Tag: Miftachul Akhyar

  • Rencana Muktamar NU, Gus Ipul Tunggu Keputusan Rais Aam dan Ketum PBNU

    Rencana Muktamar NU, Gus Ipul Tunggu Keputusan Rais Aam dan Ketum PBNU

    Bisnis.com, SURABAYA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf menegaskan bahwa pihaknya belum berbincang lebih lanjut mengenai pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

    Menurut Gus Ipul sapaan akrabnya, pelaksanaan muktamar menjadi wewenang sepenuhnya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar serta Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. 

    Sebagai informasi, muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi pada tubuh organisasi Nahdlatul Ulama, yang biasanya kerap menentukan arah kepemimpinan organisasi tersebut selanjutnya.

    “[Mengenai muktamar] nanti akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Gus Ipul dikutip Senin (29/12/2025).

    Lebih lanjut, Gus Ipul enggan untuk membeberkan secara detail mengenai pelaksanaan muktamar tersebut. Menurutnya, mandat untuk menjelaskan perihal muktamar tersebut dipegang oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar serta Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf. 

    “Belum bisa [disebutkan kapan pelaksanaan muktamar], nanti tunggu Kiai Miftahul Akhyar dengan Gus Yahya. Ya nanti kan akan ada disampaikan pada saatnya,” jelasnya. 

    Diberitakan sebelumnya, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu dalam silaturahmi yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12)

    Pertemuan itu juga diikuti sejumlah Mustasyar PBNU, antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, Prof Machasin, dan KH Abdullah Ubab Maimoen.

    Pertemuan itu di antaranya menghasilkan kesepakatan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU secepat-cepatnya yang dipimpin Mandataris Muktamar Ke-34 NU, yakni KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf. 

    Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh menyebut bahwa PBNU menyambut baik hasil kesepakatan forum tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menjaga ketertiban organisasi dan keutuhan jam’iyah.

    “PBNU siap melaksanakan muktamar sebagaimana yang telah dicanangkan, dan itu akan dilakukan dalam waktu segera,” tegasnya.

  • Gus Yahya: Sejujurnya, Hampir Saya Tidak Punya Benci Sama Sekali

    Gus Yahya: Sejujurnya, Hampir Saya Tidak Punya Benci Sama Sekali

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang belum lama ini dilengserkan, mengunjungi kediaman Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di Surabaya, Sabtu (28/12/2025) kemarin.

    Pertemuan tersebut berlangsung di tengah polemik internal yang belakangan mencuat di tubuh PBNU.

    Gus Yahya mengungkapkan rasa syukurnya atas pertemuan tersebut.

    Ia menggambarkan suasana pertemuan penuh kehangatan, ditandai dengan mushafahah dan tawa bersama setelah sebelumnya diliputi kesedihan.

    “Rasa syukur tak terperi, kala bertaut kembali, mushaafahah kembali, tertawa hangat kembali. Alhamdulillah,” ujar Gus Yahya di X @yahyaCstaquf, kemarin.

    Ia menyebut pertemuan itu sebagai momen bersimpuh bersama di kediaman Rais Aam.

    Baginya, selama polemik berlangsung, dirinya hampir tidak memiliki rasa marah maupun benci, melainkan hanya kesedihan yang terus-menerus dirasakan.

    “Sejujurnya, dalam persoalan ini, hampir saya tidak punya rasa marah sama sekali, rasa benci sama sekali, yang ada hanya kesedihan terus-menerus,” ungkapnya.

    Gus Yahya mengatakan kesedihan tersebut kini telah luruh dan berganti dengan tekad untuk terus berkhidmat tanpa sisa bagi Nahdlatul Ulama.

    “Kesedihan itu hari ini luruh, berganti mendiami tekad berkhidmat tanpa sisa,” imbuhnya.

    Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyampaikan terima kasih kepada para kiai sepuh, mustasyarin, ruasa’, dan kuttab, serta seluruh warga dan pencinta Nahdlatul Ulama yang terus memberikan dukungan.

    Ia kemudian mengajak semua pihak untuk menjaga persatuan dan membangun peradaban dengan hati yang jernih dan ikhlas.

