Tag: Mette Frederiksen

  • Trump Ingin Caplok Greenland, Eropa Dorong NATO Perkuat Arktik

    Trump Ingin Caplok Greenland, Eropa Dorong NATO Perkuat Arktik

    JAKARTA – Negara-negara Eropa meyakini penguatan kehadiran NATO di kawasan Arktik dapat meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump Washington tidak perlu “memiliki” Greenland demi alasan keamanan.

    Sebelumnya pada 3 Januari, Trump mengatakan kepada majalah The Atlantic Amerika Serikat “mutlak” membutuhkan Greenland, dengan alasan pulau tersebut “dikepung kapal Rusia dan China”.

    Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pun mendesak Trumpagar menghentikan ancaman aneksasi terhadap Greenland, wilayah otonom yang berada dalam Kerajaan Denmark.

    Dilansir ANTARA dari Sputnik, dalam pertemuan tertutup para duta besar NATO di Brussel,Kamis, 8 Januari, negara-negara anggota sepakat perlunya memperkuat postur aliansi di kawasan Arktik, kata tiga diplomat NATO kepada Politico.

    Para diplomat itu mengatakan negara-negara Eropa memandang pencarian kompromi dengan Trump sebagai opsi pertama dan yang paling diinginkan.

    Secara khusus, pertemuan tersebut membahas berbagai opsi, termasuk pemanfaatan kemampuan intelijen untuk meningkatkan pemantauan wilayah, peningkatan belanja pertahanan Arktik, pengerahan lebih banyak peralatan militer, serta penambahan latihan militer di kawasan sekitar.

    Salah satu sumber menyebut pertemuan yang dihadiri 32 utusan aliansi itu berlangsung dalam suasana “produktif” dan “konstruktif”.

    Trump berulang kali menyatakan Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat, dengan menyoroti nilai strategis pulau tersebut bagi keamanan nasional dan pertahanan “dunia bebas” dari China dan Rusia.

    Mantan Perdana Menteri Greenland Mute Egede menegaskan pulau itu tidakdijual.

    Pada 4 Januari, Katie Miller, istri Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, mengunggah gambar peta Greenland berwarna bendera Amerika Serikat di platform X dengan keterangan “SOON”.

    Menanggapi unggahan itu, Duta Besar Denmark untuk AS Jesper Moller Sorensen mengatakan Kopenhagen mengharapkan penghormatan terhadap keutuhan wilayah kerajaan.

    Perdana Menteri Greenland saat ini, Jens-Frederik Nielsen, menyebut gambar tersebut tidak sopan.

    Pada Desember lalu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland.

    Landry kemudian menegaskan kembali tujuan Amerika Serikat untuk menjadikan pulau tersebut bagian dari wilayahnya.

    Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengaku terkejut dan mengecam pernyataan Landry tersebut.

    Frederiksen bersama Nielsen memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan pengambilalihan, seraya menuntut penghormatan atas keutuhan wilayah bersama Denmark dan Greenland.

    Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953. Pulau terbesar di dunia itu tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada 2009, dengan kewenangan mengatur pemerintahan sendiri dan menentukan kebijakan domestik.

  • 6 Negara NATO Kompak Serukan Kedaulatan Greenland Dihormati

    6 Negara NATO Kompak Serukan Kedaulatan Greenland Dihormati

    Kopenhagen

    Enam negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bergabung dengan Denmark dalam menyerukan agar kedaulatan Greenland dihormati. Seruan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan keinginannya menguasai Greenland.

    Dalam pernyataan bersama, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (7/1/2026), enam negara anggota NATO, seperti Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, bersama Denmark menyerukan penghormatan terhadap “kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan” Greenland.

    Greenland yang terletak di kawasan Arktik, merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark.

    “Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland, yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut soal Denmark dan Greenland,” kata pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris dalam pernyataan bersama tersebut.

    Pernyataan bersama itu menguraikan bahwa keamanan Arktik tetap menjadi “prioritas utama bagi Eropa”.

    Ketujuh negara anggota NATO itu juga menegaskan kembali dalam pernyataannya bahwa banyak sekutu Eropa yang telah meningkatkan kehadiran, aktivitas, dan investasi mereka untuk menjaga keamanan wilayah tersebut.

    “Oleh karena itu, keamanan Arktik harus dicapai secara kolektif, bersama-sama dengan sekutu-sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB, yang mencakup kedaulatan, integritas teritorial, dan perbatasan yang tidak dapat diganggu gugat. Ini adalah prinsip-prinsip universal, dan kami tidak akan berhenti membela prinsip-prinsip tersebut,” tegas para pemimpin negara-negara NATO tersebut.

    Ditekankan juga dalam pernyataan bersama itu bahwa AS merupakan “mitra penting dalam upaya ini, sebagai sekutu NATO dan melalui perjanjian pertahanan antara Kerajaan Denmark dan Amerika Serikat tahun 1951”.

