Tag: Xi Jinping

  • Situasi Tidak Kondusif, Prabowo Tunda Kunjungan ke China

    Situasi Tidak Kondusif, Prabowo Tunda Kunjungan ke China

    Jakarta, CNBC Indonesia — Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk belum menghadiri undangan pemerintah China. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi melalui video keterangan resmi terkait agenda luar negeri Presiden pada September 2025.

    Menurut Mensesneg, salah satu pertimbangan utama adalah adanya beberapa undangan bersamaan, termasuk sidang tahunan PBB di New York. Presiden Prabowo ingin menimbang prioritas kehadiran agar dapat mengikuti agenda internasional yang lebih strategis.

    Selain itu, dinamika dalam negeri menjadi pertimbangan penting. Presiden menilai perlu memantau dan memimpin langsung proses penyelesaian berbagai situasi di tanah air sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri.

    “Bapak Presiden Prabowo Subianto dengan kerendahan hati dan memohon maaf kepada pemerintah Tiongkok memutuskan untuk belum dapat menghadiri undangan tersebut,” kata Mensesneg, Sabtu (30/8/2025).

    Keputusan ini menegaskan fokus pemerintah pada stabilitas dan penyelesaian isu domestik, sekaligus menjaga hubungan baik dengan mitra internasional.

    Sebagai informasi, Presiden Prabowo menjadi salah satu dari 26 kepala negara dan pemerintahan yang diundang Presiden China Xi Jinping untuk menghadiri parade militer di Beijing pada 3 September 2025.

    (mkh/mkh)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Putin Kecam AS dan Sekutunya yang Jatuhkan Sanksi Dagang ke Rusia

    Putin Kecam AS dan Sekutunya yang Jatuhkan Sanksi Dagang ke Rusia

    Jakarta

    Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam keras sanksi perdagangan yang dijatuhkan Amerika Serikat dan sekutunya kepada Rusia. Menurutnya, sanksi telah membuat perekonomian Rusia berada di ambang resesi.

    Pernyataan itu disampaikan Putin dalam wawancara tertulis dengan kantor berita resmi China, Xinhua yang dikutip dari Reuters, Sabtu (30/8/2025).

    Untuk diketahui, Putin dijadwalkan akan berada di China yang merupakan mitra dagang terbesar Rusia, dari Minggu hingga Rabu. Putin dijadwalkan akan menghadiri pertemuan puncak dua hari Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di kota pelabuhan Tianjin, China utara.

    Selanjutnya, Putin akan melakukan perjalanan ke Beijing untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping dan menghadiri parade militer besar-besaran di ibu kota China tersebut untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia Kedua setelah Jepang secara resmi menyerah.

    “Selama kunjungan saya mendatang, kami tentu akan membahas prospek lebih lanjut untuk kerja sama yang saling menguntungkan dan langkah-langkah baru untuk mengintensifkannya demi kepentingan rakyat Rusia dan China,” kata Putin.

    “Singkatnya, kerja sama ekonomi, perdagangan, dan kolaborasi industri antara negara kita berkembang pesat di berbagai bidang,” tambah Putin mengenai China, yang dituduh Barat mendukung apa yang disebut sebagai operasi militer khusus Rusia di Ukraina.

    Ketika negara-negara Barat memutuskan hubungan dengan Rusia setelah Moskow melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, China datang untuk menyelamatkan, membeli minyak Rusia dan menjual barang-barang mulai dari mobil hingga elektronik yang mendorong perdagangan bilateral ke rekor US$ 245 miliar pada tahun 2024.

    China sejauh ini merupakan mitra dagang utama Rusia berdasarkan volume dan transaksi antara kedua negara hampir seluruhnya dilakukan dalam rubel dan yuan, kata Putin. Rusia adalah eksportir minyak dan gas utama ke China dan kedua belah pihak terus berupaya bersama untuk mengurangi hambatan perdagangan bilateral.

    “Dalam beberapa tahun terakhir, ekspor daging babi dan sapi ke China telah diluncurkan. Secara keseluruhan, produk pertanian dan pangan menempati posisi penting dalam ekspor Rusia ke China,” ujarnya.

