Tag: Paus Fransiskus

  • Vatikan Rilis Foto Jenazah Paus Fransiskus dalam Peti Terbuka

    Vatikan Rilis Foto Jenazah Paus Fransiskus dalam Peti Terbuka

    GELORA.CO – Sehari setelah wafatnya Paus Fransiskus, para kardinal dari berbagai negara berkumpul di Vatikan, Selasa, 22 April 2025 pukul 09.00 waktu setempat.

    Selain membahas pemakaman, para kardinal juga akan memantau operasional Gereja selama masa sede vacante, yaitu masa kekosongan kepemimpinan Gereja.

    Dalam masa ini, Takhta Suci tidak memiliki Paus aktif sehingga keputusan-keputusan besar ditangguhkan hingga terpilihnya Paus baru. Dewan Kardinal akan mengelola urusan dasar Gereja dengan kewenangan terbatas.

    Jenazah Paus Disemayamkan di Santa Marta

    Saat ini, jenazah Paus Fransiskus disemayamkan di kediaman pribadinya, Rumah Santa Marta, dalam wilayah Vatikan, di mana para staf dan pejabat tinggi Takhta Suci memberikan penghormatan terakhir.

    Sementara itu, sebagai bagian dari prosedur resmi Vatikan, kediaman Santa Marta telah disegel. Penyegelan ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan memastikan seluruh dokumen penting tetap terjaga.

    Dalam beberapa hari ke depan, jenazah Paus Fransiskus dijadwalkan akan dipindahkan ke Basilika Santo Petrus. Hal ini untuk memberi kesempatan umat Katolik dari berbagai belahan dunia memberikan penghormatan.

    Dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore

    Sementara itu, dilansir dari Antara, pemakaman Paus Fransiskus akan dilaksanakan pada Sabtu 26 April 2025. Menurut pengumuman resmi Vatikan, prosesi pemakaman digelar pukul 10.00 waktu setempat atau sekitar pukul 15.00 WIB.

    Keputusan itu diambil dalam pertemuan para kardinal dari berbagai negara pada Selasa pagi. Sementara konklaf untuk memilih Paus baru baru akan dimulai pada 5 Mei 2025 mendatang.

    Berbeda dari para Paus sebelumnya yang dimakamkan di Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus akan dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore sesuai isi surat wasiatnya.

    Basilika ini dikenal sebagai salah satu tempat favorit Paus Fransiskus untuk berdoa, terutama sebelum dan setelah melakukan perjalanan apostolik ke berbagai negara.

    Foto dan Video Jenazah Paus Fransiskus

    Sementara itu Vatikan juga merilis foto dan video jenazah Paus Fransiskus terbaring di dalam peti jenazah yang dibuka penutupnya. Ini merupakan foto jenazah Paus Fransiskus yang pertama dirilis ke publik sejak Vatikan mengumumkan wafatnya Bapa Suci.

    Dalam foto itu, jenazah Paus Fransiskus mengenakan jubah berwarna merah dengan topi paus terpasang di kepalanya. Terlihat juga sebuah rosario di tangannya.

    Foto itu disebut diambil di dalam chapel Casa Santa Marta, yang menjadi kediaman resmi Fransiskus semasa hidup di Vatikan.

    Doa untuk Sang Peziarah Harapan

    Dalam misa doa bersama yang digelar di Lapangan Santo Petrus, Kardinal Mauro Gambetti menyampaikan penghormatan dan rasa syukur atas karya besar Paus Fransiskus.

    “Ia adalah peziarah harapan yang menginspirasi kita semua,” ucap Kardinal Gambetti. “Kami bersyukur atas karunia Tuhan yang luar biasa bagi Gereja melalui hidup dan karya Paus Fransiskus.”

    Umat Katolik di seluruh dunia menyampaikan rasa duka melalui media sosial dan misa khusus di masing-masing keuskupan. Doa untuk Paus Fransiskus terus mengalir sebagai tanda cinta dan penghormatan.

    Pemilihan Paus Baru

    Setelah prosesi pemakaman selesai, Vatikan nantinya akan memasuki tahap penting berikutnya, yaitu pemilihan Paus baru melalui Konklaf. Proses ini dijadwalkan dimulai pada 6 Mei 2025.

    Konklaf merupakan pertemuan tertutup yang dihadiri para kardinal berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak suara. Tahun ini terdapat 135 kardinal yang akan ikut dalam pemilihan.

    Pemungutan suara sendiri akan berlangsung di Kapel Sistina, salah satu ruangan paling suci dan bersejarah di Vatikan. Selama Konklaf, para kardinal akan dikarantina, dan tidak ada media.***

  • Proses, Aturan, dan Tokoh Penting dalam Konklaf Kepausan

    Proses, Aturan, dan Tokoh Penting dalam Konklaf Kepausan

    PIKIRAN RAKYAT – Kematian Paus Fransiskus pada usia 88 tahun memicu dimulainya salah satu proses paling sakral dan penuh tradisi dalam Gereja Katolik: konklaf kepausan. Proses ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga penentu arah Gereja Katolik dan pengaruhnya terhadap 1,3 miliar umat di seluruh dunia.

    Mengapa Pemilihan Paus Penting?

    Paus bukan hanya pemimpin tertinggi spiritual umat Katolik, tetapi juga pemimpin politik Vatikan, tokoh penting dalam diplomasi internasional, serta suara moral dalam isu-isu global seperti kemiskinan, perang, imigrasi, dan perubahan iklim.

    Dengan wafatnya Paus Fransiskus, yang dikenal karena gaya hidup sederhana dan pendekatannya yang progresif, Gereja dihadapkan pada pertanyaan penting: siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya, dan ke arah mana Gereja akan melangkah?

