Tag: Mohammed bin Salman

  • Presiden Sementara Suriah Yakin Dapatkan Dukungan Saudi

    Presiden Sementara Suriah Yakin Dapatkan Dukungan Saudi

    Jakarta

    Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, tiba di Arab Saudi pada hari Minggu (02/02) dalam perjalanan internasional pertama sejak kelompok militan pemberontaknya menggulingkan mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024.

    Setelah bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Ahmad al-Sharaa mengatakan Arab Saudi berkomitmen mendukung negara yang dilanda perang itu.

    “Kami mengadakan pertemuan panjang di mana kami merasakan dan mendengar keinginan yang tulus untuk mendukung Suriah dalam membangun masa depannya,” kata al-Sharaa dalam sebuah pernyataan di Telegram.

    Perjalanan pemimpin sementara Suriah ke Riyadh secara luas dipandang sebagai tanda minat pemerintahnya untuk menyelaraskan diri lebih erat dengan Teluk dan menjauh dari Iran.

    Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    Iran menghabiskan sekitar US$30-50 miliar di Suriah untuk memastikan stabilitas rezim Bashar Assad dalam tiga belas tahun terakhir.

    Di sisi lain, Arab Saudi telah menjadi salah satu negara Arab yang menggelontorkan uang ke kelompok pemberontak yang mencoba menggulingkan Bashar Assad selama perang saudara Suriah. Namun, pemberontak saat itu dapat dipukul mundur oleh Assad, yang didukung oleh Iran dan Rusia.

    Presiden Suriah terbang dengan jet Saudi

    Al-Sharaa, yang pernah bersekutu dengan kelompok militan Islam al-Qaeda, mendarat di Riyadh bersama menteri luar negeri pemerintahnya, Asaad al-Shaibani.

    Keduanya melakukan perjalanan dengan jet milik Arab Saudi, bendera Saudi juga terlihat di atas meja di belakang mereka.

    Bendera tiga bintang dan tiga warna baru Suriah berkibar di sebelah bendera Arab Saudi di bandara saat al-Sharaa yang mengenakan jas dan dasi berjalan keluar dari pesawat.

    Menggalang dukungan untuk mencabut sanksi internasional terhadap Suriah menjadi topik utama diskusi selama perjalanan tersebut, menurut media Saudi.

    Transisi politik Suriah setelah Assad

    Al-Sharaa adalah pemimpin kelompok militan Hayat Tahrir Al-Sham atau HTS yang mempelopori serangan kilat yang menggulingkan Bashar Assad pada bulan Desember.

    Al-Sharaa ditunjuk sebagai penjabat presiden untuk masa transisi pada awal minggu ini.

    Selain itu, kelompok HTS juga membuat perubahan lain untuk memberi jalan bagi transisi politik di Suriah, menurut media pemerintah negara itu.

    ae/yf (AFP, AP)

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Bertemu Pangeran MBS, Al-Sharaa: Arab Saudi Memiliki Keinginan Tulus untuk Dukung Masa Depan Suriah – Halaman all

    Bertemu Pangeran MBS, Al-Sharaa: Arab Saudi Memiliki Keinginan Tulus untuk Dukung Masa Depan Suriah – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden sementara Suriah, Ahmed Al-Sharaa, melakukan kunjungan ke Arab Saudi dan bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dalam lawatan luar negeri pertamanya sejak diangkat sebagai presiden pemerintahan transisi pada 29 Januari 2025.

    Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa Al-Sharaa bertemu dengan MBS, pemimpin de facto Arab Saudi.

    Sebelumnya, Al-Sharaa disambut oleh Wakil Gubernur Wilayah Riyadh, Pangeran Mohammed bin Abdulrahman bin Abdulaziz, saat tiba di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh pada Minggu (2/2/2025).

    Dalam kunjungan ini, Al-Sharaa didampingi oleh Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al-Shaibani.

    Setelah pertemuan tersebut, Al-Sharaa menyatakan bahwa pertemuannya dengan MBS menunjukkan bahwa Arab Saudi memiliki niat tulus untuk mendukung Suriah dalam membangun masa depannya.

    Al-Sharaa juga menambahkan bahwa pembicaraan di Riyadh mencakup rencana kerja sama di bidang energi, teknologi, pendidikan, dan kesehatan.

    Osama Bin Javaid dari Al Jazeera melaporkan bahwa Al-Sharaa memilih Riyadh sebagai tujuan pertamanya untuk menegaskan pentingnya peran Arab Saudi dalam membentuk masa depan Suriah yang baru.

    Al-Sharaa memimpin oposisi Suriah dalam menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad yang telah lama berkuasa pada 8 Desember 2024.

    Sejak itu, pemerintahan baru Suriah berusaha mendapatkan legitimasi regional dan internasional serta mengupayakan pencabutan sanksi Barat yang merugikan.

