Tag: Warren Buffett

  • Laba Perusahaan Warren Buffett Berkshire Hathaway Melesat 71% pada Akhir 2024

    Laba Perusahaan Warren Buffett Berkshire Hathaway Melesat 71% pada Akhir 2024

    Bisnis.com, JAKARTA – Laba operasional perusahaan milik investor kawakan Warren Buffet, Berkshire Hathaway Inc., melonjak 71% pada kuartal IV/2024, karena suku bunga yang lebih tinggi mengangkat pendapatan investasi konglomerat dan bisnis asuransinya membaik.

    Melansir pernyataan Berkshire Hathaway yang dikutip dari Bloomberg pada Senin (24/2/2025), laba operasional perusahaan pada kuartal IV/2024 mencapai US$14,5 miliar. Peningkatan ini sebagian didorong oleh lonjakan pendapatan investasi asuransi sebesar 48% menjadi US$4,1 miliar, di tengah kenaikan suku bunga. 

    Pendapatan juga mendapat dorongan signifikan dari pemulihan yang kuat dalam bisnis penjaminan asuransi perusahaan, dengan pendapatan operasional meningkat empat kali lipat selama periode tersebut menjadi US$3,4 miliar.

    GEICO adalah kontributor utama terhadap hasil asuransi Berkshire, dengan pendapatan penjaminan sebelum pajak meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$7,8 miliar pada 2024. Perusahaan asuransi mobil tersebut berhasil menambah klien baru di paruh kedua, membalikkan tren selama bertahun-tahun yang sebelumnya membebani kinerjanya.

    Pendapatan penjaminan sebelum pajak untuk kumpulan bisnis reasuransi perusahaan tumbuh 44% selama setahun terakhir.

    Berkshire memperkirakan kerugian sebelum pajak sekitar US$1,3 miliar akibat kebakaran hutan yang melanda seluruh wilayah Los Angeles bulan lalu.

    Namun, analis CFRA Cathy Seifert memperkirakan kinerja yang sama tidak akan terulang pada tahun 2025, karena perusahaan tersebut telah mengadakan acara bernilai miliaran dolar pada bulan Januari, menjelang musim badai biasa.

    “Tetapi perubahan haluan di GEICO, setelah beberapa pemangkasan kebijakan di wilayah tertentu, sangat mengesankan dan lebih baik dari yang diharapkan,” jelasnya.

    Timbun Uang Tunai

    Adapun, penimbunan uang tunai Buffett meningkat selama 10 kuartal berturut-turut, mencapai rekor US$334,2 miliar pada akhir 2024, karena miliarder tersebut terus menahan diri dari transaksi saham besar pada kuartal keempat. Pada periode tersebut, perusahaan tersebut merupakan penjual bersih saham senilai US$6,7 miliar.

    Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, Buffett menyampaikan kekhawatiran bahwa Berkshire menimbun uang tunai dan mengingatkan investor bahwa sebagian besar uang perusahaan tetap diinvestasikan dalam ekuitas, baik publik maupun swasta, dan hal ini tidak akan berubah.

    “Berkshire tidak akan pernah memilih kepemilikan aset yang setara dengan uang tunai dibandingkan kepemilikan bisnis yang baik, baik yang dikendalikan atau hanya dimiliki sebagian,” kata Buffett dalam suratnya.

    Buffett mengatakan nilai kepemilikan ekuitas swasta Berkshire meningkat dan tetap “jauh lebih besar dibandingkan nilai portofolio yang dapat dipasarkan” tahun lalu. Pada periode yang sama, kepemilikan saham publik Berkshire turun 23% menjadi $272 miliar.  

    Miliarder tersebut mengatakan Berkshire dapat meningkatkan “seiring waktu” kepemilikan lamanya di Itochu, Marubeni, Mitsui, Mitsubishi dan Sumitomo, lima rumah dagang terbesar di Jepang.

    Meskipun Berkshire pada awalnya bermaksud untuk mempertahankan kepemilikannya di bawah ambang batas 10%, kelima perusahaan tersebut telah sepakat untuk melonggarkan batas tersebut secara moderat seiring dengan pendekatan konglomerat tersebut.

    Perusahaan tersebut menolak untuk membeli kembali sahamnya selama dua kuartal berturut-turut, sebuah tanda bahwa Buffett yakin saham tersebut saat ini diperdagangkan di atas nilai intrinsiknya. Kapitalisasi pasar Berkshire telah berada di atas $1 triliun sejak akhir bulan lalu.

    Meskipun pendapatan operasional meningkat besar tahun lalu – pendapatannya meningkat hampir 27% – Buffett menunjukkan dalam suratnya bahwa 53% dari 189 perusahaan operasional Berkshire melaporkan penurunan pendapatan pada tahun 2024.