  • Cerita Gus Yahya dan Gus Ipul Saling Ledek di Surabaya

    Cerita Gus Yahya dan Gus Ipul Saling Ledek di Surabaya

    Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menceritakan bahwa dinamika yang terjadi di internal struktural organisasi sudah berakhir. Meski sempat memanas beberapa waktu terkahir, dinamika disebutkan mulai mencair di antara pengurus.

    Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, dalam pertemuan silaturahmi di kediaman Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya, hari ini Minggu (28/12/2025), ia sudah bercanda lepas dengan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Tidak hanya bercanda bahkan bisa saling meledek.

    “Nikmat sekali hubungan, suasana sangat cair dan kita bisa bertukar guyonan dengan riuh rendah. Wah, sudah (bercanda dengan Gus Ipul), enggak karu-karuan tadi. Bisa ledek-ledekan lagi, enak, Alhamdulillah,” ujar Gus Yahya setelah pertemuan.

    Gus Yahya juga menyebutkan, fokus utama pertemuan di Surabaya hari ini adalah untuk silaturahmi antar struktural, demi memulihkan kembali ikatan batin di antara seluruh jajaran pengurus PBNU.

    “Alhamdulillah semuanya diundang dan ndak ada pembicaraan substansial, kita pokoknya nyambung kembali, menguatkan kembali ikatan batin kita,” ungkapnya.

    Dari kiri ke kanan: KH Miftahul Ahyar, Gus Yahya dan Gus Ipul usai pertemuan PBNU di Surabaya, Minggu (28/12/2025). [Foto: Ist]Ia turut menekankan bahwa seluruh jajaran telah bersepakat untuk menjaga kebersamaan mereka hingga akhir masa khidmat, sebagaimana komitmen awal saat mereka mulai memimpin PBNU.

    Soal struktural kepengurusan PBNU yang sempat berubah saat dinamika yang terjadi, Gus Yahya menambahkan, segala keputusan organisatoris sebenarnya sudah tuntas. Yakni melalui pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo beberapa waktu lalu.

    Namun, Gus Yahya menyadari, gesekan yang sempat terjadi turut meninggalkan dampak psikologis yang perlu disembuhkan. Caranya melalui pertemuan yang lebih cair.

    “Ya kalau (keputusan organisasi) itu kan sudah Lirboyo kemarin. Lirboyo, keputusan Lirboyo itu. Nah, tinggal bagaimana, ya namanya kemarin ada gejolak seperti itu kan tentu ada psikologi-psikologi yang harus dipulihkan. Nah, ini yang tadi Alhamdulillah bisa tercapai,” tutupnya. (rma/but)

  • Begini Penjelasan Gus Ipul tentang Jadwal Muktamar NU

    Begini Penjelasan Gus Ipul tentang Jadwal Muktamar NU

    Surabaya (beritajatim.com) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, angkat bicara terkait rencana Muktamar ke-35 NU yang belum bisa disampaikan kepada publik, hari Minggu (28/12/2025).

    “Nanti akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Gus Ipul singkat usai pertemuan antara pengurus PBNU di Surabaya hari ini.

    Ia menambahkan, terkait kapan Muktamar ke-35 NU ini digelar masih menunggu hasil rapat intens. Rapat antara Mandataris Muktamar Ke-34 NU, yakni Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU dan Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam.

    “Belum bisa (disebutkan kapan), nanti tunggu Kiai Miftahul Akhyar dengan Gus Yahya,” tambahnya.

    Sebagai informasi, diberitakan sebelumnya bahwa Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bertemu dalam silaturahmi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (25/12/2025). Pertemuan itu juga diikuti sejumlah Mustasyar PBNU, antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, Prof Machasin, dan KH Abdullah Ubab Maimoen.

    Pertemuan itu di antaranya menghasilkan kesepakatan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU secepat-cepatnya dipimpin Mandataris Muktamar Ke-34 NU, yakni KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf.

    Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh menyampaikan bahwa PBNU menyambut baik hasil kesepakatan forum tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menjaga ketertiban organisasi dan keutuhan jam’iyah.

