Tempat Fasum: SPBU

  • Pertamina Bakal Gandeng Perusahaan Brasil buat Garap BBM Campur Etanol

    Pertamina Bakal Gandeng Perusahaan Brasil buat Garap BBM Campur Etanol

    Jakarta

    Indonesia akan bekerja sama dengan Brasil untuk mendorong penerapan BBM ramah lingkungan campuran etanol. Indonesia sendiri ingin mengembangkan BBM campuran etanol 10% alias E10.

    Dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Lula da Silva, di Istana Merdeka Jakarta Pusat hari ini, telah disepakati memorandum saling pengertian antara PT Pertamina dan perusahaan migas Fluxus asal Brasil.

    Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Brasil merupakan negara yang cukup maju dalam pengembangan bioetanol. Indonesian ingin banyak belajar dari negara tersebut.

    “Di sektor energi, khususnya kita akan kerja sama di energi baru terbarukan termasuk di dalamnya kita mendorong kan mereka salah satu negara yang sukses memberikan mandatori bioetanol, sekarang mandatori di negara mereka E30 sudah ada juga yang E100 di beberapa negara bagian,” ungkap Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025).

    “Itu pokoknya kita akan kolaborasi dengan Brasil, kita akan cek ke sana,” lanjutnya.

    CIO Danantara Pandu Patria Sjahrir juga mengatakan Pertamina akan bekerja sama dengan perusahaan Brasil untuk membuat proyek bahan bakar berkelanjutan. Ketika dikonfirmasi soal rencana membuat bioetanol, dia pun membenarkan.

    “Pertamina itu nanti akan kerja sama soal sustainable fuel. (Soal membuat etanol) Kurang lebih begitu,” sebut Pandu di tempat yang sama.

    Tonton juga video “Bahlil Beri Bocoran SPBU Swasta Deal Beli BBM dari Pertamina” di sini:

    (hal/kil)

  • Waduh! Pemobil Brio Kabur Belum Bayar Usai Isi Pertalite Rp 200 Ribu

    Waduh! Pemobil Brio Kabur Belum Bayar Usai Isi Pertalite Rp 200 Ribu

    Jakarta

    Viral pemobil Brio Satya merah kabur sebelum menyelesaikan pembayaran bahan bakar minyak (BBM) Pertalite sebesar Rp 200 ribu. Insiden tersebut kini diselidiki pihak kepolisian.

    Beredar sebuah video viral di media sosial Instagram melalui akun @tangerang.terkini, yang memperlihatkan mobil berwarna merah melarikan diri setelah mengisi bensin di SPBU di kawasan Rempoa, Tangerang Selatan.

    Dalam video tersebut, nampak petugas SPBU mengejar mobil berwarna merah itu karena diduga belum menyelesaikan pembayaran.

    Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menjelaskan peristiwa itu terjadi di SPBU Rempoa, Jalan Pahlawan Raya, Ciputat, Tangerang Selatan pada Senin (20/10/2025).

    Dia menjelaskan peristiwa tersebut berawal dari salah satu konsumen yang melakukan pengisian bahan bakar jenis Pertalite sebesar Rp 200 ribu, pada Senin (20/10) sekitar pukul 15.30 WIB.

    “Kemudian saat hendak melakukan pembayaran, petugas jaga pom bensin menawarkan metode pembayaran cash (tunai), QRIS dan debit, konsumen tersebut beralasan tidak membawa dompet dan ingin melakukan pembayaran via transfer,” ujar Bambang dikutip dari Antara, Kamis (23/10/2025).

    Petugas lalu memanggil pengawas di SPBU Rempoa tersebut dan memberikan nomor rekeningnya untuk pembayaran.

    “Setelah itu, konsumen tersebut menunjukkan bukti pembayaran via transfer ke nomor rekening. Setelah ditunggu beberapa saat, uang tersebut belum masuk ke rekening,” ungkap Bambang.

    Kemudian, tiba-tiba konsumen tersebut langsung kabur dan melarikan diri dari SPBU itu dengan menggunakan kendaraan roda empat jenis Honda Brio berwarna merah dengan nopol B 1719 ZOF.

