Tag: Taylor Swift

  • Beyonce Resmi Jadi Miliarder, Ikuti Jejak Jay Z hingga Taylor Swift

    Beyonce Resmi Jadi Miliarder, Ikuti Jejak Jay Z hingga Taylor Swift

    Kepemilikan penuh atas katalog lagunya dan pendapatan tur stadion berskala global menjadi tulang punggung finansialnya.Dalam industri hiburan, musisi yang mampu menjual habis konser stadion merupakan aset paling menguntungkan.

    Tren pasca pandemi menunjukkan pendapatan artis kini didominasi pertunjukan langsung, bahkan bisa mencapai 90 persen dari total pemasukan tahunan. Beyonce termasuk pionir dalam model mini residency, dengan menggelar konser di beberapa stadion besar selama beberapa hari berturut-turut untuk menekan biaya logistik dan memaksimalkan keuntungan.

    Cowboy Carter Tour mencerminkan skala bisnis tersebut. Tur ini melibatkan lebih dari 350 kru, ratusan truk logistik, hingga pesawat kargo untuk memindahkan perlengkapan panggung antar kota. Produksinya spektakuler, mulai dari mobil terbang, lengan robot, banteng mekanik emas, hingga penampilan tamu spesial dari keluarga dan mantan personel Destiny’s Child.

    Menurut Pollstar, tur ini meraup lebih dari 400 juta dolar AS dari penjualan tiket, ditambah sekitar 50 juta dolar AS dari penjualan merchandise.

    Dengan Parkwood sebagai produser utama, margin keuntungan Beyonce tercatat jauh lebih tinggi dibanding tur konvensional. Jika digabungkan dengan pendapatan katalog musik dan kontrak iklan, Forbes memperkirakan Beyonce mengantongi  USD 148 juta atau Rp 2,48 triliun pada 2025 sebelum pajak, menjadikannya musisi dengan bayaran tertinggi ketiga di dunia tahun ini.

     

     

  • 71 Miliarder di Bawah 40 Tahun, Separuh Kekayaan Datang dari AI

    71 Miliarder di Bawah 40 Tahun, Separuh Kekayaan Datang dari AI

    Penyanyi dunia Taylor Swift (36) dan Rihanna (37), misalnya, tidak masuk daftar 40 besar karena kekayaan mereka berada di bawah ambang USD 1,8 miliar. Sebaliknya, miliarder termuda justru datang dari dunia AI, seperti tiga pendiri startup Mercor yang baru berusia 22 tahun.

    Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan besar di usia muda tidak selalu menjamin keberlanjutan. Forbes mencatat, tidak semua miliarder muda akan mengikuti jejak panjang Mark Zuckerberg, Michael Dell, atau Sergey Brin. Beberapa justru tumbang akibat masalah tata kelola, etika, hingga hukum, seperti kasus Sam Bankman Fried dari FTX.

    Satu hal yang pasti, booming AI telah mengubah ekonomi global. Generasi baru miliarder tidak lagi menunggu puluhan tahun untuk membangun kerajaan bisnis. Dengan teknologi, akses modal, dan skala global, kekayaan bisa tercipta dalam hitungan tahun bahkan sebelum usia 30.

    Ke depan, publik dunia bisnis akan menyaksikan siapa yang mampu bertahan, berkembang, dan membangun nilai jangka panjang, serta siapa yang hanya menjadi bintang sesaat di era emas kecerdasan buatan.

  • Mariah Carey Catat Rekor Baru di Tangga Lagu lewat All I Want for Christmas Is You

    Mariah Carey Catat Rekor Baru di Tangga Lagu lewat All I Want for Christmas Is You

    JAKARTA – Diva pop dunia, Mariah Carey, kembali membuktikan tajinya sebagai ratu musim dingin yang tak tergoyahkan.

    Melalui lagu legendarisnya yang dirilis tahun 1994, “All I Want for Christmas Is You”, Carey baru saja mengukir sejarah baru dengan memecahkan rekor kepemimpinan terlama di puncak tangga lagu Billboard Hot 100.

    Data terbaru Billboard mengungkap lagu bertema Natal tersebut kini telah resmi bertakhta selama 20 minggu di posisi nomor satu.

