Tag: Volodymyr Zelensky

  • Kedutaan Qatar Rusak Buntut Serangan Besar-besaran Rusia di Ukraina

    Kedutaan Qatar Rusak Buntut Serangan Besar-besaran Rusia di Ukraina

    Jakarta

    Serangan besar-besaran Rusia di Ukraina merusak 20 bangunan perumahan di ibu kota Ukraina, Kyiv dan pinggirannya. Gedung kedutaan Qatar juga rusak akibat serangan drone Rusia.

    Serangan ini dilakukan Rusia setelah Moskow menolak proposal negara-negara Barat untuk mengakhiri invasi yang telah berlangsung hampir empat tahun lamanya.

    Kyiv adalah kota yang paling parah terkena serangan terbaru Rusia tersebut, dengan empat orang tewas dan setidaknya 25 orang terluka.

    “Dua puluh bangunan perumahan rusak,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dia menambahkan bahwa “gedung Kedutaan Qatar rusak tadi malam akibat drone Rusia”.

    “Qatar, sebuah negara yang begitu banyak melakukan mediasi dengan Rusia untuk mengamankan pembebasan tawanan perang dan warga sipil yang ditahan di penjara-penjara Rusia,” ujar Zelensky, dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/1/2026).

    Zelensky mengatakan Rusia menyerang Ukraina dengan menggunakan 13 rudal balistik, termasuk Oreshnik, dan 22 rudal jelajah, serta meluncurkan 242 drone.

    Para blogger militer Rusia mengatakan rudal Oreshnik digunakan untuk menyerang depot gas utama di wilayah Lviv di Ukraina barat.

    Zelensky mengatakan bahwa seorang petugas ambulans termasuk di antara mereka yang tewas di Kyiv dalam serangan Rusia.

    Menteri Dalam Negeri Ukraina Igor Klymenko mengatakan Rusia “berulang kali menyerang gedung-gedung tinggi pada saat petugas penyelamat dan medis sedang bekerja di lokasi”, dalam apa yang disebutnya sebagai “serangan yang disengaja terhadap layanan darurat.”

    Ia mengatakan bahwa ibu kota Ukraina dan wilayah sekitarnya “paling menderita”, dan bahwa 20 bangunan non-perumahan lainnya di Kyiv juga rusak.

    “Hampir semua distrik di wilayah Kyiv berada di bawah serangan musuh,” kata Klymenko.

    Serangan Rusia ini terjadi ketika suhu di Ukraina turun hingga di bawah -10 derajat Celcius, dan menyebabkan puluhan ribu orang tanpa listrik.

    “Tujuan musuh yang tidak manusiawi adalah untuk membuat jutaan orang tanpa penerangan, pemanas, dan air di tengah musim dingin yang membekukan,” kata Klymenko.

    Lihat Video: Rusia Gempur Ibu Kota Ukraina, 4 Orang Tewas dan 19 Terluka

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Rusia Bombardir Ibu Kota Ukraina, 3 Orang Tewas-13 Luka

    Rusia Bombardir Ibu Kota Ukraina, 3 Orang Tewas-13 Luka

    Jakarta

    Militer Rusia kembali membombardir ibu kota Ukraina, Kyiv dan pinggirannya, yang menewaskan sedikitnya tiga orang. Sementara angkatan udara Ukraina mengeluarkan peringatan rudal di seluruh negeri.

    Serangan di Kyiv tersebut memicu kebakaran dan merusak gedung-gedung apartemen, dengan “tiga orang tewas dan 13 luka-luka,” menurut Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/1/2026).

    Ia juga mengatakan seorang petugas medis tewas saat merespons serangan drone di sebuah gedung perumahan yang terkena serangan kedua kalinya. Belum jelas apakah petugas medis tersebut termasuk dalam jumlah korban sementara.

    Gubernur wilayah tersebut, Mykola Kalashnyk mendesak warga untuk tetap berada di dalam tempat perlindungan sampai sirene serangan udara berhenti berbunyi.

    Angkatan udara negara itu memperingatkan bahwa “seluruh Ukraina berada di bawah ancaman rudal”, setelah mengkonfirmasi bahwa pesawat pembom Rusia sedang melintas.

    Di kota Lviv di Ukraina barat, angkatan bersenjata mengatakan sebuah rudal balistik menghantam “fasilitas infrastruktur” tepat sebelum tengah malam waktu setempat.

    Setelah serangan itu, otoritas militer regional mengatakan bahwa tingkat radiasi berada dalam kisaran normal.

