Tag: Volodymyr Zelensky

  • Putin Menggila, 320 Drone & 37 rudal Bombardir Ukraina

    Putin Menggila, 320 Drone & 37 rudal Bombardir Ukraina

    Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia kembali membombardir Ukraina, Kamis (16/10/2025) pagi waktu setempat. Dilaporkan pasukan Presiden Vladimir Putin menembakkan 320 pesawat nirawak (drone) dan 37 rudal ke wilayah Ukraian Timur.

    Hal ini kemudian memicu pemadaman listrik di delapan wilayah karena menghancurkan infrastruktur gas negara. Serangan ini menjadi pemboman skala besar terbaru ke jaringan energi Kyiv.

    “Terdapat serangan dan kerusakan di beberapa wilayah sekaligus. Operasi sejumlah fasilitas yang sangat penting telah dihentikan,” kata CEO perusahaan gas Naftogaz, Sergii Koretskyi, dalam sebuah pernyataan, dikutip AFP.

    “Musim gugur ini, Rusia menggunakan setiap hari untuk menyerang infrastruktur energi kami,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

    Sebenarnya, sejak menginvasi Ukraina pada tahun 2022, Moskow telah menyerang infrastruktur listrik Ukraina setiap musim dingin, memaksa Kyiv untuk memberlakukan pemadaman darurat dan mengimpor energi dari luar negeri. Angkatan Udara Ukraina mengatakan dari semua rentetan drone dan rudal yang menyerang, 283 drone dan lima rudal telah ditembak jatuh.

    Secara rinci, serangan tersebut terutama menargetkan wilayah Kharkiv di utara, dan wilayah Poltava di timur. Laporan media sebelumnya menunjukkan sekitar 60% produksi gas Ukraina telah dihentikan dalam serangan Rusia baru-baru ini dan serangan terhadap pembangkit listrik telah memutus aliran listrik ratusan ribu orang di negara itu.

    Kyiv telah meminta sekutunya untuk menambah sistem pertahanan udara guna melindungi infrastruktur penting dan juga telah melancarkan serangan balasan terhadap kilang minyak Rusia. Dilaporkan bagaimana AS sedang memikirkan pengiriman misil Tomahawk untuk Ukraina.

    Sementara itu, Kremlin mengklaim pasukannya hanya menargetkan fasilitas militer. Perang sudah terjadi sejak 2022.

    (sef/sef)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Ukraina Cabut Kewarganegaraan Walkot Odessa, Diduga Punya Paspor Rusia

    Ukraina Cabut Kewarganegaraan Walkot Odessa, Diduga Punya Paspor Rusia

    Jakarta

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mencabut kewarganegaraan wali kota Odessa, Gennadiy Trukhanov, atas tuduhan kepemilikan paspor Rusia. Trukhanov memberikan bantahan.

    “Kewarganegaraan Ukraina Wali Kota Odessa, Gennadiy Trukhanov, telah ditangguhkan,” demikian diumumkan Dinas Keamanan Ukraina (SBU) di Telegram, mengutip dekrit yang ditandatangani oleh Zelensky, Rabu (15/10/2025).

    SBU menuduh wali kota tersebut memiliki kewarganegaraan Rusia dan “memiliki paspor internasional yang sah dari negara agresor.”

    Trukhanov secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

    Sebagai mantan anggota parlemen, Trukhanov telah menjabat sebagai wali kota kota pelabuhan terbesar di Laut Hitam sejak 2014. Keputusan untuk mencabut kewarganegaraannya secara efektif akan menggulingkannya dari jabatannya.

    “Saya tidak pernah menerima paspor Rusia. Saya warga negara Ukraina,” tegas Trukhanov dalam pesan video yang diunggah di Telegram.

    Dulu dianggap sebagai politisi yang berhaluan pro-Rusia, Trukhanov berubah haluan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, dengan secara terbuka mengecam Moskow sambil berfokus membela Odessa dan membantu tentara Ukraina.

    Sebuah sumber pemerintah Ukraina mengatakan kepada AFP bahwa penari balet Sergei Polunin juga telah dicabut kewarganegaraannya. Polunin, yang dadanya memiliki tato besar Vladimir Putin, telah menjadi pendukung vokal presiden Rusia tersebut.

