Tag: Najwa Shihab

  • Pembunuhan Mahasiswa UMM, BEM Ancam Geruduk Polda Jatim

    Pembunuhan Mahasiswa UMM, BEM Ancam Geruduk Polda Jatim

    Malang (beritajatim.com) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM) mengambil sikap tegas terkait kasus pembunuhan yang menimpa Faradila Amalia Najwa, mahasiswa Jurusan Hukum UMM. Organisasi mahasiswa tersebut mengancam akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran jika Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur tidak transparan dalam memproses oknum aparat kepolisian yang menjadi pelaku pembunuhan.

    Pernyataan keras ini disampaikan usai perwakilan BEM UMM bersama jajaran BEM di lingkungan kampus melakukan audiensi langsung ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim, pada Kamis (7/1/2026).

    Menteri Politik, Hukum, dan HAM (Polhukam) BEM UMM, didampingi Dirjen Aksi dan Propaganda, menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam jika penegakan hukum berjalan lambat.

    “Jika hari ini Polda Jawa Timur tidak melakukan proses transparansi, profesionalitas, dan ketegasan dalam kasus ini, maka kami siap untuk turun melakukan demonstrasi di Polda Jawa Timur demi memperjuangkan keadilan bagi korban,” tegas perwakilan Polhukam BEM UMM dalam keterangan resminya pada Kamis (8/1/2026).

    Langkah audiensi ini diambil sebagai respons atas minimnya informasi publik terkait perkembangan kasus tewasnya Faradila, yang jasadnya ditemukan di Pasuruan beberapa waktu lalu. Kasus yang melibatkan oknum kepolisian ini dinilai jalan di tempat dan memicu keresahan di kalangan civitas akademika.

    Sebelum mendatangi Polda Jatim, BEM UMM bersama BEM Probolinggo telah lebih dulu melakukan takziah dan investigasi langsung ke kediaman keluarga korban di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, pada Senin (5/1/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa mendapatkan keterangan langsung mengenai kondisi keluarga dan perkembangan kasus. Pihak keluarga menyatakan kekecewaan mendalam terhadap lambatnya proses penegakan hukum yang berjalan.

    Selain bertemu keluarga, BEM UMM juga berdiskusi dengan kuasa hukum korban untuk memverifikasi sejauh mana langkah hukum yang telah ditempuh oleh penyidik.

    Presiden Mahasiswa BEM UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menjelaskan bahwa selama ini pihaknya berusaha menahan diri dan menghormati prosedur kepolisian. Namun, absennya pembaruan informasi membuat mahasiswa harus bergerak.

    “Selama ini kami telah menghargai pihak kepolisian untuk menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Tetapi, rasa-rasanya sampai hari ini kami menilai tidak ada perkembangan informasi pemberitaan lebih lanjut yang sekiranya dapat diberitahukan kepada publik,” ujar Wahyuddin.

    Wahyuddin menekankan bahwa kasus ini telah menjadi sorotan publik. Oleh karena itu, BEM UMM mengambil langkah cepat untuk meminta hasil perkembangan penanganan perkara serta menanyakan kejelasan terkait proses persidangan kode etik terhadap pelaku.

    Di tengah memanasnya isu ini, BEM UMM tetap meminta seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk mengawal kasus ini dengan bijak. Mereka mengimbau agar publik tetap menghormati privasi keluarga korban, terutama dalam memberikan komentar di media sosial, agar tidak menambah beban psikologis keluarga yang masih berduka.

    “BEM UMM meminta kepada seluruh pihak untuk mendoakan korban dan menghargai suasana keluarga korban. Kami juga mendesak Polda Jatim untuk mengusut tuntas kasus kematian almarhumah secara transparan dan profesional,” pungkas Wahyuddin dalam keterangan resmi. (dan/but)

     

  • Polda Jatim Pastikan Motif Pembunuhan Mahasiswa UMM Karena Ekonomi

    Polda Jatim Pastikan Motif Pembunuhan Mahasiswa UMM Karena Ekonomi

    Surabaya (beritajatim.com) – Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Widi Atmoko mengungkapkan motif terjadinya pembunuhan Faradila Amelia Najwa, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), karena tersangka Bripka Agus Sulaiman (anggota Intelkam Polsek Krucil, Polres Probolinggo) sakit hati dan memiliki keinginan menguasai harta milik korban.

