Tag: Rano Karno

  • Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Tiba di Arena Rakernas I PDIP

    Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Tiba di Arena Rakernas I PDIP

    GELORA.CO -Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tiba di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2026 sekaligus peringatan HUT ke-53 PDIP di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. 

    Pantauan RMOL di lokasi, Presiden kelima RI itu tiba pukul 14.00 WIB didampingi Ketua DPP PDIP sekaligus putranya, Muhammad Prananda Prabowo.

    Kedatangan Megawati tampak disambut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Puti Guntur Soekarno, dan Gubernur serta Wagub Jakarta yang juga kader PDIP Pramono Anung serta Rano Karno ketika datang ke lokasi.

    Sejumlah abang dan none Jakarta juga terlihat menyambut Megawati di lokasi dan seorang di antaranya memberikan bunga mawar putih. Dia kemudian menerima bunga, lalu menyerahkan ke Prananda yang kemudian diserahkan ke Puti Guntur. 

    Megawati kemudian menaiki eskalator untuk menuju ruang Rakernas I sekaligus HUT ke-53. Dia tampak berpegangan dengan Prananda sebelum menaiki eskalator. 

    Sejumlah awak media kemudian menyapa Megawati yang sudah berada di eskalator merespons dengan melambai ke para wartawan.

    Sekadar informasi, PDIP mengusung tema Satyam Eva Jayate, dengan subtema Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-lamanya dalam Rakernas yang dilaksanakan dari 10-12 Januari 2026.

    Adapun, Satyam Eva Jayate adalah slogan berbahasa Sansekerta yang artinya “Kebenaran akan Menang”.

    Subtema “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya” diambil dengan mengutip lagu Indonesia Raya di stanza kedua.

    Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut Rakernas partainya dihadiri pengurus PDIP di tingkat pusat dan daerah yang diwakili ketua, sekretaris, dan bendahara.

    “Rakernas ini akan dibahas sikap politik, termasuk jawaban partai atas berbagai persoalan, hingga program internal partai dan tanggung jawab kerakyatan partai,” kata Hasto melalui keterangan persnya, Jumat, 9 Januari 2026.

  • Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Hadiri Rakernas dan HUT ke-53 PDIP di Ancol

    Didampingi Prananda Prabowo, Megawati Hadiri Rakernas dan HUT ke-53 PDIP di Ancol

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2026 sekaligus peringatan HUT ke-53 di arena Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). Dia tampak didampingi Ketua DPP PDIP sekaligus sang putranya, Prananda Prabowo.

    Berdasarkan pantauan Liputan6.com, Megawati tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB. Kehadiran Presiden ke-5 Republik Indonesia itu menandai dimulainya rangkaian agenda besar PDIP tersebut.

    Megawati datang ke lokasi dengan mengenakan pakaian berkelir merah dan hitam serta selendang. Dia disambut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Puti Guntur Soekarno, dan Gubernur serta Wagub Jakarta yang juga kader PDIP Pramono Anung serta Rano Karno.

    Sejumlah abang dan none Jakarta juga terlihat menyambut Megawati di lokasi dan seorang di antaranya memberikan bunga mawar putih. Dia kemudian menerima bunga, lalu menyerahkan ke Prananda yang kemudian diserahkan ke Puti Guntur.

    Megawati kemudian menaiki eskalator untuk menuju ruang Rakernas I sekaligus HUT ke-53, sembari berpegangan dengan Prananda. Ketua Dewan Pembina BRIN itu sempat menyapa awak media dengan melambaikan tangan.

     

  • Hadiri Perayaan Natal di JI-Expo, Pramono Ingatkan Keluarga Fondasi Bangsa

    Hadiri Perayaan Natal di JI-Expo, Pramono Ingatkan Keluarga Fondasi Bangsa

    Jakarta

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri perayaan Natal 2025 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Pramono mengatakan Natal kali ini berjalan damai.

    Perayaan Aktualisasi Nilai-nilai Natal 2025 ini dihadiri 14 ribu peserta. Selain Pramono, hadir juga Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dan Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    “Natal tahun ini benar-benar berlangsung dengan sejuk, damai, nyaman dan menggembirakan. Secara khusus saya juga ingin menyampaikan kepada masyarakat yang telah merayakan Natal penuh dengan rasa persatuan, kerukunan, gotong-royong dan di semua tempat berlangsung dengan sangat baik,” kata Pramono dalam sambutannya, Jumat (9/10/2026).

    Pramono kemudian mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membangun bangsa dan negara. Sebab dari keluarga, rasa sayang serta nilai kebajikan dibangun.

    “Tadi Kardinal telah menyampaikan bagaimana keluarga adalah inti dari bagaimana negara dan bangsa ini dibangun. Ada ruang-ruang tertanam, tempat cinta, rasa sayang, damai, iman dibangun, ditumbuhkan ruang-ruang di mana nilai kebajikan diwariskan dan solidaritas sosial dimulai,” ujarnya.

    Dia mengatakan keluarga bukan hanya unit sosial melainkan juga fondasi persaudaraan dalam kehidupan kota yang beragam. Dia menyebut karakter yang terbentuk dari lingkup keluarga dapat membentuk karakter sebuah kota.

    Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar bersyukur lantaran perayaan Natal kali ini peserta yang hadir banyak. Sebab organisasi gereja tingkat nasional atau aras berkumpul menjadi satu.

    “Kita bersyukur natal tahun ini luar biasa, natal bersama banyak. Seperti kita lihat tahun lalu masih banyak tempat-tempat masing-masing aras, tapi sekarang semua aras kumpul menjadi satu, Katolik, Kristen, menjadi satu, Kementerian Agama juga demikian ya pertama kali ini melakukan Natal bersama. Jadi Katolik, Protestan, pokoknya sama,” kata Nasaruddin.

