Tag: Paus Fransiskus

  • Kabar dari Vatikan soal Kondisi Kesehatan Paus Fransiskus Membaik

    Kabar dari Vatikan soal Kondisi Kesehatan Paus Fransiskus Membaik

    Jakarta

    Paus Fransiskus masih berjuang sembuh dari sakit pneumonia yang dideritanya. Hampir tiga pekan dirawat, kondisi pemimpin gereja Katolik dunia itu terus membaik.

    Dilansir kantor berita AFP, Minggu (9/3/2025), Vatikan mengatakan Paus Fransiskus merespons pengobatan dengan baik. Vatikan menyebut kondisi pria berusia 88 tahun itu stabil dan kian membaik.

    “Kondisi klinis Bapa Suci dalam beberapa hari terakhir tetap stabil dan, akibatnya, menunjukkan respons yang baik terhadap pengobatan. Oleh karena itu, ada sedikit perbaikan secara bertahap,” demikian bunyi buletin tersebut.

    Kepala Gereja Katolik sedunia itu telah berada di RS Gemelli, Roma, sejak 14 Februari. Paus disebut tak lagi mengalami kegagalan pernapasan seperti yang terjadi pada hari Senin (3/3).

    Paus Fransiskus dirawat di Rumah Sakit Gemelli di Roma karena kesulitan bernapas, setelah itu kondisinya sempat memburuk, sehingga memicu kekhawatiran luas di kalangan umat Katolik.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {

    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    adSlot.innerHTML = “;

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’)
    .addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”;
    ads[currentAdIndex]();
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function (entries) {
    entries.forEach(function (entry) {
    if (entry.intersectionRatio > 0.1) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    } else {
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.1 });

    function checkVisibility() {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    } else {
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    }

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function () {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) {
    console.error(“❌ Elemen #ad-slot tidak ditemukan!”);
    return;
    }
    ads[currentAdIndex]();
    observer.observe(adSlot);
    });

    var mutationObserver = new MutationObserver(function (mutations) {
    mutations.forEach(function (mutation) {
    if (mutation.type === “childList”) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    });
    });

    mutationObserver.observe(document.getElementById(“ad-slot”), { childList: true, subtree: true });

    Setelah mengalami serangan pernapasan, yang memerlukan oksigen dalam jumlah besar dan transfusi darah, Vatikan mengatakan kondisi Paus Fransiskus telah stabil, namun saat itu dia masih dalam kondisi kritis.

    Kondisi Stabil

    Foto: Paus Fransiskus (AFP/TIZIANA FABI)

    Vatikan mengungkap kondisi Paus Fransiskus yang tengah menjalani perawatan akibat pneumonia. Kondisi Paus Fransiskus kini makin membaik dan terlihat perbaikan secara bertahap.

    Vatikan menyebut Paus dapat melewati malam yang tenang di rumah sakit. Paus Fransiskus disebut melewati pengobatan pneumonia dengan baik.

    “Malam itu tenang, Paus sedang beristirahat”, kata Vatikan dalam update terbarunya, yang telah berada di ruang khusus kepausan di rumah sakit Gemelli di Roma sejak 14 Februari.

    Pimpinan Gereja Katolik itu telah menderita beberapa krisis pernapasan sejak dirawat, tetapi tidak mengalaminya selama beberapa hari ini. Vatikan menggambarkan kondisinya sebagai “stabil”.

    Paus Fransiskus disebut merespons pengobatan dengan baik dan telah melihat “perbaikan bertahap dan sedikit demi sedikit”.

    Meskipun Fransiskus tidak demam, dokternya ingin melihat hasil positif yang sama “dalam beberapa hari mendatang” sebelum memberikan prognosis, kata buletin medis malam.

    Paus Fransiskus telah menderita serangkaian masalah kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari operasi usus besar pada tahun 2021 hingga operasi hernia pada tahun 2023, tetapi ini adalah rawat inap terlama dan terberat selama masa kepausannya.

    Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia ini sebelumnya pernah muncul di balkon untuk doa Angelus mingguannya pada hari Minggu.

    Namun, ia telah melewatkan tiga doa terakhir dan akan melewatkan doa Angelus keempatnya pada hari Minggu ini. Kantor pers Vatikan mengatakan pada hari Sabtu bahwa Angelus akan disampaikan “dengan cara yang sama” seperti pada minggu-minggu sebelumnya, ketika doa tersebut diterbitkan sebagai surat pada siang hari.

    Halaman 2 dari 2

    (ygs/lir)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Paus Fransiskus Membaik, Vatikan Jelaskan Kondisi Terkininya

    Paus Fransiskus Membaik, Vatikan Jelaskan Kondisi Terkininya

    Jakarta

    Vatikan mengungkap kondisi Paus Fransiskus yang tengah menjalani perawatan akibat pneumonia. Kondisi Paus Fransiskus kini makin membaik dan terlihat perbaikan secara bertahap.

    Vatikan menyebut Paus dapat melewati malam yang tenang di rumah sakit. Paus Fransiskus disebut melewati pengobatan pneumonia dengan baik.

    “Malam itu tenang, Paus sedang beristirahat”, kata Vatikan dalam update terbarunya, yang telah berada di ruang khusus kepausan di rumah sakit Gemelli di Roma sejak 14 Februari.

    Pimpinan Gereja Katolik itu telah menderita beberapa krisis pernapasan sejak dirawat, tetapi tidak mengalaminya selama beberapa hari ini. Vatikan menggambarkan kondisinya sebagai “stabil”.