    Dalam pernyataan terpisah, para Menteri Luar Negeri (Menlu) Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia mengatakan bahwa sebagai negara-negara Nordik, negara-negara Arktik, dan sekutu NATO, mereka secara kolektif berkomitmen untuk menjaga keamanan, stabilitas, dan kerja sama di kawasan tersebut.

    “Kami semuanya telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pencegahan dan pertahanan di kawasan ini, termasuk melalui kemampuan, aktivitas, kehadiran, dan peningkatan kesadaran situasional yang baru,” kata para Menlu negara-negara Nordik tersebut.

    Trump telah berulang kali menyatakan keinginan untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonomi di dalam Denmark. Dia bahkan tidak mengesampingkan kemungkinan melakukan hal tersebut dengan kekuatan militer.

    Pada Minggu (4/1), atau sehari setelah operasi militer AS di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Trump memperbarui seruannya untuk mengambil alih Greenland, yang disebutnya demi kepentingan keamanan AS.

    Perdana Menteri (PM) Denmark, Mette Frederiksen, mendesak Trump untuk “menghentikan ancaman tersebut”. Beberapa negara Eropa, serta Uni Eropa, menyatakan dukungan kuat untuk Denmark dan Greenland, dengan menolak anggapan bahwa masa depan Greenland dapat ditentukan oleh kekuatan luar.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Soal Venezuela dan Greenland, Jerman ‘Melempem’ Hadapi AS?

    Soal Venezuela dan Greenland, Jerman ‘Melempem’ Hadapi AS?

    Jakarta

    Juru bicara pemerintah Jerman merespons pertanyaan wartawan dengan hati-hati pada hari Senin (05/01). Selama hampir 40 menit, juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman Kathrin Deschauer dan juru bicara pemerintah Sebastian Hille menjawab pertanyaan tentang Venezuela di Konferensi Pers Federal di Berlin.

    Mengapa Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Luar Negeri Johann Wadephul dari Uni Demokrat Kristen (CDU) konservatif tidak menyebut tindakan militer AS pada hari Sabtu (03/01) sebagai pelanggaran hukum internasional, wartawan ingin tahu, seperti yang diyakini banyak ahli. Pada hari Sabtu tersebut, tentara AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di ibu kota Venezuela dan membawanya ke AS untuk menghadapi tuduhan narkoterorisme.

    Hille membacakan pernyataan yang mengkritik keras pemimpin yang ditangkap, “Maduro telah membawa negaranya ke perairan berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.” Pernyataan itu juga mengatakan bahwa masa jabatan Maduro sebagai presiden adalah hasil dari pemilu yang dimanipulasi, yang merupakan salah satu alasan mengapa Jerman tidak pernah secara resmi mengakui pemerintahan Maduro.

    Juru bicara pemerintah Jerman itu pun kemudian menyatakan, “Kanselir menekankan bahwa semua pihak, termasuk AS, harus menghormati hukum internasional. Ini berlaku secara eksplisit untuk kedaulatan negara dan integritas wilayah.” Kata-kata ini dipilih dengan hati-hati untuk menghindari secara eksplisit menuduh AS melanggar hukum internasional.

    Bagaimana Jerman merespons penangkapan Maduro oleh AS?

    Akhir pekan lalu, Jerman juga terlibat dalam upaya merumuskan respons dan penilaian Eropa terhadap keputusan pemerintah AS untuk menangkap Maduro. Hasilnya adalah sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (04/01) dan ditandatangani oleh 26 negara UE, tidak termasuk Hongaria.

    Dalam pernyataan itu, kepala urusan luar negeri UE Kaja Kallas menyerukan kepatuhan terhadap hukum internasional. Kehendak rakyat Venezuela tetap menjadi satu-satunya cara bagi Venezuela untuk memulihkan demokrasi, tambahnya.

    UE telah berulang kali menyatakan bahwa Maduro tidak memiliki legitimasi sebagai presiden yang dipilih secara demokratis.

    Ia menambahkan bahwa prinsip hukum internasional harus diterapkan dalam hubungan antarnegara, “Tidak boleh ada ketidakstabilan politik di Venezuela saat ini. Penting untuk memastikan transisi yang tertib menuju pemerintahan yang disahkan melalui pemilu.”

    Sementara, pada Senin (05/01) pagi, Menteri Luar Negeri Wadephul sekali lagi membela kanselir Merz. Di radio publik Deutschlandfunk, ia mengatakan bahwa “Maduro memimpin rezim yang tidak adil, 8 juta orang telah meninggalkan negara itu. Ada tahanan politik.”

    Ia menambahkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menggambarkan situasi hak asasi manusia di Venezuela sebagai sangat kritis dan bahwa proses hukum sedang berlangsung terhadap Venezuela di Pengadilan Kriminal Internasional. Wadephul mengatakan Maduro bukan presiden yang sah secara legitimasi dan bahwa kepentingan geopolitik AS juga memainkan peran dalam serangan tersebut.

