Demo Buruh UMP DKI 2026 Bubar, KSPI Ancam Aksi Lebih Besar Besok
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Demonstrasi buruh terkait penetapan
Upah Minimum Provinsi
(UMP) DKI Jakarta 2026 yang digelar di Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, berakhir pada Senin (29/12/2025) sore.
Pantauan
Kompas.com
di lokasi, massa aksi dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (
KSPI
) mulai membubarkan diri sekitar pukul 14.35 WIB.
Pembubaran massa diawali dengan menyanyikan lagu
Internasionale
dan
Mars Partai Buruh
yang dipimpin koordinator aksi dari atas mobil komando.
Setelah aksi diakhiri, buruh disebut akan melanjutkan perjuangan melalui jalur dialog dengan Dewan Pengupahan sebagai tindak lanjut dari unjuk rasa hari ini.
Selain itu, KSPI juga menyampaikan rencana lanjutan berupa aksi lanjutan yang melibatkan buruh dari Jawa Barat.
Aksi tersebut disiapkan sebagai respons atas penghapusan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) di Jawa Barat oleh Gubernur Dedi Mulyadi.
“Besok bersiap untuk kedatangan 10.000 kawan-kawan kita dari Jawa Barat, akan menggelar aksi di Jakarta menuntut kelayakan upah dan menolak upah murah,” seru orator dari atas mobil komando.
Presiden KSPI Said Iqbal menegaskan, jika tuntutan negosiasi hari ini tidak mendapatkan respons yang memadai, mereka akan meningkatkan eskalasi aksi pada Selasa (30/12/2025).
“Besok kalau kami menggunakan datang aksi lagi, rencana kami besok aksi lagi. 10.000 motor, bisa juga berjumlah 20.000 orang akan hadir,” ucapnya.
Ia menjelaskan, massa buruh dari berbagai daerah penyangga di Jawa Barat akan bergerak menuju Jakarta untuk bergabung dalam aksi lanjutan tersebut.
“Besok tanggal 30 Desember 10.000 motor dari Jawa Barat akan masuk Jakarta. Dari mulai Cirebon, dari mulai Cianjur, dari mulai Bandung Raya, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Sukabumi akan masuk ke Jakarta,” ucapnya.
Sementara itu, kondisi lalu lintas di sekitar lokasi aksi berangsur normal. Arus kendaraan di Jalan Medan Merdeka Selatan kembali lancar setelah barikade polisi dibuka secara bertahap, sehingga kendaraan dapat kembali melintas menuju Jalan MH Thamrin.
Kemacetan di Jalan H. Agus Salim dan Jalan Kebon Sirih juga perlahan terurai seiring berkurangnya kepadatan kendaraan. Di lokasi aksi, petugas kebersihan terlihat membersihkan sisa-sisa sampah demonstrasi.
Adapun kawasan Patung Kuda terpantau sudah steril dari aktivitas demonstrasi sejak sekitar pukul 15.15 WIB.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Thamrin
-
/data/photo/2025/12/27/694fd50fc95c1.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kampung Kebon Melati, Oase Hijau yang Bertahan di Tengah Pusat Bisnis Jakarta
Kampung Kebon Melati, Oase Hijau yang Bertahan di Tengah Pusat Bisnis Jakarta
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Di tengah kepungan gedung pencakar langit kawasan Thamrin, Jakarta Pusat,
Kampung Kebon Melati
, justru bertahan sebagai permukiman yang rapi, hijau, dan relatif nyaman.
Di saat kawasan sekitarnya tumbuh menjadi pusat bisnis modern, kampung ini berkembang lewat cara yang berbeda:
gotong royong warga
yang konsisten selama bertahun-tahun.
Bukan karena proyek besar pemerintah, melainkan berkat kesadaran kolektif warga yang menjaga lingkungannya dari hari ke hari.
Minimnya bantuan dan empati dari pemerintah justru menjadi pemicu warga untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Saya jujur merasa empati pemerintah itu kurang. Mereka kerja berdasarkan target,” ujar Ketua RW 06 Kebon Melati, Yudha Praja, saat ditemui
Kompas.com
, Rabu (24/12/2025).
