Tag: Muharram

  • Pram: Festival Muharram 2025 bukan dibatalkan tapi dialihkan

    Pram: Festival Muharram 2025 bukan dibatalkan tapi dialihkan

    Jakarta (ANTARA) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa perayaan Festival 1 Muharram 2025 di Jakarta bukan dibatalkan, hanya dialihkan pelaksanaannya ke masing-masing wilayah kota administrasi.

    Pram mengatakan, keputusan ini diambil agar tidak menimbulkan penutupan jalan protokol Sudirman-Thamrin yang bisa berdampak pada kemacetan lalu lintas Ibu Kota.

    “Jadi bukan dibatalkan. Kegiatan besok ini kan kebetulan di Jakarta berbagai kegiatan bersamaan,” kata Pram di Balai Kota Jakarta, Jumat.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mau ada penutupan Jalan MH Thamrin dan Sudirman. “Maka acara 1 Muharam tetap diadakan di masing-masing kota dan kabupaten,” katanya.

    Awalnya, Festival 1 Muharram 2025 direncanakan digelar dengan rute pawai obor yang melintasi kawasan Sudirman-Thamrin.Namun, rencana penutupan jalan protokol tersebut dinilai berpotensi menimbulkan polemik di masyarakat.

    “Awalnya kan mau menutup Sudirman-Thamrin. Begitu menutup Sudirman-Thamrin ini kan pasti jadi polemik nanti. Yang disalahkan gubernurnya lagi,” kata Pram.

    Pram memastikan, meski formatnya berubah, semarak perayaan Tahun Baru Islam tetap akan terasa di setiap wilayah Jakarta.

    Pram berharap masyarakat tetap antusias mengikuti kegiatan di lingkungan masing-masing tanpa harus terganggu oleh kemacetan akibat penutupan jalan.

    “Seperti tahun lalu, acaranya diadakan di kota maupun di kabupaten masing-masing. Jadi tetap jalan,” kata Pram.

    Sebelumnya, Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim mengatakan panggung yang telah disiapkan di Bundaran HI tidak akan dibongkar meski “Jakarta Muharram Festival 2025” batal digelar.

    Chico mengatakan, sebelumnya panggung itu memang direncanakan untuk dua acara, yakni “Jakarta Muharram Festival 2025” dan “Jakarta Dalam Warna”.

    “Iya nggak dibongkar (panggungnya). Tadinya kalau jadi ada acara Jakarta Muharram itu, mau satu panggung. Sekalian,” kata Chico.

    Chico menjelaskan, batalnya acara pawai obor dalam rangka “Jakarta Muharram Festival 2025” yang semula akan diadakan di kawasan Jalan MH Thamrin dan Sudirman, pada Sabtu (5/7) malam itu karena mempertimbangkan banyak hal.

    Salah satunya adalah pertimbangan arus lalu lintas hingga kegiatan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Sehingga acara tersebut dibatalkan agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

    “Mungkin waktu sosialisasinya kurang panjang. Kita harapkan ‘Jakarta Muharram Festival, ini bisa diselenggarakan di komunitas masyarakat. Artinya di lingkungan masing-masing,” kata Pramono.

    Chico menjelaskan, meski Pemprov DKI Jakarta batal menggelar acara “Jakarta Muharram Festival 2025”, namun Pemprov DKI mendorong pelaksanaan peringatan di tingkat komunitas bersama instansi kewilayahan DKI Jakarta.

    Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
    Editor: Sri Muryono
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • 10
                    
                        Panggung Car Free Night Mulai Dibangun di Bundaran HI, Dilengkapi Videotron Raksasa
                        Megapolitan

