Tag: Tri Rismaharini

  • Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029

    Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029

    Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo mengungkapkan strategi politik partainya untuk menghadapi pemilihan umum (Pemilu) 2029.
    Salah satu strategi partai adalah menyatu dan hadir setiap hari ketika masyarakat butuh pertolongan.
    Hal ini disampaikan Ganjar sesaat sebelum mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I
    PDI-P
    di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    “Contoh, kalau kita berkomunikasi, berkampanye berbuih-buih tidak akan bisa dipercaya lagi oleh masyarakat, kecuali kamu hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongannya,” kata Ganjar saat ditemui, Sabtu.
    Ganjar mencontohkan persoalan yang menurut masyarakat, butuh bantuan segera. Misalnya, bencana hingga isu perempuan dan anak.
    Ia memandang hal-hal ini perlu direspons dengan segera, termasuk oleh partai politik.
    “Apakah itu kemarin bencana, atau barangkali problem sosial, problem pendidikan, kesehatan, isu perempuan, anak, penyandang disabilitas, itu yang mesti direspons,” jelasnya.
    Lebih lanjut, eks Gubernur Jawa Tengah ini menyinggung tentang pengambilan kebijakan, semisal masalah masyarakat adat.
    Menurutnya, persoalan masyarakat adat pun tak boleh lepas dari pengambilan kebijakan pemerintah.
    “Ketika satu komunitas yang ada di masyarakat seperti masyarakat adat umpamanya, mereka punya problem, ya ayo mereka kita bantu. Ya ayo berjuang, gitu,” contoh Ganjar.
    “Dan berjuang itu ada political interplay, ada negosiasi, ada konsepsi, dan itu saya kira kampanye dalam arti sebenarnya dari waktu ke waktu. Bukan menunggu nanti dan kita hanya akan datang pada saat dibutuhkan atau membutuhkan suara saja,” sambungnya.
    Menutup pernyataannya, Ganjar mencontohkan apa yang tengah dilakukan PDI-P saat ini, terkhusus menanggapi bencana Sumatera.
    Ia mengatakan, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengintruksikan seluruh kader merespons bencana Sumatera dengan segera.
    Karena itu, beberapa tokoh senior PDI-P bahkan masih berada di lokasi bencana hingga kini.
    “Jadi kemarin kawan-kawan diminta oleh Bu Mega umpamanya, ‘Respons segera bencana, semua siaga’. Ini beberapa teman belum pulang ini di Rakernas ini. Rasanya Mbak Yayuk, Mbak Risma masih ada di lokasi, Mbak Ning. Enggak tahu ini Mbak Risma sudah pulang belum ini,” jelasnya.
    “Ini mereka melaksanakan tugas dulu untuk bisa menyelesaikan persoalan itu. Itu taktik strategi yang menurut saya paling relevan dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkas dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Donasi Konser Valen Finalis DA 7 Senilai Rp 1,1 Miliar Diserahkan ke Relawan Bencana Aceh dan Semeru
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        9 Januari 2026

    Donasi Konser Valen Finalis DA 7 Senilai Rp 1,1 Miliar Diserahkan ke Relawan Bencana Aceh dan Semeru Surabaya 9 Januari 2026

