Tag: Masayoshi Son

  • Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

    Softbank Akuisisi DigitalBridge, Akankah Berdampak ke Centratama (CENT)?

    Bisnis.com, JAKARTA — SoftBank Group Corp. mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi DigitalBridge Group, Inc., manajer aset alternatif global yang fokus pada infrastruktur digital dengan nilai perusahaan mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp67,1 triliun. Adapun DigitalBridge Group diketahui memiliki jejaring hingga ke Indonesia.

    DigitalBridge memiliki hubungan kepemilikan strategis dengan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (Centratama atau CENT), perusahaan menara telekomunikasi asal Indonesia, melalui platform EdgePoint Infrastructure.

    DigitalBridge mendirikan EdgePoint Infrastructure pada 2020-2021 untuk ekspansi menara telekomunikasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. EdgePoint kemudian mengakuisisi saham mayoritas Centratama, mencapai 76,8% pada Juli 2021 melalui EP ID Holdings Pte Ltd setelah membeli 33% dari Northstar Group. Adapun saat ini kepemilikan EdgePoint di Centratama mencapai 92,17%. 

    Adapun Centratama sendiri mengelola lebih dari 11.000 situs infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, seperti menara seluler dan DAS. Centratama aktif mendukung operator besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART dalam memberikan layanan internet serta mengakselerasi transformasi digital nasional.

    Saat ini Centratama tengah berjuang dalam menekan rugi yang terus meningkat. Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, rugi bersih tahun berjalan Centratama melompat dari Rp782 miliar menjadi Rp1,47 triliun pada kuartal III/2025. Angka tersebut naik 88,23% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Pendapatan CENT hanya naik tipis 2,73% year on year/YoY menjadi Rp1,88 triliun.

    Adapun bisnis sewa menara menjadi kontributor utama pendapatan CENT dengan total menacapai Rp1,63 triliun atau sekitar 87% dari total pendapatan. Sisanya berasal dari sewa infrastruktur (IBC), serat optik, jasa internet dan lain sebagainya.

    Sementara itu beban pokok meningkat 29% menjadi Rp1,25 triliun pada kuartal III/2025, yang didominasi oleh beban utang jangka panjang. Penyusutan aset menara dan tetap membuat kondisi makin berat.

    Sebelumnya, dilansir dari laman resmi Softbank, Selasa (30/12/2025), akuisisi Softbank atas DigitalBridge dilakukan untuk memperkuat misi mewujudkan Artificial Super Intelligence (ASI) demi kemajuan umat manusia.

    Akuisisi ini akan memperluas kapasitas pusat data dan konektivitas SoftBank guna mendukung pelatihan, penerapan, dan layanan AI skala global.

    Chairman dan CEO SoftBank Group Corp Masayoshi Son mengatakan seiring transformasi AI di berbagai industri dunia, perusahaan membutuhkan lebih banyak daya komputasi, konektivitas, listrik, dan infrastruktur yang skalabel.

    “DigitalBridge adalah pemimpin di infrastruktur digital, dan akuisisi ini akan memperkuat fondasi pusat data AI generasi berikutnya, memajukan visi kami menjadi penyedia platform ASI terkemuka, serta membuka terobosan yang mendorong kemajuan umat manusia,” kata Son kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, CEO DigitalBridge Marc Ganzi mengatakan pembangunan infrastruktur AI merupakan peluang investasi terbesar saat ini. SoftBank memiliki DNA serupa sebagai pembangun dan investor jangka panjang yang berkomitmen pada infrastruktur digital transformatif.

    “Visi, kekuatan modal, dan jaringan global mereka akan memungkinkan kami mempercepat misi dengan fleksibilitas lebih besar,” kata Marc.

    Berdasarkan kesepakatan, SoftBank akan mengakuisisi seluruh saham umum DigitalBridge secara tidak langsung seharga $16 per saham tunai.

    Transaksi ini direkomendasikan secara bulat oleh komite khusus dewan direksi DigitalBridge yang terdiri dari direktur independen, dengan premi 15% dari harga penutupan saham pada 26 Desember 2025, dan 50% dari rata-rata harga 52 minggu sebelumnya per 4 Desember 2025.