    Penari tersebut, yang sering disebut sebagai “anak nakal” balet, menjadi berita utama ketika ia mengundurkan diri sebagai penari utama di Royal Ballet Inggris pada tahun 2012.

    Lahir di Ukraina selatan, ia memperoleh kewarganegaraan Rusia pada tahun 2018. Ia mendukung invasi Rusia pada tahun 2022 dan, pada awal tahun 2014, mendukung aneksasi Rusia atas Krimea, tempat ia tinggal dan bekerja.

    Sumber pemerintah mengatakan kepada AFP bahwa kewarganegaraan politisi pro-Kremlin Oleg Tsaryov, yang selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 2023, juga telah dicabut.

    (lir/lir)

  • Trump Bisa Setujui Rudal Tomahawk untuk Ukraina Jika Putin Lanjut Perang

    Trump Bisa Setujui Rudal Tomahawk untuk Ukraina Jika Putin Lanjut Perang

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya mungkin menawarkan rudal jarak jauh Tomahawk yang dapat digunakan oleh Ukraina, jika Presiden Rusia Vladimir Putin tidak juga mengakhiri perang.

    Washington sebelumnya dilaporkan sedang mempertimbangkan pasokan rudal Tomahawk untuk Kyiv, yang menuai reaksi keras Kremlin.

    Saat berbicara kepada wartawan dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One yang terbang ke Israel, seperti dilansir Reuters, Senin (13/10/2025), Trump mengatakan dirinya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah membahas permintaan persenjataan yang diajukan Zelensky, termasuk rudal Tomahawk.

    Pembahasan itu dilakukan via telepon pada Sabtu (11/10) dan Minggu (12/10) waktu setempat.

    Rudal Tomahawk buatan AS memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer, cukup jauh untuk menyerang wilayah terdalam di Rusia, termasuk ibu kota Moskow.

    Kremlin telah memperingatkan AS untuk tidak memasok rudal Tomahawk ke Ukraina. Trump, pada Minggu (12/10), mengatakan bahwa rudal tersebut akan menjadi “langkah agresi baru” jika digunakan dalam perang.

    AS, sebut Trump, tidak akan menjual rudal tersebut secara langsung ke Ukraina, tetapi memasoknya kepada aliansi pertahanan NATO, yang kemudian dapat menawarkannya kepada Ukraina.

    “Ya, saya mungkin akan mengatakan kepadanya (Putin-red), jika perang tidak berakhir, kita mungkin akan melakukannya,” kata Trump. “Mungkin tidak, tetapi kita bisa melakukannya. … Apakah mereka ingin Tomahawk melesat ke arah mereka? Saya rasa tidak,” ucapnya.

    Zelensky sebelumnya mengatakan bahwa Ukraina hanya akan menggunakan rudal Tomahawk, jika memang dipasok AS, untuk tujuan militer dan tidak akan menyerang warga sipil di Rusia.

    “Kami tidak pernah menyerang warga sipil mereka. Inilah perbedaan besar antara Ukraina dan Rusia. Itulah sebabnya, jika kita berbicara tentang (rudal) jarak jauh, kita hanya berbicara tentang tujuan militer,” ujar Zelensky dalam wawancara dengan program Fox News “Sunday Briefing”.

    Pekan lalu, Tump mengatakan bahwa sebelum menyetujui pasokan rudal Tomahawk, dirinya ingin mengetahui bagaimana Ukraina akan menggunakannya karena dia tidak ingin meningkatkan eskalasi perang antara Moskow dan Kyiv.

    Sementara Putin, awal bulan ini, mengingatkan bahwa mustahil untuk menggunakan rudal Tomahawk tanpa partisipasi langsung personel militer AS, sehingga pasokan rudal semacam itu ke Ukraina akan memicu “eskalasi tahap baru yang kualitatif”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Zelensky Telepon Macron Minta Bantuan Tambahan Rudal untuk Lawan Rusia

    Zelensky Telepon Macron Minta Bantuan Tambahan Rudal untuk Lawan Rusia

    Kyiv

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menelepon Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam telepon itu, Zelensky meminta Macron menambah bantuan rudal untuk melawan Rusia.