    “Dan itu dipenuhi keakraban karena dihadiri bukan hanya satu aras saja tapi semuanya. Ini suatu mode kebersamaan yang perlu kita lestarikan. Dan yang paling penting buat saya pada DKI Jakarta ini luar biasa ya. Saya nggak bayangkan sebanyak ini yang datang karena sudah beberapa kali kita Natalan di tempat lain, di Senayan, tapi ini penuh. Ini karena kehebatan Pak Gubernur kita,” imbuhnya.

    Dalam perayaan Natal malam ini juga dilakukan penggalangan dana untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Total dana yang terkumpul mencapai Rp 300 juta lebih.

    (dek/whn)

  • Pramono Puji Natal 2025 di Jakarta Sejuk, Damai, dan Paling Meriah

    Pramono Puji Natal 2025 di Jakarta Sejuk, Damai, dan Paling Meriah

    Pramono Puji Natal 2025 di Jakarta Sejuk, Damai, dan Paling Meriah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri acara Aktualisasi Nilai-Nilai Natal 2025 yang digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Utara, Jumat (9/1/2026).
    Pramono menilai
    perayaan Natal
    tahun ini berlangsung meriah dengan suasana yang sejuk, damai, dan penuh kegembiraan.
    “Natal tahun ini benar-benar berlangsung dengan sejuk, damai, nyaman, dan menggembirakan,” ucap Pramono, Jumat.
    Ia menyebut, sekitar 14.000 orang hadir dan mengikuti rangkaian acara sejak siang hingga malam hari dengan antusias.
    “Sebagai pribadi, terus terang saya belum pernah melihat acara Natal yang semeriah ini. Hadir Bapak Menteri Agama, saya dilaporkan kurang lebih 14.000. Dan ini dari tadi siang sampai hari ini masih semangat,” kata dia.
    Dalam kesempatan tersebut, Pramono bersama Wakil
    Gubernur DKI
    Jakarta Rano Karno menyampaikan ucapan selamat Natal dan Tahun Baru 2026 kepada jajaran pemerintah, BUMD, serta umat Kristiani dan Katolik di Jakarta.
    Ia berharap, suasana damai Natal dapat menjadi energi positif untuk memasuki tahun baru sekaligus memperkuat persatuan dan toleransi di tengah keberagaman warga Jakarta.
    Perayaan
    Natal 2025
    mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” dengan subtema “Keluarga Menjadi Teladan Persatuan”.
    Menurut Pramono, tema tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat Jakarta yang beragam, karena keluarga memiliki peran penting dalam membentuk sikap saling menghargai dan toleransi.
    “Karakter warga dibentuk dari keluarga. Kalau keluarganya kuat, maka persatuan di kota juga akan terjaga,” ujar Pramono.
    Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen menjaga Jakarta sebagai kota yang aman dan nyaman bagi seluruh umat beragama dalam menjalankan ibadah.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kemeriahan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        1 Januari 2026

    Kemeriahan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta Megapolitan 1 Januari 2026

    Kemeriahan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Perayaan malam pergantian tahun di Jakarta, Rabu (31/12/2025), berlangsung meriah di berbagai titik keramaian ibu kota.
    Ribuan warga memadati kawasan Sudirman–Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Kota Tua, hingga sejumlah ruang terbuka publik.
    Meski tanpa pesta kembang api, suasana tetap semarak dengan hiburan musik, atraksi drone, serta rangkaian acara yang sarat pesan solidaritas bagi korban bencana di Sumatera.
    Pantauan Kompas.com di kawasan wisata Kota Tua,
    Jakarta
    Barat, pertunjukan drone digelar sekitar pukul 21.30 WIB dan berlangsung sekitar 15 menit.
    Formasi drone membentuk berbagai gambar mulai lingkaran, simbol hati, hingga wajah hewan yang bergerak mengikuti irama musik. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton mengiringi tiap perubahan formasi.
    Pada momen tertentu, drone membentuk pita hitam dan tulisan “Pray for Sumatera”, lalu disusul pesan “Mari hening sejenak”.Atraksi ini dipersembahkan sebagai bentuk solidaritas bagi para korban bencana di Sumatera.
    Memasuki detik pergantian tahun, langit Kota Tua kembali terang oleh permainan drone berbentuk Monas, MRT, hingga tulisan “Jakarta 500” sebagai simbol menyongsong lima abad Jakarta.
    Sorak sorai dan tepuk tangan penonton pun terdengar dari area lapangan terbuka Kota Tua yang dipadati pengunjung.
    Meski suasana meriah, sejumlah kembang api tetap terlihat dinyalakan warga dari kawasan permukiman sekitar Pinangsia, Glodok, hingga belakang Stasiun Jakarta Kota.
    Petugas segera menertibkan warga yang menyalakan kembang api di area perayaan.
    Pasalnya, Gubernur
    DKI Jakarta

