Paus Fransiskus Meninggal Dunia, Harga Emas Antam Tembus Rp2 Juta
Tag: Paus Fransiskus
-

Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Akan Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia dan Ibu Negara Melania Trump akan menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Roma.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Trump melalui unggahan di Truth Social pada Senin (21/4/2025).
“Melania dan saya akan menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Roma. Kami tak sabar untuk hadir di sana!,” tulisnya.
Sebelumnya, sempat muncul spekulasi mengenai apakah Trump akan hadir dalam upacara pemakaman tersebut.
Namun, tak lama setelah kabar duka datang dari Vatikan, Trump menyampaikan belasungkawa mendalam.
Dalam pidato singkat di acara White House Easter Egg Roll, Trump menyebut Paus sebagai “seorang pria yang sangat baik yang mencintai dunia, terutama mereka yang sedang mengalami masa sulit,” seperti dilaporkan CBS News.
Kehadiran Trump di Roma akan menjadi momen diplomatik bersejarah.
Ia akan menjadi presiden AS pertama yang sedang menjabat yang hadir dalam pemakaman Paus.
George W Bush lah presiden amerika yang tercatat menghadiri pemakaman Paus Yohanes Paulus II pada 2005.
Menurut Newsweek, Trump juga memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di Gedung Putih dan seluruh fasilitas federal sebagai tanda berkabung nasional.
“Sebagai tanda penghormatan untuk mengenang Yang Mulia Paus Fransiskus,” tulis Trump dalam proklamasi, “bendera Amerika Serikat dikibarkan setengah tiang… hingga matahari terbenam, pada hari pemakaman.”
Paus Fransiskus Meninggal, Dunia Berduka
Vatikan mengonfirmasi Paus Fransiskus wafat pada Senin (21/4/2025) pagi pukul 07.35 waktu setempat.
Ia menghembuskan napas terakhir setelah berjuang lama melawan pneumonia ganda.
Paus asal Argentina ini merupakan Paus pertama dari Amerika Latin.
Ia merupakan anggota ordo Jesuit yang dikenal karena hidup sederhana serta fokus membantu kaum miskin dan terpinggirkan.
Kabar wafatnya Paus Fransiskus langsung memicu duka mendalam dari berbagai penjuru dunia.
Kardinal Timothy Dolan dari Keuskupan Agung New York mengatakan kepada Saluran Katolik SiriusXM:
“Ada kematian dalam keluarga. Dan orang-orang di seluruh dunia, khususnya keluarga Katolik, sedang berduka. Kami sudah merindukannya.”
Mantan Presiden Joe Biden juga menyampaikan belasungkawa lewat platform X (sebelumnya Twitter).
“Beliau tidak seperti pendahulunya. Paus Fransiskus akan dikenang sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di zaman kita.”
Pemakaman di Tengah Reformasi dan Simbol Kesederhanaan
Pemakaman Paus Fransiskus diperkirakan digelar dalam beberapa hari mendatang di Lapangan Santo Petrus, jika cuaca memungkinkan.
Upacara akan berlangsung selama dua jam dengan ritus Katolik tradisional, sebagian besar dalam bahasa Latin, menurut laporan Politico.
Jenazah akan disemayamkan di Basilika Santo Petrus agar umat dapat memberikan penghormatan terakhir selama tiga hari.
Menariknya, Paus Fransiskus tidak akan dimakamkan di bawah basilika seperti para pendahulunya.
Ia sebelumnya menyatakan ingin dimakamkan “di dalam tanah, tanpa hiasan khusus”, dengan tulisan nama “Franciscus” dalam bahasa Latin.
Menurut Reuters, lokasi tersebut belum pernah digunakan untuk pemakaman Paus sejak abad ke-17, ketika Paus Clement IX dimakamkan di sana.
