Tag: Pilar Saga Ichsan

  • Buang Sampah ke Cileungsi, Pemkot Tangsel Bayar Rp90 Juta per Hari

    Buang Sampah ke Cileungsi, Pemkot Tangsel Bayar Rp90 Juta per Hari

    Jakarta: Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyatakan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) milik PT Aspex Kumbong di Cileungsi dibatasi kuota 200 ton per hari dengan biaya retribusi mencapai Rp90 juta per hari.

    Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menyebutkan, besaran retribusi tersebut dihitung dari tarif Rp450 ribu per ton sampah yang dibuang ke TPA swasta tersebut.

    “Kuotanya 200 ton, dengan retribusi sebesar Rp 450 ribu per ton,” ujar Pilar di Tangerang.

    Menurut Pilar, kerja sama bisnis pengelolaan sampah dengan PT Aspex Kumbong yang berlokasi di Jalan Raya Narogong, Cileungsi, merupakan solusi jangka pendek yang ditempuh Pemkot Tangsel. Dalam skema tersebut, pemerintah daerah harus membayar retribusi Rp90 juta setiap hari. Ia menambahkan, kebijakan itu juga telah diketahui oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai langkah sementara agar sampah tidak menumpuk di ruang publik.

    “Sambil menunggu proses pembangunan di TPA Cipeucang, kami melakukan kerja sama antar daerah. Sama halnya yang dilakukan DKI Jakarta dengan Bekasi dan ini sebetulnya sudah biasa. Namun, kami ada batasnya karena ini tidak mungkin terus menerus. Dan untuk sekarang kerja sama pengelolaan sampah bukan dengan Cileungsi tetapi dengan perusahaan,” jelasnya. 
     

    Pilar menjelaskan, selain menunggu pembangunan fasilitas mesin pencacah sampah di TPA Cipeucang, Serpong, Pemkot Tangsel juga harus menyiapkan lahan seluas 5.000 meter persegi. Proses pengadaan lahan tersebut, kata dia, memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk dengan masyarakat sekitar.

    “Sekarang belanja lahan juga kan masyarakat ada proses. Belanja lahan itu tidak serta merta sekarang beli besok buang,” ucap Pilar.

    Ia menambahkan, rencana proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Cipeucang membutuhkan lahan yang lebih luas, sekitar 5 hektare. Oleh karena itu, kerja sama pembuangan sampah ke Cileungsi melalui pihak swasta dipilih sebagai solusi sementara.

    “Tapi ada batasnya dong. Kita cari kerja sama yang paling efektif, efisien mana yang paling menguntungkan,” tegasnya.

    Sebelumnya, persoalan sampah di Tangerang Selatan memicu aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pada Kamis (8/1/2026), massa aksi membuang sampah dari truk ke halaman Kantor Wali Kota Tangsel sebagai bentuk protes terhadap penanganan sampah di wilayah tersebut.

    Aksi tersebut dilakukan dengan membawa dua truk sampah yang dikumpulkan dari sepanjang Jalan Ciputat. Setibanya di lokasi, mahasiswa sempat berupaya masuk ke area kantor wali kota, namun dihadang barikade kendaraan Satpol PP.

    Jakarta: Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyatakan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) milik PT Aspex Kumbong di Cileungsi dibatasi kuota 200 ton per hari dengan biaya retribusi mencapai Rp90 juta per hari.
     
    Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menyebutkan, besaran retribusi tersebut dihitung dari tarif Rp450 ribu per ton sampah yang dibuang ke TPA swasta tersebut.
     
    “Kuotanya 200 ton, dengan retribusi sebesar Rp 450 ribu per ton,” ujar Pilar di Tangerang.

    Menurut Pilar, kerja sama bisnis pengelolaan sampah dengan PT Aspex Kumbong yang berlokasi di Jalan Raya Narogong, Cileungsi, merupakan solusi jangka pendek yang ditempuh Pemkot Tangsel. Dalam skema tersebut, pemerintah daerah harus membayar retribusi Rp90 juta setiap hari. Ia menambahkan, kebijakan itu juga telah diketahui oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai langkah sementara agar sampah tidak menumpuk di ruang publik.
     