    Capaian ini membuat Mariah Carey sukses menggeser dominasi yang sebelumnya dipegang oleh Lil Nas X lewat lagu “Old Town Road” (feat. Billy Ray Cyrus) dan lagu hits milik Shaboozey, “A Bar Song (Tipsy)”. Kedua lagu ini sebelumnya memegang rekor bersama dengan catatan 19 minggu di posisi puncak.

    Tidak hanya itu, “All I Want for Christmas Is You” kini tercatat telah berada di tangga lagu Hot 100 selama 77 minggu, yang sekaligus menyamai rekor lagu “Levitating” milik Dua Lipa sebagai lagu oleh solois perempuan dengan durasi terlama di tangga lagu sepanjang sejarah.

    Ini bukanlah kali pertama bagi Mariah Carey mencatatkan tinta emas di Billboard. Jauh sebelumnya, pada tahun 1995, kolaborasinya bersama Boyz II Men di lagu “One Sweet Day” juga sempat mendominasi dengan menghabiskan 16 minggu di posisi teratas dan memegang rekor tersebut selama 23 tahun sebelum akhirnya dipecahkan.

    Adapun dominasi lagu-lagu bertema Natal sangat terasa pada periode Desember, di mana delapan dari sepuluh besar tangga lagu Hot 100 dikuasai oleh tembang liburan.

    Mengekor di belakang Carey, terdapat lagu klasik Brenda Lee, “Rockin’ Around the Christmas Tree” di posisi kedua, diikuti oleh “Last Christmas” milik Wham!, “Jingle Bell Rock” dari Bobby Helms, serta lagu Ariana Grande yang berjudul “Santa Tell Me”.

    Di tengah gempuran lagu-lagu musiman tersebut, hanya ada dua lagu non-Natal yang mampu bertahan di jajaran teratas, yakni “Golden” milik Huntrx di urutan keenam dan “The Fate of Ophelia” dari Taylor Swift di posisi ketujuh.

    Meski persaingan lagu tunggal didominasi nuansa Natal, Taylor Swift masih menunjukkan kedigdayaannya di tangga album Billboard 200. Album teranyarnya, “The Life of a Showgirl”, berhasil mempertahankan posisi puncak selama sembilan minggu berturut-turut, menahan serbuan album-album Natal seperti milik Michael Bublé, Bing Crosby, hingga Nat King Cole yang merangkak naik di sepuluh besar.

    Fenomena ini mempertegas posisi Mariah Carey dan Taylor Swift sebagai dua kekuatan besar yang tetap relevan di industri musik global meskipun tren pasar sedang mengalami pergeseran musim.

  • Taylor Swift Guyur Bonus Rp 3,2 T untuk Kru Tur Eras

    Taylor Swift Guyur Bonus Rp 3,2 T untuk Kru Tur Eras

    Arizona, Beritasatu.com — Taylor Swift kembali mencatatkan sejarah, bukan hanya lewat pencapaian musik, tetapi juga lewat cara ia menghargai orang-orang di balik panggung. Usai menuntaskan rangkaian tur dunia The Eras Tour selama hampir dua tahun, Swift mengucurkan bonus bernilai fantastis kepada seluruh kru konser yang telah bekerja mendampinginya dari awal hingga akhir.

    Mengutip laporan People Magazine, Sabtu (13/12/2025), penyanyi asal Amerika Serikat itu memberikan bonus total sebesar US$ 197 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun. Bonus tersebut dibagikan kepada seluruh tim tur tanpa terkecuali, mulai dari pengemudi truk logistik, petugas katering, teknisi suara, tim pencahayaan, penata busana, penata rias, tim video, penari, band pengiring, hingga aparat keamanan dan kru kembang api.

    Langkah ini kembali menegaskan reputasi Taylor Swift sebagai musisi global yang dikenal menjunjung tinggi etos kerja dan solidaritas tim. Di industri hiburan yang kerap menyorot gemerlap panggung, Swift justru menempatkan para pekerja di balik layar sebagai bagian penting dari kesuksesan tur.