Menurut Yudha, selama lebih dari satu dekade mengurus RW 06, hampir tidak ada dukungan nyata yang benar-benar menyentuh upaya warga menjaga lingkungan.
“Belum pernah ada sebenarnya, dan enggak perlu tahu juga. Kecamatan aja jarang turun, apalagi dari SDA atau kabupaten,” kata Yudha.
Ketertiban Kampung Kebon Melati tidak terbentuk secara instan. Yudha menyebutkan, perubahan dimulai dari hal sederhana, yakni membangun kebiasaan.
“Sosialisasi saja tidak cukup. Saya harus jadi contoh. Setiap pagi saya nyapu,” ujar Yudha.
Ia meminta warga minimal menyapu halaman rumah masing-masing setiap hari.
“Jam 09.00 WIB pagi biasanya sudah rapi semua,” tutur dia.
Kebiasaan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada awal penerapannya, masih ada warga yang membuang sampah sembarangan atau enggan mengikuti aturan bersama.
Anak-anak yang membuang sampah sembarangan ditegur. Namun, Yudha justru melihat anak-anak sebagai kunci perubahan jangka panjang.
“Justru dari anak-anak ini kami harap kebiasaan baik itu tumbuh,” kata dia.
Dari rutinitas menyapu pagi hari itu, tumbuh rasa memiliki terhadap lingkungan. Gang-gang sempit menjadi bersih, tanaman terawat, dan ruang bersama hidup oleh aktivitas warga.
Menjaga lingkungan di tengah tekanan pembangunan bukan perkara mudah. Menurut Yudha, tantangan terberat bukan hanya persoalan fisik, melainkan menjaga konsistensi warga.
“Ini harus dijadikan
habit
. Kalau berhenti, ya kembali lagi ke kebiasaan lama,” ujar dia.
Untuk menjaga kedekatan, Yudha kerap turun langsung ke rumah-rumah warga, sekadar ngopi dan berbincang.
“Saya sering ngopi ke rumah warga. Satu rumah satu kopi, sampai tujuh gelas sehari. Tapi dari situ hubungan jadi cair,” kata Yudha.
Kedekatan tersebut membuat warga tidak sungkan menyampaikan persoalan. Saat pandemi Covid-19, solidaritas warga terasa kuat.
Warga yang sakit dibantu bersama, termasuk anak-anak kos yang tidak bisa pulang kampung.
“Padahal mereka bukan warga asli sini,” ujar Yudha.
Keamanan lingkungan pun relatif terjaga.
“Motor parkir di luar tiap malam, jarang kejadian (pencurian),” katanya.
Menurut Yudha, Tanah Abang bukan wilayah rawan kriminal, melainkan rawan keributan. Karena itu, peran pengurus lingkungan menjadi sangat penting.
Meski berbagai inovasi berjalan, Yudha menilai peran pemerintah masih jauh dari ideal. Ia mengkritik
pengelolaan sampah
Jakarta yang dinilainya belum serius.
“RW dipaksa ngelola sampah, padahal harusnya pengelolaan itu di tingkat kecamatan,” katanya.
Menurut Yudha, jika setiap kecamatan memiliki fasilitas pengolahan sendiri, beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang bisa berkurang.
Ia juga menyayangkan minimnya dukungan eksternal untuk memperluas dampak gerakan lingkungan RW 06.
“Tanpa uang aja kami masih bisa menggerakkan masyarakat. Tapi kalau mau berkembang, tetap butuh dukungan,” ujar dia.
Sebelumnya, Rabu (24/12/2025),
Kompas.com
menelusuri Kampung Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari Jalan KH Mas Mansyur menuju Dukuh Pinggir V, suasana kota berubah drastis.
Jalan raya yang padat kendaraan berganti gang aspal sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Rumah-rumah warga berdiri rapat, sebagian masih mempertahankan bentuk lama dengan teras kecil dan jemuran pakaian di lantai atas.
Dari dalam gang, menara-menara kaca kawasan Thamrin tampak menjulang jelas. Kontras antara kampung dan pusat bisnis modern Jakarta seolah menjadi latar permanen kehidupan warga Kebon Melati.
