Tag: Morgan

  • Arah Bursa Saham AS Pekan Depan Dibayangi Data Inflasi AS

    Arah Bursa Saham AS Pekan Depan Dibayangi Data Inflasi AS

    Bisnis.com, JAKARTA – Laju reli bursa saham Amerika Serikat (AS) akan diuji pekan depan dengan rilis data inflasi terbaru. Sejumlah investor menilai pasar ekuitas berpotensi mengalami koreksi setelah melesat ke rekor tertinggi.

    Melansir Reuters pada Minggu (10/8/2025), indeks acuan S&P 500 pada akhir perdagangan Jumat (8/8/2025) menguat lebih dari 8% sepanjang tahun ini dan berada di ambang level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq Composite mencatat rekor baru, memulihkan penurunan yang terjadi usai laporan ketenagakerjaan yang lemah awal bulan ini.

    Sejumlah analis, termasuk dari Deutsche Bank dan Morgan Stanley, memperingatkan potensi koreksi setelah reli hampir tanpa hambatan dalam empat bulan terakhir mendorong valuasi saham ke level mahal secara historis. Periode ini juga memasuki musim yang kerap menjadi jebakan bagi pasar saham.

    Laporan indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli, yang akan dirilis Selasa (12/8/2025), diperkirakan menjadi pemicu volatilitas. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).

    “Saya rasa pasar sudah berada pada posisi siap terkoreksi. Ada banyak kekhawatiran yang terpendam di bawah permukaan,” ujar Dominic Pappalardo, Chief Multi-Asset Strategist di Morningstar Wealth. 

    Sejak menyentuh titik terendah tahun ini pada April, S&P 500 sudah melonjak 28%. Kekhawatiran investor akan resesi akibat tarif mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan “Liberation Day” bulan itu, meskipun sempat memicu volatilitas ekstrem di pasar.

    Menurut data LSEG Datastream, S&P 500 kini diperdagangkan di level lebih dari 22 kali estimasi laba 12 bulan ke depan, jauh di atas rata-rata jangka panjang 15,8 kali, dan merupakan valuasi tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

    Faktor musiman juga menjadi sorotan. Berdasarkan Stock Trader’s Almanac, dalam 35 tahun terakhir, Agustus dan September menjadi bulan dengan kinerja terburuk bagi S&P 500, dengan penurunan rata-rata masing-masing 0,6% dan 0,8%.

    “Kombinasi data tenaga kerja yang melemah dengan kekhawatiran inflasi akibat tarif bisa menjadi resep untuk terjadinya koreksi, terutama di kuartal III yang secara musiman lemah,” tulis Michael Wilson, Equity Strategist Morgan Stanley. 

    Meski begitu, dia tetap optimistis dalam jangka 12 bulan dan menyebut pihaknya akan membeli di saat harga turun. Survei Reuters memperkirakan CPI Juli naik 2,8% secara tahunan. Investor akan mengamati apakah tarif impor yang diberlakukan Trump memicu kenaikan harga, setelah laporan CPI Juni menunjukkan adanya dampak tarif pada sejumlah barang.

    Taruhan pasar atas pemangkasan suku bunga The Fed menguat setelah data tenaga kerja yang lemah, dengan Fed funds futures menunjukkan peluang lebih dari 90% bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada pertemuan September, dan setidaknya dua kali sepanjang tahun ini.

    Namun, skenario itu bisa terganggu jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, sehingga membuat The Fed lebih berhati-hati memangkas suku bunga.“Kalau CPI menunjukkan pasar terlalu optimistis, volatilitas bisa meningkat.Tapi jika tidak lebih buruk dari perkiraan, ini bisa memperkuat keyakinan bahwa kita berada di titik balik kebijakan The Fed,” kata Angelo Kourkafas, Senior Investment Strategist di Edward Jones. 

    Prospek kenaikan tarif dan dampak ekonominya terus menjadi bayang-bayang bagi pasar. Meski demikian, indeks saham tetap mencetak rekor tertinggi. Kenaikan tarif impor dari puluhan negara mulai berlaku Kamis (7/8/2025), mendorong bea masuk rata-rata AS ke level tertinggi dalam satu abad. Trump juga mengumumkan rencana pengenaan tarif pada chip semikonduktor dan impor farmasi.

