Tag: Satya Nadella

  • Protes Kerja Sama dengan Israel

    Protes Kerja Sama dengan Israel

    Jakarta

    Puluhan pegawai Microsoft melakukan aksi demonstrasi di kantor pusat Microsoft di Redmond, Washington, Amerika Serikat.

    Mereka menduduki kampus timur di kantor pusat Microsoft tersebut. Dalam demo tersebut, mereka memprotes kerja sama Microsoft dengan Israel, tepatnya penggunaan software Microsoft oleh militer Israel yang kemudian dipakai untuk melakukan operasi militer di Gaza.

    Mereka pun memprotes penggunaan software Microsoft itu untuk memantau pergerakan warga Palestina di Gaza, demikian dikutip detikINET dari Guardian, Rabu (20/8/2025).

    Demo ini mereka lakukan sekitar seminggu setelah Microsoft mengaku melakukan investigasi independen terhadap penggunaan software Azure di Israel. Peserta demonya sendiri tak cuma karyawan Microsoft yang masih aktif, melainkan juga mantan karyawan Microsoft.

    Aksi yang dilakukan sekitar 50 orang ini menduduki semacam taman yang mereka deklarasikan sebagai “Free Zone” atau zona bebas. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Join The Worker Intifada – No Labor for Genocide” dan “Martyred Palestinian Children’s Plaza”.

    Kelompok yang melakukan demo ini menamai dirinya sebagai No Azure for Genocide. Mereka meminta Microsoft untuk melepaskan diri dari Israel. Seorang anggota kelompok ini yang bernama Joe Lopez pada awal 2025 ini juga melakukan aksi protes saat CEO Satya Nadella tengah berpidato di acara developer tahunan Microsoft.

    “Satya, coba anda tunjukkan bagaimana Microsoft membunuh warga Palestina,” kata Lopez saat itu.

    Salah seorang pendemo yang bernama Hossam Nasr mengaku mereka mengeskalasi aksinya karena sampai saat ini tidak ada tanggapan yang mencukupi dari Microsoft. Ia merasa perlu untuk melakukan aksi demo ini setelah Israel Defense Forces (IDF) melakukan serangan mematikan yang membunuh jurnalis Al Jazeera bernama Anas al-Sharif.

    “Saya menonton laporannya di Gaza tanpa kenal lelah, melewati kelaparan, pengeboman, dan aksi pembunuhan. Ia memang diincar,” kata Nasr, yang bekerja di Microsoft selama tiga tahun namun kemudian dipecat karena melakukan demo serupa pada 2024 lalu.

    (asj/asj)

  • Sayonara Microsoft Lens, Satya Nadella Migrasikan Pemindai ke Copilot AI

    Sayonara Microsoft Lens, Satya Nadella Migrasikan Pemindai ke Copilot AI

    Bisnis.com, JAKARTA — Microsoft akan menghentikan aplikasi pemindai dokumen milik mereka, Lens, pada perangkat iOS dan Android mulai September 2025.

    Hal tersebut disebabkan pihak Microsoft tengah mengarahkan penggunanya ke aplikasi chat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Copilot AI.

    Dilansir TechCrunch (11/8/2025), dalam dokumen dukungan terbaru Microsoft, setelah Microsoft Lens dihentikan pada 15 September mendatang, aplikasi tersebut kemudian akan dihapus dari Apple App Store dan Google Play pada 15 November.

    Pengguna yang sudah menginstal Aplikasi tersebut tetap dapat menggunakan fitur pemindaian Microsoft Lens hingga 15 Desember, lalu setelah tanggal tersebut, pemindaian baru tidak akan tersedia.

    Namun, pihak Microsoft mengatakan, meskipun pemindaian baru tidak tersedia, pengguna tetap dapat mengakses hasil pemindaian sebelumnya, selama aplikasi tersebut masih ada di dalam perangkat.

    Pertama kali diluncurkan pada 2015, Microsoft Lens, yang saat itu masih dikenal sebagai Office Lens, awalnya dirancang khusus hanya untuk perangkat Windows Phone, dan pada akhirnya terus berevolusi hingga kini.

