Tag: Pramono Anung

  • DKI luncurkan KJP Try Out untuk siswa kelas XII Jakarta

    DKI luncurkan KJP Try Out untuk siswa kelas XII Jakarta

    Jakarta (ANTARA) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meluncurkan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Try Out bagi siswa kelas XII guna memberi kesempatan pelajar mengikuti try out gratis untuk persiapan masuk perguruan tinggi.

    “Harapannya agar para siswa mendapatkan kesempatan yang adil dan setara, yang kemudian membuat mereka lebih percaya diri untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai pilihannya masing-masing,” ujar Pramono saat memberi sambutan peluncuran Program Try Out Siswa Penerima KJP Kelas XII di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa.

    Try Out perdana ini melibatkan 472 siswa kelas XII yang merupakan penerima KJP Plus dari enam SMA Negeri.

    Pramono pun telah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Disdik) Jakarta agar melanjutkan program ini di wilayah lain.

    “Jakarta Timur ini sebagai inisiator, sebagai pemula. Mudah-mudahan program ini berkelanjutan dan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan swasta yang dilakukan secara creative financing,” kata Pramono.

    Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat mengukur kemampuan akademik dan merasakan simulasi ujian yang sesungguhnya, sekaligus berlatih meningkatkan daya saing dalam seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri.

    Seluruh progres try out dapat dipantau secara langsung, sehingga hasilnya bisa dijadikan bahan evaluasi bagi peningkatan prestasi dan motivasi belajar siswa.

    Try out ini merupakan bagian dari Program Kerja Wali Kota Jakarta Timur Bidang Pendidikan bagi siswa penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP).

    Untuk 20 siswa terbaik, akan diberi bimbingan intensif dari tim guru Naiju (platform digital edukasi) sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan dedikasi mereka.

    Materi yang diujikan sesuai dengan struktur yaitu Potensi Skolastik (TPS) dan Literasi yang dilakukan sebanyak lima kali dengan periode waktu Oktober 2025-Februari 2026.

    Program ini akan diperluas hingga 40 SMA Negeri lain di Jakarta Timur dengan total peserta 3.304 siswa.

    Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pentingnya kehadiran alam untuk tumbuh kembang anak Jakarta

    Pentingnya kehadiran alam untuk tumbuh kembang anak Jakarta

    Dengan segala keterbatasan yang dimiliki Jakarta, kota ini mampu menunjukkan prestasinya dengan menjadi kota bahagia ke-18 di dunia menurut survei internasional Time Out.

    Jakarta (ANTARA) – Di tengah modernnya ibu kota dengan deretan gedung-gedung yang menjulang, tawa anak-anak yang berlarian di bawah rindangnya pepohonan menjadi pemandangan langka di Jakarta.

    Di kota metropolitan ini, pohon bukan lagi tempat bermain yang mengasyikan bagi anak-anak, melainkan sekadar pemandangan di pinggir jalan.

    Padahal, kehadiran alam bukan tempat bermain semata, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, empati, dan kebahagiaan anak-anak ibu kota.

    Dari tanah dan udara segar itulah imajinasi tumbuh, dan jiwa belajar hidup berdampingan dengan alam tercipta. Namun, hal ini seolah perlahan hilang di tengah kehidupan Jakarta yang digadang-gadang sebagai kota global.

    Pentingnya stimulasi

    Kesibukan warga kota dengan layar gawai yang tak pernah redup membuat banyak anak yang lahir diperkotaan tumbuh dengan stimulasi yang serba terbatas.

    Banyak orang tua yang akhirnya menyerahkan gawai kepada anak-anaknya demi bisa mengelola waktu mengasuh anak sambil mengerjakan hal lainnya.

    Padahal, sentuhan, percakapan, dan eksplorasi alam menjadi kebutuhan dasar yang tak bisa digantikan teknologi.

    Dokter Spesialis Anak Prof DR Rini Sekartini menjelaskan, stimulasi merupakan salah satu kebutuhan dasar anak yang wajib dipenuhi orang tua. Salah satu stimulasi yang dapat dilakukan adalah bermain.