    Serangan terbaru ini terjadi setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv memperingatkan pada hari Kamis (8/1) waktu setempat, bahwa “serangan udara yang berpotensi signifikan” dapat terjadi kapan saja dalam beberapa hari ke depan.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengulangi peringatan langka tersebut dalam pidatonya malam itu.

    Sebelumnya, pemerintah Rusia pada hari Kamis lalu menyebut Kyiv dan sekutunya sebagai “poros perang” dan menolak proposal pasca-perang terbaru yang disusun pada pertemuan puncak di Paris, ibu kota Prancis.

    Rencana tersebut mencakup mekanisme pemantauan yang dipimpin AS dan pasukan multinasional Eropa yang akan dikerahkan setelah pertempuran berhenti.

    Namun, Moskow memperingatkan bahwa pasukan penjaga perdamaian Barat mana pun yang dikirim ke Ukraina, akan menjadi sasaran serangan Rusia.

    Lihat juga Video: Rusia Serang Apartemen di Ternopil Ukraina, 25 Orang Tewas-70 Luka-Luka

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Zelensky Minta AS Culik Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov seperti Maduro

    Zelensky Minta AS Culik Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov seperti Maduro

    GELORA.CO – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menculik pemimpin Republik Chechnya, Ramzan Kadyrov. 

    Dalam pernyataannya pada Rabu, 7 Januari 2206, Zelensky mengatakan langkah ekstrem tersebut akan memberi tekanan besar kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan bisa mempercepat berakhirnya konflik Ukraina. Ia mencontohkan tindakan AS di Venezuela sebagai model yang bisa diterapkan terhadap Kadyrov.

    “Seluruh dunia dapat melihat hasilnya. Mereka melakukannya dengan cepat. Baiklah, biarkan mereka melakukan semacam operasi terhadap Kadyrov. Mungkin setelah itu Putin akan melihat ini dan memikirkannya,” ujar Zelensky, dikutip dari RT, Kamis 8 Januari 2026.

    Zelensky secara khusus memuji operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang menurutnya menunjukkan ketegasan Washington dalam menghadapi musuh politiknya.

    Maduro dan istrinya, Cilia Flores telah menjalani sidang perdana di AS awal pekan ini. Keduanya dituduh bekerja sama dengan kartel narkoba untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke Amerika, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersalah.

  • Trump Tak Percaya Klaim Rusia soal Ukraina Serang Kediaman Putin

    Trump Tak Percaya Klaim Rusia soal Ukraina Serang Kediaman Putin

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang sempat marah, kini tidak mempercayai jika Ukraina mengerahkan drone untuk menyerang kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin, seperti yang diklaim oleh Kremlin.

    “Saya tidak percaya serangan itu terjadi,” kata Trump dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026).

    Dia menanggapi pertanyaan soal serangan tersebut saat melakukan sesi tanya-jawab dengan wartawan di dalam pesawat kepresidenan AS Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat.

    Serangan drone Ukraina itu sebelumnya disebut terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari. Rusia pada saat itu menuduh Ukraina mengerahkan “91 drone jarak jauh” dalam serangan terhadap salah satu kediaman Putin yang ada di area Novgorod.

    Pekan lalu, Kementerian Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan sebuah drone ditembak jatuh, yang menurut Moskow, diluncurkan oleh Ukraina ke kediaman Putin tersebut. Kremlin mengatakan properti itu tidak mengalami kerusakan, dan Putin sedang berada di tempat lain ketika serangan terjadi.

    Trump, dalam pernyataannya, menekankan bahwa “tidak ada yang tahu pada saat itu” apakah tuduhan yang disampaikan Rusia itu benar.

    Tuduhan tersebut muncul pada saat yang genting, ketika upaya diplomasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang berkecamuk selama hampir empat tahun terakhir itu semakin intensif. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini terbang ke Florida, AS, untuk bertemu langsung dengan Trump.

    Para pejabat Rusia mengkritik Ukraina, yang disebut tidak tulus dalam upaya diplomatiknya. Sedangkan Kyiv dan sekutu-sekutu Eropa membantah serangan yang dituduhkan Kremlin itu telah terjadi.

    Trump, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa “sesuatu” terjadi di dekat kediaman Putin, namun setelah meninjau bukti, para pejabat AS tidak meyakini bahwa kediaman pemimpin Kremlin itu menjadi target serangan Ukraina.

    Saat berbicara kepada kediamannya di Mar-a-Lago di Florida pada akhir Desember lalu, Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump pada saat itu mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin.

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump pada saat itu.

