Tag: Paus Fransiskus

  • Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyerukan  pertobatan nasional di tengah maraknya praktik penyalahgunaan kekuasaan dan krisis lingkungan yang terus berulang di Indonesia.
    Ia menyinggung berbagai kasus korupsi kepala daerah yang kerap muncul dalam pemberitaan sebagai tanda bahwa jabatan tidak dijalankan untuk mewujudkan kesejahteraan umum.
    “Kalau kita membaca berita, bupati ditangkap, gubernur ditangkap, itu menunjukkan jabatannya tidak dipakai untuk kebaikan bersama. Maka bangsa ini membutuhkan
    pertobatan nasional
    ,” kata Suharyo Misa Pontifikal Natal di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    Menurut dia, jabatan publik semestinya dipahami sebagai amanah untuk kebaikan bersama, bukan posisi yang diduduki demi kepentingan pribadi.
    “Ketika seseorang diberi kesempatan menjabat, harapannya bukan menduduki jabatan, tetapi mengemban amanah. Jabatan itu dipangku untuk kebaikan bersama, bukan digunakan untuk kepentingan diri sendiri,” kata Suharyo.
    Suharyo menjelaskan, pertobatan bukan sekadar peristiwa sesaat di akhir tahun, melainkan gaya hidup yang berakar pada iman.
    Dalam pandangan Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah, yang harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan sosial.
    “Sering kali, termasuk saya sendiri, kita tidak memuliakan Allah, tetapi memuliakan diri sendiri. Ketika itu terjadi, arah hidup harus diluruskan kembali. Itulah yang disebut pertobatan rohani,” ujar dia.
    Pertobatan nasional, lanjut dia, bukan sekadar slogan moral, melainkan upaya mengembalikan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
    Dasarnya tetap pertobatan batin, yakni memuliakan Allah dan membaktikan hidup bagi sesama serta tanah air.
    Selain pertobatan sosial dan politik, Suharyo juga menekankan pentingnya pertobatan ekologis yang akan menjadi perhatian Keuskupan Agung Jakarta pada 2026.
    Pertobatan ini menyangkut tanggung jawab manusia menjaga lingkungan hidup melalui tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
    “Misalnya, saat naik pesawat terbang yang menghasilkan emisi karbon tinggi, ada kesadaran untuk menyisihkan sebagian biaya guna memulihkan kerusakan lingkungan. Atau hal kecil seperti tidak membuang makanan dan mengurangi penggunaan plastik,” jelas Suharyo.
    Suharyo menegaskan, pertobatan ekologis menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, dari cara konsumsi hingga pola produksi, karena
    krisis lingkungan
    tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia itu sendiri.
    Ketika ditanya soal harapan terhadap penegak hukum di tengah maraknya korupsi dan kerusakan lingkungan, Suharyo menegaskan bahwa Gereja berbicara dalam ranah iman dan moral, bukan politik praktis.
    Namun, ia berharap para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sungguh-sungguh demi kesejahteraan dan kebaikan bersama.
    “Kerusakan alam itu kompleks dan menyangkut banyak kepentingan. Gereja menyampaikan pesan moral. Soal data, investigasi, dan penegakan hukum, itu menjadi tugas wartawan dan aparat penegak hukum,” kata Suharyo.
    Menurut dia, pesan Natal dan seruan pertobatan nasional sejatinya menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama hanya bisa diselamatkan jika manusia bersedia meluruskan kembali orientasi hidupnya dari memuliakan diri sendiri menuju bakti bagi sesama dan lingkungan.
    Mengutip ensiklik
    Laudato Si’
    Paus Fransiskus, Suharyo menekankan bahwa dunia adalah rumah bersama.
    Ketika yang kuat dan kaya merusak alam, mereka yang lemah dan miskin justru menanggung dampaknya.
    “Harapan kami sederhana, agar para pemimpin yang memanggul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” kata Suharyo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa bencana yang terjadi tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku manusia terhadap lingkungan.
    Hal itu disampaikan
    Kardinal Suharyo
    usai Misa Pontifikal
    Natal 2025
    di Gedung Karya Pastoral, Paroki Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    “Bencana-bencana yang kita alami ini tidak hanya karena faktor alam, tetapi juga karena peran manusia yang merusak lingkungan hidup,” ujar Suharyo.
    Menurut dia, Natal seharusnya menjadi momentum refleksi iman yang diwujudkan dalam tanggung jawab konkret terhadap sesama dan alam ciptaan.
    Ia menjelaskan, pesan Natal tahun ini menekankan bahwa makna keselamatan tidak berhenti pada perayaan liturgi, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk memulihkan dan menguatkan kehidupan bersama, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
    Kardinal menuturkan, kerusakan lingkungan merupakan persoalan global yang sangat kompleks, mulai dari konsumsi energi berlebihan hingga pemberian izin eksploitasi alam tanpa analisis dampak yang memadai.
    Mengutip ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Suharyo menyebut dunia sebagai “rumah bersama”, di mana kerusakan yang dilakukan kelompok kuat dan kaya sering kali ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin.