    Delcy Rodriguez ambil alih sebagai Presiden Interim Venezuela

    Pernyataan ini dikritik karena dianggap terlalu lemah oleh beberapa politisi oposisi Jerman, yang menggambarkan aksi militer yang akhirnya membawa Maduro ke New York sebagai pelanggaran hukum internasional yang jelas.

    Katharina Dröge, pemimpin parlemen Partai Hijau, mengatakan “Intervensi AS adalah pelanggaran hukum internasional. Apa yang menghentikan kanselir untuk menyatakannya dengan jelas?”

    Ia menambahkan: “Dalam situasi ini, tetap low profile adalah strategi yang bisa menjadi bencana, Tuan Merz.”

    Wakil Kanselir dan Menteri Keuangan Lars Klingbeil, yang juga menjadi ketua bersama Partai Sosial Demokrat (SPD) yang condong tengah-kiri, menyebut peristiwa di Venezuela “sangat mengkhawatirkan,” menambahkan bahwa “Maduro memimpin rezim otoriter yang bertahan dalam kekuasaan melalui kekerasan dan penindasan.”

    “Namun, ini tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan hukum internasional,” katanya.

    Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang sayap kanan menggambarkan aksi AS di Venezuela sebagai bagian dari “penyelarasan ulang politik global.”

    Eropa membutuhkan AS dalam konflik Ukraina

    Mengapa Merz dan Wadephul tidak mengatakan ini dengan begitu jelas saat ini menjadi bahan spekulasi di kalangan politik Berlin. Merz akan bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pemimpin UE lainnya di KTT Paris. Perwakilan dari Ukraina dan AS juga akan hadir. Seperti yang sering terjadi sebelumnya, fokus akan pada prospek perdamaian di Ukraina, di mana jaminan keamanan Amerika Serikat akan sangat penting.

    Apakah itu sebabnya Jerman tidak ingin ada “bentrokan” dengan Trump soal Venezuela?

    Armin Laschet (CDU), Ketua Komite Urusan Luar Negeri Bundestag, menyatakan bahwa “kebijakan luar negeri itu rumit. Anda harus mempertimbangkan realitas dunia.”

    Ia menambahkan bahwa jika orang Eropa menuntut Trump terkait insiden tersebut, hasilnya kemungkinan besar akan kehilangan pengaruh dalam kebijakan Ukraina.

    Dengan kata lain, pemerintah Jerman tampaknya percaya bahwa saat ini bukan waktunya untuk memanas-manasi hubungan dengan AS soal Venezuela, tetapi fokus pada mencapai hasil terbaik di Ukraina.

    Ambisi AS kuasai Grinlandia jadi ancaman di tubuh NATO

    Sementara itu, ketegangan lain muncul di lingkup NATO dan Arktik setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan agar Grinlandia, yang merupakan wilayah otonom Denmark, berada di bawah kendali Washington.

    Menyusul pernyataan itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, memperingatkan bahwa pengambilalihan Grinlandia oleh AS dapat berarti akhir dari aliansi militer NATO.

    “Segala sesuatunya akan berhenti” jika terjadi serangan AS terhadap negara NATO lain. Para pemimpin Eropa mendukung Frederiksen tetapi menekankan bahwa AS tetap “mitra penting”.

    Pada hari Selasa (06/01), Frederiksen merilis pernyataan bersama dengan pemimpin Jerman, Prancis, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, menegaskan bahwa sekutu Eropa meningkatkan upaya “untuk menjaga keamanan Arktik dan mencegah ancaman.”

    “Situasinya bukan seperti bahwa Amerika Serikat bisa menaklukkan Grinlandia. Itu tidak benar. Oleh karena itu, kita tidak boleh panik. Kita harus memulihkan kerja sama baik yang pernah kita miliki,” kata Nielsen saat berbicara di ibu kota Grinlandia, Nuuk.

    Dalam unggahan media sosial pada hari Senin, ia meminta Trump menghentikan “fantasi” tentang aneksasi Grinlandia.

    “Cukup sekarang. Jangan ada tekanan lagi. Jangan ada sindiran lagi. Tidak ada fantasi aneksasi lagi. Kita terbuka untuk dialog,” katanya.

    “Namun, ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional.”

    Dukungan sekutu dan kepentingan AS di Arktik

    Dalam pernyataan bersama dengan Frederiksen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Meloni, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan dukungan mereka untuk Denmark dan Grinlandia.

    “Keamanan Arktik tetap menjadi prioritas utama bagi Eropa dan sangat penting bagi keamanan internasional dan transatlantik,” bunyi pernyataan bersama tersebut.

    “Kami dan banyak sekutu lainnya telah meningkatkan kehadiran, aktivitas, dan investasi kami untuk menjaga Arktik tetap aman dan mencegah ancaman,” tambahnya.

    Meski ketujuh pemimpin menekankan bahwa Washington “adalah mitra penting dalam upaya ini.”

    Kenapa Trump berambisi rebut Grinlandia?