    China berpotensi menghadapi kenaikan tarif baru pada Selasa (12/8/2025) kecuali Trump memperpanjang gencatan dagang yang sudah ada. Matt Rowe, Senior Portfolio Manager di Man Group menyebut, pasar tampaknya mengabaikan potensi dampak negatif dari gesekan ini terhadap ekonomi.“Pasar sudah merasa nyaman dengan tarif seolah-olah itu bukan masalah, padahal menurut saya itu keliru,” ujarnya.

  • Saham Perusahaan Hary Tanoe Masuk Indeks Global MSCI

    Saham Perusahaan Hary Tanoe Masuk Indeks Global MSCI

    Jakarta

    PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) masuk dalam jajaran indeks bergengsi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Grup MNC itu masuk dalam kategori Small Cap Indexes yang berlaku mulai penutupan pasar pada 26 Agustus 2025.

    Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama MNC Tourism & Executive Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, menjelaskan masuknya perseroan mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental, kepemilikan aset premium berskala internasional, dan strategi pertumbuhan jangka panjang yang konsisten.

    Adapun KPIG membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 964,0 miliar di semester I 2025, atau tumbuh 25,6% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini, KPIG juga memiliki aset Tourism & Hospitality di Indonesia, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) MNC Lido City.

    “Kami yakin pencapaian ini akan semakin memperkokoh kepercayaan investor global, membuka peluang penetrasi pasar yang lebih luas, serta memperkuat kinerja berkelanjutan Perseroan. MNC Tourism is on the right track to bring Indonesia to the world,” kata Hary Tanoe dikutip dari Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (8/8/2025).

    Untuk diketahui, terdapat beberapa saham domestik yang masuk dalam kategori Small Cap Indexes MSCI bersamaan dengan KPIG, yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

    Pada kategori Small Cap Indexes, terdapat dua saham yang hengkang, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Panin Financial Tbk (PNLF). MSCI sendiri penyedia indeks ekuitas global terkemuka yang menjadi acuan utama bagi para investor, termasuk institusi, manajer investasi, dan individu secara global.

    “Komposisi konstituen untuk Indeks MSCI Global Small Cap yang akan berlaku mulai penutupan pasar pada 26 Agustus 2025,” tulis pengumuman MSCI, Jumat (8/8/2025).

    Lihat juga Video: Akankah MSCI Jadi Sentimen Positif?

    (kil/kil)

  • Gokil, Segini Harga iPhone Jika Dibuat di AS

    Gokil, Segini Harga iPhone Jika Dibuat di AS

    Jakarta

    Gagasan merakit iPhone sepenuhnya di Amerika Serikat mencuat di tengah kebijakan “tarif impor” pemerintahan Donald Trump. Gedung Putih mengklaim AS memiliki tenaga kerja dan sumber daya untuk memproduksi iPhone di dalam negeri.

    Namun dikutip detikINET dari Forbes, para analis yang memahami operasi Apple menilai langkah ini akan sangat mahal dan rumit secara logistik.

    Apple memproduksi lebih dari 80% perangkatnya di China melalui kontraktor seperti Foxconn. Memindahkan ekosistem produksi raksasa ini ke AS membutuhkan waktu, investasi besar, dan stabilitas kebijakan-tanpa jaminan keberhasilan. Salah satu tantangan utama adalah biaya tenaga kerja.

    Di China, pekerja Foxconn dilaporkan berpenghasilan sekitar USD 3,63 (Rp 61 ribu) per jam selama peluncuran iPhone 16, sementara upah minimum di California mencapai USD 16,50 (Rp 277 ribu) per jam. Menurut analis Bank of America Securities, Wamsi Mohan, kesenjangan upah ini bisa menaikkan harga iPhone 16 Pro sebesar 25%, dari USD 1.199 (Rp 20,1 juta) menjadi sekitar USD 1.500 (Rp 25 juta).

    Sementara itu, analis Wedbush, Dan Ives, memprediksi angka lebih ekstrem, dengan harga iPhone buatan AS mencapai USD 3.500 (Rp 58,7 juta). Ia memperkirakan Apple perlu menggelontorkan USD 30 miliar selama tiga tahun hanya untuk memindahkan 10% rantai pasokannya ke AS.