    “Pesan Gereja adalah pesan moral. Harapannya, para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo melanjutkan, Keuskupan Agung Jakarta pada 2026 akan memberi perhatian khusus pada isu lingkungan hidup melalui konsep “
    pertobatan ekologis
    ”.
    Pertobatan ekologis, kata dia, tidak selalu berbentuk tindakan besar, melainkan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
    Misalnya, mengurangi sampah makanan, membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, hingga menyisihkan dana untuk memulihkan lingkungan sebagai kompensasi emisi karbon saat bepergian.
    “Hal-hal kecil seperti itu adalah bentuk pertobatan yang menyentuh seluruh wilayah kehidupan manusia,” ujar Suharyo.
    Kardinal juga menyerukan pertobatan nasional untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, yang berakar pada pertobatan batin dan tanggung jawab moral.
    Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pertobatan bukan sekadar ritual sesaat, melainkan gaya hidup yang berlandaskan iman.
    “Dalam konsep Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah. Memuliakan Allah itu diwujudkan dalam ibadah, tetapi harus diterjemahkan secara konkret dalam bakti kepada sesama,” kata dia.
    Menurut Suharyo, kegagalan manusia memuliakan Allah kerap muncul dalam bentuk memuliakan diri sendiri, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan.
    “Jabatan itu bukan untuk diduduki demi kepentingan pribadi, melainkan dipangku sebagai amanah untuk kebaikan bersama. Ketika jabatan digunakan untuk diri sendiri, di situlah akar banyak persoalan, termasuk korupsi,” ujar dia.
    Dalam kesempatan yang sama, Kardinal Suharyo menjelaskan mekanisme solidaritas Gereja Katolik dalam membantu korban
    bencana alam
    , khususnya di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
    Ia menyebut, melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seluruh keuskupan dan paroki di Indonesia menggalang dana lewat kolekte khusus.
    Dana tersebut kemudian dikelola dan disalurkan melalui Caritas Indonesia, lembaga gereja yang fokus pada penanganan kebencanaan.
    “Namun, karena kebutuhan sangat besar dan mendesak, beberapa keuskupan juga menyalurkan bantuan langsung ke keuskupan setempat, seperti Padang, Sibolga, dan wilayah Aceh,” kata dia.
    Menurut Suharyo, pemulihan pascabencana bukan proses singkat.
    Berdasarkan berbagai kajian, proses pemulihan sosial, ekonomi, hingga persoalan pertanahan dan trauma korban bisa memakan waktu 20 hingga 25 tahun.
    “Ini bukan soal satu atau dua bulan. Membayangkan rumah tertimbun longsor saja sudah sulit, apalagi mengembalikan kehidupan seperti semula,” ujar dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025 Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Ketidakadilan hingga Korupsi dalam Pesan Natal 2025
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menyoroti persoalan ketidakadilan, korupsi, dan keserakahan yang dinilai kian menggerus nilai kemanusiaan dalam Pesan Natal 2025.
    Ia menegaskan, Gereja tidak boleh diam menghadapi berbagai persoalan sosial yang merugikan masyarakat luas.
    “Dalam konteks tata kelola kehidupan bersama yang tidak baik, Gereja harus berani menyuarakan suara kenabian tentang ketidakadilan, korupsi, dan berbagai bentuk penyimpangan,” ujar Kardinal Suharyo usai Misa Pontifikal Natal di Gedung Karya Pastoral, Kompleks Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta itu menjelaskan, pesan Natal tahun ini memuat dua pokok utama.
    Pertama, Pesan Natal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.”
    Kedua, Pesan Natal khusus Keuskupan Agung Jakarta berjudul “Gereja Merawat Kemanusiaan, Keadilan, dan Kelestarian Alam.”
    Menurut Kardinal Suharyo, istilah “menyelamatkan” dalam perayaan Natal tidak semata dimaknai secara spiritual, melainkan juga sebagai proses pemulihan dan penguatan kehidupan manusia dalam berbagai aspek.
    “Yang diharapkan pulih dan kuat bukan hanya kehidupan rohani, tetapi juga kehidupan berkeluarga, komunitas, masyarakat, dan bangsa,” kata dia.
    Kardinal menilai, konteks perayaan
    Natal 2025
    tidak terlepas dari berbagai tantangan serius yang dihadapi Indonesia.
    Mulai dari bencana alam yang sebagian dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, hingga persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks.
    Suharyo juga menyinggung situasi pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu tahun, tetapi masih dihadapkan pada tantangan besar terkait kesejahteraan rakyat, demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, penegakan hukum yang adil, serta tata kelola pemerintahan yang bersih.
    “Setiap hari kita membaca berita-berita tentang persoalan ekonomi dan sosial yang sangat pelik. Inilah konteks kita hari ini,” ujar dia.
    Dalam situasi tersebut, Suharyo menyebutkan bahwa Gereja dipanggil untuk hadir sebagai jembatan di tengah masyarakat.
    Gereja tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mendoakan para pemimpin dan pemegang mandat rakyat agar bekerja sungguh-sungguh demi kesejahteraan bersama.