    Pramono Anung
    melarang penggunaan kembang api saat
    malam tahun baru
    sebagai bentuk empati kepada korban bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat hingga Aceh.
    KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Pertunjukkan drone di detik-detik pergantian tahun 2026 di Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (1/12/2025) dini hari
    Tak hanya Kota Tua, perayaan tahun baru juga dilakukan di pusat ikon jantung kota.
    Di Bundaran HI, panggung besar dengan latar kuning-oranye berdiri menghadap Jalan MH Thamrin.
    Sekitar 10 layar LED dipasang mengelilingi area, lengkap dengan tata cahaya.
    Pada pukul 18.40 WIB puluhan drone mulai diterbangkan dan membentuk tulisan “Jakarta for Sumatera”, disertai visual Pulau Sumatera, slogan “Road to Jakarta 500”, maskot Je, Ka, dan Te, hingga beberapa ikon kota seperti Jakarta International Stadium.
    Saat drone membentuk tulisan “Jakarta Harus Lebih Persija”, penonton memberikan tepuk tangan dan sorakan meriah.
    Perayaan di Bundaran HI tak hanya diikuti warga Jakarta.
    Sejumlah pengunjung dari luar daerah juga terlihat hadir, termasuk Abdul Wahid (25), warga Maluku.
    “Dari Maluku sama saudara lagi liburan,” ucapnya, Rabu.
    Menurut dia, meski tanpa kembang api, perayaan tetap bermakna.
    “Ya, enggak apa-apa sih (tanpa ada kembang api) lagian kan Tahun Baru itu kan enggak harus dengan kembang api,” ujar Wahid.
    Keramaian warga dan hiburan yang disajikan menjadikan malam pergantian tahun sebagai momen tersendiri baginya.
    “Seru, rame gitu. Momen lah, momen buat Tahun Baru,” kata Wahid.
    KOMPAS.com/ RIDHO DANU PRASETYO Suasana malam Tahun Baru 2026 di Kota Tua, Jakarta Barat, Rabu (31/12/2025).
    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang hadir di lokasi memimpin langsung hitung mundur pergantian tahun. Ia didampingi Wakil Gubernur Rano Karno.
    Dari atas panggung utama, Pramono memandu langsung prosesi hitung mundur menuju awal tahun 2026, yang diikuti oleh seluruh warga.
    “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,” ucap Pramono diikuti warga.
    Selepas pergantian tahun, rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan musik.
    Grup band D’Masiv membawakan lagu Jangan Menyerah sebagai bentuk penghormatan dan dukungan moral bagi masyarakat Aceh dan Sumatera yang terdampak bencana.
    Dalam sambutannya, ia menegaskan keberagaman merupakan kekuatan utama yang harus terus dijaga dalam pembangunan Jakarta.
    Lebih lanjut, Pramono menyampaikan bahwa Jakarta secara khusus mendedikasikan malam pergantian tahun ini sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah lain di Indonesia yang tengah dilanda musibah.
    “Dari Jakarta, kita kirimkan empati, doa, dan harapan bagi mereka semua. Dengan semangat kebersamaan dan empati tersebut, pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih untuk tidak menghadirkan kembang api dan petasan pada malam pergantian tahun ini,” ujarnya.
    Sekitar pukul 00.45 WIB, warga mulai meninggalkan lokasi. Banyak yang berjalan kaki menuju halte Transjakarta, stasiun MRT, dan area parkir di sekitar Sudirman–Thamrin.
    Di saat bersamaan, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) langsung membersihkan area. Sebanyak 3.845 petugas pasukan oranye diterjunkan untuk menangani sampah perayaan.
    Kepala DLH Asep Kuswanto menargetkan Jakarta kembali bersih sebelum subuh.
    “Kami ingin memastikan sebelum subuh Jakarta sudah kembali kinclong. Setelah rangkaian doa bersama dan penggalangan dana selesai, petugas langsung turun agar sampah tidak menumpuk dan kota bisa segera bernafas kembali,” ujar Asep dalam keterangannya, Rabu.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Nyala Kembang Api Mengiringi Pergantian Hari Tahun Baru 2026 di Jakarta

    Nyala Kembang Api Mengiringi Pergantian Hari Tahun Baru 2026 di Jakarta

    Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jakarta mengeluarkan kebijakan terkait dengan larangan menyalakan kembang api saat malam pergantian Tahun Baru 2026.

    Sebagai ganti kembang api dalam rangkaian perayaan malam pergantian tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan berbagai atraksi drone di delapan lokasi.

    Kendati demikian, larangan menyalakan kembang api dan petasan tersebut diperuntukkan bagi instansi pemerintah provinsi dan swasta, seperti dinas hingga pengelola hotel atau pusat perbelanjaan.

    Tak heran, jika dentuman dan warna-warni kembang api masih saja menghiasi langit Jakarta, terutama ketika mengiringi pergantian hari tahun baru 2026.

    Dari pantauan Bisnis, perayaan malam tahun baru di sekitar Bundaran HI dan FX Sudirman tetap saja diwarnai dengan kembang api.

    Tepat pukul 00.00 WIB, kembang api menyala dari panggung utama Bundaran HI yang dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dan sejumlah duta besar.

    Sontak masyarakat bersorak melihat kembang api menyala dari panggung utama dan penjuru jalan lainnya.

    Pasalnya, Pramono sempat menyatakan melarang pesta kembang api saat malam pergantian tahun sebagai bentuk solidaritas kepada korban bencana di Sumatra dan Aceh.

    Kendati Pramono sebelumnya juga mengimbau warga Jakarta agar menahan diri untuk tidak menyalakan kembang api, tetapi dia mengakui bahwa Pemprov DKI tidak bisa sepenuhnya melarang masyarakat secara personal yang menyalakan kembang api atau petasan.

    Adapun, setelah kembang api menghiasi langit Jakarta di sekitar Bundaran HI, band D’Masiv langsung mengambil alih panggung membawakan sejumlah lagu sehingga berhasil mencuri perhatian masyarakat untuk bernyanyi bersama.

    Penampilan Band D’Masiv juga diiringi oleh atraksi drone, membentuk formasi salah satunya adalah Jakarta For Sumatra.

    Acara tersebut tidak luput dari doa bersama agar Sumatra dan Aceh segera pulih total setelah diterpa bencana. Tak hanya itu, acara perayaan malam tahun baru juga disertai dengan pengumpulan donasi dari masyarakat melalui barcode Qris untuk nantinya disalurkan kepada korban terdampak bencana di Sumatra dan Aceh.

    Selain dari donasi tersebut, sekitar 10% pendapatan dari wisata Ancol pada Rabu (31/12/2025) juga turut disumbangkan oleh Pemprov DKI.

  • ​Dirayakan Sederhana, Tahun Baru 2026 di Jakarta Tanpa Pesta Kembang Api

    ​Dirayakan Sederhana, Tahun Baru 2026 di Jakarta Tanpa Pesta Kembang Api

    Jakarta: Perayaan tahun baru 2026 di Jakarta resmi dibuat sederhana tanpa pesta kembang api. Hal ini dikonfirmasi resmi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

    Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan tahun baru biasanya dihiasi dengan pesta kembang api di berbagai bagian wilayah Jakarta. Kini DKI Jakarta resmi merayakan tahun baru dengan kesederhanaan.