    Hal ini, dikombinasikan dengan posisi Buffett sebagai penjual bersih saham, dapat menunjukkan bahwa miliarder tersebut khawatir terhadap melemahnya perekonomian AS, menurut Jim Shanahan, yang meliput Berkshire Hathaway sebagai analis ekuitas untuk Edward Jones.

    “Jika Berkshire mewakili gambaran industri AS yang lebih luas, produk konsumen, jasa, ekonomi ritel, maka bagi saya, hal tersebut terlihat cukup lemah saat ini,” kata Shanahan.

  • 4 Cara Memilih Saham Cuan ala Warren Buffett, Terapkan!

    4 Cara Memilih Saham Cuan ala Warren Buffett, Terapkan!

    Berbeda dengan sebagian besar investor lainnya, Warren Buffett tidak menggunakan analisis teknikal dalam memilih saham seperti teknik Moving Average (MA), Relative Strength Index (RSI), atau On-Balance Volume (OBV).

    Warren Buffett justru mengandalkan analisis fundamental dengan memeriksa laporan keuangan perusahaan secara menyeluruh. Dalam menganalisis laporan keuangan, ada beberapa indikator utama yang sangat diperhatikan dan berpengaruh pada keputusannya untuk membeli saham perusahaan.

    Berikut cara memilih saham menurut Warren Buffet:

    1. Lihat rasio utang terhadap ekuitas

    Saham yang baik umumnya berasal dari perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas yang rendah. Rasio ini dihitung dengan membagi total utang perusahaan dengan total ekuitasnya dalam suatu periode.

    Rasio Debt to Equity Ratio (DER) yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan lebih banyak mengandalkan ekuitas daripada utang untuk membiayai operasionalnya.

    Secara umum, saham yang layak dibeli adalah saham perusahaan dengan DER di bawah 1. Namun, hal ini bisa bervariasi antar industri, sehingga tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan dalam penilaian saham.

    2. Return on Equity (ROE)

    Selanjutnya, Buffett juga memperhatikan indikator Return on Equity (ROE) dalam memilih saham. ROE menggambarkan seberapa efektif perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari ekuitas yang dimilikinya. ROE dihitung dengan membagi laba bersih perusahaan dengan total ekuitasnya dalam periode tertentu.

    Makin tinggi ROE, makin baik perusahaan dalam menghasilkan laba bersih bagi pemegang saham, menjadikan saham tersebut lebih menarik. Namun, saat menganalisis ROE, sebaiknya gunakan periode panjang (5–10 tahun) untuk mengidentifikasi perusahaan yang mampu mempertahankan ROE yang baik dan konsisten selama bertahun-tahun.

    3. Margin keuntungan bersih

    Margin keuntungan bersih (Net Profit Margin/NPM) adalah indikator lain yang sering digunakan Buffett untuk menilai saham yang bagus. NPM mengukur persentase laba bersih yang diterima perusahaan dari total pendapatan dalam suatu periode. Caranya dengan membagi laba bersih dengan pendapatan bersih, lalu mengalikan dengan 100.

    Makin tinggi NPM, makin efisien perusahaan dalam mengelola biaya. Saham yang baik biasanya memiliki rasio NPM yang tinggi dan stabil, atau bahkan meningkat dari tahun ke tahun.

    4. Saham dijual di bawah nilai wajar

    Strategi value investing yang digunakan oleh Warren Buffett fokus pada mencari saham yang sedang dijual di bawah nilai wajarnya, atau bisa disebut “saham diskon”. Untuk menilai hal ini, investor perlu menghitung nilai intrinsik saham dan membandingkannya dengan harga pasar saat ini, apakah saham tersebut dijual lebih mahal atau lebih murah.

    Hingga kini, tidak ada metode yang pasti untuk menghitung nilai intrinsik saham karena setiap investor dapat memiliki pandangan berbeda. Dua metode yang paling populer adalah Discounted Cash Flow (DCF) dan Price to Earnings Ratio (PER).

    Selain keempat faktor di atas, Buffett juga mempertimbangkan keunikan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan sebelum memutuskan apakah sahamnya layak dibeli. Produk atau jasa yang unik sulit untuk ditiru oleh pesaing, yang memungkinkan perusahaan memperoleh margin keuntungan lebih besar.

  • Setop Beli 5 Barang Ini!

    Setop Beli 5 Barang Ini!

    Jakarta

    Bankir dan investor paling kaya di dunia, Warren Buffett, sering kali memberikan nasihat keuangan bagi siapa saja yang ingin mengatur kemampuan finansialnya dengan lebih baik. Termasuk di antaranya tips membeli barang untuk kelas menengah.