    ERA BARU SURIAH – Tangkap layar YouTube Al Arabiya English yang diambil pada Senin (3/2/2025), menampilkan pemimpin Suriah tiba di Arab Saudi, Minggu (2/2/2025). Ahmed Al-Sharaa kemudian bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) (Tangkap layar YouTube Al Arabiya English)

    Namun, keanggotaan Al-Sharaa di masa lalu dalam al-Qaeda menimbulkan kekhawatiran di beberapa pihak, meskipun kepemimpinan baru Suriah berfokus pada integrasi regional dan perlindungan bagi minoritas agama dan etnis.

    Pada kunjungan ke Damaskus minggu lalu, Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa negaranya terlibat dalam dialog aktif dengan Eropa dan Amerika Serikat untuk membantu mencabut sanksi ekonomi terhadap Suriah.

    Bin Javaid melaporkan bahwa kunjungan Al-Sharaa bertujuan untuk mengingatkan pejabat Saudi tentang janji ini dan mendapatkan bantuan yang diperlukan dalam membangun kembali infrastruktur, pemerintahan, dan lembaga-lembaga di Suriah.

    Kunjungan ke Riyadh ini juga melambangkan pergeseran hubungan masa depan Suriah dari kesetiaan terhadap Iran dan Rusia yang didukung Presiden Bashar al-Assad.

    Bulan lalu, Al-Sharaa mengatakan kepada TV Al Arabiya bahwa Arab Saudi akan memiliki peran besar dalam masa depan Suriah, terutama dalam hal peluang investasi besar bagi negara-negara tetangga.

    Kunjungan pada Minggu itu berlangsung setelah Menteri Luar Negeri Suriah, Al-Shaibani, juga melakukan perjalanan ke Riyadh bulan lalu.

    Sementara itu, Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, mengunjungi Damaskus pada Kamis (30/1/2025), menjadi pemimpin Arab pertama yang melakukannya sejak Al-Assad digulingkan.

    Analisis: Pertemuan Simbolis Suriah dengan Arab Saudi dan Qatar

    Menurut analisis dari The Jerusalem Post, pertemuan pemimpin Suriah dengan pemimpin Qatar dan Arab Saudi merupakan momen yang bersejarah sekaligus simbolis.

    Selama beberapa tahun terakhir, Qatar dan Arab Saudi sering memiliki pandangan yang berbeda.

    Qatar cenderung lebih dekat dengan Iran dan Turki serta mendukung kelompok yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, seperti Hamas.

    Di sisi lain, Arab Saudi menentang Ikhwanul Muslimin dan memiliki hubungan lebih erat dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir.

    Oleh karena itu, perjalanan Ahmed al-Sharaa mencerminkan bagaimana ia bergerak di antara dua kutub ini, dimulai dari pertemuan dengan Qatar hingga ke Arab Saudi.

    Langkah ini menunjukkan upaya diplomatiknya untuk menjalin hubungan dengan kedua pihak yang selama ini berbeda pandangan.

    Meskipun kedua negara Arab ini tampak telah “berbaikan”, dinamika politik di Timur Tengah seringkali lebih kompleks dari yang terlihat.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

  • Pemimpin Suriah Tiba di Arab Saudi dalam Perjalanan Luar Negeri Pertamanya, Mengapa Bukan ke Iran? – Halaman all

    Pemimpin Suriah Tiba di Arab Saudi dalam Perjalanan Luar Negeri Pertamanya, Mengapa Bukan ke Iran? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, melakukan perjalanan luar negeri pertamanya pada Minggu (2/2/2025), dan negara yang dipilihnya adalah Arab Saudi.

    Mengutip Associated Press, langkah ini dianggap sebagai sinyal bahwa Suriah akan menjauh dari Iran, yang sebelumnya merupakan sekutu regional utamanya.

    Ahmad al-Sharaa mendarat di Riyadh bersama Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani.

    Keduanya tiba menggunakan jet Saudi, dengan bendera negara tersebut terlihat di meja di belakang mereka.

    Televisi pemerintah Saudi menyoroti bahwa perjalanan pertama al-Sharaa, yang awalnya dikenal di dunia internasional dengan nama samaran Abu Mohammed al-Golani, menjadikan Riyadh sebagai tujuan pertamanya.

    Bendera tiga warna Suriah dengan tiga bintang berkibar di samping bendera Arab Saudi di bandara ketika al-Sharaa, yang mengenakan jas dan dasi, turun dari pesawat.

    Dia dijadwalkan bertemu dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan, selama kunjungannya.

    Arab Saudi sebelumnya merupakan salah satu negara yang mendukung kelompok-kelompok yang berupaya menggulingkan mantan Presiden Suriah, Bashar Assad, pada tahun 2011.

    Namun, kelompok-kelompok tersebut mundur saat Assad, yang didukung Iran dan Rusia, memenangkan banyak pertempuran dalam konflik tersebut.

    Keadaan berubah pada Desember lalu ketika serangan kilat yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di bawah pimpinan al-Sharaa berhasil menggulingkan Assad.