    Apa Itu Konklaf?

    Konklaf adalah pertemuan rahasia Dewan Kardinal di Kapel Sistina untuk memilih Paus baru. Kata “konklaf” berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti “dengan kunci”, menandakan isolasi total selama proses berlangsung.

    Seluruh proses diselimuti kerahasiaan ketat. Para kardinal yang mengikuti konklaf dilarang membawa alat komunikasi, dan siapa pun yang membocorkan informasi dari dalam konklaf menghadapi ekskomunikasi otomatis, sebagaimana ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI.

    Siapa yang Memilih Paus?

    Hanya kardinal di bawah usia 80 tahun yang berhak memilih. Saat ini, menurut data terbaru dari Vatikan, terdapat 135 kardinal pemilih yang memenuhi syarat. Meskipun dalam sejarah siapa pun yang dibaptis sebagai pria Katolik Roma dapat dipilih sebagai Paus, sejak 1378 hanya kardinal yang terpilih.

    Kardinal yang telah berusia lebih dari 80 tahun masih bisa menghadiri pertemuan pra-konklaf yang dikenal sebagai jemaat umum, namun tidak ikut memilih. Dalam pertemuan inilah, pada tahun 2013, Kardinal Jorge Mario Bergoglio memberikan pidato bersejarah tentang Gereja yang harus hadir di “pinggiran eksistensial,” yang membantu mendorongnya menjadi Paus Fransiskus.

    Langkah-Langkah Pemilihan Paus

    1. Sede Vacante dan Peran Camerlengo

    Setelah Paus meninggal, periode “sede vacante” atau “tahta kosong” dimulai. Camerlengo, saat ini dijabat Kardinal Kevin Farrell, bertugas memverifikasi kematian dan menyegel apartemen kepausan. Ia juga mengatur administrasi Takhta Suci hingga Paus baru terpilih.

    2. Pemakaman dan Masa Berkabung

    Pemakaman dilakukan antara hari ke-4 hingga ke-6 setelah wafatnya Paus. Setelah itu, Gereja memasuki masa berkabung sembilan hari yang disebut novendiali.

    3. Pemanggilan Konklaf

    Dekan Dewan Kardinal, kini dijabat Kardinal Giovanni Battista Re, memimpin pemanggilan kardinal ke Roma. Konklaf dimulai 15 hingga 20 hari setelah wafatnya Paus, tergantung kesiapan para kardinal.

    4. Pemungutan Suara

    Para kardinal berkumpul di Kapel Sistina dan memulai proses pemungutan suara secara tertutup. Surat suara bertuliskan “Eligo in Summum Pontificem” (“Saya memilih sebagai paus tertinggi”) dilipat, diserahkan secara sakral, dan dihitung oleh tiga pengawas.

    Jika tidak ada kandidat yang mendapat dua pertiga suara, surat suara ditusuk dengan jarum dan benang lalu dibakar. Asap hitam keluar dari cerobong sebagai tanda belum terpilihnya Paus. Jika suara cukup, surat dibakar dengan bahan kimia yang menghasilkan asap putih—tanda dunia bahwa Paus baru telah terpilih.

    “Saya memanggil sebagai saksi saya Kristus Tuhan… bahwa suara saya diberikan kepada Dia yang saya pikir harus dipilih di hadapan Allah,” ucap seorang kardinal saat memberikan suara.

    Paus Benediktus XVI telah mempertegas bahwa dua pertiga suara harus dipenuhi, tanpa pengecualian, untuk menghindari kompromi politik dan tekanan dari mayoritas sederhana.

    5. Habemus Papam

    Setelah pemilihan berhasil, Paus baru memilih nama kepausannya dan tampil di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyampaikan berkat pertama dengan pengumuman: “Habemus Papam!” (“Kita memiliki Paus!”)

    Lonceng gereja dibunyikan untuk memperkuat sinyal kepada dunia bahwa pemimpin Gereja Katolik yang baru telah lahir.

    Kandidat Potensial

    Beberapa nama yang disebut sebagai kandidat kuat antara lain:

    Kardinal Pietro Parolin (Italia, 70 tahun): Sekretaris Negara Vatikan dan diplomat senior. Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina, 67 tahun): Dikenal progresif dan dekat dengan umat akar rumput. Kardinal Matteo Zuppi (Italia, 69 tahun): Anak didik Paus Fransiskus, aktif dalam diplomasi perdamaian. Kardinal Marc Ouellet (Kanada, 80 tahun) dan Kardinal Christoph Schoenborn (Austria, 80 tahun): Kedua tokoh ini memiliki daya tarik kuat di kalangan konservatif, namun usia mereka bisa menjadi pertimbangan. Di Mana Paus Baru Akan Tinggal?

    Secara tradisional, Paus tinggal di Istana Apostolik Vatikan. Namun, Paus Fransiskus pernah memilih hidup di penginapan sederhana Casa Santa Marta. Pilihan tempat tinggal Paus baru akan mencerminkan karakternya.

    Apakah Paus Digaji?

    Tidak. Paus tidak menerima gaji pribadi. Semua kebutuhannya—dari tempat tinggal hingga perjalanan—ditanggung oleh Vatikan.

    Simbolisme yang Penuh Arti

    Dari surat suara yang ditusuk jarum hingga asap putih dari cerobong Kapel Sistina, seluruh proses pemilihan Paus sarat simbolisme, disiplin, dan spiritualitas. Dalam dunia yang semakin sekuler, konklaf kepausan tetap menjadi ritual yang penuh makna dan menegaskan kontinuitas Gereja Katolik sebagai institusi yang telah berdiri selama lebih dari dua milenium.