    Melansir dari New Trade U, Buffett dikenal dengan prinsip hidup hematnya meskipun memiliki kekayaan melimpah. Ia kerap menekankan pentingnya memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan, terutama bagi kelas menengah yang sering kali terjebak dalam pola konsumsi berlebihan.

    Berikut daftar 5 hal yang perlu berhenti dibeli kalangan kelas menengah:

    1. Mobil baru

    Salah satu nasihat Buffett yang paling konsisten ia sampaikan kepada kelas menengah adalah untuk menghindari pembelian mobil baru. Sebab menurutnya kendaraan merupakan salah satu aset yang dengan cepat kehilangan nilainya.

    Mobil baru dapat kehilangan hingga 20% dari nilainya pada tahun pertama, dan nilai aset ini akan terus turun hingga 60% selama lima tahun pertama. Dalam hal ini, membeli mobil bekas dengan kondisi baik adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.

    “Jangan simpan apa yang tersisa setelah belanja, tetapi belanjakan apa yang tersisa setelah menabung,” kata Buffett.

    2. Berlangganan yang tidak perlu

    Di era digital saat ini terdapat berbagai layanan berlangganan seperti streaming video, musik, atau aplikasi premium lainnya. Namun tanpa disadari biaya berlangganan sejumlah layanan ini tanpa disadari menjadi penguras isi dompet.

    Karena hal inilah menurut Buffett berlangganan layanan yang tidak digunakan secara maksimal adalah kebiasaan lain yang perlu dihindari. Dalam hal ini termasuk berbagai layanan berlangganan lainnya seperti keanggotaan gym, tempat makan, dan lain sebagainya.

    Kuncinya adalah meninjau kembali layanan langganan apa saja yang memang diperlukan dan dimanfaatkan dengan baik, kemudian menghilangkan langganan yang tidak memberikan keuntungan. “Jika Anda membeli barang yang tidak Anda butuhkan, Anda akan segera harus menjual barang yang Anda butuhkan,” terangnya.

    3. Rumah baru

    Meski Buffett memahami pentingnya punya rumah sendiri, ia memperingatkan kelompok kelas menengah untuk tidak terus berpindah ke rumah yang lebih besar. Sebab menurutnya hal ini dapat menyebabkan tekanan finansial dan menghambat akumulasi kekayaan dalam jangka panjang.

    Buffett sendiri memberi contoh dengan tinggal di rumah yang sama yang dibelinya di Omaha, Nebraska, pada 1958 seharga US$ 31.500 atau Rp 510,14 juta.

    Pendekatannya terhadap kepemilikan rumah menekankan kepraktisan dan hidup sesuai kemampuan. Pindah ke rumah yang lebih besar sering kali meningkatkan pembayaran hipotek, pajak properti, dan biaya pemeliharaan serta utilitas yang jauh lebih besar.

    4. Barang Kualitas Rendah

    Untuk menghemat uang, kelas menengah sering kali tergoda membeli barang murah. Namun sayangnya, barang-barang seperti ini sering kali berkualitas rendah dan memiliki masa pakai yang pendek.

    Alih-alih menghemat pengeluaran, kondisi seperti ini menurut Buffett malah membuat orang harus mengganti barang lebih cepat dan akhirnya meningkatkan pengeluaran. Sehingga pendekatan ini sering kali lebih boros biaya dalam jangka panjang.

    Filosofi ini berlaku untuk semua hal mulai dari pakaian hingga peralatan rumah tangga. Dengan memilih kualitas daripada kuantitas, ia berpendapat kelas menengah dapat mengurangi frekuensi penggantian dan menghemat uang dari waktu ke waktu.

    5. Judi

    Buffett secara konsisten mengkritik berbagai jenis perjudian dan tiket lotere. Sebab menurutnya judi merupakan hasil dari kesalahpahaman tentang probabilitas dan gejala dari harapan akan kekayaan instan daripada membangunnya secara sistematis melalui tabungan dan investasi.

    “Perjudian dan tiket lotere adalah pajak bagi orang-orang yang tidak mengerti matematika,” kata Buffett.

    Daya tarik menjadi kaya dengan cepat sering kali menggoda mereka yang memiliki pengetahuan keuangan terbatas. Namun, Buffett percaya uang yang dihabiskan untuk berjudi dapat diinvestasikan dengan lebih baik pada aset yang lebih mungkin menghasilkan keuntungan dari waktu ke waktu.

    (fdl/fdl)

  • 10 Perusahaan Terbesar di Dunia 2024 Versi Fortune 500

    10 Perusahaan Terbesar di Dunia 2024 Versi Fortune 500

    Pada tahun 2024, Fortune kembali merilis Daftar Perusahaan Terbesar di dunia berdasarkan pendapatan. Sejumlah perusahaan berhasil mencatatkan jumlah pendapatan signifikan di industri yang ditekuninya.