    HTS sebelumnya terkait dengan al-Qaida, tetapi kemudian memutuskan hubungannya.

    Setelah menggulingkan Assad, al-Sharaa dan HTS berhati-hati dalam membangun citra publik mereka, terutama untuk menghilangkan sanksi yang dijatuhkan pada Suriah selama rezim Assad.

    Al-Sharaa juga menunjuk perempuan dalam jabatan penting dan berusaha menjaga hubungan baik dengan komunitas Kristen dan Syiah Alawite di Suriah.

    Selain itu, ia juga berupaya menjaga jarak dari Iran dan Rusia.

    Hingga saat ini, Iran belum membuka kembali kedutaannya di Damaskus.

    Sebelumnya, Suriah adalah simpul penting dalam menjalankan operasi melalui “Poros Perlawanan” Iran, yang melibatkan Hizbullah di Lebanon dan kelompok-kelompok lain.

    Sementara itu, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera yang dipublikasikan pada Sabtu (1/2/2025), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran mendukung pemerintahan yang dibentuk oleh rakyat Suriah.

    “Kami mendukung pemerintahan mana pun yang dipilih dan didukung oleh rakyat Suriah,” katanya.

    “Kami menginginkan perdamaian dan keamanan bagi Suriah yang merupakan pendahulu untuk mencapai hal yang sama di wilayah tersebut.”

    “Kami tidak ingin melihat Suriah sebagai pusat ketegangan tanpa akhir atau konflik etnis yang dapat mengubahnya menjadi tempat berlindung yang aman bagi teroris.”

    Pada Januari lalu, Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, mengunjungi Damaskus dan menyatakan bahwa Riyadh secara aktif terlibat dalam dialog untuk mencabut sanksi terhadap Suriah.

    Arab Saudi, berbeda dengan sekutu utama al-Sharaa seperti Turki dan Qatar, telah memulihkan hubungan dengan Assad pada 2023 bersama sebagian besar negara Arab lainnya.

    Tantangan di Dalam Negeri

    Sementara itu, pemerintah sementara Suriah masih menghadapi tantangan dari ISIS dan kelompok militan lainnya.

    Pada Sabtu (1/2/2025), sebuah bom mobil meledak di Manbij, sebuah kota di provinsi Aleppo, menewaskan empat warga sipil dan melukai sembilan orang, menurut laporan SANA yang mengutip pejabat pertahanan sipil.

    Pemberontak Suriah yang didukung oleh Turki merebut Manbij pada Desember lalu, sebagai bagian dari upaya Ankara untuk menciptakan zona penyangga di wilayah Suriah dekat perbatasannya.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

  • Surat Kabar Israel Tanggapi Rencana Trump untuk Pindahkan Warga Palestina ke Mesir atau Yordania – Halaman all

    Surat Kabar Israel Tanggapi Rencana Trump untuk Pindahkan Warga Palestina ke Mesir atau Yordania – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM –  Sejumlah tokoh terkemuka di Israel, termasuk jurnalis dan komentator ternama, menanggapi usulan Presiden AS Donald Trump untuk membersihkan Gaza dan memindahkan secara paksa warga Palestina ke Yordania dan Mesir.

    Sebelumnya, pada Sabtu (25/1/2025), kurang dari seminggu setelah gencatan senjata di Gaza, Trump menyebut Jalur Gaza sebagai “lokasi pembongkaran”.

    Dia mengatakan bahwa lebih baik jika semuanya dibersihkan.

    “Saya ingin Mesir menerima orang,” kata Trump, mengutip Middle East Eye.

    “Anda berbicara tentang sekitar satu setengah juta orang, dan kita membersihkan semuanya dan berkata: ‘Anda tahu, ini sudah berakhir’.”

    Trump menyatakan terima kasihnya kepada Yordania yang telah berhasil menerima pengungsi Palestina.

    Ia mengatakan kepada raja, “Saya ingin Anda menerima lebih banyak orang, karena saya melihat seluruh Jalur Gaza sekarang, dan itu kacau balau. Benar-benar kacau.”

    Trump menambahkan bahwa pemindahan itu bisa bersifat sementara atau bisa bersifat jangka panjang.

    Rencana ini mendapat kecaman langsung dari Palestina, serta Yordania dan Mesir.

    EDITORIAL HAARETZ – Tangkapan layar laman media Haaretz yang diambil pada 29 Januari 2025, berisi pandangan editorial mengenai rencana Donald Trump untuk merelokasi warga Gaza. Pernyataan Trump ditolak dan dikecam secara luas. (Tangkap layar website Haaretz)

    Negara-negara tersebut menolak gagasan Trump karena khawatir Israel tidak akan pernah mengizinkan warga Palestina kembali ke Gaza jika mereka dipaksa untuk pergi.