    Mengutip Paus Fransiskus, Suharyo menyebut ada tiga persoalan besar ketidakadilan yang perlu mendapat perhatian serius, yakni ketidakadilan struktural, korupsi, dan apa yang disebut sebagai “berhala” zaman modern.
    “Berhala hari ini bukan lagi batu atau pohon, melainkan uang dan keserakahan,” ujar dia.
    Ia menegaskan, jika Gereja berbicara tentang korupsi dan keadilan, Gereja juga harus memastikan dirinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang disuarakan.
    Demikian pula dalam isu lingkungan hidup, diperlukan langkah konkret untuk ikut merawat dan melestarikan alam.
    Suharyo mencontohkan, salah satu bentuk nyata kepedulian Gereja terhadap kemanusiaan terlihat dari solidaritas lintas keuskupan dalam membantu korban bencana alam.
    Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia, seluruh keuskupan dan paroki secara serentak mengumpulkan dana bagi korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan sejumlah wilayah Asia Tenggara.
    “Dalam 75 tahun hidup saya, belum pernah ada gerakan solidaritas seperti ini. Ini menunjukkan kepedulian tanpa pamrih,” katanya.
    Dalam sesi tanya jawab, Suharyo juga menyinggung makna pertobatan di akhir tahun.
    Menurut dia, pertobatan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan gaya hidup yang diwujudkan dalam bakti kepada sesama.
    “Dalam kehidupan sosial, pertobatan berarti memahami jabatan sebagai amanah, bukan sekadar posisi. Ketika jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi, itulah yang sering kita lihat dalam berbagai kasus korupsi,” ujarnya.
    Karena itu, Suharyo menilai bangsa Indonesia membutuhkan apa yang ia sebut sebagai “
    pertobatan nasional
    ”, yakni kembali pada cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan mengutip pernyataan Paus Fransiskus ketika khotbah dalam Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Ia menuturkan, mendiang
    Paus Fransiskus
    pernah menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan
    korupsi
    yang dinilai merendahkan martabat manusia serta berakibat merusak masa depan.
    “Mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa yaitu bertindak-tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucap
    Kardinal Suharyo
    .
    “Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan karena keserakahan yang zalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah skandal publik yang berat,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo lalu menyebut bahwa dalam dunia dewasa ini, banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” kata Kardinal.
    Oleh sebab itu, ia memperingatkan betapa mengerikannya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur Kardinal Suharyo.
    Ia menuturkan, Paus Fransiskus berpandangan, kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara tidak bermoral tidak akan membawa kekuasaan yang langgeng.
    “Lebih menumpuk kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun tetap berkuasa dan tidak mati,” ujar Kardinal.
    Ia berharap, Perayaan
    Natal 2025
    membuat jemaat terdorong untuk semakin rajin mencari jalan-jalan baru untuk berbuat baik.
    Menurut dia, semakin banyak ragam perbuatan baik semakin banyak pula tanda-tanda pengharapan yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus.
    “Sekali lagi selamat merayakan Natal dan selamat menyambut tahun baru 2026 tahun baru yang kita harapkan penuh pengharapan. Tuhan memberkati,” kata Kardinal Suharyo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan pesan dalam khotbah Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Mengawali khotbahnya,
    Kardinal Suharyo
    mengucapkan selamat
    Hari Raya Natal
    dan mengharapkan Firman Yesus hadir di antara jemaat serta menjadi terang sepanjang hidup.
    “Saudari saudaraku yang terkasih. Tetapi nyatanya manusia tidak sepenuhnya menerima terang itu, melainkan sering memilih untuk hidup di dalam kegelapan,” kata Kardinal Suharyo.
    Akibatnya, manusia yang mestinya bermartabat luhur dan mulia merendahkan martabatnya sendiri ketika membiarkan hidupnya dipimpin oleh kegelapan.
    “Buahnya kita semua tahu adalah semakin luntur dan merosotnya moralitas kehidupan,” ucapnya.
    Kardinal Suharyo menuturkan, perendahan martabat manusia terjadi sepanjang sejarah umat manusia sejak awal.
    Ia lalu mengutip pernyataan mendiang Paus Fransiskus yang menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan korupsi yang dinilainya merendahkan martabat manusia.
    “Inilah yang terungkap, misalnya, di dalam tindakan-tindakan yang tidak bermartabat seperti yang diangkat oleh mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa, yaitu bertindak tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucapnya.
    Masih mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo menyebut di dalam dunia dewasa ini banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” imbuhnya.
    Kardinal Suharyo memperingatkan betapa pentingnya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Peduli Lingkungan, Gereja di Surabaya Buat Pohon Natal dari Botol Plastik Bekas
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        24 Desember 2025