    “Saya berbicara dengan Presiden Emmanuel Macron… Saya memberi tahu beliau tentang kebutuhan prioritas kami, pertama dan terutama sistem pertahanan udara dan rudal,” kata Zelensky dalam sebuah unggahan Facebook, dilansir kantor berita AFP, Minggu (12/10/2025).

    Prancis merupakan pendukung militer yang signifikan bagi Ukraina. Namun Prancis telah dilanda krisis politik sejak tahun lalu, ketika Macron mengadakan pemilihan umum dadakan dengan harapan mengamankan mayoritas tetapi justru membuat parlemen lumpuh karena banyaknya partai.

    Permintaan Zelensky agar Prancis meningkatkan bantuan pertahanan udara bagi Ukraina bukan tanpa alasan. Dia menyebut bahwa Rusia memanfaatkan perhatian dunia yang teralihkan untuk terus menyerang Ukraina.

    “Rusia sekarang memanfaatkan momen ini — fakta bahwa Timur Tengah dan isu-isu domestik di setiap negara mendapatkan perhatian maksimal,” ucap Zelensky.

    Rusia telah menggempur jaringan energi Ukraina dalam beberapa hari terakhir, memutus aliran listrik bagi ratusan ribu warga Ukraina menjelang musim dingin.

    (fas/whn)

  • Rusia Dukung Pencalonan Trump untuk Raih Nobel Perdamaian

    Rusia Dukung Pencalonan Trump untuk Raih Nobel Perdamaian

    Moskow

    Kremlin, atau kantor kepresidenan Rusia, mengatakan mendukung pencalonan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian.

    Trump sebelumnya mengatakan dirinya pantas mendapatkan Nobel Perdamaian yang telah diberikan kepada empat pendahulunya di Gedung Putih. Pemberian Nobel Perdamaian tahun ini akan diumumkan di Norwegia pada Jumat (10/10) waktu setempat.

    Ajudan Kremlin atau ajudan kepresidenan Rusia, Yuri Ushakov, dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir kantor berita TASS dan Reuters, Jumat (10/10/2025), mengatakan Moskow akan menyambut baik jika memang komite penyelenggara memutuskan untuk memberikan Nobel Perdamaian kepada Trump.

    “Saya rasa, iya, kami akan mendukung keputusan itu, jika ditanya,” kata Ushakov saat berbicara kepada saluran Yunashev Live di Telegram.

    Rusia telah berulang kali menyampaikan rasa terima kasih atas upaya Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang berlangsung selama lebih dari tiga tahun terakhir yang dipicu oleh invasi militer Moskow.

    Peraih Nobel Perdamaian tahun 2025 akan diumumkan oleh Komite Nobel Norwegia pada Jumat (10/10), pukul 09.00 GMT.

    Para pengamat berpengalaman, seperti dilansir Reuters, mengatakan kemungkinan besar Trump tidak akan terpilih untuk menerima Nobel Perdamaian.

    Pernyataan Kremlin tersebut disampaikan setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pernyataan pada Kamis (9/10), mengatakan Kyiv akan mencalonkan Trump untuk meraih Nobel Perdamaian jika sang Presiden AS itu berhasil mewujudkan gencatan senjata dalam perang Ukraina.

    Mengomentari Zelensky, Ushakov dalam penyataannya mengaku terkejut dengan apa yang disebutnya sebagai kebodohan Presiden Ukraina tersebut, yang disebutnya mengatakan “bisa melobi Hadiah Nobel untuk Trump jika Presiden AS itu memasok rudal Tomahawk untuk Kyiv.

    “Itu berarti hadiah perdamaian untuk pengiriman senjata. Gagasan itu sendiri menggelikan. Cara berpikir orang menunjukkan kepribadian mereka,” sebut Ushakov.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Serangan Besar-besaran, Rudal Rusia Hantam Infrastruktur Energi Ukraina

    Serangan Besar-besaran, Rudal Rusia Hantam Infrastruktur Energi Ukraina

    Jakarta

    Rusia melancarkan serangan besar-besaran di ibu kota Kyiv, yang salah satunya menyasar ke infrastruktur energi. Ukraina mengatakan serangan ini menyerang jaringan energi nasional.

    “Ibu kota negara ini sedang diserang rudal balistik musuh dan serangan besar-besaran oleh pesawat nirawak musuh,” kata angkatan udara Ukraina, dilansir AFP, Jumat (10/10/2025).