    Surat kabar resmi Israel, Haaretz, mengeluarkan serangan pedas terhadap usulan kebijakan Trump pada hari Senin (27/1/2025).

    Dewan redaksi Haaretz menyatakan bahwa Jalur Gaza adalah rumah bagi lebih dari dua juta warga Palestina.

    “Pada tingkat ini Trump kemungkinan akan mengusulkan agar warga Gaza diluncurkan ‘secara sukarela’ ke luar angkasa dan menetap di Mars, sesuai dengan semangat janjinya dalam pidato pelantikannya,” tulis dewan redaksi.

    “Mengapa tidak bendera Palestina juga? Mungkin saja mitranya Elon Musk sudah mengerjakannya.”

    Chaim Levinson, seorang kolumnis di Haaretz, menulis: 

    “Saya minta maaf, tetapi saya harus mengecewakan Anda. Setelah memeriksa dengan sejumlah pejabat, baik di Israel maupun di negara-negara terkait—termasuk para diplomat yang terlibat dalam negosiasi—tampaknya ini hanya visi seorang taipan properti, tanpa rencana konkret yang nyata.”

    “Orang-orang yang tinggal di Jalur Gaza dianggap sebagai penderita kusta di antara teman-teman mereka dari negara-negara Islam lainnya.”

    “Semua orang membicarakan tentang penderitaan mereka, dari emir Qatar hingga presiden Mesir, yang bersedia mengirimi mereka uang – tetapi menerima orang? Ada batasnya, dan mereka akan dengan tegas mematuhinya.”

    Sementara itu, Zvi Bar’el, kolumnis di Haaretz, mengatakan tidak masuk akal jika Yordania akan menerima lebih banyak warga Palestina, terutama setelah pidato Raja Abdullah pada bulan September lalu di Majelis Umum PBB.

    Raja Abdullah mengatakan Kerajaan Hashemite tidak akan pernah menjadi tanah air alternatif bagi warga Palestina.

    “Selama puluhan tahun, Yordania mencurigai dan memperhatikan wacana Israel tentang pembentukan tanah air alternatif bagi Palestina, dan terus-menerus meminta pernyataan yang jelas dari para pemimpin Israel bahwa mereka tidak berniat menghancurkan identitas demografis kerajaan tersebut,” kata Bar’el.

    “Ketika, selama perang di Gaza, usulan agar ratusan ribu warga Gaza dideportasi ke Mesir dan negara-negara lain kembali diajukan, Yordania dan Mesir menerima jaminan Israel bahwa tidak ada niat untuk memulai pemindahan warga Palestina dari Gaza,” tambahnya.

    Middle East Eye melaporkan sebelumnya bahwa rencana apa pun untuk “membersihkan Gaza” akan menjadi pelanggaran hukum internasional. 

    Ardi Imseis, profesor hukum internasional di Universitas Queen dan mantan pejabat PBB, mengatakan bahwa keinginan Trump untuk merelokasi warga Palestina secara massal dari Jalur Gaza yang diduduki adalah ilegal sekaligus angan-angan semata.

    “Berdasarkan hukum humaniter internasional dan hukum pidana internasional, pemindahan paksa secara individu atau massal, serta deportasi orang-orang yang dilindungi dari wilayah pendudukan ke wilayah kekuasaan pendudukan atau ke wilayah negara lain mana pun, yang diduduki atau tidak, dilarang, apa pun motifnya,” katanya kepada MEE.

    Pernyataan Trump Memicu Kebingungan

    Yordania sudah menjadi rumah bagi lebih dari dua juta pengungsi Palestina, dan Mesir, yang berbatasan dengan Gaza, telah memperingatkan tentang implikasi keamanan dari pemindahan sejumlah besar warga Palestina ke Semenanjung Sinai di Mesir.

    Saat ini, ada 5,8 juta pengungsi Palestina terdaftar yang tinggal di puluhan kamp di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Suriah, dan Lebanon.

    Sekitar 80 persen penduduk Gaza adalah pengungsi atau keturunan pengungsi yang mengungsi sejak Nakba tahun 1948, ketika Israel merebut 78 persen wilayah Palestina yang bersejarah.

    Di AS, bahkan beberapa anggota Partai Republik yang setia kepada Trump kesulitan memahami pernyataannya.

    “Saya benar-benar tidak tahu,” ujar Senator Lindsey Graham kepada CNN ketika ditanya apa yang dimaksud presiden dengan pernyataan “pembersihan” tersebut.

    “Gagasan bahwa semua warga Palestina akan pergi dan pergi ke tempat lain, menurut saya itu tidak terlalu praktis,” kata Graham.

    Ia menambahkan bahwa Trump harus terus berbicara dengan para pemimpin regional, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan pejabat Emirat.

    Pemerintah Jerman juga menolak gagasan pemindahan massal warga Palestina.