    Widi menambahkan, motif sakit hati dan keinginan menguasai harta korban tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik Ditreskrimum. Selain itu, kata Widi, pihaknya juga menemukan jejak bahwa harta korban telah diambil.

    Terkait isu perselingkuhan sebagai faktor penyebab pembunuhan, sementara ini tidak ditemukan. Perbuatan pembunuhan sendiri terjadi di daerah Probolinggo dan diduga dilakukan secara terencana. “Pak Kapolda telah menyampaikan akan melakukan tindakan tegas dan tidak akan mengizinkan pidana sendiri,” tegasnya.

    Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Agus yang juga merupakan kakak ipar korban tidak bertindak sendirian, melainkan dibantu teman masa kecilnya, Suyitno. Agus telah menikahi kakak korban selama kurang lebih empat tahun dan memiliki satu anak bernama Air Langga.

    Mengenai dugaan pembayaran kepada Suyitno oleh Agus, Widi menjelaskan bahwa hal itu masih dalam pemeriksaan lanjutan karena keterangan yang ada masih berbeda. “Unsur-unsur lain selain motif yang sudah kami yakini sedang kami dalami dan akan ditindaklanjuti apabila terbukti,” katanya. [uci/kun]

  • Tampang Bripka Agus Saat Digelandang di Polda Jatim, Bunuh Adik Ipar Demi Harta

    Tampang Bripka Agus Saat Digelandang di Polda Jatim, Bunuh Adik Ipar Demi Harta

    GELORA.CO – Tim Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim berhasil mengungkap kasus pembunuhan tragis seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Faradila Amalia Najwa (21) di Pasuruan. 

    Pelaku utama ternyata adalah seorang oknum anggota kepolisian, Bripka Agus, yang merupakan anggota Unit Intelkam Polsek Krucil, Polres Probolinggo.

    Bripka Agus bersama rekannya, Suyitno, digelandang ke Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (22/12/2025) sekitar pukul 15.55 WIB. 

    Ia Mengenakan kaus tahanan oranye, Bripka Agus tampak tertunduk lesu dengan tangan terborgol saat menghindari sorotan kamera media.

    Baca juga: Bripka AS Ditangkap Polda Jatim Saat Tunggu Autopsi Mahasiswi UMM Faradila Amalia Najwa

    Penyidik Konfrontir Keterangan Pelaku yang Berbeda

    Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menyatakan bahwa kedua tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif. 

    Hingga saat ini, polisi masih menemukan adanya ketidaksesuaian keterangan antara Bripka Agus dan Suyitno terkait detail eksekusi pembunuhan.

    “Jadi hari ini kita konfrontir lagi ya. Karena ada beberapa keterangan dari kedua tersangka yang berbeda,” ujar AKBP Arbaridi Jumhur di lobi Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim.

    Untuk memperjelas gambaran kejahatan tersebut, pihak kepolisian berencana menggelar pra-rekonstruksi pada Selasa (23/12/2025) besok. 

    “Kami akan cek lokasi eksekusi, bagaimana cara mereka melakukan, hingga ide siapa yang membuang jenazah ke sungai,” tambah Jumhur.

    Motif Ekonomi: Ingin Menguasai Harta Korban

    Berdasarkan penyelidikan sementara, motif di balik pembunuhan keji ini diduga kuat adalah keinginan pelaku untuk menguasai harta korban. 

    Korban dikenal sebagai sosok “bendahara” di lingkungan keluarganya.

    Hubungan antara Bripka Agus (kakak ipar korban) dengan keluarga besar korban, termasuk sang ayah, Ramlan (60), memang diketahui sudah lama tidak harmonis. 

    Ramlan menyebut, anak bungsunya tersebut terakhir kali berkomunikasi pada 14 Desember 2025, saat berada di Malang.

    “Kalau dugaan keluarga karena memang ingin menguasai harta, mengingat anak saya ini kayak bendahara keluarga,” ungkap Ramlan dengan nada pedih saat ditemui di rumah duka.