    Donasi Konser Valen Finalis DA 7 Senilai Rp 1,1 Miliar Diserahkan ke Relawan Bencana Aceh dan Semeru
    Tim Redaksi
    PAMEKASAN, KOMPAS.com
    – Hasil donasi konser Achmad Valen Akbar Finalis Dangdut Akademi ke 7 (DA 7) diberikan secara terbuka oleh CEO Bawang Mas Group H. Her kepada perwakilan tim relawan korban bencana Aceh dan korban erupsi Gunung Semeru pada Kamis (8/1/2026) sore.
    Penyerahan bantuan tersebut disaksikan sejumlah pihak berupa uang tunai sebesar Rp 1.110.500.000.
    Dana bantuan diperoleh dari donasi konser Valen yang digelar di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) pada Kamis (1/1/2026) lalu.
    Beberapa dermawan memberikan sumbangan saat donasi dibuka untuk penoton. Di antaranya, H. Her menyumbangkan dana sebesar Rp 500.000.
    Termasuk sejumlah tokoh lainnya ikut menyumbang masing-masing Rp 100 juta.
    Seperti Risma Catering, Owner Nesma dan Haji Yaqub dan beberapa sumbangan lainnya dari penonton.
    CEO Bawang Mas Group,
    Haji Her
    menyampaikan, penyerahan donasi sengaja dilakukan dengan terbuka dan transparan untuk menghindari fitnah.
    “Amanah ini harus tersampaikan secara utuh dan penuh tanggung jawab. Sehingga kami lakukan penyaluran secara terbuka,” kata Haji Her, Jumat (9/1/2026)
    Bahkan menurutnya, pihaknya meminta relawan agar mendokumentasikan setiap penyaluran bantuan. Termasuk keterbukaan dan pencatatan tentang pengeluaran bantuan.
    Tim relawan akan diberangkatkan ke Aceh dan Semeru.
    Sebab sebagian bantuan, sekitar Rp 200 juta juga disalurkan untuk korban bencana erupsi di sekitar
    Gunung Semeru
    , Jawa Timur.
    “Tolong dalam penyaluran bantuan didokumentasikan dengan baik. Ini bukan soal ketidakpercayaan tapi bagian dari tanggung jawab,” ujarnya.
    Haji Her menyampaikan, semua relawan menyetujui jika sebagian donasi sebesar Rp 200 juta disalurkan untuk korban erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur.
    “Semoga para donatur diberikan balasan kebaikan serta diterima amal ibadahnya oleh Allah,” tutup Haji Her.
    Sementara anggota Bawang Mas Centre (BMC) sekaligus relawan yang akan diberangkatkan, Khairul Umam menyampaikan penyaluran bantuan juga akan disampaikan secara terbuka di lokasi bencana.
    “Penyaluran bantuan ini juga akan dilakukan secara transparan di Aceh maupun di Semeru,” kata Khairul.
    Dikatakan, total ada 6 relawan yang dikerahkan ke dua lokasi bencana. Baik di Aceh, Sumatera dan di Semeru, Jawa Timur.
    “Jumlah donasi bisa saja bertambah nanti. Semua akan kita salurkan secara terbuka dan trasparan sesuai petunjuk Haji Her,” imbuhnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Imbas Larangan Pesta Kembang Api Secara Nasional, Penjual Kembang Api di Subang Hanya Bisa Pasrah
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        31 Desember 2025

    Imbas Larangan Pesta Kembang Api Secara Nasional, Penjual Kembang Api di Subang Hanya Bisa Pasrah Regional 31 Desember 2025