    Paus Fransiskus disebut merespons pengobatan dengan baik dan telah melihat “perbaikan bertahap dan sedikit demi sedikit”.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {

    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    adSlot.innerHTML = “;

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’)
    .addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”;
    ads[currentAdIndex]();
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function (entries) {
    entries.forEach(function (entry) {
    if (entry.intersectionRatio > 0.1) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    } else {
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.1 });

    function checkVisibility() {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    } else {
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    }

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function () {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) {
    console.error(“❌ Elemen #ad-slot tidak ditemukan!”);
    return;
    }
    ads[currentAdIndex]();
    observer.observe(adSlot);
    });

    var mutationObserver = new MutationObserver(function (mutations) {
    mutations.forEach(function (mutation) {
    if (mutation.type === “childList”) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    });
    });

    mutationObserver.observe(document.getElementById(“ad-slot”), { childList: true, subtree: true });

    Meskipun Fransiskus tidak demam, dokternya ingin melihat hasil positif yang sama “dalam beberapa hari mendatang” sebelum memberikan prognosis, kata buletin medis malam.

    Paus Fransiskus telah menderita serangkaian masalah kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari operasi usus besar pada tahun 2021 hingga operasi hernia pada tahun 2023, tetapi ini adalah rawat inap terlama dan terberat selama masa kepausannya.

    Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia ini sebelumnya pernah muncul di balkon untuk doa Angelus mingguannya pada hari Minggu.

    Namun, ia telah melewatkan tiga doa terakhir dan akan melewatkan doa Angelus keempatnya pada hari Minggu ini. Kantor pers Vatikan mengatakan pada hari Sabtu bahwa Angelus akan disampaikan “dengan cara yang sama” seperti pada minggu-minggu sebelumnya, ketika doa tersebut diterbitkan sebagai surat pada siang hari.

  • Kabar dari Vatikan soal Kondisi Kesehatan Paus Fransiskus Membaik

    Paus Fransiskus Masuk Pekan Ke-4 Dirawat di RS, Dokter Ungkap Kondisinya

    Jakarta

    Paus Fransiskus memasuki minggu keempat dirawat intensif di rumah sakit karena pneumonia bilateral. Kondisinya disebut berangsur membaik menurut pengumuman Vatikan pada Sabtu (8/3/2025).

    Paus Fransiskus yang berusia 88 tahun berada di rumah sakit Gemelli di Roma selama lebih dari tiga minggu dengan infeksi pernapasan parah, yang memerlukan perawatan lebih lanjut.

    “Kondisi klinis Bapa Suci dalam beberapa hari terakhir tetap stabil dan menunjukkan respons yang baik terhadap perawatan,” kata Vatikan.

    Paus, katanya, terus tidak mengalami demam dan tes darahnya tetap stabil.

    Meskipun para dokter telah melihat perbaikan bertahap dalam kondisi keseluruhan Paus, mereka berhati-hati untuk memastikan prognosis dan tetap waspada pada kondisinya beberapa hari ke depan.

    Paus masih menerima bantuan oksigen untuk membantu pernapasannya, kata kantor pers Vatikan. Pada siang hari, ia menggunakan selang oksigen kecil di bawah hidungnya. Pada malam hari, ia telah menggunakan ventilasi mekanis non-invasif saat tidur.

    Paus Fransiskus telah beberapa kali jatuh sakit selama dua tahun terakhir dan rentan pada infeksi paru-paru karena ia mengalami radang selaput dada saat masih muda dan menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya.

    Pneumonia ganda adalah infeksi serius pada kedua paru-paru yang dapat menyebabkan peradangan serta jaringan parut, sehingga sulit bernapas.

    Paus Fransiskus tidak terlihat di depan publik sejak masuk rumah sakit, ini menjadi momen terlama sejak ia memulai masa kepausannya hampir 12 tahun yang lalu.

    Dokter Paus belum mengatakan berapa lama perawatannya akan berlangsung. Ia akan melewatkan doa mingguan untuk minggu keempat berturut-turut pada hari Minggu, kata Vatikan.

    Dokter yang tidak terlibat dalam perawatan Paus Fransiskus mengatakan Paus kemungkinan akan menghadapi jalan yang panjang dan penuh kesulitan untuk pulih, mengingat usianya dan kondisi medis lainnya yang sudah berlangsung lama.

    (kna/kna)

  • Paus Fransiskus Kirim Pesan Audio Pertama Sejak Dirawat, Suara Lemasnya Disorot

    Paus Fransiskus Kirim Pesan Audio Pertama Sejak Dirawat, Suara Lemasnya Disorot

    Jakarta

    Dalam kondisi lemas dan suara napas yang tampak terbatas, Paus Fransiskus mengucapkan terima kasih atas doa yang dipanjatkan untuk kesembuhannya. Pesan tersebut dibagikan dalam audio yang disiarkan pada Kamis (6/5/2025).

    Itu adalah kali pertama Paus kembali menyampaikan pernyataan kepada publik pasca dirawat hampir tiga minggu lalu karena pneumonia bilateral. Paus tampak masih dalam kondisi lemah.

    Hal ini dapat dikenali melalui napasnya yang terengah-engah dalam pesan audio dengan bahasa aslinya, Spanyol, saat berbaring di rumah sakit. Pesan tersebut disiarkan kepada umat di Lapangan Santo Petrus yang telah berkumpul untuk pembacaan doa rosario setiap malam.

    “Saya berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas doa-doa Anda untuk kesehatan saya dari lapangan, saya menemani Anda dari sini,” katanya, dikutip dari AP News, Jumat (7/2/2025).

    “Semoga Tuhan memberkati Anda. Terima kasih.”

