Tag: Vladimir Putin

  • Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Jakarta

    Salah satu rumah Presiden Rusia Vladimir Putin diserang puluhan drone. Rusia menuding serangan itu diinisiasi Ukraina, tapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantahnya. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah atas upaya penyerangan tersebut.

    Dilansir dari AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut rentetan serangan drone Ukraina itu menghujani kediaman Putin di Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat.

    Lavrov menuduh Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin. Namun ia memastikan semua drone itu berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Bantahan Presiden Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah tuduhan Rusia. Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Trump Marah

    Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Trump melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (fas/lir)

  • Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Rusia menuduh Ukraina menyerang salah satu kediaman Putin di Rusia bagian utara. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergei Lavrov, yang biasanya tidak mengumumkan serangan drone, mengatakan bahwa Ukraina mengerahkan “91 drone jarak jauh” dalam serangan terhadap kediaman Putin di area Novgorod.

    Serangan drone itu disebut terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat. Lavrov menyebut semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia. Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone tersebut.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah membantah tuduhan Rusia itu, yang disebutnya sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Namun Trump, seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Rusia Tuduh Ukraina Kirim Drone Serang Kediaman Putin, Zelensky Bantah

    Rusia Tuduh Ukraina Kirim Drone Serang Kediaman Putin, Zelensky Bantah

    Moskow

    Rusia menuduh Ukraina mengerahkan puluhan drone dalam serangan terhadap salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin pada Senin (29/12) waktu setempat. Tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh Kyiv, yang menyebutnya sebagai “kebohongan” yang bertujuan untuk melemahkan upaya mengakhiri perang.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov, yang biasanya tidak pernah mengumumkan serangan drone di negaranya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), mengatakan kepada publik bahwa Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin.

    Rentetan serangan drone Ukraina itu, sebut Lavrov, menghujani kediaman Putin yang ada di area Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat. Lavrov menyebut semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam tanggapannya, menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan Amerika Serikat (AS).

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Trump Bilang Ukraina-Rusia ‘Lebih Dekat’ Menuju Perdamaian

    Trump Bilang Ukraina-Rusia ‘Lebih Dekat’ Menuju Perdamaian

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (28/12) menegaskan bahwa Ukraina dan Rusia kini berada “lebih dekat dari sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan damai, saat ia menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.

    Namun, Trump mengakui bahwa proses negosiasi sangat kompleks dan masih berpeluang gagal. Kebuntuan perundingan dikhawatirkan dapat membuat perang berlarut-larut selama bertahun-tahun.

    Pernyataan itu disampaikan Trump setelah pertemuannya dengan Zelenskyy, yang berlangsung usai pembicaraan telepon selama dua setengah jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Trump menyebut percakapannya dengan Putin sebagai “sangat baik” dan mengatakan ia masih percaya bahwa pemimpin Rusia itu menginginkan perdamaian, meskipun Moskow kembali melancarkan serangan ke Kyiv saat Zelenskyy terbang ke Amerika Serikat.

    “Rusia ingin melihat Ukraina berhasil,” kata Trump dalam konferensi pers pada Minggu (18/12) sore setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Trump berulang kali memuji presiden Ukraina itu sebagai sosok yang “berani”.

    Zelenskyy, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasi kepada Trump.

    “Ukraina siap untuk perdamaian,” katanya.

    Donbas dan jaminan keamanan jadi batu sandungan

    Keduanya menyebut masa depan wilayah Donbas di Ukraina timur sebagai titik paling sulit dalam perundingan.

    “Itu isu yang sangat sulit, tetapi saya pikir akan bisa diselesaikan,” kata Trump.

    Zelenskyy menegaskan bahwa posisi Ukraina berbeda secara mendasar dengan Rusia.

    “Sikap kami sangat jelas. Itulah mengapa Presiden Trump mengatakan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dan, tentu saja, kami memiliki posisi yang berbeda dengan Rusia mengenai hal itu,” ujar Zelenskyy.

    Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa Putin “sangat serius” ingin mengakhiri perang, meskipun Rusia terus menyerang target di Ukraina.

    “Saya percaya Ukraina juga telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat,” kata Trump.