    Imbas Larangan Pesta Kembang Api Secara Nasional, Penjual Kembang Api di Subang Hanya Bisa Pasrah
    Tim Redaksi
    SUBANG, KOMPAS.com
    – Imbas Larangan Pesta Kembang Api, di malam pergantian tahun 2026, sejumlah pedagang kembang api di Subang sepi pembeli.
    Jika dibandingkan dengan tahun lalu, para pedagang mengaku, menurun hingga 60 persen penjualannya.
    Penurunan tersebut imbas adanya larangan dari Kapolri dan Gubernur Jabar yang melarang
    pesta kembang api
    secara Nasional, demi menghormati para korban bencana di Sumatera dan Aceh.
    Usman Afandi, salah seorang penjual
    kembang Api
    di Pantura Subang mengaku sepi pembeli akibat adanya larangan menyalakan kembang api di malam pergantian tahun 2026.
    “Hingga malam ini jelang malam pergantian tahun, warga yang beli kembang api masih sangat sepi. Ada sih yang beli ada tapi sangat sedikit sekali. Berbeda dengan tahun lalu,” kata Usman, Rabu(31/12/2025).
    Menurut Usman, pembeli kembang api umumnya para orangtua untuk anaknya yang masih kecil.
    “Rata-rata orangtua yang beli kembang api, itu pun kembang api khusus anak-anak yang daya ledaknya kecil,” katanya.
    “Sementara yang kembang api yang daya ledaknya tinggi biasa dibeli orang dewasa masih sepi jarang ada yang beli,” imbuhnya.
    Usman hanya bisa pasrah dagangannya hanya sedikit terjual menjelang tahun baru 2026 ini.
    “Pasrah dan ikhlas saja. Tadinya berharap akan untung besar dapat rezeki di akhir tahun ini dari jual kembang api. Tapi apa daya, dilarang pemerintah, saya hanya bisa pasrah saja,” katanya.
    Senada juga dikatakan Mamat Nurcahya,
    pedagang kembang api
    lainnya yang mengaku sepi pembeli jelang malam tahun baru 2026.
    “Masih sangat sepi, dibandingkan tahun sebelumnya. Ada yang beli hanya kembang api untuk anak-anak,”ucapnya.
    Mamat tidak mengetahui pasti penyebab sepinya pembeli, apa karena adanya
    larangan pesta kembang api
    atau karena ekonomi masyarakat yang saat ini lagi sulit.
    “Belum tahu juga apakah ini imbas larangan pesta kembang api atau apa yang jelas harga kembang api saat ini masih sama dengan tahun sebelumnya,” katanya.
    Adapun untuk harga kembang api sangat bervariasi mulai puluhan hingga ratusan ribu perbuah, tergantung ukuran dan banyaknya isi kembang api.
    “Harga kembang api untuk anak-anak mulai Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Sedangkan kembang api berukuran besar untuk orang dewasa yang biasa menyinari langit di malam tahun baru, itu kisaran ada yang Rp 50.000 perbuah hingga ada diatas Rp 100.000 tergantung banyaknya isi kembang api di dalamnya,” tuturnya.
    Mamat berharap, menjelang malam pergantian tahun beberapa jam kedepan, masih ada rezeki akhir tahun dari dagangan kembang apinya.
    “Mudah-mudahan masih ada rezeki akhir tahun dari berjualan kembang api, sekalipun hingga petang ini penjualan masih jauh dari tahun sebelumnya atau turun sekitar 60-70 persen dibandingkan tahun lalu,” ucapnya.
    Risma Handayani, salah seorang pembeli mengaku membeli kembang api ukuran kecil untuk anak-anak dirumah.
    “Saya beli kembang api untuk anak-anak dan akan dinyalakan dirumah, cuma untuk menghibur anak-anak aja di malam pergantian tahun,” katanya.
    Risma juga mengaku tahu adanya larangan pesta kembang di malam pergantian tahun 2026 demi menghormati para korban bencana di Sumatera.
    “Ya saya rasa itu larangan untuk pesta kembang api skala besar seperti ditempat hiburan atau tempat wisata, tapi untuk pribadi dirumah menghibur anak-anak mungkin bisa dimaklumi, momen setahun sekali menghibur dan manjain anak-anak,” ucapnya.
    Melihat sepinya pembeli, Risma juga mengaku kasihan kepada para pedagang kembang api. Momen akhir tahun biasanya mereka meraup untung tapi tahun ini sepi.
    “Tadi sebelum beli, saya lihat tak ada yang beli sepi pedagang kembang api ini, jadi saya beli aja untuk anak-anak. Sempat nanya juga ke si mang pedagangnya, katanya sepi menurun hampir 70 persen penjualan dibandingkan tahun lalu,” pungkasnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Jelang Nataru 2026, Satgas Pangan Temukan Stok Elpiji 3 Kg Kosong di Blitar

    Jelang Nataru 2026, Satgas Pangan Temukan Stok Elpiji 3 Kg Kosong di Blitar

    Blitar (beritajatim.com) – Sejumlah masyarakat Blitar Raya mengeluhkan adanya kelangkaan elpiji 3 kilogram jelang libur Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Menurut masyarakat, elpiji 3 kilogram mulai sulit dicari.

    “Mulai sulit ini saya kemarin mencari di SPPBU katanya kosong,” ungkap Risma, Warga Srengat Blitar pada Rabu (24/12/2025).

    Kondisi yang dikeluhkan warga itu ternyata benar adanya. Pada Selasa (23/12/2025) Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polres Blitar Kota juga menemukan kondisi serupa saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di wilayah Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

    Alih-alih mendapati stok yang melimpah untuk kebutuhan hari raya, petugas justru menemukan tumpukan tabung gas bersubsidi ukuran 3 kilogram (gas melon) dalam kondisi kosong di tingkat pangkalan.

    Kanit Pidana Ekonomi dan Tertentu (Pidek) Satreskrim Polres Blitar Kota, Iptu Yuno Sukaito, yang memimpin jalannya sidak, membenarkan temuan tersebut. Pemandangan tabung hijau yang berjejer tanpa isi menjadi indikasi kuat adanya keterlambatan distribusi atau tingginya permintaan yang tidak berimbang dengan pasokan.