    Meskipun fungsi intinya serupa dengan aplikasi pemindaian seluler lainnya, Microsoft Lns tidak mencoba membebankan biaya tambahan kepada pengguna untuk fungsi tertentu atau memaksa mereka untuk berlangganan.

    Keunggulan itulah yang membuat Microsoft Lens, sebetulnya dapat menjadi pembeda di antara aplikasi masa kini yang seringkali membebankan biaya tambahan atau biaya langganan.

    Aplikasi tersebut menjalankan tugasnya dengan mengubah catatan atau tulisan tangan apapun, dokumen, tanda terima, kartu nama, atau bahkan coretan papan tulis ke dalam format berkas yang dipilih, seperti PDF, Word, PowerPoint, Excel, atau gambar.

    Microsoft Lens juga menawarkan berbagai filter bawaan untuk menyempurnakan gambar yang dihasilkan, mencerahkan dokumen, mengubahnya menjadi salinan hitam-putih yang lebih tajam, dan masih banyak lagi.

    Pengguna bahkan dapat menyimpan berkas ke salah satu aplikasi Microsoft, layanan online lainnya, atau rol kamera dengan mudah, dan dengan hasil yang dinilai memuaskan.

    Dapat dikatakan, rencana Microsoft untuk melakukan migrasi ke Copilot AI malah merugikan pengguna Microsoft Lens, sebab meski Copilot mampu menangani pemindaian, tetapi di tidak mendukung penyimpanan hasil pemindaian langsung ke OneNote, Word, atau PowerPoint, dan juga tidak menyimpan hasil pemindaian kartu nama ke OneNote.

    Copilot AI juga tidak memiliki fitur aksesibilitas Lens seperti fitur baca-keras, dan integrasi Immersive Reader.

    Menurut data dari penyedia intelijen aplikasi, Appfigures, meski Microsoft Lens dapat dikatakan sebagai aplikasi yang cukup tua, tetapi dia tetap populer, dengan lebih dari 322.000 unduhan di App Store dan Google Play selama 30 hari terakhir. Hingga kini, sejak 2017, aplikasi tersebut sudah diunduh sebanyak 92,3 juta kali.

    (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Terus Diserang Elon Musk, Bos ChatGPT Tak Peduli

    Terus Diserang Elon Musk, Bos ChatGPT Tak Peduli

    Jakarta

    Sam Altman, CEO OpenAI pembuat ChatGPT, belakangan sering bertikai dengan Elon Musk. Namun Altman mengklaim ia sebenarnya tidak begitu peduli dengan orang terkaya dunia itu.

    Pernyataan Altman menyusul tudingan Musk bahwa OpenAI akan mendominasi Microsoft, setelah kedua perusahaan mengumumkan bahwa model AI terbaru OpenAI akan diintegrasikan ke produk-produk Microsoft.

    CEO Microsoft Satya Nadella mengumumkan layanan GPT-5 OpenAI akan diluncurkan di berbagai platform termasuk Microsoft 365 Copilot, Copilot, GitHub Copilot, dan Azure AI Foundry. Itu memicu tanggapan dari Musk yang bilang, “OpenAI akan menelan Microsoft hidup-hidup.”

    Nadella berusaha mengecilkan masalah tersebut. “Orang-orang telah mencoba hal itu selama 50 tahun dan itulah kesenangannya! Setiap hari Anda mempelajari sesuatu yang baru, dan berinovasi, bermitra, dan bersaing,” katanya di X.

    Nadela juga menyambut chatbot Grok 4 milik Musk yang tersedia di Azure dalam pratinjau terbatas. Ketika ditanya tentang komentar Musk, Altman mengaku tidak ambil pusing. “Anda tahu, saya tidak terlalu memikirkannya,” kata Altman.

    “Saya pikir dia hanya, seperti, berkicau sepanjang hari tentang betapa buruknya OpenAI,dan model kami buruk. Dan Anda tahu, kami tidak akan menjadi perusahaan yang baik dan sebagainya,” tambahnya.