Meski berada di jantung kota, nuansa hijau masih terasa kuat. Pot-pot tanaman berjajar di sepanjang gang, dari tanaman hias hingga pohon pisang yang tumbuh subur di pekarangan warga.
Rimbunnya pepohonan membuat udara lebih teduh. Di beberapa titik, sinar matahari terhalang dedaunan, menciptakan lorong-lorong sejuk di tengah terik Jakarta.
Di salah satu sisi kampung, Waduk Melati mengalir tenang. Jalur setapak berpaving di sepanjang waduk dimanfaatkan sebagai ruang bersama.
Bangku sederhana, taman kecil bertuliskan “Taman Dugar RW 06”, serta pagar warna-warni menandai upaya warga merawat ruang publik mereka.
Salah satu pilar utama Kampung Kebon Melati adalah pengelolaan sampah. Di sejumlah sudut RW 06 terlihat tempat penampungan botol plastik yang dikunci.
Spanduk larangan membakar dan membuang sampah sembarangan terpasang, lengkap dengan rujukan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013.
Ketua RT 008 RW 06, Andi (48), mengatakan inovasi pengelolaan sampah lahir dari kesadaran warga.
“Sepanjang pengalaman saya keliling Jakarta, kebanyakan permukiman padat itu identik dengan kumuh. Tapi di sini tidak. Masuk ke wilayah ini rasanya seperti terapi,” ujar Andi.
RW 06 memiliki bank sampah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot, serta komposter. Sampah plastik disalurkan ke bank sampah, sementara sampah organik rumah tangga diolah menjadi pakan maggot.
“Setiap hari bisa mengolah sekitar 40 kilogram sampah organik. Maggot ini sudah berjalan sekitar lima tahun,” kata Andi.
Ia mengaku mengikuti pelatihan pengolahan maggot, lalu menularkannya kepada warga. Hasil maggot dijual ke pemancing atau dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam.
“Lumayan buat nambah-nambah kebutuhan kecil,” ujarnya.
Selain maggot, sampah yang sulit diolah dimasukkan ke komposter dan diubah menjadi pupuk.
“Itu sebabnya tanah di sini bisa subur,” kata Andi.
Seluruh sistem tersebut berjalan tanpa bantuan besar dari pihak luar.
“Tidak ada CSR besar, tidak ada bantuan perusahaan. Semua murni dari warga dan pengurus RW,” ujarnya.
Kampung Kebon Melati berada di lokasi strategis, sekitar satu kilometer dari Bundaran HI, serta dekat Stasiun Karet dan jalur MRT. Pembangunan besar-besaran di sekitarnya mulai terasa sejak sekitar 2004.
“Gedung-gedung mulai naik, tapi masih ada warga yang bertahan,” kata Andi.
Sebagian warga memilih bertahan karena harga tanah tidak sesuai, sementara lainnya karena sudah merasa nyaman tinggal di kampung.
RW 06 memiliki delapan RT dengan sekitar 259 kepala keluarga. Mayoritas rumah di wilayah ini bersifat permanen, berbeda dengan sebagian wilayah RW 05 yang masih padat dan rawan genangan, terutama di dekat rel dan proyek pembangunan.
“Soal rumah kosong yang hanya tinggal dinding, itu biasanya karena tanahnya sudah dibeli spekulan atau PT, tapi belum dibangun,” kata Andi.
Meski diapit pembangunan, wilayah RW 06 relatif aman dari banjir.
“Waktu banjir besar yang sampai ke Thamrin dan kawasan UOB, air justru mengalir ke sana, bukan ke sini,” ujar dia.
Kondisi topografi yang lebih tinggi serta keberadaan waduk menjadi faktor penentu.
Bagi Ria (32), ibu rumah tangga yang telah puluhan tahun tinggal di Kebon Melati, kampung ini menawarkan kualitas hidup yang jarang ditemukan di pusat kota.
“Walaupun ini pusat kota, rasanya beda. Nggak kayak Jakarta yang panas banget. Di sini masih adem karena banyak pohon,” kata Ria saat ditemui di depan rumahnya.
