“Dari dua contoh penerima prize ini, saya ingin mengatakan, di negara maju, pengakuan saintifik diberikan atas kontribusi nyata, bukan atas label atau sertifikat linearitas gelar akademik,” tegasnya.
Ia bahkan mencontohkan bahwa lintas disiplin ilmu merupakan hal lumrah dalam dunia akademik.
“Seorang lulusan musik, bahkan, boleh saja dan bisa melakukan penelitian tentang filosofi matematika dalam pemodelan hubungan kausalitas,” imbuhnya.
Setelah memaparkan seluruh materi, Ridho menyerahkannya kepada pihak penyidik. Terkait dampak kesaksian tersebut, Ridho mengaku tidak mengetahui hasil akhirnya.
“Apakah kesaksian-ahli kami ada dampaknya? Kami tidak tahu, yang jelas status RRT masih sama setelah gelar perkara khusus tersebut,” ucapnya.
Namun ia memastikan bahwa standar akademik yang ia terapkan tidak main-main.
“Tapi paling tidak, dalam sedikit pengalaman akademis saya, yang saya siapkan untuk gelar perkara khusus tersebut sama standarnya dengan apa yang saya siapkan untuk presentasi atau kuliah, ketika saya studi di luar negeri dulu,” terang dia.
Ridho kemudian mengenang pengalamannya mempresentasikan riset di berbagai negara.
“Dalam pendek ingatan saya, saya pernah presentasi di Glasgow (Skotlandia), Hamburg (Jerman), Nijmegen (Belanda), Pittsburgh (Amerika Serikat), dan Reykjavik (Islandia), di hadapan banyak profesor dan ilmuwan dari berbagai bidang keilmuan,” ungkapnya.
Tidak berhenti di situ, Ridho menyampaikan harapan besar terhadap masa depan ilmu pengetahuan di Indonesia.
“Saya berharap, jangan sampai ilmu pengetahuan dianggap tidak berarti di negeri ini,” tandasnya.


/data/photo/2025/12/24/694ba1dbacbda.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/18/6943d3df9c86c.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/16/69403f912fcab.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)


/data/photo/2021/04/29/608a561aa7324.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)