    Turut berduka cita atas bencana Aceh Sumatra, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam pernyataan resminya mengungkapkan tidak adanya perayaan tahun baru 2026 dengan pesta kembang api.

    Pramono Anung mengumumkan bahwa jumlah titik perayaan tahun baru 2026 di Jakarta yang mulanya ada di 14 titik, kini  menetapkan hanya ada delapan titik yang tersebar di lima wilayah Jakarta. 

    Meskipun dibuat sederhana, perayaan tahun baru 2026 ini tetap memilih Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai titik pusat perayaan.

    Pada lokasi ini, diprediksi akan tetap menjadi destinasi favorit warga Jakarta untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama. 

    “Sebelumnya dipersiapkan sebanyak 14 titik, akhirnya diputuskan menjadi delapan titik. Titik utamanya nanti ada di Bundaran HI,” ujar Pramono Anung.

    Dalam acara puncak di Bundaran HI tersebut, Gubernur Pramono Anung akan hadir didampingi oleh Wakil Gubernur Rano Karno dan Sekretaris Daerah Jakarta, Uus Kuswanto. 

    Sementara itu untuk tujuh lokasi lainnya yang tersebar di wilayah Jakarta, kegiatan akan dipimpin oleh masing-masing Wali Kota setempat.

    Pada proses pengumuman perayaan tahun baru 2026, Pramono menekankan bahwa kembang api tidak boleh diadakan termasuk oleh pihak swasta seperti hotel, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan.

    “Untuk wilayah seluruh Jakarta, yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta, kami meminta untuk tidak ada kembang api dan kami akan mengeluarkan surat edaran untuk hal tersebut,” tuturnya.
     

    Pramono dalam pernyataannya mengatakan bahwa keputusan ini dibuat sebagai bentuk empati mendalam terhadap saudara di Sumatra yang terkena bencana alam. 

    Meskipun diadakan secara sederhana, penyambutan tahun baru 2026 akan tetap digelar di Jakarta sebagai bentuk rasa optimisme terhadap hal positif di tahun 2026. 

    (Syarifah Komalasari)

    Jakarta: Perayaan tahun baru 2026 di Jakarta resmi dibuat sederhana tanpa pesta kembang api. Hal ini dikonfirmasi resmi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
     
    Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan tahun baru biasanya dihiasi dengan pesta kembang api di berbagai bagian wilayah Jakarta. Kini DKI Jakarta resmi merayakan tahun baru dengan kesederhanaan.
     
    Turut berduka cita atas bencana Aceh Sumatra, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam pernyataan resminya mengungkapkan tidak adanya perayaan tahun baru 2026 dengan pesta kembang api.

    Pramono Anung mengumumkan bahwa jumlah titik perayaan tahun baru 2026 di Jakarta yang mulanya ada di 14 titik, kini  menetapkan hanya ada delapan titik yang tersebar di lima wilayah Jakarta. 
     
    Meskipun dibuat sederhana, perayaan tahun baru 2026 ini tetap memilih Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai titik pusat perayaan.
     
    Pada lokasi ini, diprediksi akan tetap menjadi destinasi favorit warga Jakarta untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama. 
     
    “Sebelumnya dipersiapkan sebanyak 14 titik, akhirnya diputuskan menjadi delapan titik. Titik utamanya nanti ada di Bundaran HI,” ujar Pramono Anung.
     
    Dalam acara puncak di Bundaran HI tersebut, Gubernur Pramono Anung akan hadir didampingi oleh Wakil Gubernur Rano Karno dan Sekretaris Daerah Jakarta, Uus Kuswanto. 
     
    Sementara itu untuk tujuh lokasi lainnya yang tersebar di wilayah Jakarta, kegiatan akan dipimpin oleh masing-masing Wali Kota setempat.
     
    Pada proses pengumuman perayaan tahun baru 2026, Pramono menekankan bahwa kembang api tidak boleh diadakan termasuk oleh pihak swasta seperti hotel, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan.
     
    “Untuk wilayah seluruh Jakarta, yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta, kami meminta untuk tidak ada kembang api dan kami akan mengeluarkan surat edaran untuk hal tersebut,” tuturnya.
     

     
    Pramono dalam pernyataannya mengatakan bahwa keputusan ini dibuat sebagai bentuk empati mendalam terhadap saudara di Sumatra yang terkena bencana alam. 
     
    Meskipun diadakan secara sederhana, penyambutan tahun baru 2026 akan tetap digelar di Jakarta sebagai bentuk rasa optimisme terhadap hal positif di tahun 2026. 
     
    (Syarifah Komalasari)

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (RUL)

  • Kaleidoskop 2025: Setahun Jakarta Dipimpin Pramono–Rano Karno Usai Era Pj Gubernur
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        31 Desember 2025

    Kaleidoskop 2025: Setahun Jakarta Dipimpin Pramono–Rano Karno Usai Era Pj Gubernur Megapolitan 31 Desember 2025