    “Habemus Papam!” bukan sekadar deklarasi. Ia adalah momen ketika dunia menatap langit Vatikan, menunggu arah baru yang akan ditempuh oleh salah satu institusi keagamaan tertua dan paling berpengaruh di muka bumi.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Italia Tetapkan Lima Hari Berkabung Nasional untuk Mengenang Paus Fransiskus – Halaman all

    Italia Tetapkan Lima Hari Berkabung Nasional untuk Mengenang Paus Fransiskus – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Italia resmi mengumumkan lima hari berkabung nasional untuk mengenang Paus Fransiskus.

    Pemimpin Tertinggi Vatikan itu wafat pada Senin Paskah (21/4/2025) pada usia 88 tahun.

    Masa berkabung dimulai Selasa (22/4/2025) dan akan berlangsung hingga Sabtu (26/4/2025).

    Paus Fransiskus kemudian dimakamkan di Basilika Santo Petrus, Roma.

    Keputusan ini diumumkan setelah pertemuan Dewan Menteri yang dipimpin Perdana Menteri Giorgia Meloni pada Selasa (22/4/2025) pagi, sebagaimana dilaporkan Wanted in Rome dan ANSA.

    Fabio Ciciliano, kepala departemen perlindungan sipil Italia, ditunjuk sebagai komisaris khusus untuk mengatur prosesi pemakaman.

    Ia diperkirakan akan menarik peziarah dan pemimpin dunia dari berbagai negara.

    Dalam masa berkabung ini, Italia mewajibkan pengibaran bendera setengah tiang dan mengheningkan cipta selama satu menit di sekolah.

    Pejabat pemerintah diminta menangguhkan agenda resmi dan hanya menghadiri kegiatan amal.

    Meski hari berkabung itu bukan hari libur resmi, perusahaan dan sekolah diperbolehkan tutup atas kebijakan masing-masing.

    Kantor-kantor publik tetap beroperasi seperti biasa.

    Menteri Perlindungan Sipil Nello Musumeci menegaskan bahwa perayaan Hari Pembebasan Italia (Festa della Liberazione) yang jatuh pada Jumat (25/4/2025), tetap dapat dilangsungkan dalam suasana yang tenang dan penuh kesadaran.

    Italia terakhir kali menetapkan hari berkabung nasional untuk seorang Paus pada 2005, saat wafatnya Yohanes Paulus II.

    Hari berkabung nasional juga pernah diberlakukan untuk bencana seperti gempa L’Aquila (2009), tragedi Jembatan Morandi (2018), dan wafatnya Silvio Berlusconi (2023), menurut BBC.

    Sesuai dengan wasiatnya, ia meminta dimakamkan hanya dalam satu peti kayu sederhana berlapis seng, bukan tiga peti tradisional.

    Jenazah juga tidak akan disemayamkan di atas panggung tinggi seperti biasa, meskipun publik tetap diberi kesempatan untuk memberi penghormatan.

    Presiden AS Donald Trump dan Presiden Argentina Javier Milei dijadwalkan hadir dalam upacara tersebut.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Isi Surat Wasiat Spiritual Paus Fransiskus, Keinginan dan Instruksi Terakhir untuk Pemakamannya

    Isi Surat Wasiat Spiritual Paus Fransiskus, Keinginan dan Instruksi Terakhir untuk Pemakamannya

    PIKIRAN RAKYAT – Paus Fransiskus meninggal dunia karena stroke yang diikuti koma dan gagal jantung, Vatikan mengumumkan pada Senin, 21 April 2025.

    Menurut Vatikan, kematian dikonfirmasi lewat thanatografi elektrokardiografi, mengacu pada sertifikasi resmi yang dikeluarkan Arcangeli pada Direktorat Kesehatan dan Kebersihan Negara Kota Vatikan.

    “Penyebab kematian Paus Fransiskus telah diidentifikasi sebagai stroke, diikuti koma dan kolaps kardiosirkulasi yang tidak dapat disembuhkan,” kata dokter Vatikan Andrea Arcangeli dalam surat kematiannya seperti dikutip dari Antara.

    Surat Wasiat Spiritual Paus

    Vatikan menerbitkan surat wasiat spiritual Paus yang berisi keinginan dan instruksi terakhirnya untuk pemakamannya tertanggal 29 Juni 2022.

    “Saya meminta agar jenazah saya beristirahat – menunggu hari Kebangkitan – di Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore, tempat Paus berkata setelah selalu berdoa di awal dan akhir setiap Perjalanan Apostolik,” kata surat itu.

    Paus Fransiskus juga menulis bahwa makamnya harus berada di dalam tanah dan sederhana tanpa ornamen khusus.

    Paus Fransiskus Sakit Apa?

    Sebagai informasi, Vatikan mengumumkan kematian Paus Fransiskus di usia 88 tahun pada Senin, 21 April 2025.

    Pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut menderita berbagai penyakit selama 12 tahun masa kepausannya.

    Ia diketahui mengalami komplikasi parah dalam beberapa minggu terakhir usai menderita pneumonia ganda.

    Kondisi tersebut membuat Paus Fransiskus dirawat selama lebih dari 1 bulan di sebuah rumah sakit di Roma.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Saat Kesederhanaan Paus Fransiskus Dibawa Sampai Akhir Hayat

    Saat Kesederhanaan Paus Fransiskus Dibawa Sampai Akhir Hayat

    Jakarta

    Kesederhanaan Paus Fransiskus selama memimpin Gereja Katolik sedunia terbawa hingga akhir hayatnya. Paus Fransiskus ingin peti jenazah dan makamnya sederhana saja, tanpa hiasan.