    “Sambil menunggu proses pembangunan di TPA Cipeucang, kami melakukan kerja sama antar daerah. Sama halnya yang dilakukan DKI Jakarta dengan Bekasi dan ini sebetulnya sudah biasa. Namun, kami ada batasnya karena ini tidak mungkin terus menerus. Dan untuk sekarang kerja sama pengelolaan sampah bukan dengan Cileungsi tetapi dengan perusahaan,” jelasnya. 
     

     
    Pilar menjelaskan, selain menunggu pembangunan fasilitas mesin pencacah sampah di TPA Cipeucang, Serpong, Pemkot Tangsel juga harus menyiapkan lahan seluas 5.000 meter persegi. Proses pengadaan lahan tersebut, kata dia, memerlukan kerja sama lintas sektor, termasuk dengan masyarakat sekitar.
     
    “Sekarang belanja lahan juga kan masyarakat ada proses. Belanja lahan itu tidak serta merta sekarang beli besok buang,” ucap Pilar.
     
    Ia menambahkan, rencana proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Cipeucang membutuhkan lahan yang lebih luas, sekitar 5 hektare. Oleh karena itu, kerja sama pembuangan sampah ke Cileungsi melalui pihak swasta dipilih sebagai solusi sementara.
     
    “Tapi ada batasnya dong. Kita cari kerja sama yang paling efektif, efisien mana yang paling menguntungkan,” tegasnya.
     
    Sebelumnya, persoalan sampah di Tangerang Selatan memicu aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pada Kamis (8/1/2026), massa aksi membuang sampah dari truk ke halaman Kantor Wali Kota Tangsel sebagai bentuk protes terhadap penanganan sampah di wilayah tersebut.
     
    Aksi tersebut dilakukan dengan membawa dua truk sampah yang dikumpulkan dari sepanjang Jalan Ciputat. Setibanya di lokasi, mahasiswa sempat berupaya masuk ke area kantor wali kota, namun dihadang barikade kendaraan Satpol PP.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (PRI)

  • Operasi Lilin 2025, Polres Tangsel kerahkan 1.224 personel

    Operasi Lilin 2025, Polres Tangsel kerahkan 1.224 personel

    Jakarta (ANTARA) – Polres Tangerang Selatan mengerahkan 1.224 personel pada Operasi Lilin untuk pengamanan perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di wilayah tersebut.

    “Operasi Lilin 2025 akan dilaksanakan selama 14 hari, terhitung mulai tanggal 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026,” kata Kapolres Tangerang Selatan AKBP Victor DH Inkiriwang dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

    Operasi ini melibatkan sekitar 1.224 personel gabungan yang terdiri dari unsur Polri (Polres Tangsel dan Polsek jajaran), TNI, Pemerintah Daerah (Dishub, Satpol PP, Dinkes), Pokdarkamtibmas, Saka Bhayangkara serta potensi masyarakat lainnya.

    “Pada Operasi Lilin 2025 terdapat 208 objek pengamanan yang meliputi 107 tempat ibadah (gereja), 9 objek wisata, 7 stasiun KAI, 1 terminal, 15 pusat perbelanjaan/mal serta 69 lokasi perayaan malam tahun baru,” katanya.

    Untuk mendukung pelaksanaan operasi, Polres Tangerang Selatan mendirikan delapan Pos Pengamanan (Pospam) dan satu Pos Pelayanan (Posyan) serta menyiapkan sembilan Pos Pengamanan Terpadu yang disesuaikan dengan jumlah kecamatan di wilayah hukum Polres Tangerang Selatan.

    Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan siap mendukung Polres dan Kodim dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan kamtibmas selama perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Natura).

    “Seperti tawuran, peredaran minuman keras, dan peredaran narkotika yang selama ini telah dapat ditangani dengan baik,” katanya.

    Selain itu, Pilar juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi aksi terorisme dan radikalisme agar masyarakat dapat merayakan Nataru dengan rasa aman, nyaman dan penuh sukacita dalam situasi yang kondusif.