    “Bermain juga merupakan kebutuhan dasar anak. Selain bermanfaat untuk sosialisasi dengan anak sebaya atau orang lain, bermain dapat meningkatkan kemampuan dan perkembangan anak baik aspek motor kasar, motor halus, bicara bahasa, kemandirian dan kecerdasan,” kata Rini.

    Itulah sebabnya, bermain di alam akan memungkinkan anak mendapat kesempatan untuk mendengar suara binatang, suara angin, teriakan ataupun candaan sesama anak. Hal ini sangat baik untuk merangsang proses perkembangan bicara.

    Selain itu, dengan bermain di alam, tanpa alas kaki dan bertelanjang tangan, dapat melatih sensori anak terutama perabaan.

    Upaya pemerintah

    Meski tampaknya Jakarta sudah penuh sesak dengan berbagai bangunan, namun Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo tetap bertekad menghadirkan ruang terbuka hijau untuk masyarakat khususnya anak-anak.

    Salah satunya, Pemerintah Jakarta kini sedang dalam proses pembangunan Taman Bendera Pusaka yang menyatukan tiga taman sekaligus yakni Taman Ayodya, Taman Leuser dan Taman Langsat.

    Untuk itu, DKI memutuskan untuk membuka beberapa taman selama 24 jam. Beberapa taman juga dibuka hingga malam hari misalnya Tebet Eco Park yang bisa dikunjungi masyarakat hingga pukul 22.00 WIB.

    Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Mahasiswa: Kampus IKJ Enak di Cikini, Tak Perlu Pindah ke Kota Tua
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        20 Oktober 2025

    Mahasiswa: Kampus IKJ Enak di Cikini, Tak Perlu Pindah ke Kota Tua Megapolitan 20 Oktober 2025

    Mahasiswa: Kampus IKJ Enak di Cikini, Tak Perlu Pindah ke Kota Tua
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com —
    Sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mempertanyakan urgensi pemindahan kampus ke Kota Tua. 
    Abel (21), salah seorang mahasiswa lainnya, mengaku sudah nyaman di kampus IKJ Cikini karena sejuk dan tidak terlalu panas.
    Jika membutuhkan ruang yang lebih luas untuk kegiatan seni, mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas di Taman Ismail Marzuki (TIM).
    “Sebenarnya IKJ di sini udah enak, enggak perlu pindah,” ucap Abel saat diwawancarai
    Kompas.com
    , Senin (20/10/2025).
    Abel menambahkan saat ini IKJ hanya perlu melakukan sedikit renovasi dan memperbaiki akses menuju kampus dibandingkan relokasi.
    “Enggak perlu memindahkan institusi ke sana,” tambahnya.
    Senada dengan Abdel, Rivo (21) mahasiswa IKJ, mengaku heran dengan munculnya rencana relokasi tersebut karena tidak menunjukkan alasan yang kuat. 
    Apalagi IKJ sudah memiliki identitas dan keterikatan historis dengan kawasan Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM).
    “Impresi pertama kayak kenapa tiba-tiba banget? Terus kayak urgensinya apa untuk tiba-tiba di Kota Tua?,” kata Rivo.
    Rivo mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan jika memang kampus di Kota Tua ditujukan hanya untuk menggelar eksebisi, bukan untuk kegiatan belajar.
    “Kampus dua tuh untuk apa? Mahasiswanya juga enggak seramai itu,” ungkapnya.
    Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
    “Kami akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan IKJ ke tempat ini (Kota Tua),” ujar Pramono Anung saat ditemui di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (18/10/2025).
    Langkah tersebut dilakukan untuk menjadikan Kota Tua yang merupakan kawasan heritage menjadi pusat aktivitas dan kreativitas para seniman.
    Oleh sebab itu, kata Pramono, dibutuhkan para seniman, terutama dari IKJ, untuk dapat memperkuat atmosfer seni dan budaya di Kota Tua.
    “Saya yakin ruang kreativitasnya menjadi lebih baik, lebih lebar, lebih luas,” kata Pramono.
    Dalam pelaksanaannya, pihak dari pemerintah daerah dan pusat akan menyiapkan lokasi terlebih dahulu sebelum pemindahan dilakukan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Mahasiswa IKJ Khawatir Relokasi ke Kota Tua Bebani Biaya Kuliah
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        20 Oktober 2025

