Dari Dinasti Jadi Korupsi, Ini 8 Kepala Daerah yang Terjerat Korupsi Bersama Keluarganya
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Dari dinasti jadi korupsi, kasus maling uang rakyat yang melibatkan keluarga kepala daerah kembali terulang.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap
Bupati Bekasi
Ade Kuswara Kunang bersama ayahnya, HM Kunang, karena diduga terlibat dalam praktik ijon pengadaan proyek di lingkungan Pemkab Bekasi.
Mereka berdua disebut menerima aliran dana sebesar Rp 14,2 miliar dari proyek yang belum ada sehingga ditetapkan sebagai kasus korupsi.
KPK menduga, seorang pengusaha swasta bernama Sarjan telah empat kali menyetor duit ijon kepada Ade dan bapaknya.
“Adapun total ijon yang diberikan oleh SRJ (Sarjan) kepada ADK (Ade) bersama HMK (Kunang) mencapai Rp 9,5 miliar, pemberian uang dilakukan dalam empat kali penyerahan melalui para perantara,” kata Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, Sabtu (20/12/2025) pagi.
Selain dari Sarjan, Ade Kuswara bersama ayahnya juga diduga menerima uang dari pihak lain sebesar Rp 4,7 miliar sehingga total duit aliran ijon yang mereka kumpulkan mencapai Rp 14,2 miliar.
Praktik korupsi keluarga atau dinasti yang dilakukan Ade dan ayahnya menambah panjang daftar kasus korupsi yang menjerat kepala daerah beserta keluarganya.
Catatan
Kompas.com
, setidaknya ada tujuh kasus korupsi yang dilakukan oleh keluarga kepala daerah di sejumlah daerah di Indonesia.
Pada Oktober 2014, KPK menetapkan Bupati Karawang Ade Swara dan istrinya Nurlatifah sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Penetapan Ade dan Nurlatifah sebagai tersangka TPPU merupakan hasil pengembangan penyidikan kasus dugaan pemerasan yang dilakukan keduanya terhadap PT Tatar Kertabumi terkait izin pembangunan mal di Karawang.
Keduanya diduga memeras PT Tatar Kertabumi yang ingin meminta izin untuk pembangunan mal di Karawang.
Mereka diduga meminta uang Rp 5 miliar kepada PT Tatar Kertabumi untuk penerbitan surat izin tersebut.
Uang itu akhirnya diberikan dalam bentuk dollar berjumlah 424.329 dollar Amerika Serikat.
Pada 2015, KPK menciduk Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Aljufri, bersama istrinya Suzanna.
Keduanya saat itu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar terkait sengketa pemilihan kepala daerah.
KPK menetapkan pasangan suami-istri tersebut sebagai tersangka pada 25 Juni 2015 setelah melakukan pengembangan atas putusan akhir Akil yang telah berkekuatan hukum tetap.
Berdasarkan putusan tersebut, Akil terbukti menerima suap sebesar Rp 10 miliar dan 500.000 dollar AS terkait pengurusan sengketa Pilkada Empat Lawang.
Tak hanya itu, keduanya juga diduga memberi keterangan palsu dalam sidang Akil di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Budi Antoni dan Suzanna diduga memberi keterangan yang tidak benar dalam sidang Akil.
Setahun kemudian, KPK kembali menangkap korupsi yang dilakukan kepala daerah dan keluarganya.
Kali ini, Wali Kota Cimahi Atty Suharti dan suaminya M Itoc Tochija ditetapkan sebagai tersangka pada Desember 2016 dalam kasus suap pembangunan tahap dua Pasar Atas Baru Cimahi.
Para penyuap menginginkan ditunjuk sebagai kontraktor proyek pembangunan pasar tersebut dengan nilai Rp 57 miliar.
Setelah anak dan ayah, suami dan istri, KPK juga menangkap korupsi dari keluarga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dalam kasus pengadaan alat kesehatan.
Penetapan kasus korupsi dinasti Ratu Atut ini menyeret adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dengan dakwaan memperkaya diri sebesar Rp 7,9 miliar dari kasus tersebut.
Tak hanya korupsi pengadaan alat, mereka berdua juga terlibat dalam kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah di MK saat diketuai Akil Mochtar.