    Selain biaya tenaga kerja, Apple akan menghadapi tarif impor pada komponen utama seperti layar dari Korea Selatan dan prosesor dari TSMC di Taiwan.

    Keterbatasan tenaga kerja terampil di AS juga menjadi hambatan. CEO Apple, Tim Cook, pernah menyatakan kekurangan teknisi di AS sebagai kendala signifikan, berbeda dengan China yang memiliki jumlah tenaga ahli melimpah.

    Sejarah menunjukkan tantangan serupa. Upaya Foxconn membangun pabrik di Wisconsin senilai USD 10 miliar diharapkan dapat menciptakan 13.000 lapangan kerja. Pada akhirnya, pabrik tersebut tidak memproduksi satu pun produk inti Apple, dan beralih ke produksi masker selama pandemi. Hingga saat ini, pabrik tersebut hanya memiliki sekitar 1.454 lapangan kerja, dan fasilitas tersebut bahkan belum 100% siap.

    Ekspansi Apple sebelumnya ke Brasil juga gagal melokalisasi produksi iPhone sepenuhnya. Meskipun pabriknya bernilai USD 12 miliar, Apple masih harus mengimpor sebagian besar komponen dari Asia. Pada tahun 2015, iPhone buatan Brasil harganya hampir dua kali lipat dari iPhone buatan China.

    Meski produksi iPhone massal di AS sulit terwujud, analis Morgan Stanley, Erik Woodring, menilai Apple mungkin akan memproduksi aksesori seperti HomePod atau AirTags skala kecil untuk mendapat keringanan tarif. Apple juga telah menunjukkan komitmen investasi di AS, termasuk USD 500 miliar untuk proyek seperti produksi server AI di Houston dan komponen semikonduktor di Arizona bersama TSMC.

    Namun, memindahkan seluruh rantai pasokan iPhone ke AS dinilai sebagai misi hampir mustahil. “Akan memakan waktu bertahun-tahun, jika memungkinkan,” ujar Mohan seperti dikutip dari CNBC.

    Strategi Apple tampaknya tetap berfokus pada negosiasi dengan pemerintahan Trump, seperti yang berhasil dilakukan pada 2019 saat memproduksi Mac Pro di Texas, untuk menjaga harga kompetitif dan menghindari tarif besar-besaran.

    Dengan semua tantangan ini, konsumen di Negeri Paman Sam mungkin harus bersiap membayar jauh lebih mahal untuk iPhone “Made in USA”-jika itu pernah terwujud.

    (afr/afr)

  • Bukti Baru Orang China Lebih Pintar dari Ahli Eropa, Dunia Geger

    Bukti Baru Orang China Lebih Pintar dari Ahli Eropa, Dunia Geger

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ilmuwan dibuat geger setelah sebuah studi terbaru mengungkap bahwa buku katalog bintang tertua di dunia ternyata berasal dari China dan usianya lebih dari 2.300 tahun. Penemuan ini berpotensi menggeser posisi karya astronom Yunani Hipparchus yang sebelumnya dianggap tertua.

    Penelitian pracetak ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Chinese National Astronomical Observatories, yang menganalisis naskah kuno berjudul Star Manual of Master Shi menggunakan teknologi pemrosesan citra digital berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Dengan teknik bernama Generalized Hough Transform, tim dapat memetakan kembali posisi bintang dan menyesuaikannya dengan pergerakan alami langit malam akibat pergeseran sumbu Bumi selama ribuan tahun.

    Hasilnya cukup mengejutkan. Naskah tersebut ternyata berasal dari tahun 355 SM, atau sekitar 250 tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

    “Saya rasa ini cukup meyakinkan,” ujar David Pankenier, profesor emeritus bidang astronomi China di Lehigh University, dikutip dari Live Science, Jumat (1/8/2025).

    Ia menambahkan bahwa penemuan ini menguatkan penelitian lama, termasuk karya Joseph Needham yang meneliti sains dan teknologi kuno Tiongkok.

    Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Star Manual of Master Shi sempat diperbarui sekitar tahun 125 Masehi, meski beberapa revisinya dianggap tidak akurat. Hal ini menjelaskan mengapa terdapat ketidaksesuaian antara beberapa posisi bintang dalam naskah tersebut.