Ia menikmati suasana pagi yang sejuk, ketika warga menyapu sambil berbincang. Anak-anak bisa bermain di luar tanpa kepanasan.
“Kalau pulang dari luar yang panas dan macet, masuk ke kampung ini rasanya langsung beda. Lebih tenang,” ujar Ria.
Menurut dia, warga saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan.
“Kalau ada yang menebang pohon sembarangan, pasti ditegur. Karena kami tahu, pohon itu buat kesehatan kami sendiri,” kata dia.
Pengamat perkotaan Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, menilai keberadaan Kampung Kebon Melati tidak lepas dari sejarah pembangunan Jakarta.
Menurut dia, masifnya pembangunan pusat bisnis sejak era 1990-an meninggalkan kampung-kampung yang “terjebak” di tengah kota.
“Ini kondisi yang sudah
existing
. Kampung Kebon Melati seolah terjebak di tengah pembangunan yang sangat masif di pusat kota Jakarta,” ujar Aziz saat dihubungi.
Aziz menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga kualitas hidup warga yang masih bertahan.
Menurut dia, warga kampung berhak menikmati fasilitas publik dan layanan dasar sebagai warga kota yang sah. Ia menilai perencanaan kota ke depan harus lebih disiplin dan inklusif.
“Pembangunan harus melibatkan partisipasi masyarakat tanpa mengorbankan kampung kota,” kata dia.
Aziz juga menyoroti pentingnya kepastian hak atas tanah warga kampung. Tanpa perlindungan tersebut, kampung-kampung kota berisiko terus terpinggirkan oleh pembangunan vertikal.
“Kota yang baik itu bukan hanya modern, tapi layak huni dan berkelanjutan,” ujar dia.
Di balik gemerlap gedung pencakar langit Jakarta, Kampung Kebon Melati menjadi contoh bahwa kota bisa dirawat dari bawah.
Minim bantuan pemerintah, warga justru menemukan kekuatannya dalam gotong royong—menyapu pukul sembilan pagi, mengolah sampah sendiri, dan menjaga hijau yang tersisa agar tetap hidup.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/08/22/66c63f5bb3e52.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ada Rekayasa Lalin Malam Tahun Baru di Jakarta, Ini Skema Pengalihan Arusnya Megapolitan 29 Desember 2025
Ada Rekayasa Lalin Malam Tahun Baru di Jakarta, Ini Skema Pengalihan Arusnya
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com –
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memberlakukan rekayasa lalu lintas di kawasan pusat Jakarta saat malam pergantian tahun 2025–2026.
Penutupan jalan dilakukan seiring pelaksanaan
Car Free Night
di koridor utama Sudirman–Thamrin hingga Merdeka Barat.
Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menegaskan seluruh kendaraan pribadi tidak dapat melintas di kawasan tersebut mulai sore hari.
Sejumlah rute alternatif disiapkan untuk mengakomodasi mobilitas warga yang tetap harus melintas di Jakarta Pusat.
Dishub DKI Jakarta memastikan
rekayasa lalu lintas
akan diberlakukan di Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin pada malam pergantian
tahun baru
, Rabu (31/12/2025).
Kebijakan ini diterapkan karena adanya perayaan malam tahun baru atau
Car Free Night
.
“Jadi, dalam rangka malam pergantian tahun 2025-2026, kami akan melaksanakan rekayasa lalu lintas berupa penerapan
Car Free Night
di sepanjang Sudirman sampai dengan MH Thamrin, kemudian lanjut ke Merdeka Barat,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo.
Penutupan seluruh kendaraan akan diberlakukan mulai pukul 18.00 WIB dan dibuka kembali secara bertahap sekitar pukul 01.00 WIB atau bersifat situasional.
“Nah, seluruh kendaraan akan dilakukan penutupan mulai pukul 18.00 dan kemudian baru secara bertahap akan dibuka pada pukul 01.00 atau situasional, melihat situasi dan kondisi warga yang ada di area-area Jalan Sudirman-Thamrin,” tutur Syafrin.