    Sebagian besar raksasa perusahaan tersebut berasal dari Amerika Serikat dengan jangkauan pasar luas. Selain Amerika Serikat, perusahaan terkemuka lainnya juga berasal dari Asia dengan operasi global yang luas. 

    Penasaran siapa saja perusahaan terbesar di dunia versi Fortune 500? Simak daftar perusahaan yang menarik untuk diketahui di bawah ini.

    1. Walmart

    Walmart merupakan perusahaan retail multinasional ternama dengan jaringan terluas di dunia. Didirikan oleh Sam Walton, Walmart mulai beroperasi di tahun 1962.

    Saat ini, perusahaan asal Amerika Serikat ini berhasil menduduki posisi teratas dalam bisnis retail. Walmart telah mengoperasikan jaringan retail di sejumlah negara yang mencakup toko kelontong, department store, dan hypermart. 

    Dengan jaringan yang luas, Walmart mampu meraih jumlah pendapatan yang signifikan. Dilansir Fortune 500, raksasa perusahaan ini berhasil membukukan pendapatan sekitar 648,12 miliar dolar AS.

    2. Amazon

    Siapa yang tidak kenal dengan Amazon. Platform belanja online asal Amerika Serikat ini termasuk perusahaan multinasional terbesar berdasarkan jumlah pendapatannya.

    Diketahui Amazon sukses mencatatkan pendapatan sebesar 574,78 miliar dolar AS dan menjadikannya sebagai perusahaan terbesar di dunia 2024.

    Untuk bisa berada di posisi ini, Amazon ternyata awalnya hanya sebuah platform untuk menjual buku. Kala itu, Jeff Bezos hanya menjalankan bisnisnya di garasi rumahnya.

    Kini, Amazon bertransformasi menjadi raksasa e-commerce yang menawarkan berbagai produk, mulai dari kebutuhan sehari-hari, produk digital, dan lain sebagainya.

    3. State Grid Corporation of China

    Bergeser ke Benua Asia, terdapat State Grid yang berhasil menempati posisi teratas dalam daftar perusahaan ini. State Grid merupakan penyedia layanan listrik milik negara asal China.

    Perusahaan ini menjadi andalan masyarakat China untuk mengakses kebutuhan listrik. Tidak heran, skala bisnisnya besar karena harus memasok sebagian besar listrik di sana.

    Dalam melakukan kegiatan usahanya, State Grid juga bergerak dalam industri energi terbarukan. Bahkan, perusahaan asal China ini menjadi pemain utama dalam inovasi energi terbarukan.

    Dari segi pendapatan perusahaannya, State Grid mampu mencapai angka 545,94 miliar dolar AS.

    4. Saudi Aramco

    Perusahaan terbesar di dunia 2024 berikutnya adalah Saudi Aramco. Tercatat perusahaan asal Arab Saudi ini berhasil meraih pendapatan sekitar 494, 89 miliar dolar AS.

    Dalam industri migas dunia, Saudi Aramco berada di posisi teratas. Hal tersebut dibuktikan dengan pendapatan yang dimilikinya. Saudi Aramco diperkirakan memiliki total pendapatan sebesar 494,89 miliar dolar AS.

    5. Sinopec Group

    Di peringkat kelima, terdapat Sinopec Group yang bergerak di sektor migas dan petrokimia terbesar. Perusahaan konglomerat asal China ini diketahui memiliki pendapatan sebesar 429,7 miliar dolar AS.

    Sinopec Group menaungi perusahaan China Petroleum and Chemical Corporation, perusahaan energi terbesar dan berpusat di Beijing. Perusahaan ini juga merupakan joint owner dari sejumlah usaha petrokimia di berbagai wilayah mulai dari Laut Utara hingga Afrika dan Brasil.

    Termasuk pemain utama dalam industri energi, Sinopec Group aktif beroperasi dalam proses hulu ke hilir, mulai dari eksplorasi hingga penjualan produk hingga sampai ke tangan konsumen.

    6. China National Petroleum Corporation

    Berbicara tentang pendapatan, perusahaan terbesar di dunia 2024 satu ini juga tidak kalah dengan perusahaan lainnya. China National Petroleum Corporation (CNPC) diperkirakan memiliki jumlah pendapatan sebesar 421,71 miliar dolar AS.

    Masih berasal dari Asia, China National Petroleum adalah perusahaan minyak multinasional terbesar. Sebagai penyedia jasa ladang minyak, perusahaan menawarkan berbagai produk bahan bakar dan gas alam.

    Selain beroperasi di dalam negeri, CNPC juga melebarkan sayapnya di pasar global meliputi Amerika Utara hingga Eropa Timur.