    Bagi siapa pun yang terbiasa mendengar suara Fransiskus, yang seringkali begitu lembut hingga terdengar seperti bisikan, audio itu merupakan pukulan emosional yang menyadarkan betapa sakitnya dia.

    Paus berusia 88 tahun itu berjuang dengan penyakit paru-paru kronis, ia juga pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya saat masih muda.

    Vatikan telah memberikan informasi terbaru dua kali sehari tentang kondisi medis Fransiskus, tetapi tidak mendistribusikan foto atau videonya sejak pagi hari tanggal 14 Februari, ketika ia mengadakan beberapa audiensi di Vatikan sebelum dirawat di rumah sakit Gemelli di Roma karena bronkitis.

    Infeksi tersebut berkembang menjadi infeksi saluran pernapasan yang kompleks dan pneumonia bilateral yang telah membuat Fransiskus absen selama periode terlama dari 12 tahun masa kepausannya dan menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kepausannya.

    (naf/naf)

  • Paus Fransiskus Mulai Membaik, Dirawat Hampir 3 Pekan di RS Akibat Pneumonia

    Paus Fransiskus Mulai Membaik, Dirawat Hampir 3 Pekan di RS Akibat Pneumonia

    Jakarta

    Vatikan mengabarkan kondisi kesehatan Paus Fransiskus setelah sebelumnya mengalami dua kali episode gagal napas. Saat ini Paus Fransiskus disebut stabil dibandingkan beberapa hari yang lalu.

    “Dia tidak mengalami episode insufisiensi pernapasan hari ini. Paus telah melanjutkan fisioterapi pernapasan dan motorik dengan hasil yang bermanfaat. Parameter hemodinamik dan hasil tes darah tetap stabil,” tulis Vatikan dikutip dari Vatikan News, Jumat (7/3/2025).

    Paus, 88, juga tidak mengalami demam. Melihat kondisi klinisnya yang stabil, Vatikan menyebut kabar kesehatan Paus Fransiskus akan dikeluarkan lagi Sabtu mendatang.

    “Hari ini, Bapa Suci melakukan sejumlah kegiatan kerja baik di pagi maupun sore hari, diselingi dengan waktu istirahat dan doa,” tulis Vatikan.

    Paus Fransiskus juga sempat menyampaikan terima kasih kepada orang-orang atas doa mereka untuk kesembuhannya dalam pesan audio luar biasa yang disiarkan pada hari Kamis (6/3).

    Suara Fransiskus yang lemah, dapat dikenali melalui napasnya yang terengah-engah dan dalam bahasa aslinya, Spanyol, direkam pada hari Kamis dari rumah sakit dan disiarkan kepada umat beriman di Lapangan Santo Petrus yang telah berkumpul untuk pembacaan doa rosario setiap malam.

    “Saya berterima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam atas doa-doa Anda untuk kesehatan saya dari lapangan, saya menemani Anda dari sini. Semoga Tuhan memberkati Anda dan Perawan Maria melindungi Anda. Terima kasih,” kata dia.

    (kna/kna)

  • Bagaimana Tata Kelola Vatikan Saat Paus Fransiskus Sakit?

    Bagaimana Tata Kelola Vatikan Saat Paus Fransiskus Sakit?

    Jakarta

    Krisis kesehatan yang dihadapi Paus Fransiskus membuat jutaan umat Katolik di seluruh dunia cemas. Bagaimana Vatikan dan Gereja Katolik berjalan ketika pemimpin tertinggi mereka sakit?

    Sejak 14 Februari 2025, Paus Fransiskus yang kini berusia 88 tahun menjalani perawatan di Rumah Sakit Gemelli di Roma karena infeksi paru-paru serius di kedua paru-parunya alias pneumonia ganda.

    Dalam beberapa hari terakhir, Paus Fransiskus dilaporkan mengalami gagal napas akut yang memerlukan intervensi medis mendesak seperti ventilasi mekanis non-invasif untuk membantu pernapasannya.

    Menurut dokter, meskipun pemimpin tertinggi umat Katolik itu masih sadar, kondisinya tetap lemah karena menunjukkan gambaran yang ‘kompleks’.

    Di samping kekhawatiran tentang kesehatannya, kondisi Paus Fransiskus yang masih dirawat inap turut memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai peraturan Vatikan yang belum menemukan titik terang.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    adSlot.innerHTML = “;

    console.log(“🔍 Checking googletag:”, typeof googletag !== “undefined” ? “✅ Defined” : “❌ Undefined”);

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    console.log(“✅ Googletag ready. Displaying ad…”);
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    console.log(“⚠️ Googletag not loaded. Loading GPT script…”);
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    console.log(“✅ GPT script loaded!”);
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’).addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;

    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”; // Clear previous ad content
    ads[currentAdIndex](); // Load the appropriate ad

    console.log(“🔄 Ad refreshed:”, currentAdIndex === 0 ? “Creative B” : “Creative A”);
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function(entries) {
    entries.forEach(function(entry) {
    if (entry.isIntersecting) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    console.log(“👀 Iklan mulai terlihat, menunggu 30 detik…”);

    setTimeout(function () {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    console.log(“✅ Iklan terlihat 30 detik! Memulai refresh…”);
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    }
    }, viewTimeThreshold);
    }
    } else {
    console.log(“❌ Iklan keluar dari layar, reset timer.”);
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.5 });

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (adSlot) {
    ads[currentAdIndex](); // Load the first ad
    observer.observe(adSlot);
    }
    });

    Salah satu di antaranya adalah apa yang terjadi jika seorang Paus tidak dapat melanjutkan tugas kepemimpinannya, tetapi belum meninggal atau mengundurkan diri?

    Apa yang terjadi di Vatikan saat ini?

