Tag: Paus Fransiskus

  • Paus Fransiskus Sudah 2 Pekan Dirawat di RS, Begini Kondisi Terkininya

    Paus Fransiskus Sudah 2 Pekan Dirawat di RS, Begini Kondisi Terkininya

    Jakarta

    Paus Fransiskus sudah dirawat selama kurang lebih 2 pekan di rumah sakit akibat bronkitis dan pneumonia bilateral. Saat ini kondisinya disebut stabil setelah sehari sebelumnya dikabarkan sempat memburuk.

    Vatikan dalam keterangan resminya mengatakan tidak ada tanda-tanda infeksi lebih lanjut terkait kondisi Paus Fransiskus. Dia juga sudah bisa makan sendiri dan secara teratur menjalani fisioterapi pernapasan.

    “Bapa Suci tidak demam dan tidak menunjukkan leukositosis (jumlah sel darah putih yang tinggi),” ungkap Vatikan dikutip dari Vatican News, Minggu (2/3/2025).

    Sebelumnya, Vatikan mengatakan Paus menjalani “malam yang tenang” dan sedang beristirahat, sementara seorang pejabat menambahkan: “Saya rasa ia minum kopi pagi ini.”

    Sumber-sumber Vatikan mengatakan dokter yang merawat Paus membutuhkan waktu 24 hingga 48 jam untuk menentukan apakah ada kerusakan atau kemunduran pada kondisi kesehatannya secara keseluruhan.

    (kna/kna)

  • Dirawat 2 Minggu di RS, Kondisi Paus Fransiskus Stabil

    Dirawat 2 Minggu di RS, Kondisi Paus Fransiskus Stabil

    Jakarta

    Pemimpin umat Katolik Paus Fransiskus telah dirawat di rumah sakit selama dua minggu karena pneumonia ganda. Vatikan mengungkapkan Paus berada dalam kondisi stabil sambil kembali menolak memberikan prognosis.

    Dilansir AFP, Minggu (2/3/2025), pria berusia 88 tahun itu menderita “krisis” pernapasan pada Jumat (28/2), tetapi laporan malam hari mengatakan hal ini tidak terulang, menambahkan bahwa ia masih menerima oksigen tetapi tidak mengalami demam.

    “Kondisi klinis Bapa Suci tetap stabil,” katanya.

    Paus Fransiskus telah “bergantian menggunakan ventilasi mekanis non-invasif” (masker oksigen) dengan “periode panjang oksigen aliran tinggi”.

    “Parameter hemodinamik selalu tetap stabil,” tambahnya, mengacu pada pengukuran seperti denyut jantung dan tekanan darah.

    “Ia terus makan dan secara teratur menjalani fisioterapi pernapasan, bekerja sama secara aktif,” katanya.

    “Bapa Suci masih waspada dan berorientasi. Pada sore hari ia menerima Ekaristi, kemudian membaktikan dirinya untuk berdoa.

    “Prognosisnya masih belum jelas.”

    (rfs/rfs)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Kondisi Paus Fransiskus Alami Kemunduran karena Penyempitan Saluran Pernapasan

    Kondisi Paus Fransiskus Alami Kemunduran karena Penyempitan Saluran Pernapasan

    JAKARTA  – Paus Fransiskus mengalami “krisis pernapasan terisolasi” di rumah sakit. Kondisi ini menjadi kemunduran ketika Paus berusia 88 tahun itu berjuang melawan pneumonia ganda.

    Francis, 88, dirawat di rumah sakit Gemelli Roma selama dua minggu, sejak 14 Februari karena infeksi pernapasan parah yang memicu komplikasi lain.

    “Sore ini Bapa Suci mengalami krisis bronkospasme yang terisolasi,” demikian laporan rinci terbaru mengenai kondisi Paus, menggambarkan penyempitan saluran pernapasan Paus yang mirip dengan serangan asma,” kata Vatikan dilansir dari Reuters, Sabtu, 1 Maret.