    (eds/eds)

  • Kiamat Bumi 7 Tahun Lagi, China Sudah Mulai Siap-siap

    Kiamat Bumi 7 Tahun Lagi, China Sudah Mulai Siap-siap

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ilmuwan memperingatkan bahwa asteroid raksasa berukuran sebanding dengan Menara Pisa di Italia berpotensi menghantam Bumi pada Desember 2032. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, pemerintah China mulai menyiapkan pasukan khusus pertahanan planet.

    Langkah ini terungkap melalui pengumuman rekrutmen yang dirilis Lembaga Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional (SASTIND).

    SASTIND mencari lulusan muda yang loyal dan fokus pada teknik kedirgantaraan, kerja sama internasional, dan pendeteksian asteroid.

    Rekrutmen ini dilakukan di tengah meningkatnya fokus pada asteroid yang kemungkinan menabrak bumi dalam 7 tahun mendatang.

    Asteroid 2024 YR4 berada di urutan teratas dalam daftar risiko badan antariksa Eropa dan Amerika Serikat. Pekan lalu, para analis meningkatkan penilaian probabilitas asteroid tersebut untuk menabrak Bumi dari 1,3% menjadi 2,2%. Kemudian naik lagi menjadi 2,6% dan terakhir 3,1%.

    Kelompok Penasihat Perencanaan Misi Antariksa PBB, yang terdiri dari negara-negara yang memiliki program antariksa termasuk Cina, telah rutin bertemu untuk membahas masalah ini.

    Iklan yang diunggah di WeChat mencantumkan 16 lowongan pekerjaan di SASTIND, termasuk tiga lowongan untuk pasukan pertahanan planet yang baru.

    Lowongan kerja tersebut mencari orang lulusan baru berusia di bawah 35 tahun dengan kualifikasi profesional dan teknis. Selain itu, diwajibkan memiliki sikap politik yang tegas mendukung partai Komunis China dan ideologi yang sejalan dengan presiden China, Xi Jinping.

    Iklan tersebut memicu diskusi online yang luas di kalangan anak muda, angka demografi yang mengalami tingkat pengangguran tertinggi pada 2023.

    “Bumi akan bergantung pada kalian. Bukankah itu membuat stres?” tanya seseorang, dikutip dari The Guardian, Kamis (28/8/2025).

    “Jika Anda berhasil, Anda adalah pahlawan yang menyelamatkan dunia,” kata komentar populer lainnya di Weibo.

    “Tapi tidak ada yang akan menghukum Anda jika gagal, maksud saya, secara harfiah tidak ada yang tersisa.” kata yang lain.

    Deskripsi pekerjaan yang dilampirkan pada iklan tersebut menunjukkan bahwa pasukan ini akan fokus pada kerja sama internasional, dan merancang sistem untuk teknologi baru dan eksperimental.

    Pekerjaan pasukan pertahanan planet ini digambarkan sebagai penelitian tentang pemantauan dan peringatan dini asteroid dekat Bumi.

    Lembaga tersebut mencari lulusan dengan gelar master atau lebih tinggi, dengan jurusan astrofisika, teknologi eksplorasi bumi dan ruang angkasa, serta ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Adu Kekuatan 2 Raksasa Nuklir Asia, Awas China Jadi Sasaran

    Adu Kekuatan 2 Raksasa Nuklir Asia, Awas China Jadi Sasaran

    Jakarta, CNBC Indonesia – Dua raksasa nuklir Asia, India dan Pakistan, masih berada dalam tensi yang panas soal konflik di Kashmir. Kekuatan keduanya yang melibatkan nuklir pun disebut mengancam raksasa regional lainnya, China.

    Pada 20 Agustus, India mengumumkan telah berhasil menguji coba Agni-V, rudal balistik jarak menengahnya, dari lokasi uji coba di Odisha, di pantai timur Teluk Benggala. Agni-V, yang berarti “api” dalam bahasa Sansekerta, memiliki panjang 17,5 meter, berat 50.000 kg, dan dapat membawa hulu ledak nuklir atau konvensional seberat lebih dari 1.000 kg.

    Rudal ini juga mampu menempuh jarak lebih dari 5.000 km dengan kecepatan hipersonik hampir 30.000 km per jam. Hal ini membuatnya termasuk rudal balistik tercepat di dunia.