    Setelah penutupan, DigitalBridge akan tetap beroperasi sebagai platform terpisah di bawah pimpinan Marc Ganzi. Transaksi tunduk pada persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada paruh kedua 2026.

    Langkah ini memperkuat posisi SoftBank di sektor infrastruktur digital global, sejalan dengan lonjakan permintaan AI dari perusahaan teknologi besar.

  • SoftBank Group Akuisisi DigitalBridge Rp67,1 Triliun untuk Perluas Infrastruktur AI

    SoftBank Group Akuisisi DigitalBridge Rp67,1 Triliun untuk Perluas Infrastruktur AI

    Bisnis.com, JAKARTA — SoftBank Group Corp. mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi DigitalBridge Group, Inc., manajer aset alternatif global yang fokus pada infrastruktur digital seperti data center, menara seluler, jaringan serat optik, dan infrastruktur edge, dengan nilai perusahaan mencapai sekitar $4 miliar atau sekitar Rp67,1 triliun.

    Dilansir dari laman resmi Softbank, Selasa (30/12/2025), langkah ini diambil untuk memperkuat misi mewujudkan Artificial Super Intelligence (ASI) demi kemajuan umat manusia.

    Akuisisi ini akan memperluas kapasitas pusat data dan konektivitas SoftBank guna mendukung pelatihan, penerapan, dan layanan AI skala global.

    Chairman dan CEO SoftBank Group Corp Masayoshi Son mengatakan seiring transformasi AI di berbagai industri dunia, perusahaan membutuhkan lebih banyak daya komputasi, konektivitas, listrik, dan infrastruktur yang skalabel.

    “DigitalBridge adalah pemimpin di infrastruktur digital, dan akuisisi ini akan memperkuat fondasi pusat data AI generasi berikutnya, memajukan visi kami menjadi penyedia platform ASI terkemuka, serta membuka terobosan yang mendorong kemajuan umat manusia,” kata Son kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

    Sementara itu, CEO DigitalBridge Marc Ganzi mengatakan pembangunan infrastruktur AI merupakan peluang investasi terbesar saat ini. SoftBank memiliki DNA serupa sebagai pembangun dan investor jangka panjang yang berkomitmen pada infrastruktur digital transformatif.

    “Visi, kekuatan modal, dan jaringan global mereka akan memungkinkan kami mempercepat misi dengan fleksibilitas lebih besar,” kata Marc.

    Berdasarkan kesepakatan, SoftBank akan mengakuisisi seluruh saham umum DigitalBridge secara tidak langsung seharga $16 per saham tunai.

    Transaksi ini direkomendasikan secara bulat oleh komite khusus dewan direksi DigitalBridge yang terdiri dari direktur independen, dengan premi 15% dari harga penutupan saham pada 26 Desember 2025, dan 50% dari rata-rata harga 52 minggu sebelumnya per 4 Desember 2025.

    Setelah penutupan, DigitalBridge akan tetap beroperasi sebagai platform terpisah di bawah pimpinan Marc Ganzi. Transaksi tunduk pada persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada paruh kedua 2026.

    Langkah ini memperkuat posisi SoftBank di sektor infrastruktur digital global, sejalan dengan lonjakan permintaan AI dari perusahaan teknologi besar.

  • ByteDance Siapkan Miliaran Dolar AS untuk Bangun Infrastruktur AI, Persaingan Makin Ketat

    ByteDance Siapkan Miliaran Dolar AS untuk Bangun Infrastruktur AI, Persaingan Makin Ketat

    Bisnis.com, JAKARTA — Korporasi pemilik TikTok, ByteDance, dikabarkan menyusun rencana awal belanja modal atau capital expenditure sebesar 160 miliar yuan (setara US$22,7 miliar) pada 2026 untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

    Dilansir dari Reuters pada Selasa (23/12/2025), hal tersebut dilaporkan oleh Financial Times, mengutip narasumber yang mengetahui masalah tersebut.