    Pewarta: Ilham Kausar
    Editor: Sri Muryono
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • 8 Tahun Berjualan, Pedagang di Ciputat Baru Alami Sepi Pembeli akibat Tumpukan Sampah
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        16 Desember 2025

    8 Tahun Berjualan, Pedagang di Ciputat Baru Alami Sepi Pembeli akibat Tumpukan Sampah Megapolitan 16 Desember 2025

    8 Tahun Berjualan, Pedagang di Ciputat Baru Alami Sepi Pembeli akibat Tumpukan Sampah
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – 
    Ani Tio (48) telah delapan tahun berjualan asongan di kolong
    Flyover
    Ciputat, Tangerang Selatan.
    Setiap hari, sejak pagi hingga malam, ia melayani pengendara dan sopir angkutan yang singgah untuk sekadar minum kopi atau membeli makanan ringan.
    Namun, dalam beberapa hari terakhir, suasana di lokasi tempatnya berjualan menjadi berubah akibat adanya tumpukan
    sampah
    di area kolong
    flyover. 
    Meski telah ditutup terpal, tumpukan sampah tetap menimbulkan bau menyengat.
    Aroma tak sedap itu tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga perlahan menjauhkan pembeli dari lapak-lapak pedagang kecil di sekitarnya, termasuk Ani.
    “Ditutup terpal juga sama saja, baunya tetap keluar. Kalau kena angin malah makin menyengat,” ujar Ani saat ditemui
    Kompas.com
    di lokasi, Selasa (16/12/2025).
    Kondisi yang demikian langsung berdampak pada pendapatan hariannya. Ani yang biasanya dapat mengantongi Rp 50.000-Rp 60.000 per hari kini hanya membawa pulang uang belasan ribu rupiah.
    “Paling banyak cuma Rp 15.000,” katanya lirih.
    Penurunan pendapatan itu sudah ia rasakan selama tiga hari terakhir. Pasalnya, bau sampah tersebut membuat orang enggan berhenti meski sekadar untuk makan atau beristirahat sejenak.
    Upaya penanganan memang sempat dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Ia sempat melihat adanya truk yang datang dan mengambil sampah.
    Namun, pengangkutan tersebut belum tuntas karena hanya dilakukan oleh satu truk sehingga sebagian sampah masih tersisa.
    “Katanya nanti mau diangkut, tapi belum tahu kapan. Kemarin juga cuma satu mobil yang angkut, itu pun enggak semuanya,” kata dia.
    Bagi Ani, kondisi ini terasa tak biasa. Selama delapan tahun berjualan di lokasi yang sama, ia mengaku baru kali ini menghadapi situasi sepi akibat tumpukan sampah.
    Terlebih, tumpukan sampah tersebut bertahan hingga berhari-hari, bahkan di luar masa libur.
    Maka dari itu, ia berharap pengangkutan sampah dapat segera dituntaskan, terutama menjelang tahun baru. Sebab, penghasilan dari berjualan di kolong
    Flyover
    Ciputat menjadi tumpuan hidup keluarganya.
    “Kalau bisa sebelum tahun baru sudah diangkut semua. Soalnya saya hidup dari jualan di sini, buat anak sekolah juga,” ucap dia.
    Sebelumnya, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan mengatakan, pihaknya telah melakukan pengangkutan sampah.
    Sampah yang diangkut akan dialihkan ke sejumlah Tempat Pengolahan Sampah
    Reduce
    ,
    Reuse
    ,
    Recycle
    (TPS3R) guna dilakukan pengolahan sementara.
    Namun, Pilar belum merinci lokasi TPS3R tersebut karena data berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan.
    Meski demikian, Pilar memastikan tidak akan ada pembuangan sampah ke lokasi yang tidak semestinya, termasuk lahan kosong maupun pinggir jalan.
    “Kita tidak mungkin dari DLH buang ke lahan-lahan kosong. Itu tidak boleh karena itu akan menimbulkan permasalahan baru,” jelas dia, Senin (15/12/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Volume Sampah Berpotensi Naik Saat Nataru, Warga Tangsel Diminta Setop Buang di Jalan
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        16 Desember 2025

    Volume Sampah Berpotensi Naik Saat Nataru, Warga Tangsel Diminta Setop Buang di Jalan Megapolitan 16 Desember 2025