    Namun, ia juga memperingatkan bahwa perundingan masih bisa runtuh.

    “Dalam beberapa minggu, kita akan tahu hasilnya, satu atau lain cara. Bisa saja ada satu isu besar yang tidak terpikirkan sebelumnya dan menghancurkan semuanya. Ini adalah negosiasi yang sangat sulit dan sangat rinci,” ujarnya.

    Serangan berlanjut di tengah negosiasi

    Di tengah intensifnya diplomasi, pertempuran di lapangan belum mereda. Saat Zelenskyy melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk perundingan terbaru, Rusia kembali melancarkan serangan ke berbagai wilayah Ukraina.

    Trump mengakui kontradiksi tersebut, tetapi tetap menegaskan keyakinannya bahwa kedua pihak serius mencari jalan keluar.

    “Saya percaya Putin sangat serius untuk mengakhiri perang,” kata Trump, meski ia mengakui Rusia terus menyerang Ukraina. Ia juga menambahkan bahwa Ukraina pun “telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat.”

    Trump menilai dinamika ini mencerminkan kompleksitas perundingan, di mana tekanan militer kerap berjalan beriringan dengan upaya diplomasi. Ia kembali mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, konflik ini bisa berlangsung lama.

    “Ini bisa menjadi sesuatu yang berlangsung bertahun-tahun,” katanya.

    Trump, Putin, dan diplomasi intensif dengan Eropa

    Trump mengatakan ia akan kembali menelepon Putin setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Sebelumnya, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyebut panggilan Trump–Putin tersebut diinisiasi oleh pihak AS dan berlangsung “bersahabat, penuh niat baik, dan bernuansa bisnis”.

    Menurut Ushakov, Trump dan Putin sepakat untuk kembali berbicara “dalam waktu dekat” setelah pertemuan Trump dengan Zelenskyy. Namun, ia menegaskan bahwa dibutuhkan “keputusan politik yang berani dan bertanggung jawab dari Kyiv” terkait Donbas dan isu-isu lain agar tercapai “penghentian total permusuhan”.

    Setelah pertemuan di Florida, Trump dan Zelenskyy juga menghubungi sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta para pemimpin Finlandia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Polandia.

    Zelenskyy mengatakan Trump telah sepakat untuk kembali menjamu para pemimpin Eropa, kemungkinan di Gedung Putih, pada Januari mendatang. Trump menyebut pertemuan itu bisa berlangsung di Washington atau “di suatu tempat”.

    Trump menekankan bahwa para perunding telah membuat kemajuan signifikan. Zelenskyy sebelumnya mengatakan bahwa rancangan proposal perdamaian 20 poin yang dibahas para negosiator “sekitar 90% siap”, sejalan dengan optimisme pejabat AS ketika tim perunding utama Trump bertemu Zelenskyy di Berlin bulan ini.

    Dalam pembicaraan terbaru, AS setuju menawarkan jaminan keamanan tertentu bagi Ukraina yang mirip dengan perlindungan NATO. Proposal ini muncul ketika Zelenskyy menyatakan kesediaannya untuk melepaskan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, asalkan negaranya mendapatkan perlindungan setara NATO untuk mencegah serangan Rusia di masa depan.

    Tuntutan Putin dan risiko kebuntuan panjang

    Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa pada Hari Natal ia berbicara dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump. Ia mengatakan pembicaraan itu mencakup “detail substantif tertentu”, tetapi memperingatkan bahwa “masih ada pekerjaan yang harus dilakukan pada isu-isu sensitif” dan bahwa “minggu-minggu ke depan juga bisa sangat intensif”.

    Putin secara terbuka menyatakan ingin semua wilayah di empat kawasan utama yang telah direbut pasukannya, serta Semenanjung Krimea yang dianeksasi secara ilegal pada 2014, diakui sebagai wilayah Rusia. Ia juga menuntut Ukraina menarik pasukan dari wilayah timur tertentu yang bahkan belum sepenuhnya dikuasai Rusia, tuntutan yang secara terbuka ditolak Kyiv.

    Kremlin juga mendesak Ukraina untuk meninggalkan ambisinya bergabung dengan NATO, serta memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dari negara-negara NATO akan dianggap sebagai “target yang sah”. Putin juga menuntut pembatasan ukuran militer Ukraina dan pemberian status resmi bagi bahasa Rusia.