    Uji coba Agni dilakukan tepat seminggu setelah Pakistan mengumumkan pembentukan Komando Pasukan Roket Angkatan Darat (ARFC) baru, yang menurut para ahli, bertujuan untuk menambal kelemahan dalam postur pertahanannya yang terungkap oleh India selama konflik empat hari antara dua negara bertetangga yang memiliki senjata nuklir pada bulan Mei.

    Namun, para ahli mengatakan uji coba terbaru India ini mungkin merupakan pesan yang lebih ditujukan untuk tetangga lain yang kembali didekati New Delhi dengan hati-hati, China. Pasalnya, jangkauan Agni mencakup sebagian besar Asia, termasuk wilayah utara China, dan sebagian Eropa. 

    Uji coba ini dilakukan sesaat sebelum perjalanan Perdana Menteri India Narendra Modi ke China untuk KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), di tengah pencairan hubungan-setelah bertahun-tahun ketegangan akibat sengketa perbatasan-yang dipercepat oleh perang tarif Presiden AS Donald Trump terhadap India. Pada hari Rabu, tarif AS atas barang-barang India berlipat ganda menjadi 50% di tengah ketegangan atas pembelian minyak New Delhi dari Rusia.

    Namun terlepas dari perubahan hubungan dengan Beijing, para ahli mengatakan India terus memandang China sebagai ancaman utama di kawasan, yang menggarisbawahi rumitnya hubungan antara dua negara dengan populasi terpadat di dunia ini. Dan menurut mereka, pengembangan rudal jarak menengah dan jarak jauh India terutama ditujukan ke China.

    Keunggulan Rudal India atas Pakistan

    Sementara India mengakui kehilangan sejumlah jet tempur yang tidak disebutkan jumlahnya selama baku tembak dengan Pakistan pada bulan Mei, India juga menyebabkan kerusakan signifikan pada pangkalan militer Pakistan, terutama dengan rudal jelajah supersonik BrahMos.

    BrahMos, yang mampu membawa hulu ledak nuklir atau konvensional hingga 300 kg, memiliki jangkauan sekitar 500 km. Ketinggiannya yang rendah, lintasan yang mengikuti medan, dan kecepatannya yang luar biasa membuatnya sulit dicegat, sehingga memungkinkannya menembus wilayah Pakistan dengan relatif mudah.

    Banyak ahli berpendapat bahwa konteks ini menunjukkan uji coba Agni-V tidak secara langsung terkait dengan pengumuman ARFC oleh Pakistan. Sebaliknya, mereka mengatakan, uji coba tersebut kemungkinan merupakan sinyal untuk China.

    Diketahuia, pasukan India dan China berada dalam kebuntuan langsung di sepanjang perbatasan Himalaya yang disengketakan selama empat tahun setelah bentrokan mematikan pada tahun 2020, sebelum Modi bertemu Presiden China Xi Jinping di Rusia pada Oktober 2024 untuk memulai proses detente (peredaan ketegangan).

    Kunjungan Modi ke China untuk KTT SCO pada hari Minggu kemarin akan menjadi yang pertama kali baginya sejak tahun 2018. Di masa lalu, India sering merasa dikhianati oleh pendekatan-pendekatan ke China, yang diklaim India sering kali diikuti oleh agresi dari Beijing di sepanjang perbatasan mereka.

    “Kebutuhan India akan rudal jarak jauh, namun bukan rudal antarbenua, didikte oleh persepsi ancamannya terhadap China,” kata Manpreet Sethi, seorang peneliti tamu di Centre for Air Power Studies yang berbasis di New Delhi, kepada Al Jazeera.

    “Agni-V adalah rudal balistik berkemampuan nuklir dengan jangkauan 5.000 km, yang telah dikembangkan India sebagai bagian dari kemampuan deterrence (penangkal) nuklirnya terhadap China. Rudal ini tidak memiliki relevansi dengan Pakistan,” tambah Sethi.

    Christopher Clary, asisten profesor ilmu politik di University at Albany, setuju dengan pendapat tersebut.

    “Meskipun Agni-V mungkin dapat digunakan untuk menyerang Pakistan, misi utamanya adalah serangan terhadap China,” katanya kepada Al Jazeera. “Pantai timur China, tempat kota-kota terpenting secara ekonomi dan politik berada, sulit dijangkau dari India dan membutuhkan rudal jarak jauh.”