    “Hasil pengecekan tadi kondisinya memang kosong, terpantau ada tabung-tabung yang kosong di pangkalan,” ujar Iptu Yuno Sukaito.

    Kondisi ini tentu menjadi “lampu kuning” bagi stabilitas kebutuhan pokok di wilayah Blitar, mengingat aktivitas memasak warga biasanya meningkat tajam menjelang malam pergantian tahun.

    Meski menemukan kekosongan, Iptu Yuno bergerak cepat untuk memastikan masyarakat tidak panik. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan agen penyalur untuk segera melakukan pengiriman darurat guna menutupi kelangkaan tersebut.

    “Rencananya akan segera disuplai lagi sebanyak 200 tabung untuk masyarakat,” tegas Yuno.

    Kelangkaan ini menjadi ironi tersendiri jika melihat data alokasi energi untuk wilayah tersebut. Berdasarkan data tahun berjalan, kuota Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Kabupaten Blitar pada tahun 2025 sebenarnya dipatok cukup besar, yakni mencapai 33.970 Metrik Ton (MT). [owi/beq]

  • Melawan Stigma Negatif Panti Jompo di Film Agak Laen: Menyala Pantiku!

    Melawan Stigma Negatif Panti Jompo di Film Agak Laen: Menyala Pantiku!

    JAKARTA – Petualangan kuartet Bene Dion, Boris Bokir, Oki Rengga, dan Indra Jegel memasuki babak baru di film kedua mereka,Agak Laen: Menyala Pantiku! Dalam film ini sedikit dikisahkan soal kehidupan para usia lanjut (lansia) di panti jompo.

    Film pertamanya,Agak Laen, berhasil menarik 9.126.607 penonton yang menempatkannya di urutan ketigafilm Indonesia terlaris sepanjang masa, di bawahJumbodanKKN di Desa Penari.

    Kesuksesan tersebut berlanjut di film kedua,Agak Laen: Menyala Pantiku! yang telah menarik delapan juta lebih penonton dalam waktu kurang dari satu bulan sejak tayang perdana pada 27 November 2025.

    Film berdurasi 119 menit tersebut menceritakan tentang empat polisi yang kariernya terancam seusai gagal mengungkap kasus pembunuhan anak wali kota. Mereka kemudian diberi kesempatan terakhir yaitu harus melakukan operasi penyamaran dan menyusup ke sebuah panti jompo untuk mencari sang pembunuh.

    Bene Dion, Indra Jegel, Oki Rengga dan Boris Bokir berfoto bersama mempromosikan film Agak Laen yang kini sedang tayang di bioskop seluruh Indonesia. (ANTARA/HO-POPLICIST Publicist/am)

    Yang menarik adalah bagaimana sang penulis cerita, Muhadkly Acho mengangkat kehidupan para lansia di panti jompo.Bagi kebanyakan orang di Indonesia, menitipkan orang tua di panti jompo bisa dipandang negatif.

    Padahal, menurut sosiolog sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Prof Ari Pradanawati, panti wreda atau panti jompo tidak serta merta berarti sebagai tempat pembuangan orang tua.

    Stigma Negatif

    Dalam salah satu adegan di filmAgak Laen: Menyala Pantiku!Boris dan Oki, yang menyamar sebagai pasangan lansia, mendaftarkan diriuntuk tinggal di Wisma Kasih, karena tak mau merepotkan para tetangga setelah anak mereka meninggal dunia.

    Dalam film dikisahkan kehidupan para lansia di panti jompo. Di sana, para lansia bisa berinteraksi satu sama lain serta mendapat perawatan yang layak.

    Mendengar kata panti jompo masih menjadi hal yang tabu di Indonesia. Panti jompo memiliki makna negatif, lantaran dianggap sebagai tempat ‘menelantarkan’ orang tua.

    Merawat orang tua, apalagi yang sudah berusia lanjut, memang selalu menjadi topik hangat yang memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Salah satu opsi yang dipertimbangkan oleh keluarga adalah menempatkan lansia di panti wreda.