    “Setelah dilakukan pengecekan, bahwa pihak manager SPBU Rempoa tidak menuntut ganti rugi dan berharap konsumen tersebut kembali ke SPBU Rempoa untuk membayarnya,” ucap Bambang.

    (riar/rgr)

  • Periksa 3 Saksi, KPK Usut Aliran Dana Korupsi Digitalisasi SPBU

    Periksa 3 Saksi, KPK Usut Aliran Dana Korupsi Digitalisasi SPBU

    Bisnis.com, JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami aliran uang dalam perkara dugaan korupsi pengadaan digitalisasi SPBU PT Pertamina (Persero) 2018-2023 usai memanggil 3 saksi.

    Mereka adalah ERH selaku OSM Service Operation SDA PT Telkom tahun 2021, DPA selaku Direktur Sales dan Marketing PT Pertamina Lubricants, dan AN selaku Pegawai TRG Investama.

    Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan ketiga saksi hadir saat pemeriksaan pada Rabu (22/10/2025) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

    “Penyidik mendalami saksi perihal aliran yang diduga terkait dengan perkara,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (23/10/2025).

    Selain itu, kata Budi, penyidik juga meminta keterangan kepada para saksi untuk menghitung kerugian negara oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Budi mengatakan pemeriksaan secara paralel memudahkan penyidik dalam mendapatkan informasi.

    Di samping itu, pada hari ini KPK kembali memanggil pemeriksaan 2 saksi di kasus yang sama yakni AH selaku OSM Service Operation SDA PT Telkom tahun 2020-2021 dan DK sebagai Senior Advisor II SDA PT Telkom tahun 2020.

    “Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK,” kata Budi.

    Sekadar informasi, kasus yang menyeret perusahaan pelat merah itu naik ke tahap penyidikan pada 20 Januari 2025. KPK telah menetapkan 3 tersangka dalam perkara ini.

    Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia atau BRI (Persero) pada tahun 2020–2024, yakni Elvizar (EL). Dia merupakan Direktur PT Pasifik Cipta Solusi (PCS) saat kasus digitalisasi SPBU, dan Direktur Utama PCS di kasus mesin EDC.

  • Pertamina Patra Niaga Dukung Asta Cita Lewat Penguatan Energi dan Pangan

    Pertamina Patra Niaga Dukung Asta Cita Lewat Penguatan Energi dan Pangan

    Jakarta

    Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam mendukung program Asta Cita Pemerintah melalui langkah nyata di bidang ketahanan energi, inovasi energi hijau, dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.

    Dalam satu tahun terakhir, berbagai inisiatif dihadirkan untuk mewujudkan kedaulatan energi dan ekonomi berkelanjutan. Mulai dari perluasan distribusi energi hingga pelosok negeri, inovasi bahan bakar ramah lingkungan seperti Pertamax Green 95 dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), hingga program CSR yang mendorong ketahanan pangan nasional.

    Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyebut seluruh inisiatif tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata BUMN energi terhadap pembangunan nasional.

    “Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus mendukung visi besar pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan energi dan kemandirian pangan. Melalui penguatan koperasi desa, inovasi bahan bakar hijau, dan program CSR yang menyentuh masyarakat, kami ingin memastikan energi tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga mensejahterakan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/10/2025).

    Sebagai bagian dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Pertamina Patra Niaga aktif mendorong kemandirian energi di tingkat desa. Program ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam distribusi dan pengelolaan energi, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

    Melalui KDMP, masyarakat tak hanya menjadi penerima manfaat energi, tetapi juga bagian dari rantai distribusi dan pelaku ekonomi mandiri. Inisiatif ini sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional.

    Selain memperkuat energi di akar masyarakat, Pertamina Patra Niaga juga terus berinovasi menghadirkan energi ramah lingkungan melalui Pertamax Green 95, bahan bakar dengan campuran bioetanol dari sumber daya nabati yang mampu mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi mesin kendaraan.

    Ega menyebut Pertamax Green 95 yang mengandung 5% Bioetanol (E5) ini sudah dua tahun berada di pasaran,

    “Penjualan terus tumbuh dan saat ini sudah mencapai 163 SPBU di Pulau Jawa yang memasarkan produk tersebut (Jabode, Jawa Tengah, dan Jawa Timur),” jelasnya.