    Peduli Lingkungan, Gereja di Surabaya Buat Pohon Natal dari Botol Plastik Bekas Surabaya 24 Desember 2025

    Peduli Lingkungan, Gereja di Surabaya Buat Pohon Natal dari Botol Plastik Bekas
    Tim Redaksi
    SURABAYA, KOMPAS.com
    – Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya memanfaatkan botol plastik bekas untuk dijadikan pohon Natal yang dipajang di halaman gereja.
    Pohon dengan tinggi kurang lebih 12 meter tersebut terlihat menjulang dari Jalan Kepanjen, Krembangan,
    Surabaya
    . Warna putihnya membuat orang yang melintas pun menoleh.
    “Baru semingguan ini pohon Natalnya berdiri,” kata salah seorang petugas keamanan Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya, Adam, Rabu (24/12/2025).
    Dari dekat, terlihat jelas pohon Natal tersebut disusun dari ratusan botol plastik berbagai kemasan. Ditambah hiasan kotak kado yang dibuat dari beberapa barang bekas.
    Beberapa jemaat gereja yang berniat untuk berkunjung pun, mengabadikan
    pohon Natal dari botol bekas
    itu dengan kamera ponselnya, sebelum pergi meninggalkan gereja.
    Ketua Panitia Natal Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya, Baby Margaretha mengatakan, proses pembuatan pohon Natal tersebut membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
    “Kita di gereja itu ada bank sampah jadi kita memilahnya di situ. Pembuatannya maksimal sebulan, karena sudah terkumpul tinggal memilahnya,” kata Baby saat dikonfirmasi.
    “Yang membuat umat gereja dari berbagai komponen yang turut mengerjakan pohon Natal raksasa ini. Kalau kado itu daur ulang spanduk yang sudah enggak dipakai,” tambahnya.
    Baby menyebut, pihaknya ingin menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan. Hal itu sesuai dengan ajaran Paus Fransiskus tentang Laudato Si atau merawat bumi.
    “Jadi Laudato Si itu upaya bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dan kita juga diberi kesempatan oleh gereja untuk terlibat menjaga lingkungan bersama-sama,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Paus Tunjuk Uskup di Henan, China Siap Bekerja Sama dengan Vatikan

    Paus Tunjuk Uskup di Henan, China Siap Bekerja Sama dengan Vatikan

    JAKARTA – Pemerintah China menyatakan siap bekerja sama dengan Takhta Suci Vatikan yang dipimpin Paus Leo XIV, termasuk dalam penunjukan uskup di Tiongkok, salah satunya di Kota Xinxiang, Provinsi Henan.