    Seperti yang digambarkan di filmAgak Laen: Menyala Pantiku!rumah jompo menawarkan berbagai layanan yang dirancang untuk mendukung kesejahteraan lansia.

    Tapi di baik itu, tetap meyimpan berbagai kontroversi apaka menitipkan orang tua di panti wreda adala pilihan terbaik, apalagi jika lansia tersebut masih memilki anak.

    Bukan Budaya Indonesia

    Pada 2024, Tri Rismaharini, yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Sosial, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait konsep panti jompo. Menurut Risma, panti jompo tidak cocok untuk budaya Indonesia.

    Politisi PDI Perjuangan itu khawatir panti jompo menjadi pembenar anak menolak merawat lansia di keluarga. Ia pun mendorong keluarga untuk merawat lansia, alih-alih menitipkannya di panti wreda.

    “Itu budaya dari luar negeri. Sebetulnya menurut saya ya, gak sesuai. Tidak sesuai dengan budaya, begitu kan,” katanya, saat peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) di Aceh Utara, 29 Mei 2024.

    Ternyata menurut jajak pendapat yang dilakukan lembaga risetJakpat, padangan Risma yang kontra terhadap keberadaan panti wreda sejalan dengan Generasi Z.

    Tri Rismaharini, saat itu menjabat Menteri Sosial, berbincang dengan warga saat mengunjungi Rumah Sejahtera Terpadu (RST) warga lansia di Aceh Utara, Aceh, Rabu, 29 Mei 2024. (ANTARA/Rahmad)

    Dari survei terhadap 1.499 responden 16-27 tahun, sebanyak 48,63 responden tidak setuju dengan pandangan mengirim orang tua ke panti wreda. Bahkan terdapat 35,76 persen lainya yang menjawab “sangat tidak setuju”.

    Survei ini dilakukan pada 7-8 Juni 2024. Kebanyakan responden dari kelompok 20-25 tahun (59, 79 persen), diikuti kelompok 26-27 tahun (20,37 persen) dan kelompok 16-19 tahun (19,77 persen).

    Sekitar sepertiga responden yang memilih tidak setuju dengan mengirim oang tua ke panti wreda, mengaku khawatir dengan stigma sosial. Mereka merasa masih ada pandangan negatif di masyarakat yang menganggap anak tidak berbakti jika menempatkan orang tua ke panti wreda.

    Perlu Perubahan Istilah

    Profesor Ari Pradanawati menuturkan, pendapat yang kontra dengan menitipkan orang tua di panti jompo cenderung lebih mengacu pada budaya di Indonesia.

    Di Indonesia, anggapan bahwa orang tua harus dirawat anak masih sangat kental. Menurut Prof Ari, pandangan masyarakat terhadap kata panti jompo masih cenderung negatif. Padahal, panti jompo tidak serta merta sebagai ‘tempat pembuangan’ bagi para orang tua.

    “Dalam pikiran kita, jika mendengar kata panti jompo atau panti wreda seolah menganggap orang tua dibuang. Padahal sebenarnya tidak begitu juga, karena memang ketika mendengar kata jompo atau wreda terkadang membuat pikiran malah stres,” tutur Prof Ari, dikutip laman Undip.

    Penghuni Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi menunggu antrean pada pemeriksaan gratis relawan KawanJuang GP, Kamis (19/10/2023). (ANTARA/HO-Pri)

    Ia pun mengungkapkan perlu ada penggantian istilah di kalangan masyarakat dalam menyebut panti jompo sehingga bisa memiliki makna yang lebih positif, misalnya rumah masa tua.

    “Artinya bagaimana kita membuat istilah yang membuat nyaman, misalnya sebuah rumah masa tua di mana ada fasilitas yang komplit,” ungkap Prof Ari.

    “Sehingga konotasi kita terhadap panti jompo atau panti wreda untuk lansia diubah menjadi suatu istilah-istilah yang mengena di hati dan anggapan ke panti jompo itu tidak berarti dibuang dan orang tua mesti diberi pemahaman,” sambung dia lagi.

  • Megawati: BagunaPDI Perjuangan dibentuk untuk tugas kemanusiaan

    Megawati: BagunaPDI Perjuangan dibentuk untuk tugas kemanusiaan

    Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP dibentuk untuk kerja-kerja kemanusiaan yang bersifat teknis dan responsif, bukan sekadar teori.