    Altman dan Musk sering menyindir yang bermula dari ketidaksepakatan mereka tentang misi utama OpenAI, yang mereka dirikan bersama pada tahun 2015 sebagai laboratorium penelitian AI nirlaba.

    OpenAI sejak itu berusaha untuk berubah menjadi pencari laba dan memanfaatkan permintaan yang sangat besar untuk produk ChatGPT-nya yang viral, dengan Microsoft menjadi pendukung utama. Musk sebelumnya telah mengajukan kemudian membatalkan gugatan terhadap OpenAI dengan alasan pelanggaran kontrak.

    Awal tahun ini, bos Tesla itu juga memimpin sebuah konsorsium yang menawarkan akuisisi terhadap organisasi nirlaba yang mengendalikan OpenAI senilai USD 97,4 miliar. Altman menolak tawaran tersebut. “Tidak, terima kasih, tetapi kami akan membeli Twitter seharga USD 9,74 miliar jika Anda mau,” cetusnya ketika itu mengecilkan angkanya.

    (fyk/fay)

  • Terungkap Ngerinya Israel Sadap Jutaan Panggilan Telepon Setiap Jam

    Terungkap Ngerinya Israel Sadap Jutaan Panggilan Telepon Setiap Jam

    Jakarta, CNBC Indonesia – Unit intelijen militer Israel, Unit 8200, dilaporkan membangun sistem penyadapan massal yang mampu merekam jutaan panggilan telepon setiap jam dari warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Sistem ini didukung oleh layanan cloud milik Microsoft, Azure, dan telah beroperasi sejak 2022.

    Laporan ini diungkap melalui investigasi bersama media Inggris The Guardian, media Israel-Palestina +972 Magazine, dan outlet berbahasa Ibrani Local Call.

    Menurut laporan tersebut, pimpinan Unit 8200 Yossi Sariel bertemu langsung dengan CEO Microsoft Satya Nadella pada akhir 2021.

    Dalam pertemuan di kantor pusat Microsoft di Seattle itu, Sariel meminta akses khusus ke ruang penyimpanan cloud Azure untuk menyimpan materi intelijen rahasia dalam skala besar. Nadella disebut mendukung rencana tersebut.

    Menurut tiga sumber dari Unit 8200, platform penyimpanan cloud tersebut telah membantu dalam persiapan serangan udara mematikan dan turut menentukan jalannya operasi militer di Gaza dan West Bank.

    Dengan dukungan kapasitas Azure, Unit 8200 membangun sistem pengawasan canggih yang merekam dan menyimpan isi jutaan panggilan telepon seluler warga Palestina setiap harinya. Para pejabat intelijen menyebut proyek ini memiliki sebutan “Sejuta panggilan per jam.”

    Sistem tersebut memungkinkan petugas intelijen memutar ulang percakapan dari panggilan warga sipil secara luas, bukan hanya target tertentu. Beberapa sumber menyebut data ini telah digunakan untuk menyusun serangan udara di Gaza, termasuk di area padat penduduk.

    Microsoft menyatakan tidak mengetahui jenis data yang disimpan oleh Unit 8200 di Azure. Perusahaan menegaskan keterlibatan mereka hanya bertujuan memperkuat keamanan siber dan melindungi Israel dari serangan siber oleh negara atau kelompok teroris.

    “Kita tidak pernah mengetahui adanya pengawasan terhadap warga sipil atau penyadapan percakapan ponsel melalui layanan Microsoft, termasuk hasil tinjauan eksternal yang kami tunjuk,” kata juru bicara Microsoft, dikutip dari Guardian, Kamis (7/8/2025).

    Namun, dokumen internal Microsoft yang bocor dan kesaksian 11 sumber dari perusahaan dan intelijen Israel menunjukkan sebaliknya, data rekaman panggilan warga Palestina disimpan di pusat data Microsoft di Belanda dan Irlandia.