    Mahasiswa IKJ Khawatir Relokasi ke Kota Tua Bebani Biaya Kuliah Megapolitan 20 Oktober 2025

    Mahasiswa IKJ Khawatir Relokasi ke Kota Tua Bebani Biaya Kuliah
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com –
     Rencana relokasi kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua menuai kekhawatiran dari sejumlah mahasiswa.
    Mereka menilai pemindahan lokasi tersebut berpotensi meningkatkan beban biaya kuliah, terutama untuk kebutuhan transportasi dan biaya hidup bagi mahasiswa perantau.
    Rivo (21), salah seorang mahasiswa IKJ, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jika kampus dipindahkan ke Kota Tua, pengeluaran mahasiswa bisa bertambah signifikan.
    “Soalnya banyak yang merantau dari luar kota segala, jadi kayak banyak biaya lagi,” ungkapnya saat diwawancarai
    Kompas.com
    pada Senin (20/10/2025).
    Ia juga menyoroti aksesibilitas menuju Kota Tua yang dinilai cukup sulit bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
    “Cukup jauh jalannya juga,” ujarnya.
    Sementara itu, Abel (21), mahasiswa lainnya, menyatakan tidak keberatan dengan rencana relokasi tersebut selama pembangunan kampus baru tidak membebani mahasiswa melalui kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
    “Yang penting kalaupun ada dua kampus, bukan berarti mahasiswa bayarin dua-duanya. Berat juga kami,” ucapnya saat diwawancarai
    Kompas.com
    , Senin.
    Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
    “Kami akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan IKJ ke tempat ini (Kota Tua),” ujar Pramono Anung saat ditemui di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (18/10/2025).
    Menurut Pramono, langkah tersebut bertujuan menjadikan kawasan heritage itu sebagai pusat aktivitas dan kreativitas para seniman.
    Oleh sebab itu, kata dia, dibutuhkan peran para seniman, khususnya dari IKJ, untuk memperkuat atmosfer seni dan budaya di kawasan tersebut.
    “Saya yakin ruang kreativitasnya menjadi lebih baik, lebih lebar, lebih luas,” kata Pramono.
    Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat akan menyiapkan lokasi terlebih dahulu sebelum proses pemindahan kampus dilakukan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kampus IKJ Cikini Tetap Dipakai Mahasiswa meski Ada Rencana Relokasi ke Kota Tua
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        20 Oktober 2025

    Kampus IKJ Cikini Tetap Dipakai Mahasiswa meski Ada Rencana Relokasi ke Kota Tua Megapolitan 20 Oktober 2025

    Kampus IKJ Cikini Tetap Dipakai Mahasiswa meski Ada Rencana Relokasi ke Kota Tua
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Syamsul Maarif menegaskan kampus IKJ di Cikini tetap akan dipakai kegiatan belajar mahasiswa meski ada rencana relokasi ke Kota Tua.
    “Oh, tetap dong,” ujar Syamsul saat ditemui Kompas.com pada Senin (20/10/2025).
    Syamsul menjelaskan Kampus IKJ di Cikini tetap akan dipakai mengingat kegiatan seni memerlukan fasilitas yang cukup banyak.
    “Perlu ada fasilitas yang cukup banyak ya kegiatan seni,” ungkapnya.
    Syamsul mengatakan pihaknya akan mematangkan rencana relokasi kampus ke wilayah Kota Tua dan menyusun masterplan terlebih dahulu.
    “November ini akan kita matangkan supaya ide Gubernur itu bahwa 2027 betul-betul bisa diaplikasikan,” ujarnya.
    Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua, Jakarta.
    “Kami akan mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan IKJ ke tempat ini (Kota Tua),” ujar Pramono Anung saat ditemui di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (18/10/2025).
    Langkah tersebut dilakukan untuk menjadikan Kota Tua yang merupakan kawasan heritage menjadi pusat aktivitas dan kreativitas para seniman.
    Oleh sebab itu, kata Pramono, dibutuhkan para seniman, terutama dari IKJ untuk dapat memperkuat atmosfer seni dan budaya di Kota Tua.
    “Saya yakin ruang kreativitasnya menjadi lebih baik, lebih lebar, lebih luas,” kata Pramono.
    Dalam pelaksanaannya, pihak dari pemerintah daerah dan pusat akan menyiapkan lokasi terlebih dahulu sebelum pemindahan dilakukan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pramono terima kunjungan Delegasi Arizona di Balai Kota