    10 Panggung Car Free Night Mulai Dibangun di Bundaran HI, Dilengkapi Videotron Raksasa Megapolitan

    Panggung Car Free Night Mulai Dibangun di Bundaran HI, Dilengkapi Videotron Raksasa
    Editor
    JAKARTA, KOMPAS.com
    — Persiapan uji coba Car Free Night (CFN) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) mulai terlihat, Jumat (4/7/2025) pagi.
    Sejumlah pekerja telah memasang kerangka panggung utama yang akan digunakan untuk mendukung acara perayaan HUT ke-498 Kota Jakarta sekaligus menyambut 1 Muharram 1447 Hijriah.
    Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Jumat pagi, kerangka besi panggung tampak berdiri kokoh di sisi Halte TransJakarta
    Bundaran HI
    Astra. Warna hitam mendominasi struktur utama panggung tersebut.
    Tak hanya panggung besar, lokasi juga dilengkapi layar videotron raksasa di bagian tengah.
    Dua videotron tambahan dengan ukuran lebih kecil dipasang di sekitarnya, tepatnya di depan Hotel Mandarin dan Pos Polisi Bundaran HI.
    Selain itu, beberapa tenda kecil tampak berdiri di sisi panggung, sebagai area operasional kru dan teknisi.
    Beberapa pekerja terlihat sedang memasang lampu sorot di atas kerangka besi yang tingginya diperkirakan mencapai setengah tinggi Monumen Selamat Datang.
    Meski persiapan berlangsung sejak pagi, lalu lintas di kawasan Bundaran HI tetap ramai lancar.
    Kehadiran petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) memastikan arus kendaraan tetap terkendali dan aman.
    Salah satu warga, Ija (27), yang melintas di sekitar lokasi mengaku antusias menyambut acara tersebut.
    “Keren ya, biasanya kan cuma malam tahun baru. Ini CFD malam ada panggung, nanti datang lah aku,” ujar Ija kepada Kompas.com.
    Ia menambahkan akan mengajak keluarganya untuk ikut meramaikan acara.
    “Nanti aku ajak keluarga ku, seru pasti ini,” imbuhnya.
    Car Free Night Jakarta
    akan digelar pada Sabtu (5/7/2025) mulai pukul 19.00 WIB, dengan acara utama berupa pawai obor elektrik dari Bundaran HI menuju Monas.
    Acara ini sekaligus menjadi simulasi awal sebelum kemungkinan penerapan CFN secara berkala ke depan.
    (Reporter: Muhammad Daffa Aldiansyah | Editor: Abdul Haris Maulana)
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 10
                    
                        Panggung Car Free Night Mulai Dibangun di Bundaran HI, Dilengkapi Videotron Raksasa
                        Megapolitan

    Panggung untuk Uji Coba Car Free Night Mulai Dipasang di Bundaran HI Megapolitan 4 Juli 2025

    Panggung untuk Uji Coba Car Free Night Mulai Dipasang di Bundaran HI
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
     Sejumlah pekerja mulai memasang kerangka panggung untuk uji coba
    Car Free Night
    (CFN) di area Bundaran Hotel Indonesia (HI),
    Jakarta
    Pusat, Jumat (4/7/2025).
    Berdasarkan pantauan
    Kompas.com
    pada pukul 07.32 WIB, kerangka besi panggung sudah dalam proses pemasangan.
    Meski belum rampung, tiang dan kerangka utama panggung telah berdiri kokoh dengan dominasi warna hitam.
    Panggung ini terletak persis bersampingan dengan Halte TransJakarta
    Bundaran HI
    Astra dan telah dilengkapi dengan layar videotron raksasa.
    Selain itu, ada dua layar videotron kecil yang terpasang di sekitar lokasi panggung berdiri, tepatnya di depan Hotel Mandarin dan Pos Kepolisian Bundaran HI.
    Sejumlah tenda kecil untuk para kru yang bekerja juga sudah didirikan di sisi panggung. Para pekerja tampak sibuk memasang lampu di atas kerangka besi yang tingginya sekitar setengah dari Monumen Selamat Datang.

    Sementara itu, lalu lintas di area Bundaran HI terpantau ramai lancar. Proses pembangunan panggung tidak mengganggu aktivitas masyarakat yang melintas.
    Petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) terlihat bersiaga di sekitar lokasi untuk mengatur lalu lintas dan memastikan keamanan kegiatan.
    Salah satu warga, Ija (27), mengaku antusias menyambut gelaran uji coba CFN. Ia mengaku bersemangat untuk datang dan meramaikan acara yang berlangsung pada besok malam.
    “Keren ya, biasanya kan cuma malam tahun baru, ini CFD malam ada panggung, nanti datang lah aku,” ucapnya kepada
    Kompas.com
    di lokasi, Jumat.
    Ija mengungkapkan, dirinya akan mengajak anggota keluarganya untuk meramaikan uji coba CFN.
    “Nanti aku ajak keluarga ku, seru pasti ini,” imbuhnya.
    Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta akan menggelar uji coba Car Free Night (CFN) pada Sabtu (5/7/2025)
    Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, uji coba ini menjadi bagian dari rangkaian acara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-498 Kota Jakarta, sekaligus menyambut datangnya bulan Muharram 1447 Hijriah.
    “Jam 7 malem, soft car free day nih. Makanya kita mau mulai,” ucap Rano, Rabu (2/7/2025).
    Rano menambahkan, dalam acara ini akan digelar pawai obor yang melibatkan sekitar 10 ribu peserta.
    Para peserta akan berjalan kaki dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
    Namun, obor yang digunakan bukan obor api seperti biasa, melainkan obor elektrik yang dinilai Rano lebih ramah lingkungan.

    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Car Free Night Diuji Coba Sabtu Ini, Rano Karno: Ada Pawai Obor

    Car Free Night Diuji Coba Sabtu Ini, Rano Karno: Ada Pawai Obor

    Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta akan menggelar uji coba Car Free Night (CFN) pada hari Sabtu (5/7/2025). 

    Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno mengatakan uji coba ini dilakukan sekaligus menyambut datangnya bulan Muharram 1447 Hijriah.

    “Jam 7 malem, soft car free day nih. makanya kita mau mulai,” tutur Rano di Balaikota Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (2/6/2025). 

    Rano kemudian menuturkan bahwa dalam acara ini akan digelar pawai obor elektrik yang akan melibatkan sebanyak 10 ribu orang. 

    “Mereka nanti semua berhentinya di Monas, nanti jalan bawa, tapi obornya elektrik ya, bukan obor asap ya,” tutur Doel. 

    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta berencana menggelar Car Free Night sebagai lanjutan dari antusiasme warga terhadap kegiatan Car Free Day (CFD). 

    Pertimbangan itu dilontarkan oleh Wakil Gubernur Rano Karno (Si Doel) menimbang banyaknya warga Jakarta yang berolahraga pada malam hari. Terlebih, upaya ini juga bentuk dalam menurunkan emisi karbon.  

    “Kita juga akan coba adakan Car Free Night setelah perayaan HUT DKI di kawasan Sudirman–Thamrin,” jelasnya, dikutip dari keterangan resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta, Senin (9/6/2025).  

    Ke depan, Pemprov Jakarta juga berencana memperluas pelaksanaan CFD ke lima wilayah kota, dengan memilih lokasi-lokasi strategis demi menekan polusi udara.

  • Wamenag Hadiri Tasyakuran 1 Muharram di Masjid Darussalam Bogor

    Wamenag Hadiri Tasyakuran 1 Muharram di Masjid Darussalam Bogor

    Bogor

    Sebanyak 700 peserta mengikuti Festival Azan Nusantara digelar di Masjid Darussalam, Kota Wisata, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Romo R Muhammad Syafi’i.

    Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Dalam sambutannya, Romo Syafi’i menyampaikan keutamaan masjid.

    “Masjid Darussalam bukan hanya megah secara fisik, tapi juga luar biasa dalam pengelolaan dan kontribusi sosialnya. Saya melihat bagaimana masjid ini berkembang dari yang dulu eksklusif menjadi inklusif,” ujar Romo Syafi’i, Minggu (29/6/2025).

    Romo menyampaikan fungsi masjid tidak sebatas tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan umat. Sebagaimana sejarah di masa Rasulullah SAW, selain sebagai tempat pusat dakwah, masjid juga menjadi tempat pembinaan ilmu, ekonomi, kesehatan, dan pelayanan sosial.

    “Umat yang kesulitan modal usaha, butuh pendidikan, atau layanan kesehatan, semestinya bisa datang ke masjid. Dan program-program di Masjid Darussalam sudah mulai mengarah ke sana,” lanjutnya.

    “Kami sampaikan selamat datang di Masjid Darussalam. Ini merupakan kehormatan bagi kami semua. Masjid ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang sejak tahun 1999, berawal dari kegiatan salat tarawih berjamaah di salah satu klaster perumahan,” ujar Hengki.