    Pada hari Senin, juru bicara kementerian luar negeri Jerman mengatakan kepada wartawan di Berlin bahwa negaranya memiliki pandangan yang sama dengan Uni Eropa, mitra Arab, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Penduduk Palestina tidak boleh diusir dari Gaza dan Gaza tidak boleh diduduki secara permanen atau dijajah kembali oleh Israel, ujar juru bicara tersebut.

    Kanselir Jerman Olaf Scholz pun menyatakan hal yang serupa.

    Ia mengatakan bahwa pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza “tidak dapat diterima”.

    “Mengingat pernyataan publik baru-baru ini, saya katakan dengan sangat jelas bahwa rencana relokasi apa pun, gagasan bahwa warga Gaza akan diusir ke Mesir atau Yordania, tidak dapat diterima,” kata Scholz dalam sebuah acara balai kota di Berlin, Selasa (28/1/2025), mengutip The New Arab.

    Warga Palestina Menolak untuk Dipindahkan

    Sebelumnya pada hari Senin, puluhan ribu warga Palestina membanjiri ke Gaza utara, daerah kantong yang paling parah hancur.

    Massa menyatakan bahwa mereka tidak akan diusir dari tanah mereka.

    Sami Saleh, yang telah mengungsi beberapa kali, mengatakan kepada MEE bahwa meskipun menghadapi periode pengungsian yang sangat sulit selama setahun terakhir, ia gembira bisa kembali ke rumah.

    “Saya tidak akan menyembunyikan perasaan ini, dan saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan ini: Saya ingin terbang ke utara… perasaan ini sudah ada sejak awal.”

    “Terlepas dari semua rasa sakit dan kesulitan, saya harus kembali ke utara apa pun yang terjadi, bahkan jika saya harus berjalan ke sana tanpa alas kaki,” katanya.

    Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku sejak 19 Januari 2025.

    Pemerintahan Trump menjanjikan “dukungan yang tak tergoyahkan” untuk Israel tetapi belum menguraikan strategi Timur Tengah yang lebih luas.

    Pada Sabtu, Trump mengonfirmasi bahwa dia telah memerintahkan Pentagon untuk menyetujui pengiriman bom seberat 2.000 pon (907 kg) ke Israel.

    Pengiriman ini sebelumnya ditangguhkan di bawah pemerintahan Joe Biden.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

  • Arab Saudi Bidik Investasi dan Perdagangan AS Senilai 600 Miliar Dolar Selama Empat Tahun – Halaman all

    Arab Saudi Bidik Investasi dan Perdagangan AS Senilai 600 Miliar Dolar Selama Empat Tahun – Halaman all

    Arab Saudi Bidik Investasi dan Perdagangan AS Senilai 600 Miliar Dolar Selama Empat Tahun

    TRIBUNNEWS.COM- Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memberi tahu Presiden AS Donald Trump bahwa investasi “dapat meningkat lebih jauh jika peluang tambahan muncul.”

    Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memberi tahu Presiden AS Donald Trump bahwa Arab Saudi bermaksud mengalokasikan $600 miliar untuk perluasan investasi dan perdagangan dengan Amerika Serikat selama empat tahun ke depan, kantor berita pemerintah Saudi melaporkan pada hari Kamis.

    Dalam percakapan telepon, bin Salman menyatakan optimismenya mengenai reformasi yang diantisipasi pemerintahan Trump, dengan menyatakan bahwa reformasi tersebut dapat mendatangkan “kemakmuran ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” menurut lembaga tersebut.

    Laporan tersebut mengindikasikan bahwa Arab Saudi berencana untuk memanfaatkan investasinya untuk mendapatkan keuntungan dari kondisi yang menguntungkan ini. Namun, laporan tersebut tidak menyebutkan apakah $600 miliar akan berasal dari dana publik atau swasta dan tidak memberikan rincian tentang bagaimana modal tersebut akan digunakan.

    Putra mahkota juga mencatat bahwa investasi “dapat meningkat lebih lanjut jika peluang tambahan muncul,” seperti yang dikutip oleh lembaga tersebut.

    Trump menjalin hubungan yang kuat dengan negara-negara Teluk selama masa jabatan pertamanya, termasuk Arab Saudi. Setelah Trump lengser dari jabatannya, Arab Saudi menginvestasikan $2 miliar di sebuah perusahaan yang didirikan oleh Jared Kushner, menantu Trump dan mantan penasihat senior.

    Setelah pelantikannya pada hari Senin, Trump menyatakan bahwa ia mungkin mempertimbangkan menjadikan Arab Saudi sebagai tujuan luar negeri pertamanya jika Riyadh setuju untuk membeli produk Amerika senilai $500 miliar, mencerminkan pengaturan serupa selama masa jabatan pertamanya.

    “Saya melakukannya dengan Arab Saudi terakhir kali karena mereka setuju untuk membeli produk kami senilai $450 miliar. Saya bilang saya akan melakukannya tetapi Anda harus membeli produk Amerika, dan mereka setuju untuk melakukannya,” katanya, merujuk pada kunjungannya tahun 2017 ke negara Teluk tersebut.