    “PBNU siap melaksanakan Muktamar sebagaimana yang telah dicanangkan, dan itu akan dilakukan dalam waktu segera,” katanya. [rma/but]

  • Gus Ipul: Langkah PBNU Dibahas Khusus Rais Aam Kiai Miftah dan Ketum Gus Yahya

    Gus Ipul: Langkah PBNU Dibahas Khusus Rais Aam Kiai Miftah dan Ketum Gus Yahya

    Surabaya (beritajatim.com) – Suasana teduh dan penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan para pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlangsung di Pesantren Miftachussunnah, kediaman Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Minggu (28/12/2025) hari ini.

    Pertemuan yang berlangsung selama 4 jam sejak pukul 11.30 WIB tersebut diisi dengan sholawatan, doa bersama, serta makan nasi talaman bersama. Sementara soal pembahasan teknis organisasi disepakati akan dilanjutkan pada waktu mendatang.

    Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menjaga kebersamaan dan keguyuban di lingkungan PBNU.

    “Alhamdulillah tadi sudah kumpul semua. Kita bersama-sama berdoa, bersholawat. Mudah-mudahan Insya Allah nanti pada waktu-waktu mendatang akan ada pembicaraan yang lebih lanjut,” ujar Gus Ipul.

    Menurut dia, agenda utama pertemuan kali ini memang difokuskan pada silaturahmi dan penguatan suasana batin kebersamaan. Adapun hal-hal terkait langkah organisasi ke depan akan dibahas secara khusus oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar bersama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

    “Intinya nanti Rais Aam bersama-sama dengan Ketua Umum akan membicarakan lebih lanjut apa yang akan kita lakukan ke depan. Hari ini kita sudah kumpul, sudah bisa guyub, makan bareng, sholawatan. Alhamdulillah,” kata Gus Ipul.

    Saat ditanya terkait agenda Muktamar NU dan dinamika struktural PBNU, Gus Ipul menegaskan bahwa semua itu akan disampaikan pada waktunya.

    “Soal muktamar nanti akan dibicarakan lebih lanjut. Kapan waktunya, juga belum bisa dipastikan. Tunggu penjelasan dari Kiai Miftachul Akhyar,” ujarnya.

    Pertemuan ini dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU Prof Muhammad Nuh, serta sejumlah tokoh dan pengurus PBNU dari unsur Syuriyah dan Tanfidziyah, turut hadir juga KH Anwar Mansyur dan KH Idris Hamid. (tok/but)

  • Temui Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Gus Yahya Tegaskan Kisruh PBNU Telah Berakhir

    Temui Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Gus Yahya Tegaskan Kisruh PBNU Telah Berakhir

    FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya menegaskan bahwa kisruh yang sempat terjadi pada kepengurusan PBNU telah berakhir.

    Hal itu sejalan dengan kesepakatan islah yang dicapai dalam pertemuan yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo pada Kamis (24/12)) lalu. Salah satu kesepakatan dari pertemuan itu yakni akan digelar Muktamar NU secara bersama-sama.

    Untuk lebih menyakinkan islah berjalan sebagaimana yang diharapkan semua pihak, terutama kiai sepuh NU, Gus Yahya melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Minggu (28/12).

    Pertemuan dengan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar berlangsung tertutup dan dijaga ketat oleh sejumlah banser di gerbang pondok pesantren.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Saifullah Yusuf dan Katib Aam PBNU, M. Nuh juga tampak hadir.

    “Alhamdulillah, silaturahim ini adalah momentum untuk mengukuhkan apa yang telah disepakati di (Ponpes) Lirboyo pada Hari Kamis (24/12) yang lalu,” tutur Gus Yahya seusai pertemuan, Minggu (28/12).

    Gus Yahya menekankan PBNU akan merapatkan barisan dan menjalankan mandat organisasi, sesuai kesepakatan pertemuan di Ponpes Lirboyo. Konflik internal organisasi, yang belakangan ini jari sorotan juga telah berakhir.

    “Semua hal yang kemarin menjadi persoalan kita anggap sudah lewat, tidak ada, dan kita kembali lagi ke kebersamaan. Kita berangkat bersama-sama, jadi kita akan terus berjalan bersama sampai akhir kesepakatan,” ucap Gus Yahya.

    Ketika ditanya mengenai pembenahan struktur dan posisi Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU, Gus Yahya tegas menjawab tidak ada perombakan. “Pokoknya sekarang kembali bersama dan kembali bersama seperti semula,” tukasnya.

