Tag: Nasaruddin Umar

  • Hadiri Perayaan Natal di JI-Expo, Pramono Ingatkan Keluarga Fondasi Bangsa

    Hadiri Perayaan Natal di JI-Expo, Pramono Ingatkan Keluarga Fondasi Bangsa

    Jakarta

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri perayaan Natal 2025 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Pramono mengatakan Natal kali ini berjalan damai.

    Perayaan Aktualisasi Nilai-nilai Natal 2025 ini dihadiri 14 ribu peserta. Selain Pramono, hadir juga Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dan Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    “Natal tahun ini benar-benar berlangsung dengan sejuk, damai, nyaman dan menggembirakan. Secara khusus saya juga ingin menyampaikan kepada masyarakat yang telah merayakan Natal penuh dengan rasa persatuan, kerukunan, gotong-royong dan di semua tempat berlangsung dengan sangat baik,” kata Pramono dalam sambutannya, Jumat (9/10/2026).

    Pramono kemudian mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membangun bangsa dan negara. Sebab dari keluarga, rasa sayang serta nilai kebajikan dibangun.

    “Tadi Kardinal telah menyampaikan bagaimana keluarga adalah inti dari bagaimana negara dan bangsa ini dibangun. Ada ruang-ruang tertanam, tempat cinta, rasa sayang, damai, iman dibangun, ditumbuhkan ruang-ruang di mana nilai kebajikan diwariskan dan solidaritas sosial dimulai,” ujarnya.

    Dia mengatakan keluarga bukan hanya unit sosial melainkan juga fondasi persaudaraan dalam kehidupan kota yang beragam. Dia menyebut karakter yang terbentuk dari lingkup keluarga dapat membentuk karakter sebuah kota.

    Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar bersyukur lantaran perayaan Natal kali ini peserta yang hadir banyak. Sebab organisasi gereja tingkat nasional atau aras berkumpul menjadi satu.

    “Kita bersyukur natal tahun ini luar biasa, natal bersama banyak. Seperti kita lihat tahun lalu masih banyak tempat-tempat masing-masing aras, tapi sekarang semua aras kumpul menjadi satu, Katolik, Kristen, menjadi satu, Kementerian Agama juga demikian ya pertama kali ini melakukan Natal bersama. Jadi Katolik, Protestan, pokoknya sama,” kata Nasaruddin.

    “Dan itu dipenuhi keakraban karena dihadiri bukan hanya satu aras saja tapi semuanya. Ini suatu mode kebersamaan yang perlu kita lestarikan. Dan yang paling penting buat saya pada DKI Jakarta ini luar biasa ya. Saya nggak bayangkan sebanyak ini yang datang karena sudah beberapa kali kita Natalan di tempat lain, di Senayan, tapi ini penuh. Ini karena kehebatan Pak Gubernur kita,” imbuhnya.

    Dalam perayaan Natal malam ini juga dilakukan penggalangan dana untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Total dana yang terkumpul mencapai Rp 300 juta lebih.

    (dek/whn)

  • 38 Ribu Peserta Padati Puncak HAB ke-80, Kemenag Galang Donasi Bencana Sumatra

    38 Ribu Peserta Padati Puncak HAB ke-80, Kemenag Galang Donasi Bencana Sumatra

    Liputan6.com, Jakarta – Sebanyak 38 ribu peserta memadati Lapangan Merdeka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (7/1/2026), dalam puncak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum penggalangan donasi untuk korban bencana di wilayah Sumatra.

    Kegiatan ini dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar, didampingi Bupati Bone Andi Asman Sulaiman selaku tuan rumah. Hadir pula jajaran Kementerian Agama RI, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid, tokoh lintas agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan dan daerah lain.

    Puncak HAB ke-80 di Sulsel diisi dengan Jalan Santai Kerukunan dan pembukaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Peserta kegiatan pun berasal dari berbagai unsur, mulai dari aparatur Kemenag, madrasah, Kantor Urusan Agama (KUA), pondok pesantren, hingga perwakilan umat lintas agama mulai dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu, yang membaur tanpa sekat.

    Sebelum pelepasan peserta, hadirin disuguhi atraksi pencak silat dari santri Ponpes Darul Huffadh 77 Bone serta tarian barongsai dari Ponpes DDI Galesong Baru Makassar, yang menjadi simbol harmoni dalam keberagaman. Pelepasan peserta ditandai dengan penerbangan 80 balon sebagai simbol usia delapan dekade Kementerian Agama.

    “Peringatan HAB ke-80 ini bukan sekadar seremoni. Selain kerukunan yang begitu terasa, ini juga momentum untuk berbagi dan menunjukkan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

  • Menag Minta ASN Tak Jadi Penonton Kemajuan AI

    Menag Minta ASN Tak Jadi Penonton Kemajuan AI

    Jakarta: Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa umat beragama saat ini menghadapi tantangan Artificial Intelligence (AI) di era perubahan yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Menag minta jajaran Kementerian Agama tidak sekadar menjadi penonton, tapi mampu memberi warna substansi AI.

    “Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” pesan Menag saat menjadi inspektur Upacara Peringatan HAB ke-80 di halaman kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026.

    Upacara diikuti pejabat Eselon I dan II, serta ASN kantor pusat Kementerian Agama. Ikut juga dalam upacara, pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama. 

    “Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” sambungnya.

    Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Menag minta setiap ASN Kementerian Agama mampu bertransformasi menjadi pribadi yang “agile”, lincah dan sigap menghadapi perubahan, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif, cepat melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas. “Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman,” sebutnya.

    Menurut Menag, sejarah mencatat bahwa nilai agama pernah menjadi sumber pencerahan dunia yang luar biasa. Baitul Hikmah pada abad pertengahan pernah menjadi pusat intelektual global; bukan sekadar perpustakaan, melainkan pusat riset dan penerjemahan raksasa yang menjawab persoalan kehidupan melalui ilmu pengetahuan. 

    “Di sanalah nilai-nilai agama berpadu dengan rasionalitas untuk memajukan peradaban manusia. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali hari ini,” pesannya.

    HAB ke-80 Kementerian Agama mengangkat tema, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Menag mengajak jajaran Kementerian Agama untuk menyatukan tekad melanjutkan semangat Kemenag Berdampak dalam aksi nyata untuk kemajuan bangsa. 