    Getty ImagesKambuhnya penyakit Paus Fransiskus mendorong ribuan umat beriman berkumpul di Roma untuk berdoa

    Paus merupakan pemimpin tertinggi Gereja Katolik dan Vatikan, sehingga kepemimpinannya sangat penting baik dalam dimensi keagamaan, administratif, maupun diplomatik.

    Karena Paus Fransiskus baru dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan tetap sadar, saat ini belum terlihat gangguan besar dalam aktivitas Takhta Suci Vatikan.

    “Departemen-departemen Vatikan telah memiliki jadwal yang tersusun. Tahun ini Yubileum dirayakan dan seluruh programnya telah direncanakan,” kata Filipe Domingues, direktur Pusat Sekuler di Roma dan spesialis urusan Vatikan, kepada BBC Mundo.

    BBC

    BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

    Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

    BBC

    Domingues menjelaskan bahwa para kepala setiap dikasteri (kumpulan lembaga administratif Vatikan yang membantu paus) dapat mengarahkan bidangnya masing-masing.

    “Kurang lebih seperti halnya menteri dalam suatu pemerintahan, sehingga Paus tidak perlu membuat setiap keputusan secara individual,” imbuhnya.

    Beberapa tugas khusus hanya bisa dilakukan Paus, seperti pengangkatan uskup, pengesahan kanonisasi santo-santa baru, dan pesan-pesan beliau kepada umat beriman pada hari Rabu atau Minggu.

    “Pesan-pesan ini tetap keluar, tetapi secara terbatas. Ketika beliau dapat menyetujuinya, pesan-pesan tersebut diterbitkan. Jika beliau tidak bisa, maka pesan-pesan tersebut memerlukan waktu lebih lama untuk diterbitkan,” tambah Domingues.

    Getty ImagesPietro Parolin adalah Sekretaris Negara Vatikan yang bertanggung jawab atas diplomasi dan urusan politik Takhta Suci.

    Ketika Paus tidak dapat menjalankan fungsinya secara langsung, administrasi Gereja Katolik berada di tangan Kuria Roma, badan pemerintahan gerejawi.

    Tanggung jawab ini khususnya terletak di pundak Sekretaris Negara Vatikan yang saat ini dijabat Kardinal Pietro Parolin.

    “Semuanya akan tetap kurang lebih sama: setiap kardinal memiliki perannya sendiri di Vatikan dan sekretaris negara memainkan peran yang sangat penting dalam konteks ini,” ujar Domingues.

    Parolin mengawasi urusan diplomatik dan administratif dan bertindak seperti “perdana menteri” Vatikan.

    Namun, Domingues menekankan otoritas Sekretaris Negara Vatikan tidak menggantikan kewenangan Paus.

    “[Sekretaris Negara] tidak dapat membuat keputusan yang menjadi wewenang Paus, seperti pengangkatan uskup,” paparnya.

    “Saat Paus dalam kondisi tidak sadar, maka tidak akan ada pengangkatan baru. Kita harus menunggu karena tidak ada yang namanya ‘wakil paus’. Tetapi Sekretaris Negara Vatikan dapat terus menjalankan proyek-proyek yang telah dirancang dengan tetap mempertahankan prioritas Paus.”

    Baca juga:

    Adapun perayaan keagamaan dan acara gerejawi terus berlanjut.

    Misalnya, pada hari Minggu (02/03) lalu, Uskup Agung Rino Fisichella memimpin Misa Yubileum di Basilika Santo Petrus yang sedianya dipimpin Paus.

    Akan tetapi, sekalipun Takhta Suci memiliki mekanisme tertentu untuk tetap beroperasi jika pemimpinnya tidak hadir, terdapat kekurangan dalam sistem regulasinya.

    Jika kesehatan Paus memburuk dalam jangka waktu yang lebih lama, maka pada perjalanannya akan timbul kesulitan dalam tata kelola.

    Bagaimana regulasi Vatikan ketika Paus sakit?

    Ketika seorang Paus wafat atau mengundurkan diri, aturan suksesi Vatikan cukup jelas dan mapan.

    Di sisi lain, tidak ada protokol yang jelas untuk mendelegasikan kepemimpinan Gereja jika Paus tidak dapat menjalankan fungsinya secara penuh karena penyakit serius.

    Takhta Suci juga tidak memiliki mekanisme perwakilan sementara ketika Paus sakit atau tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya.

    Menurut Domingues, hal ini sebagian tidak lepas dari tradisi dan idiosinkrasi Gereja Katolik.

    “Ini bukan posisi sederhana. Ada pemahaman bahwa Paus adalah penerus Santo Petrus, seorang pemimpin Gereja. Ini bukanlah pekerjaan yang ditempati sementara kemudian ditinggalkan,” jelasnya.

    Getty ImagesMenurut doktrin Gereja Katolik, Paus adalah penerus Santo Petrus.

    Dia menambahkan bahwa “salah satu gelar Paus adalah ‘Vikaris Kristus’, yang berarti bahwa dia adalah perwakilan utama Kristus di Bumi; itulah mengapa pendekatan ‘jika sudah tidak baik, mari kita cari yang lain’ tidak sesuai dengan logika Gereja.”

    “Sikapnya lebih kepada: ‘Mari kita berdoa untuknya agar dia membaik atau melewati situasi ini dengan damai. Dan ketika waktunya tiba, kita akan melakukan apa yang harus kita lakukan,’” jelas pakar tersebut.

    Para pakar berpendapat bahwa hukum kanon, yang menyediakan prosedur terperinci untuk suksesi kepausan dalam hal kematian atau pengunduran diri, meninggalkan kekosongan hukum ketika Paus masih hidup tetapi tidak dapat menjalankan fungsinya secara penuh.