Sehubungan dengan penutupan jalur protokol, Dishub DKI menyiapkan sejumlah rute alternatif dan pengalihan arus lalu lintas sebagai berikut:
Dishub DKI mengimbau masyarakat memprioritaskan penggunaan angkutan umum selama malam pergantian tahun.
Sejumlah rute Transjakarta akan disesuaikan akibat adanya panggung hiburan di beberapa titik.
“Tentu dalam pelaksanaannya nanti terdapat 31 rute Transjakarta yang nantinya akan disesuaikan. Karena di beberapa titik seperti contoh di Lapangan Banteng juga ada kegiatan panggung di sana, kemudian sepanjang Sudirman-Thamrin,” ujar Syafrin.
Meski penutupan jalan dimulai pukul 18.00 WIB, Transjakarta masih diizinkan melintas secara situasional pada awal penutupan.
“Layanan Transjakarta tentu pukul 18.00 masih bisa melintas di kawasan Sudirman-Thamrin, dan situasional akan mulai ditutup mungkin pada pukul 19.00 atau 20.00 melihat perkembangan di lapangan,” kata Syafrin.
Jam operasional MRT dan LRT juga akan diperpanjang hingga pukul 01.00 WIB, dengan
headway
lima menit pada pukul 00.00–01.00 WIB untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Selain itu, Dishub DKI menyiapkan kantong parkir di sejumlah titik seperti Wisma Nusantara, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Gedung BNI Dukuh Atas, FX Sudirman, kawasan GBK, serta IRTI Monas.
Untuk mengawal pelaksanaan rekayasa lalu lintas, sekitar 2.000 personel Dishub DKI akan dikerahkan.
(Reporter: Ridho Danu Prasetyo | Editor: Faieq Hidayat)
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Billboard di Samping Mal Sarinah Terbakar, Api Padam Sebelum Damkar Tiba
JAKARTA – Sebuah papan reklame atau billboard dilaporkan mengalami kebakaran di Jalan MH Thamrin, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu malam, 28 Desember.
Informasi kebakaran diterima Command Center Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat sekitar pukul 21.30 WIB dari laporan masyarakat yang menghubungi layanan darurat DisGulkarmat.
“Objek yang terbakar merupakan papan reklame dengan jenis bangunan rendah (BR) yang berada di samping Mal Sarinah,” tulis laporan Command Center DKI Jakarta, Minggu, 28 Desember.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas pemadam kebakaran segera melakukan pengerahan awal menuju lokasi kejadian. Namun, sebelum unit pemadam tiba, api dilaporkan telah berhasil dikendalikan dan dipadamkan oleh petugas internal Mal Sarinah.
“Tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut,” demikian keterangan Command Center.
Penyebab kebakaran papan reklame tersebut masih belum dijelaskan lebih lanjut dalam laporan awal.
Command Center Gulkarmat DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan potensi kebakaran atau kejadian darurat lainnya melalui layanan 112 atau nomor resmi DisGulkarmat agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat.
-

Api Melalap Billboard di Jalan Thamrin, Gangguan Kelistrikan Diduga jadi Pemicu
JAKARTA – Kebakaran media iklan elektronik atau billboard yang berada di Jalan M.H. Thamrin No. 11, Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu malam, 28 Desember, diduga dipicu korsleting listrik.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta, Bayu Meghantara, membenarkan peristiwa tersebut. Dugaan berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi kejadian.
“Berdasarkan keterangan saksi, yakni petugas parkir, kebakaran diduga dipicu oleh gangguan kelistrikan pada media iklan elektronik tersebut. Namun, penyebab pastinya masih akan didalami lebih lanjut,” kata Bayu saat dihubungi VOI, Minggu, 28 Desember.
Bayu menjelaskan, laporan kebakaran diterima Dinas Gulkarmat Provinsi DKI Jakarta pada pukul 21.30 WIB, baik dari masyarakat yang datang langsung maupun melalui layanan darurat 112 dan nomor resmi DisGulkarmat.
Menindaklanjuti laporan, sebanyak delapan unit mobil pemadam kebakaran dengan total 32 personel dari Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Pusat dikerahkan ke lokasi kejadian.