    Paus juga mengalami “muntah saat menghirup dan kondisi pernapasan yang tiba-tiba memburuk.”

    Dia kemudian menerima aspirasi untuk membantu mengeluarkan muntahan dari saluran pernapasannya, yang diikuti dengan “ventilasi mekanis non-invasif,” katanya.

    Berita pada Jumat, 28 Februari, menyusul kabar positif selama tiga hari terakhir, di mana Vatikan mengatakan sebelumnya Paus menunjukkan “sedikit perbaikan” saat ia melawan apa yang disebut sebagai infeksi “kompleks” yang disebabkan oleh dua atau lebih mikroorganisme.

    Seorang pejabat Vatikan, yang tidak ingin disebutkan namanya karena tidak berwenang membahas kesehatan Paus, mengatakan masalah pernapasan Paus pada Jumat tidak berlangsung lama.

    Ventilasi yang diterima Paus melibatkan penggunaan masker tipis untuk menutupi hidung dan mulutnya, kata pejabat itu.

    Dokternya diperkirakan memerlukan waktu 24-48 jam untuk mengevaluasi bagaimana dampak pada kondisi klinisnya.

    Paus terakhir kali menderita apa yang digambarkan Vatikan sebagai “krisis pernapasan seperti asma yang berkepanjangan” pada tanggal 22 Februari, namun belum ada krisis yang berulang sebelum Jumat.

  • Kabar Terbaru Kondisi Paus Fransiskus Usai Sempat Muntah-Muntah

    Kabar Terbaru Kondisi Paus Fransiskus Usai Sempat Muntah-Muntah

    Jakarta, CNBC Indonesia – Vatikan mengumumkan pada Sabtu pagi Paus Fransiskus tidur nyenyak dan menghabiskan bagian pertama pagi harinya untuk beristirahat.

    “Setelah malam yang tenang, Paus sedang beristirahat,” demikian pernyataan singkat dari Kantor Pers Takhta Suci, dikutip Sabtu (1/3/2025).

    Paus tidak mengalami krisis lebih lanjut setelah bronkospasme yang terjadi kemarin. Pagi ini, beliau sarapan, menikmati kopi, dan membaca koran. Namun, kondisinya tetap kompleks, dan prognosisnya masih belum pasti.

    Paus Fransiskus tidur nyenyak dan sedang beristirahat, menurut pernyataan dari Kantor Pers Takhta Suci pada Sabtu pagi.

    Sebelumnya, pada Jumat malam, kondisi pernapasan Paus memburuk setelah mengalami bronkospasme terisolasi. Beliau segera diberikan ventilasi mekanis non-invasif, yang berhasil membantu stabilisasi kondisinya.

    Dalam pernyataan resminya, Vatikan menjelaskan, krisis pernapasan ini terjadi karena Paus Fransiskus menghirup muntahannya sendiri, yang menyebabkan gangguan pernapasan akut.

    “Setelah mengalami episode muntah, Paus mengalami kesulitan bernapas yang signifikan, yang menyebabkan perburukan mendadak pada kondisi paru-parunya,” demikian pernyataan dari Vatikan.

    Berkat ventilasi mekanis non-invasif, nilai pertukaran gas dalam tubuhnya kembali ke tingkat yang mendekati normal sebelum kejadian tersebut. Namun, dibutuhkan waktu sekitar 24 hingga 48 jam untuk mengevaluasi kondisi klinisnya lebih lanjut.

    Pernyataan ini muncul saat Paus masih menjalani perawatan untuk pneumonia bilateral di Rumah Sakit Gemelli, Roma. Beliau dirawat sejak Jumat, 14 Februari, setelah mengalami infeksi saluran pernapasan.

    Paus Fransiskus, yang kini berusia 88 tahun, memiliki riwayat masalah paru-paru sejak muda. Saat masih menjalani pendidikan sebagai imam di Argentina, ia pernah mengalami pleuritis, kondisi peradangan pada selaput paru-paru, yang membuatnya harus menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru.