    7. Apple

    Perusahaan teknologi multinasional satu ini berhasil mengamankan posisi ketujuh dengan pendapatan sekitar 383,28 miliar dolar AS. 

    Apple memang dikenal sebagai perusahaan teknologi yang memproduksi perangkat elektronik ternama. Mulai dari iPhone, Mac, Apple Watch, dan Airpods. 

    Selain produk canggih yang ditawarkan, Apple juga menawar layanan streaming musik dan radio, Apple Music kepada penggunanya.

    Produknya juga sangat diminati konsumen sehingga memiliki jaringan pasar luas. Tidak heran, gerai iBox banyak ditemui di sejumlah negara, termasuk Indonesia.  

    8. UnitedHealth Group

    Berdasarkan pendapatannya, peringkat kedelapan berhasil ditempati oleh UnitedHealth Group. Diketahui UnitedHealth Group mencatatkan pendapatan sebesar 371,62 miliar dolar AS. 

    Bergerak di industri kesehatan, perusahaan ini menyediakan layanan kesehatan terpadu bagi pengusaha, usaha kecil, dan individu. Hal tersebut mencakup manajemen pelayanan kesehatan, perangkat perawatan, dan manajemen farmasi.

    9. Berkshire Hathaway

    Dalam daftar perusahaan terbesar di dunia 2024 versi Fortune 500, Berkshire Hathaway berhasil menempati peringkat 10 besar, tepatnya posisi kesembilan.

    Perusahaan konglomerat multi-industri ini dipimpin oleh investor Warren Buffett. Berdiri pada tahun 1965, Berkshire Hathaway bergerak di bidang asuransi, utilitas, dan angkutan kereta api.

    Lewat industri yang ditekuninya, perusahaan asal Amerika Serikat ini memiliki portofolio bisnis yang komprehensif. Tidak heran, pendapatan yang dimilikinya bisa mencapai angka 364,48 miliar dolar AS.

    10. CVS Health

    CVS Health menjadi penutup dalam daftar perusahaan ini. Bergerak di industri farmasi, CVS Health memiliki jaringan apotek terbesar di Amerika Serikat.

    Selain gerai toko obat, CVS Health juga menyediakan aplikasi kesehatan yang bisa diakses dengan mudah. Mulai dari Aetna Health, CVS Caremark, CVS Pharmacy, hingga CVS Specialty.

    Dengan jaringan yang luas, CVS Health berhasil memiliki jumlah pendapatan sebesar 357,77 miliar dolar AS,

    Demikian beberapa perusahaan terbesar di dunia 2024 versi Fortune Global 500 dengan pendapatan tertinggi. Semoga bermanfaat!

  • 7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.

    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.

    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     
    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.

    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.

    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.

    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.

    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.

    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.

    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.
     
    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.
     
    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     

    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.
     
    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.
     
    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.
     
    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.
     
    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.
     
    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.
     
    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (WAN)

  • Bitcoin Bak Racun Tikus bagi Warren Buffet

    Bitcoin Bak Racun Tikus bagi Warren Buffet

    Jakarta: Meskipun banyak manajer aset dan investor papan atas berinvestasi dalam, atau setidaknya terbuka terhadap kripto dan bitcoin, beberapa diantaranya tetap ragu untuk mengadopsi aset tersebut. Paling menonjol anti-bitcoin adalah investor legendaris, Warren Buffett.
     
    Dilansir dari Yahoo Finance, Sabtu, 16 November 2024, strategi Buffett untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan solid yang terus-menerus menghasilkan uang tunai dan nilai telah sangat berhasil. Hal ini telah memungkinkan perusahaannya, Berkshire Hathaway, untuk bertahan melalui masa-masa puncak dan palung pasar
     
    “Jika Anda membeli sesuatu seperti bitcoin atau mata uang kripto lainnya, Anda tidak benar-benar memiliki sesuatu yang menghasilkan apa pun. Anda hanya berharap orang berikutnya akan membayar lebih,” ucap Buffett dalam sebuah wawancara pada 2018 silam.
     
    Pada rapat pemegang saham Berkshire di 2022, Buffett menjelaskan pendiriannya tentang bitcoin dengan mengatakan, “Jika Anda mengatakan kepada saya Anda memiliki semua bitcoin di dunia dan Anda menawarkannya kepada saya seharga USD25, saya tidak akan menerimanya karena apa yang akan saya lakukan dengannya? Saya harus menjualnya kembali kepada Anda dengan cara apa pun. Itu tidak akan menghasilkan apa-apa.”
     
    Tidak benar-benar benci investasi kripto
     
    Buffett menentang bitcoin dan kripto secara umum. Namun, sikap ini tidak sepenuhnya tercermin dalam investasi perusahaannya. Berkshire Hathaway banyak berinvestasi di perusahaan fintech Brasil Nu Holdings Ltd. Investasi tersebut merupakan investasi terbaik pada 2023.
     