    Kronologi Penemuan Jenazah

    Sebelum ditemukan meninggal dunia di wilayah Pasuruan, Faradila Amalia Najwa terlihat melalui rekaman CCTV kosnya dijemput oleh pengemudi ojek online. 

    Pihak keluarga baru mengetahui kabar duka tersebut, setelah dihubungi oleh Polres Pasuruan melalui identifikasi sidik jari korban pada 17 Desember 2025.

    Motor dan helm milik korban sendiri ditemukan masih berada di lokasi kosnya, yang memperkuat dugaan bahwa korban dibawa pergi secara paksa atau terencana oleh pihak tertentu sebelum akhirnya dieksekusi oleh para pelaku.

    Kini, Bripka Agus dan rekannya terancam hukuman berat serta sanksi pemecatan secara tidak hormat (PTDH) dari institusi Polri, jika terbukti bersalah dalam pembunuhan berencana tersebut

  • Tampang Bripka Agus Saat Digelandang di Polda Jatim, Bunuh Adik Ipar Demi Harta

    Tampang Bripka Agus Saat Digelandang di Polda Jatim, Bunuh Adik Ipar Demi Harta

    GELORA.CO – Tim Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim berhasil mengungkap kasus pembunuhan tragis seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Faradila Amalia Najwa (21) di Pasuruan. 

    Pelaku utama ternyata adalah seorang oknum anggota kepolisian, Bripka Agus, yang merupakan anggota Unit Intelkam Polsek Krucil, Polres Probolinggo.

    Bripka Agus bersama rekannya, Suyitno, digelandang ke Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (22/12/2025) sekitar pukul 15.55 WIB. 

    Ia Mengenakan kaus tahanan oranye, Bripka Agus tampak tertunduk lesu dengan tangan terborgol saat menghindari sorotan kamera media.

    Baca juga: Bripka AS Ditangkap Polda Jatim Saat Tunggu Autopsi Mahasiswi UMM Faradila Amalia Najwa

    Penyidik Konfrontir Keterangan Pelaku yang Berbeda

    Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menyatakan bahwa kedua tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif. 

    Hingga saat ini, polisi masih menemukan adanya ketidaksesuaian keterangan antara Bripka Agus dan Suyitno terkait detail eksekusi pembunuhan.

    “Jadi hari ini kita konfrontir lagi ya. Karena ada beberapa keterangan dari kedua tersangka yang berbeda,” ujar AKBP Arbaridi Jumhur di lobi Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim.

    Untuk memperjelas gambaran kejahatan tersebut, pihak kepolisian berencana menggelar pra-rekonstruksi pada Selasa (23/12/2025) besok. 

    “Kami akan cek lokasi eksekusi, bagaimana cara mereka melakukan, hingga ide siapa yang membuang jenazah ke sungai,” tambah Jumhur.

    Motif Ekonomi: Ingin Menguasai Harta Korban

    Berdasarkan penyelidikan sementara, motif di balik pembunuhan keji ini diduga kuat adalah keinginan pelaku untuk menguasai harta korban. 

    Korban dikenal sebagai sosok “bendahara” di lingkungan keluarganya.

    Hubungan antara Bripka Agus (kakak ipar korban) dengan keluarga besar korban, termasuk sang ayah, Ramlan (60), memang diketahui sudah lama tidak harmonis. 

    Ramlan menyebut, anak bungsunya tersebut terakhir kali berkomunikasi pada 14 Desember 2025, saat berada di Malang.

    “Kalau dugaan keluarga karena memang ingin menguasai harta, mengingat anak saya ini kayak bendahara keluarga,” ungkap Ramlan dengan nada pedih saat ditemui di rumah duka.

    Kronologi Penemuan Jenazah

    Sebelum ditemukan meninggal dunia di wilayah Pasuruan, Faradila Amalia Najwa terlihat melalui rekaman CCTV kosnya dijemput oleh pengemudi ojek online. 

    Pihak keluarga baru mengetahui kabar duka tersebut, setelah dihubungi oleh Polres Pasuruan melalui identifikasi sidik jari korban pada 17 Desember 2025.