    Perlombaan Rudal di Seluruh Asia Selatan

    India dan Pakistan terus memperluas persenjataan rudal mereka dalam beberapa tahun terakhir, dengan meluncurkan sistem-sistem baru yang memiliki jangkauan yang semakin jauh.

    Sebelum mengumumkan ARFC, Pakistan memamerkan Fatah-4, rudal jelajah dengan jangkauan 750 km dan kemampuan untuk membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.

    Sementara itu, India sedang mengerjakan Agni-VI, yang diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 10.000 km dan membawa multiple independently targetable reentry vehicles (MIRV), sebuah kemampuan yang sudah ada pada Agni-V.

    Rudal yang dilengkapi MIRV dapat membawa beberapa hulu ledak nuklir, yang masing-masing mampu menyerang target terpisah, sehingga secara signifikan meningkatkan potensi daya hancurnya.

    Mansoor Ahmed, dosen kehormatan di Strategic and Defence Studies Centre, Australian National University, mengatakan uji coba terbaru India menunjukkan kemampuan rudal antarbenua yang semakin maju.

    “Dengan India yang sedang mengerjakan varian-varian Agni yang berbeda dengan berbagai kemampuan, uji coba ini adalah demonstrasi teknologi untuk kemampuan rudal balistik luncur-kapal selam (submarine-launched ballistic missile atau SLBM) India yang sedang berkembang,” kata Ahmed.

    “Tergantung pada konfigurasi hulu ledak untuk SLBM India, India akan mampu mengerahkan antara 200-300 hulu ledak pada armada SSBN-nya saja selama dekade berikutnya,” tambahnya. SSBN (ship, submersible, ballistic, nuclear) adalah kapal selam bertenaga nuklir yang dirancang untuk membawa SLBM yang dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir. India saat ini memiliki dua SSBN yang beroperasi, dengan dua lagi dalam tahap pembangunan.

    Sebaliknya, Pakistan tidak memiliki rudal jarak jauh atau kapal selam nuklir. Rudal balistik operasional jarak terjauhnya, Shaheen-III, memiliki jangkauan 2.750 km.

    “Pakistan juga memiliki rudal balistik berkemampuan MIRV pertama di Asia Selatan yang disebut Ababeel, yang dapat menyerang hingga jangkauan 2.200 km, namun ini adalah sistem berkemampuan MIRV dengan jangkauan terpendek yang dikerahkan oleh negara bersenjata nuklir mana pun,” kata Ahmed.

    Tughral Yamin, mantan brigadir angkatan darat Pakistan dan sarjana kebijakan nuklir, mengatakan ambisi rudal kedua negara mencerminkan prioritas yang berbeda.

    “Program Pakistan sepenuhnya spesifik untuk India dan bersifat defensif, sementara ambisi India melampaui subkontinen. Sistem jarak jauhnya dirancang untuk proyeksi kekuatan global, terutama terhadap China, dan untuk menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar dengan penangkal yang kredibel terhadap negara-negara besar,” kata Yamin, penulis buku The Evolution of Nuclear Deterrence in South Asia.

    Namun beberapa ahli mengatakan program pengembangan rudal Pakistan tidak hanya tentang India. Ashley J Tellis, peneliti kajian stratejik di Carnegie Endowment for International Peace (CEIP), mengatakan bahwa sementara India ingin dapat menyerang China dan Pakistan, Islamabad sedang membangun kemampuan untuk menjaga Israel, dan bahkan AS, dalam jangkauannya, selain India.

    “Pasukan rudal konvensional di kedua negara dirancang untuk menyerang target-target penting tanpa membahayakan pesawat serang berawak,” kata Tellis kepada Al Jazeera.

    (tps/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Video: Kim Jong Un, Putin, & Xi Jinping Bakal “Kopdar” Awal September

    Video: Kim Jong Un, Putin, & Xi Jinping Bakal “Kopdar” Awal September

    Jakarta, CNBC Indonesia- Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang. Kim dan Putin dijadwalkan terbang ke China pada 3 September mendatang untuk memenuhi undangan Xi Jinping.

    Selengkapnya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia (Kamis, 28/08/2025) berikut ini.

  • Xi Jinping Tolak Ikut Diskusi AS-Rusia soal Nuklir, Kenapa?