Warisan yang Dikenang Dunia
Fransiskus menjabat lebih dari satu dekade sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Ia dikenal karena keberpihakan kepada kaum miskin, advokasi terhadap migran, serta sikap progresif terhadap isu lingkungan dan keadilan sosial.
Meskipun Trump dan Paus Fransiskus sempat berselisih pendapat mengenai kebijakan imigrasi, Trump kini menyatakan dirinya menghargai ajakan Paus untuk berbelas kasih terhadap para migran.
“Ya, saya mendukung, saya mendukung,” ucapnya kepada wartawan, dikutip CBS News.
Dalam pidato Paskah terakhirnya, yang dibacakan ajudan karena kondisi kesehatannya memburuk, Paus menulis:
“Betapa banyak penghinaan yang kadang-kadang ditimbulkan terhadap mereka yang rentan, yang terpinggirkan, dan para migran!”
Masa Berkabung Sembilan Hari
Vatikan telah memulai masa berkabung resmi selama sembilan hari, dikenal sebagai Novendiale, untuk menghormati wafatnya Paus Fransiskus.
Selama masa ini, berbagai upacara dan doa akan dilangsungkan untuk mengenang sosok pemimpin spiritual yang telah memberikan pengaruh besar bagi dunia.
Apa Itu Masa Sede Vacante?
Masa sede vacante adalah periode penting dalam Gereja Katolik yang terjadi ketika Takhta Suci kosong karena wafatnya atau pengunduran diri seorang Paus.
Istilah Latin ini secara harfiah berarti “kursi kosong”, merujuk pada kekosongan kepemimpinan tertinggi di Vatikan.
Begitu seorang Paus wafat, proses sede vacante dimulai dengan verifikasi resmi dari Camarlengo, pejabat yang bertanggung jawab atas urusan administrasi Vatikan selama masa transisi.
Camarlengo akan memeriksa tubuh Paus dan secara resmi mengumumkan wafatnya kepada publik.
Setelah pengumuman, kamar pribadi Paus disegel.
Gereja kemudian memasuki periode novemdiales, yakni sembilan hari berkabung dan misa untuk mengenang Paus yang telah wafat.
Menanti Paus Baru
Setelah masa berkabung, para Kardinal Gereja Katolik yang berusia di bawah 80 tahun berkumpul dalam konklaf di Kapel Sistina, Roma.
Mereka melakukan pemungutan suara rahasia untuk memilih Paus baru.
Seorang kandidat harus memperoleh dua pertiga suara dari total kardinal pemilih agar dapat terpilih.
Ketika Paus baru berhasil dipilih, asap putih akan keluar dari cerobong Kapel Sistina sebagai tanda bahwa dunia memiliki pemimpin baru.
Setelah itu, diumumkan secara resmi dengan ucapan: Habemus Papam (“Kita memiliki Paus”).
Masa Sede Vacante Terlama dalam Sejarah
Sede vacante terpanjang tercatat dalam sejarah Gereja Katolik terjadi antara tahun 1268 hingga 1271, menyusul wafatnya Paus Klemens IV.
Proses pemilihan Paus saat itu berlangsung hampir tiga tahun karena konflik internal di antara para kardinal.
Situasi tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Gereja tentang pentingnya kesepakatan dan reformasi dalam proses konklaf.
Periode sede vacante terbaru dimulai pada 21 April 2025, setelah Paus Fransiskus dinyatakan wafat oleh Vatikan.
Paus berusia 88 tahun itu sebelumnya sempat dirawat selama 38 hari di Rumah Sakit Gemelli, Roma, akibat pneumonia ganda, sebelum akhirnya pulang menjelang Paskah.
Kini, dunia tengah menantikan siapa yang akan terpilih sebagai Paus baru—pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Apa Itu Novemdiales?
Novemdiales berasal dari bahasa Latin novem yang berarti sembilan.
Istilah ini merujuk pada sembilan hari liturgi penuh doa dan misa arwah untuk mendoakan jiwa Paus yang telah wafat.