    Apresiasi yang Konsisten Sejak Awal Tur

    Pemberian bonus ini bukanlah yang pertama. Pada Agustus 2023, setelah menyelesaikan fase awal tur di Amerika Utara, Taylor Swift diketahui telah menggelontorkan bonus lebih dari US$55 juta kepada seluruh kru. Konsistensi ini menunjukkan bahwa apresiasi tersebut bukan sekadar strategi citra, melainkan komitmen personal.

    The Eras Tour sendiri dimulai di Glendale, Arizona, pada Maret 2023 dan resmi berakhir pada 8 Desember 2025 di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada. Tur ini mencakup 149 pertunjukan di berbagai benua dan menjadi salah satu perjalanan konser terpanjang dalam sejarah musik modern.

    Menurut data yang disampaikan perusahaan produksi Taylor Swift Touring kepada The New York Times, total penonton konser mencapai 10.168.008 orang. Sementara itu, penjualan tiket menembus angka US$ 2,077 miliar, menjadikan The Eras Tour sebagai tur konser terlaris sepanjang masa.

    Lebih dari Sekadar Angka Fantastis

    Bagi Taylor Swift, bonus triliunan rupiah tersebut bukan hanya soal angka, melainkan bentuk penghargaan atas dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan tim yang memastikan setiap pertunjukan berjalan sempurna.

    Taylor menegaskan bahwa keberhasilan tur ini tidak mungkin tercapai tanpa kontribusi kolektif semua pihak. Selama dua tahun penuh, para kru harus berpindah kota dan negara, bekerja dengan jadwal ketat, serta menghadapi tekanan tinggi demi menghadirkan pengalaman konser terbaik bagi jutaan penggemarnya.

    Langkah Taylor Swift ini pun mendapat sorotan luas dan dianggap sebagai standar baru dalam industri hiburan global, terutama terkait kesejahteraan pekerja kreatif dan teknis.

    Di tengah maraknya isu ketimpangan industri musik, aksi Taylor Swift menjadi contoh konkret bagaimana kesuksesan besar dapat dibagikan secara adil kepada mereka yang berperan di balik layar.

  • Salip Taylor Swift, Mantan Balerina Ini Jadi Miliader Termuda di Dunia

    Salip Taylor Swift, Mantan Balerina Ini Jadi Miliader Termuda di Dunia

    Brasil, Beritasatu.com – Seorang mantan balerina berusia 29 tahun dari Brasil, Luana Lopes dinobatkan sebagai self-made miliarder wanita termuda di dunia alias menjadi miliader dengan merintis usahanya sendiri. Ia berhasil menggeser Taylor Swift dan pengusaha di bidang artificial intelligence (AI) Lucy Guo. 

    Mengutip The Sun, Sabtu (6/12/2025) Luana yang baru 29 tahun, merupakan salah satu pendiri platform pasar prediksi fintech, Kalshi. Menurut laporan Forbes, kekayaannya melonjak menjadi sekitar US$ 1,3 miliar setelah perusahaannya mencapai valuasi US$ 11 miliar. 

    Sebelumnya, Luana menekuni dunia balet secara profesional di Austria selama sembilan bulan setelah belajar di sekolah Teater Bolshoi Brasil. Namun, ia kemudian beralih ke ilmu komputer dengan mendaftar kuliah universitas nomor satu dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT), di mana ia bertemu dengan Tarek Mansour yang kemudian menjadi rekan bisnisnya. 

    Setelah sempat magang di Wall Street, keduanya mendirikan Kalshi pada 2018 dengan target ingin menciptakan pasar yang diatur untuk bertaruh pada hasil. Popularitas Kalshi sebagai perusahaan melejit pada 2024 ketika pengguna bertaruh lebih dari US$ 500 juta terkait hasil pemilu pemilihan presiden Amerika Serikat.

    Kesuksesan Kalshi menempatkan perusahaan ini di atas pesaing utamanya, Polymarket, yang memiliki valuasi US$ 9 miliar dolar AS. Dengan kepemilikan sekitar 12% saham, kekayaan bersih Luana kini diperkirakan mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 21, 6 triliun. 

    Dengan nilai kekayaan bersih yang fantastis tersebut, Forbes mengonfirmasi Luana menjadi perempuan termuda di dunia yang berhasil menghasilkan US$ 1 miliar menggeser nilai kekayaan Kylie Jenner pada 2019 dan juga Taylor Swift yang kekayaan bersihnya meningkat berkat konser tur dunianya. 