    Pada masa jabatan pertamanya, Trump secara aktif menjalin hubungan dengan Arab Saudi, mitra lama Amerika Serikat dalam bidang energi dan keamanan. Perjalanan luar negeri perdananya pada tahun 2017 adalah ke Riyadh, di mana ia disambut dengan upacara mewah yang menampilkan tarian pedang tradisional dan atraksi militer.

    Namun, hubungan mendingin setelah bin Salman menyatakan ketidakpuasannya dengan respons Trump terhadap serangan tahun 2019 yang sempat memangkas separuh produksi minyak Arab Saudi. Meskipun demikian, Riyadh dan tim Trump berupaya memperkuat hubungan setelah ia lengser dari jabatannya, dengan fokus pada investasi dan kesepakatan konstruksi yang melibatkan Trump Organization.

    Saat berkampanye, Presiden Joe Biden mengkritik keras Arab Saudi atas pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun 2018.

    Meskipun demikian, pemerintahan Biden kemudian berupaya membangun kembali hubungan, dengan mencoba menegosiasikan perjanjian besar yang mengharuskan Arab Saudi menormalisasi hubungan dengan “Israel” sebagai imbalan atas pakta pertahanan AS dan dukungan untuk program nuklir sipil. Kesepakatan yang diusulkan ini ditunda setelah pecahnya perang Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023.

    Dalam panggilan telepon terpisah dengan bin Salman pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri AS yang baru diangkat Marco Rubio membahas berbagai masalah, termasuk Suriah, Lebanon, Gaza, dan “ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan proksinya,” kata juru bicara Rubio.

    “Mereka juga membahas manfaat kemitraan ekonomi AS-Saudi dan peluang untuk mengembangkan ekonomi mereka di berbagai bidang termasuk AI.”

     

    SUMBER: AL MAYADEEN

  • Teleponan, Putra Mahkota Arab Saudi Ucapkan Selamat pada Trump

    Teleponan, Putra Mahkota Arab Saudi Ucapkan Selamat pada Trump

    Riyadh

    Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mengucapkan selamat kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas pelantikannya. MBS juga membahas soal isu-isu utama regional dan peluang investasi dalam percakapan telepon dengan Trump.

    MBS yang merupakan pemimpin de-facto Saudi, seperti dilaporkan Saudi Press Agency (SPA) dan dilansir Al Arabiya, Kamis (23/1/2025), menyampaikan salam hangat atas nama Raja Salman kepada Trump.

    Dia juga mengungkapkan optimisme terhadap kepemimpinan Trump dan potensinya untuk mendorong kemajuan bagi rakyat AS.

    Menurut laporan SPA, kedua pemimpin membahas keamanan kawasan Timur Tengah dan cara-cara untuk memperdalam kerja sama dalam berbagai isu, seperti memerangi terorisme dan meningkatkan stabilitas regional.

    Dalam percakapan dengan Trump, sebut SPA, MBS menegaskan kembali komitmen Saudi untuk memperluas hubungan ekonomi negaranya dengan AS, bahkan secara khusus menguraikan rencana investasi senilai US$ 600 miliar selama empat tahun ke depan dengan potensi pertumbuhan lebih lanjut.

    Tidak hanya itu, MBS juga keyakinannya terhadap kebijakan ekonomi Trump, dan menekankan bahwa kebijakan tersebut memberikan peluang bersejarah bagi kemakmuran kedua negara.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Orang Dekat Putra Mahkota Raja Arab Saudi Mendadak Posting Mohamed Salah, Diboyong ke Al Hilal?

    Orang Dekat Putra Mahkota Raja Arab Saudi Mendadak Posting Mohamed Salah, Diboyong ke Al Hilal?

    TRIBUNJATIM.COM – Bintang Liverpool, Mohamed Salah kini sedang diincar oleh klub Arab Saudi, Al Hilal.

    Nasib Mohamed Salah di Liverpool hingga saat ini juga masih belum jelas.

    Padahal, kontraknya bakal segera berakhir di akhir musim ini.

    Dikabarkan, Salah ingin perpanjangan kontrak minimal dua musim.

    Tapi Liverpool sendiri belum mengajukan tawaran resmi yang sesuai dengan keinginannya.

    Di tengah masa depan yang tak pasti ini, kabar mengejutkan datang dari Arab Saudi di mana Salah kini digoda untuk bergabung dengan Al Hilal.

     
    Salah satu tokoh paling berpengaruh di Arab Saudi memicu kabar transfer Mo Salah ke Al Hilal.

    Sosok tersebut adalah Ketua Otoritas Hiburan Arab Saudi, Turki Al Sheikh, di mana di media sosial, ia mengunggah foto Salah mengenakan jersey Al Hilal.

    Sebagai orang dekat Putra Mahkota Mohammed bin Salman, ia kini mengisyaratkan tekad Al Hilal untuk mendaratkan Salah ke Arab Saudi.

    Mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, hal itu hanya mungkin terjadi jika mendapat persetujuan dari bin Salman dan Dana Investasi Publik Saudi.

    Menurut laporan dari media Spanyol Relievo, Liga Pro Saudi telah menyiapkan langkah strategis untuk mendatangkan Salah sebagai bintang berikutnya.

    Sumber tersebut mengklaim bahwa negosiasi dengan pihak Salah telah mencapai kesepakatan awal untuk transfer musim depan.

    Untuk nilai kontraknya akan berdurasi dua musim dengan total nilai mencapai 300 juta riyal Saudi (sekitar Rp1,2 triliun). 

    Salah akan menerima gaji tahunan sebesar 150 juta riyal jika bersedia bergabung dengan klub yang identik dengan logo Bulan Sabit ini.

    Salah, yang kini berusia 32 tahun, sedang menikmati salah satu musim terbaiknya bersama Liverpool, mencatatkan 21 gol dan 17 assist di semua kompetisi sejauh ini. 

    Dengan performa luar biasa tersebut, Salah menjadi kandidat sempurna untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Neymar di Al Hilal.

    Ya, Salah akan mengisi posisi yang ditinggalkan Neymar seiring dengan penampilan bintang Brasil itu yang tak maksimal.

    Neymar yang musim panas lalu didatangkan dari Paris Saint-Germain dengan nilai transfer fantastis, telah menghabiskan sebagian besar musim di ruang perawatan. 

    Situasi ini mendorong Al Hilal untuk mencari opsi lain guna menjaga performa tim, khususnya di kompetisi internasional seperti Piala Dunia Antarklub. 

    Jika rencana itu terwujud, akan menjadi menarik karena Al Hilal dijadwalkan menghadapi Real Madrid di Piala Dunia Antarklub Juni mendatang dan itu bisa menjadi laga debut Salah.

    FIFA sendiri telah memberikan toleransi kepada klub-klub yang berpartisipasi di Piala Dunia Antarklub untuk merekrut pemain, yang dimulai pada pertengahan Juni, sebelum kontrak normal berakhir pada akhir bulan itu. 

    Untuk informasi, Salah memulai karier profesionalnya di klub Mesir, El Mokawloon, sebelum melanglang buana ke Eropa bersama FC Basel.

    Ia kemudian memperkuat Chelsea, Fiorentina, Roma, hingga akhirnya bergabung dengan Liverpool pada 2017 dengan nilai transfer £43 juta.

    Bersama Liverpool, Salah telah mencatatkan 377 penampilan dan mencetak 232 gol, serta membantu klub meraih delapan trofi, termasuk Liga Champions dan Liga Inggris.

    Di level internasional, Salah telah membela Timnas Mesir sejak 2011, mencetak 59 gol dalam 103 penampilan .

    Ia saat ini menempati posisi kedua dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk Mesir, di bawah legenda sepak bola Mesir, Hossam Hassan. 

     

  • Proyek Gila Kabah Baru Arab Saudi Geger, Kiamat Hingga Berdarah

    Proyek Gila Kabah Baru Arab Saudi Geger, Kiamat Hingga Berdarah

    Jakarta, CNBC Indonesia – Tahun lalu, pemerintah Arab Saudi dikabarkan tengah membangun Mukaab. Struktur bangunan berbentuk kubus emas ini merupakan proyek ambisius senilai US$50 miliar.

    Mukaab merupakan bangunan dengan tinggi, panjang dan lebar masing-masing 400 meter. Di sana akan menjadi pusat pengembangan New Murabba.

    Dana Investasi Publik (PIF) Saudi menjelaskan akan ada berbagai fasilitas. Termasuk 100 ribu rumah, perhotelan, rekreasi, ruang kantor, dan menampung 20 gedung sebesar Empire States.

    Perusahaan pengembangan Murabba menjelaskan pekerjaan tanah di lokasi telah mencapai 86%. Pembangunan dikerjakan 900 pekerja dan 250 ekskavator.

    Mukaab diperkirakan akan selesai saat Expo 2030. Proyek diperkirakan bisa menampung 400 ribu orang.

    Namun pembangunan Mukaab disambut banyak kritik. Salah satunya bentuk bangunan disebut mirip dengan Ka’bah yang berada di tengah Masjidil Haram, kota Mekkah.

    “Selain hal lainnya, fakta bahwa bangunan tersebut berbentuk kubus emas bagi saya merupakan penghinaan yang disengaja terhadap Kabah di Mekkah, dan merupakan simbol penyembahan berhala yang jelas,” tulis peneliti Laleh Khalili di X.

    Mukaab juga menjadi salah satu megaproyek pemerintahan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Mohammed Bin Salman. Selain itu ada kota masa depan NEOM yang menyulap padang pasir tandus menjadi kota metropolitan yang megah memanfaatkan 26.500 km persegi tanah.

