Tag: Min Aung Hlaing

  • Junta Myanmar Tetapkan Keadaan Darurat Usai Gempa, Minta Bantuan Asing

    Junta Myanmar Tetapkan Keadaan Darurat Usai Gempa, Minta Bantuan Asing

    Naypyitaw

    Junta militer Myanmar menetapkan keadaan darurat untuk sedikitnya enam wilayah setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang negara itu. Junta Myanmar juga mengajukan permintaan langka untuk bantuan kemanusiaan internasional.

    Laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut pusat gempa berada di area berjarak 16 kilometer sebelah barat laut kota Sagaing, Myanmar. Pusat gempa disebut ada di kedalaman 10 kilometer dari permukaan Bumi.

    Gempa susulan dengan kekuatan mencapai Magnitudo 6,4 dilaporkan mengguncang area yang sama di Myanmar sekitar beberapa menit setelah gempa pertama dilaporkan mengguncang sekitar pukul 12.50 waktu setempat.

    Dampak gempa ini terhadap wilayah Myanmar belum diketahui secara jelas, dengan minimnya informasi yang disampaikan otoritas junta militer. Meskipun keterangan sejumlah warga Myanmar menyebut gedung-gedung ambruk dan jembatan runtuh akibat gempa tersebut.

    Junta militer Myanmar dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan CNN, Jumat (28/3/2025), menyatakan bahwa “situasi darurat” telah diumumkan di enam wilayah, yang terdiri atas Sagaing, Mandalay, Bago, Magway, Shan dan Naypyitaw — ibu kota yang dibangun oleh militer dan menjadi rumah bagi pemimpin tertinggi junta Myanmar.

    Enam wilayah itu disebut sebagai wilayah yang terdampak paling parah akibat gempa dahsyat tersebut.

    Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, menurut laporan wartawan AFP, tiba di sebuah rumah sakit di Naypyitaw, yang menjadi tempat para korban luka dirawat.

    Jumlah korban jiwa akibat gempa ini belum diumumkan secara resmi oleh otoritas junta Myanmar.

    Namun fakta bahwa junta Myanmar yang terisolasi meminta bantuan internasional — yang jarang dilakukan saat bencana alam terjadi — menunjukkan bahwa kemungkinan ada banyak korban jiwa dan terjadi kerusakan dalam skala besar.

    Zaw Min Tun menambahkan bahwa donor darah sangat diperlukan untuk pasien-pasien yang ada di Mandalay, Naypyitaw dan Sagaing.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Pemimpin Junta Myanmar Bertemu Putin di Moskow

    Pemimpin Junta Myanmar Bertemu Putin di Moskow

    Jakarta

    Pimpinan junta Myanmar, Min Aung Hlaing, dikabarkan telah berangkat menuju Rusia pada Senin 3 Maret 2025 untuk melakukan pertemuan dengan sekutu utamanya, Presiden Putin.

    Min Aung Hlaing, merebut kekuasaan tertinggi di negara tersebut melalui kudeta militer di bulan Februari 2021, menggulingkan pemimpin terpilih saat itu, Aung San Suu Kyi. Pasca Kudeta, Junta militer berusaha terus meredam perlawanan keras kaum oposisi dan minoritas terhadap pemerintahan militer.

    Sanksi-sanksi negara barat diberlakukan terhadap Myanmar setelah kudeta disertai penindasan terhadap oposisi terjadi di tahun 2021. Hal ini turut yang menyebabkan konflik bersenjata yang meluas dan menyebabkan kematian terhadap ribuan warga sipil. Sanksi barat turut diberlakukan terhadap Rusia setelah invasi negara tersebut terhadap Ukraina di tahun 2022. Kedua negara berusaha mempererat hubungan bilateralnya untuk mengimbangi dampak sanksi.

    Dukungan Militer Rusia

    Menurut layanan informasi junta Myanmar, Min Aung Hlaing, dikabarkan telah meninggalkan ibu kota Naypyidaw pada Hari Senin dengan rombongan pejabat tinggi militernya dan dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Putin pada hari Selasa 4 Maret.

    Rusia adalah sekutu utama dan pemasok persenjataan Myanmar. Junta Militer dikabarkan telah kehilangan wilayah teritorial secara signifikan akibat serangan pemberontak di akhir tahun 2023. Para analis mengatakan dukungan Moskow sangatlah penting bagi junta militer Myanmar, terutama terkait pertahanan udara dalam memerangi pemberontakan berbagai kelompok bersenjata etnis minoritas dan gerilyawan pro-demokrasi di berbagai wilayah.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {

    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    adSlot.innerHTML = “;

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’)
    .addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”;
    ads[currentAdIndex]();
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function (entries) {
    entries.forEach(function (entry) {
    if (entry.intersectionRatio > 0.1) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    } else {
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.1 });

    function checkVisibility() {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    } else {
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    }

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function () {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) {
    console.error(“❌ Elemen #ad-slot tidak ditemukan!”);
    return;
    }
    ads[currentAdIndex]();
    observer.observe(adSlot);
    });

    var mutationObserver = new MutationObserver(function (mutations) {
    mutations.forEach(function (mutation) {
    if (mutation.type === “childList”) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    });
    });

    mutationObserver.observe(document.getElementById(“ad-slot”), { childList: true, subtree: true });

    “Rusia sangat berharga dalam membantu junta militer menjaga pertahanan udara mereka,” jelas Morgan Michaels, peneliti di lembaga International Institute for Strategic Studies, kepada AFP, “Dugaan kami, Rusia telah membantu Angkatan Udara Myanmar untuk mempertahankan tempo operasi.”

    Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    “Kedua belah pihak akan membahas prospek pengembangan lebih lanjut kerja sama Rusia-Myanmar yang saling menguntungkan, serta isu-isu internasional yang sedang hangat,” menurut informasi yang dirilis Kremlin. Pertemuan ini adalah pertemuan kedua pimpinan negara tersebut dalam dua tahun terakhir. Setelah pertemuan sebelumnya dilakukan di sela-sela Eastern Economic Forum yang diselenggarakan di Vladivostok, Rusia Timur, September 2022 lalu.

    Rusia dan Myanmar juga telah mengadakan latihan militer bersama dan menandatangani pakta mengembangkan tenaga nuklir. Pemerintah militer Myanmar berencana untuk mendorong lebih banyak tenaga kerjanya untuk bekerja di Rusia. Namun, pertukaran tidak terbatas pada ekonomi dan pertahanan. Pada bulan Januari 2025, menurut kantor berita pemerintah Rusia, TASS, Myanmar menghadiahkan enam ekor gajah kepada Sirkus Besar Moskow “sebagai tanda persahabatan”.

    slc/hp (AFP/AP)

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Argentina Keluarkan Perintah Penangkapan Pemimpin Junta Myanmar soal Rohingya

    Argentina Keluarkan Perintah Penangkapan Pemimpin Junta Myanmar soal Rohingya

    Jakarta

    Pengadilan Argentina telah mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada kepala junta militer Myanmar dan mantan pejabat lainnya termasuk pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi. Perintah penangkapan itu terkait tudingan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menargetkan kelompok minoritas Rohingya.

    Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (15/2/2025), putusan pengadilan dikeluarkan sebagai tanggapan atas pengaduan yang diajukan di Argentina oleh kelompok advokasi Rohingya. Gugatan tersebut diajukan berdasarkan prinsip “yurisdiksi universal” yang mana suatu negara dapat mengadili kejahatan tanpa mempedulikan tempat terjadinya kejahatan tersebut, jika kejahatan tersebut dianggap cukup serius, seperti genosida atau kejahatan perang.

    Surat perintah dikeluarkan untuk pejabat militer dan sipil termasuk pemimpin junta saat ini Min Aung Hlaing, mantan presiden Htin Kyaw, dan mantan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dalam kapasitasnya sebagai “penasihat negara” dari tahun 2016 hingga 2021, saat ia digulingkan dalam kudeta.

    Hlaing juga sedang diselidiki oleh Pengadilan Kriminal Internasional. Suku Rohingya, yang sebagian besar beragama Islam, berasal dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, di mana, menurut Amnesty International, mereka telah menjadi sasaran rezim yang mirip dengan apartheid.

    Mulai tahun 2017, banyak dari mereka terpaksa melarikan diri dari penganiayaan dan kekerasan ke Malaysia yang lebih kaya dan mayoritas penduduknya Muslim, atau ke kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, tempat sekitar satu juta dari mereka tinggal.

    Myanmar dilanda kekacauan sejak kudeta tahun 2021 yang memicu bentrokan baru dengan pemberontak etnis dan mengakibatkan terbentuknya puluhan “Pasukan Pertahanan Rakyat” yang kini memerangi junta.

    Dalam putusannya yang dikeluarkan pada hari Kamis, Hakim Maria Servini mengatakan tuduhan yang tercantum dalam pengaduan tersebut “merupakan kejahatan yang melanggar hak asasi manusia yang diakui dalam berbagai instrumen hukum pidana internasional, yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia.”

    “Kejahatan tersebut termasuk “kejahatan yang diketahui secara internasional seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang dilakukan oleh otoritas politik dan militer yang berkuasa di negara tersebut,” tambahnya.

    (whn/whn)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Pemberontak Myanmar Rebut Kendali Militer di Perbatasan Bangladesh

    Pemberontak Myanmar Rebut Kendali Militer di Perbatasan Bangladesh

    Jakarta

    Kelompok pemberontak Tentara Arakan mengeklaim kendali penuh atas wilayah utama di sepanjang perbatasan Bangladesh, menambah tekanan lebih lanjut pada junta militer saat mereka bertempur melawan sejumlah kelompok pemberontak lainnya di seluruh wilayah negera itu.

    Pertama, terdengar suara pengeras suara yang menyerukan agar tentara yang berada di BGP5 menyerah; kemudian, rentetan tembakan artileri, roket, dan senapan yang menggelegar menghancurkan bangunan-bangunan tempat ratusan tentara bersembunyi.

    BGP5, singkatan dari Polisi Penjaga Perbatasan merupakan pertahanan terakhir junta militer Myanmar di wilayah utara Negara Bagian Rakhine, yang terletak di sepanjang perbatasan Myanmar dengan Bangladesh.

    Video pengepungan pangkalan BGP5 yang dibuat oleh pemberontak Tentara Arakan (Arakan Army, AA) menunjukkan para pejuang mereka yang kebanyakan bertelanjang kaki, menembakkan berbagai macam senjata ke pangkalan tersebut.

    Sementara raungan jet-jet tempur angkatan udara Myanmar terdengar di atas kepala mereka.

    Itu adalah pertempuran yang dahsyatmungkin yang paling berdarah dalam perang saudara yang melanda Myanmar sejak militer merebut kekuasaan melalui kudeta pada 2021.

    “Mereka telah menggali parit yang dalam yang dipenuhi paku-paku di sekitar pangkalan,” kata sumber AA kepada BBC.

    BBC

    Kekalahan militer yang memalukan

    Bagi pemimpin kudeta militer pada 2021, Jenderal Min Aung Hlaing, ini merupakan kekalahan memalukan lainnya setelah kemunduran militer setahun terakhir.

    Untuk pertama kalinya rezim militernya kehilangan kendali atas seluruh perbatasan sepanjang 270km yang memisahkan Myanmar dari Bangladesh. Wilayah itu kini sepenuhnya di bawah kendali AA.

    Dan dengan hanya ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe, yang masih berada dalam kendali militer meskipun terputus dari wilayah negara lainnya, AA kemungkinan besar akan menjadi kelompok pemberontak pertama yang menguasai penuh suatu negara bagian.

    Tentara kerap kali dipukul mundur oleh AA dalam pertempuran sejak awal tahun, kehilangan kota demi kota.

    BBC

    Unit tentara terakhir mundur ke BGP5, sebuah kompleks seluas sekitar 20 hektar di luar kota perbatasan Maungdaw, tempat AA melakukan pengepungan, pada September lalu.

    BGP5 dibangun di lokasi desa dengan populasi Muslim etnis Rohingya, Myo Thu Gyi, yang dibakar dalam pengusiran brutal sebagian besar penduduk Rohingya oleh angkatan bersenjata pada 2017 silam.

    Itu adalah desa pertama dari banyak desa yang dibakar yang saya saksikan saat berkunjung ke Maungdaw tepat setelah operasi militer pada September 2017.

    Tumpukan puing tampak hangus di antara rimbunan vegetasi tropis, sementara penduduknya desa terbunuh atau terpaksa mengungsi di Bangladesh.

    Ketika saya kembali dua tahun kemudian, kompleks kepolisian baru dibangun, dengan semua pohon telah ditebang, sehingga pasukan polisi dapat dengan jelas tiap kali ada serangan.

    Baca juga:

    Sumber AA memberi tahu kami bahwa gerak maju mereka sangat lambat, sehingga para pemberontak harus menggali parit sendiri untuk berlindung.

    AA tidak mengumumkan jumlah korbannya dari kubunya. Akan tetapi, jika melihat intensitas pertempuran di Maungdaw yang dimulai pada bulan Juni, kemungkinan besar AA telah kehilangan ratusan tentara.

    Selama pengepungan, angkatan udara Myanmar terus menerus membombardir Maungdaw, mengusir warga sipil terakhir dari kota itu.

    Pesawat militer Myanmar menjatuhkan pasokan bagi para prajurit yang terkepung pada malam hari, tetapi itu tidak pernah cukup.

    Mereka memiliki pasokan beras yang disimpan di bunker, kata seorang sumber lokal kepada kami, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan perawatan apa pun untuk luka-luka mereka, dan para prajurit menjadi putus asa.

    BBC

    BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

    Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

    BBC

    Mereka mulai menyerah akhir pekan lalu.

    Video yang direkam oleh AA menunjukkan tentara Myanmar keluar dalam keadaan menyedihkan, melambaikan kain putih.

