Tag: Megawati Soekarnoputri

  • PDIP Tentukan Sikap soal Pilkada Dipilih DPRD Usai Rakernas

    PDIP Tentukan Sikap soal Pilkada Dipilih DPRD Usai Rakernas

    Jakarta

    PDIP berbicara soal wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) dipilih langsung oleh DPRD. PDIP akan menentukan sikap mengenai wacana tersebut setelah rangkaian rakernas ke-1 tahun 2026 dilaksanakan.

    “Sikap politiknya, karena nanti kami akan mendengarkan seluruh usulan-usulan dari DPD, akan dibacakan pada saat penutupan Rakernas. Sikapnya bagaimana, alasan filosofis, ideologis, dan juga dari manajemen penyelenggaraan pemilu, itu semua akan menjadi bagian dari rekomendasi Rakernas. Jadi belum diputuskan,” tutur Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada wartawan saat sela-sela rakernas partai di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

    Hasto mengatakan, PDIP sebagai partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi memilih untuk lebih dulu menunggu pandangan dari seluruh perwakilan kader di daerah.

    “Karena kita kan Partai Demokrasi Indonesia, jadi seluruh pencermatan, masukan dari seluruh peserta rakernas itu akan menjadi bahan pengambilan keputusan dalam rekomendasi rakernas,” tutur Hasto.

    Hasto sekaligus menyampaikan bahwa dalam rakernas hari ini, ditayangkan juga perjuangan dan rekam jejak serta biografi politik Presiden pertama RI Soekarno serta Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang memegang teguh prinsip kedaulatan rakyat.

    “Itulah tadi Ibu mengatakan bagaimana prinsip-prinsip kedaulatan rakyat sebagai spirit dari reformasi itu harus betul-betul kita jaga. Dan, dengan rakyat yang berdaulat, dengan pemimpin dipilih secara langsung, ini tidak hanya memperkuat legitimasi pemimpin, tapi juga tanggung jawab pemimpin untuk menghasilkan program-program sesuai dengan aspirasi rakyat yang digali pada saat kampanye,” pungkasnya.

    (kuf/azh)

  • Megawati Ungkap Bencana di Sumatera Bikin Generasi Muda Cemas

    Megawati Ungkap Bencana di Sumatera Bikin Generasi Muda Cemas

    Jakarta

    Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera membuat masyarakat menjadi korban. Megawati mengatakan bencana di Sumatera ini telah membuat generasi muda cemas.

    “Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini,” tutur Megawati saat memberi sambutan dalam HUT ke-53 dan Rakernas PDIP di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

    Megawati menyampaikan pidato HUT ke-53 PDIP dan Rakernas PDIP di Ancol secara tertutup. Teks pidato Megawati dibagikan kepada wartawan dan diizinkan dikutip oleh juru bicara PDIP, Guntur Romli.

    Di sisi lain, Megawati mengatakan bencana ini tak hanya sebagai peristiwa alam semata, namun juga sebagai peringatan. Menurutnya, bencana yang terjadi telah menimbulkan kerugian besar terutama bagi masyarakat terdampak.

    “Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah. Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik,” kata Megawati.

    Megawati juga menyebut, bencana ini turut ditimbulkan dari aturan yang dibuat. Dia menilai, kebijakan yang ada saat ini dianggapnya memberikan karpet merah bagi penghancur alam.

    “Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem,” ungkap Megawati.

    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” ujar Megawati.

    Presiden ke-5 RI ini juga menegaskan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera bukanlah sekedar kehendak alam. Dia meyakini adanya ulah tangan manusia.

    “Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” ungkap Megawati.

    “Akibatnya jelas dan nyata. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur. Ia menghantam hilir, menyapu pemukiman, lahan pertanian, dan kehidupan rakyat kecil yang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” imbuh dia.

    (kuf/lir)

  • Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda

    Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda

    Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyebut pihak yang paling cemas terhadap krisis iklim dan kerusakan lingkungan adalah generasi muda.
    Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    Mulanya, Megawati menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, bumi mengalami suhu terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun terakhir.
    “Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan,” kata Megawati, Sabtu.
    Megawati melanjutkan, dampak dari
    perubahan iklim
    itu antara lain,
    bencana hidrometeorologi
    seperti badai, banjir, kekeringan sampai kebakaran hutan.
    Bencana itu terjadi secara beruntun di berbagai belahan dunia tanpa mengenal batas negara dan kelas sosial.
    “Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,” ungkap Megawati.
    Menurut Megawati, kondisi tersebut menimbulkan kecemasan mendalam, terutama di kalangan generasi muda yang harus menghadapi masa depan dalam ketidakpastian.
    Ia menambahkan, berbagai temuan ilmiah menunjukkan umat manusia tengah mendekati titik-titik kritis yang sulit dipulihkan, seperti meningkatnya suhu laut, mencairnya es di kutub ke titik terendah, serta merosotnya keanekaragaman hayati secara tajam.
    “Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia,” imbuhnya.
    Megawati juga menyinggung bencana ekologis dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia akibat hujan ekstrem pada 23 November 2025.
    Bencana tersebut melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menewaskan ribuan orang, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
    Ia menegaskan, bencana tersebut bukan semata-mata peristiwa alam, melainkan akibat dari ulah manusia yang gagal memperlakukan alam secara adil dan berkelanjutan.
    “Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Presiden ke-5 RI ini.
    Megawati menilai kerusakan lingkungan juga dilembagakan melalui kebijakan dan regulasi yang memberi ruang besar bagi konsesi skala besar, sehingga mendorong deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem.
    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” terang Megawati.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Megawati: Undang-undang Beri Karpet Merah Deforestasi

    Megawati: Undang-undang Beri Karpet Merah Deforestasi

    Megawati: Undang-undang Beri Karpet Merah Deforestasi
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyoroti peran kebijakan dan undang-undang yang dinilainya memberi “karpet merah” bagi eksploitasi alam, sehingga memicu bencana ekologis dan kemanusiaan di berbagai wilayah Indonesia.
    Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I
    PDI-P
    di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    “Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi
    deforestasi
    , perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem,” kata Megawati, Sabtu.
    Megawati menegaskan, bencana alam yang terjadi, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tidak bisa semata-mata dianggap sebagai peristiwa alam.
    Menurut dia, kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung ekologi.
    “Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan,” ujarnya.
    Presiden ke-5 RI itu menyebut, atas nama pembangunan, hutan alam dan wilayah adat dirampas lalu digantikan oleh tanaman monokultur yang miskin daya dukung ekologis.
    Akibatnya, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan kehilangan fungsinya.
    “Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur,” tutur Megawati.
    Megawati menambahkan, bencana hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025 telah melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Sumatera.
    Ribuan orang meninggal, ratusan dinyatakan hilang, dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.
    Menurut Megawati, kondisi tersebut menjadi peringatan keras tentang krisis peradaban ekologis yang sedang dihadapi umat manusia.
    Ia menilai manusia telah menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.
    Dalam pidatonya, Megawati juga menyinggung krisis iklim global.
    Ia menyebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, suhu bumi kini lebih panas dibandingkan 100.000 tahun terakhir.
    Bahkan, ambang batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius telah terlampaui.
    “Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,” ungkapnya.
    “Memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri, sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan,” sambung dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Megawati Kecam Intervensi Militer AS ke Venezuela: Ini Neokolonialisme

    Megawati Kecam Intervensi Militer AS ke Venezuela: Ini Neokolonialisme

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum PDI-Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengecam tindakan intervensi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela.

    Megawati menilai intervensi militer serta penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores merupakan bentuk neokolonialisme.

    “Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern,” ujar Megawati dalam rakernas PDIP di Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

    Megawati menambahkan, tindakan Amerika itu telah mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan prinsip dasar hubungan antarbangsa.

    Oleh sebab itu, kata Megawati, Indonesia harus menentang paham yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain. Terlebih, imperialisme secara historis selalu ditentang oleh ayahnya selaku Presiden ke-1 RI Soekarno.

    “Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya,” tuturnya.

    Lebih jauh, Megawati menyerukan agar setiap penyelesaian konflik internasional harus bisa diselesaikan dengan dialog, diplomasi hingga hukum internasional.

    “Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” pungkasnya.

  • Megawati Perintahkan Kader PDIP Bantu Pulihkan Bencana di Sumatra

    Megawati Perintahkan Kader PDIP Bantu Pulihkan Bencana di Sumatra

    Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menginstruksikan agar seluruh kader partai bisa bergotong royong menolong korban bencana alam di Sumatra.

    Hal itu disampaikan Megawati saat membuka pidatonya dalam rangka HUT ke-53 dan Rakernas I 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). 

    Mengawali pidatonya, Presiden ke-5 RI itu berbelasungkawa terhadap bencana banjir dan longsor di tiga wilayah mulai dari Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

    “Doa dan solidaritas kita panjatkan bagi para korban, serta kekuatan dan ketabahan bagi seluruh keluarga yang terdampak,” kata Megawati.

    Selanjutnya, Megawati mengatakan bahwa pemulihan bencana tersebut tak bisa dilakukan secara singkat. Bahkan, dia menilai pemulihan bencana itu bisa lebih dari satu tahun.