    Unit 8200 disebut meningkatkan penyadapan secara masif setelah gelombang serangan individu oleh warga Palestina pada 2015. Alih-alih hanya menyasar target tertentu, unit ini mulai melacak semua orang setiap saat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) yang menyisir isi pesan dan panggilan untuk menilai potensi ancaman.

    Salah satu sistem yang dikembangkan bahkan mampu memindai seluruh pesan teks dan memberi nilai risiko otomatis jika ada kata-kata seperti senjata atau keinginan bunuh diri. Sistem ini masih aktif digunakan hingga kini.

    Fokus awal dari sistem ini sebenarnya adalah wilayah West Bank, tempat sekitar 3 juta warga Palestina hidup di bawah pendudukan militer Israel. Sumber dari Unit 8200 menyebutkan bahwa informasi yang disimpan di Azure menjadi gudang intelijen tentang penduduk, yang dalam beberapa kasus digunakan untuk memeras, menahan, atau bahkan membenarkan pembunuhan setelah kejadian.

    “Kalau mereka butuh menangkap seseorang tapi tidak ada alasan yang cukup kuat, dari sanalah mereka cari alasan,” kata salah satu sumber, merujuk pada data yang disimpan di cloud.

    Sumber-sumber tersebut juga menyebutkan bahwa penggunaan sistem ini meningkat selama serangan militer di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 60.000 orang.

    Penghancuran infrastruktur telekomunikasi Gaza oleh Israel memang telah mengurangi volume panggilan telepon di wilayah tersebut, namun sumber menyatakan bahwa informasi yang telah disimpan di cloud tetap berguna.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Bos Microsoft Curhat Habis-habisan Usai PHK 9.000 Karyawan

    Bos Microsoft Curhat Habis-habisan Usai PHK 9.000 Karyawan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Bos Microsoft Satya Nadella buka suara usai merumahkan 9.000 karyawan awal bulan ini. Dia membicarakan ini lewat sebuah memo yang dikirimkan ke seluruh karyawan pekan lalu.

    “Saya ingin berbicara soal apa yang membebani saya dan apa yang saya tahu dari pikiran Anda: pemutusan hubungan kerja baru-baru ini,” kata Nadella dikutip dari The Verge, Kamis (31/7/2025).

    Menurutnya, keputusan PHK itu sangat sulit. Sebab berdampak pada orang yang telah bekerja dan berbagi momen dengan Microsoft.

    Microsoft sendiri, dia menjelaskan tengah berkembang dengan sangat pesat. Baik dari sisi kinerja, posisi dan pertumbuhan perusahaan.

    Namun raksasa teknologi itu harus menjalankan keputusan PHK. Meski begitu, Nadella mencatat jumlah karyawan ‘tidak berubah’ dan juga tak menjamin tak akan ada gelombang PHK lagi di masa depan.

    “Ini teka-teki kesuksesan pada industri yang tidak memiliki nilai waralaba. Kemajuan tidak linear. Kemajuan itu dinamis, terkadang tidak selaras dan selalu menentu,” jelasnya.

    “Namun ini jadi peluang baru untuk kita membentuk, memimpin dan memberikan dampak lebih besar,” dia menambahkan.

    Nadella juga memaparkan misi masa depan perusahaannya yang berpusat pada AI, teknologi yang tengah jadi fokus banyak perusahaan saat ini. AI dijadikan tiga prioritas bisnis, selain keamanan dan kualitas.

    “Keamanan dan kualitas tidak bisa ditawar. Infrastruktur dan layanan kami sangat penting untuk dunia dan tanpanya kami tidak bisa maju,” jelas Nadella.

    Terakhir, Nadella meminta para karyawannya untuk memiliki pola pikir berkembang di tengah situasi ini. Dia menegaskan transformasi yang terjadi akan selalu terasa berantakan.