Menurut laporan dari Vatican News dan Catholic News Agency, tradisi ini dimulai sehari setelah Camarlengo, pejabat yang memegang kendali administratif selama masa sede vacante, secara resmi mengumumkan wafatnya Paus.
Pada 22 April 2025, misa pertama novemdiales untuk mendoakan arwah Paus Fransiskus digelar di Basilika Santo Petrus.
Misa tersebut dipimpin oleh seorang Kardinal senior.
Prosesi ini menjadi awal dari sembilan hari refleksi mendalam.
Acara ini dihadiri oleh para Kardinal, rohaniwan, dan ribuan umat Katolik dari seluruh dunia.
Menjelang Konklaf
Selama periode novemdiales, para Kardinal juga mengadakan pertemuan (general congregations).
Pertemuan ini membahas kondisi Gereja global dan menentukan waktu pelaksanaan konklaf—proses pemilihan Paus baru.
Seperti dilaporkan oleh Reuters, konklaf biasanya digelar antara hari ke-15 hingga ke-20 setelah wafatnya Paus.
Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian novemdiales dapat berlangsung dengan penuh penghormatan.
Kini, dunia menantikan siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet dari Paus Fransiskus.
Namun sebelum itu, Gereja memberi ruang untuk berduka, berdoa, dan bersyukur atas warisan seorang Paus yang telah menorehkan jejak penting dalam sejarah Katolik modern.
(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)
-
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5195303/original/063094000_1745343499-Bendera_Setengah_Tiang.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Cerita Bendera Vatikan Berkibar Setengah Tiang di Istana Uskup Maumere
Liputan6.com, Maumere – Pagi itu, suasana tampak langgeng, hening, hanya terdengar siulan burung di kebun anggur yang ditata rapi depan pintu Lepo Bispu, istana Uskup Maumere.
Tak ada aktivitas penghuni istana. Hanya dua pria penjaga keamanan nampak sibuk merapikan dua tiang bendera di depan istana.
Di sebelah kanan, bendera merah putih telah berkibar, sedangkan di bagian kiri tampak bendera Vatikan (kuning putih) berkibar setengah tiang, sebagai tanda dunia sedang berkabung atas kepergian Bapa Suci Paus Fransiskus.
“Kita kibarkan setengah tiang, sebagai tanda dunia sedang berkabung atas kepergian Bapa Suci,” ujar Sekretaris Keuskupan Maumere, RD Yakobus Donisius Migo, S fil. M.TH. Lic.Th. com, Selasa 22 April 2025.
Ia mengatakan bendera setengah tiang itu sebagai simbol duka di masa perkabungan hingga jenazah Paus Fransiskus dimakamkan.
Saat ini, seluruh gereja di paroki dan komunitas rohani, mulai melakukan misa mendoakan Paus Fransiskus hingga pemakaman nanti.
“Bapa Uskup sudah menyerukan seluruh gereja paroki dan komunitas rohani di keuskupan Maumere menggelar misa secara khusus untuk Pope Francis terhitung mulai pagi ini sampai pemakaman,” jelasnya.
Menurutnya, seturut tradisi Vatikan, biasanya masa perkabungan terhitung empat sampai enam hari masa perkabungan.
“Ada informasi bahwa masa perkabungan sampai hari kesembilan, tapi belum ada berita resmi dari Vatikan terkait jadwal pemakaman. Di email keuskupan baru kami terima informasi wafatnya Pope Francis yang dikirim langsung dari Vatikan,” katanya.
Highlight Lokakarya 7 ‘Panen Hasil Belajar’ PGP Angkatan 10
-

Paus Fransiskus Wafat, Simak Mekanisme Pemilihan Paus Baru
Jakarta: Paus Fransiskus wafat pada 21 April 2025 di usia menginjak 88 tahun. Kepergian pemimpin tertinggi Gereja Katolik sekaligus pemimpin negara Vatikan tersebut tentunya meninggalkan kekosongan tahta suci kepemimpinan.