    Warga Kyiv diminta untuk tetap berada di tempat perlindungan. Sementara itu, wartawan AFP di Kyiv melaporkan terdengar beberapa ledakan dahsyat di kota tersebut. Selain itu terjadi pemadaman listrik di pemukiman di berbagai distrik di ibu kota.

    Wali Kota Vitali Klitschko mengatakan pasukan Rusia telah menargetkan “infrastruktur kritis”. Serangan tersebut juga melukai sedikitnya sembilan orang, lima di antaranya dibawa ke rumah sakit.

    “Tepi kiri ibu kota tanpa listrik. Ada juga masalah dengan pasokan air,” kata Klitschko di platform Telegram.

    Selain itu, Menteri Energi Ukraina, Svitlana Grynchuk, mengatakan pasukan Rusia “melakukan serangan besar-besaran” terhadap jaringan listrik.

    “Segera setelah kondisi keamanan memungkinkan, para pekerja energi akan mulai mengklarifikasi konsekuensi dari serangan dan melakukan restorasi,” katanya.

    Selain menyerang infrastrutur energi, Rusia juga menyerang wilayah tenggara Zaporizhzhia dengan setidaknya tujuh serangan pesawat tak berawak. Serangan itu menurut Ivan Fedorov, Kepala Administrasi Militer Regional, juga melukai setidaknya tiga orang.

    Diketahui, Rusia telah meningkatkan serangan udara terhadap fasilitas energi dan sistem kereta api Ukraina selama beberapa minggu terakhir.

    Pada Kamis, sebelumnya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Moskow berusaha “menciptakan kekacauan” dengan menyerang fasilitas energi dan jalur kereta api.

    Ukraina telah meningkatkan serangan pesawat nirawak dan rudalnya sendiri ke wilayah Rusia sebagai tanggapan, sebuah taktik yang menurut Zelensky telah menunjukkan “hasil” dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di Rusia.

    (yld/idn)

  • Kata Putin soal Hubungan Rusia-AS Rusak Perkara Tomahawk untuk Ukraina

    Kata Putin soal Hubungan Rusia-AS Rusak Perkara Tomahawk untuk Ukraina

    Jakarta

    Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk mendapatkan rudal Tomahawk. Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan peringatan keras.

    Dirangkum detikcom, Senin (6/10/2025) seperti dilansir Reuters dan AFP, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah meminta AS untuk menjual rudal Tomahawk kepada negara-negara Eropa, yang kemudian akan memasok persenjataan itu ke Ukraina.

    AS kemudian memberikan respons. Pertimbangan untuk mengirimkan rudal jarak jauh AS tersebut, disampaikan oleh Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan program “Fox News Sunday” pada Minggu (29/9) waktu setempat.

    Vance mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengambil “keputusan akhir” soal apakah akan mengizinkan kesepakatan tersebut.

    “Kami tentu saja sedang mempertimbangkan sejumlah permintaan dari negara-negara Eropa,” kata Vance dalam wawancara tersebut.

    Rudal Tomahawk buatan AS diketahui memiliki jangkauan 2.500 kilometer, dan akan menjadi aset berharga bagi Ukraina dalam melawan rentetan serangan rudal dan drone Rusia yang berlangsung terus-menerus.

    Pengiriman senjata semacam itu hampir pasti akan dianggap oleh Rusia sebagai eskalasi dalam perangnya di Ukraina.

    Respons Putin

    Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan jika AS memasok rudal Tomahawk ke Ukraina untuk serangan jarak jauh ke dalam wilayah Rusia, maka hal itu akan menyebabkan hancurnya hubungan antara Moskow dan Washington.

    Kurang dari dua bulan sejak Putin bertemu Presiden Donald Trump di Alaska, perdamaian tampak semakin jauh dengan pasukan militer Rusia bergerak maju di Ukraina, drone Rusia yang diduga mengudara di wilayah udara NATO, dan kini AS berbicara soal partisipasi langsung dalam serangan jarak jauh ke Rusia.

    Trump telah mengatakan dirinya kecewa dengan Putin karena tidak bersedia mewujudkan perdamaian, dan melabeli Rusia sebagai “macan kertas” karena gagal menaklukkan Ukraina. Putin, pekan lalu, membalas dengan mempertanyakan apakah bukan NATO yang “macan kertas” karena gagal menghentikan laju Rusia.