    Ia menambahkan, pada sektor penerbangan, Pertamina Patra Niaga mengembangkan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai solusi bahan bakar terbarukan yang menjadi tonggak penting menuju penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

    “Selain mengurangi emisi, SAF membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan memperkuat kemandirian energi Indonesia di sektor aviasi,” tuturnya.

    Kedua inovasi ini menjadi bukti keseriusan Pertamina Patra Niaga dalam mendukung Asta Cita poin keempat, yakni mempercepat hilirisasi industri dan pengembangan energi hijau.

    Tidak hanya fokus pada energi, Pertamina Patra Niaga juga menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang memperkuat ketahanan pangan serta mengembangkan ekonomi masyarakat di 25 lokasi, seperti Uma Palak Lestari, Kampung Pangan Berseri, dan Pekarangan Pangan Lestari.

    Program ini telah memberikan manfaat bagi lebih dari 11.000 jiwa, terdiri dari sekitar 4.630 penerima manfaat langsung seperti petani, UMKM, perempuan, pemuda, disabilitas, lansia, dan anak-anak, serta 8.000 penerima manfaat tidak langsung dari masyarakat sekitar berupa berkurangnya risiko gagal panen di area rawan kekeringan turun hingga 80%.

    Pertamina Patra Niaga juga mengembangkan pertanian terpadu melalui urban farming, bioflok, dan agrowisata yang memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa. Lebih dari 90 ton limbah telah diolah menjadi produk bernilai tambah, sementara pemanfaatan PLTS, biogas, dan biodigester di delapan wilayah mampu menyerap lebih dari 5 ton karbon CO₂ per tahun.

    Secara sosial dan ekonomi, program ini mendorong peningkatan pendapatan kolektif masyarakat hingga Rp450 juta per bulan, serta membentuk lebih dari 30 kelompok tani dan UMKM perempuan berdaya.

    Lebih lanjut, Ega menegaskan bahwa pihaknya meyakini bahwa energi dan pangan merupakan dua fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang tangguh dan berdaulat.

    “Dengan kolaborasi bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Pertamina Patra Niaga siap terus menghadirkan energi yang berkelanjutan dan berkeadilan untuk seluruh masyarakat Indonesia”, tegasnya.

    Manfaat program juga dirasakan langsung masyarakat di tingkat akar rumput. Salah satu warga di Kelurahan Mampang, Rubiah, mengaku terbantu dengan keberadaan koperasi tersebut.

    “Alhamdulillah, bermanfaat sekali. Harganya terjangkau, tempatnya dekat, jadi saya dan warga sekitar tidak perlu repot lagi. LPG 3 Kg di KDMP selalu tersedia untuk kami,” tutupnya.

    (akn/ega)

  • Pemobil Tembak Mati Sopir Angkot Gegara Diserobot Saat Antre di SPBU Sumsel

    Pemobil Tembak Mati Sopir Angkot Gegara Diserobot Saat Antre di SPBU Sumsel

    Banyuasin

    Seorang pemobil menembak sopir angkutan desa (angdes) diduga karena tak terima diserobot saat antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Desa Tanjung Agung, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Pelaku kini ditangkap polisi.

    Dilansir detikSumbagsel, peristiwa itu terjadi di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Palembang-Betung, tepatnya di kawasan Tanjung Agung, pada Selasa (21/10/2025). Korban yang diketahui bernama Obi, tewas setelah ditembak pada bagian perut sebelah kiri oleh seorang pengendara Toyota Innova Reborn.

    Informasi yang diperoleh, keributan bermula di SPBU Limau Sembawa. Saat itu, korban diduga menyerobot antrean bahan bakar, hingga terjadi adu mulut dengan pengendara Innova tersebut. Perselisihan tak berhenti di lokasi SPBU, keduanya kemudian saling kejar di jalur lintas hingga berhenti di pinggir jalan Desa Tanjung Agung.

    Ketegangan memuncak ketika keduanya terlibat perkelahian. Di tengah adu fisik, pelaku disebut kembali ke mobilnya, mengambil pistol, dan menembak Obi hingga korban tersungkur bersimbah darah. Penumpang angkutan desa yang sebagian besar pelajar pun panik dan berhamburan keluar dari kendaraan.