    “Tim tengah melakukan reorganisasi. Cakupan kerja meluas. Peluang baru di mana-mana,” pungkasnya.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Alasan Raksasa Teknologi PHK Massal padahal Untung Gede

    Alasan Raksasa Teknologi PHK Massal padahal Untung Gede

    Jakarta, CNBC Indonesia – Microsoft jadi salah satu raksasa teknologi yang banyak memangkas karyawannya sepanjang tahun ini. CEO Satya Nadella memberikan alasan di balik kebijakan PHK, meski perusahaan mencatat keuntungan besar dan menggelontorkan belanja besar-besaran di sektor AI.

    Dalam pengumumannya, Microsoft menyebut akan melakukan PHK yang berdampak ke sekitar 15 ribu karyawan dan memangkas hampir 2.000 staf tambahan yang berkinerja buruk.

    Di sisi lain, Microsoft mencatatkan laba bersih mencapai US$75 miliar dalam tiga kuartal fiskal terakhir. Di bidang AI, perusahaan berinvestasi US$80 miliar.

    Saham Microsoft juga mengalami kenaikan hingga 21% pada tahun ini. Business Insider mencatat saham mencapai rekor tertinggi pada awal Juli ini.

    Dalam tulisannya kepada karyawan Microsoft, kondisi sekarang tengah mengalami ketidakpastian dan ketidaksesuaian. Meski mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, sayangnya juga melakukan PHK pada ribuan karyawannya.

    “Kami berinvestasi lebih banyak pada belanja modal daripada sebelumnya. Jumlah karyawan kami secara keseluruhan relatif tidak berubah dan sejumlah talenta dan keahlian di industri kami dan Microsoft diakui dan dihargai pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun saat bersamaan, kami mengalami PHK,” jelasnya dikutip dari Business Insider, Jumat (25/7/2025).

    Kondisi ini, dia mengatakan menjadi teka-teki dalam industri. Menurutnya kemajuan dinamis, jadi terkadang tidak selaras dan selalu menuntut.

    “Ini juga merupakan peluang baru untuk membentuk, memimpin dan memberikan dampak yang lebih besar dari sebelumnya,” kata Nadella.

    Kesuksesan yang bisa dicapai dapat diukur dengan kemampuan menjalani proses melupakan dan belajar yang dilalui sekarang, dia melanjutkan. Proses tersebut juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus mengalami perubahan, namun tetap mempertahankan dan meningkatkan skala bisnis yang ada serta menciptakan kategori dan fungsi produksi baru.

    “Hal ini pada dasarnya sulit dan hanya sedikit perusahaan mampu melakukan keduanya,” ucapnya.

    “Namun saya yakin kita bisa dan sekali lagi menemukan tekad, keberanian, dan kejelasan melaksanakan misi kita pada paradigma baru,” pungkas Nadella.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Apple Makin Sempoyongan, CEO Diminta Mundur

    Apple Makin Sempoyongan, CEO Diminta Mundur

    Jakarta, CNBC Indonesia – Firma riset LightShed Partners terang-terangan mengatakan Apple harus mempertimbangkan untuk mengganti CEO Tim Cook. Dalam catatan ke klien yang dilihat Bloomberg, analis Walter Piecyk dan Joe Galone mengatakan Apple saat ini membutuhkan CEO yang fokus pada produk, bukan hanya mengutamakan logistik.

    Bloomberg mencatat saham Apple sudah tertinggal jauh dari para pesaing seperti Microsoft dan Meta sepanjang 2025. Apple kehilangan momentum dalam persaingan menghadirkan fitur-fitur kecerdasan buatan (AI) yang menarik di lini produknya.

    Saham Apple anjlok 16% pada tahun 2025, dibandingkan dengan kenaikan 25% untuk Meta dan 19% untuk Microsoft.

    “Ketiadaan AI dapat secara fundamental mengubah arah jangka panjang perusahaan dan kemampuannya untuk tumbuh. AI akan membentuk kembali industri-industri di seluruh ekonomi global, dan Apple berisiko menjadi salah satu korbannya,” tertulis dalam catatan LightShed Partners yang diintip Bloomberg, dikutip dari MacRumors, Rabu (16/7/2025).