    Sebagaimana diketahui, meninggalnya Paus Fransiskus pada usia 88 tahun diumumkan oleh Kardinal Kevin Farrell, yang merupakan Camerlengo Vatikan — kepala rumah tangga kepausan Vatikan — dalam pernyataan video via saluran televisi Vatikan. Farrell menyebut Paus Fransiskus “telah pulang ke rumah Bapa” pada Senin (21/4) pagi, sekitar pukul 07.35 waktu setempat.

    Kepergian Fransiskus yang menjadi Paus pertama dari Amerika Latin pada tahun 2013 lalu, dan merupakan salah satu Paus tertua dalam sejarah Gereja Katolik Roma, terjadi beberapa pekan setelah dia keluar dari rumah sakit di Roma usai berjuang melawan pneumonia yang mengancam nyawa di kedua paru-parunya.

    Berpulangnya sosok pemimpin umat Katolik sedunia ini mendorong dimulainya prosedur untuk memilih pemimpin baru. Proses bernama “Papal Interregnum” — periode antara meninggalnya seorang Paus dan terpilihnya Paus lainnya — resmi dimulai ketika Paus Fransiskus meninggal.

    Semua kardinal Gereja Katolik dari seluruh dunia yang berusia di bawah 80 tahun akan berkumpul di Vatikan untuk memilih pengganti Fransiskus.

    Biasanya diperlukan waktu antara dua minggu hingga tiga minggu untuk memilih seorang Paus yang baru, setelah pendahulunya meninggal. Waktu pemilihan bisa sedikit lebih lama jika para kardinal kesulitan untuk menyetujui satu kandidat yang sama.

    Selain itu, diketahui bahwa Paus Fransiskus mewasiatkan agar dirinya dimakamkan secara sederhana saja.

    Bagaimana isi wasiatnya? Baca halaman selanjutnya.

    Paus Ingin Peti Jenazahnya dari Kayu Berlapis Seng

    Foto: Foto yang dirilis Vatikan menunjukkan jenazah Paus Fransiskus terbaring dengan mengenakan jubah merah di dalam peti jenazah yang dibuka penutupnya (REUTERS)

    Ritus resmi baru yang diterbitkan Vatikan pada November 2024 lalu, seperti dilansir Reuters, Senin (21/4/2025), mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus memutuskan untuk meninggalkan praktik yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk menguburkan para Paus yang meninggal.

    Sesuai tradisi, para Paus yang meninggal akan dimakamkan di dalam tiga peti jenazah yang saling terkait, yang terbuat dari kayu pohon cemara, pohon timah dan pohon ek.

    Menurut ritus resmi Vatikan itu, Paus Fransiskus meminta agar dirinya dimakamkan di dalam satu peti jenazah yang terbuat dari kayu sederhana berlapis seng.

    Disebutkan juga bahwa Paus Fransiskus tidak akan disemayamkan di atas panggung tinggi, atau catafalque, di Basilika Santo Petrus untuk dilihat para pelayat, seperti yang terjadi pada para paus sebelumnya.

    Para pelayat nantinya akan tetap dipersilakan untuk memberikan penghormatan terakhir, namun jenazah Paus Fransiskus akan dibiarkan berada di dalam peti, dengan bagian tutupnya dibuka.

    Paus Ingin Makam Tanpa Hiasan

    Foto: Potret Jenazah Paus Fransiskus Selama Ritual Pernyataan Kematian (via REUTERS/Simone Risoluti)

    Paus Fransiskus tidak hanya meminta untuk dimakamkan dengan peti kayu sederhana dan dimakamkan di luar Vatikan, Bapa Suci ini juga sempat mengutarakan keinginannya agar makamnya sederhana, tanpa ada hiasan khusus, dengan batu nisan bertuliskan satu kata: “Fransiskus”.

    Keinginan terakhir mendiang Paus Fransiskus itu, seperti dilansir CNN, Selasa (22/4/2025), tertuang dalam surat wasiat terakhirnya yang dirilis oleh Vatikan ke publik pada Senin (21/4) waktu setempat.

    Disebutkan dalam surat wasiat itu bahwa Paus Fransiskus mengatakan dirinya ingin dimakamkan di makam “sederhana” di tanah yang ada di halaman Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, dengan batu nisannya bertuliskan satu kata, yakni namanya dalam bahasa Latin.

    “Makam itu harus berada di tanah; sederhana, tanpa hiasan khusus, dan hanya memiliki inskripsi: Fransiskus,” kata Paus Fransiskus dalam surat wasiatnya.

    Dalam surat wasiatnya, Paus Fransiskus juga mengonfirmasi bahwa dirinya ingin dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore yang ada di seberang Sungai Tiber, Roma, bukan di Basilika Santo Petrus yang ada di Vatikan seperti pada pendahulunya.

    Basilika Santa Maria Maggiore dipilih oleh sang Bapa Suci karena signifikansi pribadi bagi dirinya, dengan ditekankan dalam surat wasiat Paus Fransiskus bahwa dirinya selalu berdoa di sana secara teratur.

    Dengan demikian, Paus Fransiskus akan menjadi Paus pertama selama lebih dari satu abad terakhir yang dimakamkan di luar Vatikan.

    Meskipun tujuh Paus lainnya juga dimakamkan di Santa Maria Maggiore, Paus Fransiskus akan menjadi yang pertama sejak Leo XIII, yang meninggal dunia tahun 1903 silam, yang tidak dimakamkan di Basilika Santo Petrus.