    Motor dan helm milik korban sendiri ditemukan masih berada di lokasi kosnya, yang memperkuat dugaan bahwa korban dibawa pergi secara paksa atau terencana oleh pihak tertentu sebelum akhirnya dieksekusi oleh para pelaku.

    Kini, Bripka Agus dan rekannya terancam hukuman berat serta sanksi pemecatan secara tidak hormat (PTDH) dari institusi Polri, jika terbukti bersalah dalam pembunuhan berencana tersebut

  • Kerusakan Lebih Parah dari Tsunami Aceh, Gatot Nurmantyo Dorong Penetapan Bencana Nasional

    Kerusakan Lebih Parah dari Tsunami Aceh, Gatot Nurmantyo Dorong Penetapan Bencana Nasional

    GELORA.CO – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mendorong pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional atas tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Menurutnya, skala kehancuran dan dampak kemanusiaan dari bencana tersebut bahkan disebut melampaui tsunami Aceh 2004.

    Hal itu disampaikan Gatot dalam unggahan akun media sosial X/Twitter @indepensumatera, Jakarta, dikutip Senin (22/12/2025).

    Ia membenarkan pernyataan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) yang menyebut bencana kali ini lebih dahsyat dibanding tsunami.

    “Tetapi ini sudah terpisah dan yang dikirim adalah kayu, bukan kayu yang di atas, tapi yang di bawah, lumpur yang tebal,” kata Gatot.

    Gatot menjelaskan banjir bandang disertai longsor tidak hanya menghancurkan rumah warga, tetapi juga menghilangkan harta benda, sertifikat tanah, ternak, hingga sumber penghidupan masyarakat. Bahkan, Gatot meyakini jumlah korban jiwa berpotensi jauh lebih besar dari data resmi jika dilakukan pencarian secara menyeluruh.

    “Nyawa banyak, dan nyawa saya pikir lebih daripada 3000 kalau dicari dengan benar,” ucapnya.

    Gatot menilai dalam kondisi seperti ini pemerintah daerah berada pada posisi sangat terbatas. Apalagi, situasi anggaran daerah yang sudah menipis di akhir tahun, ditambah pengurangan transfer pusat ke daerah.

    “Maka ketika saya menyimak wawancara Mualem dengan Mata Najwa, dia katakan oh, biasa saja, tapi begitu mengatakan bagaimana dengan bantuan nasional, dia menangis. Itu rasa orang patriot sejati. Ketika rakyatnya susah, dia menangis karena apa? Rakyatnya susah, dia sebagai pemimpin tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan,” tuturnya.

    Gatot pun menekankan penanganan bencana tidak bisa hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur darurat atau penyaluran bantuan sosial. Ia menilai penanganan komprehensif yang berfokus pada korban selamat juga diperlukan.

    “Kalau kita kasih beras dia masak pakai air apa? Pakai apa dia masak? Dibuatkan dapur umum. Di sebelah tempat penampungan ada tenda-tenda kesehatan darurat karena mereka fisiknya pasti terganggu, apalagi mentalnya. Ada juga rehabilitasi mentalnya dengan psikolog-psikolog,” ujarnya menerangkan.

    Oleh karena itu, Gatot menegaskan peran pemerintah pusat yang menjadi sumber kekuatan utama bagi setiap daerah yang berdampak. Mengingat daerah yang terdampak lumpuh, maka diperlukan bantuan mereka.  

    “Ini perlu biaya, pemerintah daerah tidak akan kuat. Dan mereka semuanya ini seperti orang-orang bayi, mereka tidak bisa cari makan sendiri, mereka harus disuapin. Mau kerja apa dia? Enggak ada kerjaan lagi. Hilang semuanya. Di situlah peran pemerintah pusat harus benar-benar berpikir sampai ke arah situ,” paparnya.

    Dengan berbagai masalah tersebut, Gatot pun menganggap wajar bila masyarakat krisis kepercayaan kepada pemerintah. Ia bahkan ancaman keamanan nasional jangka panjang berpotensi ketika ketidakadilan ini tetap dibiarkan.

