Awas Macet Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta, Ini Jalur Alternatifnya
Editor
JAKARTA, KOMPAS.com
– Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menerapkan rekayasa lalu lintas di kawasan Sudirman–Thamrin saat perayaan malam Tahun Baru 2026, Rabu (31/12/2025).
Penutupan jalan dilakukan mulai pukul 18.00 WIB hingga 01.00 WIB untuk mendukung kelancaran dan keamanan acara.
Warga perlu mengantisipasi kemacetan di Jakarta seiring penutupan sejumlah ruas jalan pada
malam Tahun Baru 2026
.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, penutupan dilakukan secara situasional pada 33 ruas jalan di Jakarta Pusat dan sekitarnya.
“
Rekayasa lalu lintas
berupa penutupan 33 ruas jalan akan diberlakukan secara situasional mulai pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 01.00 WIB,” ujar Syafrin dalam keterangan tertulis, Selasa (30/12/2025).
Penutupan jalan difokuskan di sekitar lokasi panggung hiburan malam tahun baru.
Pemprov DKI menyiapkan delapan titik panggung, antara lain di Jalan MH Thamrin, Bundaran HI, Sarinah, Lapangan Banteng, Dukuh Atas BNI 46, Semanggi, kawasan SCBD, dan FX Sudirman.
Sejumlah ruas utama yang ditutup antara lain:
– Selatan (Blok M) ke Utara (Harmoni)
Jalan Melawai – Jalan Iskandarsyah Raya – Jalan Pattimura – Jalan Hang Lekir I – Jalan Hang Tuah – Jalan Hang Lekir IV – Jalan Hang Lekir II – Jalan Hang Lekir I – Jalan Asia Afrika – Jalan Gerbang Pemuda – Jalan Gatot Subroto – Jalan KS Tubun – Jalan KH Mas Mansyur – Jalan Cideng, dan seterusnya.
Alternatif: Jalan Kyai Maja – Jalan Pakubuwono VI – Jalan Hang Lekir II – Jalan Hang Lekir I – Jalan Asia Afrika – Jalan Gerbang Pemuda – Jalan Gatot Subroto – Jalan KS Tubun – Jalan KH Mas Mansyur – Jalan Cideng, dan seterusnya.
– Timur (Pancoran) ke Barat (Slipi)
Jalan Gatot Subroto – Jalan S. Parman.
– Barat (Slipi) ke Timur (Pancoran)
Jalan S. Parman – Jalan Gatot Subroto.
– Timur (Kampung Melayu) ke Barat (Tanah Abang)
Jalan HR Rasuna Said – Jalan Prof. Dr. Satrio – Jalan KH Mas Mansyur, dan seterusnya.
– Barat (Tanah Abang) ke Timur (Kampung Melayu)
Jalan KH Mas Mansyur – Jalan Prof. Dr. Satrio – Jalan HR Rasuna Said.
-Timur (Manggarai) ke Barat (Karet)
Jalan Sultan Agung – Jalan Galunggung – Jalan R.M Margono Djojohadikoesoemo – Jalan Pasar Baru Karet Timur 3 – Jalan Karet Pasar Baru Timur 2 – Jalan Karet Pasar Baru Timur 1, dan seterusnya.
– Barat (Karet) ke Timur (Manggarai)
Jalan R.M Margono Djojohadikoesoemo – Jalan Galunggung – Jalan Sultan Agung.
– Selatan (Tanah Abang) ke Utara (Harmoni)
Jalan Jati Baru Raya – Jalan Abdul Muis – Jalan Majapahit.
– Utara (Harmoni/Gunung Sahari) ke Selatan (Rasuna Said/Pancoran)
Jalan Ir. H. Juanda – Jalan Pos – Jalan Gedung Kesenian – Jalan Lapangan Banteng Utara – Jalan Lapangan Banteng Barat – Jalan Pejambon – Jalan M.I Ridwan Rais menuju Rasuna Said.
Alternatif: Jalan Gunung Sahari – Jalan Kramat Raya – Jalan Salemba – Jalan Proklamasi – Jalan Tambak – Jalan Prof. Dr. Sahardjo, dan seterusnya.