    Ushakov mengatakan kepada harian bisnis Kommersant bahwa polisi Rusia dan Garda Nasional akan tetap berada di sebagian wilayah Donetsk, salah satu dari dua wilayah utama Donbas bersama Luhansk, bahkan jika wilayah tersebut dijadikan zona demiliterisasi dalam rencana perdamaian.

    Ia juga memperingatkan bahwa upaya mencapai kompromi bisa memakan waktu lama. Menurutnya, proposal AS yang semula mempertimbangkan tuntutan Rusia telah “diperburuk” oleh perubahan yang diusulkan Ukraina dan sekutu Eropanya.

    Trump sendiri menunjukkan sikap yang relatif terbuka terhadap sebagian tuntutan Putin, dengan berargumen bahwa presiden Rusia dapat diyakinkan untuk mengakhiri perang jika Kyiv bersedia menyerahkan sebagian wilayah Donbas dan jika Barat menawarkan insentif ekonomi untuk menarik Rusia kembali ke sistem ekonomi global.

    Meski demikian, Trump menegaskan bahwa hasil akhir masih belum pasti, dan dunia akan segera mengetahui apakah momentum diplomasi ini benar-benar mampu mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

    Editor: Rizki Nugraha

    (nvc/nvc)

  • Rusia Sepakat dengan Trump, Perdamaian Ukraina Semakin Dekat

    Rusia Sepakat dengan Trump, Perdamaian Ukraina Semakin Dekat

    JAKARTA – Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, mengatakan Moskow setuju dengan penilaian Presiden AS Donald Trump perdamaian di Ukraina telah semakin dekat dan mencapai tahap akhir.

    Rusia setuju dengan Trump soal Moskow dan Kyiv semakin dekat dengan kesepakatan perdamaian dan pembicaraan berada di tahap akhir, Peskov mengatakan: “Tentu saja.”

    Namun, Peskov tidak merinci versi rencana perdamaian mana yang saat ini sedang disepakati.

    “Untuk saat ini, kami tidak menganggap perlu untuk memberikan detail,” katanya dilansir ANTARA, Senin, 29 Desember.

    Trumpsebelumnya mengatakan pada Minggu (28/12) bahwa kemajuan signifikan telah dicapai menuju pengakhiran perang Rusia-Ukraina setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

    Sebelum pertemuan tersebut, presiden AS menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin, dan mereka sepakat untuk berbicara lagi segera.

    Juru bicara Kremlin itu mengatakan Moskow baru dapat sepenuhnya menilai pembicaraan Trump-Zelenskyy setelah menerima informasi dari AS.

    Menurutnya, Putin dan Trump tidak membahas masalah gencatan senjata Natal di Ukraina, dan masalah teritorial tetap menjadi yang paling sulit.

    Ia menambahkan bahwa keputusan Kiev tentang Donbas diperlukan untuk menghentikan pertempuran.

    Peskov menolak untuk menjawab pertanyaan tentang apakah Rusia masih menuntut agar Ukraina menarik pasukannya dari wilayah Kherson dan Zaporizhzhia.

    Dia juga mengatakan bahwa Putin dan Trump diperkirakan akan berbicara melalui telepon dalam waktu dekat, sementara tidak ada rencana kontak antara Putin dan Zelenskyy.

  • Rusia Cetak Rekor Miliarder Terbanyak di Tengah Perang dan Sanksi Barat

    Rusia Cetak Rekor Miliarder Terbanyak di Tengah Perang dan Sanksi Barat

    Liputan6.com, Jakarta – Di tengah perang berkepanjangan Rusia dengan Ukraina dan tekanan sanksi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya, satu paradoks justru mencuat ke permukaan: jumlah miliarder Rusia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Ini semua di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin.

    Data terbaru Forbes mencatat, pada 2025 Rusia memiliki 140 miliarder dengan kekayaan kolektif sekitar USD 580 miliar, hanya terpaut tipis dari rekor sebelum invasi ke Ukraina. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pengamat global: bagaimana mungkin kaum super kaya Rusia tetap bertahan—bahkan berkembang—di saat ekonomi negara mereka berada dalam isolasi internasional?