    Patut dicatat bahwa penurunan saham Apple tahun ini merupakan penurunan yang relatif kecil dalam kinerja jangka panjang perusahaan di bawah kepemimpinan Cook. Saham Apple telah naik lebih dari 1.400% sejak Cook menjabat sebagai CEO, dibandingkan dengan 430% untuk S&P 500.

    Usulan penggantian CEO Apple muncul beberapa saat setelah raksasa Cupertino mengumumkan Chief Operating Officer (COO) Jeff Williams akan mundur dari posisinya pada bulan ini. Ia akan digantikan oleh Sabih Khan.

    Williams pernah dianggap sebagai calon penerus Cook yang terkuat. Kini, Senior VP untuk Hardware Engineering Apple, John Ternus, diyakini sebagai kandidat terdepan.

    “Tim Cook adalah CEO yang tepat saat ia ditunjuk dan tidak diragukan lagi telah melakukan pekerjaan yang hebat, tetapi setelah kepergian Williams, sudah waktunya untuk perubahan yang lebih disruptif, bukan yang lebih sedikit,” tulis laporan dari LightShed Partners.

    Namun, Cook sepertinya tidak akan mundur dalam waktu dekat. Dalam buletin “Power On” terbarunya, Mark Gurman dari Bloomberg mengatakan belum ada pengganti langsung yang siap memimpin.

    “Belum ada tanda-tanda internal bahwa Cook sedang bersiap untuk pergi atau memulai proses mempersiapkan pengganti,” tulis Gurman dalam laporannya.

    Lebih lanjut, Gurman mengatakan dewan direksi tak merasa Apple butuh perubahan kepemimpinan. Jejeran direksi Apple adalah loyalis Cook. Misalnya Arthur Levinson, Susan Wagner, dan Ronald Sugar.

    Tak diragukan lagi Cook bertanggung jawab atas kesulitan Apple saat ini. Hal itu mencakup kesalahan langkah di sektor AI, jajaran produk yang menua, terkikisnya budaya desain, kekeringan hardware arus utama yang inovatif selama satu dekade, dan meningkatnya ketegangan dengan para pengembang dan regulator. Namun, tak diragukan lagi bahwa dewan direksi masih menganggapnya sebagai satu-satunya orang yang mampu membalikkan keadaan,” tulis Gurman.

    Bahkan, Gurman mengatakan pengaruh Cook di Apple bisa bertambah besar. Gurman mengatakan Cook bisa mengambil peran ganda sebagai Chairman Apple.

    “Levinson yang sudah lama menjadi Chairman Apple telah melampaui usia pensiun yang direkomendasikan dewan perusahaan. Jadi, tidak mengherankan jika Cook akhirnya mengambil peran tersebut, seperti yang telah dilakukan Iger, Dimon, Satya Nadella dari Microsoft Corp., dan Chuck Robbins dari Cisco Systems Inc. di perusahaan mereka. Hal ini akan memberi Cook cengkeraman yang lebih kuat pada produsen iPhone tersebut,” Gurman menjelaskan.

    Meskipun demikian, Apple tampaknya menyadari perlunya perubahan lain di perusahaan. Para eksekutif senior seperti kepala layanan Eddy Cue telah memperingatkan bahwa Apple berisiko menjadi BlackBerry atau Nokia berikutnya jika tidak beradaptasi dengan cepat.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elite Global Adakan Pertemuan Rahasia, Ini yang Dibicarakan

    Elite Global Adakan Pertemuan Rahasia, Ini yang Dibicarakan

    Idaho

    Para eksekutif top dan orang terkaya dari perusahaan teknologi, media, dan keuangan berkumpul di Sun Valley, Idaho, untuk menghadiri konferensi tahunan Allen & Co. minggu ini. Acara ini disebut sebagai perkemahan musim panas bagi para miliarder.

    Orang-orang penting dan berpengaruh ini muncul satu per satu di Bandara Memorial Friedman yang kecil di Hailey, Idaho. Menurut laporan, hingga 175 jet pribadi mendarat di landasan pacu dalam satu hari. Pers tidak diizinkan masuk dan meliput acara, tapi para reporter tetap memantau dan meliput siapa pun yang mereka bisa.