    Volume Sampah Berpotensi Naik Saat Nataru, Warga Tangsel Diminta Setop Buang di Jalan
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com
    – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengingatkan warga agar tidak membuang sampah di pinggir jalan, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
    Pilar menilai, peningkatan aktivitas dan konsumsi masyarakat saat libur panjang berpotensi menambah volume sampah dan memicu penumpukan di ruas-ruas jalan jika tidak dikelola dengan baik.
    “Saya harap yang pertama ya, jangan mengandalkan pembuangan sampah di pinggiran jalan. Karena memang sebelumnya juga sering terjadi pembuangan seperti itu,” ujar Pilar di Gedung Wali Kota Tangsel, Serua, Ciputat, Senin (15/12/2025).
    Menurut Pilar, pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari lingkungan masing-masing.
    Salah satunya dengan mengaktifkan kembali bank sampah di tingkat RW untuk menekan timbulan sampah dari sumbernya.
    “Diminimalisir dulu di lingkungan setempat, kalau bisa diminimalisir 20 sampai 30 persen, itu sudah sangat membantu,” kata dia.
    Di sisi lain,
    Pemkot Tangsel
    juga menyiapkan armada truk pengangkut sampah baru yang akan segera dioperasikan.
    Langkah ini menyusul pengangkutan sampah yang sempat menumpuk di sejumlah ruas jalan dalam sepekan terakhir.
    Sampah tersebut dialihkan ke sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) untuk diolah sementara.
    Tercatat ada sekitar 30 TPS3R di Tangerang Selatan yang akan diberdayakan selama proses penataan TPA Cipeucang berlangsung.
    Meski belum merinci lokasi TPS3R karena data berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Pilar menegaskan tidak akan ada pembuangan sampah ke lokasi yang tidak semestinya.
    “Kita tidak mungkin dari DLH buang ke lahan-lahan kosong. Itu tidak boleh karena itu akan menimbulkan permasalahan baru,” jelas dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pemkot Tangsel Siapkan MRF di TPA Cipeucang, Sambil Menunggu Proyek PSEL
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        16 Desember 2025

    Pemkot Tangsel Siapkan MRF di TPA Cipeucang, Sambil Menunggu Proyek PSEL Megapolitan 16 Desember 2025

    Pemkot Tangsel Siapkan MRF di TPA Cipeucang, Sambil Menunggu Proyek PSEL
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com
    – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) berencana membangun fasilitas pengolahan sampah Material Recovery Facility (MRF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang pada awal 2026.
    MRF merupakan fasilitas
    pengolahan sampah
    untuk memilah dan memproses material daur ulang, seperti kertas, plastik, kaca, dan logam, agar dapat dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi volume sampah ke TPA.
    Wakil Wali Kota Tangerang Selatan
    Pilar Saga Ichsan
    mengatakan, pembangunan MRF menjadi solusi jangka menengah untuk mengatasi persoalan sampah, sembari menunggu realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang masih memerlukan waktu panjang.
    “Sambil kita juga persiapan di awal 2026 ini pembangunan MRF pengolahan sampahnya. Jadi sebagian bisa menggunakan MRF ini, sambil menunggu PSEL yang proses pembangunannya masih panjang,” ujar Pilar di Gedung Wali Kota Tangsel, Serua, Ciputat, Senin (15/12/2025).
    Saat ini, Pemkot Tangsel masih memaksimalkan pengelolaan sampah di
    TPA Cipeucang
    dengan melakukan penataan sejumlah landfill sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
    “Pemaksimalan dulu di TPA Cipeucang saat ini. Kita optimis dengan penataan Cipeucang di landfill 4,” kata Pilar.
    Selain landfill 4, penataan juga akan dilakukan di landfill 2 yang kondisinya sudah padat. Di lokasi tersebut akan diterapkan sistem sanitary landfill, dilanjutkan dengan penataan terasering.
    “Landfill 2 yang sudah padat kita coba lakukan sanitary landfill. Setelah itu dilakukan penataan terasering dan penutupan seperti yang diarahkan oleh KLH,” jelasnya.
    Terkait opsi kerja sama pengelolaan sampah dengan daerah lain, Pilar mengakui langkah tersebut tidak mudah. Pasalnya, hampir semua daerah saat ini menghadapi persoalan serupa, termasuk Jakarta dan wilayah Jawa Barat.
    Sebagai upaya tambahan, Pemkot Tangsel juga melakukan pembebasan lahan di sekitar TPA Cipeucang untuk memperluas area pengolahan sampah.
    “Pembebasan lahan di Desember ini dilakukan 4.000 meter. Di awal tahun depan itu sekitar satu hektar yang kita lakukan pembebasan yaitu yang di lokasi akan dibangun PSEL,” ujar Pilar.
    Ia menegaskan, perluasan lahan tersebut bertujuan agar pengelolaan sampah di TPA Cipeucang bisa berjalan lebih optimal ke depannya.
    “Itu untuk pelebaran lokasi pengolahan sampah kita,” ucap dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tinjau Dapur MBG, Pilar Pastikan Pemkot Tangsel Akan Bantu Kelayakan SPPG

