Tag: Soekarno

  • Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…

    Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…

    Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan kecemasan akibat krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
    Hal itu disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    Megawati mengawali pidatonya dengan menggambarkan situasi
    krisis iklim
    global.
    Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, kata dia, bumi mengalami suhu terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun terakhir.
    “Yang paling merasakan kecemasan ini adalah
    generasi muda
    . Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan,” kata Megawati.
    Ia menjelaskan, perubahan iklim telah memicu rangkaian bencana hidrometeorologi, mulai dari badai, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan.
    Bencana-bencana tersebut terjadi beruntun di berbagai belahan dunia tanpa mengenal batas negara maupun kelas sosial.
    Megawati menambahkan, berbagai temuan ilmiah menunjukkan umat manusia tengah mendekati titik-titik kritis yang sulit dipulihkan, seperti meningkatnya suhu laut, mencairnya es di kutub ke titik terendah, serta merosotnya keanekaragaman hayati secara tajam.
    “Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia,” imbuh Presiden ke-5 RI itu.
    Dalam konteks nasional, Megawati menyinggung bencana ekologis dan kemanusiaan akibat hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025.

    Bencana tersebut, menurut dia, melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menewaskan ribuan orang, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
    Megawati menegaskan bahwa peristiwa itu tidak bisa semata-mata dianggap sebagai bencana alam.
    Ia menilai,
    kerusakan lingkungan
    merupakan konsekuensi langsung dari
    kebijakan pembangunan
    yang mengabaikan daya dukung ekologi.
    “Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan,” ujarnya.
    “Atas nama pembangunan, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.
    Ia menambahkan, kebijakan dan regulasi yang memberi ruang besar bagi konsesi skala besar turut mendorong deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem.
    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” kata Megawati.
    Akibat kerusakan tersebut, lanjut dia, kawasan hulu kehilangan fungsinya sebagai penyangga kehidupan.
    “Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur,” ujarnya.
    Megawati juga menyoroti krisis iklim global yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut ambang batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius telah terlampaui.
    “Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,” ungkapnya.
    “Memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri, sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan,” sambung Megawati.
    Selain isu lingkungan, Megawati turut menyinggung dinamika geopolitik global.
    Ia mengkritik tindakan militer Amerika Serikat (AS) yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya.
    “Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa,” tegasnya.

    Megawati menilai intervensi militer semacam itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
    “Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain,” katanya.
    Menurut dia, demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa.
    Megawati lalu mengaitkan sikap tersebut dengan politik luar negeri Indonesia sejak era Presiden pertama RI Soekarno.
    “Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya,” ujar dia.
    Karena itu, Megawati menyatakan PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan mekanisme hukum internasional.
    “PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil,” pungkasnya.
    Sementara itu, pengamat politik Rocky Gerung mengaku menikmati pidato Megawati. Menurut dia, pidato tersebut berbeda dari ekspektasi banyak pihak yang menunggu pernyataan politik praktis.
    “Ada hal yang unik tadi, bahwa Anda pasti menunggu Ibu Megawati ucapkan pidato politik atau isu politik, tapi beliau menganggap ada yang lebih penting itu soal kemanusiaan, soal lingkungan, soal persahabatan,” kata Rocky saat ditemui di lokasi Rakernas.
    Ia menilai Megawati menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap politik global, perubahan iklim, dan solidaritas kemanusiaan.
    “Yang kedua, ada isu yang betul-betul tajam sekali itu soal
    climate change
    , soal
    climate strike
    , soal keinginan negeri ini untuk menjadi pelopor perlindungan-perlindungan hidup. Dan itu sangat relevan,” ujar Rocky.
    “Dan yang terakhir, yang paling penting adalah pentingnya
    human solidarity
    . Persahabatan antara manusia. Dan itu dibenamkan sebagai tugas dari kader-kader PDI-P,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • PDIP Tentukan Sikap soal Pilkada Dipilih DPRD Usai Rakernas

    PDIP Tentukan Sikap soal Pilkada Dipilih DPRD Usai Rakernas

    Jakarta

    PDIP berbicara soal wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) dipilih langsung oleh DPRD. PDIP akan menentukan sikap mengenai wacana tersebut setelah rangkaian rakernas ke-1 tahun 2026 dilaksanakan.