    “Jika pusat terus membiarkan mafia hutan dan tambang, lalu hadir terlambat saat bencana, maka wajar bila rakyat bertanya negara ini melindungi siapa? Tapi sudah dijawab tadi, melindungi oligarki. Karena semua ekonomi, hukum, politik semuanya dijaga oleh oligarki,” katanya. 

  • Update Pembunuhan Mahasiswi UMM, Polda Jatim Besok Lakukan Rekonstruksi

    Update Pembunuhan Mahasiswi UMM, Polda Jatim Besok Lakukan Rekonstruksi

    Surabaya (beritajatim.com) – Paska penetapan dua tersangka dalam perkara pembunuhan Faradila Amelia Najwa, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tim Jatanras Polda Jatim akan segera melakukan rekontruksi yang akan digelar Selasa (23/12/2025) besok.

    Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menyatakan rencana melakukan rekonstruksi untuk menelaah kembali eksekusi kejahatan dan relokasi jasad korban.

    “Besok rencana kita melakukan praktek konstruksi. Kita cek relokasi terkait eksekusinya dan cara mereka melakukannya, juga ide siapa yang membuang jasad ke sungai,” ujar AKBP Jumhur kepada awak media saat ditemui di gedung Ditreskrimum Polda Jatim, Senin (22/12/2025).

    Dia menambahkan, tim penyelidikan sedang melakukan konfrontasi karena terdapat perbedaan keterangan antara kedua tersangka. Sebelumnya, Bripka Agus Sulaiman (anggota Intelkam Polsek Krucil, Polres Probolinggo) telah ditetapkan sebagai tersangka.

    Pelaku tidak bertindak sendirian, melainkan dibantu teman masa kecilnya, Suyitno, yang ditangkap pada Kamis (18/12/2025) di Probolinggo setelah kabur selama tiga hari dan berpindah-pindah tempat dari Lumajang hingga Pamekasan.

    Terkait motif kejahatan, AKBP Jumhur menegaskan bahwa hal itu masih dalam proses penyelidikan. “Motifnya masih kita dalami karena masih ada perbedaan keterangan, kita cross check. Kita juga sudah melakukan pemeriksaan pada teman-teman kuliah korban dan ibunya untuk menyambungkan semua informasi,” katanya.

    Dia menjelaskan, terdapat dugaan awal seperti sakit hati atau kepentingan harta, namun semuanya belum dapat dipastikan. Mengenai kondisi korban, AKBP Jumhur mengakui adanya dugaan pencekikan mengingat luka memar di leher. Namun, penyebab kematian secara detail belum diungkapkan. “Perkembangan selanjutnya akan saya sampaikan, mungkin nanti Pak Kabidumas yang nyampaikan hasil rekonstruksi besok,” tambahnya. [uci/but]

     

  • Temukan Bekas Cekikan dan Lebam, Keluarga Mahasiswi Tiris Probolinggo Yakin Faradila Amalia Korban Pembunuhan

    Temukan Bekas Cekikan dan Lebam, Keluarga Mahasiswi Tiris Probolinggo Yakin Faradila Amalia Korban Pembunuhan

    Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus kematian misterius Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi asal Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, di parit Desa Wonorejo, Pasuruan, kini memasuki babak baru.

    Meskipun awalnya jasad korban ditemukan masih mengenakan helm dan jaket seolah menjadi korban kejahatan jalanan, keluarga menemukan banyak kejanggalan. Luka-luka yang ditemukan di tubuh korban mengindikasikan adanya tindakan kekerasan yang disengaja sebelum nyawanya dihilangkan.

    Keluarga melalui orang-orang terdekatnya mulai mengumpulkan bukti-bukti fisik yang sempat terlihat saat proses evakuasi dan pemeriksaan awal. Luka-luka tersebut dianggap tidak wajar dan tidak menyerupai luka akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh biasa.

    Keyakinan bahwa Faradila dianiaya terlebih dahulu sebelum dibuang semakin menguat di tengah proses penyidikan yang sedang berjalan di Polda Jatim.

    Samsul (40), sopir pribadi keluarga Haji Ramlan, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang diterima dari petugas medis, terdapat beberapa titik luka serius pada tubuh mahasiswi UMM tersebut. “Ada bekas pukulan di dahi korban, bekas cekikan di leher, tekanan pada urat nadi tangan kiri, serta lebam di paha kiri,” ujar Samsul.