– Timur (Pasar Senen) ke Barat (Harmoni)
Jalan Senen Raya – Jalan Kwini I – Jalan Abdul Rahman Saleh – Jalan Kramat Kwitang – putar balik – Jalan Arief Rahman Hakim – Tugu Tani – Jalan M.I Ridwan Rais – Jalan Medan Merdeka Timur – Jalan Perwira – Jalan Katedral – Jalan Veteran, dan seterusnya.
Alternatif: Jalan Gunung Sahari – Jalan Budi Utomo – Jalan Lapangan Banteng Utara – Jalan Katedral – Jalan Veteran, dan seterusnya.
– Selatan (Cikini) ke Utara (Jalan Veteran)
Jalan Menteng Raya – Jalan Arief Rahman Hakim – Tugu Tani – Jalan M.I Ridwan Rais – Jalan Medan Merdeka Timur – Jalan Perwira – Jalan Katedral, dan seterusnya.
– Utara (Jalan Gunung Sahari) ke Selatan (Tugu Tani)
Jalan Dr. Sutomo – Jalan Gedung Kesenian – Jalan Lapangan Banteng Utara – Jalan Lapangan Banteng Barat – Jalan Taman Pejambon – Jalan Pejambon – Jalan Medan Merdeka Timur, dan seterusnya.
– Jalan Batu III ke Utara (Harmoni)
Jalan Medan Merdeka Timur – Jalan M.I Ridwan Rais – putar balik di Tugu Tani – Jalan Medan Merdeka Timur – Jalan Perwira – Jalan Katedral – Jalan Veteran, dan seterusnya.
– Barat (Tomang) ke Timur (Pasar Senen)
Jalan Tomang Raya – Jalan Kyai Caringin – Jalan Balikpapan – Jalan Suryopranoto – Jalan Ir. H. Juanda – Jalan Pos – Jalan Dr. Sutomo – Jalan Gunung Sahari, dan seterusnya.
– Selatan (Fatmawati) ke Utara (Bundaran Senayan)
Jalan Bulungan – Jalan Mahakam – Jalan Panglima Polim (sisi barat) – Jalan Sisingamangaraja, dan seterusnya.
Alternatif: Jalan Melawai Raya – Jalan Iskandarsyah Raya – Jalan Sultan Hasanuddin – Jalan Pattimura, dan seterusnya.
– Selatan (Antasari) ke Utara (Bundaran Senayan)
Jalan Iskandarsyah Raya – Jalan Sultan Hasanuddin – Jalan Pattimura.
Alternatif: Jalan Iskandarsyah Raya – Jalan Trunojoyo – Jalan Sisingamangaraja, dan seterusnya (beserta arah sebaliknya).
– Utara (Bundaran Senayan) ke Selatan (Fatmawati)
Jalan Sisingamangaraja – Jalan Kyai Maja – Jalan Bulungan – Jalan Panglima Polim, dan seterusnya.
Alternatif: Jalan Sisingamangaraja – Jalan Kyai Maja – Jalan Barito I – Jalan Panglima Polim, dan seterusnya.
– Timur ke Barat
Jalan Trunojoyo – Jalan Kyai Maja, dan seterusnya.
– Barat ke Timur
Jalan Kyai Maja – Jalan Trunojoyo, dan seterusnya.
– Blok M ke Selatan
Jalan Sultan Hasanuddin Dalam – Jalan Panglima Polim, dan seterusnya.
– Blok M ke Utara
Jalan Sultan Hasanuddin Dalam – Jalan Melawai 6 – Jalan Melawai 8/Jalan Melawai 5/Jalan Melawai 4 – Jalan Melawai Raya – Jalan Iskandarsyah Raya – Jalan Sultan Hasanuddin – Jalan Pattimura, dan seterusnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Sudirman
-

36 Titik Kantong Parkir saat Perayaan Malam Tahun Baru di Jakarta
Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyiapkan puluhan kantong parkir guna menunjang kelancaran perayaan malam Tahun Baru di sejumlah titik utama ibu kota.
Fasilitas tersebut disediakan untuk mengantisipasi peningkatan volume kendaraan pribadi yang diperkirakan memadati kawasan pusat perayaan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, kantong parkir yang disiapkan tersebar di area gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan sebagai parkir luar badan jalan (off street), serta di beberapa ruas jalan tertentu sebagai parkir badan jalan (on street).