    “Sikap politiknya, karena nanti kami akan mendengarkan seluruh usulan-usulan dari DPD, akan dibacakan pada saat penutupan Rakernas. Sikapnya bagaimana, alasan filosofis, ideologis, dan juga dari manajemen penyelenggaraan pemilu, itu semua akan menjadi bagian dari rekomendasi Rakernas. Jadi belum diputuskan,” tutur Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada wartawan saat sela-sela rakernas partai di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

    Hasto mengatakan, PDIP sebagai partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi memilih untuk lebih dulu menunggu pandangan dari seluruh perwakilan kader di daerah.

    “Karena kita kan Partai Demokrasi Indonesia, jadi seluruh pencermatan, masukan dari seluruh peserta rakernas itu akan menjadi bahan pengambilan keputusan dalam rekomendasi rakernas,” tutur Hasto.

    Hasto sekaligus menyampaikan bahwa dalam rakernas hari ini, ditayangkan juga perjuangan dan rekam jejak serta biografi politik Presiden pertama RI Soekarno serta Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang memegang teguh prinsip kedaulatan rakyat.

    “Itulah tadi Ibu mengatakan bagaimana prinsip-prinsip kedaulatan rakyat sebagai spirit dari reformasi itu harus betul-betul kita jaga. Dan, dengan rakyat yang berdaulat, dengan pemimpin dipilih secara langsung, ini tidak hanya memperkuat legitimasi pemimpin, tapi juga tanggung jawab pemimpin untuk menghasilkan program-program sesuai dengan aspirasi rakyat yang digali pada saat kampanye,” pungkasnya.

    (kuf/azh)

  • Megawati Soroti Bencana Sumatra: Regulasi Beri Karpet Merah untuk Deforestasi

    Megawati Soroti Bencana Sumatra: Regulasi Beri Karpet Merah untuk Deforestasi

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum (Ketum) PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri angkat bicara terkait dengan bencana banjir dan longsor di Sumatra.

    Megawati menilai bahwa bencana Sumatra tidak semata-mata disebabkan oleh kehendak alam. Sebab, bencana itu juga dipengaruhi oleh faktor manusia.

    Menurutnya, hutan alam dan wilayah adat telah dirampas secara masif dan malah digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis. 

    “Akibatnya jelas dan nyata. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur,” ujar Megawati dalam rakernas PDIP di Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

    Dia menambahkan, bencana banjir dan longsor ini merupakan krisis peradaban ekologis. Krisis itu, menurut Megawati, terjadi saat manusia telah menempatkan dirinya sebagai penguasa alam.

    Selanjutnya, Presiden ke-5 RI itu menyinggung bahwa bencana ini merupakan produk dari aturan atau regulasi yang memberikan karpet merah kepada konsesi besar yang membuka jalan untuk deforestasi.

    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” tambahnya.

    Di lain sisi, Megawati juga mengingat soal perkataan ayahnya sekaligus Presiden ke-1 RI Soekarno yang menyinggung soal pentingnya menjaga alam.

    “Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam: ‘Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air.’ Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis,” pungkas Megawati.

  • Megawati Kecam Intervensi Militer AS ke Venezuela: Ini Neokolonialisme

    Megawati Kecam Intervensi Militer AS ke Venezuela: Ini Neokolonialisme

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengecam tindakan intervensi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela.

    Megawati menilai intervensi militer serta penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores merupakan bentuk neokolonialisme.

    “Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern,” ujar Megawati dalam rakernas PDIP di Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

    Megawati menambahkan, tindakan Amerika itu telah mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan prinsip dasar hubungan antarbangsa.

    Oleh sebab itu, kata Megawati, Indonesia harus menentang paham yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. Terlebih, imperialisme secara historis selalu ditentang oleh ayahnya selaku Presiden ke-1 RI Soekarno.

    “Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya,” tuturnya.

    Lebih jauh, Megawati menyerukan agar setiap penyelesaian konflik internasional harus bisa diselesaikan dengan dialog, diplomasi hingga hukum internasional.

    “Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” pungkasnya.

  • Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Tiba di Arena Rakernas I PDIP

    Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Tiba di Arena Rakernas I PDIP

    GELORA.CO -Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tiba di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2026 sekaligus peringatan HUT ke-53 PDIP di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. 