    Pada hari Minggu, Trump menegaskan kembali pandangannya bahwa Grinlandia harus berada di bawah kendali AS, sehari setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dalam serangan AS dan dibawa ke New York untuk diadili.

    “Kami membutuhkan Grinlandia,” kata Trump kepada wartawan, menekankan bahwa hal ini diperlukan untuk “keamanan nasional” Washington dan mengklaim bahwa pulau itu dikelilingi “oleh kapal-kapal Cina dan Rusia.”

    Trump sebelumnya pernah menawarkan untuk membeli wilayah ini, sambil tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih.

    Grinlandia memiliki cadangan minyak, mineral penting, dan sumber daya lain yang besar. Wilayah ini juga bisa menjadi semakin penting secara ekonomi dalam beberapa dekade mendatang karena pembukaan jalur pelayaran Arktik baru akibat mencairnya es kutub.

    Grinlandia sudah menjadi basis militer AS, dan Kopenhagen menyatakan kesiapan untuk memungkinkan penempatan pasukan tambahan AS.

    Pada hari Senin, penasihat senior Trump, Stephen Miller, menggambarkan Grinlandia sebagai “koloni Denmark,” dan menambahkan, “Tidak ada yang akan berperang secara militer melawan Amerika Serikat mengenai masa depan Grinlandia.”

    Artikel ini diadaptasi dari bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Tezar Aditya

    Editor: Rizki Nugraha

    (ita/ita)

  • Trump Pertimbangkan Opsi Caplok Greenland, Termasuk Pakai Kekuatan Militer AS

    Trump Pertimbangkan Opsi Caplok Greenland, Termasuk Pakai Kekuatan Militer AS

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut serius mempertimbangkan sejumlah ide untuk mengakuisisi Greenland. Salah satunya yakni penggunaan kekuatan militer.

    Dilansir AFP, Rabu (7/1/2026), pertimbangan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pers Karoline Leavitt. Ia awalnya menjelaskan langkah akuisisi Greenland menjadi prioritas untuk keamanan nasional Amerika Serikat.

    “Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa mengakuisisi Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, dan sangat penting untuk mencegah musuh kita di wilayah Arktik,” kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt dalam sebuah pernyataan kepada AFP.

    Ia pun menyebut Trump dan timnya masih terus membahas opsi terbaik untuk mencapai tujuan itu. Menurutnya, salah satu opsi yakni dengan kekuatan militer.

    “Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi,” ucap dia.

    Denmark Wanti-wanti AS

    Perdana Menteri (PM) Denmark Mette Frederiksen mengecam keras wacana pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat (AS). Dia mengingatkan bahwa pengambilalihan Greenland oleh AS berarti berakhirnya aliansi militer NATO.
    Komentarnya muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang kembali menyerukan agar pulau Arktik yang strategis dan kaya mineral itu, berada di bawah kendali AS. Seruan itu disampaikan oleh Trump usai serangan AS ke Venezuela akhir pekan lalu.

    Frederiksen dan PM Greenland, Jens Frederik Nielsen, mengecam komentar Trump tersebut dan memperingatkan akan adanya konsekuensi parah. Banyak pemimpin Eropa menyatakan solidaritas dengan mereka.

    “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir,” kata Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2 pada hari Senin (5/1) waktu setempat. “Artinya, itu termasuk NATO kita dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak akhir Perang Dunia Kedua,” cetus pemimpin Denmark itu, dilansir kantor berita Associated Press, Selasa (6/1).

    Trump telah berulang kali menyerukan yurisdiksi AS atas Greenland selama masa transisi kepresidenannya dan bulan-bulan awal masa jabatan keduanya. Trump bahkan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

    (maa/maa)

  • Pemimpin Greenland Tegaskan Tidak Ada Lagi Fantasi Tentang Aneksasi

    Pemimpin Greenland Tegaskan Tidak Ada Lagi Fantasi Tentang Aneksasi

    JAKARTA – Pemimpin Greenland menegaskan “sudah cukup” dan tidak ada lagi fantasi mengenai aneksasi, sementara sekutu Denmark kembali menegas dukungan bahwa masa depan pulau di Arktik itu harus ditentukan rakyatnya.

    Ini disampaikankan seiring dengan pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penguasaan Greenland.

    “Ancaman, tekanan, dan pembicaraan tentang aneksasi tidak memiliki tempat di antara teman” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen di Facebook, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (5/1).

    “Cukup sudah. Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi,” tegasnya.

    Diberitakan sebelumnya, Amerika Serikat perlu mengendalikan Greenland yang dimiliki Denmark “untuk pertahanan,” kata Presiden Donald Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara.

    “Tetapi kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan,” jelasnya, dikutip dari TASS.

    Itu disampaikan Pemimpin Gedung Putih setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan yang mengejutkan.

    Operasi AS tersebut kembali memicu kekhawatiran di Denmark, Greenland, wilayah otonom Denmark, mungkin menghadapi skenario serupa.