    Kondisi inilah yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan, termasuk pneumonia yang kini tengah ia derita. Ini bukan pertama kalinya Paus harus dirawat akibat gangguan paru-paru.

    (dce)

  • Kondisi Terkini Paus Fransiskus, Sulit Bernapas hingga Muntah

    Kondisi Terkini Paus Fransiskus, Sulit Bernapas hingga Muntah

    Jakarta

    Paus Fransiskus, yang dirawat di rumah sakit karena pneumonia, sempat mengalami “krisis” pernapasan yang menyebabkannya muntah pada Jumat (28/2).

    Paus berusia 88 tahun itu saat ini dirawat di rumah sakit di Roma akibat pneumonia di kedua paru-parunya. Setelah kejadian tersebut, ia segera diberikan ventilasi mekanis non-invasif yang menunjukkan respon baik dalam pertukaran gas, setelah saluran napasnya dibersihkan.

    Sumber-sumber Vatikan mengatakan dokter Paus membutuhkan waktu 24-48 jam untuk menentukan apakah ada kerusakan atau kemunduran pada kondisinya. Untuk saat ini mereka belum memberikan prognosis apa pun.

    “Bapa Suci mengalami krisis bronkospasme yang terisolasi, yang kemudian menyebabkan episode muntah saat menghirup udara dan kondisi pernapasan yang tiba-tiba memburuk,” kata Vatikan, dikutip dari BBC.

    “Bapa Suci segera menjalani bronkoaspirasi dan memulai ventilasi mekanis non-invasif, dengan respons yang baik terhadap pertukaran gas.”

    “Krisis pernapasan” terakhir terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat, tetapi tidak diketahui berapa lama kondisi itu berlangsung. Kondisi terbaru ini muncul setelah beberapa hari Vatikan mengabarkan bahwa kondisi Paus mengalami “sedikit perbaikan”.

    Sebelumnya, Paus dirawat di rumah sakit pada tanggal 14 Februari setelah mengalami kesulitan bernapas selama beberapa hari. Ia pertama kali dirawat karena bronkitis sebelum didiagnosis mengidap pneumonia pada kedua paru-parunya.

    Kemudian, pada tanggal 22 Februari, Vatikan mengatakan bahwa Paus telah mengalami krisis pernapasan dan berada dalam kondisi “kritis”, namun kemudian pada hari Minggu, 23 Februari, merilis pembaruan yang mengatakan bahwa ia “tidak menunjukkan krisis pernapasan lebih lanjut”.

    Keesokan harinya, Paus mengeluarkan pernyataan yang meminta umat Katolik untuk berdoa untuknya setelah ia tidak dapat menyampaikan doa Angelus tradisional secara langsung selama minggu kedua berturut-turut .

    (suc/suc)

  • Dikabarkan Sakit, Ini Kondisi Paus Frasiskus Sekarang

    Dikabarkan Sakit, Ini Kondisi Paus Frasiskus Sekarang

    Jakarta, CNBC Indonesia – Vatikan membeberkan situasi terbaru Paus Fransiskus. Pihaknya mengatakan Paus tengah menghabiskan malam yang damai di rumah sakit pada Jumat (28/2/2025).

    Pernyataan ini dikeluarkan Vatikan sehari setelah Paus mencatat perbaikan kondisi klinis kritisnya untuk hari kedua berturut-turut.

    Setelah dirawat di rumah sakit Gemelli Roma pada 14 Februari karena kesulitan bernapas, Paus memicu kekhawatiran di seluruh dunia karena kondisinya memburuk menjadi pneumonia di kedua paru-paru.

    “Seperti pada hari-hari terakhir, malam telah berlalu dengan tenang dan paus sekarang beristirahat,” kata Vatikan dalam buletin pagi tentang kesehatan pria berusia 88 tahun itu, seperti dikutip AFP.

    Setelah akhir pekan yang sulit, di mana Paus menderita serangan pernapasan, Vatikan mengatakan minggu ini bahwa ada sedikit perbaikan dalam kondisinya.