    Dikutip dari BBC, Senin (29/12/2025), jawabannya mengarah pada satu sosok sentral: Presiden Vladimir Putin. Selama lebih dari dua dekade berkuasa, Putin secara sistematis mengubah posisi oligarki Rusia dari aktor politik berpengaruh menjadi pendukung yang patuh dan nyaris tak bersuara.

    Jika pada era pasca-runtuhnya Uni Soviet para oligarki mampu mengatur arah kekuasaan dan menentukan siapa yang memimpin Kremlin, kini mereka berada dalam posisi yang sepenuhnya bergantung pada restu negara.

    Perang Ukraina memperjelas hubungan simbiotik tersebut. Di satu sisi, Kremlin mengguyur ekonomi dengan belanja militer besar-besaran yang mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia di atas 4 persen pada 2023 hingga 2024.

    Di sisi lain, Putin menerapkan kombinasi imbalan dan ancaman: loyalis diberi akses ke aset strategis dan peluang bisnis bernilai jumbo, sementara mereka yang berani bersuara kritis kehilangan perusahaan, kekayaan, bahkan tanah airnya.

    Kasus mantan miliarder perbankan Oleg Tinkov menjadi contoh nyata bagaimana kritik terhadap perang berujung pada hilangnya aset miliaran dolar hanya dalam hitungan hari.

    Dalam lanskap ini, para miliarder Rusia tetap kaya, namun memilih diam. Bagi Putin, kondisi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas politik dan keberlanjutan ekonomi perang.

  • Zelensky Bakal Bertemu Trump Bahas Proposal Akhiri Konflik dengan Rusia

    Zelensky Bakal Bertemu Trump Bahas Proposal Akhiri Konflik dengan Rusia

    Jakarta

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan itu dalam rangka mendapatkan persetujuan presiden AS mengenai proposal baru untuk mengakhiri konflik yang hampir empat tahun berlangsung dengan Rusia.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), terdapat rencana 20 poin, yang muncul dari negosiasi intensif AS-Ukraina selama beberapa minggu. Namun draft rencana 20 poin itu belum mendapat persetujuan Moskow.

    Zelensky dan Trump akan melakukan pertemuan tatap muka di kediaman mewah Trump di Mar-a-Lago, Florida pada Minggu. Pertemuan tersebut dilakukan usai Rusia melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran di Kyiv.

    Pertemuan itu akan menjadi pertemuan tatap muka pertama mereka sejak Oktober, ketika presiden AS menolak permintaan Zelensky untuk rudal Tomahawk jarak jauh.

    Selama singgah di Kanada, Zelensky mengatakan dia berharap pembicaraan tersebut akan sangat konstruktif. Zelensky mengatakan pemimpin Rusia Vladimir Putin telah menunjukkan niatnya dengan serangan terbaru di ibu kota Ukraina.

    “Serangan ini sekali lagi merupakan jawaban Rusia atas upaya perdamaian kita. Dan ini benar-benar menunjukkan bahwa Putin tidak menginginkan perdamaian,” katanya.

    Negara Eropa Janji Dukung Ukraina

    Saat berada di Kanada, Zelensky sempat mengadakan konferensi telepon dengan para pemimpin Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz, mengatakan pihaknya berjanji akan memberikan dukungan penuh untuk upaya perdamaian.

    Rusia menuduh Ukraina dan para pendukungnya di Eropa mencoba untuk “menggagalkan” rencana sebelumnya yang ditengahi AS untuk menghentikan pertempuran.

    Para pemimpin Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan Antonio Costa, yang berpartisipasi dalam konferensi telepon tersebut, mengatakan dukungan Uni Eropa untuk Ukraina tidak akan pernah goyah dan berjanji untuk terus menekan Kremlin agar mencapai kesepakatan.

    Trump sejauh ini belum memberikan komitmen terhadap proposal perdamaian baru tersebut.

    Zelensky “tidak memiliki apa pun sampai saya menyetujuinya,” kata presiden dalam sebuah wawancara dengan Politico pada hari Jumat.

    “Jadi kita akan lihat apa yang dia miliki,” lanjutnya.

