Titik Balik PLTSa Benowo Surabaya, dari Masalah Sampah Jadi Energi Listrik

Titik Balik PLTSa Benowo Surabaya, dari Masalah Sampah Jadi Energi Listrik

Liputan6.com, Jakarta – Di ujung barat Surabaya, di sebuah kawasan yang dulu identik dengan aroma menyengat dan gunungan sampah yang tak pernah tidur, kini cahaya listrik menyala dari sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya: sampah.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu persoalan klasik kota besar, perlahan berubah wajah. Ia tak lagi sekadar tempat akhir bagi limbah, melainkan titik awal bagi energi baru yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo hadir sebagai jawaban atas dua persoalan besar sekaligus krisis sampah dan kebutuhan energi. Dari tumpukan sisa kehidupan kota, listrik lahir dan mengalir, menembus kabel-kabel menuju rumah, jalan, dan denyut aktivitas warga Surabaya.

Setiap hari, sekitar 1.600 ton sampah kota masuk ke kawasan ini. Bukan untuk ditimbun dan dilupakan, melainkan diolah melalui teknologi modern Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Di sinilah narasi lama tentang sampah sebagai beban mulai dipatahkan.

Dua teknologi utama bekerja senyap namun konsisten. Sistem gas power plant memanfaatkan gas metana dari timbunan sampah, sementara sistem gasification membakar sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Dari proses inilah, energi lahir pelan, pasti, dan berkelanjutan.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, mencatat bahwa selama sembilan tahun beroperasi, PLTSa Benowo telah menyumbang energi bersih sebesar 166,1 gigawatt hour (GWh). Angka yang mungkin terasa teknis, namun sejatinya adalah simbol perubahan cara pandang.

“PLTSa Benowo merupakan wujud nyata kolaborasi PLN dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan,” ujarnya, ditulis Jumat (16/1/2026).

Pembangkit ini terdiri dari dua unit utama. Unit pertama berkapasitas 1,65 megawatt dengan sistem sanitary landfill yang telah beroperasi sejak November 2015. Unit kedua, yang lebih besar dan ambisius, berkapasitas 9 megawatt dengan sistem gasification dan zero waste, mulai beroperasi pada Maret 2021.

Setiap tahunnya, PLTSa Benowo menyuplai sekitar 5,5 GWh dari pembangkit berbasis gas metana dan sekitar 30 GWh dari sistem gasifikasi. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa sampah yang selama ini ditolak dan dijauhi ternyata menyimpan daya.

Perbesar

Seorang pekerja di TPS Benowo sedang memproses salah satu tahapan mengubah sampah menjadi energi listrik. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Di balik mesin dan pipa, ada visi besar yang terus dijaga. Pemerintah pusat pun menaruh perhatian serius. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) datang langsung meninjau operasional fasilitas ini.

“Kunjungan kami hari ini untuk melihat secara langsung operasi PSEL di Benowo yang telah berjalan efektif selama kurang lebih empat tahun terakhir. Kami mengapresiasi, karena sampah ini adalah persoalan kita semuanya,” ujarnya.

Menurut Menko AHY, Benowo adalah contoh bagaimana infrastruktur modern bisa menjawab persoalan urban secara konkret. Dengan kapasitas 1.600 ton per hari, sistem pengolahan dibagi dalam dua jalur.

Sekitar 600 ton diolah melalui gas power plant untuk menghasilkan 1,65 hingga 2 megawatt listrik, sementara 1.000 ton sisanya diproses dengan metode gasifikasi dan disalurkan ke gardu induk PLN Altaprima.

Namun Benowo bukan resep tunggal untuk semua kota. AHY mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki tantangan berbeda.

“Ada skala yang harus kita lihat secara cermat. Kota seperti Jakarta dengan 8.000 ton sampah per hari tentu membutuhkan kapasitas dan teknologi yang lebih besar,” katanya.

Lebih dari sekadar teknologi, Menko AHY menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dari pemerintah pusat, daerah, hingga BUMN. “Sampah ini persoalan dari hulu ke hilir. Kita harus bergerak bersama,” tegasnya.

Kini, PLTSa Benowo berdiri sebagai simbol ekonomi sirkular yang bekerja nyata. Sampah tidak lagi berhenti sebagai residu, tetapi berputar, memberi nilai, dan kembali ke masyarakat dalam bentuk energi.

Koordinasi antara Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan PLN UID Jawa Timur menjadi kunci dari keberhasilan ini. Kolaborasi yang menunjukkan bahwa persoalan besar bisa diurai jika dikerjakan bersama.

Di Benowo, sampah telah menemukan makna barunya. Ia bukan lagi akhir dari segalanya, melainkan awal dari cahaya. Sebuah titik balik bukan hanya bagi Surabaya, tetapi bagi cara Indonesia memandang masa depan pengelolaan sampah dan energi bersih.