    Namun, tidak mengubah prognosisnya tentang “direservasi”. Para ahli medis mengatakan usia paus dan kondisi yang sudah ada berarti pemulihan berkelanjutan dapat memakan waktu lebih lama.

    “Mengingat kompleksitas gambaran klinis, hari-hari berikutnya stabilitas klinis diperlukan untuk menyelesaikan prognosis,” kata Vatikan pada Kamis.

    (sef/sef)

  • Kondisi Terkini Paus Fransiskus Setelah 14 Hari Dirawat Intensif di RS

    Kondisi Terkini Paus Fransiskus Setelah 14 Hari Dirawat Intensif di RS

    Jakarta

    Vatikan menyatakan kondisi kesehatan Paus Fransiskus terus membaik hari demi hari. Terkait terapi untuk pernapasannya, Paus saat ini tidak lagi diberikan oksigen beraliran tinggi.

    “Ia (Paus) mengganti terapi oksigen aliran tinggi dengan Ventimask. Karena gambaran klinisnya rumit, diperlukan stabilitas klinis lebih lanjut untuk memperjelas prognosis,” ujar pihak Vatikan, dikutip dari Vatikan News, Jumat (28/2/2025).

    Terapi pernapasan ini dilakukan Paus setiap pagi hari dengan diselingi istirahat. Setelah itu dirinya juga menjalani beberapa terapi tambahan. Pada sore hari, Paus menghabiskan waktu untuk berdoa di kapel di tempat tinggalnya.

    “Paus mendapatkan malam yang tenang (tidur nyenyak),” kata pihak Vatikan.

    Pihak Vatikan mengatakan bahwa Paus terlihat bersemangat untuk kesembuhannya. Ini tentu menjadi kabar baik baik para umat yang terus menerus berdoa untuk kesembuhan Paus.

    Menurut laporan, Paus telah melewati fase paling kritis, tetapi kondisinya masih rumit. Karena alasan ini, prognosisnya masih belum jelas.

    Dokter mengungkapkan hasil CT scan di bagian dada Paus menunjukkan perkembangan normal dari peradangan paru-paru sebelumnya. Hasil tes darah yang dijalani Paus juga mengonfirmasi adanya peningkatan kesehatan.

    (dpy/naf)

  • Hari ke-14 Dirawat di RS, Paus Fransiskus Membaik

    Hari ke-14 Dirawat di RS, Paus Fransiskus Membaik

    Jakarta

    Vatikan pada Kamis (27/2) waktu setempat mengabarkan kondisi kesehatan Paus Fransiskus kian membaik. Hingga kini Kepala Negara Vatikan itu masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat pneumonia di kedua paru-parunya.

    “Kondisi klinis Bapa Suci dipastikan membaik hari ini juga,” kata Vatikan dalam buletin malam tentang kesehatan Paus, dilansir AFP, Jumat (28/2/2025).

    Ini adalah hari kedua Vatikan melaporkan peningkatan kesehatan sejak Paus Fransiskus dalam kondisi kritis. Paus Fransiskus dirawat di rumah sakit Gemelli di Roma sejak tanggal 14 Februari.

    Saat para simpatisan terus berkumpul untuk berdoa dan memberikan persembahan di luar rumah sakit, para ahli medis–bersama dengan Vatikan–telah memperingatkan bahwa Fransiskus masih dalam bahaya.

    “Mengingat kompleksitas gambaran klinis, diperlukan beberapa hari stabilitas klinis lebih lanjut untuk menyelesaikan prognosis,” kata pernyataan Vatikan.

    Setelah pertama kali dirawat di rumah sakit karena kesulitan bernapas, Vatikan mengungkapkan bahwa Paus–yang sebagian paru-parunya diangkat saat masih muda–menderita pneumonia bilateral.

    Namun pada hari Rabu, Vatikan mengatakan bahwa kondisi klinis Fransiskus telah menunjukkan “sedikit perbaikan” sambil memperingatkan bahwa prognosisnya masih “diperkirakan”.