“Total terdapat 36 lokasi kantong parkir yang disiapkan di sepanjang kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin hingga Panglima Polim,” ujar Syafrin.
Seluruh lokasi tersebut memiliki daya tampung puluhan ribu satuan ruang parkir (SRP) yang diperuntukkan bagi sepeda motor, mobil, hingga bus.
Dishub DKI Jakarta juga memastikan kantong parkir tersebut terintegrasi dengan titik-titik utama perayaan malam Tahun Baru yang dilengkapi panggung hiburan. Lokasi panggung hiburan tersebar di kawasan MH Thamrin, Sarinah, Bundaran HI, Dukuh Atas, Semanggi, SCBD, FX Sudirman, hingga Lapangan Banteng.
Seiring dengan pelaksanaan perayaan, Dishub akan memberlakukan pengaturan lalu lintas di sejumlah ruas jalan di sekitar lokasi acara, termasuk penutupan dan pengalihan arus kendaraan. Masyarakat diimbau untuk menyesuaikan rute perjalanan dan mematuhi arahan petugas demi kelancaran dan keamanan bersama.
Berikut ini daftar kantor parkir saat perayaan malam tahun tahun baru:
Pelataran Parkir IRTI Monas
Stasiun Gambir
Lemhannas
Perpustakaan Nasional
Gedung Telkom STO Gambir
Kementerian BUMN
Menara Dana Reksa
Gedung Indosat
Kementerian Pariwisata
Hotel Borobudur
Lapangan Banteng Sisi Selatan
Lapangan Banteng Sisi Timur
Kantor Pos
Gereja Katedral
Jalan Veteran I
Wisma Mandiri
TPE Sabang
Djakarta Theater
Gedung Sarinah
Plaza Indonesia
Grand Indonesia
Wisma Nusantara
Hotel Mandarin Oriental
The City Tower
Taman Menteng
Gedung BNI 46
Wisma 46 Area Outdoor
Gedung Wisma 46
Intiland Tower
Gelora Bung Karno (GBK)
FX Sudirman
Plaza Senayan
STC Senayan
Gedung Plaza Blok M
Masjid Agung Al-Azhar
Kementerian ATR/BPNJakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyiapkan puluhan kantong parkir guna menunjang kelancaran perayaan malam Tahun Baru di sejumlah titik utama ibu kota.
Fasilitas tersebut disediakan untuk mengantisipasi peningkatan volume kendaraan pribadi yang diperkirakan memadati kawasan pusat perayaan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, kantong parkir yang disiapkan tersebar di area gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan sebagai parkir luar badan jalan (off street), serta di beberapa ruas jalan tertentu sebagai parkir badan jalan (on street).“Total terdapat 36 lokasi kantong parkir yang disiapkan di sepanjang kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin hingga Panglima Polim,” ujar Syafrin.
Seluruh lokasi tersebut memiliki daya tampung puluhan ribu satuan ruang parkir (SRP) yang diperuntukkan bagi sepeda motor, mobil, hingga bus.
Dishub DKI Jakarta juga memastikan kantong parkir tersebut terintegrasi dengan titik-titik utama perayaan malam Tahun Baru yang dilengkapi panggung hiburan. Lokasi panggung hiburan tersebar di kawasan MH Thamrin, Sarinah, Bundaran HI, Dukuh Atas, Semanggi, SCBD, FX Sudirman, hingga Lapangan Banteng.
Seiring dengan pelaksanaan perayaan, Dishub akan memberlakukan pengaturan lalu lintas di sejumlah ruas jalan di sekitar lokasi acara, termasuk penutupan dan pengalihan arus kendaraan. Masyarakat diimbau untuk menyesuaikan rute perjalanan dan mematuhi arahan petugas demi kelancaran dan keamanan bersama.