    Temuan luka di leher dan nadi tersebut memperkuat dugaan adanya upaya pelumpuhan secara paksa oleh pelaku sebelum korban akhirnya meninggal dunia.

    Kondisi jasad yang masih menggunakan helm saat ditemukan diduga kuat merupakan taktik pelaku untuk mengaburkan fakta dan membuat kesan seolah-olah terjadi kecelakaan. Namun, kecermatan keluarga dan petugas medis berhasil mengendus kejanggalan tersebut sejak awal.

    Samsul kembali menegaskan bahwa luka-luka tersebut menjadi bukti nyata adanya ketidakwajaran dalam kematian anak majikannya itu.

    “Luka-luka itu bukan luka akibat jatuh biasa. Itu yang membuat keluarga yakin kematiannya tidak wajar. Kami yakin kalau ini murni tindak pidana pembunuhan,” tambahnya.

    Terduga pelaku, AS, yang merupakan kakak ipar korban sekaligus anggota polisi aktif, kini menjadi fokus utama pemeriksaan. Selain temuan luka, rekaman CCTV yang menunjukkan mobil Triton milik terduga pelaku berada di sekitar lokasi kejadian menjadi bukti petunjuk yang sangat krusial.

    Polisi masih mendalami apakah penganiayaan tersebut dilakukan di dalam kendaraan atau di tempat lain sebelum jasadnya dibuang.

    Jenazah Faradila sendiri telah menjalani autopsi mendalam di Rumah Sakit Bhayangkara untuk memastikan penyebab pasti kematian, apakah karena sumbatan jalan nafas akibat cekikan atau karena luka hantaman benda tumpul di bagian kepala. Hasil autopsi ini nantinya akan menjadi alat bukti sah di persidangan untuk menjerat pelaku dengan pasal pembunuhan.

    Keluarga korban kini hanya bisa menunggu hasil penyidikan resmi dari Polda Jawa Timur dengan harapan transparansi tetap terjaga. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Bagi keluarga, luka di tubuh Faradila adalah saksi bisu betapa kejinya perbuatan yang dilakukan oleh orang terdekat mereka sendiri. (ada/ian)

  • Temukan Bekas Cekikan dan Lebam, Keluarga Mahasiswi Tiris Probolinggo Yakin Faradila Amalia Korban Pembunuhan

    Temukan Bekas Cekikan dan Lebam, Keluarga Mahasiswi Tiris Probolinggo Yakin Faradila Amalia Korban Pembunuhan

    Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus kematian misterius Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi asal Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, di parit Desa Wonorejo, Pasuruan, kini memasuki babak baru.

    Meskipun awalnya jasad korban ditemukan masih mengenakan helm dan jaket seolah menjadi korban kejahatan jalanan, keluarga menemukan banyak kejanggalan. Luka-luka yang ditemukan di tubuh korban mengindikasikan adanya tindakan kekerasan yang disengaja sebelum nyawanya dihilangkan.

    Keluarga melalui orang-orang terdekatnya mulai mengumpulkan bukti-bukti fisik yang sempat terlihat saat proses evakuasi dan pemeriksaan awal. Luka-luka tersebut dianggap tidak wajar dan tidak menyerupai luka akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh biasa.

    Keyakinan bahwa Faradila dianiaya terlebih dahulu sebelum dibuang semakin menguat di tengah proses penyidikan yang sedang berjalan di Polda Jatim.

    Samsul (40), sopir pribadi keluarga Haji Ramlan, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang diterima dari petugas medis, terdapat beberapa titik luka serius pada tubuh mahasiswi UMM tersebut. “Ada bekas pukulan di dahi korban, bekas cekikan di leher, tekanan pada urat nadi tangan kiri, serta lebam di paha kiri,” ujar Samsul.

    Temuan luka di leher dan nadi tersebut memperkuat dugaan adanya upaya pelumpuhan secara paksa oleh pelaku sebelum korban akhirnya meninggal dunia.

    Kondisi jasad yang masih menggunakan helm saat ditemukan diduga kuat merupakan taktik pelaku untuk mengaburkan fakta dan membuat kesan seolah-olah terjadi kecelakaan. Namun, kecermatan keluarga dan petugas medis berhasil mengendus kejanggalan tersebut sejak awal.

    Samsul kembali menegaskan bahwa luka-luka tersebut menjadi bukti nyata adanya ketidakwajaran dalam kematian anak majikannya itu.

    “Luka-luka itu bukan luka akibat jatuh biasa. Itu yang membuat keluarga yakin kematiannya tidak wajar. Kami yakin kalau ini murni tindak pidana pembunuhan,” tambahnya.

    Terduga pelaku, AS, yang merupakan kakak ipar korban sekaligus anggota polisi aktif, kini menjadi fokus utama pemeriksaan. Selain temuan luka, rekaman CCTV yang menunjukkan mobil Triton milik terduga pelaku berada di sekitar lokasi kejadian menjadi bukti petunjuk yang sangat krusial.

    Polisi masih mendalami apakah penganiayaan tersebut dilakukan di dalam kendaraan atau di tempat lain sebelum jasadnya dibuang.

    Jenazah Faradila sendiri telah menjalani autopsi mendalam di Rumah Sakit Bhayangkara untuk memastikan penyebab pasti kematian, apakah karena sumbatan jalan nafas akibat cekikan atau karena luka hantaman benda tumpul di bagian kepala. Hasil autopsi ini nantinya akan menjadi alat bukti sah di persidangan untuk menjerat pelaku dengan pasal pembunuhan.

    Keluarga korban kini hanya bisa menunggu hasil penyidikan resmi dari Polda Jawa Timur dengan harapan transparansi tetap terjaga. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Bagi keluarga, luka di tubuh Faradila adalah saksi bisu betapa kejinya perbuatan yang dilakukan oleh orang terdekat mereka sendiri. (ada/ian)

  • Temukan Bekas Cekikan dan Lebam, Keluarga Mahasiswi Tiris Probolinggo Yakin Faradila Amalia Korban Pembunuhan

    Keluarga Korban Duga Ada Motif Harta di Balik Kematian Faradila Mahasiswi UMM Asal Tiris Probolinggo

    Probolinggo (beritajatim.com) – Penyidik Polda Jawa Timur mengamankan seorang oknum anggota Polsek Krucil berinisial AS atas dugaan pembunuhan terhadap adik iparnya sendiri, Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

    Pelaku saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Mapolda Jatim guna mengungkap motif pasti di balik peristiwa tragis yang menimpa perempuan muda tersebut.

    Pihak keluarga korban secara tegas menepis isu liar yang menyebutkan bahwa korban meninggal dalam kondisi hamil. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan kabar yang beredar di masyarakat tanpa dukungan bukti medis resmi, baik dari kepolisian maupun rumah sakit.

    Keluarga justru mencium adanya motif material di balik tindakan keji pelaku. AS diduga memiliki ambisi untuk menguasai aset milik orang tua korban, Haji Ramlan, yang merupakan pengusaha besar dan tokoh terpandang di wilayah Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

    Agus Subianto (48), kerabat korban, mengungkapkan bahwa perangai buruk AS sudah terlihat sejak empat tahun lalu setelah menikah dengan kakak kandung korban. Menurutnya, meskipun sudah difasilitasi harta oleh mertuanya, sikap pelaku tetap bermasalah hingga memicu konflik internal keluarga.

    “Baru empat tahun jadi menantu, tapi sudah diberi toko dan mobil. Perangainya buruk, bahkan saudara sulung korban sampai meninggalkan rumah karena konflik dengan AS,” ungkap Agus.

    Ketidakharmonisan antara korban dan pelaku disinyalir sudah berlangsung lama akibat gesekan yang terus meruncing di lingkungan keluarga besar Haji Ramlan. Korban diketahui sebagai putri bungsu dari pengusaha yang memiliki sejumlah unit usaha strategis yang diduga menjadi incaran pelaku.