    Serangan pernapasan yang diderita Fransiskus pada akhir pekan yang membutuhkan oksigen tingkat tinggi tidak terulang, meskipun ia terus menerima oksigen dan melakukan latihan pernapasan.

    Pada hari Kamis, ia “bergantian menjalani terapi oksigen aliran tinggi dengan masker venturi,” kata Vatikan, mengacu pada masker oksigen yang memberikan oksigen pada konsentrasi yang terkontrol.

    “Pada pagi hari, Bapa Suci mendedikasikan waktunya untuk fisioterapi pernapasan, bergantian dengan istirahat,” kata Vatikan.

    Selama 14 hari sejauh ini, rawat inap saat ini merupakan yang terlama bagi Fransiskus.

    Pada sore hari, setelah sesi terapi lainnya, ia berdoa di kapel yang terletak di lantai 10 Gemelli di ruang khusus kepausan, kata Vatikan.

    Ia kemudian menghabiskan waktu untuk bekerja, katanya.

    (taa/taa)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Muncul Spekulasi Pengganti Paus Fransiskus bila Beliau Wafat, Ada 8 Nama Kardinal – Halaman all

    Muncul Spekulasi Pengganti Paus Fransiskus bila Beliau Wafat, Ada 8 Nama Kardinal – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Paus Fransiskus, yang saat ini berusia 88 tahun, sedang dalam kondisi kritis akibat pneumonia yang menyerang kedua paru-parunya.

    Vatikan mengatakan kondisi Paus Fransiskus menunjukkan sedikit peningkatan saat dia berjuang melawan pneumonia bilateral yang diidapnya.

    “Gagal ginjal ringan yang diamati dalam beberapa hari terakhir telah mereda,” ungkap Vatikan dalam pembaruan terakhirnya.

    “Pemindaian CT dada yang dilakukan tadi malam menunjukkan perkembangan normal dari peradangan paru-paru,” lanjut keterangan Vatikan.

    Vatikan menambahkan, tes darah yang dilakukan Paus Fransiskus kali terakhir mengonfirmasi peningkatan (kondisinya membaik).

    “Kondisi klinis Bapa Suci dalam 24 jam terakhir telah menunjukkan sedikit peningkatan lebih lanjut,” kata pernyataan itu tanpa menyebutkan apakah kondisinya masih kritis.

    Jika Paus Fransiskus wafat, secara teknis, setiap pria Katolik Roma dapat dipilih sebagai pewaris Santo Petrus.

    Namun, biasanya salah satu dari 253 kardinal dari seluruh dunia akan terpilih untuk memimpin umat Katolik.

    Berikut adalah daftar kandidat terdepan untuk menggantikan Paus Fransiskus.

    Sekretaris negara Vatikan, Pietro Parolin bertugas di Vatikan selama 11 tahun.

    Ia yang paling dinominasikan menggantikan Paus Fransiskus. 

    Parolin dianggap moderat secara politik. Ia menghabiskan kariernya dengan berpartisipasi dalam sayap diplomatik Vatikan.

    Ia menghabiskan sebagian kariernya di Nunsiatur Nigeria dan Meksiko lalu diangkat menjadi kardinal pada 2014 oleh Paus Fransiskus.

    Parolin akan dianggap sebagai perpanjangan dari warisan Fransiskus.

    2. Kardinal Fridolin Ambongo Besungu

    Presiden Simposium Konferensi Episkopal Afrika dan Madagaskar, Fridolin Ambongo Besungu, menjadi berita utama ketika ia menolak deklarasi kontroversial Paus Fransiskus.

    Kapusin yang konservatif itu menyatakan doktrin Fiducia supplicans, yang mengizinkan para pendeta memberkati pasangan yang belum menikah dan pasangan sejenis, batal demi hukum di benua Afrika.

    Besungu mendapat berkat dari Paus Fransiskus dalam sebuah pertemuan darurat pada 2023 tak lama setelah ajaran itu dirilis, demikian dilaporkan Catholic Herald.