Berikut ini daftar kantor parkir saat perayaan malam tahun tahun baru:Pelataran Parkir IRTI Monas
Stasiun Gambir
Lemhannas
Perpustakaan Nasional
Gedung Telkom STO Gambir
Kementerian BUMN
Menara Dana Reksa
Gedung Indosat
Kementerian Pariwisata
Hotel Borobudur
Lapangan Banteng Sisi Selatan
Lapangan Banteng Sisi Timur
Kantor Pos
Gereja Katedral
Jalan Veteran I
Wisma Mandiri
TPE Sabang
Djakarta Theater
Gedung Sarinah
Plaza Indonesia
Grand Indonesia
Wisma Nusantara
Hotel Mandarin Oriental
The City Tower
Taman Menteng
Gedung BNI 46
Wisma 46 Area Outdoor
Gedung Wisma 46
Intiland Tower
Gelora Bung Karno (GBK)
FX Sudirman
Plaza Senayan
STC Senayan
Gedung Plaza Blok M
Masjid Agung Al-Azhar
Kementerian ATR/BPN
Cek Berita dan Artikel yang lain diGoogle News
(PRI)
-

Komunitas Tegur Keras Pemotor PCX yang Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok
Jakarta –
Masih ingat pengendara Honda PCX putih yang ngamuk setelah ditegur jangan merokok di Sudirman, Jakarta Pusat? Kini, sosok bernama Galih Saputra itu mendapat teguran keras dari komunitas motornya, PCX Wong Tulus.
Ketika kasus tersebut viral di media sosial, banyak warganet yang memang menandai akun PCX Wong Tulus di kolom komentar unggahan. Sebab, menurut informasi yang beredar, Galih Saputra memang terdaftar sebagai anggota komunitas terkait.
PCX Wong Tulus secara tak langsung membenarkan, Galih merupakan salah satu anggotanya. Itulah mengapa, mereka secara terbuka membuat klarifikasi dan meminta maaf.
“Melalui postingan ini, kami ingin mengklarifikasi dan meminta maaf atas kesalahan yang telah teman kami lakukan,” demikian keterangan akun komunitas PCX Wong Tulus melalui Instagram resminya, dikutip Selasa (30/12).
Pemotor ngerokok. Foto: Doc. IG @mintadisundut
Komunitas tersebut juga mengaku telah menegur Galih Saputra secara keras. Menurut mereka, apa yang diperbuat anggotanya itu fatal atau berlebihan.
“Dengan adanya video yang beredar, kami mohon maaf kepada teman-teman netizen (karena) sudah membuat kegaduhan. Kami sudah menegur keras Galih Saputra dan sangat menyayangkan adanya teman kami yang melakukan kesalahan fatal itu,” tuturnya.
“Sekali lagi kami meminta maaf sebesar-besarnya dan memastikan kejadian tersebut tidak akan terulang kembali,” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, aksi pemotor yang ngamuk saat ditegur jangan merokok viral di sejumlah platform media sosial, terutama Instagram. Akun IG @mintadisundut merupakan yang pertama membagikan videonya di jagad maya.
Tayangan yang beredar menunjukkan, pemotor arogan itu tak sendirian, melainkan membawa wanita yang juga tak mengenakan pelindung kepala. Dia, sepanjang perjalanan, asik merokok tanpa memedulikan pengguna jalan lain.
Merasa terganggu, pemotor lain di belakang menegur pemotor arogan tersebut. Dia meminta agar si perokok mematikan rokoknya. Sebab, abu dan baranya bisa mengancam keselamatan pengguna jalan lain.
“Abu rokok lo kena orang,” ujar pemotor lain yang menegur perokok tersebut.
“Lo kan tinggal nyalip doang, monyet!” demikian respons si perokok sambil terus memacu Honda PCX berkelir putihnya. Bahkan, alih-alih meminta maaf, dia justru menyerang penegur dengan makian-makian.
Si penegur berusaha sabar. Dia kemudian bertanya ke perokok: pernah sekolak tidak? Sebab, kata-katanya terlalu kasar dan tak beretika.
“Yang lain elo tegur nggak, k*nt*l?” begitu respons lanjutan si perokok. Bahkan, parahnya lagi, dia melayangkan tendangan keras ke arah motor si penegur.
Galih Saputra sebagai pelaku juga sudah menyampaikan permohonan maaf melalui Instagram resminya. Dia berjanji akan introspeksi diri dan tak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.