    Kanon 335 menyebutkan kemungkinan bahwa Takhta Suci “kosong atau sepenuhnya terhalang,” tetapi tidak mendefinisikan apa arti “sepenuhnya terhalang” atau menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti dalam skenario tersebut.

    Dalam kasus uskup, misalnya, Gereja memiliki aturan. Menurut Kanon 412, sebuah keuskupan dapat dianggap “terhambat” jika uskupnya tidak dapat menjalankan otoritasnya karena alasan sakit, pengasingan, atau keadaan lain apa pun, dan komando beralih ke tangan uskup pembantu atau vikaris jenderal.

    Namun, karena tidak ada ketentuan yang setara untuk Paus, pertanyaan tentang siapa yang harus mengambil alih perannya dalam kasus ketidakmampuan tetap terbuka.

    Surat Paus Fransiskus

    Secara teori, jika seorang Paus tidak dapat melanjutkan jabatannya karena alasan kesehatan, satu-satunya solusi adalah mengundurkan diri.

    Hal ini terjadi pada tahun 2013. Saat itu, Paus Benediktus XVI mengundurkan diri karena kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan dia untuk menjalankan tugasnya.

    Paus Fransiskus sadar betul akan kondisi kesehatannya. Pada tahun 2022, dia telah menulis surat pengunduran diri untuk digunakan dalam kasus ketidakmampuan medis.

    Namun, ada ketidakpastian mengenai bagaimana pengunduran diri ini akan dilakukan ketika, katakanlah, Paus Fransiskus berada dalam kondisi tidak sadar dan tidak menyatakan secara gamblang.

    Berdasarkan hukum kanon, pengunduran diri Paus harus “bebas dan nyata.”

    Getty ImagesPengunduran diri Paus Benediktus XVI merupakan yang pertama dalam kurun waktu hampir 600 tahun

    Paus Benediktus XVI, yang memimpin Vatikan dari tahun 2005, mengumumkan pengunduran dirinya kepada publik pada 2013.

    Namun, apabila Paus Fransiskus mengalami koma atau menderita demensia lanjut, muncul pertanyaan tentang siapa yang akan memutuskan validitas surat pengunduran dirinya.

    “Jika Paus menderita Alzheimer dan tidak lagi dapat membuat keputusan sendiri, seseorang dari Sekretariat Negara harus mempublikasikan surat tersebut dan menyajikan laporan medis,” kata Domingues.

    “Kita tidak mengetahui detail surat [Paus Fransiskus] tersebut. Tetapi semacam ketidakmampuan disebutkan. Saya kira pernyataan medis akan diperlukan untuk mengonfirmasi bahwa situasi tersebut akan berkepanjangan dan bahwa ia mungkin tidak akan dapat pulih,” tambahnya.

    Lalu apa yang terjadi apabila diputuskan bahwa surat pengunduran ini tidak valid?

    “Gereja akan terus berjalan hingga akhir masa kepausan saat Paus meninggal. Ini tidak ideal, tetapi pernah terjadi sebelumnya,” kata pakar tersebut.

    Baca juga:

    Sejarah mencatat Paulus VI sempat menulis surat dan menyiapkan dokumen agar pengunduran dirinya diterima jika ia sakit parah.

    Namun, surat ini tidak pernah digunakan. Paulus VI tetap menjabat dari tahun 1963 hingga wafatnya pada tahun 1978.

    Akankah ada reformasi aturan?

    Getty ImagesBerbagai kondisi kesehatan sudah dihadapi Paus Fransiskus sepanjang hidupnya, termasuk pengangkatan sebagian paru-parunya pada usia 21 tahun.

    Dengan tidak adanya regulasi yang jelas mengenai hal ini, beberapa spesialis hukum kanon telah mengusulkan reformasi aturan.

    Pada tahun 2021, sekelompok ahli menyarankan bahwa, ketika seorang Paus benar-benar tidak mampu menjalankan tugasnya, Kolegium Kardinal harus mengambil alih pengelolaan Gereja dan menunjuk komisi untuk secara berkala menilai keadaan kesehatan Paus.

    Usulan ini menyiratkan bahwa komite medis akan meninjau kesehatannya setiap enam bulan dan, jika ditentukan bahwa ia tidak dapat tetap menjabat, Kolegium Kardinal dapat mengaktifkan proses pemilihan penerus jabatan.

    Namun, sejauh ini Vatikan belum menerapkan ide-ide tersebut.

    Dengan kata lain, Gereja saat ini tidak memiliki mekanisme formal untuk mengatur kepemimpinan Vatikan ketika kondisi kesehatan Paus terus memburuk dalam jangka panjang.

    Ketika ditanya apakah ada perdebatan di dalam Vatikan untuk mereformasi hukum kanon ini, Filipe Domingues mengatakan “belum mendengar apa pun tentang itu.”

    “Saya rasa tidak ada rencana dalam hal itu, karena selalu ada kemungkinan pengunduran diri, dan itu masih menjadi pilihan,” katanya.

    “Untuk saat ini, beliau sadar. Setiap hari mereka melaporkan bahwa beliau sadar dan mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan Gereja. Kita belum mencapai skenario lainnya.”

    Lihat juga Video ‘Rabu Abu, Umat Katolik di Filipina Doakan Paus Fransiskus’:

    (haf/haf)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Paus Fransiskus Kirim Pesan Audio Pertama Sejak Dirawat, Suara Lemasnya Disorot

    Kronologi Paus Fransiskus Dirawat Intensif di RS Hampir Tiga Pekan

    Jakarta

    Hampir tiga pekan Paus Fransiskus dirawat intensif di RS Gemeli, Roma, dengan kondisi pneumonia bilateral. Berdasarkan informasi terakhir Vatikan, status kesehatannya disebut membaik, meskipun masih dikawal ketat.