    Megawati menekankan pentingnya kesiapan lapangan, mulai dari penyediaan dapur umum, logistik yang sesuai kondisi bencana, hingga kebutuhan spesifik masyarakat terdampak seperti air bersih, makanan hangat, obat-obatan, perlengkapan bayi, serta kebutuhan perempuan.

    “Begitu Baguna turun, yang utama adalah buka dapur umum. Dapur umum itu untuk siapa pun yang membutuhkan, tanpa melihat latar belakang apa pun. Ini urusan kemanusiaan, bukan urusan politik,” kata Megawati dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

    Ia juga mengingatkan agar bantuan disalurkan sesuai kebutuhan di lapangan dan tidak asal memberikan barang, serta mendorong pencatatan wilayah rawan bencana sebagai bagian dari upaya mitigasi jangka panjang.

    Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini mengungkapkan alasan partainya memberikan apresiasi kepada para pengemudi ambulans dan relawan kebencanaan yang selama ini bekerja tanpa mengenal waktu dan imbalan tetap.

    Risma menuturkan, para sopir ambulans kerap bekerja tanpa hari libur, bahkan tetap mengantar pasien pada hari Minggu maupun dini hari. Peran mereka juga tidak terbatas pada mengemudi, melainkan turut membantu berbagai kebutuhan darurat pasien.

    “Kadang saat mengantar pasien mereka harus mencari darah ke PMI, mengurus obat, bahkan mengurus asuransi kalau terjadi kecelakaan. Semua itu dilakukan oleh para sopir ini,” kata Risma dalam acara Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban yang digelar Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta Timur.

    Berangkat dari kondisi tersebut, Risma bersama jajaran DPP PDI Perjuangan berinisiatif memberikan apresiasi nyata. Awalnya, penghargaan ditujukan khusus kepada pengemudi ambulans, namun kemudian diperluas kepada relawan partai yang aktif membantu masyarakat di lapangan.

    Ia menjelaskan, relawan PDI Perjuangan seperti Baguna dan tim kesehatan telah terlibat langsung dalam penanganan bencana dan berbagai kebutuhan kemanusiaan di sejumlah daerah. Atas dedikasi tersebut, partai menyiapkan lebih dari 2.000 penghargaan bagi relawan di seluruh Indonesia.

    “Mereka ini tidak digaji oleh partai. Operasional ambulans pun mereka jalankan sendiri. Karena itu kami berupaya mencarikan CSR agar mereka bisa mendapatkan perlindungan,” jelas Risma.

    Upaya tersebut membuahkan hasil. Para pengemudi ambulans dan relawan kini mendapatkan asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sebagai bentuk perlindungan atas risiko kerja yang mereka hadapi. Risma berharap apresiasi ini dapat memperkuat kapasitas relawan dalam membantu masyarakat secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

    “Kita harus menghadapi kenyataan bahwa Indonesia rawan bencana. Yang terpenting adalah bagaimana mitigasinya supaya tidak banyak korban,” katanya.

    Dalam kegiatan tersebut, Risma bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning menumpangi mobil Jeep beratap terbuka berwarna merah meninjau langsung anggota dan relawan Baguna dengan puluhan unit ambulans yang siap diberangkatkan ke wilayah terdampak bencana, termasuk di Sumatra.

    Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
    Editor: Imam Budilaksono
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Megawati Turunkan Baguna ke Bencana Sumatera, Siaga Dapur Umum hingga Ambulans

    Megawati Turunkan Baguna ke Bencana Sumatera, Siaga Dapur Umum hingga Ambulans

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyatakan, tugas Badan Penanggulangan Bencana atau Baguna adalah untuk hadir di setiap lokasi bencana untuk cepat tanggap memberikan bantuan, khususnya penyediaan makanan melalui dapur umum.

    “Jadi tidak ada perintah lagi, begitu Baguna turun, mereka harus segera buka dapur umum,” kata Megawati dalam acara ‘Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban’ yang digelar Baguna PDIP di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta Timur, Jumat 19 Desember 2025.

    Ketua DPP PDIP Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini menambahkan, Baguna bukan sebatas soal perut, namun juga kedarurat. Salah satunya adalah kesiapan fasilitas ambulans.