    Didirikan pada 2013, Nu awalnya menawarkan rekening bank berbiaya rendah dan pinjaman pribadi melalui format yang jauh lebih digital daripada pesaingnya. Pada 2022, perusahaan meluncurkan Nucripto, yang memungkinkan pengguna untuk membeli dan menjual lebih dari 15 token.
     
    Meskipun bisnis kriptonya hanya menyumbang sebagian kecil dari pendapatannya, perusahaan ini masih beroperasi di bidang kripto, dan basis pelanggannya terus bertambah. Perusahaan ini juga meluncurkan mata uang kripto miliknya sendiri yang disebut Nucoin.
     

     
    Buffett telah menginvestasikan USD500 juta di Nu Holdings melalui putaran pendanaan seri G sebelum perusahaan tersebut go public pada Desember 2021. Beberapa bulan kemudian, Buffett meningkatkan kepemilikannya sebesar USD250 juta lagi, sehingga menghasilkan total investasi sebesar USD750 juta.
     
    Investasi tersebut telah membuahkan hasil. Saham Nu naik hampir 50 persen pada 2024 saja dan baru-baru ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa. Hal ini juga terjadi setelah 2023, di mana sahamnya naik hampir 100 persen.
     
    Keuntungan besar ini dapat mengalihkan fokus Buffett ke kripto. Melihat laba yang diperoleh dari bisnis terkait kripto dapat menyebabkan investor memikirkan kembali strategi dan pendiriannya terhadap kripto.
     
    Bitcoin telah mengungguli sebagian besar indeks utama sejauh ini pada 2024. Token tersebut naik hampir 70 persen pada tahun ini, jauh di atas S&P 500, yang naik lebih dari 10 persen pada 2024. (Ridini Batmaro)

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Deret Crazy Rich Bumi Cuan Besar Saat Trump Sukses Menang Pemilu AS

    Deret Crazy Rich Bumi Cuan Besar Saat Trump Sukses Menang Pemilu AS

    Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah miliarder dunia mengalami keuntungan besar tatkala kandidat Partai Republik, Donald Trump, kembali terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS). Hal ini terungkap dari data Bloomberg’s Billionaire Index, Rabu (6/11/2024).

    Dalam data tersebut, secara kolektif, 10 orang terkaya memperoleh US$ 64 miliar (Rp 1.001 triliun). Perolehan kekayaan terbesar dinobatkan kepada Elon Musk, orang terkaya di dunia dan salah satu pendukung Trump yang paling vokal dan berdedikasi. Kekayaannya melonjak melonjak US$ 26,5 miliar (Rp 414 triliun) menjadi US$ 290 miliar.

    Kekayaan pendiri Amazon Jeff Bezos tumbuh US$ 7,1 miliar (Rp 111 triliun) seminggu setelah membela keputusannya untuk menahan dukungan Washington Post terhadap Wakil Presiden Kamala Harris. Salah satu pendiri Oracle Larry Ellison, pendukung Trump lainnya, melihat kekayaan bersihnya naik US$ 5,5 miliar (Rp 86 triliun) pada hari Rabu.

    Perolehan kekayaan lainnya termasuk mantan eksekutif Microsoft Bill Gates dan Steve Ballmer, mantan eksekutif Google Larry Page dan Sergey Brin, dan CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett.

    Meski tidak ada satu pun dari miliarder tersebut yang jelas-jelas mendukung kandidat mana pun tahun ini, mereka pernah membicarakan untuk mendukung Partai Demokrat,

    “Ini adalah kenaikan harian terbesar kekayaan yang terlihat sejak indeks dimulai pada tahun 2012. Pasar menguat pada hari Rabu karena pemilihan umum berakhir dengan cepat dan dengan harapan bahwa Trump akan mengantar era baru deregulasi dan undang-undang serta kebijakan pro-bisnis lainnya,” dikutip dari CNN International, Sabtu (9/11/2024). 

    Pemilik Truth Social, Trump Media & Technology Group, perusahaan media sosial Trump, juga menguangkan dengan saham yang meroket nilainya setelah CNN dan outlet media lainnya memproyeksikan Trump menang. Saham naik sebanyak 35% pada satu titik sebelum memudar.

    Trump adalah pemegang saham dominan di perusahaan media sosial konservatif itu, yang memiliki pendapatan sedikit dan merugi. Sebanyak 114,75 juta saham milik presiden terpilih tersebut bernilai sekitar US$ 5,3 miliar (Rp 83 triliun) berdasarkan keuntungan awal tersebut, naik dari US$ 3,9 miliar (Rp 61 triliun) saat perdagangan berakhir pada Hari Pemilihan.