    Hingga Rabu (5/3/2025), Vatikan mengatakan Paus dalam kondisi stabil, tidak mengalami krisis kesehatan baru, tetapi masih dalam tahap pemulihan. Saat di RS, Paus kerap menyampaikan simpati kepada berbagai korban perang dan bencana melalui kantor pers Vatikan, ia menelepon pendeta di Gereja Keluarga Kudus di Gaza pada Rabu pagi.

    Berikut ini adalah kronologi perawatan Paus di rumah sakit selama hampir tiga minggu.

    14 Februari:

    Paus dirawat di Rumah Sakit Gemelli pada Hari Valentine untuk menerima perawatan bronkitis, kata demikian pengumuman Vatikan. Mereka juga mengatakan jadwalnya dikosongkan hingga 17 Februari.

    18 Februari:

    Paus didiagnosis mengidap pneumonia bilateral.

    “Tes laboratorium,rontgen dada, dan kondisi klinis Bapa Suci terus menunjukkan gambaran yang rumit,” demikian pernyataan Catholic News Agency.

    Paus juga menjalani CT-scan dan hasilnya menunjukkan ia memerlukan terapi obat tambahan.

    19 Februari:

    Perdana Menteri Italia mengunjungi Paus di rumah sakit. Menurut laporan, The Associated Press, PM Italia Giorgia Meloni berbincang dengan Paus Fransiskus selama 20 menit dan ia menyebutnya kondisi Paus cukup stabil dan responsif.

    “Kunjungannya… tampaknya ditujukan untuk mengirimkan pesan yang meyakinkan, terutama kepada orang Italia yang bahkan belum melihat foto Fransiskus sejak Jumat,” kata laporan AP.

    21 Februari:

    Dokter mengatakan Paus Fransiskus rapuh dan kondisinya belum sepenuhnya aman.

    Selama konferensi pers dengan wartawan di Rumah Sakit Gemelli, dokter yang menangani Paus Fransiskus mengatakan ia harus tetap di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut setidaknya selama seminggu ke depan, demikian catatan CNA.

    27 Februari:

    Vatikan mengatakan kesehatan Paus membaik. Vatikan memberitahu publik pada hari Kamis bahwa Paus Fransiskus dalam kondisi yang lebih baik tetapi membutuhkan lebih banyak waktu di rumah sakit untuk memantau stabilitasnya.

    28 Februari:

    CNA melaporkan Paus Fransiskus mengidap krisis bronkospasme yang terisolasi, mengakibatkan Paus mengalami muntah disertai inhalasi dan memburuknya kondisi pernapasan secara tiba-tiba.

    2 Maret:

    Paus Fransiskus menggunakan akun X-nya, @pontifex, untuk berterima kasih kepada orang-orang atas doa yang diberikan.

    “Saya ingin berterima kasih atas doa-doa Anda, yang mengalir kepada Tuhan dari hati begitu banyak umat beriman dari berbagai belahan dunia,” tulis Paus.

    “Saya merasakan semua kasih sayang dan kedekatan Anda dan, pada saat ini, saya merasa seolah-olah saya ‘didukung’ dan didukung oleh semua umat Tuhan.”

    3 Maret:

    Vatikan mengatakan dalam pernyataan lain bahwa Paus menjalani dua bronkoskopi, saat seorang dokter menggunakan alat untuk memeriksa paru-paru dan saluran pernapasan, setelah ia mengalami dua episode insufisiensi pernapasan akut.

    4 Maret:

    Kesehatan Paus stabil dan ia melanjutkan perawatan. Sebagai bagian dari perawatannya, ventilasi mekanis noninvasif akan dilanjutkan pada malam hari dan berlanjut hingga Rabu pagi.

    5 Maret:

    Paus dijadwalkan menyampaikan pidato Rabu Abu di Basilika Santa Sabina, Roma, tetapi saat ini masih di rumah sakit, pidatonya kemudian dibacakan oleh Kardinal Angelo De Donatis.

    Menurut Vatikan, Kardinal De Donatis berbicara spontan sebelum menyampaikan homili.

    “Kami merasa sangat bersatu dengannya saat ini, dan kami berterima kasih kepadanya atas persembahan doanya dan penderitaannya demi kebaikan seluruh Gereja dan seluruh dunia,” katanya di dalam Basilika.

    (naf/naf)

  • Kabar dari Vatikan soal Kondisi Kesehatan Paus Fransiskus Membaik

    Vatikan Ungkap Kabar Terkini Paus Fransiskus pasca Alami Gagal Pernapasan Akut

    Jakarta

    Kesehatan Paus Fransiskus saat ini dalam kondisi stabil. Kini ia harus bernapas dengan menggunakan oksigen tambahan setelah melewati masa krisisnya.

    “Tetapi akan kembali menggunakan masker ventilasi noninvasif pada malam hari,” tulis Vatikan, dikutip dari APNews.

    Berdasarkan kabar terakhir, Vatikan mengatakan Paus Fransiskus tidak mengalami episode gagal pernapasan lagi. Ia menghabiskan waktunya untuk berdoa, beristirahat, dan menjalani fisioterapi pernapasan untuk mengatasi pneumonia ganda yang diidapnya.

    Pria 88 tahun itu didiagnosis mengalami penyakit paru-paru kronis, dengan sebagian paru-parunya telah diangkat saat dia masih muda.