    Oleh sebab itu, Megawati meminta seluruh kader PDIP agar terlibat dalam masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra.

    “Membangun kembali satu tahun tidak bisa. Apakah bisa diam saja. Mereka itu saudara-saudara kita. Jangan ragu menolong sesama. Buktikan kalian orang PDIP. Mau? Buktikan,” tutur Megawati.

    Jika diperlukan, kata Megawati, kadernya bisa melihat secara langsung ke wilayah terdampak untuk memberikan bantuan kemanusiaan di daerah bencana. 

    “Pergi ke sana lihat keadaan di sana kalau merasa sebangsa dan setanah air untuk bergotong royong,” pungkasnya. 

  • PDIP Luncurkan Maskot Baru “Barata” di Rakernas ke-1 2026

    PDIP Luncurkan Maskot Baru “Barata” di Rakernas ke-1 2026

    Bisnis.com, JAKARTA — PDI-Perjuangan (PDIP) telah meluncurkan maskot terbaru partai berbentuk banteng dengan nama Barata.

    Maskot baru itu diperkenalkan saat rapat kerja nasional sekaligus puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDIP di Beach City International Stadium, Ancol, Sabtu (10/1/2026).

    Adapun, Barata sempat diperkenalkan ke publik tanpa nama. Kemudian, PDIP membuka sayembara nasional untuk pemberian nama terhadap maskot teranyar ini. Singkatnya, Barata terpilih menjadi nama maskot PDIP.

    Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Prananda Prabowo, menyatakan Barata bukan sekadar identitas visual, melainkan sebuah komitmen ideologis yang telah melalui proses kurasi panjang.

    “Banteng Barata melambangkan kekuatan rakyat yang berakar pada persatuan, bergerak dengan kesadaran, dan bertindak demi keadilan serta kedaulatan bangsa,” kata Prananda.

    Adapun, Barata terlihat dengan mengenakan jaket hoodie berwarna merah dan diberi logo PDIP. Berita juga nampak celana hitam dan sepatu putih bergaris merah.

    Sekadar informasi, rakernas hari ini telah dihadiri oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Megawati nampak ditemani anaknya, Prananda Prabowo.

    Kemudian, nama beken dari partai berlogo banteng itu terlihat dalam acara ini seperti Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Hasto Kristiyanto hingga Andika Perkasa.

    Selain itu, terlihat juga Pengamat Politik sekaligus akademisi Rocky Gerung dan influencer DJ Donny dalam rakernas kali ini.

  • Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029

    Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029

    Ganjar Ungkap Strategi Politik PDI-P Hadapi Pemilu 2029
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo mengungkapkan strategi politik partainya untuk menghadapi pemilihan umum (Pemilu) 2029.
    Salah satu strategi partai adalah menyatu dan hadir setiap hari ketika masyarakat butuh pertolongan.
    Hal ini disampaikan Ganjar sesaat sebelum mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I
    PDI-P
    di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    “Contoh, kalau kita berkomunikasi, berkampanye berbuih-buih tidak akan bisa dipercaya lagi oleh masyarakat, kecuali kamu hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongannya,” kata Ganjar saat ditemui, Sabtu.
    Ganjar mencontohkan persoalan yang menurut masyarakat, butuh bantuan segera. Misalnya, bencana hingga isu perempuan dan anak.
    Ia memandang hal-hal ini perlu direspons dengan segera, termasuk oleh partai politik.
    “Apakah itu kemarin bencana, atau barangkali problem sosial, problem pendidikan, kesehatan, isu perempuan, anak, penyandang disabilitas, itu yang mesti direspons,” jelasnya.
    Lebih lanjut, eks Gubernur Jawa Tengah ini menyinggung tentang pengambilan kebijakan, semisal masalah masyarakat adat.
    Menurutnya, persoalan masyarakat adat pun tak boleh lepas dari pengambilan kebijakan pemerintah.
    “Ketika satu komunitas yang ada di masyarakat seperti masyarakat adat umpamanya, mereka punya problem, ya ayo mereka kita bantu. Ya ayo berjuang, gitu,” contoh Ganjar.
    “Dan berjuang itu ada political interplay, ada negosiasi, ada konsepsi, dan itu saya kira kampanye dalam arti sebenarnya dari waktu ke waktu. Bukan menunggu nanti dan kita hanya akan datang pada saat dibutuhkan atau membutuhkan suara saja,” sambungnya.
    Menutup pernyataannya, Ganjar mencontohkan apa yang tengah dilakukan PDI-P saat ini, terkhusus menanggapi bencana Sumatera.
    Ia mengatakan, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengintruksikan seluruh kader merespons bencana Sumatera dengan segera.
    Karena itu, beberapa tokoh senior PDI-P bahkan masih berada di lokasi bencana hingga kini.
    “Jadi kemarin kawan-kawan diminta oleh Bu Mega umpamanya, ‘Respons segera bencana, semua siaga’. Ini beberapa teman belum pulang ini di Rakernas ini. Rasanya Mbak Yayuk, Mbak Risma masih ada di lokasi, Mbak Ning. Enggak tahu ini Mbak Risma sudah pulang belum ini,” jelasnya.
    “Ini mereka melaksanakan tugas dulu untuk bisa menyelesaikan persoalan itu. Itu taktik strategi yang menurut saya paling relevan dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkas dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pergi dan Lihat Keadaan di Sana

    Pergi dan Lihat Keadaan di Sana

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengucapkan belasungkawa atas bencana banjir dan longsor yang terjadi di tiga provinsi Sumatera. Dia memerintahkan seluruh kadernya untuk bergotong royong menolong korban terdampak bencana di Sumatera.

    Hal itu disampaikan Megawati saat membuka pidatonya dalam rangka HUT ke-53 dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). Rakernas ini digelar secara tertutup dari awak media.

    “Sebelum saya menyampaikan pidato politik ini, izinkan saya, atas nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana hidrometeorologi yang menimpa saudara-saudara kita di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Doa dan solidaritas kita panjatkan bagi para korban, serta kekuatan dan ketabahan bagi seluruh keluarga yang terdampak,” kata Megawati dikutip dari siaran pers, Sabtu.

    Dia menyebut pemulihan bencana setidaknya membutuhkan waktu lebih dari setahun. Oleh karena itu, Megawati meminta kader PDIP untuk ikut bergotong royong membantu masyarakat yang menjadi korban bencana.

    “Membangun kembali satu tahun tidak bisa. Apakah bisa diam saja. Mereka itu saudara-saudara kita. Jangan ragu menolong sesama. Buktikan kalian orang PDIP. Mau? Buktikan,” jelas Megawati sambil berteriak.

    Megawati meminta agar kader PDIP intens turun untuk membantu korban bencana. Terlebih, Megawati melalui Badan Penanggulangan Bencana telah terjun langsung dan memberikan bantuan kemanusiaan di daerah bencana.

    “Pergi ke sana lihat keadaan di sana kalau merasa sebangsa dan setanah air untuk bergotong royong,” tutur dia.

  • PDIP Gelar Rakernas di Ancol 10-12 Januari, Ini Sederet Isu yang Dibahas

    PDIP Gelar Rakernas di Ancol 10-12 Januari, Ini Sederet Isu yang Dibahas

    Bisnis.com, JAKARTA — PDI Perjuangan (PDIP) menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) selama tiga hari mulai dari hari ini 10 Januari hingga 12 Januari 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara.

    Agenda utama rakernas ini akan membahas langkah strategis partai sebagai penyeimbang pemerintahan serta penguatan konsolidasi organisasi menyongsong agenda politik ke depan. Di samping itu, agenda ini juga tertutup.

    Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo menyampaikan sejumlah isu yang disorot dalam rakernas ini yaitu berkaitan dengan nilai-nilai demokrasi di Tanah Air.

    “Kalau hari ini banyak orang mengeluhkan, kita dengarkan suara masyarakat, mereka mengeluhkan kok saya tidak merasa bebas lagi berbicara, media tidak bisa lagi bebas berbicara, rasanya itu perlu kita perjuangkan,” ujar Ganjar di sela Rakernas, Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

    Dia menambahkan, rakernas ini bakal membahas geopolitik RI saat menyikapi isu internasional yang sedang ramai diperbincangkan hingga isu lingkungan seperti bencana yang terjadi di Sumatra.

    Kemudian, isu politis terkini seperti pemilihan kepala daerah melalui DPRD juga bakal dibahas dalam rakernas kali ini.

    “Lalu tentu saja isu yang menarik di kawan-kawan media kemarin soal apakah pilkadanya dipilih di di DPRD maksud saya atau kemudian dipilih langsung oleh masyarakat dan ini nanti akan ada pembicaraan,” pungkasnya.

    Sekadar informasi, rakernas hari ini telah dihadiri oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Megawati nampak ditemani anaknya, Prananda Prabowo.

    Selain itu, nama beken dari partai berlogo banteng itu juga dihadiri oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Hasto Kristiyanto, Andika Perkasa, dan lain sebagainya.

    Adapun, terlihat juga Pengamat Politik sekaligus akademisi Rocky Gerung dan influencer DJ Donny dalam rakernas kali ini.