    Pramono terima kunjungan Delegasi Arizona di Balai Kota

    Jakarta (ANTARA) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menerima kunjungan delegasi kehormatan dari Arizona House of Representatives di Balai Kota DKI Jakarta pada Senin.

    Dia mengatakan kunjungan tersebut menjadi awal penjajakan kerja sama antara Jakarta dan negara bagian Arizona, Amerika Serikat, di berbagai sektor strategis.

    “Kami berharap Jakarta dapat menjalin kerja sama yang baik dengan Arizona, terutama karena mereka memiliki keunggulan besar di bidang semikonduktor,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin.

    Selain itu, Pramono juga menyoroti potensi kerja sama di bidang pendidikan tinggi. Dia menyebutkan Arizona memiliki beberapa universitas terkemuka, seperti Arizona State University dan University of Arizona, yang dapat menjadi mitra strategis bagi perguruan tinggi di Jakarta.

    “Mereka memiliki universitas yang sangat maju, dan kami berharap dapat berkolaborasi untuk memperkuat kapasitas pendidikan di Jakarta. Kami juga membuka peluang agar hubungan ini bisa berkembang ke arah sister city,” ujar Pramono.

    Dia pun berharap pertemuan itu menjadi awal terjalinnya hubungan yang erat antara Jakarta dan Arizona, baik di bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, maupun pembangunan berkelanjutan.

    Sementara itu, Ketua Komite Internasional Trade Committee Arizona House of Representatives Tony Rivero mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dia juga mengungkapkan kesan positifnya selama berada di Indonesia.

    “Kami melihat potensi besar untuk kolaborasi antara kedua wilayah, terutama melalui jaringan universitas kami, Arizona State University, University of Arizona, dan Northern Arizona University,” tutur Tony Rivero.

    Lebih lanjut, dia juga memaparkan rencana pembukaan trade office (kantor perdagangan) perwakilan negara bagian Arizona di Jakarta.

    Kantor tersebut, kata dia, diharapkan dapat menjadi jembatan bagi pengembangan peluang ekonomi, baik bagi perusahaan asal Arizona yang ingin berinvestasi di Indonesia maupun bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin menjajaki pasar di Arizona.

    Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
    Editor: Rr. Cornea Khairany
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pengelola Tebet Eco Park tegur komunitas fotografi yang lakukan pungli

    Pengelola Tebet Eco Park tegur komunitas fotografi yang lakukan pungli

    Jakarta (ANTARA) – Pengelola Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, menegur komunitas fotografi yang melakukan pungutan liar (pungli) kepada pengunjung sebesar Rp500 ribu.

    “Untuk tindak lanjutnya, kita sudah melakukan panggilan, klarifikasi dan teguran terhadap komunitas tersebut,” kata Kasi Taman Kota pengelola Tebet Eco Park Dimas Ario Nugroho saat dihubungi di Jakarta, Senin.

    Dia mengatakan pihaknya sudah melakukan pemanggilan dan meminta klarifikasi terhadap komunitas tersebut sebelum ramai di media.

    Ke depannya, pengelola Tebet Eco Park berkomitmen menggencarkan sosialisasi larangan pungutan liar di kawasan tersebut.

    “Nanti juga mensosialisasi di media sosial dan spanduk, tidak ada pungli terkait kegiatan fotografi yang bersifat nonkomersil di taman,” ucap Dimas.

    Lebih lanjut, dia pun menegaskan warga dapat beraktivitas di taman, salah satunya memotret di ruang terbuka hijau tersebut secara gratis, selama tidak dalam bentuk komersial.