    Diketahui bahwa sekitar 91 Paus lainnya dimakamkan di dalam gua-gua bawah tanah di yang ada bawah Basilika Santo Petrus di Vatican City.

    Disebutkan juga dalam surat wasiat Paus Fransiskus bahwa dirinya telah mengatur agar seorang dermawan, yang tidak disebutkan namanya, untuk menanggung biaya pemakamannya.

    Halaman 2 dari 3

    (rdp/rdp)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Apa Itu Konklaf? Begini Proses Rahasia Pemilihan Paus Baru yang Sudah Berlangsung 800 Tahun

    Apa Itu Konklaf? Begini Proses Rahasia Pemilihan Paus Baru yang Sudah Berlangsung 800 Tahun

    PIKIRAN RAKYAT – Setelah Paus Fransiskus wafat di usia 88 tahun pada Senin Paskah, Gereja Katolik menghadapi momen penting: memilih pemimpin baru melalui proses kuno yang disebut konklaf.

    Meskipun dunia telah berubah drastis dalam delapan abad terakhir, proses ini tetap nyaris tidak berubah sejak abad ke-13. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan konklaf?

    Arti dan Asal Usul Konklaf

    Konklaf berasal dari bahasa Latin cum clave yang berarti “dengan kunci.” Istilah ini mencerminkan esensi dari proses itu sendiri: sebuah pertemuan rahasia di mana para kardinal Gereja Katolik dikunci secara literal di dalam area khusus di Vatikan – biasanya Kapel Sistina – untuk memilih paus baru, tanpa komunikasi ke dunia luar hingga keputusan final dibuat.

    Seperti yang dijelaskan dalam laporan The Independent:

    “Konklaf Kepausan adalah proses demokratis dengan penekanan kuat pada bekerja melalui beberapa putaran pemungutan suara sampai konsensus yang jelas muncul.”

    Siapa yang Memilih?

    Di bawah aturan saat ini, hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang diizinkan memberikan suara dalam konklaf. Jumlahnya biasanya sekitar 120 orang dari seluruh dunia, termasuk mereka yang berbasis di Roma maupun dari negara-negara jauh.

    Meski secara teknis setiap laki-laki Katolik bisa menjadi Paus, dalam praktiknya selama berabad-abad hanya kardinal yang pernah dipilih.

    Kapan Konklaf Diadakan?

    Konklaf tidak langsung dimulai setelah wafatnya Paus. Umumnya, Vatikan memberi jeda waktu 15 hingga 20 hari untuk memberi kesempatan diadakannya misa pemakaman dan memberi waktu para kardinal dari berbagai belahan dunia untuk tiba di Roma. Dalam kasus wafatnya Paus Fransiskus, proses pemungutan suara diperkirakan akan dimulai awal Mei.

    Prosedur Ketat di Balik Pintu Tertutup

    Konklaf dimulai dengan misa pagi khusus. Kemudian, semua orang selain para kardinal diminta keluar dari Kapel Sistina melalui seruan tradisional “extra omnes” (semua orang keluar). Para kardinal kemudian mengunci diri dan bersumpah kerahasiaan.

    Mereka akan terus mengadakan pemungutan suara hingga seorang kandidat memperoleh mayoritas dua pertiga suara. Dalam satu hari, bisa dilakukan hingga empat putaran pemungutan suara.

    “Melalui campuran pidato, doa, refleksi – dan desak-desakan politik yang intens – para kardinal memangkas kandidat,” ujar The Independent, menegaskan bahwa politik internal Gereja turut berperan besar.

    Sistem Pemungutan Suara

    Dalam setiap putaran, nama-nama sembilan kardinal dipilih secara acak untuk menjadi panitia: tiga menjadi scrutineers (pengawas suara), tiga mengumpulkan suara, dan tiga lainnya merevisinya. Setiap kardinal menulis nama pilihannya di atas kertas dengan tulisan tangan yang disengaja sulit dikenali, lalu memasukkannya ke dalam wadah pemungutan suara.

    Surat suara dibakar setelah setiap sesi: jika hasilnya belum menghasilkan paus, dibakar dengan bahan yang menghasilkan asap hitam. Asap putih hanya akan muncul jika satu kandidat menerima dua pertiga suara.

    “Ketika satu kandidat akhirnya memenangkan dua pertiga suara, Paus baru terpilih,” ucap The Independent.

    Setelah itu, Kardinal Dekan mendekati kandidat dan bertanya apakah dia menerima posisi tersebut. Jika menjawab “ya,” dia lalu memilih nama kepausan.

    Tradisi dan Simbolisme

    Setelah menerima jabatan, Paus baru dibawa ke Ruang Air Mata di samping Kapel Sistina. Di sana, dia mengenakan jubah putih kepausan dan sandal merah – tiga jubah telah disiapkan sebelumnya dalam ukuran kecil, sedang, dan besar.

    Kemudian, dari balkon utama Basilika Santo Petrus, seorang pejabat Vatikan mengumumkan, “Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!” (Saya mengumumkan kepada Anda dengan sukacita besar bahwa kami memiliki seorang Paus.)

    Ini adalah saat pertama kali publik mengetahui nama paus yang baru terpilih, dan dia akan memberikan berkat publik pertamanya.

    Mengapa Paus Penting?

    Paus adalah pemimpin spiritual dari lebih dari 1,3 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Ia memainkan peran kunci dalam arah Gereja, baik dalam persoalan iman, sosial, maupun politik global. Paus secara rutin bertemu dengan kepala negara dan menjadi simbol penting dalam isu-isu dunia.

    Baru beberapa waktu lalu, Paus Fransiskus sempat bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance, dan sebelum itu dengan mantan Presiden Joe Biden. Namun, dia tidak pernah bertemu dengan Donald Trump selama masa jabatan kedua Trump.