    Ia telah berulang kali mengatakan ingin mengambil alih Greenland, ambisi yang pertama kali diungkapkan pada tahun 2019 selama masa kepresidenan pertamanya.

    Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One pada Senin pagi, Presiden Trump mengatakan ia akan membahas kembali topik tersebut dalam beberapa minggu.

    Diketahui, Presiden Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland pada 21 Desember.

    Letaknya yang strategis di antara Eropa dan Amerika Utara menjadikan Greenland lokasi penting dalam sistem pertahanan rudal balistik AS.

    Sumber daya mineral pulau yang signifikan juga sejalan dengan ambisi Washington untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor Tiongkok.

    Dukungan untuk Denmark dan Greenland datang dengan cepat dari para pemimpin Nordik dan Baltik setelah pernyataan terbaru Presiden Trump.

    Presiden Finlandia Alexander Stubb dalam unggahannya di X menuliskan, “Tidak ada yang berhak memutuskan untuk Greenland dan Denmark selain Greenland dan Denmark sendiri.”

    Prancis juga menyatakan solidaritas, dengan mengatakan Greenland adalah milik rakyat Greenland. Presiden Emmanuel Macron mengatakan Juni lalu selama kunjungan ke ibu kota Greenland, Nuuk, pulau itu terancam oleh “ambisi predator.”

    Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan pada Hari Minggu, komentar AS tentang perlunya mengambil alih Greenland “sama sekali tidak masuk akal.”

  • Ambisi Trump Ambil Alih Greenland

    Ambisi Trump Ambil Alih Greenland

    Jakarta

    Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland tak surut. Keamanan nasional menjadi alasan Trump tetap kukuh menguasai wilayah semi-otonom yang berada di bawah Denmark itu.

    Pernyataan Trump yang ingin mencaplok Greenland sebenarnya sudah disampaikan sejak tahun lalu. Trump, yang saat itu masih menjadi presiden terpilih, mengatakan Greenland sangat penting bagi AS.

    Dilansir CNN, NBC News dan Reuters, Trump mengatakan AS membutuhkan kepemilikan dan kontrol terhadap Greenland demi urusan keamanan.

    “Demi tujuan Keamanan Nasional dan Kebebasan di seluruh Dunia, Amerika Serikat merasa bahwa kepemilikan dan kendali atas Greenland merupakan kebutuhan mutlak,” tulis Trump di Truth Social.

    Trump juga menegaskan kembali keinginannya untuk menguasai Greenland saat wawancara dengan NBC pada Minggu (30/3).

    “Kami akan mendapatkan Greenland. Ya, 100 persen”, kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.

    Ketegangan antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland, semakin meningkat dengan adanya kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke pangkalan militer AS di pulau Arktik yang luas itu. Vance juga dikritik usai mengatakan Denmark ‘tidak melakukan pekerjaan yang baik untuk rakyat Greenland’.

    Perdana Menteri baru Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menanggapi rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland. Nielsen menegaskan Greenland tidak akan pernah menjadi milik Amerika.

    “Presiden Trump mengatakan Amerika Serikat ‘akan mendapatkan Greenland.’ Biar saya tegaskan: Amerika Serikat tidak akan mendapatkan Greenland,” kata Nielsen dilansir AFP, Senin (31/3/2025).

    Hal itu disampaikan Nielsen dalam unggahan di Facebook miliknya pada Minggu (30/3) waktu setempat. Dia menegaskan masa depan Greenland ada di tangan masyarakatnya sendiri.

    “Kami tidak menjadi milik orang lain. Kami memutuskan masa depan kami sendiri,” katanya.

    Trump Ngotot Ingin Kuasai Greenland

    Keinginan Trump untuk mengontrol Greenland karena urusan keamanan nasional tak berubah. Hal ini kembali disampaikannya setelah penunjukan utusan khusus AS untuk Greenland memicu ketegangan baru dengan pemerintah Denmark.

    Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump berulang kali mengatakan bahwa Amerika Serikat “membutuhkan” wilayah otonom yang kaya sumber daya tersebut untuk alasan keamanan. Dia bahkan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menguasainya.

    Pada hari Minggu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland, yang memicu kemarahan dari Denmark, yang kemudian memanggil duta besar AS.

    “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral,” kata Trump dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, AS pada hari Senin (22/12) waktu setempat.

    “Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Selasa (23/12/2025).

    “Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya,” kata presiden, seraya menambahkan bahwa Landry “ingin memimpin serangan.”

    Setelah pengangkatannya, Landry langsung berjanji untuk menjadikan wilayah Denmark tersebut ‘bagian dari AS’.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa Greenland adalah milik rakyat Greenland.

    “Anda tidak dapat mencaplok negara lain,” kata mereka. “Kami mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorial bersama kami.”

    Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan dia sangat marah atas langkah tersebut dan memperingatkan Washington untuk menghormati kedaulatan Denmark.

