan trigliserida tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang menuju penis. Periksakan kondisi kesehatan secara rutin untuk menjaga kesehatan jantung, otak, dan fungsi seksual.

    4. Turunkan Berat Badan

    Lingkar pinggang yang besar meningkatkan risiko disfungsi. Pria dengan lingkar pinggang 107 cm (42 inci) memiliki risiko 50 persen lebih besar mengalami lemah syahwat dibandingkan pria dengan lingkar pinggang 81 cm (32 inci). Menurunkan berat badan dapat memperbaiki keseimbangan hormon dan meningkatkan aliran darah ke penis.

    Terlebih obesitas meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah dan diabetes, dua penyebab utama disfungsi ereksi. Kelebihan lemak juga mengganggu beberapa hormon yang mungkin juga menjadi bagian dari masalah ini.

    5. Senam Kegel

    Senam Kegel membantu memperkuat otot dasar panggul, yang berfungsi menjaga aliran darah ke penis saat ereksi. Dalam penelitian di Inggris, latihan Kegel dua kali sehari selama tiga bulan, ditambah perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok dan mengurangi alkohol, terbukti lebih efektif dibandingkan hanya mengubah gaya hidup saja.

    (suc/suc)

  • Ancaman Serius, Peneliti Ramal Kasus Kanker Hati Bakal Meningkat, Ini Pemicunya

    Ancaman Serius, Peneliti Ramal Kasus Kanker Hati Bakal Meningkat, Ini Pemicunya

    Jakarta

    Jumlah orang yang mengidap kanker hati akan meningkat hampir dua kali lipat di seluruh dunia pada tahun 2050, kecuali, banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi penyebabnya.

    Dikutip dari laman France 24, data dari Global Cancer Observatory yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet menunjukkan, kasus baru kanker hati akan meningkat menjadi 1,52 juta per tahun dari 870.000, jika tren saat ini terus berlanjut.

    Kanker hati merupakan kanker paling mematikan ketiga di antara semua kanker. Penelitian memperkirakan, kanker hati akan merenggut sebanyak 1,37 juta jiwa pada pertengahan abad ini. Meski demikian, menurut tim ahli internasional, tiga dari lima kasus kanker hati bisa dicegah.

    Faktor risiko dari kanker hati adalah konsumsi alkohol, penumpukan lemak di hati yang terkait dengan obesitas atau yang sebelumnya dikenal dengan Nonalcoholic fatty liver (NAFLD), jenis penyakit perlemakan hati yang tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol, serta hepatitis virus.

    Konsumsi alkohol diperkirakan menyebabkan lebih dari 21 persen dar kasus kanker hati pada tahun 2050, naik lebih dari dua poin persentase dari tahun 2022. Sementara, kanker akibat lemak terkait obesitas di hati akan meningkat hingga 11 persen, yang juga naik lebih dari dua poin persentase.

    Kanker hati gegara hepatitis B

    Virus penyebab hepatitis B dan C diperkirakan akan tetap menjadi penyebab utama kanker hati pada tahun 2050. Cara terbaik untuk mencegah hepatitis B adalah pemberian vaksinasi saat lahir. Namun, cakupan vaksin masih rendah di negara-negara miskin, seperti Afrika sub-Sahara.

    Hepatitis B sendiri diperkirakan dapat membunuh 17 orang antara tahun 2015 dan 2030, kecuali tingkat vaksinasi ditingkatkan.

    Studi berskala besar yang meninjau bukti-bukti mengenai subjek ini menggaris bawahi adanya kebutuhan mendesak akan tindakan global terhadap kanker hati. Sehingga, para ahli menyerukan kesadaran masyarakat yang lebih besar tentang bahaya kanker hati yang bisa dicegah. Mereka terutama mengingatkan orang-orang dengan obesitas atau diabetes tentang penyakit hati berlemak di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video WHO soal Risiko Kesehatan Global Terkait Penyakit Misterius Kongo: Rendah”
    [Gambas:Video 20detik]
    (elk/kna)

  • Ratusan ASN di Pemkot Jaktim jalani cek kesehatan gratis

    Ratusan ASN di Pemkot Jaktim jalani cek kesehatan gratis

    Jakarta (ANTARA) – Ratusan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Timur mulai menjalani cek kesehatan gratis (CKG) di Kantor Walikota Jaktim, Cakung, Senin.

    “Hari ini para ASN di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur mulai melakukan cek kesehatan gratis di Kantor Walikota. Totalnya kalau di gedung ini ada 690 orang ASN,” kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Blok A Kantor Walikota Jakarta Timur.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin tahunan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam rangka meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan.

    “Pagi hari ini sudah dimulai di Jakarta Timur. Insya Allah nanti karena jumlahnya cukup banyak, akan dibagi empat tahap. Kalau keseluruhan ASN di Jakarta Timur bisa sepuluh ribuan,” ujar Munjirin.

    Menurut Munjirin, cek kesehatan gratis ini wajib diikuti seluruh ASN demi melancarkan tugasnya dalam melayani masyarakat dengan baik.

    “Kalau kita tidak sehat, tidak bisa melakukan pelayanan masyarakat dengan baik. Makanya, harus sehat dulu dari para ASN,” ucapnya.

    Adapun cek kesehatan gratis di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur dimulai dengan mengisi daftar hadir, melakukan registrasi nomor urut, dan pemeriksaan fisik.

    Lalu, mengecek tinggi dan berat badan, laboratorium, input data, mengecek gigi, mata, tekanan darah, gula darah, kolestrol, asam urat, dan kesehatan umum lainnya.