    Festival Adzan Nusantara yang merupakan kompetisi adzan internasional ini diikuti lebih dari 700 orang peserta dari berbagai negara. Masjid Darusallam sebagai penyelenggara tempat kini mengusung paradigma baru, dari yang sebelumnya bersifat eksklusif menjadi inklusif dan terbuka untuk seluruh kalangan.

    Atas berbagai capaian tersebut, Masjid Darussalam Kota Wisata mendapatkan penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia sebagai masjid terbaik tingkat nasional dalam tiga kategori. Prestasi ini menjadi bukti komitmen masjid dalam memberikan pelayanan maksimal kepada umat dan masyarakat luas.

    “Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan atas kerja keras dan dedikasi seluruh pihak yang terlibat. Semoga Masjid Darussalam terus menjadi teladan dalam memakmurkan masjid dan menguatkan peran Islam dalam kehidupan berbangsa,” tuturnya.

    (mei/knv)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Kalender Jawa dan Weton Hari Ini, 29 Juni 2025

    Kalender Jawa dan Weton Hari Ini, 29 Juni 2025

    Berdasarkan informasi dari Kalender Jawa pada hari ini, 29 Juni 2025 merupakan 3 Sura 1959 atau berikut rinciannya:

    Tanggal Masehi: Minggu, 29 Juni 2025.
    Kalender Jawa: 3 Sura 1959.
    Pasaran: Pahing.
    Weton: Minggu Pahing.
    Kalender Hijriah: 3 Muharram 1447 H

    Adapun Minggu Pahing dikenal sebagai salah satu weton yang merupakan kombinasi antara hari Minggu dan Pahing. Weton tersebut memiliki neptu 14 yang berasal dari 5 untuk Minggu dan 9 untuk Pahing.

    Minggu Pahing dipercaya memiliki karakter serta kelebihan tersendiri di antaranya kelebihan tersebut adalah kreatif, mandiri, dan penuh inisiatif. Namun, terdapat juga kekurangan di antaranya suka menyendiri, sulit bekerja sama, dan kurang sosial.

  • Menjaga Harmoni dengan Alam, Gunungkidul Rayakan 1 Suro di Laut

    Menjaga Harmoni dengan Alam, Gunungkidul Rayakan 1 Suro di Laut

    Liputan6.com, Gunungkidul – Di pesisir selatan Gunungkidul, Tahun Baru Hijriah disambut bukan dengan pesta atau kemeriahan, melainkan dengan kesunyian yang penuh makna. Dalam tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun, masyarakat memperingati 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijryah melalui ritual sakral bernama Labuhan Laut.

    Labuhan laut bukan sekadar upacara adat. Ia adalah ekspresi spiritual, budaya, dan penghormatan terhadap alam. Di sepanjang pantai selatan, dari Ngrenehan hingga Sadeng, warga berduyun-duyun menuju laut. Mereka membawa sesaji berupa hasil bumi, bunga, dan simbol-simbol harapan, untuk dilarung ke tengah samudra dalam suasana khusyuk dan syahdu.

    Puncak perayaan terlihat di Pantai Baron, Sabtu (6/7), di mana ratusan warga berkumpul mengikuti prosesi larungan yang dipimpin langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Dalam balutan busana adat, ia secara simbolis melarungkan sesaji sebagai ungkapan syukur, permohonan keselamatan, serta penghormatan kepada laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

    “Labuhan ini bukan hanya upacara budaya. Ini adalah napas spiritual masyarakat pesisir. Mereka sadar bahwa laut adalah sumber hidup, dan mereka tahu caranya menghormati alam,” ujar Endah.

    Menurutnya, Tahun Baru Hijriah di Gunungkidul tak sekadar momentum perayaan, melainkan waktu perenungan. Tentang hubungan manusia dengan alam, tentang asal muasal rezeki, dan batas antara mengambil dan memberi.

    Tradisi Labuhan Laut, kata Endah, berakar dari kearifan para leluhur. Di masa lampau, para nelayan tak pernah melaut tanpa “permisi” secara batin. Jika laut memberi hasil melimpah, mereka akan mengembalikannya dalam bentuk sesaji. Ini bukan karena takut pada kekuatan gaib, tetapi karena kesadaran bahwa alam mesti dijaga keseimbangannya.

    “Ini bukan soal takut, tapi soal tahu diri. Kita hidup dari laut, ya kita harus ingat, jangan cuma ambil, tapi juga memberi,” tambah Endah.

     

    Update Operasi SAR Hari 3 Penambang Terjebak di Sumur Tambang Emas di Banyumas

  • Bubur Suran dan Jejak Nabi Nuh, Tradisi 1 Suro yang Tetap Hidup di Pekalongan

    Bubur Suran dan Jejak Nabi Nuh, Tradisi 1 Suro yang Tetap Hidup di Pekalongan

    Liputan6.com, Pekalongan – Asap mengepul dari dapur salah satu rumah di Gang 4, Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan, Pekalongan, Jawa Tengah. Lalita Suryani tampak sibuk mengaduk satu panci besar berisi bubur dengan aroma santan dan kunyit yang harum. Di tangannya, tradisi in bernama Bubur Suran, bahkan setiap tahun keluarga Lalita selalu membuat sajian ini sebagai wujud syukur dan doa khusus bagi dirinya yang lahir di bulan Suro.

    “Ini untuk saya dan adik saya, dulu setiap tahun selalu dibuatkan oleh ibu saya. Sudah turun-temurun. Kami percaya ini bukan cuma makanan, tapi doa keselamatan,” kata Lalita.

    Bubur Suran yang disajikan melambangkan kesucian dan ketulusan, sementara warna kuning dimasak dengan santan dan air kunyit, melambangkan harapan akan keselamatan, kemuliaan, dan keberkahan hidup.

    Di atasnya, bubur ditaburi urap sayur, sambal goreng tempe, telur rebus, tahu bacem, dan kerupuk. Dalam beberapa keluarga, lauk pelengkap bisa berbeda, tapi makna utamanya tetap menyatukan doa dan kebersamaan.

    Lalita menambahkan bahwa setelah semua selesai disiapkan, bubur tidak hanya disantap sendiri. Sebagian dibagikan kepada tetangga dan kerabat. “Itu yang paling penting, biar sama-sama mendoakan, dan mempererat hubungan di awal tahun,” ucapnya.

    Di dalam rumah, sang ibu, Triniatun, duduk sambil menyiapkan urap sayur dan kerupuk pelengkap. Ia yang selama ini menjaga tradisi ini di keluarganya, menjelaskan makna dan sejarah panjang di balik semangkuk bubur tersebut.

    “Ini adalah tradisi. Dulu, katanya dari kisah Nabi Nuh,” ujar Triniatun.

    Ia menceritakan kisah awal mula Bubur Suran menjadi tradisi, bahwa setelah selamat dari banjir besar, Nabi Nuh AS memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa perbekalan di kapal, lalu memasaknya menjadi bubur.

    “Itu tanda rasa syukur karena sudah diselamatkan Allah dari banjir bah yang terjadi kala itu,” jelasnya.

    Kisah itu, Triniatun menyebut, terus hidup dan menyebar hingga sampai ke tanah Jawa dan beradaptasi dengan masyarakat. Bubur Suran menjadi bagian dari ritual menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro yang juga bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam.

    Lebih lanjut, Saat Sultan Agung memadukan penanggalan Jawa dengan Hijriyah, bubur ini bahkan dijadikan bagian dari upacara adat resmi di lingkungan Kerajaan Mataram. Kalau zaman dulu, di kampung ini semua orang bikin bubur Suro sebagai adat tradisi.

    “Bukan cuma untuk keluarga yang lahir bulan Suro, tapi juga buat sedekah, tolak bala,” jelas Triniatun.

    Bagi Triniatun dan keluarga, menjaga tradisi ini adalah bentuk menjaga identitas dan spiritualitas. Ia berharap generasi muda Pekalongan dan Jawa pada umumnya tidak hanya melihat Bubur Suran sebagai makanan tradisional semata, tetapi juga sebagai warisan penuh makna yang patut dirawat.

    “Anak muda sekarang harus tahu, tradisi seperti ini bukan cuma soal budaya, tapi juga tentang rasa syukur dan doa yang sederhana tapi dalam,” Pungkas Triniatun.