    Kaleidoskop 2025: Setahun Jakarta Dipimpin Pramono–Rano Karno Usai Era Pj Gubernur
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam sejarah pemerintahan ibu kota Jakarta.
    Setelah bertahun-tahun dilalui oleh Penjabat (Pj) Gubernur, akhirnya pemerintahan DKI Jakarta kembali dipimpin oleh gubernur definitif, yakni
    Pramono Anung
    sebagai Gubernur bersama
    Rano Karno
    sebagai Wakil Gubernur.
    Dengan pergantian ini, kebijakan jangka panjang di berbagai sektor pemerintahan dan pelayanan publik lahir.
    Sebelum era Pj, DKI Jakarta dipimpin oleh Anies Baswedan yang menyelesaikan masa jabatan Gubernur hingga 16 Oktober 2022.
    Di masa kepemimpinan Anies diwarnai berbagai kebijakan yang dilakukan, mulai dari infrastruktur, program sosial, hingga membuat program identitas seperti pembangunan Jakarta International Stadium (JIS), Rumah DP 0 Rupiah, dan Formula E.
    Setelah masa jabatannya berakhir, Pemerintah Pusat tidak langsung menunjuk gubernur definitif baru sesuai mekanisme Pilkada, sehingga DKI memasuki periode jabatan sementara melalui tenaga Penjabat.
    Untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan setelah berakhirnya masa Anies Baswedan, kala itu Presiden Joko Widodo menunjuk Heru Budi Hartono sebagai Penjabat
    Gubernur DKI Jakarta
    pada 17 Oktober 2022.
    Heru Budi sebelumnya menjabat Kepala Sekretariat Presiden dan memiliki pengalaman birokrasi yang kuat.
    Heru Budi kemudian menjalankan tugasnya selama dua tahun hingga 17 Oktober 2024, fokus utamanya menjaga stabilitas tata kelola pemerintahan serta melanjutkan program-program penting, terutama yang terkait pelayanan dasar dan program transisi pemerintahan.
    Menjelang akhir 2024, masa tugas Heru sebagai Pj Gubernur berakhir.
    Presiden Joko Widodo kemudian mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 125P tertanggal 16 Oktober 2024 yang memberhentikan Heru Budi Hartono dan mengangkat Teguh Setyabudi sebagai Penjabat Gubernur DKI Jakarta yang baru.
    Teguh Setyabudi, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil di Kementerian Dalam Negeri, memimpin pemerintahan sementara sejak 18 Oktober 2024.
    Penunjukan ini dimaksudkan untuk memastikan kesinambungan proses administratif pemerintahan hingga proses pilkada dan pelantikan gubernur definitif selesai.
    Selama masa jabatannya, Teguh berupaya memaksimalkan roda pemerintahan, terutama menjelang momentum pergantian kepemimpinan definitif setelah Pilkada 2024 selesai.
    Pergantian kepemimpinan terjadi pada awal 2025, tepatnya Kamis, 20 Februari 2025, ketika Pramono Anung dan Rano Karno resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta secara definitif di Balai Kota Jakarta.
    Kepemimpinan ini menjadi babak baru setelah bertahun-tahun Jakarta dipimpin oleh jajaran Penjabat.
    Pasangan ini membawa agenda yang lebih terarah untuk pembangunan jangka panjang.
    Mereka sempat menyusun 40 program kerja yang diprioritaskan dalam 100 hari pertama masa pemerintahan atau yang disebut “Quick Wins”.
    Fokus utamanya mencakup pengendalian banjir, perbaikan transportasi publik, hingga pendidikan.
    Sepanjang 2025, apa saja yang Sudah Dijalankan Pramono-Rano?
    Pramono-Rano melakukan integrasi antarmoda untuk meredam kemacetan yang telah menjadi problem lama ibu kota.
    Untuk menjangkau kawasan yang lebih luas dan meminimalkan kendaraan pribadi, pemerintah memperluas layanan Transjakarta menjadi Transjabodetabek, mencakup rute ke:
    * Tangerang Selatan (Blok M – Alam Sutera),
    * Bekasi (Vida Bekasi – Cawang),
    * Bogor (Bogor – Blok M),
    * Sawangan – Lebak Bulus,
    * PIK2 – Blok M.
    Tujuannya: menurunkan jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke Jakarta dari wilayah penyangga.
    Sebagai stimulus agar masyarakat beralih ke transportasi umum, ada 15 kelompok masyarakat tertentu yang digratiskan untuk naik moda transportasi Transjakarta, MRT, LRT, dan JakLingko, seperti lansia, penyandang disabilitas, pelajar, tokoh agama, dan pekerja gaji rendah.
    Salah satu kebijakan menarik agar mendorong masyarakat naik transportasi umum adalah kewajiban ASN naik transportasi umum setiap Rabu.
    Aturan ini dikeluarkan oleh Pramono secara resmi melalui Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 6 Tahun 2025.
    Selain urusan transportasi dan kemacetan, Pramono juga menyoroti pengendalian banjir.
    Ia menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) mempercepat pengerukan kali, sungai, waduk, situ, dan embung.
    Hingga 12 Desember 2025, volume pengerukan mencapai 856.886 meter kubik yang dilakukan di 1.996 titik, terdiri dari: 850 titik di kawasan Jakarta Timur, 318 titik di Jakarta Barat, 558 titik Jakarta Utara, 103 titik berada di Jakarta Selatan, dan 167 titik ada di Jakarta Pusat.
    Selain pengerukan, Pemprov juga membangun waduk/situ/embung baru untuk menambah kapasitas tampung air sekaligus mengurangi limpasan saat hujan puncak.
    Lokasinya tersebar di tiga wilayah:
    Jakarta Barat: Waduk Aseni, Embung Jaya 25.
    Jakarta Timur: Embung Giri Kencana, Embung Bambu Hitam, Embung Jalan Sejuk, Embung Aneka Elok.
    Jakarta Selatan: Embung Lapangan Merah, Embung Kemang Utara IX (Dharmajaya), Embung Jagakarsa, Embung Pemuda.
    Tujuan utamanya agar genangan berkurang, aliran air lebih terkendali, dan kawasan rawan banjir perlahan ditangani.
    Bidang pendidikan juga mendapat perhatian.
    Pemerintah memastikan siswa dari keluarga kurang mampu tetap bisa bersekolah melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan kebijakan pemutihan ijazah.
    Untuk KJP, pada Tahap I Tahun 2025 tercatat 707.622 siswa, sementara Tahap II Tahun 2025 sebanyak 707.513 siswa.
    Angka tersebut mencakup penerima lanjutan dan penerima baru, termasuk siswa yang sudah lulus SLTA.
    Rincian Jumlah Penerima (Tahap II Tahun 2025):
    – Total: 707.513 peserta didik.
    – Penerima Lanjutan (Existing): 622.157 siswa.
    – Penerima Baru: 85.356 siswa.
    Jumlah Penerima Berdasarkan Jenjang (Contoh Tahap II):
    – SD/MI: 249.919 siswa.
    – SMP/MTs: 147.341 siswa.
    – SMA/MA: 48.876 siswa.
    – SMK: 83.403 siswa.
    – PKBM: 1.083 siswa.
    Selain KJP, Pemprov DKI juga memutihkan 6.050 ijazah sepanjang 2025.
    Program ini ditujukan bagi lulusan sekolah menengah swasta yang ijazahnya tertahan karena tunggakan biaya pendidikan.
    Pemutihan ijazah tersebut dilakukan secara bertahap.
    Pada tahap pertama, pemutihan diberikan kepada 117 siswa.
    Tahap kedua menyasar 371 siswa, disusul tahap ketiga sebanyak 820 siswa.
    Selanjutnya, tahap keempat dilaksanakan dalam dua gelombang dengan jumlah penerima masing-masing 744 siswa dan 1.238 siswa.
    Adapun tahap kelima menjadi tahap dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 2.753 siswa.
    Sepanjang 2025, beragam program telah dijalankan.
    Namun, beberapa masih membutuhkan penyempurnaan.
    Evaluasi tahunan ini mengingatkan bahwa keberhasilan pemerintahan bukan diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari manfaat nyata yang benar-benar dirasakan warga Jakarta.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang Megapolitan 30 Desember 2025

    Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Pergantian tahun di Jakarta tahun ini tidak lagi semata dimaknai sebagai pesta cahaya dan dentuman di langit malam.
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih menarik rem perayaan, menyusul bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
    Imbauan hingga larangan menyalakan
    kembang api
    menjadi simbol sikap empati, bahwa euforia seharusnya ditahan ketika duka masih menyelimuti daerah lain.
    Kebijakan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Di tengah suasana nasional yang masih dibayangi kabar korban, pengungsian, dan kerusakan akibat bencana, pesta kembang api dianggap berpotensi melukai rasa solidaritas.
    Perayaan yang identik dengan hura-hura dinilai tidak sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian antardaerah.
    Namun, di tingkat akar rumput, kebijakan ini bersinggungan langsung dengan kehidupan pedagang kecil yang menggantungkan pemasukan pada momentum akhir tahun.
    Bagi mereka,
    tahun baru
    bukan sekadar perayaan, melainkan satu dari sedikit kesempatan dalam setahun untuk memutar roda ekonomi.
    Sasarannya dianggap mengarah pada perayaan besar, acara resmi, atau konsumsi kembang api berskala besar.
    Namun, dalam praktiknya, gema larangan itu merembes hingga ke lapak-lapak sederhana di pinggir jalan.
    Di sejumlah titik di Jakarta, termasuk Tanah Abang, pedagang kembang api tetap muncul. Namun, jumlah barang yang dijual lebih terbatas.
    Tidak ada lagi stok besar atau variasi mencolok. Lapak-lapak terlihat lebih sederhana, seolah berdagang sambil menunggu situasi.
    Di Tanah Abang, suasana jelang Tahun Baru tetap hidup, tetapi tidak seramai biasanya. Trotoar dipenuhi payung warna-warni yang menaungi kardus-kardus kembang api.
    Pembeli datang dan pergi tanpa keramaian berlebihan. Tidak ada teriakan menawarkan dagangan. Para pedagang lebih banyak duduk, menunggu, dan mengamati sekitar.
    Sesekali mereka berdiri saat ada calon pembeli yang berhenti. Di antara deretan lapak itu, Linda menjadi salah satu pedagang yang sudah akrab dengan ritme musiman ini.
    Baginya, jualan kembang api bukan hal baru, melainkan rutinitas tahunan yang dijalani dengan perhitungan matang.
    “Sudah biasa tiap tahun, kalau jual beginian (kembang api) kan enggak bisa tiap hari,” kata Linda saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Senin (29/12/2025).
    Pengalaman panjang membuat Linda memahami betul risiko yang melekat pada dagangan kembang api.
    Ia memilih jenis barang yang menurutnya masih aman dan tidak berpotensi menimbulkan masalah keselamatan.
    Dalam kondisi larangan seperti sekarang, kehati-hatian menjadi prinsip utama.
    Ia menyadari, ruang gerak pedagang kecil semakin sempit ketika kebijakan empati diberlakukan secara luas.
    “Cuma saya jual barang-barang enggak bahaya,” kata dia.
    Meski demikian, permintaan dari masyarakat tidak sepenuhnya hilang. Masih ada pembeli yang mencari kembang api untuk anak-anak atau sekadar simbol kecil perayaan.
    “Yang beli mah ada aja, biasanya ibu-ibu beli buat anak,” kata dia.
    Linda mengetahui soal larangan menyalakan kembang api tahun ini. 
    Ia memahami bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan empati atas bencana di Sumatera, meski menurutnya dampak langsung lebih terasa di kalangan pedagang kecil.
    Larangan ini membuat pedagang enggan menyetok barang dalam jumlah besar. Modal yang dimiliki pun dijaga agar tidak terjebak dalam stok yang tak terjual.
    Bagi pedagang kecil, barang yang mengendap berarti uang yang tidak berputar.
    “Makanya kita beli enggak banyak-banyak. Takutnya enggak laku duit kita
    mendem,”
    ujar dia.
    Linda menyebut modal awal yang ia gunakan relatif terbatas. Ia tidak berani mengambil risiko besar di tengah situasi yang tidak pasti.
    “Ini sih dari bos dikirimin, kalau modal awal kita paling Rp 1 juta,” kata dia.
    Hasil penjualan pun jauh dari kata pasti. Ada hari yang sedikit, ada pula hari yang nyaris tanpa transaksi.
    “Enggak tentu (lakunya) paling Rp 100.000 yang laku juga kan paling kembang api aja,” kata dia.
    Karena ketidakpastian itu, ia memilih tidak menambah stok baru. Dagangan yang dijual merupakan sisa dari tahun sebelumnya.
    “Ini kan kita karena sisa (tahun lalu) nggak beli lagi,” ujar dia.
    Meski sadar risiko, Linda tetap memilih berjualan. Baginya, membiarkan barang tersimpan tanpa dijual justru lebih merugikan.
    “Jadi kita, ya, kita lakuin aja daripada nggak jadi duit. Mendingan jadi duit, kan, sayang,” katanya.
    Selain soal penjualan, bayang-bayang razia juga menjadi pertimbangan. Namun, Linda membedakan dengan jelas antara kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi.
    Ia merasa kebijakan penertiban lebih menyasar jenis barang tertentu.
    “Emang kalau petasan dirazia, kalau kembang api kan ada surat izinnya,” kata dia.
    Selama bertahun-tahun berdagang, ia mengaku relatif aman dari penertiban. Situasi di lapaknya cenderung kondusif.
    “Kalau yang razia-razia tuh yang kayak petas-petasan, Tapi saya sih,
    alhamdulillah,
    ini udah berapa tahun-tahun aman aja,” ujar dia.
    Cerita serupa datang dari Siti (bukan nama sebenarnya), pedagang lain di Tanah Abang. Ia juga merasakan dampak langsung dari
    larangan kembang api
    tahun ini.
    Bagi Siti, jualan kembang api hanyalah usaha musiman untuk menutup kebutuhan akhir tahun.
    “Saya jualan kembang api itu baru sekitar lima tahunan ini. Setiap mau tahun baru aja. Kalau hari biasa saya jualan nasi uduk pagi-pagi,” kata dia.
    Ia memahami alasan empati di balik larangan tersebut, tetapi tetap berada di posisi sulit sebagai pedagang kecil.
    “Saya paham maksudnya. Kita juga sedih ada bencana. Tapi di sisi lain, buat pedagang kecil kayak saya, ini satu-satunya kesempatan setahun,” ujar dia.
    Informasi soal larangan kembang api menjelang Tahun Baru diterima warga dengan cara yang beragam.
    Tidak semua mendapatkan penjelasan utuh. Sebagian hanya menangkap kabar sekilas dari media sosial atau obrolan di grup percakapan.
    Bagi ibu rumah tangga bernama Rina (36), larangan tersebut terdengar samar. Ia tahu ada pembatasan, tetapi tidak memahami detailnya.
    Kondisi ini membuatnya berada di posisi yang serba tanggung, antara mengikuti imbauan dan menanggapi keinginan anak-anak di rumah.
    “Iya, saya sih dengar katanya kembang api sama petasan itu dilarang di Jakarta. Cuma ya dengarnya sekilas-sekilas doang,” kata Rina saat ditemui, Senin.
    Ia tidak tahu apakah larangan berlaku untuk semua jenis kembang api atau hanya yang berskala besar dan berbahaya.