Pasca wafanya Paus, pihak Vatikan berencana untuk melakukan pemilihan Paus baru.
Mekanisme pemilihan PausMelansir dari beberapa sumber, pemilihan Paus dilakukan dengan proses tertutup dan khidmat. Proses pemilihan digelar di Kapel Sistina, dan disebut sebagai Konklaf Kepausan.
Proses ini dijalankan oleh Kolegium Kardinal, yaitu para pejabat tertinggi Gereja. Saat ini, terdapat total 252 kardinal di seluruh dunia, dengan 138 di antaranya berusia di bawah 80 tahun dan memenuhi syarat untuk memberikan suara.
Teknisnya, setiap pria Katolik yang telah dibaptis bisa menjadi Paus. Namun, dalam sejarahnya, posisi ini hampir selalu diberikan kepada seorang kardinal.
Setelah pemakaman Paus Fransiskus, para kardinal akan berkumpul dalam suasana terisolasi, tanpa akses ke dunia luar, untuk memilih pemimpin spiritual baru bagi lebih dari 1,3 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Konklaf biasanya dimulai dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah wafatnya paus, memberi waktu untuk masa berkabung selama sembilan hari serta mengizinkan para kardinal dari berbagai negara datang ke Vatikan.
Pemungutan suara dilakukan para Kardinal
Proses pemungutan suara berlangsung penuh simbol dan kerahasiaan, dengan maksimal empat putaran setiap harinya. Menurut Konferensi Para Uskup Katolik Amerika Serikat, seorang kandidat harus memperoleh dua pertiga suara untuk terpilih sebagai Paus.
Para kardinal memberikan suara secara rahasia. Proses ini bisa berlangsung selama beberapa hari, bahkan dalam sejarah pernah memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Setiap surat suara dihitung dan dicatat oleh kardinal yang ditunjuk. Setelah satu putaran selesai, surat suara dibakar di tungku khusus.
Keputusan Paus baru juga diisyaratkan lewat asap yang keluar. Asap putih menandakan seorang Paus baru, sedangkan jika asap hitam maka posisi Paus baru belum disepakati.
Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus. Mereka akan menantikan asap yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina.
Jakarta: Paus Fransiskus wafat pada 21 April 2025 di usia menginjak 88 tahun. Kepergian pemimpin tertinggi Gereja Katolik sekaligus pemimpin negara Vatikan tersebut tentunya meninggalkan kekosongan tahta suci kepemimpinan.
Pasca wafanya Paus, pihak Vatikan berencana untuk melakukan pemilihan Paus baru.Mekanisme pemilihan Paus
Melansir dari beberapa sumber, pemilihan Paus dilakukan dengan proses tertutup dan khidmat. Proses pemilihan digelar di Kapel Sistina, dan disebut sebagai Konklaf Kepausan.
Proses ini dijalankan oleh Kolegium Kardinal, yaitu para pejabat tertinggi Gereja. Saat ini, terdapat total 252 kardinal di seluruh dunia, dengan 138 di antaranya berusia di bawah 80 tahun dan memenuhi syarat untuk memberikan suara.Teknisnya, setiap pria Katolik yang telah dibaptis bisa menjadi Paus. Namun, dalam sejarahnya, posisi ini hampir selalu diberikan kepada seorang kardinal.
Setelah pemakaman Paus Fransiskus, para kardinal akan berkumpul dalam suasana terisolasi, tanpa akses ke dunia luar, untuk memilih pemimpin spiritual baru bagi lebih dari 1,3 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Konklaf biasanya dimulai dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah wafatnya paus, memberi waktu untuk masa berkabung selama sembilan hari serta mengizinkan para kardinal dari berbagai negara datang ke Vatikan.