    Namun, tak semua ilmuwan sependapat soal penelitian ini. Daniel Morgan, sejarawan dari Pusat Penelitian Peradaban Asia Timur di Prancis, yang menyebut bahwa manuskrip ini kemungkinan berasal dari sekitar tahun 103 SM, bersamaan dengan munculnya penggunaan sistem koordinat bola dan penciptaan bola armilar, alat astronomi berbentuk cincin logam yang menggambarkan lintang, bujur, dan lintasan rasi bintang.

    “Kalau kita pertimbangkan bahwa mungkin instrumen awalnya meleset satu derajat, semua data astronominya justru selaras dengan konteks manusianya,” ujarnya.

    Penemuan ini menjadi sorotan karena terkait erat dengan kebanggaan nasional. Sebab selama 300 tahun terakhir, klaim siapa yang pertama membuat alat ilmiah menjadi semacam perlombaan antarperadaban.

    Ia menambahkan bahwa selama abad ke-20, ilmuwan Eropa sempat meremehkan kemampuan astronom China kuno, meski catatan mereka terbukti sangat akurat.

    Terlepas dari perdebatan mengenai siapa yang pertama, peneliti sepakat bahwa naskah Star Manual of Master Shi merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah astronomi dunia.

    Studi pracetak ini sekarang sedang dalam proses review di jurnal Research in Astronomy and Astrophysics.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Morgan dan MV Agusta Edisi Terbatas Masuk Indonesia!

    Morgan dan MV Agusta Edisi Terbatas Masuk Indonesia!

    Jakarta

    Mobil langka Morgan Midsummer dan motor edisi terbatas MV Agusta Superveloce 1000 Serie Oro resmi hadir di Indonesia, masing-masing hanya diproduksi 50 dan 500 unit di seluruh dunia.

    Kedua kendaraan itu dimasukkan oleh TDA Luxury Toys, beroperasi sebagai authorized dealer Morgan Motor Company, Koenigsegg, dan MV Agusta di Indonesia.

    “Kebanggaan besar bagi kami, karena dapat mempersembahkan dua ikon otomotif langka: Superveloce 1000 Serie Oro dari MV Agusta, motor limited edition dengan hanya 500 unit di dunia, dan Morgan Midsummer, yang jumlahnya cuma 50 unit di dunia,” kata William Tjandra, President Director TDA Luxury Toys dikutip dari keterangan resminya, Senin (4/8/2025).

    Morgan Midsummer merupakan hasil kolaborasi antara Morgan Motor Company dan rumah desain legendaris asal Italia, Pininfarina S.p.A.

    Morgan Midsummer mengusung gaya barchetta, – dua tempat duduk tanpa kaca depan. Lebih lanjut, mobil ini menjadi salah satu “fuoriserie” dari Pininfarina, mobil yang dirancang dan dibangun secara khusus, jumlahnya sangat terbatas.

    Morgan Midsummer dan MV Agusta Superveloce 1000 Serie Oro Foto: Dok. TDA Luxury Toys

    Setiap lekuk bodi Morgan Midsummer dibentuk secara manual dari aluminium, melibatkan lebih dari 250 jam pengerjaan tangan. Di balik desain retro-nya, Midsummer mengusung teknologi performa tinggi. Mobil ini memakai mesin 3.0L inline-6 turbocharged BMW B58, serupa dengan yang digunakan pada Morgan Plus Six. Output tenaganya mencapai sekitar 335-340 hp, dipadukan dengan transmisi otomatis 8-percepatan ZF.

    Superveloce 1000 Serie Oro adalah edisi spesial yang hanya diproduksi sebanyak 500 unit di seluruh dunia.

    Motor ini terinspirasi desain dari motor balap MV Agusta era 1970-an, dipadukan dengan teknologi superbike masa kini. Desain fairing aerodinamis, winglet dari serat karbon, dan knalpot empat lubang underseat menjadi ciri khas yang langsung membedakannya di jalan.

    Di balik tampilannya yang klasik, motor ini mengusung jantung mekanis brutal: mesin 4-silinder segaris 998 cc yang mampu menghasilkan tenaga hingga 208 hp pada 13.000 rpm dan torsi 116,5 Nm. Dengan bantuan kit balap, output bisa meningkat hingga 212 hp.