    Beberapa tertatih-tatih dengan kruk darurat, atau melompat-lompat, kaki mereka yang terluka dibalut kain perca. Beberapa mengenakan sepatu.

    Di dalam bangunan yang hancur, pemberontak yang menang memfilmkan tumpukan mayat.

    AA mengatakan lebih dari 450 tentara tewas dalam pengepungan itu.

    Mereka telah menerbitkan foto komandan pasukan yang ditangkap, Brigadir Jenderal Thurein Tun, dan para perwiranya yang berlutut di bawah tiang bendera, yang mengibarkan panji pemberontak.

    Brigadir Jenderal Thurein Tun (tengah) dalam rekaman video Tentara Arakan (Arakan Army)

    Para komentator pro-militer di Myanmar telah melampiaskan kekesalan mereka di media sosial.

    “Min Aung Hlaing, Anda tidak meminta anak-anak Anda untuk bertugas di militer,” tulis salah satu dari mereka.

    “Apakah ini cara Anda memperlakukan kami? Apakah Anda senang melihat semua kematian di Rakhine?”

    “Pada tingkat ini, yang tersisa dari Tatmadaw [militer] hanyalah Min Aung Hlaing dan tiang bendera,” tulis yang lain.

    Penangkapan BGP5 juga menunjukkan AA sebagai salah satu pasukan tempur paling efektif di Myanmar.

    Dibentuk pada 2009jauh lebih muda daripada kebanyakan kelompok pemberontak Myanmar lainnyaoleh para pemuda etnis Rakhine yang telah bermigrasi ke perbatasan China untuk mencari pekerjaan, AA merupakan bagian dari Three Brotherhood Alliance yang telah menyebabkan sebagian besar kekalahan yang diderita oleh junta sejak tahun lalu.

    Dua anggota aliansi lainnya tetap tinggal di perbatasan, di Negara Bagian Shan.

    Baca juga:

    Namun AA kembali ke Rakhine delapan tahun lalu untuk memulai operasi bersenjata demi membentuk pemerintahan sendiri, memanfaatkan kebencian historis di antara penduduk Rakhine atas kemiskinan, isolasi dan pengabaian pemerintah pusat terhadap negara bagian itu.

    Para pemimpin AA terbukti cerdas, disiplin, dan mampu memotivasi para pejuangnya.

    Mereka kini mengelola wilayah luas di Negara Bagian Rakhine yang mereka kuasai seolah-olah mereka menjalankan negara mereka sendiri.

    Mereka juga memiliki persenjataan yang bagus, berkat hubungan mereka dengan kelompok pemberontak lama di perbatasan China, dan tampaknya memiliki pendanaan yang baik.

    Foto yang diambil pada 21 Mei 2024 ini menunjukkan rumah yang hancur dan pepohonan yang terbakar menyusul pertempuran antara milite Myanmar dan Tentara Arakan (AA), kelompok etnis bersenjata di Desa Minbya. (Getty Images)

    Namun, ada pertanyaan yang lebih besar, mengenai seberapa besar berbagai kelompok pemberontak etnis bersedia memprioritaskan tujuan menggulingkan junta militer.

    Secara terbuka mereka mengatakan demikian, bersama dengan pemerintahan bayangan yang digulingkan melalui kudeta, dan ratusan pasukan pertahanan rakyat sukarelawan yang telah muncul untuk mendukungnya.

    Sebagai imbalan atas dukungan yang didapat dari pemberontak etnis, pemerintahan bayangan menjanjikan sistem politik federal baru yang akan memberikan wilayah Myanmar pemerintahan sendiri.

    Namun dua anggota aliansi lainnya telah menerima permintaan China untuk gencatan senjata.

    China sedang mengupayakan penyelesaian perang saudara melalui negosiasi, yang hampir pasti akan membuat sebagian besar kekuatan militer tetap utuh.

    Desa Rohingya di Myo Thu Gyi, dibakar oleh militer pada 2017 (Getty Images)

    Pihak oposisi berkeras militer harus direformasi dan disingkirkan dari politik.

    Namun, setelah memperoleh begitu banyak keuntungan teritorial dengan mengorbankan junta militer, para pemberontak etnis mungkin tergoda untuk membuat kesepakatan dengan restu China daripada terus berjuang untuk menggulingkan para jenderal.

    Kemenangan AA memicu pertanyaan yang lebih mengkhawatirkan.

    Para pemimpin kelompok itu masih bungkam mengenai rencananya. Namun, mereka mengambil alih negara bagian yang selalu miskin dan telah sangat menderita akibat pertempuran sengit tahun lalu.

    “Delapan puluh persen perumahan di Maungdaw dan desa-desa sekitarnya telah hancur,” kata seorang pria Rohingya yang meninggalkan Maungdaw baru-baru ini ke Bangladesh kepada BBC.

    “Kota itu kosong. Hampir semua toko dan rumah telah dijarah.”

    Warga sipil melarikan diri dari sebuah desa setelah pertempuran antara militer Myanmar dan Tentara Arakan (AA) di Paktauw, yang terletak di bagian barat Negara Bagian Rakhine, pada 19 November 2023. (Getty Images)

    Bulan lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang hanya diberi akses yang sangat terbatas ke Rakhine, memperingatkan akan datangnya bencana kelaparan, karena besarnya jumlah orang yang mengungsi dan sulitnya mendapatkan pasokan apa pun, melewati blokade militer.

    AA berupaya mendirikan pemerintahannya sendiri, namun BBC mendapat informasi dari sebagian orang yang mengungsi akibat pertempuran militer dan pemberontak mengatakan bahwa kelompok tersebut tidak dapat memberi mereka makan atau tempat tinggal.

    Belum jelas bagaimana AA akan memperlakukan populasi Rohingya yang diperkirakan masih berjumlah sekitar 600.000 orang di Rakhine, bahkan setelah pengusiran 700.000 orang pada tahun 2017.

    Negara Bagian Rakhine bagian utara dan Maungdaw telah lama menjadi kota yang mayoritas dihuni warga Rohingya. Hubungan etnis Rohingya dengan mayoritas etnis Rakhine, basis pendukung AA, telah lama menegang.

    Anak-anak Rohingya belajar mengaji di kamp Cal In di Negara Bagian Rakhine pada 2 Februari 2022. (Getty Images)

    Keadaan mereka kini jauh lebih buruk setelah kelompok milisi Rohingya, yang memiliki basis kekuatan di kamp-kamp pengungsian besar di Bangladesh, memilih untuk memihak militer dan melawan AA, meskipun militer mempunyai rekam jejak yang panjang dalam menganiaya etnis Rohingya.

    Akan tetapi, banyak etnis Rohingya tidak menyukai kelompok ini, dan beberapa mengatakan mereka senang tinggal di Negara Bagian Rakhine yang dipimpin AA.

    Namun, puluhan ribu orang telah diusir oleh AA dari kota-kota yang ditaklukkannya, dan tidak diizinkan kembali.

    AA berjanji akan melibatkan semua komunitas dalam visinya untuk masa depan yang independen dari pemerintah pusat, tetapi juga mengecam warga Rohingya yang harus berjuang bersama tentara.

    Pada Agustus silam, puluhan warga Rohingya, banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak yang mencoba menyeberang ke Bangladesh, tewas akibat bom, yang kemungkinan besar dijatuhkan dari pesawat tanpa awak AA.

    “Kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa warga Rohingya telah dianiaya oleh pemerintah Myanmar selama bertahun-tahun, dan masyarakat Rakhine mendukung hal itu,” kata pria Rohingya yang kami ajak bicara di Bangladesh.

    “Pemerintah ingin mencegah warga Rohingya menjadi warga negara, tetapi masyarakat Rakhine percaya bahwa tidak boleh ada warga Rohingya sama sekali di Negara Bagian Rakhine.”

    “Situasi kami saat ini bahkan lebih sulit daripada saat berada di bawah kekuasaan junta militer.”

    Saksikan juga video: Terungkap Awal Mula 11 Warga Sukabumi Disekap di Myanmar

    (ita/ita)

  • Perang Saudara di Tetangga RI Menggila, Negara Terancam Malapetaka

    Perang Saudara di Tetangga RI Menggila, Negara Terancam Malapetaka

    Jakarta, CNBC Indonesia – Sebanyak 2 juta orang di negara bagian Rakhine, Myanmar berisiko menghadapi kelaparan dalam beberapa bulan mendatang. Situasi ini terjadi akibat kudeta berkepanjangan yang memblokade perdagangan, menyebabkan keruntuhan ekonomi total.

    Menurut penelitian dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), negara bagian Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh di sebelah barat, berada di ambang bencana.

    Saat ini pendapatan masyarakat menurun, penanaman padi anjlok, dan pembatasan perdagangan yang diberlakukan militer menyebabkan kekurangan pangan yang parah dan hiperinflasi di wilayah tersebut. UNDP menyebut situasi ini terjadi lantaran militer menjatuhkan “hukuman kolektif” pada warga sipil.

    Kanni Wignaraja, asisten sekretaris jenderal PBB dan direktur regional untuk UNDP mengatakan situasi di Myanmar belum pernah terjadi sebelumnya. “Kami belum pernah melihat ini sebelumnya – keruntuhan ekonomi yang begitu total,” katanya, seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (10/11/2024).

    “Jika ini diproyeksikan hingga tahun 2025, yang tampaknya sangat mungkin terjadi, maka Anda akan melihat hampir 2 juta orang berada di titik kelaparan,” katanya. “Banyak rumah tangga yang kami survei kini mengurangi jatah makan menjadi satu kali makan sehari – beberapa bahkan lebih sedikit.”

    Wignaraja mengatakan ada juga peningkatan pinjaman, meskipun bahkan pemberi pinjaman uang tidak memiliki banyak uang untuk dipinjamkan.

    Penelitian UNDP menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah tangga di Rakhine, sekitar 1,4 juta orang, akan mengalami penurunan pendapatan bulanan dari 66.600 kyat (Rp498.471) menjadi sekitar 46.620 kyat (Rp348.929) setelah eskalasi pertempuran akhir tahun lalu.

    Jumlah ini hampir tidak cukup untuk menutupi biaya beras, bahkan tanpa memperhitungkan bahan makanan lain atau pengeluaran yang terkait dengan sewa atau tempat tinggal, transportasi, atau kebutuhan kesehatan.

    Kenaikan Harga Pangan

    Konflik di negara bagian Rakhine, di perbatasan Myanmar dengan Bangladesh, kembali meletus akhir tahun lalu, dan negara bagian tersebut masih dilanda pertempuran sengit antara militer dan Tentara Arakan, kelompok etnis Rakhine yang menginginkan negara otonom.

    Laporan UNDP mengatakan pembatasan yang diberlakukan oleh militer “jelas ditujukan untuk mengisolasi Rakhine dari seluruh negara dan memberikan ‘hukuman kolektif’ pada populasi yang sudah rentan”.

    Kepala Junta Min Aung Hlaing sebelumnya telah menolak tuduhan tersebut, dan malah menyalahkan Tentara Arakan karena “menghancurkan kehidupan sosial ekonomi penduduk, sektor pendidikan dan kesehatan”.

    Situasi ini khususnya sangat menyedihkan bagi 511.000 orang yang mengungsi di Rakhine, termasuk Rohingya, yang bergantung pada bantuan dari lembaga kemanusiaan dan masyarakat.

    Wignaraja menyebut akses “sangat terbatas” bagi lembaga bantuan. Ini terhambat oleh rintangan birokrasi yang diberlakukan militer, seperti persyaratan izin khusus, serta intensitas konflik.

    Program kesehatan dasar seperti kampanye imunisasi telah dihentikan, pasien HIV tidak dapat mengakses obat antiretroviral. Pada Juli, lebih dari tiga lusin anak dipastikan meninggal selama wabah diare. Jumlah kematian sebenarnya bisa lebih tinggi.

    Bahkan parasetamol pada dasarnya tidak dapat diperoleh karena harganya sangat mahal. Satu blister – strip berisi 12 kapsul – dijual dengan harga antara 6.000 hingga 7.000 kyat (Rp44.000-Rp52.000).

    Konflik tersebut telah melumpuhkan sektor konstruksi, sumber lapangan kerja utama, dan memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.

    Pada saat yang sama, harga bahan makanan pokok seperti beras dan minyak goreng telah meroket hampir sepuluh kali lipat di daerah-daerah yang paling parah terkena dampak, menurut UNDP.

    Diprediksi bahwa hanya 97.000 ton beras yang akan diproduksi tahun ini, cukup untuk memenuhi hanya 20% dari kebutuhan penduduk. Jumlah ini turun dari 282.000 ton tahun lalu, yang bahkan saat itu hanya memenuhi 60% dari kebutuhan.

    Jumlah rute perdagangan yang membawa pasokan ke Rakhine telah turun menjadi dua dari 8-10 rute yang ada sebelum Oktober 2023. Wignaraja mengatakan penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor termasuk pembatasan yang diberlakukan militer, intensitas konflik, anjloknya permintaan karena pendapatan telah menghilang, dan pertumbuhan kegiatan ekonomi ilegal.

    Myanmar telah dilanda konflik dan krisis ekonomi yang terus meningkat sejak militer merebut kekuasaan pada Februari 2021. Kudeta tersebut disambut dengan perlawanan keras dari masyarakat, dan banyak yang mengangkat senjata untuk memperjuangkan kembalinya demokrasi.

    Kelompok etnis bersenjata yang lebih tua yang telah lama menginginkan otonomi yang lebih besar juga telah berperang melawan junta, terkadang berkoordinasi dengan kelompok yang lebih baru.

    (luc/luc)

  • Konflik di Myanmar Menghalangi Proyek Ambisius China

    Konflik di Myanmar Menghalangi Proyek Ambisius China

    Jakarta

    “Satu desa, dua negara” dulunya adalah slogan untuk Yinjing, yang terletak di tepi barat daya China.

    Sebuah marka lama tampak membanggakan perbatasan China dengan Myanmar yang hanya terbuat dari “pagar bambu, parit dan punggung bukit”sebuah tanda hubungan ekonomi yang ingin dibangun Beijing dengan tetangganya.

    Kini perbatasan itu ditandai oleh pagar besi tinggi yang membentang melintasi wilayah Ruili di provinsi Yunnan.

    Di beberapa tempat, pagar itu dikelilingi kawat berduri dan kamera pengawas, membelah sawah dan jalan-jalan yang dulunya saling terhubung.

    Lockdown ketat yang diberlakukan di China selama pandemi Covid-19 pada awalnya memaksa perpisahan perbatasan yang sebelumnya hanya dibatasi pagar bambu tersebut.

    Namun, pemisahan tersebut kemudian diperparah oleh perang saudara yang tak berkesudahan di Myanmaryang dipicu kudeta berdarah pada 2021silam.

    Rezim militer kini berjuang untuk menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut, termasuk Negara Bagian Shan di sepanjang perbatasan Myanmar dan Chinatempat rezim tersebut mengalami beberapa kekalahan terbesar.

    Rencana ambisius ini bertujuan untuk menghubungkan wilayah barat daya China yang terkurung daratan dengan Samudra Hindia melalui Myanmar.

    BBC

    Namun, koridor tersebut kini menjadi medan pertempuran antara pemberontak Myanmar dan militer negara tersebut.

    Beijing memiliki pengaruh terhadap kedua belah pihak, tetapi gencatan senjata yang ditengahinya pada bulan Januari gagal. China kini beralih ke latihan militer di sepanjang perbatasan.

    Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, adalah diplomat terakhir yang mengunjungi ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw, dan diduga telah menyampaikan peringatan kepada penguasa negara itu, Min Aung Hlaing.

    Konflik bukanlah hal baru bagi Negara Bagian Shan yang miskin.

    Negara bagian terbesar di Myanmar ini merupakan pemasok utama opium dan metamfetamin dunia, dan merupakan rumah bagi pasukan etnis yang telah lama menentang pemerintahan terpusat.

    Baca juga:

    Namun zona ekonomi dinamis yang diciptakan oleh investasi China berhasil berkembanghingga perang saudara terjadi.

    Sebuah pengeras suara kini memperingatkan warga Ruili agar tidak terlalu dekat dengan pagar perbatasantetapi hal itu tidak menghentikan seorang turis China untuk menjulurkan lengannya di antara jeruji gerbang untuk mengambil swafoto.

    Dua gadis berkaus oblong Disney berteriak melalui jeruji”hei kakek, halo, lihat ke sini!”sambil menjilati sendok es krim berwarna merah muda.

    Pria tua yang berjalan tanpa alas kaki di sisi lain hampir tidak menoleh sebelum berbalik.

    Tempat perlindungan di Ruili

    “Orang Burma hidup seperti anjing,” kata Li Mianzhen.

    Kiosnya menjual makanan dan minuman dari Myanmarseperti teh susudi sebuah pasar kecil yang hanya beberapa langkah dari pos pemeriksaan perbatasan di kota Ruili.

    Li, yang berusia sekitar 60-an tahun, biasa menjual pakaian buatan China di seberang perbatasan di Muse, sumber utama perdagangan dengan China.

    Namun, ia mengatakan hampir tidak ada seorang pun di kotanya yang punya cukup uang lagi.

    Junta militer Myanmar masih menguasai kota tersebut, salah satu tempat persembunyian terakhirnya di Negara Bagian Shan.

    Namun, pasukan pemberontak telah merebut perlintasan perbatasan lainnya dan zona perdagangan utama di jalan menuju Muse.

    Li mengatakan situasi ini telah membuat banyak orang putus asa.

    Ia tahu beberapa orang telah menyeberangi perbatasan untuk mendapatkan upah sebesar 10 yuan (sekitar Rp21.500) supaya mereka bisa kembali ke Myanmar dan “memberi makan keluarga mereka”.

    Perang telah sangat membatasi perjalanan masuk dan keluar Myanmar, dan sebagian besar laporan sekarang berasal dari mereka yang telah melarikan diri atau telah menemukan cara untuk melintasi perbatasan, seperti Li.

    Karena tidak bisa mendapatkan izin kerja yang memungkinkan mereka masuk ke China, keluarga Li terjebak di Mandalay, saat pasukan pemberontak semakin dekat ke kota terbesar kedua di Myanmar.

    “Saya merasa seperti sedang sekarat karena kecemasan,” kata Li.

    “Perang ini telah membawa begitu banyak kemalangan bagi kami. Kapan semua ini akan berakhir?”

    Baca juga:

    Zin Aungnama samaranyang berusia termasuk di antara mereka yang berhasil keluar dari Myanmar.

    Ia bekerja di kawasan industri di pinggiran Ruili, yang memproduksi pakaian, barang elektronik, dan suku cadang kendaraan yang dikirim ke seluruh dunia.

    Pekerja sepertinya direkrut dalam jumlah besar dari Myanmar dan diterbangkan ke Ruili oleh perusahaan-perusahaan sokongan pemerintah Cina yang menginginkan tenaga kerja murah.

    Mereka diperkirakan memperoleh sekitar 2.400 yuan (sekitar Rp5 juta) per bulanlebih sedikit daripada rekan-rekan mereka dari Cina.

    “Tidak ada yang bisa kami lakukan di Myanmar karena perang,” kata Zin Aung.

    “Semuanya mahal. Beras, minyak goreng. Pertempuran sengit terjadi di mana-mana. Semua orang harus mengungsi.”

    Orang tuanya sudah terlalu tua untuk bekerja, jadi dia melakukannya. Dia mengirim uang ke rumah kapan pun dia bisa.

    Para pria itu tinggal dan bekerja di kompleks yang dikelola pemerintah di Ruili.

    Zin Aung mengatakan bahwa kompleks itu adalah tempat perlindungan, dibandingkan dengan apa yang mereka miliki di kampung halaman: “Situasi di Myanmar tidak baik, jadi kami berlindung di sini.”

    Dia juga melarikan diri dari wajib militer, yang diberlakukan tentara Myanmar untuk mengganti mereka yang membelot dan kerugian di medan perang.

    Saat langit berubah menjadi merah padam pada suatu sore, Zin Aung berlari tanpa alas kaki melintasi lumpur menuju lapangan yang basah karena hujan, siap untuk pertempuran yang berbedapermainan sepak bola yang sengit.

    Bahasa Burma, China, dan dialek lokal Yunnan berbaur saat penonton bereaksi terhadap setiap umpan, tendangan, dan tembakan. Kekecawaan karena gagal mencetak gol tidak dapat dipungkiri.

    Ini adalah kegiatan sehari-hari di rumah sementara mereka yang baru, sebagai pelampiasan setelah bekerja selama 12 jam di divisi perakitan.

    Banyak pekerja berasal dari Lashio, kota terbesar di Negara Bagian Shan, dan Laukkaing, rumah bagi keluarga kriminal yang didukung junta.

    Laukkaing jatuh ke tangan pasukan pemberontak pada Januari dan Lashio dikepung dalam operasi militer yang telah mengubah arah perang dan kepentingan China di dalamnya.

    Kesulitan Beijing

    Kedua kota itu terletak di sepanjang koridor perdagangan penting Tiongkok dan gencatan senjata yang dimediasi Beijing menyerahkan Lashio ke tangan junta.

    Namun dalam beberapa pekan terakhir pasukan pemberontak telah menyerbu kota itukemenangan terbesar mereka sejauh ini.

    Militer telah menanggapinya dengan serangan bom dan serangan pesawat nirawak, serta membatasi jaringan internet dan telepon seluler.

    “Jatuhnya Lashio adalah salah satu kekalahan paling memalukan dalam sejarah militer,” kata Richard Horsey, penasihat Myanmar untuk International Crisis Group.

    Baca juga:

    “Satu-satunya alasan kelompok pemberontak tidak maju ke Muse adalah mereka mungkin takut hal itu akan membuat marah China,” kata Tn. Horsey.

    “Pertempuran di sana akan berdampak pada investasi yang diharapkan dapat dimulai kembali oleh China selama berbulan-bulan.”

    “Rezim telah kehilangan kendali atas hampir seluruh negara bagian Shan utarakecuali wilayah Muse, yang berada tepat di sebelah Ruili.”

    Ruili dan Musekeduanya ditetapkan sebagai zona perdagangan khusussangat penting bagi rute perdagangan sepanjang 1.700 km yang didanai Beijing, yang dikenal sebagai Koridor Ekonomi China-Myanmar.

    BBC

    Rute tersebut juga mendukung investasi Tiongkok dalam energi, infrastruktur, dan penambangan yang penting untuk pembuatan kendaraan listrik.

    Namun intinya adalah jalur kereta api yang akan menghubungkan Kunmingibu kota provinsi Yunnanke Kyaukphyu, pelabuhan laut dalam yang dibangun China di pantai barat Myanmar.

    Pelabuhan yang terletak di sepanjang Teluk Benggala ini akan memberikan akses bagi industri di Ruili dan sekitarnya ke Samudra Hindia dan pasar global.

    Pelabuhan ini juga merupakan titik awal untuk jaringan pipa minyak dan gas yang akan menyalurkan energi melalui Myanmar ke Yunnan.

    Baca juga:

    Namun rencana ini sekarang terancam.

    Presiden Xi Jinping telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun hubungan dengan tetangganya yang kaya sumber daya alam itu ketika pemimpin terpilih negara itu, Aung San Suu Kyi, dipaksa turun dari kekuasaan.

    Xi menolak mengutuk kudeta tersebut dan terus menjual senjata kepada militer. Namun, ia juga tidak mengakui Min Aung Hlaing sebagai kepala negara, dan tidak mengundangnya ke China.

    Tiga tahun kemudian, perang telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi, tetapi belum ada tanda-tanda akan berakhir.

    Karena terpaksa bertempur di medan perang baru, militer Myanmar kini telah kehilangan setengah hingga dua pertiga wilayahnya akibat perpecahan oposisi.

    Beijing menemui jalan buntu.

    Mereka “tidak menyukai situasi ini” dan menganggap pemimpin militer Myanmar Min Aung Hlaing “tidak kompeten”, kata Horsey.

    “Mereka mendorong pemilu, bukan karena mereka ingin kembali ke pemerintahan yang demokratis, tetapi lebih karena mereka pikir ini adalah jalan kembali.”

    Rezim Myanmar mencurigai Beijing bermain di kedua sisimenjaga kesan mendukung junta sambil terus memelihara hubungan dengan tentara etnis di Negara Bagian Shan.

    Para analis mencatat bahwa banyak kelompok pemberontak menggunakan senjata buatan China.

    Pertempuran terakhir ini juga merupakan kebangkitan kembali dari serangan tahun lalu yang dilancarkan oleh tiga kelompok etnis yang menyebut diri mereka Aliansi Persaudaraan (Brotherhood Alliance).

    Diperkirakan bahwa aliansi tersebut tidak akan bergerak tanpa persetujuan diam-diam dari Beijing

    Rencana yang tertunda

    Keadaan sulit itu terlihat jelas di Ruili dengan banyaknya toko yang tutup. Kota yang dulunya diuntungkan oleh lokasinya di sepanjang perbatasan kini merasakan dampak dari kedekatannya dengan Myanmar.

    Dilanda beberapa karantina wilayah paling ketat di China, bisnis di sini kembali terpukul ketika lalu lintas dan perdagangan lintas batas tak kunjung pulih.

    Mereka juga bergantung pada tenaga kerja dari pihak lain, yang telah berhenti, menurut beberapa agen yang membantu pekerja Burma mencari pekerjaan.

    Mereka mengatakan China telah memperketat pembatasannya dalam mempekerjakan pekerja dari seberang perbatasan, dan telah memulangkan ratusan orang yang disebut bekerja secara ilegal.

    Pemilik sebuah pabrik kecil, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan kepada BBC bahwa deportasi tersebut berarti “bisnisnya berhenti dan tidak ada yang dapat saya ubah”.

    Alun-alun di sebelah pos pemeriksaan penuh dengan pekerja mudatermasuk ibu-ibu dengan bayi merekayang menunggu di tempat teduh.

    Mereka menata dokumen untuk memastikan mereka memiliki apa yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan.

    Mereka yang berhasil diberi izin yang memungkinkan mereka bekerja hingga sepekan atau datang dan pergi antara kedua negara, seperti Li.

    “Saya berharap beberapa orang baik dapat memberi tahu semua pihak untuk berhenti berperang,” kata Li.

    “Jika tidak ada seorang pun di dunia yang berbicara demi kami, itu sungguh tragis.”

    Ia mengatakan bahwa ia sering diyakinkan oleh orang-orang di sekitarnya bahwa pertempuran tidak akan terjadi di dekat China. Namun, ia tidak yakin: “Tidak seorang pun dapat memprediksi masa depan.”

    Untuk saat ini, Ruili adalah pilihan yang lebih aman baginya dan Zin Aung. Mereka memahami bahwa masa depan mereka ada di tangan orang China.

    Orang-orang China di perbatasan, menyadari betul hal ini.

    “Negara Anda sedang berperang,” kata seorang turis China kepada seorang penjual batu giok Myanmar yang sedang menawar di pasar.

    “Ambil saja apa yang saya berikan.”

    Lihat juga Video ‘Junta Myanmar Terbitkan Aturan Pria-Wanita Muda Wajib Militer 2 Tahun’:

    (ita/ita)

  • Heboh Rumor Pemimpin Junta Myanmar Ditahan Para Jenderal, Benarkah?

    Heboh Rumor Pemimpin Junta Myanmar Ditahan Para Jenderal, Benarkah?

    Naypyitaw

    Militer Myanmar membantah rumor yang menyebut para jenderal top negara itu telah menahan pemimpin junta, Min Aung Hlaing, dalam kudeta terbaru. Militer Myanmar mengecam rumor itu sebagai “propaganda” yang disebarkan oleh “para pengkhianat” menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) China.

    Seperti dilansir AFP, Rabu (14/8/2024), Min Aung Hlaing menghadapi kritikan dari para pendukung militer dalam beberapa pekan terakhir, setelah pasukan pemerintah Myanmar kehilangan wilayahnya dalam pertempuran melawan kelompok etnis bersenjata dan lawan lainnya yang menentang kudeta tahun 2021 lalu.

    Sejumlah postingan media sosial, pada Selasa (13/8), mengklaim para jenderal top Myanmar telah menahan Min Aung Hlaing di ibu kota Naypyitaw dalam upaya mengubah kepemimpinan puncak junta.

    Otoritas junta Myanmar membantah keras rumor yang beredar di media sosial tersebut.

    “Klaim-klaim itu merupakan propaganda… dengan tujuan mengganggu perdamaian dan stabilitas negara,” sebut otoritas junta Myanmar dalam pernyataannya, yang menuduh pihak yang menyebarkan rumor itu sebagai “pengkhianat”.

    “Kepala negara dan pemerintah memenuhi tanggung jawab nasional mereka bersama-sama,” tegas pernyataan tersebut.

    Rumor itu beredar menjelang kedatangan Menlu China Wang Yi di Myanmar, yang dijadwalkan pada Rabu (14/8) waktu setempat untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Min Aung Hlaing.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan pada Selasa (13/8) bahwa kunjungan Menlu itu “bertujuan untuk memperdalam kerja sama bilateral yang saling menguntungkan di berbagai bidang”.

    China merupakan sekutu utama dan pemasok senjata bagi junta Myanmar. Namun para analis mengatakan Beijing juga mempertahankan hubungan dengan kelompok etnis bersenjata yang menguasai wilayah-wilayah dekat perbatasan kedua negara.

    Dalam beberapa pekan terakhir, aliansi kelompok etnis bersenjata telah merebut sejumlah wilayah dari junta Myanmar di negara bagian Shan, yang berbatasan dengan Provinsi Yunnan di China. Wilayah yang direbut mencakup komando militer zona timur laut di kota Lashio, Shan, yang ditinggali sekitar 150.000 orang.

    Pengambilalihan komando regional itu — yang pertama dilakukan oleh kelompok penentang junta sejak kudeta militer tahun 2021 — memicu kritikan publik yang jarang terjadi terhadap para jenderal top Myanmar oleh para pendukungnya.

    Min Aung Hlaing, dalam pernyataan sebelumnya, mengatakan aliansi itu menerima senjata, termasuk drone dan rudal jarak pendek, dari sumber-sumber “asing” yang tidak disebutkan lebih lanjut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Dapatkah Gencatan Senjata di Myanmar Tercapai?

    Dapatkah Gencatan Senjata di Myanmar Tercapai?

    Jakarta

    Gencatan senjata yang baru-baru ini digagas Cina antara kelompok oposisi bersenjata Myanmar dan militer yang berkuasa tidak berarti konflik akan berhenti, ungkap para analis.

    Kelompok oposisi, yakni Aliansi Tiga Persaudaraan yang adalah sebuah aliansi antara Tentara Arakan, Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang adalah yang terbesar. Aliansi yang dibentuk pada Juni 2019 dan didukung oleh pemerintah serta pasukan pertahanan pro-demokrasi yang dipimpin oleh warga sipil ini menjadi ancaman bagi junta Myanmar sejak kudeta hampir tiga tahun lalu.

    Myanmar berada dalam kekacauan sejak Jenderal Min Aung Hlaing dan pasukan militernya menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis pada Februari 2021. Kudeta tersebut memicu konflik bersenjata antara Pemerintah Persatuan Nasional yang dipimpin sipil, pasukan pertahanan rakyat, dan kelompok etnis bersenjata.

    Operasi 1027

    Konflik tersebut dipandang sebagai perang gesekan hingga terjadi serangan besar-besaran yang dimulai dengan Operasi 1027 pada Oktober, dengan Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) dan Tentara Arakan (AA) dari Myanmar. Tujuan mereka adalah menghapus kekuasaan militer di wilayah yang disengketakan, dan dalam hampir tiga bulan, puluhan kota kecil dan ratusan pangkalan militer yang dikuasai junta telah direbut. Serangan tersebut juga telah menyebar ke wilayah dan negara bagian lain di Myanmar.

    Kyaw Hsan Hlaing, seorang analis politik dari Myanmar. mengatakan serangan baru-baru ini telah memotivasi kelompok-kelompok yang berlawanan di seluruh negeri untuk melakukan perlawanan.

    “Keberhasilan Operasi 1027 telah menjadi tonggak sejarah bagi perlawanan dan perang saudara di Myanmar, menandai pencapaian besar dalam merobohkan beberapa kota. Prestasi ini telah memotivasi kelompok perlawanan besar lainnya di seluruh negeri,” katanya.

    Salah satu keberhasilan terbesar dari serangan pemberontak sejauh ini adalah perebutan Laukkai, ibu kota Zona Administrasi Mandiri Kokang, yang berada di sepanjang perbatasan Myanmar-Cina, tempat MNDAA mengklaim kendali atas kota tersebut awal bulan ini.

    Namun, awal bulan ini, Kementerian Luar Negeri Cina mengonfirmasi bahwa perundingan perdamaian telah dilakukan antara aliansi dan perwakilan junta di Kunming, sebuah kota di Cina. Hasilnya “gencatan senjata segera” telah disepakati untuk menghentikan pertempuran di lokasi tertentu.

    Gencatan senjata tidak dipatuhi

    Hlaing mengatakan meskipun ada gencatan senjata dan upaya gencatan senjata sebelumnya, hal ini belum sepenuhnya menghentikan pertempuran.

    “Saya pikir gencatan senjata saat ini tidak akan menandai berakhirnya perang antara aliansi dan pasukan junta,” katanya kepada DW. “Namun, perang mungkin akan berhenti di wilayah Kokang untuk sementara waktu. Sebelum gencatan senjata saat ini antara aliansi dan pasukan junta, mereka mengadakan setidaknya dua pertemuan yang ditengahi oleh Cina, tetapi tidak ada hasil yang dicapai. Aliansi terus berperang hingga mencapai tujuan mereka. tujuan militer, terutama perebutan penuh Laukkai.”

    Gencatan senjata tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya menurut pernyataan dari Aliansi Tiga Persaudaraan. Hanya beberapa hari setelah gencatan senjata disepakati, pasukan militer Myanmar diduga menembakkan granat ke arah pasukan aliansi di Kachin, sehingga mendorong pasukan oposisi membalas tembakan.