    “Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” pesannya.

    “Selamat Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama. Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya pencerah bagi bangsa,” tandasnya.

    Jakarta: Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa umat beragama saat ini menghadapi tantangan Artificial Intelligence (AI) di era perubahan yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Menag minta jajaran Kementerian Agama tidak sekadar menjadi penonton, tapi mampu memberi warna substansi AI.
     
    “Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” pesan Menag saat menjadi inspektur Upacara Peringatan HAB ke-80 di halaman kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026.
     
    Upacara diikuti pejabat Eselon I dan II, serta ASN kantor pusat Kementerian Agama. Ikut juga dalam upacara, pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama. 

    “Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan, bukan pemicu disinformasi dan perpecahan,” sambungnya.
     
    Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Menag minta setiap ASN Kementerian Agama mampu bertransformasi menjadi pribadi yang “agile”, lincah dan sigap menghadapi perubahan, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif, cepat melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas. “Nilai-nilai ini sejatinya bukan hal baru, melainkan warisan luhur tradisi keagamaan yang perlu kita aktualkan kembali dalam konteks zaman,” sebutnya.
     
    Menurut Menag, sejarah mencatat bahwa nilai agama pernah menjadi sumber pencerahan dunia yang luar biasa. Baitul Hikmah pada abad pertengahan pernah menjadi pusat intelektual global; bukan sekadar perpustakaan, melainkan pusat riset dan penerjemahan raksasa yang menjawab persoalan kehidupan melalui ilmu pengetahuan. 
     
    “Di sanalah nilai-nilai agama berpadu dengan rasionalitas untuk memajukan peradaban manusia. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali hari ini,” pesannya.
     
    HAB ke-80 Kementerian Agama mengangkat tema, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Menag mengajak jajaran Kementerian Agama untuk menyatukan tekad melanjutkan semangat Kemenag Berdampak dalam aksi nyata untuk kemajuan bangsa. 
     
    “Dengan fondasi yang kokoh, semangat pengabdian yang berdampak, serta penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis mampu mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” pesannya.
     
    “Selamat Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama. Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya pencerah bagi bangsa,” tandasnya.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (CEU)

  • Kementerian Agama Gelar Donor Darah Antisipasi Kekurangan Stok Darah Saat Ramadan

    Kementerian Agama Gelar Donor Darah Antisipasi Kekurangan Stok Darah Saat Ramadan

    Jakarta: Kementerian Agama (Kemenag) memanfaatkan momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak stok darah di rumah sakit menjelang bulan suci Ramadan. Aksi donor darah yang digerakkan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag ini mendapat apresiasi langsung dari Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

    Menag menegaskan bahwa kegiatan ini sangat tepat waktu. “Sangat rutin kita melakukan donor darah sekarang ini. Pertama, karena bulan Ramadan sebentar lagi datang, dan keluhan rumah sakit adalah sulitnya mencari darah pada saat Ramadan,” ujar Nasaruddin Umar di Jakarta.

    Ia menjelaskan, donor darah sebelum Ramadan memiliki manfaat strategis untuk menjaga ketersediaan stok darah nasional. Imbauan ini sejalan dengan pesan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, yang kerap menyoroti penurunan stok darah selama bulan puasa.

    “Donor darah menjelang Ramadan seperti sekarang ini sangat-sangat bermanfaat. Pak Jusuf Kalla sendiri betul-betul mengimbau karena stok darah kita biasanya mengalami kekurangan pada bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memberikan kontribusi,” jelas Menag.

    Selain sebagai antisipasi Ramadan, aksi donor darah ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bakti Kemenag yang ke-80, yang diperingati setiap 3 Januari.

    Menag secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Dharma Wanita Persatuan Kemenag yang berhasil menggerakkan partisipasi secara luas dan sukarela. Peran serta aktif para perempuan dinilai sangat efektif.

    “Kami berterima kasih kepada ibu-ibu dan para perempuan. Karena kalau kami yang menghimbau, belum tentu bisa sebanyak ini yang terkumpul. Ternyata himbauan Dharma Wanita, ditambah para anggotanya yang ikut langsung berdonor, itu luar biasa,” tutur Nasaruddin Umar.

    Ia menambahkan, DWP telah menunjukkan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan kemanusiaan, khususnya dalam penyediaan darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Baca Juga :

    HUT ke-80 Kemenag: Menag Minta ASN Tak Jadi Penonton Kemajuan AI

    Jakarta: Kementerian Agama (Kemenag) memanfaatkan momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak stok darah di rumah sakit menjelang bulan suci Ramadan. Aksi donor darah yang digerakkan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag ini mendapat apresiasi langsung dari Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
     
    Menag menegaskan bahwa kegiatan ini sangat tepat waktu. “Sangat rutin kita melakukan donor darah sekarang ini. Pertama, karena bulan Ramadan sebentar lagi datang, dan keluhan rumah sakit adalah sulitnya mencari darah pada saat Ramadan,” ujar Nasaruddin Umar di Jakarta.
     
    Ia menjelaskan, donor darah sebelum Ramadan memiliki manfaat strategis untuk menjaga ketersediaan stok darah nasional. Imbauan ini sejalan dengan pesan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, yang kerap menyoroti penurunan stok darah selama bulan puasa.

    “Donor darah menjelang Ramadan seperti sekarang ini sangat-sangat bermanfaat. Pak Jusuf Kalla sendiri betul-betul mengimbau karena stok darah kita biasanya mengalami kekurangan pada bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memberikan kontribusi,” jelas Menag.
     
    Selain sebagai antisipasi Ramadan, aksi donor darah ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bakti Kemenag yang ke-80, yang diperingati setiap 3 Januari.
     
    Menag secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Dharma Wanita Persatuan Kemenag yang berhasil menggerakkan partisipasi secara luas dan sukarela. Peran serta aktif para perempuan dinilai sangat efektif.
     
    “Kami berterima kasih kepada ibu-ibu dan para perempuan. Karena kalau kami yang menghimbau, belum tentu bisa sebanyak ini yang terkumpul. Ternyata himbauan Dharma Wanita, ditambah para anggotanya yang ikut langsung berdonor, itu luar biasa,” tutur Nasaruddin Umar.
     