    Eks menteri sosial ini menjelaskan, ambulans Baguna dikemudikan oleh kelompok relawan yang bekerja tanpa mengenal waktu dan pamrih, meski saat hari libur dan dini hari.

    “Dalam praktiknya, mereka tidak hanya bertugas mengemudi, tetapi juga membantu berbagai kebutuhan darurat pasien. Kadang saat mengantar pasien mereka harus mencari darah ke PMI, mengurus obat, bahkan mengurus asuransi kalau terjadi kecelakaan. Semua itu dilakukan oleh para sopir,” ujar Risma.

    Berangkat dari kondisi tersebut, Risma bersama jajaran DPP PDIP berinisiatif untuk menjamin hidup mereka ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat menjalankan tugas mulianya.

    “Mereka ini tidak digaji oleh partai. Operasional ambulans pun mereka jalankan sendiri. Karena itu, kami berupaya mencarikan CSR agar mereka bisa mendapatkan perlindungan,” ungkapnya.

     

    Konferensi pers perkembangan penanggulangan bencana Sumatera, Jumat 19 Desember 2025. Hadir sejumlah menteri hingga Panglima TNI. Berapi-api Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya menanggapi, anggapan pemerintah tidak tanggap bencana Sumatera.

  • Gerakan Ayah Ambil Rapor Warnai Sekolah di Pati, Para Bapak Menyambut Positif
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        19 Desember 2025

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Warnai Sekolah di Pati, Para Bapak Menyambut Positif Regional 19 Desember 2025

    Gerakan Ayah Ambil Rapor Warnai Sekolah di Pati, Para Bapak Menyambut Positif
    Tim Redaksi
    PATI, KOMPAS.com
    – Suasana berbeda tampak di sejumlah sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Jumat (19/12/2025).
    Sejak pagi hingga siang hari, para ayah terlihat memadati lingkungan sekolah untuk mengambil rapor hasil belajar putra-putrinya dalam rangka mendukung
    Gerakan Ayah Ambil Rapor
    .
    Kehadiran para ayah yang biasanya disibukkan dengan pekerjaan ini menciptakan suasana hangat dan akrab.
    Dengan raut wajah bangga dan penuh semangat, mereka datang langsung ke sekolah, sebagian rela mengantre demi menerima rapor anaknya.
    Salah satu wali murid, Erik, orang tua siswa SD Negeri Kutoharjo 03, mengaku sengaja meluangkan waktu untuk hadir langsung.
    Baginya, momen pengambilan rapor bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab seorang ayah terhadap pendidikan anak.
    “Menurut saya program ini sangat bagus karena dapat meningkatkan kesadaran ayah untuk lebih terlibat dalam pendidikan anak dan memperkuat hubungan antara ayah dan anak. Mengambil rapor adalah kesempatan untuk memantau perkembangan anak, mengetahui prestasi dan kekurangannya, serta menunjukkan dukungan secara langsung,” ujar Erik.
    Ia menilai keterlibatan ayah memberi dampak psikologis positif bagi anak. Anak akan merasa dihargai dan bangga karena ayah hadir langsung dalam perjalanan pendidikannya.
    “Dengan kehadiran ayah, kedekatan dengan anak pasti akan semakin kuat. Anak-anak juga akan merasa lebih disayangi dan dihargai,” tambahnya.
    Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme para ayah yang cukup tinggi. Suasana pengambilan rapor terasa lebih hidup dengan tawa, senyum, serta interaksi hangat antara orang tua dan guru.
    “Pemandangan bapak-bapak yang biasanya sibuk bekerja kini hadir di sekolah itu sangat mengharukan. Ini menunjukkan bahwa para ayah semakin peduli dan mau terlibat dalam pendidikan anaknya,” terangnya.
    Menurutnya, keterlibatan ayah tidak menjadi beban, justru menjadi kebanggaan tersendiri karena membuka ruang bagi ayah untuk lebih aktif memantau dan mendampingi tumbuh kembang anak.
    Sementara itu, Wakil Bupati
    Pati
    Risma Ardhi Chandra menjelaskan bahwa Gerakan
    Ayah Ambil Rapor
    merupakan tindak lanjut dari imbauan pemerintah pusat.
    “Itu kan imbauan dari nasional. Kita di daerah hanya melanjutkan arahan dari Bapak Menteri agar bapak-bapak juga ikut berperan dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya,” jelas Risma.
    Ia menegaskan kebijakan tersebut bersifat ajakan, bukan kewajiban mutlak. Jika ayah berhalangan hadir karena pekerjaan atau berada di luar kota, hal itu tidak menjadi persoalan.
    “Kalau bapaknya tidak bisa hadir karena kesibukan atau tugas di luar kota, ya tidak masalah. Ini sifatnya ajakan,” katanya.
    Menanggapi adanya fenomena menyewa orang lain untuk mewakili ayah mengambil rapor, Risma merespons dengan santai.
    “Wah, itu berarti kreatif,” ujarnya sambil tersenyum.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Megawati instruksikan dapur umum PDIP terbuka untuk semua