(sfn/rgr)
-
/data/photo/2025/12/29/6952b1914fa33.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang Megapolitan 30 Desember 2025
Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Pergantian tahun di Jakarta tahun ini tidak lagi semata dimaknai sebagai pesta cahaya dan dentuman di langit malam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih menarik rem perayaan, menyusul bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Imbauan hingga larangan menyalakan
kembang api
menjadi simbol sikap empati, bahwa euforia seharusnya ditahan ketika duka masih menyelimuti daerah lain.
Kebijakan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Di tengah suasana nasional yang masih dibayangi kabar korban, pengungsian, dan kerusakan akibat bencana, pesta kembang api dianggap berpotensi melukai rasa solidaritas.
Perayaan yang identik dengan hura-hura dinilai tidak sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian antardaerah.
Namun, di tingkat akar rumput, kebijakan ini bersinggungan langsung dengan kehidupan pedagang kecil yang menggantungkan pemasukan pada momentum akhir tahun.
Bagi mereka,
tahun baru
bukan sekadar perayaan, melainkan satu dari sedikit kesempatan dalam setahun untuk memutar roda ekonomi.
Sasarannya dianggap mengarah pada perayaan besar, acara resmi, atau konsumsi kembang api berskala besar.
Namun, dalam praktiknya, gema larangan itu merembes hingga ke lapak-lapak sederhana di pinggir jalan.
Di sejumlah titik di Jakarta, termasuk Tanah Abang, pedagang kembang api tetap muncul. Namun, jumlah barang yang dijual lebih terbatas.
Tidak ada lagi stok besar atau variasi mencolok. Lapak-lapak terlihat lebih sederhana, seolah berdagang sambil menunggu situasi.
Di Tanah Abang, suasana jelang Tahun Baru tetap hidup, tetapi tidak seramai biasanya. Trotoar dipenuhi payung warna-warni yang menaungi kardus-kardus kembang api.
Pembeli datang dan pergi tanpa keramaian berlebihan. Tidak ada teriakan menawarkan dagangan. Para pedagang lebih banyak duduk, menunggu, dan mengamati sekitar.
Sesekali mereka berdiri saat ada calon pembeli yang berhenti. Di antara deretan lapak itu, Linda menjadi salah satu pedagang yang sudah akrab dengan ritme musiman ini.
Baginya, jualan kembang api bukan hal baru, melainkan rutinitas tahunan yang dijalani dengan perhitungan matang.
“Sudah biasa tiap tahun, kalau jual beginian (kembang api) kan enggak bisa tiap hari,” kata Linda saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Senin (29/12/2025).
Pengalaman panjang membuat Linda memahami betul risiko yang melekat pada dagangan kembang api.
Ia memilih jenis barang yang menurutnya masih aman dan tidak berpotensi menimbulkan masalah keselamatan.
Dalam kondisi larangan seperti sekarang, kehati-hatian menjadi prinsip utama.
Ia menyadari, ruang gerak pedagang kecil semakin sempit ketika kebijakan empati diberlakukan secara luas.
“Cuma saya jual barang-barang enggak bahaya,” kata dia.
Meski demikian, permintaan dari masyarakat tidak sepenuhnya hilang. Masih ada pembeli yang mencari kembang api untuk anak-anak atau sekadar simbol kecil perayaan.
“Yang beli mah ada aja, biasanya ibu-ibu beli buat anak,” kata dia.
Linda mengetahui soal larangan menyalakan kembang api tahun ini.
Ia memahami bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan empati atas bencana di Sumatera, meski menurutnya dampak langsung lebih terasa di kalangan pedagang kecil.
Larangan ini membuat pedagang enggan menyetok barang dalam jumlah besar. Modal yang dimiliki pun dijaga agar tidak terjebak dalam stok yang tak terjual.
Bagi pedagang kecil, barang yang mengendap berarti uang yang tidak berputar.
“Makanya kita beli enggak banyak-banyak. Takutnya enggak laku duit kita
mendem,”
ujar dia.
Linda menyebut modal awal yang ia gunakan relatif terbatas. Ia tidak berani mengambil risiko besar di tengah situasi yang tidak pasti.
“Ini sih dari bos dikirimin, kalau modal awal kita paling Rp 1 juta,” kata dia.