    Pembicaraan tersebut akan membahas rencana yang akan menghentikan perang di sepanjang garis depan saat ini. Selain itu pembahasan itu dapat memungkinkan mengharuskan Ukraina untuk menarik pasukan dari timur, memungkinkan pembentukan zona penyangga demiliterisasi.

    Dengan demikian, rencana tersebut berisi pengakuan paling eksplisit Kyiv hingga saat ini tentang kemungkinan konsesi teritorial.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/gbr)

  • Rusia Tuduh Ukraina Kirim Drone Serang Kediaman Putin, Zelensky Bantah

    Jika Kyiv Tak Mau Damai, Kami Akan Selesaikan Secara Militer

    Jakarta

    Rusia mengklaim telah merebut dua kota lagi di Ukraina timur, Myrnograd dan Guliaipole. Presiden Vladimir Putin menyebut pihaknya akan menyelesaikan secara militer jika Kyiv tak mau berdamai.

    “Jika pihak berwenang di Kyiv tidak mau menyelesaikan masalah ini secara damai, kami akan menyelesaikan semua masalah yang ada dengan cara militer,” kata Putin, dilansir AFP, Minggu (28/12/2025).

    Dalam sebuah pernyataan, Kremlin mengatakan Putin telah menerima laporan dari komando militer tentang penguasaan Myrnograd dan Guliaipole.

    Myrnograd terletak di wilayah Donetsk, Ukraina, dekat Pokrovsk, pusat logistik utama yang diklaim Rusia telah direbut pada 1 Desember.

    Lalu, Guliaipole terletak di bagian timur Zaporizhzhia, di mana kemajuan Rusia lebih jarang terjadi, tetapi telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

    Pengumuman Moskow tentang kemajuan terbaru ini datang sehari sebelum Zelensky dijadwalkan berada di Amerika Serikat untuk pembicaraan dengan Trump tentang rencana yang telah ia susun untuk menghentikan pertempuran.

    (azh/azh)

  • Deretan Perjanjian Perdagangan Internasional Indonesia dan Negara Lain Hingga 2025

    Deretan Perjanjian Perdagangan Internasional Indonesia dan Negara Lain Hingga 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perdagangan Budi Santoso membeberkan sejumlah capaian perjanjian perdagangan internasional antara Indonesia dan negara lain hingga tahun berjalan 2025.

    Menurut Budi, hingga saat ini pemerintah telah menyelesaikan sebanyak 20 perjanjian internasional, dengan lima di antaranya baru diselesaikan pada tahun ini. 

    Hal itu disampaikan Budi saat meninjau kesiapan Work From Mall untuk mendukung gig economy di Mal Pondok Indah, Jakarta, Jumat (26/12/2025). 

    “Jadi perjanjian dagang yang sudah implementasi itu ada 20, sisanya 19 masih dalam proses,” kata Budi kepada wartawan, dikutip Sabtu (27/12/2025). 

    Khusus tahun ini, Budi menyebut terdapat beberapa perundingan dagang yang telah dituntaskan Indonesia dengan sejumlah negara mitra. Contohnya, perjanjian dagang dengan Eurasian Economic Union (EAEU).

    Perjanjian itu sudah disepakati kendati belum secara formal ditandatangani. Negara-negara di forum itu meliputi Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Belarus, dan Armenia.

    Kemudian, perjanjian antara Indonesia-Tunisia yang ditargetkan selesai Januari 2026, serta perjanjian antara Indonesia-Peru yang sudah dituntaskan pada Agustus 2025. 

    Selanjutnya, perjanjian dagang bebas yang ditandatangai di Saint Pertersburg pada 21 Desember 2025 yakni Indonesia-EAEU Free Trade Agreement (IAEU FTA). Penandatanganan perjanjian itu turut disaksikan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. 

    “Jadi tinggal nanti kami mempercepat implementasi,” terang pria yang sebelumnya menjabat Sekjen Kemendag itu. 

    Sejalan dengan proses menuju implementasi, Indonesia dan para negara mitra dagangnya telah menyepakati untuk membentuk business council guna memudahkan komunikasi pelaku usaha antara negara-negara mitra. 