    “China siap bekerja sama dengan Vatikan untuk terus meningkatkan hubungan kedua belah pihak,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin, 8 Desember dilansir ANTARA.

    Takhta Suci Vatikan pada Jumat (5/12) menyampaikan secara resmi Paus Leo XIV menunjuk Francis Li Jianlin sebagai Uskup Prefektur Apostolik Xinxiang, Provinsi Henan, China, sejak 11 Agustus 2025.

    Pencalonan tersebut juga disetujui dalam “Perjanjian Sementara antara Takhta Suci Vatikan dan Republik Rakyat China.” Selain itu, pengunduran diri Uskup Joseph Zhang Weizhu juga telah disetujui.

    Zhang Weizhu diketahui merupakan anggota Gereja Katolik China “bawah tanah” yang tidak diakui pemerintah China.

    Pengakuan pengunduran diri Uskup Joseph Zhang Weizhu disebut Direktur Kantor Pers Takhta Suci Vatikan, Matteo Bruni, pada Sabtu (6/12), sebagai hasil dialog antara Takhta Suci dan pemerintah China serta langkah penting dalam perjalanan gerejawi.

    “Selama beberapa tahun terakhir, China dan Vatikan telah menjaga komunikasi serta meningkatkan pemahaman dan saling percaya melalui dialog konstruktif,” tambah Guo Jiakun.

    Uskup Francis Li Jianlin lahir pada 9 Juli 1974 di Kota Huixian, Provinsi Henan, dari keluarga Katolik. 

    Dari September 1990 hingga Juni 1999, ia mengikuti pembinaan imam di seminari Zhengding dan kemudian di seminari Yixian, Provinsi Hebei.

    Pada 23 Juli 1999, Li Jianlin menerima tahbisan imam dari Uskup Nicola Shi Jingxian dari Shangqiu untuk Prefektur Apostolik Xinxiang.

    Ia kemudian menjabat Pastor Paroki Qinyang (1999-2000), membentuk seminari wilayah hukum sejak 2000, dan sejak 2011 menjabat sebagai Pastor Paroki di Jiaozuo.

    China dan Takhta Suci Vatikan memutuskan hubungan diplomatik pada 1951. Vatikan juga merupakan satu-satunya negara Eropa yang memiliki hubungan resmi dengan Taiwan.

    Namun, di bawah Paus Fransiskus, China dan Vatikan menandatangani perjanjian pada 2018, diperpanjang 2024, memungkinkan sekitar 12 juta umat Katolik di China memilih uskup, lalu meminta persetujuan Vatikan.

    Kesepakatan ini bertujuan mendekatkan umat Katolik di gereja resmi yang didukung negara dengan umat setia kepada Vatikan dan Paus sebagai pemimpin tertinggi gereja.

  • Mobil Paus Fransiskus Diubah Jadi Klinik Keliling untuk Rawat Anak Gaza

    Mobil Paus Fransiskus Diubah Jadi Klinik Keliling untuk Rawat Anak Gaza

    Jakarta

    Sebuah popemobile atau mobil khusus yang digunakan mendiang Paus Fransiskus diubah menjadi klinik kesehatan keliling di Gaza, Palestina. Klinik ini akan merawat anak-anak di Gaza, Palestina.

    Dilansir Reuters, Kamis (27/11/2025), mobil ini pernah dipakai Paus Fransiskus saat berkunjung ke Betlehem, Tepi Barat lebih dari satu dekade lalu. Adapun ide ini telah disetujui Paus Fransiskus sebelum wafat pada April 2025 lalu.

    Mobil ini dipercayakan kepada organisasi Katolik Caritas, yang mengawasi proyek konversi kendaraan yang diresmikan pada hari Selasa (25/11).