    Motor ini dipadukan dengan transmisi 6-percepatan quickshifter EAS 4.0. Akselerasinya bisa melesat dari 0-100 km/jam hanya dalam 3,1 detik, dengan top speed lebih dari 300 km/jam.

    Selain dua kendaraan legendaris tersebut, TDA Luxury Toys juga menampilkan dua model unggulan lainnya: Morgan PlusFour, – roadster klasik modern dan MV Agusta Enduro Veloce, – motor adventure modern pabrikan Italia dengan kapasitas mesin 931 cc.

    Morgan PlusFour Foto: Dok. TDA Luxury Toys

    TDA Luxury Toys belum memberikan harga dari Morgan Midsummer dan Superveloce 1000 Serie Oro dari MV Agusta. Naumn untuk Morgan PlusFour estimasinya 125.500 poundsterling (sekitar Rp 2,7 miliaran dan MV Agusta Enduro Veloce sekitar 59 ribu Euro (Rp 1,1 miliaran).

    (riar/din)

  • Album Stray Kids Jadi Penjualan Terlaris di Amerika Serikat Tahun Ini!

    Album Stray Kids Jadi Penjualan Terlaris di Amerika Serikat Tahun Ini!

    JAKARTA – Artis K-pop sudah mendominasi global tidak hanya secara digital, namun juga fisik. Hal itu terbukti dengan lima grup K-pop yang berhasil menjual album mereka di Amerika Serikat.

    Luminate atau Nielsen Music merilis data dari Billboard yang menunjukkan daftar penjualan album fisik terlaris di Amerika Serikat selama paruh pertama tahun 2025. Seluruh penjualan dihitung dari 3 Januari hingga 3 Juli lalu.

    Peringkat pertama dipimpin oleh The Weeknd yang merilis Hurry Up Tomorrow sebanyak 163 ribu keping. Urutan kedua disusul dengan album spesial dari Stray Kids, 合 (HOP) menjadi album K-pop terlaris dengan 149 ribu keping.

    Pada peringkat ketiga, ada ENHYPEN dengan album terbaru mereka yaitu DESIRE: UNLEASH yang terjual sebanyak 145 ribu keping. Mereka baru merilis album ini sebulan sebelum masa perhitungan selesai.

    Kemudian ada ATEEZ dengan album GOLDEN HOUR: Part. 3 yang turut dirilis berdekatan dengan ENHYPEN dan meraup 116 ribu keping.

    Grup SEVENTEEN dengan album HAPPY BURSTDAY juga berada di peringkat ketujuh dengan 79 ribu keping yang terjual.

    Selain keempat grup, ada LE SSERAFIM yang berada di peringkat ke-9 dengan album HOT yang terjual 73 ribu keping yang terjual di Amerika Serikat.

    Lima artis K-pop yang berada di daftar membuktikan bahwa minat publik terhadap album fisik masih meningkat. Mereka juga bersaing dengan para musisi global yang mengukuhkan status mereka di mata dunia.

    Berikut peringkat penjualan album terlaris di Amerika Serikat untuk paruh pertama tahun 2025:

    The Weeknd – Hurry Up Tomorrow (163.000)Stray Kids – 合 (HOP) (149.000)ENHYPEN – DESIRE: UNLEASH (145.000)ATEEZ – GOLDEN HOUR: Part. 3 (116.000)Sabrina Carpenter – Short n’ Sweet (93.000)Lady Gaga – MAYHEM (83.000)SEVENTEEN – HAPPY BURSTDAY (79.000)Kendrick Lamar – GNX (75.000)LE SSERAFIM – HOT (73.000)Morgan Wallen – I’m the Problem (71.000)

  • Aliran Dana Asing Ramai Masuk ke Bursa Korea, Ada Apa?

    Aliran Dana Asing Ramai Masuk ke Bursa Korea, Ada Apa?

    Bisnis.com, JAKARTA – Saham-saham di Bursa Korea Selatan memiliki kinerja terbaik di antara pasar saham utama lainnya dan menjadi magnet penarik untuk investor asing.

    Dilansir dari Bloomberg, Minggu (27/7/2025), hal ini dipicu oleh reformasi kebijakan regulator untuk meningkatkan valuasi dan pemberdayaan pemegang saham minoritas mulai mendapat perhatian.

    Pada bulan ini, regulator Korea menyetujui perubahan undang-undang penting yang menjadikan anggota dewan direksi bertanggung jawab secara hukum kepada seluruh pemegang saham.

    Fokus mereka kini beralih ke gelombang reformasi berikutnya, termasuk perbaikan sistem pemungutan suara dalam pemilihan anggota dewan serta pengurangan kepemilikan saham treasuri, dengan tujuan menertibkan perusahaan konglomerat keluarga atau chaebol yang mendominasi perekonomian Korea.

    Investor global dari Wall Street di AS hingga London pun mengamati kebijakan tersebut. Perusahaan pengelola dana asing, yang sebelumnya keluar dari saham-saham Korea untuk 9 bulan berturut-turut, mulai kembali. Bank-bank global seperti Goldman Sachs Group Inc., JPMorgan Chase & Co., Citigroup Inc., dan Morgan Stanley menjadi beberapa investor yang mendorong pasar saham Korea mulai Juni 2025.

    Indeks Kospi pun melonjak 33% sepanjang tahun ini, mendorong nilai pasar saham Korea melampaui US$2 triliun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

    Jonathan Pines dari perusahaan Federates Hermes menyampaikan reformasi kebijakan tersebut akan berkontribusi pada kelanjutan pergeseran budaya yang sudah berlangsung.

    “Dan akan mengurangi kemampuan pemegang saham pengendali untuk memaksakan restrukturisasi yang menguntungkan mereka dan mengorbankan pemegang saham minoritas,” jelasnya. Dia pun menyampaikan pandangan overweight terhadap saham Korea.

    Adapun, Otoritas Korea Selatan telah berupaya untuk meniru kesuksesan yang terlihat di Jepang, di mana dorongan untuk reformasi perusahaan membantu meningkatkan valuasi dan memacu reli ekuitas.

    Optimisme bahwa negara tersebut serius dalam menangani apa yang disebut “diskon Korea” telah tumbuh sejak Presiden Lee Jae Myung, yang baru terpilih, menjadikan peningkatan standar tata kelola dan peningkatan imbal hasil pasar saham sebagai salah satu prioritas utamanya.

    Arus net inflow dana asing Korea telah melampaui U$3 miliar hanya pada Juli 2025. Angka ini lebih besar daripada gabungan pembelian dalam dua bulan sebelumnya.

    “Kami melihat perubahan besar dalam tata kelola perusahaan. Hal seperti ini tidak membutuhkan lingkungan global yang baik dan hampir seperti pengembangan diri,” kata Joshua Crabb, kepala ekuitas Asia Pasifik di Robeco Hong Kong Ltd., seraya menekankan peningkatan disiplin modal, pembelian kembali saham, dan dividen.

  • Arah Moneter Bank Sentral Eropa di Tengah Ancaman Tarif, Tahan atau Pangkas?

    Arah Moneter Bank Sentral Eropa di Tengah Ancaman Tarif, Tahan atau Pangkas?

    Bisnis.com, JAKARTA — Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan akan mengabaikan ancaman ekonomi yang ditimbulkan oleh tarif dari Presiden AS Donald Trump dengan memilih untuk menunda pemotongan suku bunga hingga waktu yang belum ditentukan.

    Melansir dari Bloomberg, Minggu (20/7/2025), dalam keputusan akhir sebelum libur musim panas selama tujuh minggu, para pembuat kebijakan pada Kamis (24/7) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tetap di level 2%.

    Langkah itu menjadi penundaan respons terhadap ancaman tarif 30% Trump hingga tarif tersebut diterapkan dan dampaknya dapat dievaluasi dengan lebih baik.

    Saat banyak pejabat kemungkinan akan memanfaatkan jeda ini untuk liburan panjang, penegasan kembali bahwa inflasi berada pada target dan menunda kekhawatiran tentang prospek ekonomi hingga perkiraan kuartalan baru disusun untuk pertemuan 10-11 September mendatang, mungkin tampak tepat.

    Namun, yang diketahui oleh para pembuat kebijakan adalah bahwa masalah sedang mengintai. Selain kekhawatiran tentang tarif, mata uang euro telah menguat, meredam prospek harga dan mengancam untuk semakin menekan eksportir. 

    Sementara itu, krisis politik lain di Prancis mungkin sedang mengemuka terkait keuangan publik yang membengkak. 

    Mengingat latar belakang tersebut, Dewan Pengurus European Central Bank (ECB) mungkin mengakui di antara mereka bahwa peluang pemotongan suku bunga lagi pada September semakin besar, meskipun mereka tetap pada pendekatan “pertemuan demi pertemuan” yang sudah biasa dalam pengambilan keputusan. 

    Dalam konteks itu, ekonom Morgan Stanley dalam preview berjudul “Ready for the Beach” memperkirakan Presiden ECB Christine Lagarde dalam pernyataan pembukaannya kepada wartawan pada Kamis mendatang kemungkinan akan mengulang pernyataan bahwa risiko terhadap pertumbuhan “berpihak pada sisi bawah”.

    Ekonom senior Bloomberg untuk kawasan Eropa David Powell menyampaikan bahwa pertemuan 24 Juli mendatang masih belum akan memperjelas waktu pemangkasan suku bunga.   

    “Kami memperkirakan bahasa Dewan Pengurus setelah pertemuan 24 Juli akan serupa dengan formulasi pada Juni, meninggalkan kemungkinan pemotongan lagi, tanpa komitmen [kapan pemotongan],” ujarnya.  

    Laporan ekonomi dalam sepekan ke depan akan menjadi bahan pertimbangan pada dewan di ECB.  

    Di antaranya adalah survei pinjaman bank ECB yang dijadwalkan pada Selasa, kepercayaan konsumen pada Rabu, dan indeks manajer pembelian dari seluruh kawasan dan ekonomi besar lainnya, yang akan dirilis pada Kamis, beberapa jam sebelum hasil pembahasan ECB.  

    Indikator kunci lainnya seperti kepercayaan bisnis Ifo Jerman yang sangat diperhatikan dan sentimen ekonomi Italia akan dirilis pada Jumat. 

    Sementara di AS sendiri, Pejabat Fed tengah berada dalam periode larangan berbicara menjelang pertemuan 29-30 Juli. Kalender data ekonomi AS relatif ringan dan ditandai oleh dua laporan pasar perumahan.

    Pada Rabu, data Juni dari Asosiasi Agen Properti Nasional (NAR) diperkirakan menunjukkan perubahan minimal dalam penjualan rumah bekas untuk bulan ketiga berturut-turut. Penutupan kontrak penjualan rumah bekas telah berkisar di tingkat tahunan 4 juta, sedikit di atas level tahun lalu yang merupakan yang terlemah sejak 2010.

    Sementara itu, ekonom memperkirakan laporan pemerintah pada Kamis akan menunjukkan penjualan rumah baru sedikit pulih pada Juni setelah mengalami penurunan bulanan terbesar sejak 2022. Kecepatan penandatanganan kontrak rumah baru sebagian besar stagnan selama dua tahun terakhir. 

    Pasar perumahan kesulitan untuk mendapatkan momentum karena suku bunga hipotek yang tinggi dan kendala keterjangkauan membuat banyak calon pembeli menunda pembelian. 

    Laporan lain termasuk rilis pesanan barang tahan lama Juni pada Jumat, didahului oleh survei manufaktur dan jasa S&P Global untuk Juli pada Kamis.

  • Sepak Terjang Tom Lembong, Mantan Mendag Era Jokowi yang Divonis 4,5 Tahun Penjara – Page 3

    Sepak Terjang Tom Lembong, Mantan Mendag Era Jokowi yang Divonis 4,5 Tahun Penjara – Page 3

    Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Menteri Perdagangan.

    Sebelumnya, pria kelahiran Jakarta ini pernah menduduki posisi sebagai Kepala BKPM pada 27 Juli 2016-20 Oktober 2019. Tom Lembong pernah menjadi Menteri Perdagangan (Mendag) di era Presiden Jokowi. Kala itu Tom Lembong menggantikan Rahmat Gobel menjadi Menteri Perdagangan pada 2015.

    Sebelum menduduki posisi penting di pemerintahan, Tom Lembong pernah berkarier di sejumlah lembaga keuangan internasional antara lain Deutshce Bank, Morgan Stanley serta Farindo Investments.