    Meskipun demikian, pihak ByteDance belum memberikan respons atas informasi tersebut.

    Berita ini menyusul kabar Nvidia yang menyampaikan kepada para kliennya di China bahwa perusahaan tersebut menargetkan untuk mulai mengirimkan cip AI terkuat kedua mereka, yaitu Nvidia H200, ke negara tersebut. Pengiriman akan dilakukan sebelum libur Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (27/12/2025).

    Bytedance sendiri, bersama perusahaan raksasa China lainnya, telah menyatakan minat untuk membeli chip H200. Potensi pengiriman ini akan memberikan akses ke prosesor yang kira-kira enam kali lebih kuat dibandingkan H20, yaitu chip dengan spesifikasi yang sengaja diturunkan yang dirancang khusus oleh Nvidia untuk pasar China.

    Nvidia berencana memenuhi pesanan awal dari stok yang tersedia, dengan total pengiriman diperkirakan mencapai 5.000 hingga 10.000 modul chip, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut kepada Reuters. Jumlah modul tersebut setara dengan 40.000 hingga 80.000 unit chip AI H200.

    Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut menginformasikan kepada kliennya di China bahwa mereka berencana menambah kapasitas produksi baru untuk chip tersebut. pesanan untuk kapasitas baru ini akan dibuka pada kuartal II/2026.

    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan mengizinkan Nvidia untuk mengekspor prosesor H200 ke China dengan 25% biaya tambahan atas penjualan tersebut. Kebijakan ini dilakukan setelah sebelumnya AS melarang pengiriman cip AI canggih ke China dengan alasan keamanan nasional dan keunggulan dalam industri AI.

    Meski terdapat kemajuan, sebenarnya Pemerintah China belum menyetujui pembelian H200 apa pun dan jadwal tadi juga bisa saja berubah tergantung pada keputusan pemerintah. Oleh karena itu, masih terdapat ketidakpastian yang besar mengenai pergerakan dalam industri AI ini.

    ​”Seluruh rencana ini bergantung pada persetujuan pemerintah,” kata satu sumber kepada Reuters.

    Di lain sisi, Nvidia mengatakan bahwa mereka tetap menjaga rantai pasoknya.

    “Penjualan berlisensi H200 kepada pelanggan resmi di China tidak akan berdampak pada kemampuan kami untuk memasok pelanggan di Amerika Serikat,” kata Nvidia kepada Reuters.

    Cip H200 yang akan dikirim, yang merupakan bagian dari lini generasi sebelumnya milik Nvidia, masih digunakan secara luas dalam AI. Walaupun begitu, H200 telah memiliki penerus, yakni chip “Blackwell” yang lebih baru. 

    Nvidia kini memfokuskan produksi pada Blackwell dan lini “Rubin” yang akan datang. Oleh karena itu, pasokan H200 menjadi langka.

    SoftBank gelontorkan dana untuk mendukung OpenAI

    Masih dalam industri AI, SoftBank Group dikabarkan tengah berpacu untuk menyelesaikan komitmen pendanaan senilai US$22,5 miliar kepada OpenAI pada akhir tahun ini. 

    Upaya tersebut dilakukan melalui serangkaian skema penggalangan dana tunai, termasuk penjualan sejumlah investasi, seperti dilaporkan oleh sumber lain kepada Reuters. SoftBank juga dapat memanfaatkan fasilitas pinjaman margin yang belum ditarik (undrawn margin loans) dengan jaminan kepemilikan berharganya di perusahaan chip Arm Holdings.

    Langkah ini merupakan salah satu langkah terbesar yang pernah dilakukan oleh CEO SoftBank Masayoshi Son. Saat ini, miliarder Jepang tersebut untuk memperbaiki posisi perusahaannya dalam perlombaan AI.

    Untuk mendapatkan dana tersebut, Son telah menjual seluruh saham SoftBank senilai US$5,8 miliar di Nvidia, melepas kepemilikan senilai US$4,8 miliar di T-Mobile, serta memangkas jumlah karyawan.