Hasil penjualan pun jauh dari kata pasti. Ada hari yang sedikit, ada pula hari yang nyaris tanpa transaksi.
“Enggak tentu (lakunya) paling Rp 100.000 yang laku juga kan paling kembang api aja,” kata dia.
Karena ketidakpastian itu, ia memilih tidak menambah stok baru. Dagangan yang dijual merupakan sisa dari tahun sebelumnya.
“Ini kan kita karena sisa (tahun lalu) nggak beli lagi,” ujar dia.
Meski sadar risiko, Linda tetap memilih berjualan. Baginya, membiarkan barang tersimpan tanpa dijual justru lebih merugikan.
“Jadi kita, ya, kita lakuin aja daripada nggak jadi duit. Mendingan jadi duit, kan, sayang,” katanya.
Selain soal penjualan, bayang-bayang razia juga menjadi pertimbangan. Namun, Linda membedakan dengan jelas antara kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi.
Ia merasa kebijakan penertiban lebih menyasar jenis barang tertentu.
“Emang kalau petasan dirazia, kalau kembang api kan ada surat izinnya,” kata dia.
Selama bertahun-tahun berdagang, ia mengaku relatif aman dari penertiban. Situasi di lapaknya cenderung kondusif.
“Kalau yang razia-razia tuh yang kayak petas-petasan, Tapi saya sih,
alhamdulillah,
ini udah berapa tahun-tahun aman aja,” ujar dia.
Cerita serupa datang dari Siti (bukan nama sebenarnya), pedagang lain di Tanah Abang. Ia juga merasakan dampak langsung dari
larangan kembang api
tahun ini.
Bagi Siti, jualan kembang api hanyalah usaha musiman untuk menutup kebutuhan akhir tahun.
“Saya jualan kembang api itu baru sekitar lima tahunan ini. Setiap mau tahun baru aja. Kalau hari biasa saya jualan nasi uduk pagi-pagi,” kata dia.
Ia memahami alasan empati di balik larangan tersebut, tetapi tetap berada di posisi sulit sebagai pedagang kecil.
“Saya paham maksudnya. Kita juga sedih ada bencana. Tapi di sisi lain, buat pedagang kecil kayak saya, ini satu-satunya kesempatan setahun,” ujar dia.
Informasi soal larangan kembang api menjelang Tahun Baru diterima warga dengan cara yang beragam.
Tidak semua mendapatkan penjelasan utuh. Sebagian hanya menangkap kabar sekilas dari media sosial atau obrolan di grup percakapan.
Bagi ibu rumah tangga bernama Rina (36), larangan tersebut terdengar samar. Ia tahu ada pembatasan, tetapi tidak memahami detailnya.
Kondisi ini membuatnya berada di posisi yang serba tanggung, antara mengikuti imbauan dan menanggapi keinginan anak-anak di rumah.
“Iya, saya sih dengar katanya kembang api sama petasan itu dilarang di Jakarta. Cuma ya dengarnya sekilas-sekilas doang,” kata Rina saat ditemui, Senin.
Ia tidak tahu apakah larangan berlaku untuk semua jenis kembang api atau hanya yang berskala besar dan berbahaya.
“Detailnya saya juga nggak ngerti. Dilarangnya semua apa cuma yang gede-gede, saya juga nggak tahu,” kata dia.
Meski begitu, Rina memahami alasan di balik imbauan tersebut. Ia menangkap pesan empati terhadap korban bencana di Sumatera sebagai hal yang patut dihormati.
Namun di sisi lain, ia juga menghadapi kenyataan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, di mana anak-anak sudah lama menunggu momen pergantian tahun.
Dalam situasi itu, keputusan orangtua menjadi tidak sederhana.
“Karena tiap tahun juga begini. Anak-anak sudah nunggu dari lama. Mereka lihat tetangga main, temannya main, masa anak sendiri nggak dikasih,” ujar dia.
Rina tidak menolak esensi dari larangan tersebut. Ia hanya merasa penerapannya menjadi rumit ketika dihadapkan pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami empati.
“Saya ngerti sih maksud larangannya. Buat keamanan, buat empati juga katanya. Cuma ya itu, kalau dilarang total, anak-anak kasihan enggak ngerti juga, kan setahun sekali,” kata dia.