  • Jangan Tertipu Investasi Bodong Kuras Rekening, Kenali Tandanya

    Jangan Tertipu Investasi Bodong Kuras Rekening, Kenali Tandanya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Teknologi kecerdasan buatan (AI) mempermudah para penipu online untuk menciptakan konten palsu dan menjerat korban. Laporan terbaru dari firma keamanan siber McAfee menemukan banyak warga Amerika Serikat (AS), yakni sebesar 72%, yang pernah terpapar konten penipuan yang menyamar sebagai selebritas atau figur publik terkenal yang mendukung investasi kripto bodong.

    Salah satunya yang paling sering digunakan adalah identitas penyanyi Taylor Swift. Selain itu juga Scarlett Johansson, Jenna Ortega, dan Sydney Sweeney.

    ‘Top 10’ figur publik yang paling banyak dicuri identitasnya untuk menipu korban didominasi penyanyi dan ikon budaya populer, termasuk Sabrian Carpenter, Kim Kardashian, dan Zendaya. Anggota DPR AS Alexandria Oscasio-Cortez adalah satu-satunya politikus yang masuk dalam daftar.

    Laporan McAfee berfokus pada penipuan online berbasis produk yang ditujukan kepada konsumen, seperti kripto palsu yang mengklaim didukung oleh AOC. Studi ini tidak mengukur tingkat semua deepfake yang dibuat, sehingga tokoh-tokoh penting lainnya, seperti Presiden AS Donald Trump, tidak masuk dalam daftar ‘Top 10’.

    Penipu internet semacam ini mengandalkan interaksi dengan orang-orang melalui konten mereka, entah itu dengan mengeklik tautan palsu, mengajukan hadiah palsu, atau membeli produk palsu, dikutip dari Cnet, Jumat (14/11/2025).

    Jadi, masuk akal jika mereka mengandalkan nama-nama besar seperti Swift untuk menarik perhatian korban. Misalnya, ketika Swift mengumumkan pertunangannya dengan Travis Kelce, para penipu membuat iklan barang dagangan palsu berdasarkan lamaran Kelce.

    Selebritas dan influencer telah lama dieksploitasi dengan cara ini, tetapi AI justru memberikan keuntungan lebih yang mempermudah para pelaku kejahatan.

    Tool AI generatif seperti generator gambar, video, dan audio menawarkan jalur baru bagi pelaku kejahatan melancarkan aksinya. Tool tersebut dapat mengkloning foto selebritas untuk membuat endorsement palsu, giveaway, atau mempromosikan produk palsu.

    Penipu hanya perlu membuat unggahan media sosial yang cukup meyakinkan. Cara ini cukup berhasil. McAfee melaporkan bahwa 39% orang telah mengklik salah satu endorsement palsu ini dan 10% telah mempertaruhkan informasi pribadi mereka dan kehilangan ratusan dolar, rata-rata US$525 atau setara Rp8 jutaan.

    Perusahaan AI yang menciptakan model AI ini memiliki sistem untuk mencegah penipu, atau siapa pun, membuat konten AI tentang selebritas tanpa persetujuan mereka. Namun, sistem ini tidak sempurna dan dapat diakali.

    Dalam beberapa minggu pertama setelah peluncuran Sora, perwakilan pemimpin hak-hak sipil Martin Luther King Jr. harus menghubungi OpenAI karena khawatir akan banyaknya video AI King yang tidak pantas dan rasis di platform tersebut.

    Meskipun OpenAI telah menyatakan rencananya untuk bekerja sama dengan para aktor dan selebritas, tetapi tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada hanya dengan penyesuaian teknis atau kebijakan sederhana.

    Cara Mendeteksi Penipuan Menyamar Jadi Selebritas

    Amati video atau gambar dengan saksama. Apakah ada objek yang menghilang dan muncul kembali? Apakah mematuhi hukum fisika? Apakah orang-orangnya tampak berkilau aneh, seperti plastik? Itu semua adalah tanda-tanda AI.
    Periksa watermark. Banyak generator AI akan otomatis menambahkan watermark transparan (atau tertanam) yang menandakan konten dibuat dengan AI.
    Pastikan Instagram, TikTok, atau YouTube belum memberi label postingan tersebut sebagai buatan AI. Label AI apa pun merupakan tanda yang jelas bahwa apa yang Anda lihat tidak nyata.