    Son juga telah memperlambat sebagian besar kesepakatan bisnis lainnya di Vision Fund, yaitu modal ventura milik SoftBank, secara drastis. Setiap kesepakatan di atas US$50 juta kini juga dikabarkan memerlukan persetujuan langsung dari Son.

    SoftBank  saat ini juga berupaya membawa operator aplikasi pembayarannya, PayPay, untuk melantai di bursa (go public). Penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang semula diperkirakan terjadi bulan ini, akhirnya terpaksa ditunda akibat penutupan layanan pemerintah AS selama 43 hari yang berakhir pada November 2025 lalu. Menurut sumber, debut pasar PayPay, yang kemungkinan akan menggalang dana lebih dari US$20 miliar, kini diperkirakan terjadi pada kuartal I/2026.

    SoftBank pun tengah berupaya mencairkan sebagian kepemilikannya di Didi Global, yaitu operator platform transportasi daring yang dominan di China. Didi diketahui sedang berupaya mencatatkan sahamnya di Hong Kong setelah tindakan keras regulasi memaksanya keluar dari bursa AS pada 2021, menurut seorang sumber. 

    Dengan semua pergerakan yang terjadi di dalam SoftBank, para manajer investasi di Vision Fund kini diarahkan untuk fokus pada kesepakatan OpenAI.

    Upaya keras SoftBank untuk mengumpulkan dana ini memberikan gambaran mengenai tekanan yang dihadapi para investor saat mereka berjuang membiayai proyek pusat data AI ambisius, bahkan bagi para investor terbesar dunia. Sebagai informasi, pusat data AI bisa bernilai ratusan miliar dolar AS. (Laurensius Katon Kandela)

  • Investor Goto-Grab Lagi Butuh Uang, Gencar Jual Saham di Mana-Mana

    Investor Goto-Grab Lagi Butuh Uang, Gencar Jual Saham di Mana-Mana

    Jakarta, CNBC Indonesia – SoftBank dikabarkan sedang “BU” atau membutuhkan uang banyak untuk mendanai ambisinya habis-habisan di sektor AI. Kebutuhan tersebut membuat SoftBank rela menjual saham perusahaan-perusahaan yang ada di jajaran portofolionya.

    Bahkan, SoftBank membuat kaget pasar dengan menjual seluruh saham Nvidia yang mereka miliki. Softbank menjual saham senilai US$5,8 miliar atau Rp 96,87 triliun yang teringkap dalam laporan finansial perusahaan. Pengumuman penjualan 32,1 juta saham dilakukan pada Oktober lalu.

    SoftBank juga menjual sebagian sahamnya di provider internet raksasa Amerika Serikat, T-Mobile dan saham di operator seluler Jerman, Deutsche Telekom. Tak hanya itu, SoftBank diketahui menggunakan saham di perusahaan desainer chip Arm untuk menambah kapasitas pinjaman perusahaan.

    Kombinasi antara penjualan saham dan kenaikan nilai portofolio membuat SoftBank Vision Fund membukukan laba US$ 19 miliar pada periode fiskal Q2/2025.

    “Hasil ini dicapai karena periode September tahun lalu, pertama kami investasi di OpenAI,” kata CFO SoftBank Yoshimitsu Goto dalam presentasi kepada investor.

    Goto mengungkapkan saat ini OpenAI adalah perusahaan paling mahal di dunia yang belum terdaftar di bursa saham dengan valuasi US$ 500 miliar.

    Ternyata dana hasil penjualan dialihkan untuk ambisi Softbank. Khususnya akan berinvestasi pada OpenAI, pembuat chatbot populer ChatGPT.

    Proyek Stargate yang merupakan pembangunan data center di Amerika Serikat (AS) jadi salah satu yang akan mendapatkan uang dari Softbank. Nilai investasinya mencapai US$500 miliar.

    Sementara untuk OpenAI, Softbank menyiapkan uang mencapai US$ 40 miliar.

    Menurut Analis, CEO Softbank Masayoshi Son merasa pergerakan ekstrem harga saham Nvidia mulai mereda setelah lonjakan 1.200% pada 3 tahun terakhir.