    Xi Jinping Tolak Ikut Diskusi AS-Rusia soal Nuklir, Kenapa?

    Jakarta, CNBC Indonesia – China mengatakan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Hal ini dilontarkan setelah Presiden Donald Trump menyatakan harapannya untuk memasukkan Beijing dalam negosiasi.

    Dalam sebuah pernyataan, Rabu (27/8/2025), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan bahwa “tidak masuk akal dan tidak realistis” untuk mengharapkan China berpartisipasi dalam negosiasi perlucutan senjata nuklir trilateral dengan AS dan Rusia. Ia mengaku Beijing belum dalam tingkatan sebesar kedua negara terkait nuklir.

    “China dan Amerika Serikat sama sekali tidak berada pada tingkat yang sama dalam hal kemampuan nuklir,” kata Guo, dilansir AFP.

    “Negara-negara dengan persenjataan nuklir terbesar harus sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab khusus dan utama mereka untuk perlucutan senjata nuklir,” katanya.

    Beijing mengatakan mereka pada prinsipnya mendukung perlucutan senjata tetapi secara teratur menolak undangan Washington untuk bergabung dalam pembicaraan AS-Rusia tentang pengurangan persenjataan nuklir mereka.

    “China memiliki senjata nuklir pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional, dan tidak terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara mana pun,” tuturnya.

    Sebelumnya, pada Senin, Trump mengatakan bahwa Washington sedang berusaha untuk mengupayakan denuklirisasi dengan kedua negara. Hal ini untuk menghentikan perkembangan senjata nuklir yang pesat.

    “Saya pikir denuklirisasi adalah tujuan yang sangat besar. Tapi Rusia bersedia melakukannya dan saya pikir China juga akan bersedia,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

    Rusia dan AS, yang merupakan mantan saingan Perang Dingin, memiliki hampir 90% senjata nuklir dunia di antara mereka. Namun Moskow menarik diri dari perjanjian kontrol senjata terakhir yang tersisa dengan Washington pada tahun 2023.

    Menurut perkiraan tahun 2024 oleh Stockholm International Peace Research Institute, Amerika Serikat memiliki 3.708 hulu ledak nuklir dan Rusia 4.380, tidak termasuk hulu ledak yang sudah tidak digunakan.

    China memiliki 500 hulu ledak nuklir, 90 lebih banyak dari tahun 2023. Di belakang mereka adalah Prancis (290) dan Inggris (225).

    (tps/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Trump Khawatir Kekuatan Senjata Nuklir Membesar, Ingin Berunding dengan Rusia-China

    Trump Khawatir Kekuatan Senjata Nuklir Membesar, Ingin Berunding dengan Rusia-China

    JAKARTA  – Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin membuka perundingan denuklirisasi dengan Rusia dan China, meninjau kembali isu yang sebelumnya ia ajukan seiring upayanya untuk memulai kembali diplomasi yang terhenti dengan Korea Utara.

    “Salah satu hal yang kami coba lakukan dengan Rusia dan China adalah denuklirisasi, dan ini sangat penting,” ujar Trump dilansir Reuters, Selasa, 26 Agustus.

    “Saya pikir denuklirisasi adalah tujuan yang sangat besar, tetapi Rusia bersedia melakukannya, dan saya pikir China juga akan bersedia melakukannya. Kita tidak bisa membiarkan senjata nuklir berkembang biak. Kita harus menghentikan senjata nuklir. Kekuatannya terlalu besar,” kata Trump.

    Dalam acara terpisah di Gedung Putih pada Senin, Trump mengatakan ia mengangkat isu tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia tidak memberikan detail spesifik kapan percakapan itu berlangsung.

    “Kita sedang membicarakan pembatasan senjata nuklir. Kita akan melibatkan China dalam hal itu,” kata Trump.

    “Tiongkok memang jauh tertinggal, tetapi mereka akan menyusul kita dalam lima tahun. Kita ingin denuklirisasi. Kekuatannya terlalu besar, dan kita juga sudah membicarakannya,” imbuh Trump.

    Pernyataan presiden AS tersebut muncul saat dia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, tahun ini.

    Kim telah mengabaikan seruan berulang Trump sejak presiden dari Partai Republik tersebut menjabat pada Januari untuk menghidupkan kembali diplomasi langsung yang ditempuh Trump selama masa jabatannya 2017–2021, yang tidak menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan program nuklir Korea Utara.