    Lokke Rasmussen sebelumnya mengatakan kepada televisi TV2, bahwa pengangkatan Landry tersebut “sama sekali tidak dapat diterima”. Duta Besar AS telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Denmark untuk memberikan penjelasan.

    “Kami memanggil duta besar Amerika ke kementerian luar negeri hari ini untuk sebuah pertemuan, bersama dengan perwakilan Greenland, di mana kami dengan sangat jelas menarik garis merah dan juga meminta penjelasan,” kata Lokke Rasmussen dalam sebuah wawancara.

    Halaman 2 dari 2

    (knv/knv)

  • Trump Ngotot Ingin Kuasai Greenland: Demi Keamanan Nasional

    Trump Ngotot Ingin Kuasai Greenland: Demi Keamanan Nasional

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump ngotot untuk menguasai Greenland. Dia mengatakan AS butuh Greenland untuk “keamanan nasional”. Hal ini disampaikannya setelah penunjukan utusan khusus AS untuk Greenland memicu ketegangan baru dengan pemerintah Denmark.

    Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump berulang kali mengatakan bahwa Amerika Serikat “membutuhkan” wilayah otonom yang kaya sumber daya tersebut untuk alasan keamanan. Dia bahkan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menguasainya.

    Pada hari Minggu (21/12) lalu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland, yang memicu kemarahan dari Denmark, yang kemudian memanggil duta besar AS.

    “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral,” kata Trump dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, AS pada hari Senin (22/12) waktu setempat.

    “Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Selasa (23/12/2025).

    “Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya,” kata presiden, seraya menambahkan bahwa Landry “ingin memimpin serangan.”

    Setelah pengangkatannya, Landry langsung berjanji untuk menjadikan wilayah Denmark tersebut “bagian dari AS.”

    Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa Greenland adalah milik rakyat Greenland.

    “Anda tidak dapat mencaplok negara lain,” kata mereka. “Kami mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorial bersama kami.”

    Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan dia “sangat marah” atas langkah tersebut dan memperingatkan Washington untuk menghormati kedaulatan Denmark.

    Lokke Rasmussen sebelumnya mengatakan kepada televisi TV2, bahwa pengangkatan Landry tersebut “sama sekali tidak dapat diterima”. Duta Besar AS telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Denmark untuk memberikan penjelasan.

    “Kami memanggil duta besar Amerika ke kementerian luar negeri hari ini untuk sebuah pertemuan, bersama dengan perwakilan Greenland, di mana kami dengan sangat jelas menarik garis merah dan juga meminta penjelasan,” kata Lokke Rasmussen dalam sebuah wawancara.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Drone Misterius Teror Langit Eropa, Bandara Jerman Lumpuh

    Drone Misterius Teror Langit Eropa, Bandara Jerman Lumpuh

    Jakarta, CNBC Indonesia – Bandara Munich terpaksa menunda penerbangan selama dua hari berturut-turut karena penampakan pesawat tak berawak (drone). Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 6.500 penumpang telantar.

    Drone tak dikenal melintasi bandara di Denmark, Norwegia dan Polandia baru-baru ini dan menjadi yang kedua kalinya pada hari Jumat pukul 21.30 waktu setempat.

    Akibat peristiwa tersebut sebanyak 23 penerbangan yang masuk dialihkan dan 12 penerbangan menuju Munich dibatalkan. Sementara ada sekitar 46 keberangkatan dari bandara tersebut yang harus dibatalkan atau ditunda.

    Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada AFP bahwa ada dua penampakan drone yang dikonfirmasi secara simultan oleh patroli polisi sebelum pukul 23.00 di sekitar landasan pacu utara dan selatan.

    “Drone-drone itu segera menjauh, sebelum dapat diidentifikasi,” mengutip The Guardian, Sabtu (4/10/2025).

    Pihak bandara mengatakan telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk segera menyediakan fasilitas untuk para penumpang di terminal seperti tempat tidur kemah serta dengan selimut, minuman, dan makanan ringan.

    Pihak bandara memperkirakan layanan akan dilanjutkan seperti biasa pada Sabtu pagi waktu setempat.

    Sebelumnya, gangguan penerbangan telah terjadi pada hari Kamis yang menyebabkan lebih dari 30 penerbangan dibatalkan. Hal itu menyebabkan hampir sebanyak 3.000 penumpang terlantar.

    Insiden pertama dimulai pada pukul 20.30 waktu setempat pada hari Kamis ketika polisi mengatakan bahwa pesawat tak berawak terlihat di daerah yang dengan bandara, termasuk kota Freising dan Erding.

    Seperti diketahui, Erding memang menjadi tuan rumah bagi lapangan terbang yang digunakan oleh militer Jerman. Surat kabar Bild mengatakan beberapa drone terlihat terbang di atas fasilitas tersebut, meskipun polisi tidak dapat mengonfirmasi hal ini.

    Drone pertama di dekat perimeter bandara terlihat sekitar pukul 21.05 pada hari Kamis, dan kemudian di atas kompleks bandara sekitar satu jam kemudian.