    Zelensky sejak awal membantah tuduhan Rusia itu, yang disebutnya sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Lihat juga Video: Rumah Putin Diserang Puluhan Drone, Trump Sangat Marah

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Dukun Peru Ramalkan Trump Sakit Parah Tahun 2026

    Dukun Peru Ramalkan Trump Sakit Parah Tahun 2026

    GELORA.CO – Para dukun di Peru menggelar ritual ramalan menyambut Tahun Baru 2026. Ritual tersebut digelar pada Selasa, 30 Desember 2025 di Pantai Selatan Lima.

    Mereka melontarkan ramalan soal nasib pemimpin dunia. Para dukun mengenakan ponco berwarna-warni, menaburkan bunga di atas pasir, serta membawa poster tokoh-tokoh dunia dalam prosesi ramalan.

    “Amerika Serikat harus bersiap-siap karena Donald Trump akan jatuh sakit parah.” ujar salah satu dukun, Juan de Dios Garcia, dikutip Rabu, 31 Desember 2025.

    Selain Trump, poster Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga ikut dibawa, disilangkan dengan pedang, dibakar kemenyan, hingga diinjak-injak sebagai bagian dari simbol ritual.

    Garcia juga menyampaikan prediksi terkait situasi politik Venezuela.

    “Kami melihat Nicolas Maduro dikalahkan. Nicolas Maduro akan melarikan diri dari Venezuela. Dia tidak akan ditangkap.” jelasnya.

    Meski begitu, ritual tahunan ini bukan kali pertama dilakukan dan tidak selalu tepat.

    Pada gelaran 2023 lalu, para dukun Peru meramalkan perang Rusia-Ukraina akan berakhir pada 2024. Kenyataannya, hingga penghujung 2025, konflik yang dimulai sejak 2022 itu masih berlangsung.

  • Rusia Ogah Rilis Bukti Serangan ke Kediaman Putin, Ukraina: Tuduhan Palsu!

    Rusia Ogah Rilis Bukti Serangan ke Kediaman Putin, Ukraina: Tuduhan Palsu!

    Moskow

    Kremlin menganggap serangan drone, yang diklaimnya didalangi oleh Ukraina, terhadap kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di Novgorod sebagai “aksi teroris”, namun menolak untuk merilis bukti guna memperkuat tuduhannya.

    Otoritas Kyiv mengatakan tidak ada “bukti yang masuk akal” soal serangan drone terhadap salah satu kediaman Putin tersebut. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai “tuduhan palsu”, yang dilontarkan Moskow untuk mengganggu proses perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat (AS).

    Kremlin dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025), mengatakan bahwa pihaknya menganggap serangan drone Ukraina terhadap kediaman Putin sebagai “aksi teroris” dan “serangan personal terhadap Putin”.

    Namun Kremlin juga menyatakan bahwa mereka tidak akan merilis bukti atas serangan tersebut, dengan alasan semua drone itu telah ditembak jatuh. Dikatakan oleh Kremlin bahwa upaya Ukraina dan media Barat untuk menyangkal insiden tersebut adalah “gila”.

    “Saya rasa tidak perlu ada bukti jika serangan drone besar-besaran seperti itu terjadi, yang, berkat kerja sama yang baik dari sistem pertahanan udara, telah ditembak jatuh,” ucap juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan dalam panggilan telepon pada Selasa (30/12) waktu setempat.

    Dia menambahkan bahwa Rusia akan “memperkeras” sikap negosiasinya dalam perundingan untuk mengakhiri perang Ukraina setelah serangan drone yang dibantah oleh Kyiv tersebut. Moskow juga menyatakan bahwa militernya telah memilih “bagaimana, kapan, dan di mana” untuk membalas serangan Kyiv tersebut.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Andriy Sybiga, dalam pernyataan terpisah, menuduh Rusia sengaja melemparkan tuduhan palsu untuk memanipulasi proses perdamaian yang sedang berlangsung.

    “Hampir sehari berlalu, dan Rusia masih belum memberikan bukti yang masuk akal atas tuduhan mereka tentang dugaan ‘serangan terhadap kediaman Putin’ oleh Ukraina. Dan mereka tidak melakukannya. Karena memang tidak ada. Tidak ada serangan seperti itu yang terjadi,” tegas Sybiga pada Selasa (30/12).

    Sementara Zelensky, saat berbicara kepada wartawan, mengatakan bahwa sekutu-sekutu Ukraina memiliki kemampuan untuk memverifikasi bahwa tuduhan Rusia soal serangan drone terhadap kediaman Putin merupakan tuduhan palsu.