    Trump pertama kali mengutarakan niatnya untuk mengupayakan pengendalian senjata nuklir pada Februari, dengan mengatakan ia ingin memulai diskusi dengan Putin dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, tentang penerapan batasan persenjataan mereka.

    Trump mengatakan denuklirisasi akan menjadi tujuan masa jabatan keduanya dan ia berharap untuk memulainya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

    Fokus baru pada pengendalian senjata nuklir muncul seiring berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru, atau New START, pada 5 Februari 2026.

    Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2010 ini merupakan perjanjian senjata nuklir terakhir yang tersisa antara AS dan Rusia, yang membatasi jumlah hulu ledak strategis dan sistem pengiriman yang dapat digunakan masing-masing pihak.

    Rusia memperingatkan awal tahun ini prospek pembaruan perjanjian tersebut tampak suram.

    Di bawah pendahulu Trump, Presiden Joe Biden saat itu, AS telah mendesak China untuk terlibat dalam perundingan senjata nuklir formal, tetapi hanya mencapai sedikit kemajuan.

  • Bakar Batu Bara Tanpa Rem, China Cetak Rekor Baru di 2025

    Bakar Batu Bara Tanpa Rem, China Cetak Rekor Baru di 2025

    Jakarta

    Cina membakar lebih banyak batu bara di pembangkit listrik antara Januari dan Juli 2025 dibandingkan periode mana pun sejak 2016. Demikian menurut laporan penelitian lingkungan terbaru.

    Laporan tersebut — yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), sebuah organisasi penelitian kualitas udara independen yang berbasis di Finlandia; dan Global Energy Monitor (GEM), sebuah perusahaan analitik energi yang bermarkas di AS — menyatakan Cina telah mengoperasikan 21 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga batu bara dalam enam bulan pertama tahun 2025.

    Ini merupakan level tertinggi selama enam bulan terakhir dalam sembilan tahun. Laporan CREA/GEM juga menyebutkan pembangunan baru dan pengaktifan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada dengan total 46 GW dan proyek-proyek yang diusulkan dengan kapasitas untuk menghasilkan tambahan 75 GW.

    Total proyeksi produksi pembangkit listrik tenaga batu bara diperkirakan mencapai 80-100 GW pada tahun 2025.

    Batu bara saat ini menyumbang setengah dari produksi energi Cina, turun dari tiga perempatnya pada tahun 2016. Cina, ekonomi terbesar kedua di dunia, juga merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

    Cina bangun energi terbarukan dalam jumlah besar, mengurangi emisi secara keseluruhan

    Paradoksnya, lonjakan penggunaan batu bara ini terjadi seiring Cina memperluas kapasitas energi terbarukannya secara besar-besaran, yang kini menutupi pertumbuhan permintaan listrik. Kapasitas tenaga surya, misalnya, melonjak sebesar 212 GW dalam enam bulan pertama tahun 2025.

    Tahun ini saja, negara ini berada di jalur yang tepat untuk memasang energi terbarukan baru yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi gabungan Jerman dan Inggris.

    Dorongan Beijing ini telah menyebabkan penurunan emisi sebesar 1% dalam enam bulan terakhir dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian menurut situs web iklim dan energi yang bermarkas di Inggris, Carbon Brief, namun meningkatnya ketergantungan Cina pada batu bara mengancam akan menggagalkan upayanya untuk mengurangi emisi gas.

    “Meskipun kapasitas dan bauran pembangkitan berubah dengan cepat, pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di Cina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda,” tulis CREA.

    “Pengembangan pembangkit listrik tenaga batu bara di Cina… tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga emisi tetap tinggi dan batubara tertahan dalam sistem selama bertahun-tahun mendatang,” ujar Christine Shearer, analis riset di GEM dan salah satu penulis laporan tersebut.

    “Kepentingan batubara yang kuat” Cina mengancam target iklim

    Pada tahun 2021, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan ia akan “mengendalikan secara ketat” industri batubara untuk “menguranginya secara bertahap” antara tahun 2026 dan 2030.

    Meskipun Xi berjanji untuk menghapus 30 GW batubara dari jaringan listrik Cina antara tahun 2020 dan akhir tahun 2025, hanya 1 GW yang telah dihentikan.