    Cara Terhindar dari Penipuan Online Penguras Rekening

    Pikirkan sebelum mengklik apapun di internet. Penipuan dirancang untuk menciptakan rasa urgensi atau reaksi emosional, kata Karnik.
    Periksa sumbernya. Apakah tautannya salah eja atau cacat? Apakah akun selebritas resmi telah memposting tentang produk tersebut? Apakah akunnya terverifikasi? Semua ini dapat membantu Anda membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
    Waspadai situs yang meminta pembayaran melalui kripto, aplikasi pembayaran seperti Venmo, atau sumber tidak resmi lainnya.

    Semoga informasi ini membantu!

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Taylor Swift Bocorkan Alasan Tolak Super Bowl, Bukan Karena Travis Kelce

    Taylor Swift Bocorkan Alasan Tolak Super Bowl, Bukan Karena Travis Kelce

    JAKARTA – Taylor Swift merespons kabar ia menolak tawaran untuk tampil di Super Bowl’s Halftime Show. Ia bertunangan dengan Travis Kelce, salah satu atlet NFL dan Swift disebut sebagai salah satu faktor yang membuat Super Bowl tahun lalu menjadi acara yang paling banyak ditonton.

    Taylor Swift dirumorkan menjadi penampil sebelum akhirnya Bad Bunny terungkap sebagai penampil utama. Komisioner NFL, Roger Goodell menyatakan mereka sangat terbuka kapan pun Taylor Swift ingin tampil di Super Bowl.

    Saat tampil di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, Taylor Swift menjelaskan alasan ia menolak tampil di Super Bowl tidak berkaitan dengan Travis Kelce atau siapa pun. Ia juga tidak punya masalah dengan rapper Jay-Z yang mana pemilik perusahaan Roc Nation yang menyelenggarakan Super Bowl.

    “Begini, Jay-Z selalu baik dengan saya, dan tim kami sangat dekat,” jelas Taylor Swift.

    “Tapi tidak pernah ada tawaran resmi atau pembicaraan konferensi, tapi lebih ke “Bagaimana tentang Super Bowl secara umum? Dan kami selalu memberi tahu dia kalau saya jatuh cinta dengan pria yang memainkan olahraga di bidang itu,” jelasnya.

    Lebih lanjut, ia tidak ingin terbagi dua fokus antara Travis atau fokus dengan penampilannya. Ia juga menekankan Travis tidak berkaitan dengan keputusannya.

    “Apa kalian bisa membayangkan jika main setiap pekan, mempertaruhkan hidupnya melakukan olahraga ini dan saya berpikir “Koreografiku seperti apa ya? Kita harus tampil Shake It Up, Blank Space atau Cruel Summer” Ini tidak ada hubungannya dengan Travis,” kata Taylor Swift.

    “Dia mau saya melakukannya tapi saya terlalu fokus dengan permainannya,” katanya.

    Ini bukan pertama kalinya Taylor Swift dikaitkan dengan Super Bowl. Sebelum mulai berhubungan dengan Travis Kelce, Swift disebut menolak undangan penampilan pada tahun 2023 karena fokus dengan merekam ulang katalognya.

  • Travis Kelce Kenalkan Taylor Swift Sebagai Tunangan: Masih Merinding

    Travis Kelce Kenalkan Taylor Swift Sebagai Tunangan: Masih Merinding

    JAKARTA – Travis Kelce bicara untuk pertama kalinya mengenai pertunangannya dengan Taylor Swift setelah mengumumkannya pada pekan lalu. Melalui siniar New Heights, Kelce merasa berterima kasih atas ucapan dan antusias publik.

    Jason Kelce selaku kakak Travis memulainya dengan berkata, “Kalau kalian melewatkan unggahan Instagram di seluruh dunia, Travis dan Taylor tunangan! Yay!”

    “Benar, benar. Dan saya terima kasih semua yang menghubungi saya dan mengirimkan saya pesan dengan segala keseruannya. Rasanya menyenangkan memberi tahu semua orang siapa sosok yang akan menemani saya di sisa hidup saya,” jawab Travis sambil tersenyum.