Pandangan lain datang dari Agus (41), yang menilai larangan kembang api hampir selalu muncul setiap akhir tahun.
Bagi Agus, kembang api telah menjadi bagian dari pengalaman Tahun Baru anak-anak.
Ia mengakui, tanpa suara dan cahaya kembang api, momen pergantian tahun terasa hambar bagi mereka.
Agus memilih jalan tengah dengan tetap mengawasi anaknya saat bermain.
Ia berharap kesadaran semacam ini juga dimiliki oleh orangtua lain agar perayaan tidak berubah menjadi insiden.
“Anak-anak kan setahun cuma nunggu ini Kalau enggak ada kembang api, tahun baru rasanya kaya nggak ada apa-apanya,” ujar dia.
Meski demikian, Agus memahami konteks empati yang melatarbelakangi imbauan tersebut.
Ia tidak menutup mata terhadap penderitaan korban bencana dan mengakui bahwa alasan itu masuk akal.
“Sebenernya saya tahu kok ini lagi diminta empati buat korban bencana, saya juga kasihan,” kata dia.
Meski begitu, Agus memilih mengambil jalan tengah. Ia merasa masih ada ruang kompromi dengan membatasi jenis dan skala kembang api yang dimainkan anak-anak, selama tetap dalam pengawasan.
“Lagian kan kita juga bakar kecil-kecilan aja enggak yang sampai gede gitu, sewajarnya anak-anak aja,” kata Agus.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa larangan penjualan kembang api dan petasan menjelang Tahun Baru dilakukan tidak bersifat mutlak.
Melainkan lebih menekankan pada kegiatan yang dilakukan oleh
event-event
besar dan pertimbangan empati terhadap korban bencana di Sumatera.
Menurut dia, Pol PP tetap melakukan imbauan kepada pedagang agar memperhatikan kondisi sosial saat ini.
“Karena kan sedang ada keprihatinan kita terhadap masyarakat yang tertimpa musibah di Sumatera, jadi mengimbau untuk itu,” ujar Satriadi.
Sementara pengawasan terhadap masyarakat umum terbatas, dengan fokus pada edukasi dan imbauan ketimbang tindakan langsung.
Pendekatan ini juga dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Polri, agar penggunaan kembang api di masyarakat dapat berkurang secara sukarela.
“Pol PP berupaya untuk melakukan imbauan, imbauan kepada para penjual-penjual petasan untuk berprihatinlah mengajak mereka agar tidak menjual atas keprihatinan yang sudah kita laksanakan,” kata dia.
Pengamat sosial, Rakhmat Hidayat menekankan, larangan menyalakan kembang api di Jakarta tahun ini bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi sebagai bentuk arif dan bijaksana.
Masyarakat diminta menunjukkan apresiasi dan simpati terhadap korban bencana.
Hal ini tidak hanya menjadi tanda solidaritas, tetapi juga mengurangi pemborosan energi, listrik, dan biaya materiil yang biasanya muncul dari pesta besar.
“Menurut saya memang ini secara arif dan bijaksana memang lebih baik tidak menyalakan
kembang api tahun baru
di seluruh Indonesia adalah bentuk apresiasi, penghargaan, simpati,” kata dia.
Menurut Rakhmat, imbauan gubernur Jakarta harus diturunkan ke tingkat yang lebih rendah, seperti wali kota, camat, lurah, hingga RT dan RW.
Dengan koordinasi berlapis, pengawasan terhadap perayaan yang masih dilakukan warga bisa lebih efektif.
“Menurut saya itu harus diturunkan pada level yang lebih konkret di bawahnya, yaitu di surat edaran dari wali kota, misalnya, dan wali kota juga menurunkan pada level di lingkungan masyarakat yang lebih kecil, sehingga itu akan menjadi lebih instruksional,” kata Rakhmat,\.
Menurut dia, larangan pesta kembang api seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi bersama.
Warga bisa berkumpul untuk doa bersama, berbagi makanan, atau mengumpulkan donasi.
Cara ini dinilai lebih bermakna dibanding merayakan dengan kembang api dan petasan yang sifatnya konsumtif dan terbatas pada hiburan sesaat.