    Kepausan Besungu akan dipandang sebagai teguran keras terhadap prinsip-prinsip Paus Fransiskus yang condong ke kiri.

    Paus saat ini mengangkat Besungu sebagai kardinal pada 2019.

    3. Kardinal Wim Eijk 

    Willem Jacobus Eijk adalah seorang mantan dokter medis.

    Ia dianggap sebagai salah satu kandidat terdepan yang paling konservatif.

    Pada 2015, Eijk membantu menulis “Sebelas Kardinal Berbicara tentang Pernikahan dan Keluarga: Esai dari Sudut Pandang Pastoral”.

    Artikel itu dengan tegas menentang dukungan Paus Fransiskus terhadap pernikahan sipil ulang jika tidak menerima pembatalan pernikahan pertama.

    Eijk menulis bahwa hal itu adalah suatu bentuk perzinahan yang terstruktur dan dilembagakan.

    Eijk juga mengkritik ketidakmampuan Paus saat ini untuk melawan usulan Konferensi Uskup Jerman yang mengizinkan kaum Protestan menerima Ekaristi di gereja-gereja Katolik.

    Dalam sebuah tajuk rencana, Eijk menyebut keputusan Paus tentang masalah tersebut tidak bisa dipahami.

    Eijk diangkat menjadi kardinal oleh Paus Benediktus XVI pada 2012.

    4. Kardinal Peter Erdo

    Peter Erdo dari Hungaria telah lama menjadi tokoh penting dalam politik gereja kontemporer.

    Sebagai seorang konservatif, Erdo sebelumnya menentang praktik umat Katolik yang bercerai atau menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus.

    Erdo juga vokal menentang negara-negara Eropa yang menerima pengungsi, dengan menyatakan bahwa hal itu sama saja dengan perdagangan manusia.

    Erdo diangkat menjadi kardinal pada 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II.

    5. Kardinal Luis Antonio Tagle

    Luis Antonio Tagle berasal dari Filipina. Ia menjabat sebagai wakil prefek untuk Bagian Evangelisasi Pertama di Departemen Evangelisasi dan sebagai presiden Komisi Antar Departemen untuk Religius yang Ditahbiskan.

    Tagle dijuluki Paus Fransiskus Asia. Ia dianggap condong ke kiri dan kritis terhadap perlakuan gereja terhadap kaum LGBT dan umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi. 

    Dalam sebuah wawancara pada 2015, ia mengatakan sikap keras gereja terhadap kaum gay, janda yang cerai, dan ibu tunggal telah merusak tujuannya untuk menyebarkan Injil.

    Tagle adalah orang Filipina ketujuh yang diangkat menjadi kardinal dan akan menjadi paus pertama yang berasal dari benua Asia jika terpilih. Ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2012.

    6. Kardinal Raymond Burke

    Raymond Burke dianggap sebagai tokoh konservatif terkemuka di gereja tersebut.

    Ia adalah pendukung misa Latin dan kerap mengkritik Paus Fransiskus yang dianggap liberal.

    Warga asli Wisconsin dan mantan uskup agung St. Louis itu menentang kesediaan Paus Fransiskus untuk mengizinkan pasangan yang bercerai dan menikah lagi menerima Ekaristi.

    Burke juga menentang bahasa baru Gereja seputar kontrasepsi buatan, kaum gay, dan pernikahan sipil. Ia menyatakan hal itu sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

    Burke diangkat menjadi kardinal oleh Paus Benediktus XVI pada 2010.

    7. Kardinal Mario Grech

    Sekretaris jenderal Sinode Uskup saat ini, Mario Grech dianggap sebagai calon penerus Paus Fransiskus yang moderat.

    Sebelumnya, ia pernah berbicara tentang perlunya menjangkau mereka yang dikucilkan dari Gereja karena seksualitas atau status perkawinan.

    Dalam pidatonya pada 2014 di Sidang Umum Luar Biasa Sinode Para Uskup, Grech menyoroti perlunya gereja untuk menjaga kesinambungan pengajaran sambil memberi ruang bagi kreativitas dalam metodologi berbicara kepada umat.