    Pantauan RMOL di lokasi, Presiden kelima RI itu tiba pukul 14.00 WIB didampingi Ketua DPP PDIP sekaligus putranya, Muhammad Prananda Prabowo.

    Kedatangan Megawati tampak disambut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Puti Guntur Soekarno, dan Gubernur serta Wagub Jakarta yang juga kader PDIP Pramono Anung serta Rano Karno ketika datang ke lokasi.

    Sejumlah abang dan none Jakarta juga terlihat menyambut Megawati di lokasi dan seorang di antaranya memberikan bunga mawar putih. Dia kemudian menerima bunga, lalu menyerahkan ke Prananda yang kemudian diserahkan ke Puti Guntur. 

    Megawati kemudian menaiki eskalator untuk menuju ruang Rakernas I sekaligus HUT ke-53. Dia tampak berpegangan dengan Prananda sebelum menaiki eskalator. 

    Sejumlah awak media kemudian menyapa Megawati yang sudah berada di eskalator merespons dengan melambai ke para wartawan.

    Sekadar informasi, PDIP mengusung tema Satyam Eva Jayate, dengan subtema Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-lamanya dalam Rakernas yang dilaksanakan dari 10-12 Januari 2026.

    Adapun, Satyam Eva Jayate adalah slogan berbahasa Sansekerta yang artinya “Kebenaran akan Menang”.

    Subtema “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya” diambil dengan mengutip lagu Indonesia Raya di stanza kedua.

    Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut Rakernas partainya dihadiri pengurus PDIP di tingkat pusat dan daerah yang diwakili ketua, sekretaris, dan bendahara.

    “Rakernas ini akan dibahas sikap politik, termasuk jawaban partai atas berbagai persoalan, hingga program internal partai dan tanggung jawab kerakyatan partai,” kata Hasto melalui keterangan persnya, Jumat, 9 Januari 2026.

  • Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Hadiri Rakernas dan HUT ke-53 PDIP di Ancol

    Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Hadiri Rakernas dan HUT ke-53 PDIP di Ancol

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2026 sekaligus peringatan HUT ke-53 di arena Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). Dia tampak didampingi Ketua DPP PDIP sekaligus sang putranya, Prananda Prabowo.

    Berdasarkan pantauan Liputan6.com, Megawati tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB. Kehadiran Presiden ke-5 Republik Indonesia itu menandai dimulainya rangkaian agenda besar PDIP tersebut.

    Megawati datang ke lokasi dengan mengenakan pakaian berkelir merah dan hitam serta selendang. Dia disambut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Puti Guntur Soekarno, dan Gubernur serta Wagub Jakarta yang juga kader PDIP Pramono Anung serta Rano Karno.

    Sejumlah abang dan none Jakarta juga terlihat menyambut Megawati di lokasi dan seorang di antaranya memberikan bunga mawar putih. Dia kemudian menerima bunga, lalu menyerahkan ke Prananda yang kemudian diserahkan ke Puti Guntur.

    Megawati kemudian menaiki eskalator untuk menuju ruang Rakernas I sekaligus HUT ke-53, sembari berpegangan dengan Prananda. Ketua Dewan Pembina BRIN itu sempat menyapa awak media dengan melambaikan tangan.

     

  • Sejarah Hari Ini, 10 Januari Jalan Menuju Orde Baru dan Lahirnya Tritura

    Sejarah Hari Ini, 10 Januari Jalan Menuju Orde Baru dan Lahirnya Tritura

    Bisnis.com, JAKARTA —  Tanggal 10 Januari memiliki arti penting dalam sejarah politik Indonesia. Pada hari inilah gelombang tuntutan yang dikenal sebagai Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) mulai menguat dan menjadi simbol tekanan rakyat terhadap pemerintahan Presiden Soekarno di penghujung masa Orde Lama.

    Masa Orde Lama itu ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam praktik ketatanegaraan setelah diberlakukannya Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejumlah lembaga negara dibentuk di luar ketentuan UUD 1945, sementara stabilitas politik terus melemah, seperti yang dilansir dari jurnal Tumbangnya Masa Orde Lama dan Datangnya Masa Orde Baru karya Mochamad Fikri, Jumat (9/1/2026).