    Namun Son pernah melewatkan keuntungan besar dari Nvidia, saat menjual saham perusahaan chip AI tahujn 2019. Ini juga pernah diungkapkan CEO Nvidia Jensen Huang tahun lalu.

    “Mungkin banyak yang tidak tahu, pada suatu titik, Masa adalah pemegang saham terbesar NVIDIA,” kata Huang.

    Tak hanya Nvidia, Thiel Macro selaku perusahaan pengelolaan dana investasi diketahui baru saja menjual saham Nvidia. Perusahaan menjual 537.542 saham dengan nilai yang diperkirakan mencapai US$100 juta (Rp 1,6 triliun).

    Langkah Softbank dan Thiel Macro memicu ketakutan di Wall Street. Mereka takut akan adanya lonjakan valuasi teknologi dan membahayakan triliunan dolar pada sektor AI.

    Pengumuman hasil kuartal ketiga Nvidia akan jadi penentu kekhawatiran pasar. Nvidia disebut berperan penting pada permintaan AI karena produknya digunakan oleh banyak pusat data serta server besar.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

    Next Article

    Softbank All In di AI, Mau Investasi Rp541,16 Triliun

  • Megaproyek Trump Senilai Rp 8.000 Triliun Mulai Kelihatan Hasilnya

    Megaproyek Trump Senilai Rp 8.000 Triliun Mulai Kelihatan Hasilnya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Beberapa saat setelah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025, Donald Trump langsung membuat pengumuman besar bersama beberapa tokoh kawakan di industri teknologi.

    Bersama dengan CEO SoftBank Masayoshi Son, CEO OpenAI Sam Altman, dan pendiri Oracle Larry Ellison, Trump mengumbar proyek senilai US$500 miliar (Rp8.312 triliun) untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

    Seiring perkembangan waktu, proyek yang dinamai ‘Stargate’ mulai terlihat hasilnya. Entitas yang bergabung untuk berkolaborasi dalam membangun kekuatan infrastuktur AI di AS kian banyak.

    Beberapa saat lalu, Foxconn yang merupakan mitra rekanan Apple untuk membuatn iPhone, bersama dengan SoftBank, mengumumkan rencana memproduksi peralatan data center di bekas pabrik kendaraan listrik (EV) milik Foxconn di Ohio.

    Selanjutnya, Stargate juga dilaporkan membuka ‘cabang’ di kawasan Asia, yakni Korea Selatan. Hal ini dilakukan melalui kemitraan strategis antara OpenAI, Samsung Electronics, dan SK Hynix.

    Dua raksasa chip Korea Selatan telah menandatangani Letter of Intent untuk memasok chip memori ke data center OpenAI, sekaligus membangun 2 data center baru di Korea Selatan.

    Terbaru, OpenAI, Oracle, dan Related Digital juga dilaporkan akan membangun kampus data center dengan kapasitas lebih dari 1 Gigawatt di Saline Township, Michigan, sebagai bagian dari proyek Stargate, dikutip dari Reuters, Jumat (31/10/2025).

    Pengumuman ini dibuat pada Kamis (30/10) waktu setempat, menggarisbawahi meningkatnya kebutuhan industri AI terhadap kekuatan komputasi, didorong oleh pengejaran teknologi yang mampu menyamai atau melampaui kecerdasan manusia.

    Perusahaan-perusahaan terkait mengatakan investasi yang digelontorkan bernilai miliaran dolar AS, tetapi tak menyebut nilai pastinya. Para eksekutif industri mengatakan daya komputasi 1 Gigawatt cukup untuk mengalirkan listrik ke 750.000 rumah di AS dan memiliki biaya sekitar US$50 miliar (Rp831 triliun).

    Pembangunannya ditargetkan mulai pada 2026 mendatang.

    Proyek ini merupakan bagian dari ekspansi Stargate sebesar 4,5 Gigawatt yang dilakukan Oracle dan OpenAI, dan bersama dengan enam lokasi lain di AS, akan meningkatkan kapasitas yang direncanakan grup infrastruktur tersebut menjadi lebih dari 8 Gigawatt dan total investasi menjadi lebih dari US$450 miliar dalam tiga tahun ke depan.