    Ia menambahkan, DWP telah menunjukkan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan kemanusiaan, khususnya dalam penyediaan darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (CEU)

  • Kemenag Serahkan Bantuan Rp10,2 Miliar untuk Korban Banjir Sumatera Barat

    Kemenag Serahkan Bantuan Rp10,2 Miliar untuk Korban Banjir Sumatera Barat

    Padang: Kementerian Agama menyerahkan bantuan bagi korban bencana alam di Sumatera Barat. Bantuan diserahkan oleh Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag Khairunas kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatra Barat dan UIN Imam Bonjol Padang.

    Irjen Kemenag, Khairunas menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ke Sumatera Barat ini sebagai wujud kehadiran negara dan solidaritas ASN Kementerian Agama terhadap warga terdampak banjir. Sebelumnya, bantuan juga sudah disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Aceh dan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i di Sumatera Utara.

    “Atas penugasan langsung Menteri Agama, saya hadir di Sumatera Barat untuk menyerahkan bantuan sekaligus memastikan negara hadir bagi ASN dan masyarakat terdampak,” jelas Khairunas di Padang, Selasa, 30 Desember 2025.

    Ia menegaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud empati, keikhlasan, dan ketulusan jajaran Kementerian Agama kepada masyarakat, lembaga keagamaan, serta ASN yang terdampak bencana. 

    “Menteri Agama dan jajaran tidak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak agar diberi kekuatan dan ketabahan. Doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual Kementerian Agama dalam mendampingi proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.

    Selain itu, Irjen Khairunas juga menyerahkan bantuan langsung kepada Pondok Pesantren Harakatul Qur’an dan Pondok Pesantren MTI Batang Kabung, masing-masing sebesar Rp100 juta.

    Bantuan tersebut disalurkan untuk mendukung pemulihan layanan pendidikan dan keagamaan, sekaligus membantu ASN Kementerian Agama yang terdampak langsung akibat bencana, termasuk guru madrasah, penyuluh agama, ASN di Kantor Urusan Agama (KUA), perguruan tinggi keagamaan, serta mahasiswa.
     

    “Dalam situasi bencana, yang paling utama adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan pelayanan. ASN Kementerian Agama tidak boleh dibiarkan menghadapi musibah sendirian,” tegasnya.

    Secara keseluruhan, bantuan pemerintah melalui APBN yang disalurkan untuk penanganan dampak bencana di Sumatera Barat mencapai Rp8,16 miliar. Bantuan tersebut diarahkan untuk rehabilitasi serta pemulihan sarana dan prasarana layanan keagamaan dan pendidikan.
     
    Bantuan Kemenag Peduli

    Selain itu, Kemenag juga menyalurkan bantuan melalui program Kemenag Peduli dengan total nilai Rp2,065 miliar. Bantuan tersebut meliputi transfer langsung sebesar Rp400 juta, pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang senilai Rp1 miliar, pembersihan ruang belajar terdampak bencana sebesar Rp500 juta, serta bantuan bagi 33 ASN terdampak masing-masing Rp5 juta, dengan total Rp165 juta.

    Dengan demikian, total keseluruhan bantuan Kementerian Agama untuk penanganan dampak bencana di Sumatera Barat mencapai Rp10,225 miliar.

    Padang: Kementerian Agama menyerahkan bantuan bagi korban bencana alam di Sumatera Barat. Bantuan diserahkan oleh Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag Khairunas kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatra Barat dan UIN Imam Bonjol Padang.
     
    Irjen Kemenag, Khairunas menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ke Sumatera Barat ini sebagai wujud kehadiran negara dan solidaritas ASN Kementerian Agama terhadap warga terdampak banjir. Sebelumnya, bantuan juga sudah disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Aceh dan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i di Sumatera Utara.
     
    “Atas penugasan langsung Menteri Agama, saya hadir di Sumatera Barat untuk menyerahkan bantuan sekaligus memastikan negara hadir bagi ASN dan masyarakat terdampak,” jelas Khairunas di Padang, Selasa, 30 Desember 2025.

    Ia menegaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud empati, keikhlasan, dan ketulusan jajaran Kementerian Agama kepada masyarakat, lembaga keagamaan, serta ASN yang terdampak bencana. 
     
    “Menteri Agama dan jajaran tidak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak agar diberi kekuatan dan ketabahan. Doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual Kementerian Agama dalam mendampingi proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.
     
    Selain itu, Irjen Khairunas juga menyerahkan bantuan langsung kepada Pondok Pesantren Harakatul Qur’an dan Pondok Pesantren MTI Batang Kabung, masing-masing sebesar Rp100 juta.
     
    Bantuan tersebut disalurkan untuk mendukung pemulihan layanan pendidikan dan keagamaan, sekaligus membantu ASN Kementerian Agama yang terdampak langsung akibat bencana, termasuk guru madrasah, penyuluh agama, ASN di Kantor Urusan Agama (KUA), perguruan tinggi keagamaan, serta mahasiswa.
     

     
    “Dalam situasi bencana, yang paling utama adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan pelayanan. ASN Kementerian Agama tidak boleh dibiarkan menghadapi musibah sendirian,” tegasnya.
     
    Secara keseluruhan, bantuan pemerintah melalui APBN yang disalurkan untuk penanganan dampak bencana di Sumatera Barat mencapai Rp8,16 miliar. Bantuan tersebut diarahkan untuk rehabilitasi serta pemulihan sarana dan prasarana layanan keagamaan dan pendidikan.
     

    Bantuan Kemenag Peduli

    Selain itu, Kemenag juga menyalurkan bantuan melalui program Kemenag Peduli dengan total nilai Rp2,065 miliar. Bantuan tersebut meliputi transfer langsung sebesar Rp400 juta, pengurangan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang senilai Rp1 miliar, pembersihan ruang belajar terdampak bencana sebesar Rp500 juta, serta bantuan bagi 33 ASN terdampak masing-masing Rp5 juta, dengan total Rp165 juta.
     
    Dengan demikian, total keseluruhan bantuan Kementerian Agama untuk penanganan dampak bencana di Sumatera Barat mencapai Rp10,225 miliar.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (PRI)

  • Terobosan Ekoteologi Makin Masif, Menyasar KUA, Masjid, hingga Majelis Taklim

    Terobosan Ekoteologi Makin Masif, Menyasar KUA, Masjid, hingga Majelis Taklim

    Jakarta: Kementerian Agama melakukan banyak terobosan sepanjang tahun 2025, termasuk dalam mewujudkan program prioritas ekoteologi hingga melibatkan pasangan pengantin dan anggota majelis taklim.

    Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad memaparkan lima program utama Bimas Islam dalam mendukung implementasi ekoteologi.

    Pertama, wakaf pohon bagi calon pengantin (catin). Melalui program ini, pasangan yang akan menikah diharapkan berkontribusi langsung terhadap penghijauan sebagai bagian dari persyaratan atau imbauan dalam bimbingan perkawinan. 

    “Program wakaf pohon oleh catin ini dibarengi dengan edukasi bimbingan perkawinan berwawasan kepedulian lingkungan,” ujar Abu Rokhmad dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Kebijakan Ekoteologi di Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.

    Kedua, ekspansi Hutan Wakaf. Kementerian Agama memperkuat infrastruktur hijau melalui pengembangan hutan wakaf yang saat ini telah tersebar di 11 titik lokasi dengan total luas mencapai 7.349 hektare. Lahan tersebut ditanami pohon produktif seperti durian, cengkeh, nangka, hingga gaharu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi ekologis.

    Kemudian yang ketiga, Masjid Ramah Lingkungan. Sebanyak 1.319 masjid di berbagai wilayah Indonesia diproyeksikan menjadi proyek percontohan (piloting) masjid ramah lingkungan. Program ini juga diperkuat dengan keterlibatan masyarakat melalui inisiasi Gerakan Majelis Taklim Peduli Bumi.

    Keempat, transformasi Kantor Urusan Agama (KUA) berkonsep green building. Pada 2025, Kementerian Agama menargetkan pembangunan 1.753 KUA berkonsep ramah lingkungan, meningkat 154 unit dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 1.599 unit. KUA tersebut akan mengusung konsep green building, layanan ramah lingkungan, serta pemanfaatan energi terbarukan.
     

    Lalu yang terakhir, gerakan Majelis Taklim Peduli Bumi, yang menyasar individu dan komunitas melalui majelis taklim di seluruh Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan aksi nyata menjaga lingkungan.

    Penguatan Ekoteologi menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam banyak kesempatan, Menteri Agama mengungkapkan pentingnya ekoteologi bagi keberlangsungan hidup manusia. Menurutnya, manusia tidak bisa hidup ideal tanpa alam. Penguatan ekoteologi dapat memperlambat datangnya bencana ekologis.

    Menag juga menuturkan bahwa isu ekoteologi yang dideklarasikan Kementerian Agama setahun lalu kini telah menjadi perhatian internasional. Paus Leo dalam sebuah pertemuan di Vatikan mengatakan bahwa hanya bahasa agama yang bisa meredam amukan alam, bukan bahasa hukum, bukan bahasa politik, dan bukan bahasa birokrasi. Karena di situ ada unsur dosa bagi perusak alam dan pahala bagi yang memelihara alam.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyampaikan, pada 2026, Kementerian Agama akan menyusun petunjuk teknis (juknis) implementasi ekoteologi. Ia menekankan pentingnya kesiapan Ditjen Bimas Islam yang memiliki puluhan ribu penceramah, masjid, dan KUA. “Strategi implementasi ekoteologi harus sudah dipikirkan sejak 2025 ini,” pungkasnya.

    Jakarta: Kementerian Agama melakukan banyak terobosan sepanjang tahun 2025, termasuk dalam mewujudkan program prioritas ekoteologi hingga melibatkan pasangan pengantin dan anggota majelis taklim.
     
    Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad memaparkan lima program utama Bimas Islam dalam mendukung implementasi ekoteologi.
     
    Pertama, wakaf pohon bagi calon pengantin (catin). Melalui program ini, pasangan yang akan menikah diharapkan berkontribusi langsung terhadap penghijauan sebagai bagian dari persyaratan atau imbauan dalam bimbingan perkawinan. 

    “Program wakaf pohon oleh catin ini dibarengi dengan edukasi bimbingan perkawinan berwawasan kepedulian lingkungan,” ujar Abu Rokhmad dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Kebijakan Ekoteologi di Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.
     
    Kedua, ekspansi Hutan Wakaf. Kementerian Agama memperkuat infrastruktur hijau melalui pengembangan hutan wakaf yang saat ini telah tersebar di 11 titik lokasi dengan total luas mencapai 7.349 hektare. Lahan tersebut ditanami pohon produktif seperti durian, cengkeh, nangka, hingga gaharu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi ekologis.
     
    Kemudian yang ketiga, Masjid Ramah Lingkungan. Sebanyak 1.319 masjid di berbagai wilayah Indonesia diproyeksikan menjadi proyek percontohan (piloting) masjid ramah lingkungan. Program ini juga diperkuat dengan keterlibatan masyarakat melalui inisiasi Gerakan Majelis Taklim Peduli Bumi.
     
    Keempat, transformasi Kantor Urusan Agama (KUA) berkonsep green building. Pada 2025, Kementerian Agama menargetkan pembangunan 1.753 KUA berkonsep ramah lingkungan, meningkat 154 unit dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 1.599 unit. KUA tersebut akan mengusung konsep green building, layanan ramah lingkungan, serta pemanfaatan energi terbarukan.
     

     
    Lalu yang terakhir, gerakan Majelis Taklim Peduli Bumi, yang menyasar individu dan komunitas melalui majelis taklim di seluruh Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan aksi nyata menjaga lingkungan.
     
    Penguatan Ekoteologi menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam banyak kesempatan, Menteri Agama mengungkapkan pentingnya ekoteologi bagi keberlangsungan hidup manusia. Menurutnya, manusia tidak bisa hidup ideal tanpa alam. Penguatan ekoteologi dapat memperlambat datangnya bencana ekologis.
     
    Menag juga menuturkan bahwa isu ekoteologi yang dideklarasikan Kementerian Agama setahun lalu kini telah menjadi perhatian internasional. Paus Leo dalam sebuah pertemuan di Vatikan mengatakan bahwa hanya bahasa agama yang bisa meredam amukan alam, bukan bahasa hukum, bukan bahasa politik, dan bukan bahasa birokrasi. Karena di situ ada unsur dosa bagi perusak alam dan pahala bagi yang memelihara alam.
     
    Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyampaikan, pada 2026, Kementerian Agama akan menyusun petunjuk teknis (juknis) implementasi ekoteologi. Ia menekankan pentingnya kesiapan Ditjen Bimas Islam yang memiliki puluhan ribu penceramah, masjid, dan KUA. “Strategi implementasi ekoteologi harus sudah dipikirkan sejak 2025 ini,” pungkasnya.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (PRI)

  • Ini Isi Pesan Menteri Agama di Awal Tahun Baru 2026

    Ini Isi Pesan Menteri Agama di Awal Tahun Baru 2026

    Liputan6.com, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat untuk menguatkan doa bagi para korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

    Ajakan tersebut disampaikannya saat menghadiri muhasabah malam akhir 2025 dan awal 2026 bertajuk Indonesia Berdzikir di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur, Rabu 31 Desember 2025.

    “Kita menaruh perhatian dan doa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” ujar Nasaruddin, seperti dikutip Kamis (1/1/2026).

    “Ribuan jiwa telah dipanggil Allah SWT. Kita doakan semoga mereka wafat dalam keadaan husnul khatimah dan tergolong syahid di jalan Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesehatan, dan pemulihan secepatnya,” lanjutnya.

    Imam Besar Masjid Istiqlal ini pun mengajak umat untuk menjadikan pergantian tahun baru sebagai momentum meningkatkan kualitas syukur. Sebab syukur tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, melainkan harus mendorong kepedulian dan berbagi kepada sesama.

    “Syukur sejati terwujud ketika nikmat itu mendorong kita untuk berbagi kepada sesama. Syukur tidak menunggu kaya. Sekecil apa pun yang kita miliki, selalu ada orang lain yang lebih membutuhkan,” terang Nasaruddin.

     

  • Solidaritas di Momen Natal, Bimas Kristen dan Katolik Gelar Festival Kasih Nusantara 2025

    Solidaritas di Momen Natal, Bimas Kristen dan Katolik Gelar Festival Kasih Nusantara 2025

    Jakarta: Kementerian Agama menggelar Festival Kasih Nusantara 2025. Kegiatan yang dirangkai dengan Perayaan Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik Kemenag digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.

    “Kegiatan ini bukan hanya perayaan, tetapi panggilan iman untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan,” kata Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung.

    Jeane mengatakan Festival Kasih Nusantara dihadiri sekitar 2.500 undangan secara langsung serta diikuti secara daring dengan mengusung tema “C-Light : Christmas Love in God, Harmony Together”.

    Ia menjelaskan tema tersebut mengajak umat Kristen dan Katolik untuk menghadirkan terang kasih Tuhan sebagai pemersatu, penguat solidaritas, serta peneguh harmoni kehidupan berbangsa.

    Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Natal dirayakan secara bersama dalam semangat kebersamaan oleh umat Kristen dan Katolik di lingkungan Kementerian Agama.

    Christmas in God dimaknai sebagai nilai keagamaan yang tidak hanya berhenti pada ritual semata, melainkan hadir nyata dalam pelayanan, empati, dan tanggung jawab sosial pada sesama. Sementara harmony together merepresentasikan komitmen negara untuk merawat ruang hidup bersama yang damai, inklusif dan saling menghormati. 

    Menurut Jeane, rangkaian kegiatan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan umat beragama, cinta kemanusiaan, layanan keagamaan berdampak, serta ekoteologi. “Kegiatan ini menjadi komitmen kami untuk terus memperkuat kerukunan dan cinta kemanusiaan melalui aksi nyata lintas iman,” ujarnya.
     

    Acara ini diawali dengan Ibadah Natal yang diikuti Aparatur Sipil Negara (ASN) Kristen dan Katolik Kemenag beserta keluarga serta perwakilan pimpinan Aras Gereja Nasional, para Pendeta, para Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK), Panitia Natal Nasional, Mahasiswa Kristen dan Katolik,   serta umat Kristen dan Katolik mulai dari anak sekolah Minggu sampai lansia di Jakarta dan sekitarnya.

    Ibadah Natal yang berlangsung selama satu jam tersebut, dipimpin oleh Pdt. Ivan Kristiono dan Romo RD. Kol. (Purn) Yos Bintoro sebagai pembawa Doa Syafaat. Rangkaian ibadah berlangsung dengan khidmat melalui puji-pujian, penyalaan lilin, penyampaian firman Tuhan, doa syukur, serta doa berkat, yang melibatkan kolaborasi lintas unit dan lembaga pendidikan keagamaan Kristen dan Katolik.

    Jeane menambahkan sebelum puncak Festival Kasih Nusantara digelar pihaknya juga telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya jalan sehat lintas agama, aksi sosial dan pembagian sembako kepada panti asuhan lintas agama, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar C-Light di Surabaya, Manado, dan Sorong, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
     
    Donasi untuk masyarakat korban bencana

    Lebih lanjut, Dirjen Bimas Katolik Suparman mengatakan dalam festival dan perayaan Natal tersebut Kemenag membuka donasi yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

    “Kami berharap kepada keluarga-keluarga kita di tiga provinsi itu, tetaplah berpengharapan bahwa semua ini akan kita lalui bersama-sama. Jika kita saling membahu dalam satu kesatuan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada yang tidak mustahil, semua bisa kita lalui bersama-sama,” katanya.

    Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi rangkaian Festival Kasih Nusantara yang diawali dengan berbagai kegiatan sosial selama beberapa bulan. Menag menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya dalam rangka peringatan Natal dan tahun baru bagi umat Kristen dan Katolik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan solidaritas kebangsaan.

    Menag menyampaikan bahwa Natal dan Tahun Baru sekarang dilaksanakan dalam suasana keprihatinan nasional, seiring musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia menekankan pentingnya doa dan aksi nyata bagi saudara sebangsa yang terdampak bencana.

    ​“Tidak ada perayaan Natal tahun ini tanpa doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalian tidak sendiri. Seluruh anak bangsa ikut bersama kalian,” ujar Menag. 

    Ia menambahkan bahwa selain doa, umat juga menunjukkan kepedulian melalui penggalangan bantuan yang dilakukan di berbagai daerah melalui program Kemenag Peduli.

    Menag mengimbau seluruh umat Kristen dan Katolik untuk menjadikan Natal sebagai momentum menebarkan energi positif. Ia juga mengajak untuk menjadikan Tahun 2026 sebagai lembaran baru. ​“Kita berdoa semoga tahun 2026 kita membuka lembaran sejarah yang lebih hebat lagi,” pungkasnya.