    “Benar, pelaku sudah berhasil diamankan kurang dari 12 jam setelah kejadian. Rencananya siang ini akan kami rilis secara resmi,” ujarnya, seperti dilansir detikSumbagsel.

    Baca selengkapnya di sini

    (idh/lir)

  • Tragedi Pembacokan di SPBU Camplong Sampang Diduga Barcode Tak Terpindai

    Tragedi Pembacokan di SPBU Camplong Sampang Diduga Barcode Tak Terpindai

    Sampang (beritajatim.com) – Terungkap penyebab tragedi berdarah yang menimpa Hairuddin (29), petugas SPBU di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Ia menjadi korban penganiayaan dengan senjata tajam oleh sekelompok orang akibat masalah sepele.

    Insiden yang membuat korban mengalami luka bacok serius dan kini dirawat kritis di RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang itu ternyata dipicu oleh masalah barcode kendaraan yang tidak dapat dipindai saat pembelian bahan bakar, Selasa (21/10/2025).

    Salah satu saksi mata yang juga rekan kerja korban, Pardi (20), menceritakan bahwa peristiwa bermula saat seorang pria datang mengisi bahan bakar. Namun, barcode kendaraannya tidak bisa dipindai oleh sistem SPBU. “Orangnya langsung marah-marah. Katanya, ‘kok barcode saya gak bisa, padahal sering dipakai’. Dari situ dia mulai emosi,” ujarnya.

    Amarah pria yang diduga sebagai salah satu pelaku berinisial M semakin menjadi-jadi. Ia langsung mengeluarkan pisau dan menantang korban berkelahi. “M ini teriak ngajak carok. Korban sempat menegur karena melihat pelaku seperti orang mabuk, tapi malah makin marah,” terang Pardi.

    Tak lama kemudian, pelaku M menelepon rekannya. Hanya dalam waktu lima menit, dua orang datang dari arah utara membawa celurit. “Saya langsung lari kasih tahu ke Abah Saudi (pemilik SPBU),” katanya.

    Saat situasi memanas, Abah Saudi datang dan berusaha melerai. Namun, salah satu pelaku justru langsung menyerang korban dengan celurit hingga mengalami luka-luka parah. “Abah sempat pasang badan di depan korban. Kalau gak ada Abah, mungkin korban bisa meninggal di tempat,” tuturnya.

    Beberapa saat kemudian, korban yang masih sempat meminta air langsung dilarikan ke Puskesmas Camplong, lalu dirujuk ke RSUD Sampang. “Korban dirawat intensif di ruang ICU setelah menjalani operasi,” pungkasnya. [kun]

  • Nyaru Jadi Perempuan untuk Bobol Brankas SPBU Tegalsari, Mantan Karyawan Disel

    Nyaru Jadi Perempuan untuk Bobol Brankas SPBU Tegalsari, Mantan Karyawan Disel

    Surabaya (beritajatim.com) – Seorang mantan pegawai SPBU Tegalsari rela nyaru menjadi perempuan demi bisa membobol brankas di bekas kantor tempat ia bekerja, Senin (13/10/2025).

    Dari aksinya, pelaku berhasil menggondol uang sebesar Rp 350 juta dan kabur ke Yogyakarta.

    Dari informasi yang dihimpun beritajatim.com, aksi pembobolan brankas itu dilakukan oleh mantan karyawan berinisial ZA.

    Aksinya masuk ke dalam kantor SPBU terekam kamera CCTV. Saat beraksi, ia memakai pakaian tertutup dan memakai kerudung untuk menyamarkan identitasnya.

    Pelaku sempat masuk ke area tempat mesin ATM. Saat itu, SPBU dalam kondisi sepi pengunjung dan hanya dijaga oleh tiga karyawan yang berjaga di mesin nozzle. Setelah merasa aman, pelaku naik ke bagian kantor SPBU di lantai dua. Ia lalu mematikan CCTV ruangan dan masuk ke area brankas.

    Sebagai mantan karyawan, ia mengetahui letak kunci brankas disimpan. Ia lantas mengambil kunci brankas dan mengambil uang sekitar Rp 350 juta.