    Penampakan tersebut berakhir sekitar tengah malam, namun tidak sampai menyebabkan penutupan kedua landasan pacu.

    Helikopter kepolisian pun telah dikerahkan, namun tidak ada informasi yang jelas mengenai jenis dan jumlah drone tersebut.

    Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, mengatakan bahwa insiden pada malam pertama merupakan peringatan atas ancaman dari drone.

    Kejadian itu terjadi ketika negara tersebut sedang merayakan hari Persatuan Jerman pada hari Jumat yang menjadi hari libur nasional bersamaan ketika Munich bersiap-siap untuk akhir pekan terakhir Oktoberfest, yang menarik ratusan ribu orang ke kota itu setiap hari.

    Pesta bir dan pasar malam tahunan ini telah ditutup selama setengah hari pada hari Rabu setelah adanya ancaman bom.

    Pemerintah Jerman diperkirakan akan menandatangani rencana perubahan undang-undang yang memungkinkan tentara dapat menembak pesawat tak berawak jika diperlukan.

    Perdana Menteri negara bagian Bavaria, Markus Söder, mengatakan kepada Bild bahwa “kita harus dapat menembak [drone] dengan segera daripada menunggu, dan mengatakan bahwa polisi juga harus memiliki wewenang untuk melakukannya,” sebutnya.

    Penampakan drone di Denmark dan serangan udara di Estonia dan Polandia telah meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan Rusia terhadap Ukraina dapat meluas ke perbatasan Eropa.

    Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memperingatkan Eropa pada hari Kamis bahwa serangan pesawat tak berawak baru-baru ini menunjukkan bahwa Moskow ingin meningkatkan agresinya.

    Jerman dalam keadaan siaga tinggi mengatakan bahwa segerombolan drone telah terbang di atas negara itu sejak minggu lalu, termasuk di atas lokasi militer dan industri.

    Denmark juga meningkatkan kewaspadaan, dengan perdana menteri, Mette Frederiksen, dan menegaskan kembali pada minggu lalu bahwa hanya satu negara yang menimbulkan ancaman bagi keamanan Eropa, yaitu Rusia.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Eropa Siapkan Teknologi ‘Tembok Sakti’ Penangkal Drone Rusia

    Eropa Siapkan Teknologi ‘Tembok Sakti’ Penangkal Drone Rusia

    Jakarta

    Uni Eropa resmi meluncurkan inisiatif untuk membangun tembok drone di sepanjang sisi timur blok tersebut, di tengah pelanggaran wilayah udara yang mengkhawatirkan oleh Rusia.

    Pertemuan perdana proyek tersebut mempertemukan sepuluh negara anggota, yaitu Bulgaria, Denmark, Estonia, Hongaria, Latvia, Lituania, Polandia, Rumania, Slowakia, dan Finlandia. Komisi Eropa memimpin perundingan.

    Ukraina juga diundang. Mereka mengembangkan teknologi di sektor ini dan diperkirakan bisa memproduksi empat juta drone tiap tahun. “Rusia sedang menguji Uni Eropa dan NATO dan respons kita harus tegas, bersatu, dan segera. Pertemuan hari ini, kita sepakat beralih dari, katakanlah, diskusi ke tindakan nyata,” ujar Andrius Kubilius, Komisaris Eropa untuk Pertahanan.

    Kubilius menegaskan tembok drone punya dua tujuan yaitu deteksi dan intervensi, dengan prioritas utama diberikan pada tujuan pertama. “Tentu kita perlu mencari cara efektif untuk menghancurkannya,” ujarnya, dikutip detikINET dari Euro News.

    Belum jelas berapa lama proyek ini akan terealisasi. Kubilius memperkirakan waktu setahun berdasarkan analisis ahli, meskipun ia mengingatkan tidak yakin dengan perkiraan tersebut.

    Inisiatif ini menyusul serangkaian pelanggaran wilayah udara yang membuat Eropa siaga. Insiden pertama terjadi di Polandia dua minggu lalu, ketika 19 drone Rusia terbang d wilayahnya. Kemudian terjadi juga di Rumania dengan satu drone Rusia dan di Estonia ada tiga jet tempur MiG-31 Rusia.

    Lalu, drone besar terlihat di Bandara Kopenhagen, menyebabkan penghentian total operasi selama hampir empat jam. Aktivitas drone juga memaksa penghentian operasional di Bandara Aalborg. Media Swedia kemudian melaporkan penampakan misterius serupa di wilayah selatan Karlskrona.

    Sejauh ini, Denmark belum mengidentifikasi pelakunya. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan dia tidak dapat mengesampingkan keterlibatan Rusia, tapi pihak berwenang belum menemukan buktinya.

    Teknologi Tembol Drone

    Inti dari proyek tembok drone ini adalah sistem pertahanan drone berlapis-lapis yang disebut Eirshield, platform anti drone yang dikembangkan melalui kemitraan bersama antara DefSecIntel dan perusahaan Latvia, Origin Robotics.