    Jakarta: Kementerian Agama menggelar Festival Kasih Nusantara 2025. Kegiatan yang dirangkai dengan Perayaan Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik Kemenag digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.
     
    “Kegiatan ini bukan hanya perayaan, tetapi panggilan iman untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan,” kata Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung.
     
    Jeane mengatakan Festival Kasih Nusantara dihadiri sekitar 2.500 undangan secara langsung serta diikuti secara daring dengan mengusung tema “C-Light : Christmas Love in God, Harmony Together”.

    Ia menjelaskan tema tersebut mengajak umat Kristen dan Katolik untuk menghadirkan terang kasih Tuhan sebagai pemersatu, penguat solidaritas, serta peneguh harmoni kehidupan berbangsa.
     
    Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Natal dirayakan secara bersama dalam semangat kebersamaan oleh umat Kristen dan Katolik di lingkungan Kementerian Agama.
     
    Christmas in God dimaknai sebagai nilai keagamaan yang tidak hanya berhenti pada ritual semata, melainkan hadir nyata dalam pelayanan, empati, dan tanggung jawab sosial pada sesama. Sementara harmony together merepresentasikan komitmen negara untuk merawat ruang hidup bersama yang damai, inklusif dan saling menghormati. 
     
    Menurut Jeane, rangkaian kegiatan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan umat beragama, cinta kemanusiaan, layanan keagamaan berdampak, serta ekoteologi. “Kegiatan ini menjadi komitmen kami untuk terus memperkuat kerukunan dan cinta kemanusiaan melalui aksi nyata lintas iman,” ujarnya.
     

     
    Acara ini diawali dengan Ibadah Natal yang diikuti Aparatur Sipil Negara (ASN) Kristen dan Katolik Kemenag beserta keluarga serta perwakilan pimpinan Aras Gereja Nasional, para Pendeta, para Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK), Panitia Natal Nasional, Mahasiswa Kristen dan Katolik,   serta umat Kristen dan Katolik mulai dari anak sekolah Minggu sampai lansia di Jakarta dan sekitarnya.
     
    Ibadah Natal yang berlangsung selama satu jam tersebut, dipimpin oleh Pdt. Ivan Kristiono dan Romo RD. Kol. (Purn) Yos Bintoro sebagai pembawa Doa Syafaat. Rangkaian ibadah berlangsung dengan khidmat melalui puji-pujian, penyalaan lilin, penyampaian firman Tuhan, doa syukur, serta doa berkat, yang melibatkan kolaborasi lintas unit dan lembaga pendidikan keagamaan Kristen dan Katolik.
     
    Jeane menambahkan sebelum puncak Festival Kasih Nusantara digelar pihaknya juga telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya jalan sehat lintas agama, aksi sosial dan pembagian sembako kepada panti asuhan lintas agama, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar C-Light di Surabaya, Manado, dan Sorong, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
     

    Donasi untuk masyarakat korban bencana

    Lebih lanjut, Dirjen Bimas Katolik Suparman mengatakan dalam festival dan perayaan Natal tersebut Kemenag membuka donasi yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
     
    “Kami berharap kepada keluarga-keluarga kita di tiga provinsi itu, tetaplah berpengharapan bahwa semua ini akan kita lalui bersama-sama. Jika kita saling membahu dalam satu kesatuan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada yang tidak mustahil, semua bisa kita lalui bersama-sama,” katanya.
     
    Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi rangkaian Festival Kasih Nusantara yang diawali dengan berbagai kegiatan sosial selama beberapa bulan. Menag menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya dalam rangka peringatan Natal dan tahun baru bagi umat Kristen dan Katolik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan solidaritas kebangsaan.
     
    Menag menyampaikan bahwa Natal dan Tahun Baru sekarang dilaksanakan dalam suasana keprihatinan nasional, seiring musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia menekankan pentingnya doa dan aksi nyata bagi saudara sebangsa yang terdampak bencana.
     
    ​“Tidak ada perayaan Natal tahun ini tanpa doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalian tidak sendiri. Seluruh anak bangsa ikut bersama kalian,” ujar Menag. 
     
    Ia menambahkan bahwa selain doa, umat juga menunjukkan kepedulian melalui penggalangan bantuan yang dilakukan di berbagai daerah melalui program Kemenag Peduli.
     
    Menag mengimbau seluruh umat Kristen dan Katolik untuk menjadikan Natal sebagai momentum menebarkan energi positif. Ia juga mengajak untuk menjadikan Tahun 2026 sebagai lembaran baru. ​“Kita berdoa semoga tahun 2026 kita membuka lembaran sejarah yang lebih hebat lagi,” pungkasnya.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (PRI)

  • Bersejarah! Kemenag Gelar Festival Kasih Nusantara 2025, Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik

    Bersejarah! Kemenag Gelar Festival Kasih Nusantara 2025, Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik

    Citra Larasati • 31 Desember 2025 05:00

    Jakarta: Kementerian Agama menggelar Festival Kasih Nusantara 2025. Kegiatan yang dirangkai dengan Perayaan Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik Kemenag digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.

    “Kegiatan ini bukan hanya perayaan, tetapi panggilan iman untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan,” kata Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung dalam keterangannya dikutip Rabu, 31 Desember 2025..

    Jeane mengatakan, Festival Kasih Nusantara dihadiri sekitar 2.500 undangan secara langsung serta diikuti secara daring dengan mengusung tema “C-Light : Christmas Love in God, Harmony Together”.

    Ia menjelaskan tema tersebut mengajak umat Kristen dan Katolik untuk menghadirkan terang kasih Tuhan sebagai pemersatu, penguat solidaritas, serta peneguh harmoni kehidupan berbangsa.

    Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Natal dirayakan secara bersama dalam semangat kebersamaan oleh umat Kristen dan Katolik di lingkungan Kementerian Agama.

    Christmas in God dimaknai sebagai nilai keagamaan yang tidak hanya berhenti pada ritual semata, melainkan hadir nyata dalam pelayanan, empati, dan tanggung jawab sosial pada sesama. Sementara harmony together merepresentasikan komitmen negara untuk merawat ruang hidup bersama yang damai, inklusif dan saling menghormati. 