Pemungutan suara dilakukan para Kardinal
Proses pemungutan suara berlangsung penuh simbol dan kerahasiaan, dengan maksimal empat putaran setiap harinya. Menurut Konferensi Para Uskup Katolik Amerika Serikat, seorang kandidat harus memperoleh dua pertiga suara untuk terpilih sebagai Paus.
Para kardinal memberikan suara secara rahasia. Proses ini bisa berlangsung selama beberapa hari, bahkan dalam sejarah pernah memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Setiap surat suara dihitung dan dicatat oleh kardinal yang ditunjuk. Setelah satu putaran selesai, surat suara dibakar di tungku khusus.
Keputusan Paus baru juga diisyaratkan lewat asap yang keluar. Asap putih menandakan seorang Paus baru, sedangkan jika asap hitam maka posisi Paus baru belum disepakati.
Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus. Mereka akan menantikan asap yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
dan follow Channel WhatsApp Medcom.id(PRI)
-

Ratusan Umat Katolik Ikuti Misa Arwah Paus Fransiskus di Katedral Palangka Raya
Palangka Raya, Beritasatu.com – Sebagai bentuk dukacita yang mendalam dan penghormatan atas wafatnya Bapa Suci Paus Fransiskus, ratusan umat Katolik mengikuti misa arwah di Gereja Katedral Santa Maria, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (22/4/2025).
Misa requiem atau misa arwah ini dipimpin langsung oleh Uskup Aloysius Sutrisnaatmaka MSF yang dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan suasana penuh khidmat.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pastor Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya Pastor Patrisius Alu Tampu mengatakan, dengan wafatnya Paus Fransiskus, umat Katolik tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, karena ada 3 hal yang harus dilakukan umat adalah meneruskan karya-karya baik dari mendiang Paus Fransiskus seperti tentang keimanan, persaudaraan, dan tentang bela rasa.
“Sebagai manusia tiga hal tersebut menjadi penting diperhatikan oleh umat Katolik, terutama tentang kemanusiaan, mencintai lingkungan dan hidup berdampingan dengan semua orang agar tercipta kedamaian,” ujarnya saat diwawancarai Beritasatu.com.
Pastor Patrisius Alu Tampu menambahkan, selama masa berkabung atas wafatnya Paus Fransiskus ini, umat Katolik akan melaksanakan misa di semua tingkat, seperti keuskupan, paroki, stasim hingga tingkat keluarga.
“Kalau di Vatikan bisanya, masa berkabung ini dilaksanakan selama sembilan hari, namun bagi umat Katolik khususnya di Indonesia biasa dilakukan dengan cara menggelar misa dan berdoa di semua tingkat,” terangnya.
Paus Fransiskus wafat pada usia 88 tahun di kediamannya pada Senin (21/4/2025) pada pukul 07.35 waktu Vatikan.
Pemakaman Paus Fransiskus dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (26/4/2025) pukul 10.00 waktu Vatikan.
-

Paus Fransiskus Kagumi Istiqlal, Menag Kenang Momen Hangat Kebersamaan
Depok, Beritasatu.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengenang momen istimewa bersama Paus Fransiskus sebelum pemimpin umat Katolik dunia itu meninggal dunia.
Dalam wawancara di kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Selasa (22/4/2025), Menag Nasaruddin Umar menyampaikan, Paus Fransiskus sempat menyampaikan kekagumannya terhadap Masjid Istiqlal.
“Saya sangat terkesan ketika kami berkunjung ke Istiqlal,” kata Menag Nasaruddin.
Menurutnya, Paus Fransiskus terkesan dengan keberagaman di Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara. Pengunjung dari berbagai latar belakang agama bisa merasa nyaman dan damai saat berkunjung ke Istiqlal.
Menag Nasaruddin Umar sebelumnya menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Istiqlal Internasional Indonesia di Cisalak, Depok. Dalam kesempatan itu, Nasaruddin mengajak ratusan tamu yang hadir untuk mendoakan Paus Fransiskus.