    Selain itu, pemerintah turut menyiapkan business forum yang turut melibatkan Apindo dan Kadin selaku pihak dari Indonesia. Rencananya, forum bisnis tersebut akan diselenggarakan terlebih dahulu secara daring lantaran membutuhkan waktu lebih lama secara fisik. 

    Pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa perluasan pasar dagang yang dilakukan dengan sejumlah perundingan bilateral itu guna menjaga ketahanan ekonomi di dalam negeri. 

    “Tetapi di pihak lain kami membuka pasar luar yang baru termasuk EAEU, jadi kepada para pengusaha Indonesia supaya bisa juga mengisi pasar luar dengan biaya masuk rata-rata sudah 0%. Jadi terbuka kesempatan bagi Indonesia termasuk UMKM untuk mengakses pasar global secara lebih kompetitif,” kata Airlangga. 

  • Cap ‘Koboi’ untuk Trump dari China dan Rusia

    Cap ‘Koboi’ untuk Trump dari China dan Rusia

    New York

    Rusia dan China kompak memberi cap ‘koboi’ untuk aksi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Venezuela. Kedua negara itu menyebut AS sedang melakukan intimidasi terhadap Venezuela.

    Kritik itu dilontarkan Rusia dan China dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Selasa (23/12/2025). Dilansir AFP, pertemuan itu dilakukan setelah Venezuela meminta pertemuan darurat DK PBB dengan dukungan Moskow dan Beijing.

    Venezuela telah menuduh Washington melakukan ‘pemerasan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah kita’. Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer besar di Karibia.

    AS juga mencegat kapal tanker minyak sebagai bagian dari blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Venezuela yang dianggap berada di bawah sanksi. Pada pertemuan hari Selasa (23/12), Duta Besar AS Mike Waltz mengatakan negaranya akan melakukan segala daya untuk melindungi perbatasan dan rakyat AS.

    Presiden AS Donald Trump berulang kali menuduh Venezuela menggunakan minyak, sumber daya utama negara Amerika Selatan itu, untuk membiayai ‘narkoterorisme, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan’. Venezuela membantah keras terlibat dalam perdagangan narkoba dan menegaskan Washington berupaya menggulingkan presidennya, Nicolas Maduro.

    Venezuela menuduh AS berupaya merebut cadangan minyak Venezuela. Negara Amerika Latin itu memang merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

    “Tindakan pihak AS bertentangan dengan semua norma utama hukum internasional. Tanggung jawab Washington juga terlihat jelas atas konsekuensi bencana yang terus-menerus dari perilaku seperti koboi tersebut,” kata duta besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, sambil menyebut blokade AS sebagai ‘tindakan agresi’.

    “China menentang semua tindakan unilateralisme dan intimidasi dan mendukung semua negara dalam membela kedaulatan dan martabat nasional mereka,” kata perwakilan China, Sun Lei.

    Duta Besar Venezuela Samuel Moncada mengatakan AS melakukan pemerasan. Dia mengatakan AS telah menuntut rakyat Venezuela untuk menyerahkan kekayaannya.

    “Kita berada di hadapan kekuatan yang bertindak di luar hukum internasional, menuntut agar warga Venezuela meninggalkan negara kita dan menyerahkannya. Ini adalah pemerasan terbesar yang pernah ada dalam sejarah kita,” ujarnya.

    Sementara, Dubes AS Waltz mengulangi tuduhan Trump terhadap Maduro. Dia mengatakan Maduro merupakan buronan yang dicari oleh AS dan kepala organisasi teroris asing ‘Cartel de los Soles’.

    Para ahli mengatakan tidak ada bukti keberadaan kelompok terorganisir dengan hierarki yang jelas yang menggunakan nama tersebut. Pemerintah AS telah menawarkan hadiah USD 50 juta untuk informasi apa pun yang mengarah pada penangkapan Maduro, sekutu setia pemimpin Rusia Vladimir Putin.

    Sejak September, pasukan AS telah melancarkan puluhan serangan udara terhadap kapal-kapal yang menurut Washington, tanpa menunjukkan bukti, mengangkut narkoba. Lebih dari 100 orang telah tewas.

    Halaman 2 dari 2

    (haf/haf)