    Menurut Jeane, rangkaian kegiatan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan umat beragama, cinta kemanusiaan, layanan keagamaan berdampak, serta ekoteologi.

    “Kegiatan ini menjadi komitmen kami untuk terus memperkuat kerukunan dan cinta kemanusiaan melalui aksi nyata lintas iman,” ujarnya.

    Acara ini diawali dengan Ibadah Natal yang diikuti Aparatur Sipil Negara (ASN) Kristen dan Katolik Kemenag beserta keluarga serta perwakilan pimpinan Aras Gereja Nasional, para Pendeta, para Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK), Panitia Natal Nasional, Mahasiswa Kristen dan Katolik,   serta umat Kristen dan Katolik mulai dari anak sekolah Minggu sampai lansia di Jakarta dan sekitarnya.

    Ibadah Natal yang berlangsung selama satu jam tersebut, dipimpin oleh Pdt. Ivan Kristiono dan Romo RD. Kol. (Purn) Yos Bintoro sebagai pembawa Doa Syafaat. Rangkaian ibadah berlangsung dengan khidmat melalui puji-pujian, penyalaan lilin, penyampaian firman Tuhan, doa syukur, serta doa berkat, yang melibatkan kolaborasi lintas unit dan lembaga pendidikan keagamaan Kristen dan Katolik.

    Jeane menambahkan, sebelum puncak Festival Kasih Nusantara digelar pihaknya juga telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya jalan sehat lintas agama, aksi sosial dan pembagian sembako kepada panti asuhan lintas agama, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar C-Light di Surabaya, Manado, dan Sorong, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.

    Sementara itu, Dirjen Bimas Katolik Suparman mengatakan dalam festival dan perayaan Natal tersebut Kemenag membuka donasi yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

    “Kami berharap kepada keluarga-keluarga kita di tiga provinsi itu, tetaplah berpengharapan bahwa semua ini akan kita lalui bersama-sama. Jika kita saling membahu dalam satu kesatuan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada yang tidak mustahil, semua bisa kita lalui bersama-sama,” katanya.

    Usai dilaksanakan ibadah Natal, Menteri Agama Nasaruddin Umar tampak tiba di lokasi acara bersama  dengan tokoh lintas agama, dan jajaran pejabat eselon I dan II Kemenag. Suasana kehangatan begitu terasa, ditambah dengan nyanyian “Laskar Pelangi” yang disumbangkan Wamenbud Giring Ganesha yang turut hadir dalam giat tersebut. 

    Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi rangkaian Festival Kasih Nusantara yang diawali dengan berbagai kegiatan sosial selama beberapa bulan. Menag menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya dalam rangka peringatan Natal dan tahun baru bagi umat Kristen dan Katolik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan solidaritas kebangsaan.

    Menag menyampaikan bahwa Natal dan Tahun Baru sekarang dilaksanakan dalam suasana keprihatinan nasional, seiring musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia menekankan pentingnya doa dan aksi nyata bagi saudara sebangsa yang terdampak bencana.

    ​“Tidak ada perayaan Natal tahun ini tanpa doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalian tidak sendiri. Seluruh anak bangsa ikut bersama kalian,” ujar Menag. Ia menambahkan bahwa selain doa, umat juga menunjukkan kepedulian melalui penggalangan bantuan yang dilakukan di berbagai daerah melalui program Kemenag Peduli.

    Menag lalu menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mengutamakan kurikulum cinta dan ekoteologi. Menurutnya, cinta tidak cukup dibicarakan, tetapi harus diukur dan diwujudkan dalam kebijakan, pendidikan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan hidup.

    Menag mengajak seluruh umat beragama untuk memandang alam semesta sebagai mitra kehidupan, bukan semata objek eksploitasi. Kepedulian terhadap manusia, tumbuhan, hewan, dan lingkungan menjadi indikator ketakwaan yang utuh dan berkeadaban.

    Menag mengimbau seluruh umat Kristen dan Katolik untuk menjadikan Natal sebagai momentum menebarkan energi positif. Menag juga mengajak untuk menjadikan Tahun 2026 sebagai lembaran baru. ​“Kita berdoa semoga tahun 2026 kita membuka lembaran sejarah yang lebih hebat lagi,” pungkasnya.

    Festival Kasih Nusantara menjadi penegasan bahwa praktik keberagamaan di Indonesia terus bergerak menuju arah yang inklusif, kolaboratif, dan penuh cinta kasih. Sinergi umat Kristen dan Katolik dalam perayaan ini mencerminkan wajah Indonesia yang rukun, berkeadaban, dan berlandaskan nilai kemanusiaan universal.

    Jakarta: Kementerian Agama menggelar Festival Kasih Nusantara 2025. Kegiatan yang dirangkai dengan Perayaan Natal Bersama ASN Kristen dan Katolik Kemenag digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin, 29 Desember 2025.
     
    “Kegiatan ini bukan hanya perayaan, tetapi panggilan iman untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan,” kata Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung dalam keterangannya dikutip Rabu, 31 Desember 2025..
     
    Jeane mengatakan, Festival Kasih Nusantara dihadiri sekitar 2.500 undangan secara langsung serta diikuti secara daring dengan mengusung tema “C-Light : Christmas Love in God, Harmony Together”.

    Ia menjelaskan tema tersebut mengajak umat Kristen dan Katolik untuk menghadirkan terang kasih Tuhan sebagai pemersatu, penguat solidaritas, serta peneguh harmoni kehidupan berbangsa.
     
    Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Natal dirayakan secara bersama dalam semangat kebersamaan oleh umat Kristen dan Katolik di lingkungan Kementerian Agama.
     
    Christmas in God dimaknai sebagai nilai keagamaan yang tidak hanya berhenti pada ritual semata, melainkan hadir nyata dalam pelayanan, empati, dan tanggung jawab sosial pada sesama. Sementara harmony together merepresentasikan komitmen negara untuk merawat ruang hidup bersama yang damai, inklusif dan saling menghormati. 
     
    Menurut Jeane, rangkaian kegiatan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan umat beragama, cinta kemanusiaan, layanan keagamaan berdampak, serta ekoteologi.
     
    “Kegiatan ini menjadi komitmen kami untuk terus memperkuat kerukunan dan cinta kemanusiaan melalui aksi nyata lintas iman,” ujarnya.
     