    Tinjau Dapur MBG, Pilar Pastikan Pemkot Tangsel Akan Bantu Kelayakan SPPG

    Jakarta

    Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, meninjau dua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ciater 1 dan 3, Serpong. Ia memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel siap membantu Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan kelayakan SPPG.

    Selain itu peninjauan dilakukan, untuk melihat standar operasional prosedur (SOP) SPPG dan kelayanan bangunannya. Pengecekan juga merupakan tindak lanjut rapat koordinasi yang dilakukan bersama pemerintah pusat beberapa waktu lalu. Pilar menegaskan, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie sudah menginstruksikan jajarannya untuk terus mendukung program MBG.

    “Kami sudah melakukan komunikasi dengan seluruh SPPG di Kota Tangsel. Langkah ini sebagai bentuk dukungan Pemkot Tangsel agar program makan bergizi gratis lancar, aman dan layak untuk dibagikan pada penerima, termasuk ibu hamil dan balita,” ucapnya, dalam keterangan tertulis, Rabu (8/10/2025).

    Saat melakukan peninjauan, Pilar mengaku dapur MBG Ciater 1 dan 3 bisa menjadi percontohan. Hal tersebut bukan tanpa alasan, dirinya menilai bahwa prosedur sudah dijalan dengan baik.

    “Semua saya lihat dilakukan sebaik mungkin. Jadi nanti kalo semua dinilai baik SPPG Ciater 1 dan 3 oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Bangunan. Nah, kita arahkan SPPG lainnya bisa mencontoh,” ujarnya.

    “Karena SLHS ini persyaratan utama, kami insya Allah melakukan pendampingan dan masukan kepada SPPG mana yang masih kurang. Atau misalnya dapurnya kurang steril, belum memiliki IPAL. Nah itu harus dipenuhi semua, jadi kita pantau dan SLHS itu benar-benar menyeleksi. Jadi MBG itu layak dan aman dikonsumsi,” tambahnya.

    Pilar juga menegaskan bahwa Pemkot Tangsel mendukung penuh program MBG.

    (akn/ega)

  • Volume Sampah Berpotensi Naik Saat Nataru, Warga Tangsel Diminta Setop Buang di Jalan
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        16 Desember 2025

    Wawalkot Tangsel: Bakteri Penyebab Siswa SD di Setu Keracunan MBG Megapolitan 29 September 2025