    Kapolsek Tegalsari Kompol Riski Sentosa saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan jika pelaku berinisial ZA sudah diamankan di Yogyakarta pada 17 Oktober 2025 di Yogyakarta.

    “Pelaku sudah kita amankan kemarin tanggal 17 Oktober 2025 mas. Kami bersama anggota Unit Jatanras Polrestabes Surabaya menangkap pelaku di Yogyakarta,” kata Riski kepada beritajatim, Selasa (21/10/2025).

    Saat diamankan, ZA masih membawa kunci asli brankas dan Digital Video Recorder (DVR) rekaman CCTV dari kantor SPBU Tegalsari. Ia juga masih menyisakan uang hasil curiannya sebesar Rp 291 juta.

    “Uangnya sudah terpakai Rp 59 juta. Ngakunya untuk bayar hutang dan foya-foya. Selebihnya nanti akan kami sampaikan lebih lanjut ya,” pungkas Riski. (ang/ted)

  • Kebijakan Bensin Campur Etanol 10%, Pakar: Tak Merugikan, Justru Untungkan Petani

    Kebijakan Bensin Campur Etanol 10%, Pakar: Tak Merugikan, Justru Untungkan Petani

    Bisnis.com, JAKARTA — Rencana penerapan kebijakan bahan bakar bensin campur etanol 10% (E10) dinilai sebagai langkah tepat yang tidak akan merugikan. Kebijakan ini justru diyakini mampu menekan impor BBM dan meningkatkan kesejahteraan petani.

    Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, program mandatory etanol akan memberi banyak manfaat bagi ekonomi nasional.

    “Ini jelas bisa mengurangi impor BBM kita dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani, seperti petani singkong dan tebu,” kata Sofyano kepada Bisnis, Selasa (21/10/2025). 

    Menurut dia, selama ini singkong hanya dimanfaatkan untuk bahan pangan seperti tapioka. Dengan adanya program etanol, singkong dan tebu dapat menjadi sumber energi baru yang membuka peluang pendapatan tambahan bagi petani.

    Sofyano menjelaskan, bahan baku etanol dapat berasal dari berbagai sumber lokal seperti tebu, singkong, hingga umbi-umbian. Indonesia juga memiliki potensi besar dari tetes tebu yang mencapai 1,6 juta ton per tahun.

    “Dari jumlah itu, baru sekitar 1,1 juta ton yang terserap. Artinya, masih ada sekitar 500.000 ton yang bisa dimanfaatkan untuk produksi bioetanol, terutama untuk campuran bensin,” ujarnya.

    Dia menepis anggapan bahwa penggunaan bensin campur etanol akan membuat kendaraan lebih boros. Menurut dia, hal tersebut dapat diatur secara teknis agar tidak menimbulkan masalah.

    “Buktinya, penggunaan B40 juga tidak menimbulkan keluhan serupa. Jadi anggapan boros itu kurang tepat,” katanya.

    Sofyano menambahkan, tantangan yang terjadi sebelumnya hanya bersifat teknis antara pemerintah dan SPBU swasta, bukan masalah kualitas bahan bakar. Dia menegaskan, di banyak negara lain, etanol telah lama digunakan sebagai campuran bahan bakar kendaraan.

    Dengan potensi 500.000 ton tetes tebu yang belum dimanfaatkan, Sofyano memperkirakan jumlah tersebut bisa diolah menjadi sekitar 130.000 kl etanol.

    “Kalau kita buat E5 [campuran 5%], hasilnya bisa mencapai sekitar 500.000 kiloliter, bahkan mungkin mendekati 1 juta kl etanol,” jelasnya.

    Dia pun menilai langkah menuju mandatory E10 tidak hanya realistis, tetapi juga strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

    Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut, kebijakan mandatory E10 kemungkinan akan berlaku pada 2027 atau 2028. Namun, kecenderungan saat ini mengarah pada target awal 2027. 

    “Sekarang lagi dilakukan kajian apakah mandatory ini dilakukan di 2027 atau 2028. Tapi menurut saya, paling lama 2027 ini sudah bisa jalan,” tegasnya. 