    Dia menjelaskan kegiatan komersial yang dimaksud itu, seperti bazaar, produk bermerek dan sebagainya, yang nantinya diarahkan ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

    Dengan demikian, dia mengatakan pihak dinas tidak melarang aktivitas fotografi di dalam area taman, dari komunitas maupun perorangan.

    Sebelumnya, viral di media sosial pengunjung yang ingin melakukan sesi foto dikenai tarif hingga Rp500 ribu oleh kelompok tertentu di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.

    Kejadian itu viral setelah salah satu pemilik akun berkomentar di Instagram @tebetecopark, yang mengeluhkan adanya komunitas yang meminta uang Rp500 ribu kepada fotografer yang ingin memotret di Tebet Eco Park.

    Pengunjung yang ditegur oleh komunitas tersebut mengaku mendapat penjelasan dari anggota komunitas bahwa hanya fotografer berizin yang boleh memotret di kawasan itu.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Tebet Eco Park merupakan kawasan ruang publik yang bebas pungli. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berkomitmen segera menertibkan oknum komunitas fotografi yang mematok harga biaya memotret sebesar Rp500 ribu itu.

    Pewarta: Luthfia Miranda Putri
    Editor: Rr. Cornea Khairany
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pengelola tegaskan warga dapat beraktivitas di Tebet Eco Park gratis

    Pengelola tegaskan warga dapat beraktivitas di Tebet Eco Park gratis

    Jakarta (ANTARA) – Pengelola Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, menegaskan warga dapat beraktivitas di taman, salah satunya memotret di ruang terbuka hijau tersebut secara gratis dan tidak ada pungutan liar (pungli).

    “Iya, gratis, selama tidak komersial, ya,” kata Kasi Taman Kota pengelola Tebet Eco Park Dimas Ario Nugroho saat dihubungi di Jakarta, Senin.

    Dia mengatakan kegiatan komersial yang dimaksud itu, seperti bazaar, produk bermerek dan sebagainya nanti akan diarahkan ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

    Dengan demikian, dia menegaskan pihak dinas tidak melarang aktivitas fotografi di dalam area taman, dari komunitas maupun perorangan.

    “Dari pihak dinas maupun teman-teman di lapangan tidak mengeluarkan izin khusus,” ucap Dimas.

    Sebelumnya, viral di media sosial pengunjung yang ingin melakukan sesi foto dikenai tarif hingga Rp500 ribu oleh kelompok tertentu di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.

    Kejadian itu viral setelah salah satu pemilik akun berkomentar di Instagram @tebetecopark, yang mengeluhkan adanya komunitas yang meminta uang Rp500 ribu kepada fotografer yang ingin memotret di Tebet Eco Park.

    Pengunjung yang ditegur oleh komunitas tersebut mengaku mendapat penjelasan dari anggota komunitas bahwa hanya fotografer berizin yang boleh memotret di kawasan itu.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan Tebet Eco Park merupakan kawasan ruang publik yang bebas pungli. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berkomitmen segera menertibkan oknum komunitas fotografi yang mematok harga biaya memotret sebesar Rp500 ribu itu.

    Pewarta: Luthfia Miranda Putri
    Editor: Rr. Cornea Khairany
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Oknum yang diduga lakukan pungli di Tebet Eco Park segera ditertibkan

    Oknum yang diduga lakukan pungli di Tebet Eco Park segera ditertibkan

    Jakarta (ANTARA) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan segera menertibkan oknum-oknum yang diduga melakukan pungutan liar (pungli) kepada pengunjung di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.

    “Nggak, nggak. Itu Eco Park bebas. Jadi nggak ada, nanti kami tertibkan. Nggak boleh ada pungutan-pungutan, wong itu taman (ruang publik),” kata Pramono saat dijumpai di Balai Kota DKI Jakarta, Senin.

    Sebelumnya, viral di media sosial pengunjung yang ingin melakukan sesi foto dikenai tarif hingga Rp500 ribu oleh kelompok tertentu di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.