    Ilustrasi grafis kronologi kasus pembunuhan mahasiswi UMM. [Dibuat dengan AI]Haji Ramlan mengakui adanya keretakan hubungan antara menantunya tersebut dengan keluarga besarnya. Ia tidak menyangka perselisihan yang terjadi selama ini berujung pada hilangnya nyawa putri bungsunya.

    “Kalau tidak akur, sudah lama. Tapi tidak pernah terbayang sampai membunuh,” ujar Ramlan dengan nada penyesalan mendalam.

    Dalam penyelidikannya, tim penyidik mendalami sejumlah bukti digital, termasuk rekaman CCTV di sekitar lokasi penemuan jasad di Desa Wonorejo, Pasuruan. Sebuah mobil Triton double cabin terekam melintas di lokasi kejadian dan diduga kuat digunakan pelaku untuk membuang jasad korban guna menghilangkan jejak.

    Proses autopsi yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara saat ini menjadi instrumen kunci bagi kepolisian. Hasil medis ini akan digunakan untuk mencocokkan bukti fisik pada tubuh korban dengan keterangan saksi serta bukti-bukti yang telah dikantongi penyidik.

    Mengingat status AS sebagai anggota kepolisian aktif, keluarga berharap penuh pada profesionalitas Polda Jawa Timur dalam menuntaskan kasus ini. Haji Ramlan menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memandang latar belakang profesi pelaku.

    Haji Ramlan meminta agar hukum ditegakkan seadil-adilnya atas perbuatan yang telah merampas masa depan putrinya yang masih aktif menempuh studi di bangku kuliah tersebut.

    “Atas perbuatannya, saya minta dihukum seberat-beratnya,” pungkasnya tegas. (ada/ian)

  • Polda Jatim Tangkap Satu Lagi Pelaku Pembunuhan Mahasiswa UMM

    Polda Jatim Tangkap Satu Lagi Pelaku Pembunuhan Mahasiswa UMM

    Surabaya (beritajatim.com) – Tim Jatanras Polda Jatim mengamankan satu lagi pelaku pembunuhan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Faradillah Amalia Najwa.

    Satu tersangka tersebut adalah SY (38). SY diketahui teman dari kecil pelaku utama yakni anggota Polres Probolinggo Bripda AS yang saat ini sudah ditahan di Rutan Polda Jatim.

    Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengungkapkan penyidik dari Ditreskrimum Polda Jatim terus bergerak melakukan upaya pengungkapan kasus diantaranya sudah ditetapkan satu tersangka berinisial AS.

    “Tadi malam telah ditangkap satu terduga pelaku calon tersangka berinisial SY (38 tahun) warga Probolinggo. Untuk pelaku ini adalah terduga pelaku yang bersama sama dengan tersangka AS melakukan tindak pidana pembunuhan secara bersama sama terhadap korban,” ujarnya, Jumat (19/12/2025) sore.

    Untuk tersangka SY kata Kabid Humas, semenjak kejadian dia terus berpindah mulai dari Lumajang, Pamekasan kemudian kembali ke Probolinggo.

    Berkat informasi dari masyarakat dan kerjasama tim Jatanras maupun personil Polres jajaran Polda Jatim maka tersangka SY berhasil ditangkap di jalan raya Panglima Sudirman yang ada di Kraksan Probolinggo tadi malam sekitar jam 23.00 Wib.

    Saat ini yang bersangkutan berada di Polda Jatim dalam proses pemeriksaan untuk melengkapi bersama AS.

    “Untuk peran masih mendalami, AS maupun SY. Yang jelas mereka bersama sama melakukan dan mengetahui tindak pidana yang terjadi dan pada saat membuang mayat korban juga dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

    Untung motif, Jules juga masih mendalami tersangka SY maupun AS. Yang jelas mereka bersama sama melakukan pembunuhan. “Untuk hubungan keduanya berteman sejak kecil,” ujar Jules.

    Apakah keduanya merencanakan pembunuhan? Jules mengatakan bahwa hal itu masih didalami dan juga perlu dicari unsur yang berkaitan dengan pembunuhan berencana.

    Untuk pelarian tersangka SY yang dikabarkan turut dibantu keluarga, Jules mengatakan bahwa hal itu masih didalami. [uci/suf]