    Kebijakan E10, kata Bahlil, merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar. 

    “E10 adalah bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi impor bensin. Sebab, impor bensin kita masih banyak, 27 juta ton per tahun,” ungkapnya.

  • 7
                    
                        SPBU Sukun di Malang Ditutup Sementara, Buntut Ditemukan Kecurangan Operator
                        Surabaya

    7 SPBU Sukun di Malang Ditutup Sementara, Buntut Ditemukan Kecurangan Operator Surabaya

    SPBU Sukun di Malang Ditutup Sementara, Buntut Ditemukan Kecurangan Operator
    Tim Redaksi
    MALANG, KOMPAS.com
    – PT Pertamina Patra Niaga mengambil langkah tegas dengan menutup sementara operasi SPBU 5465114 di Jalan S. Supriadi, Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.
    Sanksi ini dijatuhkan menyusul terungkapnya kasus kecurangan pengisian BBM yang dilakukan oknum operator, yang laporannya viral di media sosial.
    Insiden ini bermula dari keluhan seorang konsumen pada Minggu (19/10/2025) malam. Konsumen tersebut curiga saat mengisi bahan bakar penuh untuk motornya.
    Pengisian yang biasanya hanya berkisar Rp 20.000–Rp 25.000, malam itu ditagih sebesar Rp 33.000.
    Kecurigaan menguat ketika petugas SPBU tidak dapat memberikan nota transaksi saat diminta. Konsumen tersebut kemudian meminta pengecekan langsung di kantor SPBU.
    “Pas saya mau lihat nominalnya, angka di pompa langsung dihapus dan tidak terlihat,” ujar pelapor, dikutip dalam keterangan yang beredar luas di media sosial.
    Setelah dicek di kantor, terbukti bahwa pengisian sebenarnya hanya tercatat Rp 27.570.
    Terdapat selisih lebih dari Rp 5.000 yang diambil oleh oknum tersebut.
    Manajemen SPBU Sukun, dalam video klarifikasi yang beredar di media sosial, membenarkan kejadian tersebut.
    Pihak SPBU menegaskan insiden itu murni tindakan individu karyawan yang memanfaatkan kelengahan pelanggan dan terjadi tanpa sepengetahuan manajemen.
    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengonfirmasi bahwa sanksi tegas telah dijatuhkan. Pihaknya menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap SPBU yang terbukti melanggar aturan.
    “Pertamina Patra Niaga tidak menoleransi SPBU yang melanggar ketentuan dan melakukan kecurangan dalam pelayanan,” tegas Ahad, Selasa (21/10/2025).
    Ahad menjelaskan, sanksi yang diberikan adalah masa pembinaan selama tiga hari kerja sejak Selasa (21/10/2025) hari ini. SPBU tersebut dilarang beroperasi atau ditutup sementara.
    “Untuk operator sendiri, pihak SPBU sudah memberlakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” tambahnya.
    Setelah masa sanksi berakhir, Pertamina Patra Niaga melalui Sales Area Malang akan melakukan pengecekan kembali untuk memastikan perbaikan sistem dan pengawasan telah dilakukan, sebelum SPBU diizinkan beroperasi kembali.
    Ahad mengingatkan, jika pelanggaran serupa terulang, Pertamina tidak akan segan memberikan sanksi yang lebih berat hingga Pemutusan Hubungan Usaha (PHU) sesuai aturan BPH Migas.
    Pertamina mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan segera melaporkan temuan pelanggaran atau kecurangan di SPBU melalui Call Center 135.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Video Bahlil Beri Bocoran SPBU Swasta Deal Beli BBM dari Pertamina

    Video Bahlil Beri Bocoran SPBU Swasta Deal Beli BBM dari Pertamina

    Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberi bocoran soal wacana badan usaha swasta pengelola SPBU swasta membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) dari PT Pertamina. Dia membenarkan, memang sudah ada perjanjian pembelian BBM tersebut. Namun kata Bahlil, perjanjian itu bersifat business-to-business (B2B) sehingga dia tidak mengetahui teknisnya. Bahlil juga enggan menyebut identitas badan usaha swasta yang sudah membuat perjanjian dengan Pertamina.