    Situasi semakin rumit dengan menguatnya peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemerintahan, yang memicu kecemasan di berbagai kalangan, termasuk Angkatan Darat dan kelompok mahasiswa. Ketegangan ini memuncak setelah peristiwa G30S 1965, yang kemudian mempercepat krisis legitimasi pemerintahan Soekarno.

    Isi Tritura dan Aksi Mahasiswa

    Dalam kondisi tersebut, berbagai kesatuan aksi seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPI), serta organisasi profesi dan pemuda lainnya membentuk Front Pancasila. Melalui front inilah Tritura disampaikan secara terbuka kepada pemerintah.

    Tritura memuat tiga tuntutan utama, yaitu:

    1. Pembubaran PKI beserta organisasi massanya

    2. Perombakan Kabinet Dwikora

    3. Penurunan harga kebutuhan pokok

    Aksi besar penyampaian Tritura dilakukan dengan mendatangi Gedung DPR-GR pada 12 Januari 1966, yang kemudian memperkuat posisi 10 Januari sebagai momentum awal rangkaian tuntutan rakyat.

    Eskalasi Konflik dan Supersemar

    Presiden Soekarno merespons tekanan tersebut dengan melakukan reshuffle Kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966. Namun langkah ini justru memicu kekecewaan lebih luas karena dinilai masih melibatkan unsur-unsur yang dianggap dekat dengan PKI.

    Situasi memanas pada 24 Februari 1966 saat pelantikan kabinet baru. Dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan pengamanan, mahasiswa Arief Rachman Hakim gugur tertembak. Peristiwa ini semakin melemahkan wibawa pemerintah dan memperbesar gelombang perlawanan mahasiswa yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 66.

    Peran mahasiswa dalam peristiwa 1966 terdokumentasi dalam buku Pengumpulan Sumber Sejarah Lisan: Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998 yang diterbitkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 2011. Buku tersebut memuat kesaksian tokoh-tokoh Angkatan 66 mengenai dinamika gerakan mahasiswa dan perannya dalam perubahan politik nasional.

    Tekanan politik yang terus meningkat akhirnya berujung pada dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada 11 Maret 1966. Melalui surat tersebut, Presiden Soekarno memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban.

    Dalam jurnal karya Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, dijelaskan bahwa Supersemar menjadi titik balik penting dalam sejarah politik Indonesia. Sejak saat itu, kekuasaan Presiden Soekarno semakin tergerus, sementara Soeharto mulai mengambil peran dominan dalam pemerintahan.

    Langkah-langkah seperti pembubaran PKI, pembersihan kabinet dari unsur komunis, penataan lembaga negara, serta pembentukan Kabinet Ampera menandai lahirnya Orde Baru. Proses ini berpuncak pada Sidang Istimewa MPRS 1967 yang mencabut kekuasaan Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. (Angela Keraf)

  • Pasutri WN Pakistan Selundupkan 162 Kapsul Sabu dengan Ditelan

    Pasutri WN Pakistan Selundupkan 162 Kapsul Sabu dengan Ditelan

    Jakarta

    Dittipidnarkoba Bareskrim Polri menangkap pasangan suami-istri (pasutri) warga negara Pakistan bernama Javed Muhammad (35) dan Bibi Saima (28) lantaran hendak menyelundupkan sabu ke Indonesia. Mereka menyelundupkan barang haram itu dengan cara ditelan.

    Dirtipidnarkoba Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menyebutkan pengungkapan itu atas kerja sama bersama Bea-Cukai Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (6/1/2026), sekitar pukul 17.00 WIB.

    “Informasi dari petugas Bea-Cukai Bandara Soekarno-Hatta bahwa akan ada penyeludupan narkoba jenis sabu melalui penerbangan internasional dari Bangkok ke Jakarta, dengan modus ditelan (swallowing),” kata Eko melalui keterangannya, Jumat (9/1).

    Berdasarkan informasi itu, tim langsung menuju Terminal 3 Bandara Soetta untuk melakukan penyelidikan. Setelah diperiksa, tim mendapati sabu tersebut dimasukkan dalam 162 kapsul yang telah ditelan keduanya.