    OpenAI menyatakan bahwa langkah ini membuat Stargate lebih cepat dari jadwal untuk memenuhi komitmennya sebesar US$500 miliar, 10 Gigawatt. Startup ini belum memberikan detail lebih lanjut tentang bagaimana mereka berencana untuk mendanai pengeluaran tersebut.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • AI Jadi Ladang Minyak Baru Bagi Arab Saudi

    AI Jadi Ladang Minyak Baru Bagi Arab Saudi

    Jakarta

    Bayangkan Arab Saudi dan hal pertama yang terlintas mungkin adalah kekayaannya yang luar biasa besar dari minyak. Meski minyak terus menjadi penggerak ekonomi Arab Saudi, kerajaan ini kini berekspansi ke bidang-bidang seperti kecerdasan buatan, pariwisata, dan olahraga untuk mendiversifikasi jalur pertumbuhannya.

    Menurut Menteri Investasi Arab Saudi, Khalid Al Falih, lebih dari separuh ekonomi Saudi kini sepenuhnya terlepas dari minyak. “Persentase ini terus meningkat,” ujar Al Failh. Ia menambahkan pendapatan pemerintah sebelumnya hampir seluruhnya berasal dari uang minyak tapi sekarang, 40% pendapatan berasal dari sektor dan sumber yang tidak terkait minyak.

    “Kami melihat hasil yang luar biasa, tetapi kami belum puas. Kami ingin berbuat lebih banyak. Kami ingin mempercepat diversifikasi dan pertumbuhan kerajaan,” ujarnya. Arab Saudi sedang memperkuat sektor-sektor yang berkembang pesat seperti kecerdasan buatan, dan menyebutnya sebagai salah satu area pertumbuhan baru.

    Al Failh menyebut mereka akan menjadi investor utama dalam pengembangan aplikasi AI dan model bahasa berskala besar. Arab Saudi juga akan membangun pusat data “dalam skala dan biaya kompetitif yang belum pernah dicapai di tempat lain.

    “AI telah muncul dalam tiga, empat tahun terakhir, dan sudah pasti akan menentukan masa depan ekonomi setiap negara. Mereka yang berinvestasi akan memimpin, dan mereka yang tertinggal, sayangnya, akan merugi,” ujarnya yang dikutip detikINET dari CNBC.

    CEO perusahaan chip AI Groq, Jonathan Ross, menyebut inisiatif itu akan meningkatkan infrastruktur AI berkat surplus energinya. Menurut PwC, negara tersebut dapat memperoleh keuntungan lebih dari USD 135 miliar pada tahun 2030 berkat AI.

    Laporan kinerja anggaran triwulanan Arab Saudi mengungkapkan bahwa total pendapatan pemerintah untuk paruh pertama tahun 2025 mencapai 565,21 miliar riyal Saudi, dengan minyak menyumbang 53,4% dari total pendapatan negara, turun dari 67,97% pada periode yang sama tahun 2019.

    Di 2024, negara tersebut melaporkan kenaikan PDB setahun penuh sebesar 1,3%, yang terutama didorong oleh kenaikan 4,3% pada segmen non-minyak. Aktivitas minyak, di sisi lain, turun 4,5% dari tahun ke tahun.

    Dana kekayaan negara tersebut telah mengakuisisi saham di perusahaan teknologi raksasa, penerbit video game, dan klub bola untuk diversifikasi pendapatan minyak ke sektor-sektor lain. PIF (Public Investment Fund) Arab Saudi telah mengakuisisi saham Electronic Arts, mendirikan SoftBank Vision Fund bersama SoftBank milik Masayoshi Son pada tahun 2017, dan mengakuisisi Newcastle United tahun 2021.

    (fyk/agt)

  • Dunia Berubah Drastis 5 Tahun Lagi, Begini Menurut Ahli China

    Dunia Berubah Drastis 5 Tahun Lagi, