Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai kinerja perdagangan Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan sinyal perdagangan tidak sehat. Sebab, meski surplus neraca perdagangan meningkat, terjadi kontraksi ekspor dan impor secara bersamaan, khususnya sektor nonmigas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor pada November 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 7,08% month-to-month (mtm) menjadi US$22,52 miliar, dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar US$24,23 miliar. Namun, secara kumulatif Januari-November 2025 terjadi kenaikan sebesar 5,61% year-on-year (yoy) dengan nilai US$256,56 miliar.
Secara terperinci, ekspor nonmigas pada November 2025 tercatat sebesar U$21,64 miliar atau turun 7,30% mtm. Sementara itu, ekspor migas turun 1,25% mtm menjadi US$880 juta.
Sementara itu, pada periode November 2025, impor turun 9,09% mtm menjadi US$19,86 miliar dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar US$21,84 miliar. Penurunan utamanya disebabkan oleh anjloknya impor nonmigas sebesar 10,68% mtm menjadi US$17 miliar, sedangkan impor migas naik 1,70% mtm menjadi US$2,86 miliar.
Secara kumulatif Januari-November 2025, total impor naik 2,03% yoy menjadi US$218,02 miliar.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai penurunan ekspor dan impor nonmigas secara simultan merupakan sinyal yang tidak sehat bagi perekonomian.
“Memang, baik ekspor maupun impor ini mengalami kontraksi yang cukup tajam. Jadi ekspornya turun, impornya juga turun secara bulanan, yang artinya ini berarti tidak sehat,” kata Faisal kepada Bisnis, dikutip Rabu (7/1/2026).
Menurut Faisal, peningkatan surplus perdagangan tidak dapat dimaknai sebagai perbaikan kinerja dagang. Pasalnya, surplus tersebut lebih disebabkan oleh penurunan impor nonmigas yang jauh lebih dalam dibandingkan ekspor.
Dari sisi struktur ekspor, tekanan masih terlihat kuat. Secara tahunan, komoditas bahan bakar mineral masih menjadi penyumbang terbesar penurunan ekspor sepanjang Januari–November 2025. Namun, secara bulanan, kontraksi terdalam justru terjadi pada sektor lain di luar energi.
Faisal menjelaskan bahwa pada November secara month to month, pelemahan paling tajam terjadi pada sejumlah sektor strategis.
“Tapi kalau secara bulanan itu di November saja pergerakannya yang paling tajam kontraksinya adalah di lemak dan minyak hewani, nabati, dan juga besi dan baja,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Faisal, sejalan dengan proyeksi CORE dalam outlook ekonomi 2026. Tekanan eksternal diperkirakan akan terus membayangi kinerja ekspor Indonesia dan berujung pada penyempitan surplus perdagangan.
Tekanan eksternal tersebut antara lain berasal dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik. Hambatan tarif dan non-tarif dinilai berpotensi menekan penetrasi ekspor Indonesia sekaligus melemahkan permintaan global terhadap produk-produk ekspor.
Dengan kondisi tersebut, Faisal menegaskan bahwa ke depan surplus perdagangan Indonesia berisiko semakin tertekan, bukan hanya karena ekspor yang melemah, tetapi juga karena potensi impor yang kembali tumbuh.
“Jadi tadi kesimpulannya adalah memang ke depan potensi daripada surplus perdagangan menyempit karena ekspor yang mengalami tekanan,” pungkasnya.