    (dce)

  • Warren Buffett Timbun Uang Rp 5 Ribu T, Pertanda Apa?

    Warren Buffett Timbun Uang Rp 5 Ribu T, Pertanda Apa?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Investor terkemuka dunia, Warren Buffett, dilaporkan terus menimbun uang tunai. Bahkan angka terbaru menunjukkan, ia kini mengumpulkan US$ 325 miliar (Rp 5.124 triliun).

    Hal ini didapat setelah Buffett terus menerus menjual saham Apple Inc dan Bank of America. Namun setelahnya, tak ada pengumuman akuisisi besar akan dilakukan.

    Sabtu lalu, perusahaan investasi miliknya, Berkshire Hathaway, diketahui menjual lagi sekitar 100 juta saham Apple pada kuartal ketiga (Q3). Ini setelah mengurangi separuh investasi besarnya pada pembuat iPhone tersebut pada kuartal sebelumnya.

    Dengan hal ini, sisa saham Buffett di Apple kini sebesar 300 juta saham bernilai US$ 69,9 miliar (Rp 1.102 triliun) pada akhir September 2024. Meski, iPhone tetap menjadi investasi tunggal terbesar Berkshire.

    Mengutip laman Associated Press (AP), hal ini membuat analis dan investor bertanya-tanya, mengapa Buffett terus mengumpulkan begitu banyak uang tunai. Bahkan mereka menyinggung prediksinya terkait keadaan ekonomi saat ini.

    “Apakah mereka lebih pesimis tentang gambaran ekonomi dan pasar di masa depan daripada yang mungkin orang lain?” kata analis dari CFRA Research, Cathy Seifert, dikutip Senin (4/11/2024).

    Sebelumnya, Buffett sempat mengatakan alasan mengapa ia mulai menjual sebagian saham Apple-nya adalah karena ia memperkirakan tarif pajak akan naik. Ini terungkap dalam rapat tahunan perusahaan pada bulan Mei.

    Namun, analis lain dari Edward Jones & Co, Jim Shanahan, mengatakan ia bertanya-tanya apakah sebagian alasan Buffett mulai menjual Apple terkait dengan kematian wakil ketua Berkshire Charlie Munger tahun lalu. Pasalnya, penjualan saham Apple dimulai tak lama setelah kematiannya.

    “Buffett tidak pernah senyaman mitra lamanya dengan bisnis teknologi. Jika Charlie Munger masih hidup, mungkin ia tidak akan menjual posisi itu secara agresif, mungkin sama sekali,” kata Shanahan.

    Akhir pekan kemarin, Berkshire mengatakan keuntungan investasi kembali mendorong laba Q3 meroket menjadi US$ 26,25 miliar (Rp 413 triliun) atau US$ 18.272 (Rp 295 juta) per saham Kelas A. Setahun lalu, kerugian investasi yang belum terealisasi menyeret laba konglomerat itu turun hingga rugi US$ 12,77 miliar, atau US$ 8.824 per saham Kelas A.

    “Laba operasional hanya turun sekitar 6% menjadi US$ 10,09 miliar (Rp 159 triliun), atau US$ 7.023,01 (Rp 110 juta) per saham Kelas A, dibandingkan dengan US$10,8 miliar tahun lalu, atau US$ 7.437,15 per saham Kelas A,” kata Berkshire.

    Pendapatan tidak banyak berubah pada US$92,995 miliar (Rp 1.466 triliun). Setahun lalu, perusahaan itu melaporkan pendapatan sebesar US$93,21 miliar.

    Berkshire memiliki berbagai macam bisnis asuransi, termasuk Geico Corp, BNSF Railway Co. Perusahaan juga memiliki beberapa utilitas besar, serta beragam koleksi bisnis ritel dan manufaktur, termasuk merek-merek seperti Dairy Queen dan See’s Candy.

    (sef/sef)

  • Oh Ternyata Ini yang Bikin Warren Buffet Tak Minat Investasi Emas

    Oh Ternyata Ini yang Bikin Warren Buffet Tak Minat Investasi Emas

    Bisnis.com, JAKARTA – Warren Buffet merupakan salah satu investor kawakan yang tak tertarik menaruh hartanya di instrumen bernama emas.

    Akan tetapi yang menarik, Berkshire Hathaway, konglomerat multinasional yang berbasis di Omaha, Nebraska, yang dipimpin oleh Warren Buffett sempat berinvestasi di Barrick Gold pada tahun 2020 lalu.

    Emas juga menjadi salah satu instrumen investasi yang paling aman karena nilainya cenderung naik dari tahun ke tahun.

    Dengan kata lain, emas menjadi instrumen yang bisa menyelamatkan harta seseorang dari gerusan inflasi.