    “Ini akan menyebabkan hancurnya hubungan kita, atau setidaknya tren positif yang telah muncul dalam hubungan ini,” kata Putin dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Reuters, Senin (6/10).

    Pernyataan itu disampaikan Putin dalam rekaman video yang dirilis pada Minggu (5/10) waktu setempat, oleh reporter televisi pemerintah Rusia Pavel Zarubin.

    Laporan media terkemuka Wall Street Journal (WSJ), pekan lalu, menyebut AS akan memberikan informasi intelijen kepada Ukraina mengenai target infrastruktur energi jarak jauh di dalam wilayah Rusia, sembari mempertimbangkan untuk mengirimkan rudal yang dapat digunakan dalam serangan semacam itu.

    Dua pejabat mengonfirmasi laporan WSJ itu kepada Reuters. Namun seorang pejabat AS dan tiga sumber lainnya mengatakan bahwa rencana AS mengirimkan rudal Tomahawk ke Ukraina mungkin tidak dapat diwujudkan karena persediaan rudal saat ini difokuskan untuk Angkatan Laut AS dan penggunaan lainnya.

    Rudal Tomahawk memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer, yang berarti jika Ukraina mendapatkan rudal tersebut, maka Kremlin dan seluruh wilayah Rusia yang ada di kawasan Eropa akan berada dalam jangkauan target serangan.

    Pada Kamis (2/10) lalu, Putin mengatakan bahwa mustahil menggunakan Tomahawk tanpa partisipasi langsung personel militer AS. Oleh karena itu, menurut Putin, setiap pasokan rudal semacam itu ke Ukraina akan memicu eskalasi baru.

    “Ini akan berarti tahap eskalasi yang benar-benar baru, secara kualitatif baru, termasuk dalam hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat,” kata Putin pada saat itu.

    Halaman 2 dari 2

    (lir/lir)

  • Drone Misterius Teror Langit Eropa, Bandara Jerman Lumpuh

    Drone Misterius Teror Langit Eropa, Bandara Jerman Lumpuh

    Jakarta, CNBC Indonesia – Bandara Munich terpaksa menunda penerbangan selama dua hari berturut-turut karena penampakan pesawat tak berawak (drone). Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 6.500 penumpang telantar.

    Drone tak dikenal melintasi bandara di Denmark, Norwegia dan Polandia baru-baru ini dan menjadi yang kedua kalinya pada hari Jumat pukul 21.30 waktu setempat.

    Akibat peristiwa tersebut sebanyak 23 penerbangan yang masuk dialihkan dan 12 penerbangan menuju Munich dibatalkan. Sementara ada sekitar 46 keberangkatan dari bandara tersebut yang harus dibatalkan atau ditunda.

    Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada AFP bahwa ada dua penampakan drone yang dikonfirmasi secara simultan oleh patroli polisi sebelum pukul 23.00 di sekitar landasan pacu utara dan selatan.

    “Drone-drone itu segera menjauh, sebelum dapat diidentifikasi,” mengutip The Guardian, Sabtu (4/10/2025).

    Pihak bandara mengatakan telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk segera menyediakan fasilitas untuk para penumpang di terminal seperti tempat tidur kemah serta dengan selimut, minuman, dan makanan ringan.

    Pihak bandara memperkirakan layanan akan dilanjutkan seperti biasa pada Sabtu pagi waktu setempat.

    Sebelumnya, gangguan penerbangan telah terjadi pada hari Kamis yang menyebabkan lebih dari 30 penerbangan dibatalkan. Hal itu menyebabkan hampir sebanyak 3.000 penumpang terlantar.

    Insiden pertama dimulai pada pukul 20.30 waktu setempat pada hari Kamis ketika polisi mengatakan bahwa pesawat tak berawak terlihat di daerah yang dengan bandara, termasuk kota Freising dan Erding.

    Seperti diketahui, Erding memang menjadi tuan rumah bagi lapangan terbang yang digunakan oleh militer Jerman. Surat kabar Bild mengatakan beberapa drone terlihat terbang di atas fasilitas tersebut, meskipun polisi tidak dapat mengonfirmasi hal ini.

    Drone pertama di dekat perimeter bandara terlihat sekitar pukul 21.05 pada hari Kamis, dan kemudian di atas kompleks bandara sekitar satu jam kemudian.