    Ia mengalami dua kali krisis pernapasan pada Senin (3/3) dan kondisinya sempat menurun.

    Dokter mengeluarkan lendir dalam jumlah banyak dari paru-parunya. Mereka memasangkannya masker ventilasi mekanik noninvasif (NIV) untuk membantunya bernapas dan tidur sepanjang malam.

    Namun, pada Selasa (4/3) pagi, masker itu diganti dengan aliran oksigen tambahan yang tinggi yang diberikan melalui hidung. Dokter berencana untuk kembali memakaikan masker saat Paus tidur pada malam harinya.

    Masker oksigen itu akan memompa oksigen ke paru-parunya melalui masker yang menutupi hidung dan mulutnya.

    Dokter mengatakan kondisi klinis Paus Fransiskus stabil dan prognosisnya masih belum pasti. Artinya, kesehatannya masih harus selalu dipantau.

    (sao/kna)

  • Paus Fransiskus Alami Serangan Pernapasan Akut, Seberapa Bahaya Penumpukan Lendir di Paru-paru? – Halaman all

    Paus Fransiskus Alami Serangan Pernapasan Akut, Seberapa Bahaya Penumpukan Lendir di Paru-paru? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pada Senin (3/3/2025), Paus Fransiskus mengalami serangan pernapasan akut, yang dipicu oleh penumpukan lendir di paru-parunya.  

    Dalam laporan terbaru dari Vatikan, Paus Fransiskus sedang berjuang untuk pulih dari pneumonia akibat serangan pernapasan tersebut.

    Paus Fransiskus, yang berusia 88 tahun, kini tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Gemelli, Roma, setelah mengalami serangan pernapasan yang cukup berat.

    Meski kondisi klinisnya kini stabil, ia masih terus mengenakan masker oksigen pada malam hari untuk membantu pernapasannya.

    Selama beberapa hari terakhir, Paus telah mengalami beberapa episode gagal napas, yang disebabkan oleh penumpukan lendir endobronkial dan bronkospasme.

    Pada Sabtu (22/2/2025), Paus mengalami krisis pernapasan yang cukup parah dan membuat kondisinya sangat kritis.

    Namun, pada Minggu (23/2/2025), kondisinya mulai membaik dan krisis pernapasan mereda.

    Pada Jumat (28/2/2025), Paus mengalami bronkospasme yang menyebabkan pernapasannya memburuk secara tiba-tiba.

    Terakhir, pada Senin (3/3/2025), Paus mengalami dua episode gagal napas akut.

    Dokter telah melakukan dua bronkoskopi untuk memeriksa dan menangani saluran pernapasan Paus.

    Bronkoskopi adalah prosedur medis di mana dokter menggunakan kamera kecil untuk memeriksa saluran udara paru-paru.

    Tujuannya untuk memastikan tidak ada penyumbatan atau masalah lainnya.

    Vatikan mengungkapkan meski Paus Fransiskus tidak mengalami demam dan tetap dalam keadaan sadar, prognosisnya masih belum pasti.

    Tim medis terus memantau kondisinya dengan cermat, karena krisis pernapasan berulang bisa sangat berbahaya bagi orang yang sudah berusia lanjut seperti Paus.

    Bahaya Penumpukan Lendir di Paru-paru

    Penumpukan lendir di paru-paru bisa menjadi masalah yang serius karena lendir berlebihan dapat menghalangi saluran pernapasan dan menyebabkan infeksi.

    Pada kondisi normal, lendir berfungsi untuk menangkap patogen atau partikel berbahaya, namun jika penumpukan terjadi, hal ini bisa mengganggu proses pernapasan yang sehat.

    Gejala awal penumpukan lendir termasuk batuk berdahak, napas mengi, dan dada yang terasa sesak.

    Jika tidak ditangani dengan tepat, penumpukan lendir dapat menyebabkan infeksi paru-paru atau bahkan kerusakan permanen pada jaringan paru.

    Selain itu, kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi lebih lanjut, seperti pneumonia atau gagal napas akut, yang bisa mengancam jiwa, seperti yang dialami oleh Paus Fransiskus.

    Penyakit yang sering dikaitkan dengan penumpukan lendir berlebih termasuk bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan pneumonia.

    Mengapa Penumpukan Lendir Itu Berbahaya?

    Penumpukan lendir yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan saluran pernapasan menjadi terhambat.

    Hal ini menyebabkan kesulitan bernapas dan, jika parah, dapat menyebabkan kegagalan pernapasan, di mana paru-paru tidak dapat mengalirkan cukup oksigen ke dalam darah, atau bahkan penumpukan karbon dioksida dalam tubuh.

    Gejala-gejalanya dapat berkembang seiring berjalannya waktu dan berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

    Tanda-tanda Penumpukan Lendir di Paru-paru

    Dikutip dari Medicine Net dan American Lung Association, penumpukan lendir di paru-paru dapat menunjukkan berbagai gejala yang perlu diwaspadai. Berikut adalah tanda-tanda yang paling umum terjadi:

    1. Batuk Berdahak

    Batuk adalah reaksi alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari lendir yang menumpuk.

    Jika lendir berwarna kuning atau hijau, itu bisa menjadi tanda adanya infeksi.

    2. Napas Mengi (Wheezing)

    Napas yang terdengar seperti bersiul atau mengi adalah tanda bahwa ada lendir yang menghalangi saluran udara atau membuatnya lebih sempit, menyulitkan proses pernapasan.

    3. Dada Sesak

    Ketika lendir menumpuk di paru-paru, hal itu dapat membuat dada terasa penuh atau sesak. Ini bisa menyebabkan perasaan tidak nyaman atau kesulitan bernapas.