    Travis mengaku merasa situasinya berubah terutama ketika mereka menghadiri pertandingan Cincinnati Bearcats padan pekan lalu.

    “Saya merasakan itu sebenarnya. Ini pertama kalinya memperkenalkan Taylor sebagai tunangan saya ke beberapa rekan tim. Jadi rasanya keren,” jelas Travis.

    “Kamu merinding gak pas bilangnya?” tanya Jason.

    “Iya, masih, masih ada rasa merinding tapi senang,” kata Travis.

    Taylor Swift dan Travis Kelce mengumumkan pertunangan mereka pada 26 Agustus di mana Travis melamar Taylor di sebuah taman.

    Pertunangan itu dibagikan beberapa minggu setelah Taylor menjadi tamu dalam siniar New Heights milik Travis dan Jason Kelce.

  • Top 3 Tekno: CEO Grab Anthony Tan Peluk Keluarga Ojol Makassar yang Tewas Dikeroyok Massa – Page 3

    Top 3 Tekno: CEO Grab Anthony Tan Peluk Keluarga Ojol Makassar yang Tewas Dikeroyok Massa – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, yang datang langsung dari Singapura untuk memeluk keluarga ojol yang tewas akibat dikeroyok massa di Makassar, menuai perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (1/9/2025).

    Berita lain yang juga populer datang dari chatbot ‘mesum’ berwajah Taylor Swift hingga Scarlett Johansson yang muncul di platform Meta tanpa izin.

    Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

    1. Datang dari Singapura, CEO Grab Anthony Tan Peluk Keluarga Ojol Tewas Dikeroyok Massa di Makassar 

    Tangis duka masih menyelimuti rumah keluarga Rusdamdiansyah alias Dandi (25), mitra pengemudi ojek online (ojol) yang meregang nyawa usai dikeroyok massa saat kericuhan di Kota Makassar.

    Di tengah suasana haru itu, CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, datang langsung dari Singapura untuk memeluk keluarga dan menyampaikan belasungkawa pada Senin (1/9/2025).

    “Tidak banyak yang bisa saya katakan, selain perlindungan terdalam terhadap keluarga. Tidak ada yang pantas mengalaminya,” ucap CEO Grab dengan suara bergetar.

    “Dandi bersama kami selama 7 tahun. Ia bukan hanya mitra baik, tetapi juga pribadi hangat dan penuh semangat. Kami sangat berduka kehilangan orang sebaik dia,” tambahnya.

    Anthony menegaskan, kehadirannya di rumah duka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata komitmen Grab untuk berdiri bersama mitra. Ia memastikan keluarga yang ditinggalkan tidak akan berjalan sendirian.

    Baca selengkapnya di sini

     

  • Chatbot ‘Mesum’ Berwajah Taylor Swift hingga Scarlett Johansson Muncul di Platform Meta Tanpa Izin! – Page 3

    Chatbot ‘Mesum’ Berwajah Taylor Swift hingga Scarlett Johansson Muncul di Platform Meta Tanpa Izin! – Page 3

    Munculnya skandal ini membuka sebuah babak baru dalam diskusi global mengenai keamanan privasi, hak atas citra diri, dan ancaman pelecehan seksual dalam ranah digital.

    Pada dasarnya, sebuah diskusi tidak akan memanas tanpa hadirnya implementasi nyata dari permasalahan. Oleh karena itu, peniruan dan pelecehan ini menjadi sebuah pelanggaran serius terhadap fundamental privasi.

    Figur publik sekali pun tetap memiliki hak prerogatif untuk mengontrol bagaimana wajah serta identitas mereka digunakan oleh pihak lain, terutama untuk tujuan komersial.

    Penciptaan citra palsu tanpa adanya izin tidak hanya merugikan, tetapi juga berpotensi menyebabkan kerusakan reputasi permanen bagi para korbannya.

    Pada akhirnya, banyak ahli hukum menyoroti adanya kekosongan regulasi ketat untuk mengatasi model kejahatan digital baru dan canggih semacam ini.

    Akibatnya, korban seringkali dibiarkan tanpa mekanisme perlindungan hukum yang cepat dan tepat untuk merespons serangan terhadap citra diri mereka.