    “Detailnya saya juga nggak ngerti. Dilarangnya semua apa cuma yang gede-gede, saya juga nggak tahu,” kata dia.
    Meski begitu, Rina memahami alasan di balik imbauan tersebut. Ia menangkap pesan empati terhadap korban bencana di Sumatera sebagai hal yang patut dihormati.
    Namun di sisi lain, ia juga menghadapi kenyataan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, di mana anak-anak sudah lama menunggu momen pergantian tahun.
    Dalam situasi itu, keputusan orangtua menjadi tidak sederhana.
    “Karena tiap tahun juga begini. Anak-anak sudah nunggu dari lama. Mereka lihat tetangga main, temannya main, masa anak sendiri nggak dikasih,” ujar dia.
    Rina tidak menolak esensi dari larangan tersebut. Ia hanya merasa penerapannya menjadi rumit ketika dihadapkan pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami empati.
    “Saya ngerti sih maksud larangannya. Buat keamanan, buat empati juga katanya. Cuma ya itu, kalau dilarang total, anak-anak kasihan enggak ngerti juga, kan setahun sekali,” kata dia.
    Pandangan lain datang dari Agus (41), yang menilai larangan kembang api hampir selalu muncul setiap akhir tahun.
    Bagi Agus, kembang api telah menjadi bagian dari pengalaman Tahun Baru anak-anak.
    Ia mengakui, tanpa suara dan cahaya kembang api, momen pergantian tahun terasa hambar bagi mereka.
    Agus memilih jalan tengah dengan tetap mengawasi anaknya saat bermain.
    Ia berharap kesadaran semacam ini juga dimiliki oleh orangtua lain agar perayaan tidak berubah menjadi insiden.
    “Anak-anak kan setahun cuma nunggu ini Kalau enggak ada kembang api, tahun baru rasanya kaya nggak ada apa-apanya,” ujar dia.
    Meski demikian, Agus memahami konteks empati yang melatarbelakangi imbauan tersebut.
    Ia tidak menutup mata terhadap penderitaan korban bencana dan mengakui bahwa alasan itu masuk akal.
    “Sebenernya saya tahu kok ini lagi diminta empati buat korban bencana, saya juga kasihan,” kata dia.
    Meski begitu, Agus memilih mengambil jalan tengah. Ia merasa masih ada ruang kompromi dengan membatasi jenis dan skala kembang api yang dimainkan anak-anak, selama tetap dalam pengawasan.
    “Lagian kan kita juga bakar kecil-kecilan aja enggak yang sampai gede gitu, sewajarnya anak-anak aja,” kata Agus.
    Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa larangan penjualan kembang api dan petasan menjelang Tahun Baru dilakukan tidak bersifat mutlak.
    Melainkan lebih menekankan pada kegiatan yang dilakukan oleh
    event-event
    besar dan pertimbangan empati terhadap korban bencana di Sumatera.
    Menurut dia, Pol PP tetap melakukan imbauan kepada pedagang agar memperhatikan kondisi sosial saat ini.
    “Karena kan sedang ada keprihatinan kita terhadap masyarakat yang tertimpa musibah di Sumatera, jadi mengimbau untuk itu,” ujar Satriadi.
    Sementara pengawasan terhadap masyarakat umum terbatas, dengan fokus pada edukasi dan imbauan ketimbang tindakan langsung.
    Pendekatan ini juga dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Polri, agar penggunaan kembang api di masyarakat dapat berkurang secara sukarela.
    “Pol PP berupaya untuk melakukan imbauan, imbauan kepada para penjual-penjual petasan untuk berprihatinlah mengajak mereka agar tidak menjual atas keprihatinan yang sudah kita laksanakan,” kata dia.
    Pengamat sosial, Rakhmat Hidayat menekankan, larangan menyalakan kembang api di Jakarta tahun ini bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi sebagai bentuk arif dan bijaksana.
    Masyarakat diminta menunjukkan apresiasi dan simpati terhadap korban bencana.
    Hal ini tidak hanya menjadi tanda solidaritas, tetapi juga mengurangi pemborosan energi, listrik, dan biaya materiil yang biasanya muncul dari pesta besar.
    “Menurut saya memang ini secara arif dan bijaksana memang lebih baik tidak menyalakan
    kembang api tahun baru
    di seluruh Indonesia adalah bentuk apresiasi, penghargaan, simpati,” kata dia.
    Menurut Rakhmat, imbauan gubernur Jakarta harus diturunkan ke tingkat yang lebih rendah, seperti wali kota, camat, lurah, hingga RT dan RW.
    Dengan koordinasi berlapis, pengawasan terhadap perayaan yang masih dilakukan warga bisa lebih efektif.
    “Menurut saya itu harus diturunkan pada level yang lebih konkret di bawahnya, yaitu di surat edaran dari wali kota, misalnya, dan wali kota juga menurunkan pada level di lingkungan masyarakat yang lebih kecil, sehingga itu akan menjadi lebih instruksional,” kata Rakhmat,\.
    Menurut dia, larangan pesta kembang api seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi bersama.
    Warga bisa berkumpul untuk doa bersama, berbagi makanan, atau mengumpulkan donasi.
    Cara ini dinilai lebih bermakna dibanding merayakan dengan kembang api dan petasan yang sifatnya konsumtif dan terbatas pada hiburan sesaat.
    “Jadi saatnya kita memang lebih menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, yang memang menjadi penyintas bencana tersebut,” ujar dia.
    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa larangan penggunaan kembang api berlaku menyeluruh.
    Keputusan ini mencakup seluruh kegiatan, baik yang digelar oleh pemerintah maupun pihak swasta, sebagai bentuk penyesuaian dalam menyambut pergantian tahun.
    “Dalam menyambut Natal dan Tahun Baru, maka, terutama untuk tahun baru, saya sudah memutuskan untuk Jakarta tidak ada kembang api, baik yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta maupun oleh swasta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
    Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan keterbatasan pemerintah dalam mengawasi masyarakat yang merayakan Tahun Baru secara individual di ruang terbuka.
    Larangan lebih diarahkan kepada penyelenggara acara berskala besar untuk memastikan kepatuhan tetap terjaga.
    “Kami tidak bisa melarang masyarakat menyalakan kembang api. Tidak mungkin kami memeriksa masyarakat yang ada di Monas atau ada di mana untuk tidak menyalakan kembang api,” ucap Rano.
    Sebagai alternatif hiburan, Pemprov DKI menyiapkan pertunjukan drone di delapan titik strategis, termasuk di kawasan GBK, Sudirman, dan Kota Tua.
    Pertunjukan ini turut diiringi penampilan sejumlah musisi, sehingga momen pergantian tahun tetap terasa meriah meski tanpa kembang api.
    “Kami mengabarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa tahun ini, tahun baru kita tidak kita meriahkan dengan kembang api. Tapi tidak mengurangi rasa juga bahagia, kita adakan drone. Drone cukup banyak, cukup besar, dengan transisi,” ujar Rano.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pemprov DKI Tutup Jalan Sudirman dan Thamrin Mulai 31 Desember Pukul 18.00 WIB, Begini Skenarionya