    CEO Disney, Bob Iger, mengenakan celana pendek, mendarat bersama istrinya, Willow Bay. Senior Vice President Apple, Eddy Cue, hadir, begitu pula CEO OpenAI, Sam Altman, yang mengenakan kaus dan kacamata hitam.

    Adapun CEO Apple Tim Cook, co-CEO Netflix Ted Sarandos, dan CFO Netflix Spencer Neumann mengenakan polo dan celana khaki. Sementara CEO Amazon Andy Jassy tampak memakai celana jins dan kemeja santai.

    Hadir pula CEO Microsoft Satya Nadella, CEO YouTube Neal Mohan, salah satu pendiri LinkedIn Reid Hoffman, salah satu pendiri Yahoo Jerry Yang, CEO Media Group Casey Wasserman, pemilik Boston Red Sox John Henry, CEO Yahoo Jim Lanzone, aktris Candice Bergen, dan salah satu pembawa acara CBS Mornings Gayle King.

    Pertemuan Sun Valley ikut dihadiri CEO OpenAI, Sam Altman. Foto: CNBC

    Terlihat pula Brian Armstrong, CEO bursa mata uang kripto Coinbase, CEO Walmart Doug McMillon, salah satu pendiri Home Depot Kenneth Langone, dan Chariman PayPal Ohn Donahoe. CEO General Motors Mary Barra, CEO Uber Dara Khosrowsha dan Tobias Lutke, CEO Shopify, termasuk di antara mereka. Begitu pula Bobby Kotick, mantan CEO Activision, dan Sheryl Sandberg, mantan COO Meta.

    Yang patut diperhatikan adalah absennya beberapa tokoh penting dalam konferensi tahun ini, termasuk Mark Zuckerberg dari Meta, Bill Gates dari Microsoft, dan Jeff Bezos dari Amazon, yang kabarnya diundang tapi belum terlihat. Mereka kadang datang di edisi sebelumnya. Adapun orang terkaya dunia Elon Musk tidak ada dalam daftar undangan.

    Pertemuan tahunan ini memang identik dengan busana santai layaknya liburan, membuat para orang penting itu terlihat sebagai sosok-sosok biasa. Tetapi di balik layar, tentunya mereka membicarakan banyak hal penting, terutama perkembangan terkini di dunia. Biasanya, juga muncul kesepakatan akuisisi.

    Dikutip detikINET dari Observer, perkembangan AI kabarnya menjadi tema utama tahun ini, di mana para raksasa teknologi telah menghabiskan ratusan miliar dolar dan selain itu menghadapi tekanan regulasi.

    Kemungkinan juga akan dibahas aksi-aksi Presiden Donald Trump yang terus melancarkan perang tarif dengan mitra dagang AS, yang mengguncang pasar keuangan, mengganggu stabilitas perdagangan dan investasi global.

    Konferensi Sun Valley dikenal eksklusif dan memiliki sejarah sebagai tempat berkembangnya berbagai kesepakatan bisnis penting. Konferensi ini menampilkan beragam kegiatan, termasuk hiking, arung jeram, dan golf, yang menyediakan suasana santai bagi para peserta untuk terlibat dalam diskusi bisnis maupun rekreasi. Seperti disebutkan, agenda konferensi bersifat privat, yang menambah daya tarik dan nuansa mistisnya.

    (fyk/fyk)

  • Microsoft Bakal PHK 9.000 Karyawan!

    Microsoft Bakal PHK 9.000 Karyawan!

    Jakarta

    Microsoft akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 9.000 pekerja. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dalam dua tahun ini.

    Kondisi tersebut telah dikonfirmasi Juru Bicara Microsoft. Sebelumnya, PHK terbesar pernah dilakukan raksasa teknologi itu pada 2023 dengan jumlah 10.000 pekerja.

    “Kami terus menerapkan perubahan organisasi yang diperlukan untuk memposisikan perusahaan dan tim dengan sebaik-baiknya demi kesuksesan di pasar yang dinamis,” kata Juru Bicara Microsoft dalam keterangannya, dikutip dari CNN, Kamis (3/7/2025).