    “Tim mendapatkan informasi bahwa hasil pemeriksaan rontgen yang dilakukan terhadap dua orang tersangka berkewarganegaraan Pakistan yang diduga menyelundupkan narkoba dengan metode penyelundupan dengan cara ditelan atau dikenal sebagai body packing (atau internal drug concealment),” ucap Eko.

    Kedua tersangka mengakui bahwa kemasan kapsul yang ada di dalam perutnya merupakan narkotika. “Narkoba tersebut dikemas rapat dalam banyak paket kecil kemudian ditelan dan berada di lambung/usus,” tutur Eko.

    Eko belum mengungkap lebih jauh terkait modus dan tujuan keduanya. Termasuk mengenai jaringan kedua tersangka.

    “100 (seratus) buah kemasan berbentuk kapsul yang diduga berisikan narkotika jenis sabu yang berada di dalam perut tersangka Javed Muhammad (saat ini baru bisa dikeluarkan sejumlah 97 buah),” tuturnya.

    “Untuk Bibi Saima telah berhasil mengeluarkan 62 buah kapsul dari organ tubuhnya dari total 62 kapsul,” sambung Eko.

    Dengan begitu, total barang bukti kapsul berisi sabu yang disita sebanyak 159 buah dengan berat sekitar 1.639,23 gram.

    Pengeluaran barang bukti dilakukan oleh Tim medis Rumah Sakit Bhayangkara Pusdokkes Polri. Kapsul berisi sabu itu dikeluarkan secara alami dengan memberikan obat perangsang buang air besar.

    Kini, kedua tersangka masih dalam proses pemeriksaan dan tindakan medis di RS. Bhayangkara TK.I Pusdokkes Polri. Selanjutnya, penyidik akan melakukan pemeriksaan barang bukti ke Pusat Laboratorium Forensik Bareskrim Polri serta berkoordinasi dengan Kedubes Pakistan.

    Halaman 2 dari 2

    (ond/maa)

  • Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

    Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman Megapolitan 9 Januari 2026

    Selundup Baby Lobster, Kurir Dijanjikan Rp 5 Juta per Pengiriman
    Tim Redaksi
    TANGERANG, KOMPAS.com
    – Seorang tersangka penyelundupan benih bening lobster (BBL) atau baby lobster dijanjikan upah Rp 5 juta untuk menjadi kurir ke luar negeri.
    Penyelundupan itu rencananya dilakukan melalui Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, dengan tujuan Kamboja dan Singapura.
    Salah satu tersangka berinisial DR diketahui mendapat tugas dari pelaku lain berinisial UH untuk membawa koper berisi puluhan ribu
    baby lobster
    .
    “Dari hasil wawancara singkat, DR ternyata diberi upah Rp 5 juta,” ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama saat konferensi pers di KPU Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta, Jumat (9/1/2026).
    Djaka menjelaskan, DR diminta membawa koper berisi 29.780 baby lobster menuju Kamboja.
    Upah tersebut dijanjikan jika DR berhasil mengeluarkan barang ilegal itu dari Indonesia.
    Setelah menetapkan UH sebagai target operasi,
    Bea Cukai
    kemudian melakukan pengembangan kasus.
    Pada 8 Januari 2026, petugas menangkap UH bersama rekannya, FD, saat hendak terbang ke Singapura.
    Pemeriksaan bagasi keduanya kembali menemukan koper berisi baby lobster dengan jumlah lebih besar dan modus serupa.
    “Mereka berupaya pembawaan BBL sejumlah 43.615 ekor jenis pasir dengan metode penyamaran yang bertujuan mengelabui petugas,” kata Djaka.
    Seluruh baby lobster yang berhasil diamankan kemudian disita dan dilepasliarkan di perairan Pandeglang, Banten.
    Sementara itu, para tersangka dijerat Undang-Undang Perikanan dan Kepabeanan dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara serta denda hingga Rp 1,5 miliar.
    “Kami akan terus memperkuat sinergi dan pengawasan untuk memastikan sumber daya alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak melalui praktik ilegal,” ucap Djaka.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Bea Cukai Tangkap 4 Terduga Penyelundup 98.000 Benih Lobster ke Luar Negeri

    Bea Cukai Tangkap 4 Terduga Penyelundup 98.000 Benih Lobster ke Luar Negeri

    Bisnis.com, JAKARTA — Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) mengamankan empat penumpang berinisial FE, DR, UH, dan FD karena dugaan akan menyelundupkan benih bening lobster (BBL) ke luar negeri.