    Kejadian itu viral setelah salah satu pemilik akun berkomentar di Instagram @tebetecopark, yang mengeluhkan adanya komunitas yang meminta uang Rp500 ribu kepada fotografer yang ingin memotret di Tebet Eco Park.

    “Tebet bayar 500 ribu, setor 10 persen dagang ke mereka nanti dikasih lapak,” tulis salah satu akun.

    Pengelola Tebet Eco Park pun telah menanggapi keluhan pengunjung, khususnya fotografer, di media sosial.

    Kepala Seksi Taman Kota Dimas Ario Nugroho menegaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak pernah menerapkan biaya apapun untuk kegiatan fotografi di kawasan taman.

    “Kami tidak melarang adanya aktivitas fotografi di dalam area taman, baik komunitas maupun perorangan,” tegas Dimas.

    Pihaknya pun telah menindaklanjuti keluhan tersebut dan telah lebih dulu melakukan pemanggilan serta klarifikasi terhadap komunitas fotografer yang melakukan pungutan sebelum isu tersebut ramai di media sosial (medsos).

    Komunitas fotografer itu diketahui telah dipanggil pada Jumat (17/10).

    Dari hasil penelusuran, kelompok tersebut diketahui bukan bagian dari pengelola taman maupun Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta.

    “Mereka membuat operasional sendiri seperti rompi, ID card, dan sebagainya, itu murni inisiatif dari komunitas,” ujar Dimas.

    Dia menyebutkan komunitas yang dimaksud adalah Komunitas Fotografer Tebet Eco Park, yang diketahui juga aktif dan sering beraktivitas di dalam kawasan taman tersebut, namun tidak berafiliasi dengan dinas.

    Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
    Editor: Rr. Cornea Khairany
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Itikad baik DKI tata ibu kota di tengah polemik Pasar Barito

    Itikad baik DKI tata ibu kota di tengah polemik Pasar Barito

    Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang menyiapkan Taman Bendera Pusaka yang menyatukan tiga taman sekaligus yakni Taman Leuser, Taman Ayodya, dan Taman Langsat.

    Taman tersebut digadang-gadang akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang berolahraga maupun sekadar berkumpul di taman itu.

    Namun ironisnya, tak jauh dari lokasi proyek itu, keresahan masih terasa di antara para pedagang Pasar Barito yang mengkhawatirkan lapak mereka bakal tergusur oleh pembangunan taman tersebut.

    Pemprov DKI Jakarta pun dihadapkan pada dilema tentang bagaimana membangun kota tanpa menyakiti para pedagang kecil.

    Kendati demikian, dengan itikad baik, Pemerintah Jakarta terus berupaya menata kawasan tersebut agar indah bagi pengunjung, namun tetap adil bagi mereka yang menggantungkan hidup di sana.

    Demo pedagang

    Saat peletakan batu pertama pembangunan Taman Bendera Pusaka pada 8 Agustus, para pedagang menggelar aksi unjuk rasa di lokasi tersebut.

    Sejak pagi, sejumlah pedagang menggelar aksi protes di sekitar lokasi pembangunan Taman Bendera Pusaka. Mereka menolak kebijakan relokasi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta demi kepentingan pembangunan taman yang sebelumnya digadang-gadang akan menjadi taman ASEAN itu.

    Namun, aksi unjuk rasa itu tak menggentarkan Pemprov Jakarta untuk tetap membangun Taman Bendera Pusaka. Ground breaking pun tetap dilakukan pada hari itu.

    Kemudian pada 14 Oktober, para pedagang kembali menggelar aksi unjuk rasa. Kali ini di depan Balai Kota Jakarta.

    Mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk keluar dan berdialog bersama. Para pedagang juga memohon agar Pramono menggunakan hati nuraninya.

    Bahkan, para pedagang melakukan prosesi pelepasan burung pipit sebagai bentuk kekecewaan mereka.

    “Burung ini adalah bentuk semangat perjuangan dan kekecewaan kita kepada Pemprov DKI. Karena kita merasa kasihan pada burung-burung kita jika dipindah ke Lenteng Agung. Jadi kita lepaskan saja,” ujar salah satu pedagang dari atas mobil komando.

    Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.