  • Pertemuan PBNU di Kediaman KH Miftahul Akhyar Surabaya Bahas Persiapan Muktamar ke-35 NU

    Pertemuan PBNU di Kediaman KH Miftahul Akhyar Surabaya Bahas Persiapan Muktamar ke-35 NU

    Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar pertemuan penting di kediaman Rais Aam KH Miftahul Akhyar, yang terletak di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/12/2025). Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PBNU serta sejumlah pengurus lainnya.

    Acara yang dimulai sekitar pukul 12.40 WIB itu ditandai dengan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf beserta rombongan. Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), serta Pj (Penjabat) Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.

    Pantauan beritajatim.com di lokasi, acara berlangsung secara tertutup dengan penjagaan ketat dari anggota Banser yang menjaga luar pagar kediaman Rais Aam PBNU. Hingga saat ini, pertemuan masih berlangsung dengan sejumlah undangan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang masih dalam perjalanan.

    Salah seorang anggota Banser yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh pengurus PBNU, termasuk Pj Ketua Umum PBNU. “Banyak yang turut hadir diundang dari jajaran pengurus PBNU, termasuk Pj Ketua Umum. Saat ini masih berlangsung sambil menunggu undangan yang belum hadir dari Jawa Tengah,” ungkapnya.

    Pertemuan ini merupakan lanjutan dari silaturahmi yang dilakukan sebelumnya antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Kamis (25/12/2025).

    Dalam pertemuan tersebut, salah satu keputusan penting yang diambil adalah penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU yang segera dilaksanakan.

    Sebagaimana diumumkan, Muktamar ke-35 akan diselenggarakan dalam waktu yang secepat-cepatnya. Hal ini akan melibatkan Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU, serta Mustasyar PBNU, para sesepuh, dan pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar.

    Keputusan ini semakin mempertegas komitmen PBNU untuk mempersiapkan Muktamar yang sangat dinantikan oleh seluruh warga Nahdliyin.

    “Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar,” demikian bunyi keputusan pertemuan di Lirboyo Kediri. [rma/suf]

  • PBNU Bakal Muktamar, Siapa yang Berpotensi Jabat Ketua Umum?

    PBNU Bakal Muktamar, Siapa yang Berpotensi Jabat Ketua Umum?

    Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Besuk Pasuruan yang juga sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhibbul Aman Aly menambahkan rapat di Kediri tersebut digelar atas perintah Rais Aam PBNU dan bertempat di Pesantren Lirboyo Kediri.

    “Rapat ini adalah rapat Syuriyah PBNU, yang menyelenggarakan PBNU atas perintah Rais Aam hanya bertempat di Lirboyo (Pesantren Lirboyo Kediri). Jadi, keputusan ini keputusan resmi PBNU dengan mengundang mustasyar dan para Rais Aam,” kata dia.

    Rapat konsultasi yang diinisiasi oleh Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, beserta jajaran Pengurus Syuriyah PBNU, yaitu KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori.

    Hadir pula KH Idris Hamid, H. Muhammad Nuh, Gus Muhib, Gus Yazid, Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Gus Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, dan Gus Nadzif.

    Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga hadir beserta Pengurus Tanfidziyah PBNU H. Amin Said Husni.

    Sementara itu, jajaran Mustasyar PBNU yang hadir antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Machasin.

    Sampai saat ini, belum ada nama yang mencuat bakal bertarung. Tanggal pasti muktamar pun belum jelas.
    (Arya/Fajar)

  • Soal Konflik PBNU, Hasyim Muhammad Ragu dengan Hasil Islah

    Soal Konflik PBNU, Hasyim Muhammad Ragu dengan Hasil Islah

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pegiat media sosial, Hasyim Muhammad angkat suara terkait kesepakatan islah yang dicapai Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf dengan Rais Aam, KH Miftachul Akhyar.

    Hasyim mengaku dirinya selalu warna Nahdliyin masih ragu dengan islah PBNU yang dicapai kedua pimpinan tertinggi di organisasi NU tersebut. Dia mengaku ada dua hal yang perlu dicermati dari kesepakatan islah tersebut.