    Wawalkot Tangsel: Bakteri Penyebab Siswa SD di Setu Keracunan MBG
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com –
    Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menemukan bakteri dalam makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah adanya laporan keracunan massal di salah satu sekolah dasar (SD) di Kecamatan Setu.
    Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, mengatakan, hasil pemeriksaan Dinkes Tangsel, penyebab keracunan diduga berasal dari air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan.
    Air tersebut terdapat bakteri E.coli yang turut ikut mencemari makanan.
    “Itu karena ada bakteri di situ, kalau tidak salah E. coli. Ada di makanannya, lalu juga di tangannya itu,” ujar Pilar saat ditemui di Gedung Wali Kota Tangsel, Serua, Ciputat, Tangsel, Senin (29/9/2025).
    Adapun kasus tersebut terjadi di wilayah Babakan, Setu, pada September 2025.
    Namun, ia tidak mengingat secara pasti jumlah murid yang keracunan MBG.
    Tetapi saat itu, sejumlah siswa mengalami mual usai mengonsumsi makanan dari program MBG.
    “Ada di Setu, daerah Babakan sempat ada. Itu sekarang SPPG-nya sedang ditutup,” kata dia.
    Untuk mencegah hal itu, pemerintah kini mewajibkan penggunaan air galon untuk proses memasak maupun mencuci bahan makanan.
    Aturan itu mengacu pada arahan Kementerian Kesehatan dan Badan Gizi Nasional (BGN).
    “Sekarang syaratnya dari Kementerian Kesehatan dan BGN, air untuk masak dan merebusnya wajib menggunakan air galon di seluruh Indonesia. Kalau sudah dicuci, dibilas terakhirnya pakai air galon juga,” jelas Pilar.
    Pilar berharap kasus serupa tidak kembali terjadi di wilayah Tangsel.
    Bahkan, ia ingin ada koordinasi antara Pemkot Tangsel dengan BGN untuk memastikan standar kesehatan makanan dalam program MBG benar-benar terjaga.
    “Kami sangat membutuhkan koordinasi agar antara BGN sama Pemda itu, kita kan bukan masing-masing, ini program bersama mensukseskan programnya Presiden,” ucap dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Volume Sampah Berpotensi Naik Saat Nataru, Warga Tangsel Diminta Setop Buang di Jalan
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        16 Desember 2025

    Siswa SD Diduga Keracunan MBG, SPPG di Tangsel Ditutup Megapolitan 29 September 2025

    Siswa SD Diduga Keracunan MBG, SPPG di Tangsel Ditutup
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com –
    Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menemukan siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Setu diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
    Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan saat ini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG tersebut ditutup.
    “Ada di Setu, daerah Babakan sempat ada. Itu sekarang SPPG-nya sedang ditutup,” ujar Pilar Saga Ichsan saat ditemui di Gedung Wali Kota Tangsel, Serua, Ciputat, Tangsel, Senin (29/9/2025).
    Namun, ia tidak mengingat secara pasti jumlah murid yang keracunan MBG. Begitu pula dengan tanggal pasti peristiwa itu terjadi.
    Namun, ia memastikan kejadian tersebut masih pada bulan September 2025.
    “Lumayan (yang keracunan). Jumlahnya saya lupa. Beberapa waktu lalu tapi masih bulan ini,” kata dia.
    Lebih lanjut, ia menjelaskan, saat keracunan MBG, sejumlah siswa mengalami gejala mual setelah mengonsumsi makanan dalam program tersebut.
    Dari hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel menyebut penyebabnya berasal dari air yang digunakan.
    Pilar menjelaskan, berdasarkan temuan Dinkes Tangsel, terdapat bakteri pada air yang digunakan dalam pengolahan makanan.
    Bahkan, bakteri tersebut diduga ikut mencemari makanan hingga menimbulkan gejala keracunan.
    “Itu karena ada bakteri di situ, kalau tidak salah E. coli. Ada di makanannya, lalu juga di tangannya itu,” kata dia.
    Untuk mencegah hal itu terjadi lagi, pemerintah kini mewajibkan penggunaan air galon untuk proses memasak maupun mencuci bahan makanan.
    Aturan itu mengacu pada arahan Kementerian Kesehatan dan Badan Gizi Nasional (BGN).
    “Sekarang syaratnya dari Kementerian Kesehatan dan BGN, air untuk masak dan merebusnya wajib menggunakan air galon di seluruh Indonesia. Kalau sudah dicuci, dibilas terakhirnya pakai air galon juga,” jelas Pilar.
    Pilar berharap kasus serupa tidak kembali terjadi di wilayah Tangsel.
    Bahkan, ia ingin ada koordinasi antara Pemkot Tangsel dengan BGN untuk memastikan standar kesehatan makanan dalam program MBG benar-benar terjaga.
    “Kami sangat membutuhkan koordinasi agar antara BGN sama Pemda itu, kita kan bukan masing-masing, ini program bersama mensukseskan programnya Presiden,” ucap dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Wawalkot Tangsel: 4.000 Warga Terinfeksi TBC
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        29 September 2025

    Wawalkot Tangsel: 4.000 Warga Terinfeksi TBC Megapolitan 29 September 2025

    Wawalkot Tangsel: 4.000 Warga Terinfeksi TBC
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com
    – Sebanyak 4.000 warga Tangerang Selatan (Tangsel) teridentifikasi positif tuberkulosis (TBC) dan saat ini tengah menjalani pengobatan rutin.
    “Di Tangrang Selatan ada sekitar 4.000 orang yang sedang berobat, teridentifikasi TB,” ujar Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, saat ditemui di Gedung Wali Kota, Serua, Ciputat, Senin (29/9/2025).
    Melihat jumlah itu, Pilar meminta agar warga yang tengah menjalani pengobatan dapat disiplin minum obat. Hal itu penting agar angka kasus TBC dapat ditekan.
    “Inilah yang kita sedang dorong, bahwa orang-orang yang teridentifikasi ini untuk bisa rutin minum obat,” kata Pilar.
    Pilar mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel juga berupaya menekan angka TBC melalui program skrining kesehatan yang dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan gratis.
    Dari program itu, salah satu bentuk pemeriksaan yang dilakukan adalah skrining TBC.
    “Screening ini penting dilakukan. Takutnya ada kemunculan-kemunculan baru di masyarakat,” kata dia.
    Menurut Pilar, capaian skrining TBC di Banten saat ini sudah mencapai 79 persen dan menjadi yang tercepat di tingkat nasional. Hal ini turut membantu upaya deteksi dini kasus TBC.
    Oleh sebab itu, Pilar berharap upaya pengobatan rutin dan skrining kesehatan yang masif dapat membantu menekan angka TBC di Tangsel.
    “Seperti yang saya sampaikan, angka ini terus kita tekan supaya angka TB di Indonesia, khususnya di Tangerang Selatan, bisa terus diminimalisir,” ucap dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Anggaran Makan Pemkot Tangsel Rp 66 M, Wawalkot: Semua Kegiatan, Sampai Kelurahan
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        24 September 2025

    Anggaran Makan Pemkot Tangsel Rp 66 M, Wawalkot: Semua Kegiatan, Sampai Kelurahan Nasional 24 September 2025

    Anggaran Makan Pemkot Tangsel Rp 66 M, Wawalkot: Semua Kegiatan, Sampai Kelurahan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Pilar Saga Ichsan menyebut, anggaran makan dan minum Rp 66 miliar dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tangsel 2024 mencakup seluruh kegiatan pemerintah kota (Pemkot) hingga kelurahan.
    Anggaran makan dan minum itu diketahui tengah disorot setelah mantan penyanyi cilik Trio Kwek Kwek, Leony, mengunggah LKPD Tangsel melalui media sosialnya.
    “Kalau dijabarkan, semuanya tercantum dalam OPD-OPD (organisasi perangkat daerah) terkait. Termasuk sampai kecamatan, kelurahan, dan lain-lain,” kata Pilar saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
    Pilar mengatakan, pos anggaran makan dan minum itu antara lain diperuntukkan bagi 54 kelurahan, 7 kecamatan, kegiatan di sekolah, kegiatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
    Lalu, kegiatan tugas pemadam kebakaran (Damkar), forum RT-RW, kegiatan kepemudaan, hingga berbagai pelatihan. Seluruh pembiayaan makan dan minum OPD itu dalam laporan disatukan pada satu kode rekening.
    Hal ini sesuai dengan standar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
    “Maka dari itu semuanya dalam satu tahun dialokasikan dalam kode rekening. Makanya angkanya kan besar Rp 66 miliar,” tutur Pilar.
    Keponakan mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah itu berharap, penjelasan yang telah disampaikan Wali Kota Tangsel terkait LKPD 2024 bisa dipahami masyarakat.
    Ia menyebut, Pemkot Tangsel sangat terbuka jika ada masyarakat yang masih membutuhkan detail LKPD tersebut.
    “Kami sangat terbuka, itu biasa kami lakukan untuk bagaimana kepada dinas-dinas terkait. Sesuai dengan kode rekening, nanti kami akan berikan,” jelas Pilar.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.