-

Uskup Surabaya: Banyak Umat Non-Katolik Ikut Misa Arwah Paus Fransiskus
Surabaya, Beritasatu.com – Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo memimpin misa arwah Paus Fransiskus di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Katedral Surabaya, Selasa (22/4/2025).
Uskup Surabaya menyebut banyak umat non-Katolik yang mengikuti misa arwah Paus Fransiskus tersebut.
Uskup Didik, panggilannya, menyebut, misa arwah untuk mengenang Paus Fransiskus tersebut diselenggarakan bertepatan pada Ekaristi Pekan Paskah Oktaf atau Minggu kedua Paskah.
“Ekaristi Pekan Paskah Oktaf ini kami intensikan untuk doa bagi Bapa Suci Paus Fransiskus, yang baru dipanggil Tuhan kemarin,” ucap Uskup Didik seusai misa arwah.
Uskup Didik juga menjelaskan, tidak hanya umat Katolik saja yang terpantau mengikuti misa pada malam hari ini. Namun, datang pula umat lainnya, serta masyarakat dan komunitas lintas agama, yang ikut merasakan kehilangan atas mangkatnya Paus Fransiskus. Sebanyak kurang lebih 700 umat mengikuti misa tersebut.
“Kami sungguh bersyukur, bahwa ternyata yang hadir dalam perayaan ekaristi ini bukan hanya umat Katolik, tetapi juga umat Kristiani lain, dan juga umat lintas agama, serta berbagai lapisan masyarakat yang menunjukkan simpati dan apresiasi ungkapan bela sungkawa bagi wafatnya Paus Fransiskus,” paparnya.
Rasa kehilangan yang dirasakan oleh umat selain Katolik, lanjut Uskup Didik, adalah sebuah apresiasi atas kepemimpinan Gereja Katolik Roma di bawah Paus Fransiskus selama kurang lebih 12 tahun lamanya.
“Kepemimpinan sebagai agamawan atau rohaniwan itu yang sungguh dihargai oleh teman-teman. Dia sebagai teladan yang di satu sisi progresif mengarah ke depan membawa orang untuk berjuang bagi yang lemah dan yang tersingkirkan,” ucapnya.
Uskup Didik juga mengatakan, kepemimpinan Paus Fransiskus sebagai agamawan atau rohaniwan sungguh dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat, baik itu umat Katolik serta umat lintas iman di seluruh dunia.
Mengenai sosok yang akan memimpin Gereja Katolik Roma sebagai Paus, Uskup Didik menyampaikan, umat dan imam Keuskupan Surabaya berharap akan mendapatkan sosok Sri Paus yang baru dan bisa membaca tantangan zaman.
“Kita semua memohon bahwa segera terpilih Paus baru. Dengan demikian akan segera mendapatkan kepemimpinan baru di dalam Gereja Katolik dan mendapatkan uskup yang sungguh-sungguh tepat bagi tanda-tanda zaman ke depan,” pungkas Uskup Didik setelah memimpin misa arwah Paus Fransiskus.
-

Video: Hamas & Hizbullah Puji Sikap Paus Fransiskus soal Gaza
Jakarta, CNBC Indonesia – Wafatnya Paus Fransiskus tidak hanya mengguncang umat Katolik dunia, tetapi juga memicu reaksi dari kelompok-kelompok di Timur Tengah termasuk Hamas dan Hizbullah.
Simak informasi selengkapnya dalam program Closing Bell CNBC Indonesia (Selasa, 22/04/2025) berikut ini.
-

Misteri ‘Cincin Nelayan’ Paus, Antara Tradisi dan Kerendahan Hati
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Di balik prosesi pemakaman Paus Fransiskus yang tengah dipersiapkan Vatikan, sebuah ritual kuno kini kembali mencuat ke permukaan: penghancuran Fisherman’s Ring atau Cincin Nelayan, lambang kekuasaan spiritual tertinggi dalam Gereja Katolik yang telah dikenakan oleh Paus selama dua belas tahun masa pontifikatnya.