    Penulis CREA mengutip “kepentingan batubara yang kuat” dalam peringatan bahwa hal ini menekan energi terbarukan dengan mengamankan “kontrak jangka panjang dan pembayaran kapasitas yang luas,” yang memungkinkan mereka untuk “menjaga banyak pembangkit tetap beroperasi dengan output tinggi.”

    Xi mengatakan ia akan mengumumkan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) Cina — sebuah komitmen nasional untuk pengurangan emisi gas rumah kaca pada tahun 2035 — sebelum KTT iklim COP30 di Brasil pada bulan November.

    Rinciannya juga diharapkan ketika Partai Komunis Cina (PKT) merilis rincian Rencana Lima Tahun ke-15 untuk tahun 2026 hingga 2030 dalam beberapa bulan mendatang.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
    Editor: Rizki Nugraha

    (ita/ita)

  • Nasib China Tinggal Tunggu Waktu, Trump Blak-blakan Bilang Begini

    Nasib China Tinggal Tunggu Waktu, Trump Blak-blakan Bilang Begini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan update terbaru terkait nasib TikTok, aplikasi di bawah ByteDance asal China.

    Trump menyebut sudah ada calon pembeli asal Negeri Paman Sam yang siap mengambil alihTikTok. Namun, ia tidak menyebutkan nama individu maupun perusahaan yang dimaksud.

    Ia juga membuka peluang untuk memperpanjang tenggat waktu bagi ByteDance untuk melepas asetnya di AS. Dikutip dari Reuters, Senin (25/8/2025), Trump mengatakan akan berbicara dengan Presiden China Xi Jinping “di waktu yang tepat”.

    Hal ini ia sampaikan pada Jumat (22/8), hanya beberapa hari setelah Gedung Putih resmi bergabung dengan membuka akun di platform video pendek itu.

    “Saya belum berbicara dengan Presiden Xi terkait hal tersebut,” kata Trump dalam kunjungannya ke gift shop Gedung Putih di seberang rumah dinas Presiden, dikutip dari Reuters, Senin (25/8/2025). 

    “Untuk sementara, hingga kompleksitas ini bisa diselesaikan, kita akan memperpanjang [tenggat untuk TikTok] hingga beberapa waktu,” ia menuturkan. 

    Meski ada kekhawatiran bipartisan terkait keamanan nasional dan privasi data pengguna TikTok, Trump menegaskan dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu.

    “Saya sama sekali tidak khawatir. Menurut saya itu terlalu dilebih-lebihkan, saya penggemar TikTok,” kata dia, dikutip dari Reuters, Senin (25/8/2025).

    Sebelumnya, undang-undang yang disahkan pada 2024 mengharuskan ByteDance melepas aset TikTok di AS atau menunjukkan kemajuan signifikan menuju penjualan. TikTok bahkan diwajibkan berhenti beroperasi pada 19 Januari 2025. Namun, Trump berulang kali memilih tidak menegakkan aturan tersebut, bahkan baru-baru ini memperpanjang tenggat hingga 17 September 2025.

    “Untuk sementara, sampai kerumitan ini selesai, kami perpanjang sedikit lebih lama,” ujar Trump.

    Langkah Trump ini menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen AS. Mereka menilai pemerintahannya mengabaikan hukum yang berlaku dan menutup mata terhadap risiko keamanan nasional akibat kendali China atas TikTok.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Perang Rusia Vs Ukraina Masih Membara

    Perang Rusia Vs Ukraina Masih Membara

    Jakarta

    Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Kursk di Rusia kebakaran setelah militer negara tersebut menembak jatuh sebuah pesawat nirawak Ukraina. Saat ini kobaran api di PLTN tersebut telah berhasil dipadamkan.

    “Perangkat itu meledak saat menghantam PLTN Kursk di Rusia barat”, ujar pihak PLTN Kursk, dilansir AFP, Minggu (24/8/2025).

    Usai jatuh menghantam PLTN, drone tersebut memicu kobaran api yang menurut pihak PLTN “telah dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran”.

    Berdasarkan laporan, tidak ada korban jiwa atas jatuhnya pesawat nirawak di lokasi tersebut.

    “Latar belakang radiasi di lokasi industri PLTN Kursk dan sekitarnya tidak berubah dan masih berada dalam batas alami,” tulis pihak PLTN di Telegram.