    Direktur Jenderal Bea Cukai Letjen TNI (Purn) Djaka Budhi Utama menjelaskan bahwa keempat orang itu akan berangkat ke Kamboja dan Singapura menggunakan penerbangan berbeda. 

    Namun saat petugas memeriksa, petugas menemukan 4 koper yang berisi BBL yang disembunyikan dalam selimut basah, serta dikemas dalam plastik bersegel berisi oksigen dan pendingin berupa es di dalam selimut.

    “Setiap penyelundupan baby lobster merugikan nelayan dan menghambat keberlanjutan usaha perikanan nasional. Bea Cukai hadir untuk mencegah eksploitasi ilegal sumber daya alam yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Djaka.

    Djaka memaparkan bahwa penindakan bermula dari pelaksanaan fungsi analisis dan pengawasan penumpang oleh Bea Cukai Soekarno-Hatta. Pada kasus 1, Sabtu (20/12) menerima informasi dari AVSEC Terminal 2F terkait adanya koper bagasi mencurigakan milik penumpang penerbangan rute Jakarta–Kamboja.

    Kemudian pada kasus 2, Sabtu (27/12) petugas Bea Cukai mendapat informasi yang sama dengan rute Jakarta–Kamboja. Pada kasus ke-3, petugas Bea Cukai Kamis (8/1) pukul 10.50 WIB, petugas Bea Cukai menerima informasi dari Aviation Security (Avsec) Terminal 2F terkait adanya koper bagasi mencurigakan milik penumpang penerbangan rute Jakarta–Singapura. 

    Dari ketiga kasus tersebut, dilaksanakan pemeriksaan bersama pemilik koper dan perwakilan maskapai di ruang rekonsiliasi dan didapati bahwa koper tersebut berisi BBL yang disembunyikan dalam selimut basah.

    Pada pengungkapan kasus 1, hasil wawancara dan pemeriksaan terhadap FE, diketahui bahwa penumpang tersebut membawa baby lobster sejumlah 24.770 ekor jenis Pasir dalam selimut basah yang dibungkus plastik. 

    Sementara itu, dalam kasus 2, dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa penumpang a.n DR membawa baby lobster sejumlah 29.780 ekor jenis Pasir dalam selimut basah yang dibungkus plastik.

    Hasil wawancara singkat yang dilakukan oleh otoritas kepabeanan diketahui bahwa DR diperintah oleh UH dengan upah 5 juta rupiah. Kemudian pengungkapan kasus 3, UH telah dikunci dalam sistem sebagai target, diketahui bahwa penumpang tersebut bepergian bersama rekannya FD yang berangkat menggunakan penerbangan berbeda. 

    Petugas kemudian melakukan penelusuran terhadap bagasi penumpang dan menemukan koper lain yang terindikasi berisi baby lobster.

    Setelah dilakukan pengamanan terhadap penumpang dan barang bawaannya, pemeriksaan lanjutan membuktikan adanya upaya pembawaan BBL sejumlah 43.615 ekor jenis pasir dengan metode penyamaran yang bertujuan mengelabui petugas. 

    Djaka menambahkan bahwa pengawasan terhadap komoditas strategis seperti baby lobster merupakan bagian dari peran Bea Cukai dalam melindungi kepentingan nasional.

    “Kami akan terus memperkuat sinergi dan pengawasan untuk memastikan sumber daya alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan segelintir pihak melalui praktik ilegal,” tutupnya.

    Atas penindakan tersebut, para tersangka telah diamankan ke Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta untuk penyelidikan lebih lanjut atas dugaan pasal 102A Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan ancaman hukuman pidana maksimal 10 tahun dan denda maksimal 5 miliar rupiah. 

    Terhadap kasus 1 dan 2, barang bukti telah
    dilakukan pencacahan dan pemusnahan bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan  Provinsi Banten di Instalasi Karantina Hewan Bandara Soekarno Hatta.

    Sementara itu, untuk kasus 3, barang bukti telah dilakukan pencacahan dan pelepasliaran bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan  Provinsi Banten dan PSPL di Pantai Ancol Jakarta Utara, pada Jumat (09/01).