    Awal karier Tom Lembong  sebagai Sales and Trading Associate di Morgan Stanley and Company. Kemudian ia bekerja di Morgan Stanley Divisi Ekuitas (Singapura) menjabat sebagai Senior Manager di Departemen Corporate Finance Makindo. Kemudian investment banker dari Deutsche Securities.

  • Profil Tom Lembong: Mendag Era Jokowi, Timses Anies, dan Kini Divonis Penjara

    Profil Tom Lembong: Mendag Era Jokowi, Timses Anies, dan Kini Divonis Penjara

    Profil Tom Lembong: Mendag Era Jokowi, Timses Anies, dan Kini Divonis Penjara
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Thomas Trikasih Lembong alias
    Tom Lembong
    dihukum 4 tahun dan 6 bulan penjara dalam kasus dugaan korupsi importasi gula.
    Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat menyebut, Tom Lembong terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum.
    “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa, Thomas Trikasih Lembong oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun dan 6 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Dennie Arsan Fatrika membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jumat (18/7/2025).
    Sebelum kasus dugaan korupsi importasi gula, nama Tom Lembong sudah ramai diberitakan dan dibicarakan publik.
    Khususnya saat ia tergabung dalam tim pemenangan
    Anies Baswedan
    untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2025.
    Namun, siapakah Tom Lembong sebelum terjun ke dunia politik pada Pilpres 2024. Berikut profil dan perjalanan Tom Lembong yang baru saja divonis 4,5 tahun penjara:
    Tom Lembong lahir pada 4 Maret 1971 dan bermukim di Jerman pada usia 3 sampai 10 tahun. Namun, dia sempat mengenyam pendidikan di Regina Pacis, Palmerah, Jakarta.
    Setelah lulus SMA, Tom Lembong menyelesaikan pendidikan tingginya di Harvard University pada 1994 dengan gelar Bachelor of Arts (B.A.) di bidang arsitektur dan tata kota.
    Namun, ia justru berkecimpung di industri jasa keuangan. Tom Lembong bekerja di Divisi Ekuitas Morgan Stanley di Singapura pada 1995.
    Setelah itu, ia menduduki posisi sebagai bankir investasi di Deutsche Securities Indonesia dari 1999 sampai 2000.
    Tom Lembong juga pernah menjadi penasihat ekonomi ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
    Posisi ini dipertahankan sampai Jokowi menjadi presiden 2014. Lalu, Tom menjadi Menteri Perdagangan (Mendag) pada 2015-2016, sebelum digeser menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sampai 2019.
    Lama tak terdengar, Tom Lembong kemudian memutuskan bergabung dalam tim pemenangan Anies untuk Pilpres 2024. Ia didapuk menjadi Co-Captain Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
    Namun, bergabungnya Tom Lembong ke tim pemenangan Anies disebutnya membuka pintu politisasi untuk “mentersangkakannya”.
    Saat membacakan pledoi untuk kasus dugaan korupsi importasi gula, Tom Lembong menyebut bahwa bergabung dengan oposisi, maka dirinya terancam dipidana.
    “Sinyal dari penguasa sangat jelas. Saya bergabung ke oposisi, maka saya terancam dipidana,” ujar Tom Lembong saat membacakan pledoi, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2025) malam.
    Hal tersebut terbukti saat surat perintah penyidikan (sprindik) kasus impor gula yang diterbitkan Kejaksaan Agung (Kejagung). Sprindik yang pertama atas kasus impor gula diterbitkan pertama kali oleh Kejagung pada 3 Oktober 2023.
    “Meskipun demikian, saya resmi bergabung pada tim kampanye nasional sebuah pasangan capres-cawapres yang berseberangan dengan penguasa pada tanggal 14 November 2023,” ujar Tom Lembong.
    Setelah itu, ia menangkap sinyal dari penguasa saat Tom Lembong ditangkap dan dibui atas kasus dugaan korupsi importasi gula.
    “Sinyal itu sangat jelas saat saya ditangkap dan dipenjara dua minggu setelah penguasa mengamankan kekuasaannya dengan pelantikan resmi di DPR RI,” ujar Tom Lembong.
    “Dan sinyal itu semakin jelas bagi semua pada hari ini,” sambungnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.