“Jadi saatnya kita memang lebih menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, yang memang menjadi penyintas bencana tersebut,” ujar dia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa larangan penggunaan kembang api berlaku menyeluruh.
Keputusan ini mencakup seluruh kegiatan, baik yang digelar oleh pemerintah maupun pihak swasta, sebagai bentuk penyesuaian dalam menyambut pergantian tahun.
“Dalam menyambut Natal dan Tahun Baru, maka, terutama untuk tahun baru, saya sudah memutuskan untuk Jakarta tidak ada kembang api, baik yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta maupun oleh swasta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan keterbatasan pemerintah dalam mengawasi masyarakat yang merayakan Tahun Baru secara individual di ruang terbuka.
Larangan lebih diarahkan kepada penyelenggara acara berskala besar untuk memastikan kepatuhan tetap terjaga.
“Kami tidak bisa melarang masyarakat menyalakan kembang api. Tidak mungkin kami memeriksa masyarakat yang ada di Monas atau ada di mana untuk tidak menyalakan kembang api,” ucap Rano.
Sebagai alternatif hiburan, Pemprov DKI menyiapkan pertunjukan drone di delapan titik strategis, termasuk di kawasan GBK, Sudirman, dan Kota Tua.
Pertunjukan ini turut diiringi penampilan sejumlah musisi, sehingga momen pergantian tahun tetap terasa meriah meski tanpa kembang api.
“Kami mengabarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa tahun ini, tahun baru kita tidak kita meriahkan dengan kembang api. Tapi tidak mengurangi rasa juga bahagia, kita adakan drone. Drone cukup banyak, cukup besar, dengan transisi,” ujar Rano.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2946398/original/079785500_1571738616-20191022-Waspada_-Cuaca-Jakarta-Memanas-4.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pemprov DKI Tutup Jalan Sudirman dan Thamrin Mulai 31 Desember Pukul 18.00 WIB, Begini Skenarionya
Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman untuk kendaraan pribadi pada Rabu, 31 Desember 2025 mulai pukul 18.00 WIB hingga Kamis, 1 Januari 2026 pukul 02.00 WIB.
Kebijakan tersebut diterapkan dalam rangka pengamanan dan pengaturan lalu lintas pada malam pergantian tahun.
“Besok sebenarnya bukan Car Free Night, tetapi mulai jam 18.00 kami akan mengatur lalu lintas di beberapa titik, terutama jalan-jalan protokol utama yang ada kegiatan menyambut tahun baru, sudah tidak bisa lagi menggunakan kendaraan pribadi,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Dengan adanya penutupan tersebut, Pramono mengimbau masyarakat yang hendak melintas atau merayakan malam pergantian tahun di kawasan Sudirman–Thamrin untuk menggunakan transportasi publik.
“Semuanya diharapkan menggunakan kendaraan umum,” kata Pramono.
Penutupan arus kendaraan pribadi rencananya diberlakukan dari kawasan Patung Kuda hingga Bundaran Senayan.
Di sepanjang jalur tersebut akan tersedia panggung hiburan bagi masyarakat untuk menyambut tahun baru.
Sejumlah panggung hiburan disiapkan di beberapa titik, antara lain Lapangan Banteng, Bundaran HI, Thamrin, Sarinah, Dukuh Atas, FX Sudirman, Semanggi, dan kawasan SCBD.
Bundaran HI menjadi lokasi panggung utama yang akan dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno, Sekretaris Daerah Jakarta Uus Kuswanto, serta jajaran pemerintah daerah.
Sementara itu, layanan transportasi publik, termasuk Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, akan beroperasi hingga pukul 02.00 WIB untuk mendukung mobilitas masyarakat selama malam pergantian tahun.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung akan mengurangi titik pesta perayaan pergantian tahun baru 2025 – 2026 dari 14 titik menjadi 8 titik. Begitu juga dengan pesta kembang api, akan dilarang untuk kegiatan pemerintah dan swasta yang memerlukan izin kerama…
/data/photo/2025/02/19/67b4ee04f3d4a.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/25/694cc6b069e7d.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456020/original/019921100_1766766490-Petugas_Jakbar.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