    Konklaf dalam Sejarah Terbaru

    Konklaf terakhir berlangsung pada Maret 2013 setelah pengunduran diri Paus Benediktus XVI, dan hanya berlangsung dua hari dengan lima putaran suara. Paus Fransiskus – nama asli Jorge Mario Bergoglio – terpilih sebagai Paus pertama dari Amerika Latin, Yesuit pertama, dan paus non-Eropa pertama dalam lebih dari 1.200 tahun.

    Sementara itu, konklaf sebelumnya pada 2005 setelah wafatnya Paus Yohanes Paulus II juga hanya berlangsung dua hari.

    Namun tidak semua konklaf berlangsung cepat. Yang terpanjang terjadi pada akhir abad ke-13 dan berlangsung selama tiga tahun, akibat perseteruan politik internal Gereja. Tiga kardinal bahkan dilaporkan meninggal selama proses tersebut.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Kenali Gejala Pneumonia Bilateral yang Diderita Paus Fransiskus

    Kenali Gejala Pneumonia Bilateral yang Diderita Paus Fransiskus

    Jakarta, Beritasatu.com – Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus meninggal dunia pada Senin (21/4/2025), di usia 88 tahun. Penyebab meninggalnya adalah komplikasi dari pneumonia bilateral (infeksi paru-paru ganda) yang telah dideritanya sejak awal tahun ini.  

    Kondisi kesehatan Paus Fransiskus mulai memburuk pada awal 2025. Ia sempat dirawat intensif selama lima minggu di Rumah Sakit Poliklinik Gemelli, Roma, akibat infeksi paru-paru yang sangat serius. Dokter menyatakan pneumonia bilateral yang dialaminya sempat dua kali hampir merenggut nyawanya.

    Pada 23 Maret 2025, kondisi Paus menunjukkan perbaikan sehingga dia diizinkan pulang ke Vatikan. Namun, dia tetap membutuhkan pemantauan ketat dan alat bantu oksigen karena paru-parunya telah mengalami kerusakan signifikan. Tim medis menjelaskan infeksi ini tidak hanya menyerang jaringan paru-paru tetapi juga melemahkan otot-otot pernapasannya.  

    Hingga akhir hayatnya, Paus Fransiskus masih bergantung pada oksigen tambahan, meskipun sempat mampu bernapas tanpa bantuan alat dalam beberapa kesempatan terakhir.  

    Apa Itu Pneumonia Bilateral?

    Dikutip dari Healthline, Selasa (22/4/2025), pneumonia bilateral atau dikenal juga sebagai pneumonia ganda adalah infeksi yang menyerang kedua paru-paru sekaligus. Berbeda dengan pneumonia biasa yang hanya menginfeksi satu bagian paru, kondisi ini menyebabkan peradangan di kedua kantung udara (alveoli), sehingga menghambat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.  

    Meskipun menyerang kedua paru-paru, pneumonia bilateral tidak selalu berarti dua kali lebih berbahaya. Tingkat keparahannya sangat bergantung pada:  

    Usia dan kondisi kekebalan tubuh penderita.Jenis mikroorganisme penyebab (bakteri, virus, atau jamur).Ada atau tidaknya penyakit penyerta (seperti diabetes, jantung, atau gangguan pernapasan kronis).Gejala Pneumonia Bilateral yang Perlu Diwaspadai

    Gejala pneumonia bilateral mirip dengan pneumonia biasa, tetapi dapat berkembang lebih cepat dan lebih berat, terutama pada lansia atau orang dengan sistem imun lemah. Berikut ini tanda-tandanya:  

    Gejala Umum

    Sesak napas (bahkan saat istirahat).Nyeri dada yang tajam, terutama saat menarik napas.Batuk berdahak (dahak bisa berwarna kuning, hijau, atau bahkan berdarah).Demam tinggi, menggigil, dan berkeringat.Detak jantung cepat (takikardia).Kelelahan ekstrem dan tubuh terasa sangat lemas.Mual, muntah, atau diare (terutama pada kasus pneumonia akibat bakteri atau virus).

    Gejala Khusus pada Lansia

    Kebingungan atau disorientasi (sering salah dikira sebagai gejala demensia).Suhu tubuh lebih rendah dari normal (hipotermia, bukannya demam).Penurunan kesadaran.
    Kenapa Pneumonia Bilateral Berbahaya?

    Pada kasus Paus Fransiskus, pneumonia bilateral menyebabkan kegagalan pernapasan progresif. Infeksi ini dapat memicu komplikasi serius, seperti sepsis (infeksi menyebar ke aliran darah), acute respiratory distress syndrome (ARDS) yakni paru-paru kehilangan kemampuannya menyuplai oksigen ke tubuh, dan gagal organ multipel akibat kekurangan oksigen berkepanjangan.

    Paus Fransiskus telah berpulang, tetapi perjuangannya melawan pneumonia bilateral menjadi pengingat untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru-paru.

  • Katedral Jakarta Gelar Misa Requiem untuk Paus Fransiskus pada 24 April

    Katedral Jakarta Gelar Misa Requiem untuk Paus Fransiskus pada 24 April

    Jakarta

    Gereja Katedral Jakarta akan menggelar misa requiem untuk Paus Fransiskus pada Kamis 24 April sore. Pelaksanaan Misa akan dipimpin oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Monsinyur (Mgr) Piero Pioppo.

    “Besok hari Kamis jam 6 sore (18.00 WIB) akan ada misa requiem di Gereja Katedral ini. Misa akan dipimpin oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia yang adalah seorang wakil dari Paus,” kata Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2025).