    Salah satu penyebab PHK terjadi diduga karena perusahaan teknologi mengganti beberapa divisi menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membuat tenaga kerja mereka lebih efisien. Penggunaan AI juga dilakukan oleh Microsoft.

    Sebelumnya, CEO Microsoft Satya Nadella pernah mengatakan pada awal tahun ini bahwa 20-30% kode perusahaan dihasilkan oleh AI, dan perusahaan menggelontorkan miliaran dolar AS untuk investasi infrastruktur AI.

    Bulan ini bukan kali pertama Microsoft melakukan PHK. Sebelumnya, Microsoft memberhentikan 3% stafnya, sekitar 7.000 karyawan pada Mei.

    Perusahaan teknologi lain juga telah melakukan PHK tahun ini, termasuk Meta dan Bumble. CEO Amazon Andy Jassy juga memperingatkan stafnya bulan lalu bahwa AI pada akhirnya akan membantu perusahaan mengurangi jumlah karyawan.

    Tonton juga “Microsoft Berencana Pangkas Ribuan Karyawan Lagi” di sini:

    (ada/ara)

  • Microsoft Resmikan Data Center Pertama, Janji Bekali 1 Juta Talenta AI

    Microsoft Resmikan Data Center Pertama, Janji Bekali 1 Juta Talenta AI

    Jakarta

    Microsoft meresmikan data center pertama di Indonesia pada Selasa (27/5/2025). Fasilitas pusat data yang mereka namakan Indonesia Central Cloud Region itu dijanjikan akan membekali satu juta talenta dengan keterampilan kecerdasan buatan (AI) sepanjang 2025.

    Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, mengatakan Indonesia berpotensi terus berkembang seiring melesatnya pemanfaatan teknologi AI.

    “Indonesia memiliki talenta yang luar biasa, keragaman yang kaya dan semangat inovasi yang kuat. Kini, saat kita memasuki era AI, kita memiliki peluang luar biasa untuk memaksimalkan potensi ini guna mendorong pertumbuhan ekonomi baru, serta memberdayakan masyarakat dengan dasar tanggung jawab yang kuat,” ujar Dharma di Jakarta, Selasa (27/5/2025).

    Keberadaan data center Microsoft pertama di Indonesia ini merupakan implementasi dari investasi USD 1,7 miliar atau setara Rp 27,6 triliun selama empat tahun untuk infrastruktur cloud dan AI baru di Indonesia.

    Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh CEO Microsoft Satya Nadella saat berkunjung ke Indonesia pada tahun lalu.

    Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, mengatakan investasi yang dilakukan perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates itu berdampak pada ekonomi nasional.

    “Dan, tentu kami berharap investasi ini dapat berdampak kepada ekonomi sebesar USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 41 triliun dalam empat tahun ke depan,” ucap Meutya.

    Adapun, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Microsoft bekerjasama menginisi elevAIte Indonesia sebuah program pelatihan kecerdasan buatan dengan target satu juta talenta dalam negeri dapat menguasai bidang AI.

    “Kita harapkan akan sesuai dengan target, yaitu satu juta pelatihan digital oleh Microsoft bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Saya rasa ini boleh kita apresiasi dan terima kasih,” ungkapnya.

    Momen peresmian Indonesia Central Cloud Region yang dilakukan Microsoft dihadiri pejabat Pemerintah RI. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

    Guna mencapai target 1 juta pembekalan keterampilan AI bagi masyarakat Indonesia hingga tahun 2025 mendatang, implementasi elevAIte Indonesia akan terbagi ke dalam lima pilar utama.

    Pertama, Menyiapkan lembaga pemerintah untuk mendorong kecakapan AI nasional. Kedua, Integrasi AI di industri strategis nasional. Ketiga, Keterampilan AI dalam dunia pendidikan. Keempat, Peningkatan keterampilan AI bagi komunitas. Dan kelima, Demokratisasi AI bagi setiap individu.

    (agt/asj)