    Waktu yang buruk untuk gencatan senjata

    Bagi kelompok oposisi, pertempuran masih akan terus berlanjut, dan opsi gencatan senjata dinilai terjadi di waktu yang salah. Para pendukung anti-junta berharap berkurangnya kendali militer secara nasional, dan kekalahan junta akan mendorong pemberontakan meluas ke kota-kota utama di Myanmar. Dengan adanya gencatan senjata, masih ada pertanyaan apakah momentum ini akan terus berlanjut.

    Namun David Scott Mathieson, seorang analis Myanmar, mengatakan gencatan senjata tidak akan menentukan strategi aliansi oposisi ke depannya.

    “Saya kira tidak… sejauh ini perjanjian tersebut tidak berarti banyak, dan harus dipandang sebagai perjanjian lemah yang hanya memberikan kepura-puraan untuk melakukan perundingan damai,” katanya kepada DW.

    “Saya pikir tidak mungkin untuk memprediksi ke mana arah konflik, meskipun patut dipertimbangkan bahwa setiap perubahan momentum yang dilakukan oleh [Aliansi Tiga Persaudaraan] akan ditentukan oleh berbagai strategi mereka, bukan melalui tekanan dari luar.”

    PBB mengatakan jumlah pengungsi akibat konflik ini secara keseluruhan melebihi dua juta orang sejak kudeta pada Februari 2021. Hampir 4.400 orang telah dibunuh oleh militer dan lebih dari 25.000 orang ditangkap, menurut kelompok hak asasi manusia itu. (rs/pkp)

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Ribuan Warga Menghadiri Pemakaman Wakil Pemimpin Hamas

    Ribuan Warga Menghadiri Pemakaman Wakil Pemimpin Hamas

    Anda kembali membaca laporan Dunia Hari Ini, edisi Jumat 5 Januari 2024.

    Berita-berita utama selama 24 jam terakhir sudah kami rangkum dan kita awali dari Lebanon.

    Pemakaman wakil pemimpin Hamas

    Ribuan orang menghadiri pemakaman wakil pemimpin Hamas Saleh al-Aruri di Beirut yang tewas dalam serangan Israel di Lebanon.

    Mereka berkumpul di sebuah masjid untuk membacakan doa sebelum berbaris ke kamp pengungsi Shatila, tempat tiga korban tewas dimakamkan.

    Tiga peti, yakni jenazah Saleh, jenazah Azzam al-Aqraa dari sayap militer Hamas Ezzedine al-Qassam, dan Mohammad al-Rais, dibungkus dengan bendera Palestina dan Hamas.

    Sebuah senapan mesin diletakkan di atas setiap peti mati dan tembakan keras terdengar saat prosesi pemakaman berjalan menuju pemakaman.

    Penembakan di sekolah Amerika Serikat

    Polisi melaporkan seorang siswa dan lima lainnya terluka akibat penembakan di sebuah sekolah di Perry, Iowa, Amerika Serikat.

    Penembakan terjadi kemarin, saat para siswa bersiap memulai pelajaran.

    Tersangka yang berumur 17 tahun ditemukan tewas karena menembak dirinya sendiri.

    Tiga korban dibawa ke rumah sakit terdekat, sementara korban lainnya diangkut ke rumah sakit yang berbeda.

    ISIS mengklaim penyerangan di Iran

    Lewat media sosial, ISIS mengaku bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri di sebuah acara peringatan wafatnya Jenderal Iran Qassem Soleimani.

    Kejadian ini menewaskan sedikitnya 84 orang dan 284 lainnya luka parah.

    Kelompok ISIS mengklaim nama kedua penyerang tersebut adalah Omar al-Mowahed dan Seif-Allah al-Mujahed.

    Namun, cabang kelompok ISIS mana yang melakukan serangan ini belum teridentifikasi.

    Belasan ribu tahanan Myanmar diampuni

    Untuk memperingati 76 tahun kemerdekaan Myanmar, pemerintah militer Myanmar memberikan pengampunan terhadap hampir 10.000 tahanan.

    Namun jumlah tersebut tampaknya hanya mencakup sebagian kecil dari ribuan tahanan politik yang dipenjara karena menentang pemerintahan militer.

    Dalam laporan televisi yang dikelola oleh pemerintah, ketua dewan militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, memberikan pengampunan kepada 9.652 tahanan.

    Pembebasan tahanan dimulai pada hari Kamis dan diperkirakan akan memakan waktu beberapa hari.

    Awan panas Gunung Merapi

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan keberadaan awan panas yang tersembur sejauh 1.800 meter di Gunung Merapi yang mengarah ke barat daya Kali Bebeng.

    Menurut kepala PVMBG Hendra Gunawan, awan panas tersebut terjadi pada18.18 WIB dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan berdurasi 155,56 detik.

    “Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan,” bunyi pernyataan Hendra.

    Sejak 2020, Gunung Merapi menempati status kebencanaan level III atau siaga karena aktivitas vulkanik masih cukup tinggi berupa erupsi efusif.

  • Junta Myanmar Umumkan Pengampunan 2 Ribu Tahanan

    Junta Myanmar Umumkan Pengampunan 2 Ribu Tahanan

    Jakarta

    Junta Myanmar mengumumkan telah mengampuni lebih dari 2.000 tahanan, yang dipenjara berdasarkan undang-undang, yang digunakan secara luas dalam tindakan kerasnya terhadap para demonstran sejak merebut kekuasaan lebih dari dua tahun lalu.

    Diketahui bahwa junta militer Myanmar telah menangkap ribuan pengunjuk rasa dan aktivis sejak kudeta militer pada Februari 2021 yang menjerumuskan negara itu ke dalam kekacauan.

    Dilansir kantor berita AFP, Rabu (3/5/2023), dalam sebuah pernyataan, junta militer Myanmar mengatakan bahwa pengampunan diberikan kepada “2.153 tahanan yang menjalani hukuman di bawah KUHP 505 (a) untuk menandai Hari Bulan Purnama Kasone”, sebuah perayaan yang menandai kelahiran Buddha.

    Sesuai ketentuan KUHP tersebut, para tahanan tersebut terancam hukuman penjara maksimum tiga tahun.

    Militer memerintahkan pengampunan “untuk ketenangan rakyat dan atas dasar kemanusiaan,” kata junta militer dalam pernyataannya.

    Mereka yang mengulangi pelanggaran harus menjalani sisa hukuman mereka dengan hukuman tambahan, imbuh junta.

    Myanmar biasanya memang memberikan amnesti kepada ribuan tahanan untuk menandai hari libur nasional atau perayaan Buddha.

    Sebelumnya pada hari Selasa (2/5), Qin bertemu dengan kepala junta Min Aung Hlaing. Dia menjadi pejabat China paling terkenal yang bertemu dengan jenderal tertinggi Myanmar itu sejak kudeta.

    “China mengadvokasi masyarakat internasional untuk menghormati kedaulatan Myanmar dan memainkan peran konstruktif dalam membantu mencapai perdamaian dan rekonsiliasi,” kata Qin, menurut Kementerian Luar Negeri China.

    (ita/ita)