    Sistem ini menggunakan radar, kamera, detektor frekuensi radio, arah drone, dan tingkat ancamannya untuk menentukan apakah drone musuh harus diganggu atau diblokir sinyalnya, atau apakah harus diserang dengan drone lain.

    Agris Kipurs, salah satu pendiri dan CEO Origin Robots, mengatakan sistem ini sepenuhnya otomatis, yang memungkinkan serangan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Mulai dari deteksi drone hingga intersepsi dilakukan secara otomatis.

    Eirshield dirancang untuk bekerja pada target tanpa awak yang terbang cepat yang membawa hulu ledak yang dapat terbang hingga 200 kilometer per jam. Sistem ini juga akan memiliki beberapa komponen yang portabel.

    Sistem ini dapat dilengkapi dengan beberapa jenis drone, termasuk beberapa yang telah dikembangkan oleh DefSecIntel. Biaya per penggunaan sistem Eirshield mencapai puluhan ribu” euro, dibandingkan dengan beberapa juta oleh sistem serangan udara konvensional yang lebih tua.

    “Sistem yang ada saat ini dirancang untuk ancaman yang jauh lebih mahal seperti rudal penangkal dan pesawat berawak. Sistem ini tidak dirancang untuk mencegat drone, ancaman itu sangat baru, jadi kami baru saja merancangnya,” sebut Kipurs.

    Tamm mengatakan sistem ini telah dikerahkan di Ukraina dan dilengkapi sistem senjata pihak ketiga yang memungkinkan pasukan Ukraina menyerang drone yang terbang rendah seperti drone Shahed.

    Halaman 2 dari 2

    (fyk/fyk)

  • Terjadi Lagi! Drone Misterius Muncul di Pangkalan Militer Terbesar Denmark

    Terjadi Lagi! Drone Misterius Muncul di Pangkalan Militer Terbesar Denmark

    Kopenhagen

    Sejumlah drone tak teridentifikasi kembali terpantau di malam hari di wilayah Denmark, dengan kali ini terjadi di area pangkalan militer terbesar di negara tersebut. Ini menjadi insiden terbaru dari serangkaian penampakan drone misterius di Denmark beberapa waktu terakhir.

    Perdana Menteri (PM) Mette Frederiksen menyebut penampakan drone tak teridentifikasi, yang sebelumnya terjadi di sejumlah bandara Denmark itu, sebagai “serangan hybrid”. Namun intelijen Kopenhagen sejauh ini belum berhasil mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab di balik penampakan drone tersebut.

    Penampakan drone-drone misterius itu mendorong penutupan beberapa bandara di Denmark sejak Senin (22/9) waktu setempat, ketika drone pertama muncul.

    Kemunculan drone terbaru, seperti dilansir AFP, Sabtu (27/9/2025), terjadi di pangkalan militer Karup di Denmark pada Jumat (26/9) malam.

    “Saya dapat mengonfirmasi bahwa kami mengalami insiden sekitar pukul 20.15 waktu setempat, yang berlangsung selama beberapa jam. Satu hingga dua drone terpantau di luar dan di atas pangkalan udara,” kata petugas jaga pada pangkalan militer tersebut, Simon Skelsjaer, kepada AFP.

    Dia mengatakan bahwa pihak kepolisian tidak bisa menjelaskan dari mana drone itu berasal.

    “Kami tidak menembak jatuh drone itu,” imbuh Skelsjaer dalam pernyataannya.

    Ditambahkan Skelsjaer bahwa pihak kepolisian bekerja sama dengan pihak militer dalam penyelidikan insiden tersebut.

    Pangkalan militer Karup, sebut Skelsjaer, berbagi landasan pacu dengan bandara sipil Midtjylland, yang sempat ditutup sementara. Namun demikian, menurut Skelsjaer, tidak ada penerbangan yang terdampak karena tidak ada penerbangan komersial yang dijadwalkan pada jam tersebut.

    Frederiksen, dalam pernyataan pada Kamis (26/9), mengatakan bahwa “selama beberapa hari terakhir, Denmark telah menjadi korban serangan hybrid” — merujuk pada perang non-konvensional. Dia memperingatkan bahwa penerbangan drone tersebut “dapat berlipat ganda”.

    Para penyelidik Denmark sejauh ini belum berhasil mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab di balik penampakan drone tersebut.

    Namun Frederiksen menekankan: “Ada satu negara utama yang menjadi ancaman bagi keamanan Eropa, yaitu Rusia.”

    Rusia, dalam pernyataan pada Kamis (25/9), menyatakan mereka “menolak secara tegas” segala dugaan keterlibatan mereka dalam insiden-insiden drone di Denmark. Kedutaan Besar Rusia di Kopenhagen menyebutnya sebagai “provokasi”.

    Tonton juga Video: Wujud Drone yang Ditembak Jatuh di Wilayah Polandia

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)