“Api berhasil dipadamkan dan operasi dinyatakan selesai dengan status hijau sekitar pukul 22.00 WIB,” ujarnya.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Gulkarmat DKI Jakarta juga mengimbau para pengelola gedung dan media reklame elektronik untuk rutin melakukan pemeriksaan instalasi listrik guna mencegah kejadian serupa.
Sebelumnya, Command Center Dinas Gulkarmat Jakarta Pusat menerima laporan kebakaran papan reklame di kawasan Jalan M.H. Thamrin, tepatnya di samping Mal Sarinah, pada Minggu malam.
Objek yang terbakar merupakan papan reklame dengan klasifikasi bangunan rendah (BR).
-
/data/photo/2025/12/28/69514ab1a34e0.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
9 Kronologi Kebakaran Papan Reklame di Mal Sarinah Megapolitan
Kronologi Kebakaran Papan Reklame di Mal Sarinah
Editor
JAKARTA, KOMPAS.com
– Papan reklame elektronik atau billboard yang terpasang di kawasan Mal Sarinah, Jalan MH Thamrin, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, terbakar pada Minggu (28/12/2025) malam.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh seorang petugas parkir yang melihat api muncul pada papan reklame yang menampilkan ucapan Selamat Natal. Temuan itu kemudian segera dilaporkan kepada petugas keamanan gedung.
“Yang terbakar baliho ‘Selamat Natal’ yang melihat pertama kali melihat saksi mata dari petugas parkir,” kata Perwira Piket Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat, Mohammad Amin, Minggu, dikutip dari
TribunJakarta.com
.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak pengelola gedung langsung berkoordinasi untuk melakukan penanganan awal di lokasi kejadian.
“Petugas parkir lalu berkoordinasi ke sekuriti gedung untuk melaksanakan pemadaman,” ujar Amin.
Upaya pemadaman awal itu membuat api berhasil dikendalikan sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Meski api telah padam,
Gulkarmat Jakarta Pusat
tetap menerjunkan personel untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi menyala kembali.
Sebanyak 32 personel dengan delapan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kejadian sebagai langkah antisipasi lanjutan.
Akibat kejadian tersebut, area yang terdampak kebakaran diperkirakan seluas 1 x 5 meter dengan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 10 juta.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa kebakaran papan reklame tersebut.
Amin menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kebakaran papan reklame elektronik di kawasan Sarinah tersebut diduga dipicu gangguan kelistrikan.
“Diduga karena fenomena kelistrikan,” ucap Amin.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452742/original/073805000_1766457064-1000186460.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Gedung Sarinah Beroperasi Normal Hari Ini 29 Desember 2025 Setelah Kebakaran
Liputan6.com, Jakarta – PT Sarinah memastikan operasional tetap berjalan normal pada Senin, 29 Desember 2025. Menyusul adanya kebakaran gedung Sarinah pada bagian reklame sisi luar bangunan. Kebakaran terjadi pada Minggu, 28 Desember 2025 malam sekitar pukul 21.08 WIB. Api berhasil dipadamkan dalam 12 menit menggunakan fasilitas hydrant Gedung Sarinah.
Manajemen memastikan Sarinah beroperasi normal pada hari ini. “Operasional Sarinah tidak terganggu dan tetap beroperasi seperti biasa pada keesokan hari (Senin, 29 Desember 2025),” tulis pengumuman resmi Sarinah, melalui akun Instagram resmi, Senin (29/12/2025).
Pengelola Sarinah langsung melakukan pengecekan menyeluruh, termasuk evaluasi lanjutan untuk memastikan kondisi keamanan gedung.
“Serta untuk mengetahui penyebab insiden tersebut, dengan menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang,” sambung pernyataan tersebut.
Informasi selanjutnya akan disampaikan melalui kanal komunikasi resmi Sarinah.
Tidak Ada Korban
Manajemen menuturkan kronologi kebakaran bagian gedung Sarinah. Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, sekitar pukul 21.08 WIB, telah terjadi insiden kebakaran pada dekorasi pita di area fasad luar Gedung Sarinah Thamrin.