    Grech diangkat menjadi kardinal pada 2020 oleh Paus Fransiskus.

    8. Kardinal Matteo Zuppi

    Presiden Konferensi Episkopal Italia, Matteo Zuppi lahir di Roma dan menjabat posisi penting sebagai uskup agung Bologna, Italia. Ini menjadikannya orang dalam di Vatikan pimpinan Fransiskus.

    Sebagai orang kepercayaan Fransiskus, Zuppi diminta pada 2023 untuk melaksanakan misi perdamaian penting di Ukraina. Iabertemu dengan Presiden Volodymyr Zelensky.

    Ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2019.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Kondisi Terkini Paus Fransiskus, Vatikan Beri Kabar Bahagia

    Kondisi Terkini Paus Fransiskus, Vatikan Beri Kabar Bahagia

    PIKIRAN RAKYAT – Kabar duka Paus Fransiskus yang alami sakit keras hingga kritis di rumah sakit mengirimkan gelombang pilu ke seluruh dunia, sejak beberapa hari lalu. Bagaimana kabar terkininya?

    Hari ini, Kamis, 27 Februari 2025, Vatikan mengirim kabar baik via laman berita resminya. Mereka mengumumkan kondisi Paus Fransiskus yang terus berangsur membaik.

    Menurut laporan Vatikan, Paus Gereja Katolik ke-266 bernama asli asli Jorge Mario Bergoglio itu sudah bisa tidur nyenyak setelah melewati kondisi kritisnya.

    Paus disebut terus dipantau agenda istirahatnya per Kamis pagi, 27 Februari 2025. karena kondisinya menunjukkan sedikit perbaikan dalam beberapa hari terakhir.

    “Paus tidur nyenyak semalam dan sekarang sedang beristirahat,” demikian pernyataan singkat oleh Kantor Pers Takhta Suci, dikutip dari laman Vatikan, 27 Februari 2025.

    Selamat dari Gagal Fungsi Ginjal

    Pada Rabu malam, 26 Februari 2025, Kantor Pers mengatakan kondisi kesehatan Paus telah sedikit membaik dalam 24 jam ke belakang.

    “Kekurangan fungsi ginjal ringan yang terlihat dalam beberapa hari terakhir telah mereda. Pemeriksaan CT scan dada yang dilakukan (pada Selasa) malam menunjukkan perkembangan normal pada peradangan paru-paru. Tes darah yang dilakukan (pada Rabu) mengonfirmasi perbaikan yang terlihat (pada Selasa),” kata pernyataan itu.

    Paus Fransiskus tetap menjalani terapi oksigen aliran tinggi, namun hingga Rabu malam, beliau belum mengalami krisis pernapasan seperti asma. Menurut Kantor Pers Takhta Suci, prognosisnya tetap “terjaga.”

    Sebelumnya, Paus dirawat di Rumah Sakit Gemelli di Roma sejak hari Jumat, 14 Februari lalu, setelah mengalami bronkitis, yang kemudian kena diagnosa mengidap pneumonia bilateral.

    Sudah Sempat Tulis Surat Pengunduran Diri

    Paus Fransiskus sudah mempersiapkan surat pengunduran diri sejak 2013 tahun pertamanya menjabat, yang akan digunakan jika terpaksa mengundurkan diri karena kesehatannya yang buruk, menurut sebuah laporan pada Minggu, 23 Februari 2025.

    Hal tersebut disampaikan Paus Fransiskus dalam sebuah wawancara berdasarkan laporan New York Post yang dilakukan tahun 2022.

    “Saya telah menandatangani surat pengunduran diri, saat Tarcisio Bertone menjadi Menteri Luar Negeri. Saya menandatanganinya dan mengatakan kepadanya: Jika ada halangan karena alasan medis atau apa pun, ini pengunduran diri saya,” ucap Paus seperti dikutip dari Antara. ***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News