    Megawati instruksikan dapur umum PDIP terbuka untuk semua

    Jakarta (ANTARA) – ​Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menginstruksikan agar dapur umum milik Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP terbuka bagi seluruh masyarakat korban bencana di Sumatera, tanpa memandang latar belakang politik. ​

    “Di Baguna ini kan saya buat dapur umum. Jadi, tidak ada perintah lagi, begitu Baguna turun, mereka harus segera buka dapur umum,” kata Megawati pad Seminar Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban yang digelar Baguna PDIP di Jakarta, Jumat. ​

    Presiden ke-5 RI ini juga menyinggung pentingnya menyesuaikan jenis makanan dengan kondisi di lapangan.

    Menurutnya, di tengah cuaca bencana yang identik dengan kondisi basah dan dingin, penyajian makanan haruslah yang hangat dan layak.

    “Pada waktu seperti sekarang, dapur umumnya harus menyediakan masakan yang hangat. Bukan masakan ‘basah’ dalam arti sebenarnya, tapi karena suasananya yang basah (hujan/banjir), maka makanan hangat sangat dibutuhkan,” ujarnya.

    Megawati yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menekankan bahwa dapur umum Baguna adalah aksi kemanusiaan murni, bukan alat kampanye.

    “Dapur umum itu tidak hanya untuk orang-orang partai, tidak. Siapa pun yang terkena dampak, siapa pun yang butuh makan, dipersilakan untuk makan di tempat kami. Ini tidak ada urusan partai, ini adalah murni urusan kemanusiaan,” kata Megawati.

    Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, serta sejumlah pengurus pusat seperti Ketua DPP PDIP Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini, serta Ketua DPP Bidang Kesehatan Ribka Tjiptaning yang ikut bicara di agenda ini.

    Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
    Editor: Didik Kusbiantoro
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Cerita Eks Mensos Risma Nekat Naik Kapal Nelayan Demi Bawa Bantuan Korban Bencana ke Mentawai

    Cerita Eks Mensos Risma Nekat Naik Kapal Nelayan Demi Bawa Bantuan Korban Bencana ke Mentawai

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini (Risma) mengenang pengalaman penanggulangan bencana saat di Pulau Mentawai. Menurut dia, kala itu tingkat kesulitan menyeberang ke wilayah tersebut harus menggunakan kapal di tengah cuaca buruk sehingga kapal besar tidak boleh berlayar.

    “Saya pernah merasakan itu. Jadi saat kejadian bencana, saat saya mengirim bantuan ke Mentawai, itu betapa beratnya ombak, karena ombaknya tinggi kita nggak bisa berlayar, jadi saya sampai nyuri-nyuri pakai kapal nelayan,” ujar Risma saat Seminar Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban yang digelar di Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025).

    Risma mengaku, aksi nekatnya dilakukan karena dirinya khawatir kalau stok bahan makanan korban bencana habis.

    “Jadi saya nekat pakai perahu, kapal, meskipun ya mabuk dikit lah, ya mabuk-mabuk gitu, tapi ya selamat,” seru Risma.

    Atas perjuangan itu, Risma mendorong para relawan penanggulangan bencana di negara kepulauan untuk bisa terus berjuang. Tujuannya untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan.

    “Kita ingin semua mengerti karena saat terjadi bencana mungkin itu ada di sekitar kita. Kita bisa membantu menyelamatkan diri kita, menyelamatkan orang lain, dan menyelamatkan saudara-saudara kita di sekitar kita,” dia menandasi.