KPK juga menetapkan Bupati Kutai Timur Ismunandar dan istrinya Encek Unguria sebagai tersangka pada Juli 2020.
Mereka berdua diciduk lembaga anti rasuah tersebut dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Kabupaten Kutai Timur.
Ismunandar ditangkap bersama tiga anak buahnya di birokrasi, yakni Kepala Badan Pendapatan Daerah Kutai Timur Musyaffa, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kutai Timur Suriansyah, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutai Timur Aswandini.
Sementara, pemberi suap adalah seorang kontraktor bernama Aditya Maharani dan seorang rekanan proyek bernama Deky Aryanto yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
Dinasti korupsi ayah dan anak juga terjadi pada Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna yang menyeret anaknya, Andri Wibawa.
Peran ayah-anak ini berbeda.
Aa Umbara sebagai pihak pemerintah yang mengatur pengadaan tanggap darurat bencana nasional pandemi COVID-19, sedangkan anaknya sebagai pihak swasta yang hendak melakukan pengadaan.
Andri Wibawa diketahui berstatus pemilik PT Jagat Dir Gantara, salah satu dari dua pihak swasta yang ditetapkan sebagai tersangka.
Ayah dan anak yang terlibat korupsi juga datang dari Sumatera Selatan.
Namun perbedaannya, ayah dan anak ini tidak terlibat dalam satu kasus korupsi yang sama.
Eks Gubernur Sumsel Alex Noerdin ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung terkait pembelian gas bumi oleh Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Sumatera Selatan tahun 2010-2019 dan kasus pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang.
Sedangkan anaknya, Dodi Reza Alex Noerdin yang menjabat Bupati Musi Banyuasin ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur kabupaten tersebut.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Suzanna
-

Luna Maya Blak-blakan Mengaku Pilih Tunda Punya Anak
Jakarta, Beritasatu.com-Luna Maya akhirnya buka suara terkait pertanyaan soal kapan memiliki keturunan yang kerap dilontarkan banyak netizen kepadanya, seusai dirinya resmi menikah dengan aktor Maxime Bouttier.
Secara blak-blakan, aktris dan model top tersebut mengaku untuk saat ini ia dan Maxime masih menunda untuk memiliki anak.
“Sebenarnya siap-siap saja kalau dikasih, tetapi jujur gue menunda (punya anak),” ujar Luna, dikutip dari kanal YouTube Comic 8 Revolution, Kamis (24/7/2025).
Luna menegaskan, untuk saat ini ia pribadi belum siap secara mental untuk menjalani kehamilan, melahirkan dan menjadi seorang ibu.
“Gue pengin punya anak di saat gue sudah siap secara mental. Di saat gue sudah oke tubuh ini akan mengandung dan membawa nyawa baru, siap menjadikan janin tersebut berkualitas dia tahu kedua orang tuanya sangat menantikan kehadiran dia dan bahagia,”tambahnya.
Tak lupa, kepada para netizen, pemeran Suzanna tersebut meminta publik untuk menghargai keputusannya menunda memiliki anak saat ini.
“Kepada para netizen yang budiman, tolong juga hargai waktu dan keputusan aku,” tandas Luna.
-

Asri Welas Sebut 17 Tahun Hidup Sendiri, Mantan Suami: Cobalah Bijak dalam Berkomentar
Jakarta, Beritasatu.com – Mantan suami Asri Welas, Galiech Ridha Rahardja membantah tuduhan yang dilontarkan Asri Welas yang menyebut selama 17 tahun hidup sendiri.
“Cobalah untuk lebih bijak dalam berkomentar,” ucap Galiech Ridha Rahardja dikutip dari channel YouTube, Senin (3/3/2025).
Galiech Rahardja mengatakan, setiap malam dirinya selalu mempertanyakan keberadaan Asri Welas apabila belum pulang ke rumah saat sibuk dengan pekerjaannya di dunia entertainment.
“Kalau saya dibilang 17 tahun tidak pernah cari dia (Asri Welas) lucu saja apalagi kami sudah punya tiga anak yang sehat, Mba Asri syuting sampai malam saya selalu menghubungi dia. ‘Posisi Kamu di mana? kamu masih lama syutingnya?’,” katanya.