    Suharyo mengatakan sejumlah Uskup juga akan hadir dalam prosesi itu. Pihaknya juga sudah mengirimkan surat ke paroki seluruh keuskupan agung Jakarta untuk merayakan ekaristi.

    “Bapak Ketua KWI Konferensi Wali Gereja Indonesia akan hadir. Beberapa uskup yang bisa hadir akan hadir juga di sini. Saya ikut di dalam misa konselibrasi itu,” kata dia.

    “Dan Romo Sekretaris sudah mengirimkan surat ke paroki-paroki di seluruh keuskupan Agung Jakarta untuk merayakan ekaristi, untuk arwah Bapak Suci Paus Fransiskus,” tambahnya.

    Suharyo berharap di hari tersebut seluruh paroki di keuskupan agung Jakarta menggelar ekaristi. Jika belum sempat, bisa memilih hari lainnya.

    Sementara itu, Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, Romo Hani Rudi Hartoko mengatakan akan ada sejumlah tamu penting yang hadir pada misa requim. Tidak ada pula pendaftaran bagi jemaat yang ingin hadir.

    “(Jemaat harus mendaftar) nggak, bebas. Tapi ini beberapa yang kita reserve untuk tamu-tamu tadi. Diplomatik, tamu-tamu dari instansi negara yang mungkin akan hadir,” sebutnya.

    (ial/eva)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Jejak Digital Paus Fransiskus: Dari Media Sosial hingga Dialog Dunia – Page 3

    Jejak Digital Paus Fransiskus: Dari Media Sosial hingga Dialog Dunia – Page 3

    Di Spanyol, misalnya, digunakan akun @Pontifex_es yang kini memiliki 18,6 juta pengikut. Sementara itu, akun resmi lainnya mencakup @Pontifex dengan 18,3 juta pengikut; @Pontifex_it (Italia) dengan 5,2 juta; @Pontifex_pt (Portugis) dengan 5 juta; dan @Pontifex_ln, akun berbahasa Latin, yang telah diikuti oleh 1 juta pengguna.

    Paus Fransiskus memanfaatkan Twitter sebagai sarana pewartaan Injil, menyampaikan pesan-pesan yang berfokus pada Yesus sebagai pusat kehidupan umat Kristiani serta nilai-nilai Kristiani yang bersifat universal.

    Cuitan-cuitannya kerap mendorong refleksi dan dialog, menciptakan ruang untuk percakapan dan partisipasi publik.

    Gaya penyampaiannya di media sosial mencerminkan ciri khas komunikasinya: jelas, emosional, penuh harapan, mendalam, dan langsung ke inti.

    Dengan demikian, ia mampu mempertahankan karakter pribadinya sambil menyesuaikan diri dengan tuntutan komunikasi di platform digital yang menuntut pesan singkat dan efektif.

    Luncurkan Kanal YouTube

    Namun, kehadiran digital Paus Fransiskus tak hanya terbatas di Twitter. Pada Desember 2015, ia meluncurkan kanal YouTube bernama “The Pope Video.”

    Lewat kanal ini, setiap bulan Paus menyampaikan video yang berisi intensi doa untuk tema-tema tertentu, seperti keluarga dalam kesulitan, hak atas pendidikan, dan isu pengungsi.

    Kanal ini merupakan bagian dari Jaringan Doa Sedunia Paus (atau Kerasulan Doa), lembaga resmi di bawah Vatikan, dan saat ini memiliki sekitar 49.300 pelanggan.

    Rambah Instagram

    Beberapa bulan setelah resmi hadir di YouTube, Paus mulai merambah Instagram pada Maret 2016. Sejak itu, ia berhasil membentuk komunitas yang solid dengan jumlah pengikut yang kini mencapai 9,9 juta di platform tersebut.

    Berbeda dengan Twitter, di Instagram hanya ada satu akun resmi yang menjadi pusat seluruh aktivitas komunikasi. Dalam setiap keterangan unggahan di Feed, Paus biasanya membagikan pesannya dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Portugis, Spanyol, Italia, Prancis, Polandia, dan Jerman.

  • Siapa Saja Calon Pengganti Paus Fransiskus? 2 dari Asia Tenggara, Ini Daftar Lengkap 15 Nama Potensialnya

    Siapa Saja Calon Pengganti Paus Fransiskus? 2 dari Asia Tenggara, Ini Daftar Lengkap 15 Nama Potensialnya

    PIKIRAN RAKYAT – Kematian Paus Fransiskus pada 21 April 2025 menandai berakhirnya era seorang pemimpin Gereja Katolik yang dikenal progresif dan dekat dengan kaum miskin. Di tengah masa berkabung, perhatian dunia beralih ke pertanyaan besar: siapa yang akan menggantikannya?

    Mekanisme pemilihan Paus baru akan segera dimulai melalui konklaf yang diikuti oleh para kardinal berusia di bawah 80 tahun. Dari puluhan kandidat potensial, berikut adalah 15 nama yang paling sering disebut sebagai pengganti potensial, terbagi berdasarkan wilayah.

    EROPA

    1. Pietro Parolin (Italia, 70 tahun)

    Sebagai Sekretaris Negara Vatikan, Parolin merupakan tokoh nomor dua selama hampir seluruh masa jabatan Paus Fransiskus. Ia memainkan peran utama dalam diplomasi, termasuk perjanjian kontroversial dengan Tiongkok mengenai penunjukan uskup. Ia dikenal memiliki jaringan global kuat dan dihormati di dalam Kuria Romawi.

    “Dia adalah wajah Vatikan di panggung dunia,” ujar seorang diplomat senior Vatikan.