    “Kami senang bahwa kami memiliki kontribusi serius terhadap layanan kesehatan anak-anak di Gaza,” ujar Sekretaris Jenderal Caritas, Alistair Dutton, dalam konferensi pers di Betlehem.

    “Kendaraan ini menjadi bukti bahwa dunia tidak melupakan anak-anak Gaza,” kata Kardinal Anders Arborelius dari Stockholm.

    Sekretaris Jenderal Caritas Swedia, Peter Brune, mengatakan bahwa klinik keliling tersebut mampu merawat sekitar 200 anak per hari.

    Namun, belum jelas kapan kendaraan tersebut beroperasi di Gaza. Sebab, meskipun gencatan senjata masih berlaku, serangan udara Israel masih sering terjadi.

    (rdp/imk)

  • Patung Raksasa Paus Leo XIV Diresmikan di Peru, Tingginya 5 Meter!

    Patung Raksasa Paus Leo XIV Diresmikan di Peru, Tingginya 5 Meter!

    Hubungannya dengan wilayah ini berawal dari tahun 2014, ketika Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai uskup Keuskupan Chiclayo di departemen Lambayeque utara. Rute ini akan mencakup empat wilayah: Lambayeque, Piura, La Libertad, dan Callao.(Tangkapan Layar Video/REUTERS)

  • Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama

    Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama

    Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Chief Executive Officer Kompas Gramedia, Lilik Oetama menerima penghargaan medali Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus Leo XIV.
    Penghargaan tersebut diberikan kepada seseorang yang dinilai telah memberikan pelayanan luar biasa kepada Gereja Katolik dan Paus.
    Nunsius Apostolik Takhta Suci Vatikan di Indonesia Mgr Piero Pioppo menyematkan langsung medali tersebut kepada Lilik di di Kedutaan Besar Vatikan, Jakarta, pada Selasa (11/11/2025).
    Dalam penyematan tersebut hadir Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2016-2019) dan Menteri Perhubungan (2014-2016) Ignasius Jonan serta Menteri Kelautan dan Perikanan (2014-2019) Susi Pudjiastuti hadir pula dalam penyematan tersebut.
    “Saya sangat berkesan karena penghargaan ini diberikan oleh
    Paus Leo XIV
    ,” ujar
    Lilik Oetama
    seusai menerima penghargaan tersebut, dilansir dari
    Kompas.id
    .
    Medali yang diterimanya berbentuk salib berlapis emas dan di sisi depan terpahat figur Santo Petrus dan Santo Paulus.
    Sementara bagian lengan kiri salib bertuliskan Pro Ecclesia (untuk Gereja) dan lengan kanan bertuliskan Et Pontifice (dan Paus). Medali emas itu dipasangkan pada pita berwarna kuning-putih khas Vatikan.
    “(Medali itu diberikan) Karena dianggap telah ikut membantu (persiapan) kedatangan
    Paus Fransiskus
    ke Indonesia pada tahun lalu,” tambah Lilik Oetama.
    Medali Pro Ecclesia et Pontifice pertama kali dianugerahkan oleh Paus Leo XIII pada 17 Juli 1888 untuk memperingati 50 tahun tahbisan imamatnya.
    Kemudian pada Oktober 1898, penghargaan ini ditetapkan sebagai tanda kehormatan permanen bagi mereka yang dinilai berjasa bagi Gereja Katolik dan Paus.
    Penerima pertama dari Indonesia tercatat atas nama Barnabas Sarikromo pada 1928, seorang katekis yang mendampingi Romo Frans Van Lith SJ di Jawa.
    Sebelum penyematan penghargaan kepada para rohaniwan dan tokoh awam, Mgr Pioppo menyampaikan pesan perpisahan. Ia segera menempati penugasan baru sebagai Duta Besar Vatikan untuk Spanyol dan Kerajaan Andorra.
    Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia, Gereja Katolik, para diplomat, serta individu yang selama ini membantunya menjalankan tugas.
    “Syukur kepada Allah, terima kasih banyak, dan Tuhan memberkati,” ujarnya dalam bahasa Indonesia.
    Berita ini dilansir dari Kompas.id dengan judul ”
    Lilik Oetama Terima Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus

    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.