    Penampakan tersebut berakhir sekitar tengah malam, namun tidak sampai menyebabkan penutupan kedua landasan pacu.

    Helikopter kepolisian pun telah dikerahkan, namun tidak ada informasi yang jelas mengenai jenis dan jumlah drone tersebut.

    Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, mengatakan bahwa insiden pada malam pertama merupakan peringatan atas ancaman dari drone.

    Kejadian itu terjadi ketika negara tersebut sedang merayakan hari Persatuan Jerman pada hari Jumat yang menjadi hari libur nasional bersamaan ketika Munich bersiap-siap untuk akhir pekan terakhir Oktoberfest, yang menarik ratusan ribu orang ke kota itu setiap hari.

    Pesta bir dan pasar malam tahunan ini telah ditutup selama setengah hari pada hari Rabu setelah adanya ancaman bom.

    Pemerintah Jerman diperkirakan akan menandatangani rencana perubahan undang-undang yang memungkinkan tentara dapat menembak pesawat tak berawak jika diperlukan.

    Perdana Menteri negara bagian Bavaria, Markus Söder, mengatakan kepada Bild bahwa “kita harus dapat menembak [drone] dengan segera daripada menunggu, dan mengatakan bahwa polisi juga harus memiliki wewenang untuk melakukannya,” sebutnya.

    Penampakan drone di Denmark dan serangan udara di Estonia dan Polandia telah meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan Rusia terhadap Ukraina dapat meluas ke perbatasan Eropa.

    Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memperingatkan Eropa pada hari Kamis bahwa serangan pesawat tak berawak baru-baru ini menunjukkan bahwa Moskow ingin meningkatkan agresinya.

    Jerman dalam keadaan siaga tinggi mengatakan bahwa segerombolan drone telah terbang di atas negara itu sejak minggu lalu, termasuk di atas lokasi militer dan industri.

    Denmark juga meningkatkan kewaspadaan, dengan perdana menteri, Mette Frederiksen, dan menegaskan kembali pada minggu lalu bahwa hanya satu negara yang menimbulkan ancaman bagi keamanan Eropa, yaitu Rusia.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Putin Wanti-wanti AS Tidak Pasok Rudal Tomahawk ke Ukraina!

    Putin Wanti-wanti AS Tidak Pasok Rudal Tomahawk ke Ukraina!

    Jakarta

    Presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan peringatan keras terkait kemungkinan Amerika Serikat memasok rudal jarak jauh Tomahawk untuk Ukraina. Dia mengingatkan hal itu akan menyebabkan “tingkat eskalasi yang benar-benar baru”, termasuk dalam hubungan antara Moskow dan Washington.

    “Ini akan berarti tingkat eskalasi yang benar-benar baru, termasuk dalam hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat,” kata Putin menanggapi pertanyaan tentang potensi pasokan rudal jarak jauh tersebut ke Ukraina melalui sekutu-sekutu Eropa, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (3/10/2025).

    Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pada Minggu (28/9), bahwa Washington sedang mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk mendapatkan pasokan rudal Tomahawk. Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir, dan Trump berhati-hati untuk tidak memicu eskalasi perang Ukraina menjadi konfrontasi langsung dengan Rusia.

    Namun demikian, fakta bahwa Trump sekarang mempertimbangkan langkah semacam itu menunjukkan seberapa besar frustrasi yang dirasakannya terhadap penolakan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata.

    Bagi Kremlin, risiko eskalasi keterlibatan AS sudah jelas jika rudal jarak jauh semacam itu ditembakkan lebih jauh ke dalam wilayah Rusia. Dalam pernyataannya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia sedang melakukan “analisis mendalam” terhadap berbagai skenario.

    “Pertanyaannya… adalah: siapa yang dapat meluncurkan rudal-rudal ini…? Apakah hanya Ukraina yang dapat meluncurkannya, atau apakah tentara-tentara Amerika harus melakukannya?” kata Peskov kepada wartawan saat ditanya soal pernyataan terbaru Wapres AS.

    “Siapa yang menentukan penargetan rudal-rudal ini? Pihak Amerika atau Ukraina sendiri?” tanyanya.

    Peskov mengatakan bahwa “analisis yang sangat mendalam” diperlukan untuk situasi tersebut.