    “Dari pemeriksaan kesehatan yang dasarnya sampai dengan nanti ada jantung dan sebagainya. Pemeriksaan kesehatan ini nanti ketahuan semuanya,” kata Munjirin.

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai CKG di sekolah di Jakarta telah dimulai pada tahun ajaran baru ini, diawali di Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Cipayung, pada 9 Juli 2025.

    Kemudian di Sekolah Rakyat Sentra Mulya Jaya, Cipayung serta Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Margaguna, Cilandak, pada 14 Juli 2025.

    Pemeriksaan yang dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh orang tua/wali murid/pelajar dan pemeriksaan pada hari H sesuai jenjang dan usianya.

    Untuk Jenjang SD/sederajat (7-12 tahun) meliputi pemeriksaan meliputi status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, kesehatan jiwa, tuberkulosis serta diabetes melitus.

    Selain itu merokok, kebugaran (kelas 4-6), hepatitis B, kesehatan reproduksi dan riwayat imunisasi (kelas 1).

    Lalu, jenjang SMP/sederajat (13-15 tahun), pemeriksaan meliputi status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, kesehatan jiwa, tuberkulosis, diabetes melitus, merokok dan kebugaran.

    Selanjutnya hepatitis B dan C, kesehatan reproduksi, skrining anemia dan talasemia (kelas 7 dan 9) serta riwayat imunisasi (kelas 9).

    Kemudian, jenjang SMA/sederajat (16-17 tahun), pemeriksaan termasuk status gizi, tekanan darah, mata, telinga, gigi, kesehatan jiwa, tuberkulosis, diabetes melitus, merokok dan kebugaran. Hepatitis B dan C, kesehatan reproduksi, skrining anemia dan talasemia (kelas 10 dan 12).

    Pewarta: Siti Nurhaliza
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • 5 Makanan Favorit Orang RI yang Bisa Picu Serangan Jantung di Usia Muda

    5 Makanan Favorit Orang RI yang Bisa Picu Serangan Jantung di Usia Muda

    Jakarta

    Serangan jantung kini tak lagi hanya menyerang usia lanjut. Banyak kasus menunjukkan serangan jantung terjadi pada usia muda, dan salah satu pemicu utamanya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Kondisi ini sering kali dipicu oleh gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat.

    Di Indonesia, banyak makanan favorit yang sebenarnya menyimpan ‘bom waktu’ bagi kesehatan jantung, terutama jika dikonsumsi berlebihan. Berikut adalah 5 makanan favorit yang bisa memicu hipertensi dan meningkatkan risiko serangan jantung di usia muda:

    1. Gorengan

    Keripik, aneka gorengan, atau makanan ringan kemasan adalah camilan andalan banyak orang. Makanan-makanan ini tinggi akan garam dan lemak jenuh. Konsumsi garam berlebihan bisa meningkatkan volume darah dan tekanan pada pembuluh darah, yang berujung pada hipertensi. Begitu juga dengan makanan yang digoreng, lemak jenuhnya dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung.

    “Gorengan itu kenapa sih akhirnya jadi salah satu makanan yang dianjurkan untuk dihindari? Karena biasanya kita makan gorengan nggak mungkin cuman satu, jadi pasti lebih dari satu. Itu tuh udah jelas mudah sekali terjadi overdosis dari komponen yang ada di dalam gorengan itu,” terang spesialis penyakit dalam dr RA Adaninggar Primadia N, SpPD-KGH.

    2. Makanan Bersantan

    Masakan Indonesia kaya akan santan, seperti rendang, gulai, dan opor. Santan memang gurih dan lezat, tapi juga mengandung lemak jenuh yang tinggi. Lemak jenuh ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Penumpukan kolesterol di dinding pembuluh darah bisa membentuk plak, menyumbat aliran darah, dan akhirnya memicu serangan jantung.

    3. Jeroan Sapi atau Ayam

    Sate, gulai, atau sop jeroan seperti usus, babat, dan hati sangat populer. Namun, jeroan mengandung kolesterol dan purin yang sangat tinggi. Konsumsi berlebihan bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan memicu penumpukan plak di pembuluh darah, yang menjadi penyebab utama hipertensi dan penyakit jantung.

    4. Mie Instan

    Mie instan adalah penyelamat di kala lapar melanda. Sayangnya, mie instan mengandung natrium (garam) yang sangat tinggi. Kandungan natrium ini berfungsi sebagai pengawet dan perasa. Konsumsi rutin mie instan dapat meningkatkan risiko hipertensi secara signifikan, terutama jika bumbu dihabiskan semua.

    5. Minuman Manis Kemasan

    Teh kemasan, kopi instan, atau minuman bersoda adalah pilihan praktis untuk menghilangkan dahaga. Namun, minuman ini sarat dengan gula tambahan. Konsumsi gula berlebihan tidak hanya berisiko menyebabkan diabetes, tapi juga bisa memicu peradangan dalam tubuh, meningkatkan berat badan, dan memperburuk kondisi pembuluh darah. Kondisi ini semua akan meningkatkan risiko hipertensi dan serangan jantung.

    Mengingat risiko serangan jantung di usia muda semakin nyata, bijak dalam memilih makanan adalah langkah penting. Kurangi konsumsi makanan-makanan di atas, perbanyak buah dan sayur, serta imbangi dengan olahraga teratur. Perubahan kecil dalam gaya hidup dapat membuat perbedaan besar untuk kesehatan jantung di masa depan.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)