    “Mengenai serangan di Valdai, tim negosiasi kami telah terhubung dengan tim Amerika, mereka telah membahas detailnya, dan kami memahami bahwa itu palsu. Dan, tentu saja, mitra-mitra kami selalu dapat memverifikasi berkat kemampuan teknis mereka bahwa itu adalah palsu,” tegas Zelensky.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Jakarta

    Salah satu rumah Presiden Rusia Vladimir Putin diserang puluhan drone. Rusia menuding serangan itu diinisiasi Ukraina, tapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantahnya. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah atas upaya penyerangan tersebut.

    Dilansir dari AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut rentetan serangan drone Ukraina itu menghujani kediaman Putin di Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat.

    Lavrov menuduh Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin. Namun ia memastikan semua drone itu berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Bantahan Presiden Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah tuduhan Rusia. Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Trump Marah

    Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Trump melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (fas/lir)

  • Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Rusia menuduh Ukraina menyerang salah satu kediaman Putin di Rusia bagian utara. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergei Lavrov, yang biasanya tidak mengumumkan serangan drone, mengatakan bahwa Ukraina mengerahkan “91 drone jarak jauh” dalam serangan terhadap kediaman Putin di area Novgorod.

    Serangan drone itu disebut terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat. Lavrov menyebut semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia. Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone tersebut.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah membantah tuduhan Rusia itu, yang disebutnya sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Namun Trump, seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Rusia Tuduh Ukraina Kirim Drone Serang Kediaman Putin, Zelensky Bantah

    Rusia Tuduh Ukraina Kirim Drone Serang Kediaman Putin, Zelensky Bantah

    Moskow

    Rusia menuduh Ukraina mengerahkan puluhan drone dalam serangan terhadap salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin pada Senin (29/12) waktu setempat. Tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh Kyiv, yang menyebutnya sebagai “kebohongan” yang bertujuan untuk melemahkan upaya mengakhiri perang.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov, yang biasanya tidak pernah mengumumkan serangan drone di negaranya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), mengatakan kepada publik bahwa Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin.

    Rentetan serangan drone Ukraina itu, sebut Lavrov, menghujani kediaman Putin yang ada di area Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat. Lavrov menyebut semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam tanggapannya, menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan Amerika Serikat (AS).

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Bertemu Zelensky, Trump Sebut Perundingan Damai Ukraina Bisa Makan Waktu Lama

    Bertemu Zelensky, Trump Sebut Perundingan Damai Ukraina Bisa Makan Waktu Lama

    Washington DC

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Florida. Trump menjelaskan perundingan terkait perdamaian di Ukraina akan memakan waktu lama. Trump juga siap berbicara di parlemen Ukraina demi mengakhiri perang.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025) Trump dan Zelensky bertemu di Florida pada Minggu (28/12). Trump mengatakan bahwa kepastian perdamaian di Ukraina bakal jelas dalam ‘beberapa minggu’ ke depan.

    Perundingan juga mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan lebih lanjut dengan para pemimpin Eropa di Washington untuk mendorong kesepakatan perdamaian.

    “Jika berjalan sangat baik, Anda tahu, mungkin beberapa minggu, dan jika berjalan buruk, lebih lama,” kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago saat ia berdiri di samping Volodymyr Zelensky.

    “Saya tidak yakin itu benar-benar perlu, tetapi jika itu dapat membantu menyelamatkan 25.000 nyawa per bulan, atau berapa pun jumlahnya, saya pasti bersedia melakukannya,” ujar Trump.

    Sebagaimana diketahui, pertemuan ini dilakukan di tengah upaya Trump yang semakin intensif untuk mengakhiri konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Sejak invasi Rusia Februari 2022, puluhan ribu orang tewas, jutaan mengungsi, dan banyak wilayah timur serta selatan Ukraina hancur.

    Rencana perdamaian terbaru berupa proposal 20 poin yang akan membekukan garis depan. Namun, memungkinkan bagi Ukraina menarik pasukan dari timur dan membentuk zona penyangga demiliterisasi.

    Ini adalah pengakuan paling jelas dari pemimpin Ukraina mengenai kemungkinan konsesi wilayah. Rencana ini lebih diterima Kyiv dibandingkan proposal awal 28 poin yang diajukan Washington pada bulan lalu yang memuat banyak tuntutan utama Rusia.

    Moskow belum menanggapi proposal terbaru. Namun, menunjukkan jika mereka tak akan mengurangi tuntutan luasnya.

    “Pada akhir pekan, saya kira pada hari Minggu, di Florida, kami akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Trump,” kata Zelensky.

    Tonton juga video “Ekspresi Zelensky saat Trump Sebut Putin Mau Bantu Ukraina”

    (rdp/imk)