    2. Matteo Maria Zuppi (Italia, 69 tahun)

    Uskup Agung Bologna ini dikenal karena keterlibatannya dalam diplomasi perdamaian, termasuk sebagai utusan khusus Vatikan untuk konflik Ukraina. Sebagai anggota komunitas Sant’Egidio, Zuppi punya rekam jejak advokasi untuk kaum miskin, migran, dan komunitas LGBTQ Katolik. Ia juga presiden Konferensi Waligereja Italia sejak 2022.

    3. Pierbattista Pizzaballa (Italia, 60 tahun)

    Patriark Latin Yerusalem, mewakili umat Katolik di Timur Tengah, terutama saat konflik Israel-Hamas meningkat. Pizzaballa telah berusaha menjaga keseimbangan diplomatik dan rohani di wilayah penuh gejolak.

    4. Jean-Claude Hollerich (Luksemburg, 67 tahun)

    Seorang Yesuit seperti Paus Fransiskus, ia memiliki pengalaman panjang di Asia (Jepang) dan dikenal sebagai penghubung budaya Timur dan Barat. Hollerich adalah arsitek pemikiran sinode yang inklusif dan menyerukan agar Gereja lebih responsif terhadap perubahan zaman.

    5. Claudio Gugerotti (Italia, 69 tahun)

    Diplomat kawakan dan ahli budaya Slavia, Gugerotti pernah menjabat sebagai nuncio (duta besar Vatikan) di berbagai negara Eropa Timur. Ia menjembatani dialog dengan Gereja-Gereja Timur dan kini memimpin Dikasteri untuk Gereja-Gereja Timur.

    6. Jean-Marc Aveline (Prancis, 66 tahun)

    Uskup Agung Marseille yang lahir di Aljazair ini memperjuangkan dialog antaragama dan perlindungan migran. Sosok yang ramah dan dekat dengan Paus Fransiskus, Aveline dikenal sebagai jembatan budaya dan religius antara Eropa dan Mediterania.

    7. Anders Arborelius (Swedia, 75 tahun)

    Kardinal pertama dari Swedia yang merupakan mualaf Katolik di negara mayoritas Protestan. Ia dikenal tegas dalam doktrin, namun juga mengadvokasi hak-hak migran dan perlindungan umat minoritas di Skandinavia.

    8. Mario Grech (Malta, 68 tahun)

    Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup, Grech mengelola proses refleksi global mengenai masa depan Gereja. Ia berusaha menyeimbangkan tuntutan reformasi dengan kekhawatiran kelompok konservatif.

    9. Péter Erdő (Hungaria, 72 tahun)

    Uskup Agung Esztergom-Budapest, ahli hukum kanonik, dikenal karena kedalaman intelektual dan keterbukaan antaragama. Namun kedekatannya dengan pemerintah nasionalis Viktor Orban kerap jadi bahan kontroversi.

    ASIA

    10. Luis Antonio Tagle (Filipina, 67 tahun)

    Mantan Uskup Agung Manila ini kini menjabat di Vatikan sebagai Pro-Prefek Evangelisasi. Tagle adalah sosok karismatik, vokal soal keadilan sosial, migran, dan korban kekerasan seksual dalam Gereja.

    “Saya tidak takut menyuarakan kebenaran walau menyakitkan bagi Gereja,” ujar Tagle dalam sebuah konferensi.

    11. Charles Maung Bo (Myanmar, 76 tahun)

    Uskup Agung Yangon dan presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia. Ia memperjuangkan perdamaian pasca-kudeta militer Myanmar dan membela etnis Rohingya. Ia dikenal sebagai pembela hak asasi manusia dan simbol ketabahan Gereja di Asia Tenggara.

    AFRIKA

    12. Peter Turkson (Ghana, 76 tahun)

    Mantan Presiden Dikasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia Integral, Turkson dianggap sebagai kandidat kuat Paus pertama dari Afrika. Ia dikenal sebagai pemikir sosial yang progresif dan aktif dalam isu ekonomi global.

    13. Fridolin Ambongo Besungu (RD Kongo, 65 tahun)

    Uskup Agung Kinshasa dan satu-satunya anggota Dewan Kardinal dari Afrika. Ia lantang menolak pemberkatan hubungan sesama jenis dan menekankan peran Afrika dalam masa depan Gereja.

    “Afrika adalah masa depan Gereja, itu jelas,” ucap Ambongo dalam wawancara tahun 2023.

    AMERIKA

    14. Robert Francis Prevost (AS, 69 tahun)

    Prefek Dikasteri untuk Uskup dan mantan misionaris di Peru. Ia menggabungkan pendekatan pastoral Amerika Latin dengan ketegasan administrasi ala Vatikan.

    15. Timothy Dolan (AS, 75 tahun)

    Uskup Agung New York, dikenal luas di media dan publik Amerika. Seorang konservatif teologis, Dolan punya pengalaman dalam menghadapi skandal pelecehan seksual di Milwaukee dan menjadi wajah Katolik AS dalam menghadapi perubahan demografi.

    Siapa yang Paling Berpeluang?

    Meski tidak ada jaminan siapa yang akan terpilih, nama-nama seperti Pietro Parolin, Luis Antonio Tagle, dan Matteo Zuppi disebut-sebut sebagai tiga nama terkuat. Parolin mewakili stabilitas diplomatik, Tagle merepresentasikan Gereja Asia yang tumbuh cepat, dan Zuppi adalah jembatan bagi umat progresif dan tradisional.

    “Konklaf sering mengejutkan dunia. Nama baru bisa saja muncul, seperti saat Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus Fransiskus,” tutur  seorang pengamat Vatikan.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News