    4. Kesulitan Bernapas

    Lendir yang berlebihan menghalangi aliran udara ke paru-paru, menyebabkan kesulitan bernapas atau merasa napas terhambat, terutama saat beraktivitas fisik.

    5. Kelelahan atau Sesak Napas

    Penumpukan lendir dapat menyebabkan tubuh lebih banyak bekerja untuk mendapatkan oksigen, yang bisa membuat Anda merasa lebih cepat lelah dan sulit bernapas.

    6. Perubahan Warna Dahak

    Dahak yang normal biasanya berwarna jernih atau putih. Jika dahak berubah menjadi kuning, hijau, atau bahkan bercampur darah, ini bisa menunjukkan adanya infeksi atau peradangan pada paru-paru.

    7. Demam (Kadang-kadang)

    Meskipun tidak selalu terjadi, penumpukan lendir yang disertai dengan infeksi bisa menyebabkan demam sebagai reaksi tubuh terhadap infeksi yang terjadi.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Kesehatan Paus Kembali Mengalami Kemunduran

    Kesehatan Paus Kembali Mengalami Kemunduran

    Jakarta

    Dunia Hari Ini edisi Selasa, 4 Maret 2025 kembali dengan laporan dari sejumlah negara dalam 24 jam terakhir.

    Berita utama kami hadirkan dari Vatikan.

    Kondisi kesehatan Paus Fransiskus

    Vatikan mengatakan Paus Fransiskus mengalami dua episode gangguan pernapasan akut, karena “akumulasi lendir endobronkial yang signifikan.”

    Untuk membantu pernapasannya, Paus harus kembali menggunakan “ventilator mekanis non-invasif.”

    Menurut pernyataan tersebut, Paus juga mengalami bronkospasme yang mirip dengan serangan asma.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    adSlot.innerHTML = “;

    console.log(“🔍 Checking googletag:”, typeof googletag !== “undefined” ? “✅ Defined” : “❌ Undefined”);

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    console.log(“✅ Googletag ready. Displaying ad…”);
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    console.log(“⚠️ Googletag not loaded. Loading GPT script…”);
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    console.log(“✅ GPT script loaded!”);
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’).addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;

    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”; // Clear previous ad content
    ads[currentAdIndex](); // Load the appropriate ad

    console.log(“🔄 Ad refreshed:”, currentAdIndex === 0 ? “Creative B” : “Creative A”);
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function(entries) {
    entries.forEach(function(entry) {
    if (entry.isIntersecting) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    console.log(“👀 Iklan mulai terlihat, menunggu 30 detik…”);

    setTimeout(function () {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    console.log(“✅ Iklan terlihat 30 detik! Memulai refresh…”);
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    }
    }, viewTimeThreshold);
    }
    } else {
    console.log(“❌ Iklan keluar dari layar, reset timer.”);
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.5 });

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (adSlot) {
    ads[currentAdIndex](); // Load the first ad
    observer.observe(adSlot);
    }
    });

    Dokter harus melakukan dua bronkoskopi untuk mengevaluasi saluran udaranya dan Vatikan mengatakan prognosis Paus tetap “terjaga”, yang berarti dia kondisi kesehatannya masih berisiko.

    Mobil menabrak kerumunan orang di Jerman

    Insiden mobil menabrak kerumunan terjadi di kota Mannheim, Jerman Barat, Senin kemarin, saat pawai karnaval untuk menyambut pekan puasa bagi umat nasrani dimulai.

    Pengemudi mobil ditangkap dan polisi mengatakan tidak ada ancaman lanjutan bagi publik.

    Seorang saksi mata mengatakan melihat orang-orang terkapar di tempat kejadian dan setidaknya dua orang sedang diresusitasi.

    Media Jerman melaporkan setidaknya 25 orang cedera dan tersangka yang ditahan adalah seorang pria berusia 40 tahun dari Jerman, namun identitasnya masih belum dibuka oleh polisi.

    Siklon tropis diprediksi menerjang Brisbane

    Badan Metereologi di Australia memprediksi Siklon Tropis Alfred akan menerjang pinggiran utara Brisbane, hingga melintasi pantai selatan Sunshine Coast.

    Siklon tropis ini akan membawa curah hujan dari 200 hingga 400 milimeter.

    “Namun, kami bahkan dapat melihat curah hujan terisolasi sebesar 500 hingga 700 milimeter, terutama di wilayah dari Gold Coast hingga ke Northern Rivers,” kata ahli meteorologi Jonathan How.

    Angin kencang diperkirakan akan terjadi dalam 24 hingga 28 jam ke depan.

    Drone diduga milik China terlihat di Papua Nugini

    Menteri Luar Negeri Papua Nugini Justin Tkatchenko mengaku tidak diberi tahu tentang drone yang terbang ke wilayah udara negaranya.

    Drone tersebut dilihat oleh warga setempat saat terbang di atas Desa Mabaduan di Papua Nugini.

    Peristiwa itu terjadi hampir di waktu yang sama ketika Jiangkai milik Angkatan Laut China, Hengyang, melewati Selat Torres pada tanggal 11 Februari.

    Dr Malcolm Davis, analis senior strategi dan kapabilitas pertahanan di Australian Strategic Policy Institute, mengatakan sulit untuk mengidentifikasi pesawat nirawak tersebut dari rekaman video.

    “Dugaan saya, ini adalah pesawat nirawak pengintai yang diluncurkan dari salah satu kapal angkatan laut [China] untuk mengumpulkan informasi intelijen tentang aktivitas di sekitar Gugus Tugas China,” kata Dr Davis.

    [MAP]