Namun kali ini, seperti banyak aspek kepausan Paus Fransiskus yang penuh nuansa kerendahan hati dan pembaruan, nasib cincin itu mungkin tidak akan berakhir dalam kehancuran mutlak seperti pada abad-abad sebelumnya.
Cincin Nelayan memiliki sejarah panjang yang menelusur hingga abad ke-13. Nama cincin ini merujuk pada Santo Petrus – rasul Yesus yang menurut tradisi Katolik merupakan Paus pertama – yang dahulu adalah seorang nelayan. Gambar Santo Petrus sedang memancing dari sebuah perahu, bersama dengan kunci-kunci Takhta Suci, biasanya menghiasi permukaan cincin tersebut.
Sepanjang sejarahnya, cincin ini tidak hanya simbolik, tetapi juga memiliki fungsi administratif yang vital. Bersama dengan liontin yang disebut bulla, cincin ini berfungsi sebagai segel resmi untuk dokumen kepausan yang dikenal sebagai papal briefs.
Karena itu, penghancuran cincin dan bulla setiap kali seorang Paus wafat merupakan langkah pencegahan terhadap pemalsuan dokumen setelah kematian pemiliknya.
“Ini setara dengan mengambil alih login akun media sosial seseorang,” kata Christopher Lamb, koresponden Vatikan untuk CNN, menjelaskan alasan praktis di balik tradisi ini.
“Tujuannya adalah untuk menghentikan pihak-pihak yang berpura-pura menggunakan segel palsu pada dokumen.”
Tradisi yang Berevolusi
Dahulu, penghancuran dilakukan dengan palu oleh seorang pejabat tinggi Gereja, yakni Camerlengo Gereja Roma Suci, di hadapan Dewan Kardinal, segera setelah wafatnya Paus diumumkan. Dari tahun 1521 hingga 2013, inilah praktik yang dijalankan.
Namun perubahan besar terjadi pada tahun 2013, ketika Paus Benediktus XVI menjadi Paus pertama yang mengundurkan diri dalam enam abad terakhir. Bukannya dihancurkan, cincin beliau hanya diukir dengan tanda salib besar menggunakan pahat sebagai bentuk “pembatalan kekuasaan”. Langkah ini memulai tradisi baru – penghormatan yang lebih lembut terhadap simbol spiritual, tanpa kehilangan makna administratifnya.
Dengan risiko penyalahgunaan cincin sebagai segel telah menurun drastis, penghancuran fisik dianggap kurang relevan.
Camerlengo saat ini, Kardinal Kevin Joseph Farrell – seorang imam asal Irlandia yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus pada 2023 – diperkirakan akan mengikuti tradisi baru tersebut, dengan menandai cincin itu sebelum Konklaf, yakni proses rahasia pemilihan Paus baru oleh para kardinal.
Cincin yang Tak Biasa
Seperti halnya gaya kepemimpinannya yang sederhana dan membumi, Paus Fransiskus juga membuat keputusan tak lazim terkait Cincin Nelayan. Alih-alih memesan cincin baru yang dibuat khusus, beliau memilih menggunakan cincin “daur ulang” – milik mendiang Uskup Agung Pasquale Macchi, sekretaris pribadi Paus Paulus VI.
Cincin tersebut terbuat dari perak berlapis emas, bukan emas murni seperti tradisi umumnya. Keputusan ini mencerminkan sikap Paus yang menolak kemewahan, bahkan dalam simbol-simbol tertingginya.
Menurut Lamb, Vatikan menyebutnya sebagai “in-possession ring”, menandakan bahwa cincin itu dulunya berada dalam kepemilikan pribadi dan kemudian diberikan kepada Fransiskus.