    Respons Rusia

    Penjabat Gubernur Kursk, Alexander Khinshtein, angkat bicara terkait serangan Ukraina yang mengakibatkan terbakarnya PLTN Kursk saat pesawat drone tersebut jatuh. Ia mengatakan, serangan Ukraina tersebut menciptakan ancaman bagi keselamatan nuklir.

    “Serangan ini merupakan ancaman bagi keselamatan nuklir dan pelanggaran semua konvensi internasional,” tulis Khinshtein di aplikasi perpesanan Telegram, dilansir AFP, Minggu (24/8).

    Sementara itu, PLTN Kursk dalam sebuah pernyataan mengatakan serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap PLTN itu merusak sebuah transformator tambahan dan menyebabkan penurunan kapasitas operasi sebesar 50% di unit tiga PLTN tersebut.

    Ukraina Rayakan Kemerdekaan

    Ukraina melancarkan serangan pesawat nirawak ke Rusia yang memicu kebakaran di sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir saat merayakan hari kemerdekaannya. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan serangan Ukraina tersebut dilakukan usai seruan perdamaiannya diabaikan.

    Diketahui, setelah serangkaian diplomasi dan desakan Presiden AS Donald Trump untuk menengahi pertemuan puncak antara rekan-rekannya dari Rusia dan Ukraina, prospek perdamaian tampaknya mandek ketika Rusia mengesampingkan kemungkinan pertemuan langsung antara Vladimir Putin dan Volodymyr Zelensky.

    Saling balas antara Ukraina dan Rusia masih terus terjadi dalam perang yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun. Hari ini, Ukraina membalasnya dengan serangan pesawat nirawak yang ditembak jatuh oleh Rusia dan mengakibatkan terbakarnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kursk di Rusia barat.

    Ukraina juga mengirim sepuluh pesawat tanpa awak yang akhirnya juga ditembak jatuh di atas pelabuhan Ust-Luga di Teluk Finlandia. Jatuhnya pesawat drone tersebut memicu kebakaran di terminal bahan bakar milik perusahaan energi Rusia Novatek.

    Sementara itu, Ukraina mengatakan Rusia telah menyerangnya semalam dengan rudal balistik dan 72 pesawat tanpa awak Shahed buatan Iran, 48 di antaranya menurut angkatan udara telah ditembak jatuh. Serangan pesawat nirawak Rusia menewaskan seorang perempuan berusia 47 tahun di wilayah timur Dnipropetrovsk.

    Pertempuran terbaru terjadi saat Ukraina memperingati hari kemerdekaannya pada tahun 1991 setelah pecahnya Uni Soviet. Zelensky menyebut Ukraina menyerang saat seruan perdamaiannya diabaikan.

    “Beginilah Ukraina menyerang ketika seruannya untuk perdamaian diabaikan,” kata Zelensky dalam pidato hari kemerdekaannya, dilansir AFP, Minggu (24/8).

    “Hari ini, baik AS maupun Eropa sepakat: Ukraina belum sepenuhnya menang, tetapi pasti tidak akan kalah. Ukraina telah mengamankan kemerdekaannya. Ukraina bukanlah korban; ia adalah pejuang,” kata Zelensky.

    Dalam peringatan kemerdekaan Ukraina tersebut, hadir Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Kyiv. Carney menyebut “perdamaian yang adil dan abadi bagi Ukraina”.

    Zelensky berterima kasih kepada para pemimpin dunia lainnya termasuk Presiden AS Donald Trump, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Raja Charles, dan Paus Fransiskus atas pesan yang dikirimkan untuk memperingati peristiwa tersebut.

    Rusia kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea, yang dianeksasinya pada tahun 2014. Pertempuran telah memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah mereka dan menghancurkan kota-kota serta desa-desa di wilayah timur dan selatan Ukraina.

    Putin telah berulang kali menolak seruan dari Ukraina dan Barat untuk gencatan senjata tanpa syarat dan segera.

    Pada Jumat, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan “tidak ada pertemuan” antara Putin dan Zelensky yang direncanakan karena upaya mediasi Trump tampaknya terhenti, sementara Zelensky menuduh Rusia mencoba memperpanjang serangan.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/rfs)