Api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 21.20 WIB dengan memanfaatkan fasilitas hydrant yang tersedia di area gedung.
“Penanganan segera dilakukan oleh tim internal Sarinah sesuai dengan prosedur keselamatan dan keamanan yang berlaku, serta berkoordinasi dengan pihak berwenang. Dalam insiden ini tidak terdapat korban jiwa,” seperti dikutip.
-
/data/photo/2025/12/28/69514ab1a34e0.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
10 Papan Reklame di Mal Sarinah Terbakar, Api Sudah Dipadamkan Megapolitan
Papan Reklame di Mal Sarinah Terbakar, Api Sudah Dipadamkan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Kebakaran terjadi pada sebuah papan reklame atau billboard di Mal Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (28/12/2025) malam.
Command Center Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat)
DKI Jakarta
mencatat laporan kebakaran tersebut diterima sekitar pukul 21.30 WIB setelah adanya laporan dari masyarakat.
“Objek yang terbakar berupa papan reklame di area bangunan rendah di kawasan
Jalan MH Thamrin
,” demikian keterangan Command Center Gulkarmat DKI Jakarta, Minggu malam.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Gulkarmat Jakarta Pusat langsung melakukan pengerahan awal dari Pos TIM dengan pola 1.13.3 menggunakan sistem tekanan sedang (medium pressure).
Namun, sebelum petugas pemadam melakukan penanganan lanjutan, api dilaporkan telah dipadamkan oleh petugas internal
Mal Sarinah
.
“Api sudah dapat diatasi oleh petugas Mall Sarinah,” lanjut keterangan Command Center Gulkarmat DKI Jakarta.
Dari video yang beredar di Instagram @warungjurnalis terlihat kepulan api dan asap membubung di sekitar area papan reklame dan menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di Jalan MH Thamrin.
Tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.
Command Center Gulkarmat DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kejadian kebakaran melalui layanan darurat 112 agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan mencegah meluasnya api.
Hingga berita ini diturunkan,
Kompas.com
sudah menghubungi Gulkramat Jakarta Pusat namun belum mendapatkan informasi penyebab kebakaran papan reklame.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Narasi Gorong-gorong Disentil Lagi, Dian Sandi Utama Beri Jawaban Telak
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Juru Bicara PSI, Dian Sandi Utama, memberikan respons telak terhadap serangan warganet yang kembali mengungkit narasi “gorong-gorong” untuk menyudutkan Presiden ke-7 RI, Jokowi.
Perdebatan itu terjadi di platform X setelah sebuah unggahan menyinggung kembali momen Jokowi yang masuk gorong-gorong di kawasan MH Thamrin, Jakarta, 13 tahun silam.
Narasi tersebut kerap digunakan sebagian pihak untuk mengejek gaya kepemimpinan Jokowi di masa lalu.
Menanggapi hal itu, Dian Sandi Utama justru membalikkan serangan dengan menyebut sejumlah capaian pembangunan yang berangkat dari kebijakan era Jokowi.
Dalam cuitannya, Dian menyebut bahwa dari kebijakan tersebut, berbagai sektor mengalami perubahan signifikan.
“Iya, dari sini anggaran Dana Desa jadi bermilyar-miliyaran pertahun,” ujar Dian di X @DianSandiU (28/12/2025).
Bukan hanya itu, kata Dian, kebijakan Jokowi juga mempersembahkan jalan tol sehingga akses darat lebih mudah bagi pengendara.
“Jalan Nasional terbangun, libur lebaran-tahun baru tidak macet lagi,” sebutnya.
Alih-alih terpancing, Dian memilih membeberkan dampak kebijakan yang dinilainya nyata dan terukur.
“Dari sini sirkuit, transportasi dan fasilitas2 kelas internasional terbangun. Dari sini Indonesia jadi disegani Dunia!,” tandasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi jawaban atas komentar pengguna X bernama Raisa Tjokrodinata yang menyindir Jokowi.
“Memang biang kerok itu berawal dari gorong-gorong,” kata Raisa. (Muhsin/fajar)
/data/photo/2025/12/29/695236df89fd5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/29/6952231dbd79b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)