    Rudal Tomahawk memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer — cukup jauh untuk menghantam langsung Moskow dan sebagian besar wilayah Rusia di dekat Eropa jika ditembakkan dari Ukraina.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini memperingatkan para pejabat Kremlin bahwa mereka harus “mengetahui di mana tempat perlindungan bom berada” jika perang tidak juga diakhiri.

    Belum diketahui secara jelas bagaimana atau melalui negara mana rudal Tomahawk akan dipasok, jika nantinya AS mengabulkan permintaan Kyiv. Zelensky sebelumnya meminta Washington untuk menjualnya ke negara-negara Eropa yang kemudian akan mengirimkannya ke Ukraina.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • AS Bisa Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina, Rusia Ingatkan Ini!

    AS Bisa Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina, Rusia Ingatkan Ini!

    Moskow

    Pemerintah Rusia memberikan respons keras untuk kemungkinan Amerika Serikat (AS) mengirimkan pasokan rudal jarak jauh Tomahawk ke Ukraina, yang akan memampukan Kyiv untuk menyerang lebih dalam ke wilayah Rusia.

    Jika pengiriman semacam itu dilakukan AS, seperti dilansir Reuters, Selasa (30/9/2025), Moskow memperingatkan soal eskalasi tajam yang mungkin terjadi dalam konflik yang berkecamuk selama 3,5 tahun terakhir.

    Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada Minggu (28/9) bahwa Washington sedang mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk mendapatkan pasokan rudal Tomahawk. Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir, dan Trump berhati-hati untuk tidak memicu eskalasi perang Ukraina menjadi konfrontasi langsung dengan Rusia.

    Namun demikian, fakta bahwa Trump sekarang mempertimbangkan langkah semacam itu menunjukkan seberapa besar frustrasi yang dirasakannya terhadap penolakan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata.

    Bagi Kremlin, risiko eskalasi keterlibatan AS sudah jelas jika rudal jarak jauh semacam itu ditembakkan lebih jauh ke dalam wilayah Rusia. Dalam pernyataannya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia sedang melakukan “analisis mendalam” terhadap berbagai skenario.

    “Pertanyaannya… adalah: siapa yang dapat meluncurkan rudal-rudal ini…? Apakah hanya Ukraina yang dapat meluncurkannya, atau apakah tentara-tentara Amerika harus melakukannya?” kata Peskov kepada wartawan saat ditanya soal pernyataan terbaru Wapres AS.

    “Siapa yang menentukan penargetan rudal-rudal ini? Pihak Amerika atau Ukraina sendiri?” tanyanya.

    Peskov mengatakan bahwa “analisis yang sangat mendalam” diperlukan untuk situasi tersebut.

    Rudal Tomahawk memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer — cukup jauh untuk menghantam langsung Moskow dan sebagian besar wilayah Rusia di dekat Eropa jika ditembakkan dari Ukraina.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini memperingatkan para pejabat Kremlin bahwa mereka harus “mengetahui di mana tempat perlindungan bom berada” jika perang tidak juga diakhiri.

    Belum diketahui secara jelas bagaimana atau melalui negara mana rudal Tomahawk akan dipasok, jika nantinya AS mengabulkan permintaan Kyiv. Zelensky sebelumnya meminta Washington untuk menjualnya ke negara-negara Eropa yang kemudian akan mengirimkannya ke Ukraina.

    Putin sebelumnya memperingatkan bahwa Rusia berhak menyerang instalasi militer di negara-negara yang membiarkan Ukraina menggunakan rudal mereka untuk menyerang Rusia.

    Namun, terlepas dari itu, Peskov juga mengatakan bahwa penggunaan rudal Tomahawk tidak akan mengubah situasi dalam perang.

    “Bahkan jika ini terjadi, tidak ada obat mujarab yang dapat mengubah situasi di garis depan bagi rezim Kyiv sekarang… Dan baik itu Tomahawk maupun rudal-rudal lainnya, mereka tidak akan mampu mengubah dinamika,” tegasnya, merujuk pada kemajuan perlahan tapi pasti yang diraih Rusia di Ukraina bagian timur.

    Tonton juga video “Panas! Rusia-Ukraina Saling Melancarkan Serangan Besar” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)