    Acara ini diawali dengan Ibadah Natal yang diikuti Aparatur Sipil Negara (ASN) Kristen dan Katolik Kemenag beserta keluarga serta perwakilan pimpinan Aras Gereja Nasional, para Pendeta, para Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK), Panitia Natal Nasional, Mahasiswa Kristen dan Katolik,   serta umat Kristen dan Katolik mulai dari anak sekolah Minggu sampai lansia di Jakarta dan sekitarnya.
     
    Ibadah Natal yang berlangsung selama satu jam tersebut, dipimpin oleh Pdt. Ivan Kristiono dan Romo RD. Kol. (Purn) Yos Bintoro sebagai pembawa Doa Syafaat. Rangkaian ibadah berlangsung dengan khidmat melalui puji-pujian, penyalaan lilin, penyampaian firman Tuhan, doa syukur, serta doa berkat, yang melibatkan kolaborasi lintas unit dan lembaga pendidikan keagamaan Kristen dan Katolik.
     
    Jeane menambahkan, sebelum puncak Festival Kasih Nusantara digelar pihaknya juga telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya jalan sehat lintas agama, aksi sosial dan pembagian sembako kepada panti asuhan lintas agama, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar C-Light di Surabaya, Manado, dan Sorong, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
     
    Sementara itu, Dirjen Bimas Katolik Suparman mengatakan dalam festival dan perayaan Natal tersebut Kemenag membuka donasi yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
     
    “Kami berharap kepada keluarga-keluarga kita di tiga provinsi itu, tetaplah berpengharapan bahwa semua ini akan kita lalui bersama-sama. Jika kita saling membahu dalam satu kesatuan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ada yang tidak mustahil, semua bisa kita lalui bersama-sama,” katanya.
     
    Usai dilaksanakan ibadah Natal, Menteri Agama Nasaruddin Umar tampak tiba di lokasi acara bersama  dengan tokoh lintas agama, dan jajaran pejabat eselon I dan II Kemenag. Suasana kehangatan begitu terasa, ditambah dengan nyanyian “Laskar Pelangi” yang disumbangkan Wamenbud Giring Ganesha yang turut hadir dalam giat tersebut. 
     
    Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengapresiasi rangkaian Festival Kasih Nusantara yang diawali dengan berbagai kegiatan sosial selama beberapa bulan. Menag menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya dalam rangka peringatan Natal dan tahun baru bagi umat Kristen dan Katolik, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan solidaritas kebangsaan.
     
    Menag menyampaikan bahwa Natal dan Tahun Baru sekarang dilaksanakan dalam suasana keprihatinan nasional, seiring musibah yang menimpa masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia menekankan pentingnya doa dan aksi nyata bagi saudara sebangsa yang terdampak bencana.
     
    ​“Tidak ada perayaan Natal tahun ini tanpa doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalian tidak sendiri. Seluruh anak bangsa ikut bersama kalian,” ujar Menag. Ia menambahkan bahwa selain doa, umat juga menunjukkan kepedulian melalui penggalangan bantuan yang dilakukan di berbagai daerah melalui program Kemenag Peduli.
     
    Menag lalu menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mengutamakan kurikulum cinta dan ekoteologi. Menurutnya, cinta tidak cukup dibicarakan, tetapi harus diukur dan diwujudkan dalam kebijakan, pendidikan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan hidup.
     
    Menag mengajak seluruh umat beragama untuk memandang alam semesta sebagai mitra kehidupan, bukan semata objek eksploitasi. Kepedulian terhadap manusia, tumbuhan, hewan, dan lingkungan menjadi indikator ketakwaan yang utuh dan berkeadaban.
     
    Menag mengimbau seluruh umat Kristen dan Katolik untuk menjadikan Natal sebagai momentum menebarkan energi positif. Menag juga mengajak untuk menjadikan Tahun 2026 sebagai lembaran baru. ​“Kita berdoa semoga tahun 2026 kita membuka lembaran sejarah yang lebih hebat lagi,” pungkasnya.
     
    Festival Kasih Nusantara menjadi penegasan bahwa praktik keberagamaan di Indonesia terus bergerak menuju arah yang inklusif, kolaboratif, dan penuh cinta kasih. Sinergi umat Kristen dan Katolik dalam perayaan ini mencerminkan wajah Indonesia yang rukun, berkeadaban, dan berlandaskan nilai kemanusiaan universal.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (CEU)

  • Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        30 Desember 2025

    Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu Nasional 30 Desember 2025

    Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan bahwa pendidikan berbasis Pancasila menjadi landasan disiplin ilmu demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
    Menurutnya, Indonesia perlu melahirkan kembali
    semangat Baitul Hikmah
    , di mana pendidikan yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan menjadi landasannya.
    “Kita ingin Indonesia melahirkan kembali semangat Baitul Hikmah, di mana
    pendidikan berbasis Pancasila
    , khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan bagi setiap disiplin ilmu,” kata Nasaruddin dalam sambutan dalam agenda Dirjen Pendidikan Islam di Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
    Menag, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini, mengatakan bahwa Indonesia tidak membutuhkan pendidikan sekuler yang kering dan kurikulum yang kaku.
    “Kita berada pada posisi geopolitik dan ekonomi yang stabil, dan momentum inilah yang harus kita manfaatkan untuk menanam bibit ideologi pendidikan yang lebih baik demi menyongsong Indonesia Emas,” ujarnya.
    Menag menekankan bahwa penerapan
    Kurikulum Cinta
    membutuhkan proses yang berkelanjutan atau
    ongoing process
    .
    “Kita tidak bisa menyelesaikannya dalam sekejap, melainkan harus terus disempurnakan tahun demi tahun,” ucapnya.
    Kurikulum Cinta merujuk pada sejarah keemasan Islam, seperti pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun yang mendirikan Baitul Hikmah.
    “Di sana tidak ada dualitas antara ilmu umum dan ilmu agama. Semua ilmu pengetahuan berakar pada nilai-nilai ketuhanan,” ucapnya.
    Nasaruddin menilai jika Kurikulum Cinta diterapkan, maka akhlak akan muncul secara otomatis tanpa perlu dipaksakan.
    “Rasa hormat murid kepada guru atau anak kepada orang tua akan lahir dari cinta yang mereka terima,” jelas dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.