Ciuman, Kontroversi, dan Simbol Otoritas
Di luar makna administratif dan sejarahnya, Cincin Nelayan juga berfungsi sebagai simbol otoritas Paus di hadapan umat. Selama masa pontifikatnya, Paus Fransiskus mengenakannya dalam upacara-upacara resmi, tetapi lebih memilih mengenakan cincin perak sederhana – peninggalan masa kardinalnya – dalam keseharian.
Namun, hubungan Fransiskus dengan cincin ini tak lepas dari kontroversi. Pada 2019, sebuah video viral memperlihatkan momen ketika beliau menarik tangannya berulang kali saat umat mencoba mencium cincinnya. Hal ini menimbulkan perdebatan luas di media sosial, hingga Vatikan mengklarifikasi bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran kuman.
Meski proses ‘penghilangan kekuatan simbolik’ Cincin Nelayan akan dilakukan dalam waktu dekat, nasib akhirnya setelah pemilihan Paus baru masih menjadi misteri. Seperti banyak elemen dalam konklaf, informasi soal penyimpanan atau perlakuan terhadap cincin bekas Paus tetap dirahasiakan.
(luc/luc)
-

Menlu Sugiono Kunjungi Kedubes Vatikan, Beri Pesan Duka Wafatnya Paus Fransiskus
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan rasa duka atas wafatnya Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus saat berkunjung ke Kedutaan Besar (Kedubes) Vatikan di Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Sugiono menyebut berpulangnya Paus Fransiskus merupakan kehilangan besar bagi dunia atas seorang teladan agung dalam kasih sayang dan perdamaian.
“Paus Fransiskus adalah seorang figur menonjol dalam cinta kasih, integritas moral, dukungan bagi perdamaian, dan solidaritas bagi kaum papa dan yang terpinggirkan,” kata Sugiono, dikutip Antara, Selasa (22/4/2025).
Dalam pernyataan yang ditulisnya pada buku duka cita, Sugiono memandang kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 lalu “akan selalu dikenang sebagai momen harapan dan persatuan” bagi Indonesia dan seluruh dunia.
Ia juga menyatakan harapan supaya Sri Paus beristirahat dalam kedamaian abadi.
Dalam kunjungannya tersebut, Sugiono berkesempatan menyampaikan langsung belasungkawa atas wafatnya Paus kepada Duta Besar Vatikan (Nunsius Apostolik) untuk Indonesia Monsinyur (Mgr) Piero Pioppo.
Setelah menulis pernyataan berkabungnya pada buku duka cita, Sugiono dan Pioppo menyempatkan diri berbincang mengenai Paus Fransiskus selama beberapa saat.
Nunsiatur Apostolik Takhta Suci Vatikan di Jakarta pada Selasa membuka pintunya bagi masyarakat Indonesia yang hendak menyampaikan duka cita atas wafatnya Paus Fransiskus. Ratusan pelayat
Selain Sugiono, Menteri Agama Nasaruddin Umar diketahui menjadi pejabat Kabinet Merah Putih lain yang hadir menyampaikan belasungkawa secara langsung di Kedubes Vatikan pada Selasa.
Sejumlah karangan bunga duka cita, di antaranya dari Presiden RI Prabowo Subianto, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, juga tampak berjejer di dalam kompleks kedutaan besar Vatikan tersebut.
Vatikan pada Senin (21/4/2025) mengumumkan bahwa Paus Fransiskus meninggal karena stroke yang diikuti koma dan gagal jantung.
Melalui surat kematian, dokter Vatikan Andrea Arcangeli mengatakan penyebab kematian Paus Fransiskus telah diidentifikasi sebagai stroke, diikuti koma dan kolaps kardiosirkulasi atau gagal jantung yang tidak dapat disembuhkan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/5194972/original/004966900_1745314573-paus-fransiskus-meninggal-dunia-harga-emas-antam-tembus-rp2-juta-562026.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)