    Selain itu juga ada megaproyek Qiddya, Al Ula, Resort Mewah Amaala, Resor Pulau Sheybarah, Gerbang Diriyah hingga Coral Bloom. Namun PBB menyebutkan proyek besar itu akan menyebabkan degradasi dan penggurunan sebagian besar lahan dan akhirnya mempercepat ‘kiamat’.

    Lahan dianggap terdegradasi saat produktivitasnya dirusak oleh aktivitas manusia seperti polusi atau penggundulan hutan. Penggurunan menjadi bentuk yang paling ekstrem.

    “Dalam perang melawan penggurunan, (Arab Saudi) tidak serta-merta berkontribusi secara langsung terhadap masalah tersebut, sedangkan dalam perubahan iklim, jelas berkontribusi,” kata Patrick Galey, penyelidik senior bahan bakar fosil untuk Global Witness, seperti dikutip The Arab Weekly.

    “Arab Saudi dapat, dengan beberapa legitimasi, mengklaim bahwa mereka membela orang-orang kecil dalam hal penggurunan, karena mereka secara langsung terkena dampaknya,” tambahnya.

    (dem/dem)

  • Teleponan, Putra Mahkota Arab Saudi Ucapkan Selamat pada Trump

    Arab Saudi Bersikeras Soal Negara Palestina Sebelum Normalisasi Israel

    Jakarta

    Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bersikeras menjadikan negara Palestina sebagai bagian dari kesepakatan apa pun untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menyampaikan hal tersebut, seraya menambahkan bahwa ini adalah kunci stabilitas jangka panjang di Timur Tengah dan yang akan menjamin keamanan Israel.

    Blinken mengatakan bahwa gencatan senjata Gaza diperlukan terlebih dahulu. Namun setelah itu, fokusnya harus pada stabilitas jangka panjang kawasan tersebut, yang akan mencakup keamanan Israel. “Dan, tentu saja, kuncinya adalah normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi,” katanya dalam wawancara dengan Foreign Affairs yang diterbitkan pada hari Rabu (18/12), sambil menyatakan harapan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump yang nantinya akan menyelesaikan kesepakatan tersebut.

    “Namun agar itu terjadi, kita membutuhkan ketenangan di Gaza – dan itu jelas dari Saudi – tetapi kita juga membutuhkan jalur yang kredibel menuju negara Palestina,” kata Blinken, dilansir Al Arabiya, Kamis (19/12/2024).

    Meskipun ada beberapa laporan sepanjang tahun lalu, termasuk minggu ini, bahwa Arab Saudi bersedia melonggarkan tuntutannya dengan imbalan normalisasi, Riyadh telah berulang kali konsisten dalam pendiriannya yang menuntut pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

    Diperkirakan lebih dari 40.000 warga Palestina telah tewas akibat bombardir Israel sejak Oktober lalu, ketika militer Israel mulai menggempur Gaza sebagai respons atas serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober.

    Israel juga secara rutin memblokir bantuan kemanusiaan agar tidak masuk ke daerah kantong itu. Hal ini memicu peringatan baru-baru ini dari AS, bahwa jika lebih banyak bantuan tidak masuk, AS dapat mengambil tindakan khusus sebagai tanggapan.

  • Prancis-Arab Saudi Akan Gelar Konferensi Pembentukan Negara Palestina

    Prancis-Arab Saudi Akan Gelar Konferensi Pembentukan Negara Palestina

    Jakarta

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa ia dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman akan menjadi ketua bersama sebuah konferensi tentang pembentukan negara Palestina. Konferensi tersebut akan digelar pada bulan Juni mendatang.

    “Kami telah memutuskan untuk menjadi ketua bersama sebuah konferensi untuk kedua negara tersebut pada bulan Juni tahun depan,” kata Macron, mengacu pada Israel dan Palestina.

    “Dalam beberapa bulan mendatang, bersama-sama kami akan memperbanyak dan menggabungkan inisiatif diplomatik kami untuk membawa semua orang di sepanjang jalan ini,” tambahnya, dilansir kantor berita AFP, Kamis (5/12/2024).

    Menanggapi pertanyaan tentang apakah Prancis akan mengakui negara Palestina, presiden Prancis itu mengatakan dia akan melakukannya “pada saat yang tepat”, dan pada saat “ketika hal itu memicu gerakan pengakuan timbal balik.”

    “Kami ingin melibatkan beberapa mitra dan sekutu lainnya, baik Eropa maupun non-Eropa, yang siap untuk bergerak ke arah ini tetapi yang menunggu Prancis” ujar Macron.

    Macron menjelaskan bahwa ada tujuan simultan untuk “memicu gerakan pengakuan yang mendukung Israel,” yang menurutnya dapat “memberikan jawaban dalam hal keamanan bagi Israel dan meyakinkan orang-orang bahwa solusi dua negara adalah solusi yang relevan bagi Israel.”