     

    Perjuangan Tim SAR Gabungan Sedot Air dari Sumur Tambang Emas yang Jebak 8 Pekerja di Banyumas

  • 1 Muharram 1447 H di Kota Sukabumi, Merajut Persatuan Bukan Sekadar Peringatan

    1 Muharram 1447 H di Kota Sukabumi, Merajut Persatuan Bukan Sekadar Peringatan

    Senada dengan Wali Kota, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Ahmad Nawawi Sadili, memberikan perspektif mendalam tentang makna Hijriah. 

    “Momentum Muharram 1447 H itu adalah Hijriah, Hijriah itu artinya berpindah, merujuk pada konsep hijrah makani (berpindah tempat) dan hijrah makani (berpindah keadaan) yang kerap disampaikan,” ungkapnya

    Namun, fokusnya bukan pada perpindahan fisik dari Kota Sukabumi, melainkan pada transformasi internal. 

    “Kita tidak hijrah meninggalkan Kota Sukabumi, tapi kita hijrah dari satu hal ke hal yang lain, dari sifat yang buruk ke sifat yang baik, itu hijrah,” imbuhnya. 

    Ia menyerukan perubahan positif dalam diri setiap individu sebagai fondasi kemajuan kolektif. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dengan partisipasi luas. 

    Diperkirakan sekitar 2.000 orang hadir, dengan representasi minimal 25 orang dari setiap kelurahan di seluruh kecamatan, menunjukkan semangat kebersamaan yang tinggi. 

    “Peringatan ini sekaligus menjadi deklarasi makna kesatuan, mengingatkan bahwa manusia dilahirkan bukan untuk bertikai, melainkan untuk saling mengenal dan berdamai, prinsip yang akan terus menjadi landasan bagi Kota Sukabumi,” tutupnya.

  • Libur Panjang Tahun Baru Islam, Antrean Kendaraan Mengular 3 KM Menuju Sukabumi

    Libur Panjang Tahun Baru Islam, Antrean Kendaraan Mengular 3 KM Menuju Sukabumi

    Liputan6.com, Jakarta – Fenomena kemacetan panjang yang kembali melanda akses menuju Sukabumi pada libur panjang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah ini, khususnya di Exit Tol Bocimi ruas Parungkuda, bukan sekadar cerita rutin tentang kepadatan lalu lintas. 

    Lebih dari itu, antrean kendaraan sepanjang tiga kilometer yang mengular hingga KM 71 ini justru menyoroti pesona Sukabumi sebagai destinasi favorit, terutama saat libur 1 Muharram 1447 H yang bertepatan dengan libur sekolah.

    Sejak Jumat (27/6/2025), lonjakan volume kendaraan dari arah Bogor dan Jakarta menuju Sukabumi terpantau signifikan. Kepadatan ini memuncak di simpang tiga lampu merah Exit Tol Parungkuda, memaksa pihak kepolisian dari Satlantas Polres Sukabumi untuk memberlakukan sistem buka-tutup arus. 

    Langkah rekayasa lalu lintas ini diambil untuk mengurai antrean dan menormalkan kembali jalur arteri Sukabumi-Bogor, yang menjadi urat nadi utama bagi para pelancong.

    Ipda M. Yanuar Fajar, Kanit Turjawali Satlantas Polres Sukabumi, menjelaskan bahwa dominasi kendaraan yang datang dari Bogor dan Jakarta menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berlibur atau berkunjung ke Sukabumi. 

    “Kami prioritaskan kendaraan kiriman dari Bogor atau Jakarta yang mengarah ke Sukabumi dengan penarikan ataupun melakukan penguraian di setiap persimpangan,” ujar Ipda Yanuar. 

    Data dari Senkom operasional Tol Bocimi bahkan menunjukkan ekor antrean mencapai kilometer 71, mengindikasikan sejauh mana daya tarik Sukabumi mampu menyedot perhatian wisatawan.

    “Tadi informasi dari pihak Senkom bagian operasional tol Bocimi ekor terakhir di kilometer 71 atau estimasi 3 kilometer antrean,” jelasnya.

     

    Mengintip Ujian SIM C Baru di Polres Pemalang, Lebih Mudah?