    Namun, Buffet bukan tanpa alasan. Setidaknya, ada tiga hal yang membuat Warren Buffet tak tertarik investasi emas.

    3 Hal Ini Bikin Warren Buffet Tak Minat Investasi Emas

    1. Emas tidak seperti saham, emas tidak berkembang biak

    Menurut Buffet, emas memiliki dua kekurangan yang signifikan, yaitu tidak akan berkembang biak.

    Ia mengakui jika emas memiliki beberapa kegunaan industri dan dekorasi, namun emas akan stagnan alias tidak bisa membuat produksi baru.

    Buffet mengatakan jika seseorang memiliki satu ons emas hari ini, maka Anda akan tetap memiliki satu ons di akhir masa pakainya. Inilah yang dimaksud tidak berkembang biak.

    2. Emas tidak melakukan apapun

    “Saya tidak punya pandangan mengenai di mana (emas) akan berada (dalam lima tahun ke depan), tapi satu hal yang dapat saya katakan adalah emas tidak akan melakukan apa pun antara sekarang dan nanti kecuali melihat Anda,” kata Buffet.

    Ini juga menjadi pernyataan Buffet yang cukup kontroversial, namun masuk akal.

    Tidak seperti saham, reksadana, atau obligasi negara yang digunakan untuk membangu perusahaan atau negara, emas tidak melakukan apapun ketika disimpan.

    3. Emas adalah cara untuk bertahan lama saat takut

    “Dengan aset seperti emas, misalnya, Anda tahu, pada dasarnya emas adalah cara untuk bertahan lama saat takut, dan itu merupakan cara yang cukup bagus untuk bertahan lama saat takut dari waktu ke waktu. Namun Anda benar-benar harus berharap orang-orang menjadi lebih takut dalam satu atau dua tahun ke depan daripada sekarang. Dan jika mereka menjadi lebih takut, Anda menghasilkan uang, jika mereka menjadi kurang takut, Anda kehilangan uang. Namun, emas itu sendiri tidak menghasilkan apa pun,” Buffett, 2011.

    Warren Buffett juga berbicara cukup panjang lebar tentang keyakinannya bahwa orang yang membeli emas pada dasarnya bertaruh pada rasa takut.

    Emas dikenal sebagai safe haven dan orang menaruh uang mereka di instrumen ini lantaran takut akan gejolak di pasar modal.

  • Beda Pendapat Warren Buffett dan Robert Kiyosaki soal Masa Depan Logam Mulia Emas

    Beda Pendapat Warren Buffett dan Robert Kiyosaki soal Masa Depan Logam Mulia Emas

    Bisnis.com, JAKARTA – Dua tokoh terkemuka di dunia, Warren Buffett dan Robert Kiyosaki, memiliki perbedaan pendapat soal masa depan emas.

    Belum lama ini, Robert Kiyosaki telah mengkritik pemikiran investor sukses Warren Buffett tentang tidak berinvestasi dalam emas.

    Hal tersebut dilakukan setelah Warren Buffet menulis jika emas memiliki dua kekurangan yang signifikan, yaitu tidak banyak manfaatnya dan tidak menghasilkan keuntungan.

    Buffet juga mengatakan jika Anda memiliki satu ons emas untuk selamanya, Anda akan tetap memiliki satu ons emas di akhir masa pakainya.

    Lebih lanjut, Buffett menekankan investasi pada aset produktif yang menghasilkan pendapatan, seperti real estat, saham, dan obligasi.

    Namun, Kiyosaki sangat tidak setuju dengan pernyataan Buffet itu dan mengkritik investor tersebut selama wawancara dengan Vladislav Lyubovny.

    Dalam wawancara tersebut, Kiyosaki mengangkat koin perak di tangannya dan berkata tentang apa untungnya berinvestasi di logam mulia.

    “Ini, ini, adalah dolar perak tahun 1964. Jadi, koin perak kecil ini sekarang bernilai $10. Saya bisa pergi ke pedagang koin mana pun dan menukarnya dengan $10. Jadi, FU Buffett,” katanya.

    Tidak seperti Buffett, Kiyosaki adalah seorang penggila emas yang terkenal karena menganjurkan investasi emas.

    Kiyosaki sering mempromosikan penggunaan investasi emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

    Pada bulan April 2024 lalu, Kiyosaki memperingatkan tentang kesulitan keuangan yang akan melanda negara itu dan menulis di platform media sosial X tentang emas.

    “SEMUANYA GELEMBUNG, saham, obligasi, real estat AKAN JATUH. Utang AS meningkat sebesar $1 triliun setiap 90 hari. AS BANGKRUT. Selamatkan diri Anda. Silakan beli lebih banyak emas asli, perak, Bitcoin,” tulisnya.