    Pemprov DKI Tutup Jalan Sudirman dan Thamrin Mulai 31 Desember Pukul 18.00 WIB, Begini Skenarionya

    Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman untuk kendaraan pribadi pada Rabu, 31 Desember 2025 mulai pukul 18.00 WIB hingga Kamis, 1 Januari 2026 pukul 02.00 WIB.

    Kebijakan tersebut diterapkan dalam rangka pengamanan dan pengaturan lalu lintas pada malam pergantian tahun.

    “Besok sebenarnya bukan Car Free Night, tetapi mulai jam 18.00 kami akan mengatur lalu lintas di beberapa titik, terutama jalan-jalan protokol utama yang ada kegiatan menyambut tahun baru, sudah tidak bisa lagi menggunakan kendaraan pribadi,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

    Dengan adanya penutupan tersebut, Pramono mengimbau masyarakat yang hendak melintas atau merayakan malam pergantian tahun di kawasan Sudirman–Thamrin untuk menggunakan transportasi publik.

    “Semuanya diharapkan menggunakan kendaraan umum,” kata Pramono.

    Penutupan arus kendaraan pribadi rencananya diberlakukan dari kawasan Patung Kuda hingga Bundaran Senayan.

    Di sepanjang jalur tersebut akan tersedia panggung hiburan bagi masyarakat untuk menyambut tahun baru.

    Sejumlah panggung hiburan disiapkan di beberapa titik, antara lain Lapangan Banteng, Bundaran HI, Thamrin, Sarinah, Dukuh Atas, FX Sudirman, Semanggi, dan kawasan SCBD.

    Bundaran HI menjadi lokasi panggung utama yang akan dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno, Sekretaris Daerah Jakarta Uus Kuswanto, serta jajaran pemerintah daerah.

    Sementara itu, layanan transportasi publik, termasuk Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, akan beroperasi hingga pukul 02.00 WIB untuk mendukung mobilitas masyarakat selama malam pergantian tahun.

     

    Gubernur Jakarta, Pramono Anung akan mengurangi titik pesta perayaan pergantian tahun baru 2025 – 2026 dari 14 titik menjadi 8 titik. Begitu juga dengan pesta kembang api, akan dilarang untuk kegiatan pemerintah dan swasta yang memerlukan izin kerama…