“At least, setelah mendengar suara dia saya merasa aman dan dia masih kerja apalagi mendengar suaranya,” ucapnya.
Galiech Rahardja juga membantah tuduhan dari Asri Welas yang menyebut dirinya tidak pernah hadir pada premiere film yang dibintangi Asri Welas.
“Kalau dibilang saya tidak pernah hadir di film dia, saya hadir saat dia bermain film Suzanna, Keluarga Cemara. Bisa dilihat di postingan Instagram saya, saya selalu datang di kegiatan mba Asri,” lanjutnya.
“Namun, memang ada beberapa kali saya enggak bisa datang karena pekerjaan. Saya bicara di sini sesuai dengan fakta,” tuturnya.
Galiech Rahardja mengaku, perceraian dirinya dengan Asri Welas karena tidak pernah bertemu titik tengah untuk keduanya saat berumah tangga.
“Kenapa kami harus bercerai? Karena saya dan dia tidak ada titik temu,” paparnya.
“Semua di instagram saya masih berisi foto saya dan Mba Asri. Tidak ada satu pun yang saya hapus, jadi silakan netizen yang menilai apakah saya bangga dengan dia atau tidak,” tutup Galiech Ridha Rahardja yang membantah tuduhan Asri Welas mengaku 17 tahun hidup sendiri.
-

Kasus Bayi di Atap Rumah Warga Surabaya, Polisi Periksa 3 Saksi
Surabaya (beritajatim.com) – Polisi masih terus melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembuangan bayi di atap rumah warga Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya, Sabtu (02/11/2024) kemarin.
Kanit Reskrim Polsek Tambaksari, Iptu Aman Hasta mengatakan bahwa pihaknya sudah periksa 3 saksi atas peristiwa itu. Aman mengatakan bahwa penemuan bayi di atas atap rumah warga Pacar Keling itu janggal.
“Kemungkinan akan ada saksi tambahan. Kasus ini janggal karena tidak mungkin bayi dilempar dari bawah. Atau ada yang nekat berjalan di atas genteng ini masih kami dalami,” kata Aman Hasta, Selasa (05/11/2024).
Aman mengatakan bahwa saat ini bayi perempuan yang ditemukan dalam kondisi stabil. Tali pusar yang kemarin masih terpasang, kini sudah dipotong oleh tim kesehatan di RSUD dr. Soetomo.
“Masih menjalani perawatan di RSUD. dr. Soetomo dan masuk inkubator. Kondisinya stabil dan tetap dalam pemantauan tenaga medis,” tutur Aman.
Dari informasi yang dihimpun Beritajatim.com, banyak pihak yang hendak mengajukan untuk adopsi. Namun, sampai saat ini pihak kepolisian masih fokus untuk mengungkap siapa orang tua dari bayi itu.
“Banyak yang mengajukan adopsi, ya boleh kan ada ketentuannya. Fokus kami sekarang adalah mengumpulkan bukti dan menemukan orang tua dari bayi itu,” pungkas Aman.
Diketahui, warga di Jalan Pacar Surabaya dikejutkan dengan penemuan bayi baru lahir berjenis kelamin perempuan di atas genting, atap rumah pada Sabtu (2/11/2024) malam hari.
Bayi perempuan tersebut semula ditemukan oleh Suzana, warga setempat. Polisi mengungkapkan bayi ditemukan sekitar pukul 22.37 WIB, ditandai dengan suara tangisan.
“Bayi ini ditemukan atap rumah Suzanna (warga) dalam keadaan sehat dan masih terdapat ari – ari (tali pusar),” terang Kapolsek Tambaksari Kompol Imam Solikin, melalui keterangannya, Minggu (3/11).
Imam menjelaskan, sesuai keterangan dari warga setempat awalnya bayi perempuan itu ditemukan di atap rumah. Lantas penemunya berteriak, dan disusul warga lain yang mendengar berdatangan.
“Dari situ warga pun mengambil dan menggendong bayi perempuan tersebut turun dari atap rumah,” jelas Imam. (ang/ian)
/data/photo/2025/12/20/6945d10f50b43.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