    “Pertama, jika memang akar perselisihan semudah itu dipertemukan (islah), kenapa kemarin sampai ada perpecahan hingga menghentikan Ketum?,” kata Hasyim Muhammad melalui ciutan di akun media sosialnya, Jumat (26/12).

    Dia lantas menyebut, Islah yang disepakat kedua kubu hanya menunda perselisihan (yang sebenarnya serius itu) untuk dibawa ke Muktamar. Semacam ada kesepakatan. “Oke kita berantem di Muktamar saja, biar hasilnya resmi,” katanya.

    Menurut Hasyim, jika memang poin 2 yang terjadi, maka perselisihan itu akan memuncak di saat muktamar. Kenapa memuncak? Karena sejak hari ini hingga Muktamar, akan terjadi gerilya besar-besaran di level bawah. “Dan jangan dikira itu tak membutuhkan dana besar,” tandas Hasyim Muhammad.

    Ujung-ujungnya, kata dia, di level bawah akan tetap ada kubu-kubuan hingga Muktamar nanti.

    Dia mengaku tidak tahu pasti seberapa serius akar perselisihan kemarin itu hingga ada pemberhentian Ketum hingga muncul dua Ketum. Dan sampai akhirnya harus ada islah, yang kemudian disepakati untuk dilakukan percepatan Muktamar.

    Yang jelas, menurutnya, tak mungkin penyebab perselisihannya adalah hal sederhana. Faktanya persoalan itu sampai membuat Rais Am memberhentikan Ketum, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah NU.

  • Rais Aam dan Gus Yahya Sepakat Gelar Muktamar ke-35 Usai Konflik Pemakzulan Ketum PBNU

    Rais Aam dan Gus Yahya Sepakat Gelar Muktamar ke-35 Usai Konflik Pemakzulan Ketum PBNU

    Bisnis.com, JAKARTA — Rais Aam Miftachul Akhyar dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sepakat menggelar Muktamar ke-35 setelah konflik pemakzulan Ketum PBNU.

    Kesepakatan tersebut setelah Syuriyah (PBNU) menggelar rapat dengan Mustasyar PBNU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis, (25/12/2025). 

    Pertemuan telah tersurat melalui surat nomor 4829/PB.02/A.I.01.02/99/12/2025 yang diterbitkan pada Rabu (24/2025) yang dijadwalkan oleh Kiai Miftach sebagai forum Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar.

    Sedangkan kehadiran Gus Yahya tertuang dalam surat yang ditandatangani Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH M. Anwar Manshur bernomor 064/A/AZM/P2L/XII/2025.

    “Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar,” tulis keterangan resmi sebagaimana dikutip dari nu.or.id, Jumat (26/12/2026).

    Keputusan ini diambil setelah ekskalasi konflik di tubuh ormas Islam terbesar itu mulai meningkat dan mengganggu stabilitas PBNU. Gus Yahya mengatakan keputusan ini merupakan solusi terbaik bagi jami’yah melalui Muktamar bersama

    Sebagai tindak lanjut, katanya, PBNU segera membentuk panitia Muktamar ke-35.

    “Kesepakatan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan pembentukan panitia Muktamar. Kita akan bersama-sama menyukseskan forum tertinggi jam’iyah ini dengan damai dan bermartabat,” pungkas Gus Yahya.

    Pertemuan itu turut dihadiri sejumlah petinggi Mustasyar, Rais Syuriyah, dan Katib Syuriyah. Salah satunya mantan Wakil Presiden, Ma’ruf Amin.

    Sebelumnya, Gus Yahya telah didesak mundur berdasarkan keputusan dari Ketua Rais Aam dan Wakil Ketua Rais Aam dalam Rapat Keputusan Risalah Syuriyah pada 20 November 2025. 

    Pemberhentian Gus Yahya karena diundangnya narasumber yang terkait dengan jaringan Zionisme Internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) sebagai narasumber kaderisasi tingkat tinggi NU dinilai melanggar ajaran Ahlussunah wal Jamaah An Nahdliyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.

    Selain itu, tata kelola keuangan PBNU dinilai bermasalah sehingga berpotensi memengaruhi Badan Pengelola Hukum PBNU. Meski begitu, Gus Yahya sempat menolak putusan tersebut.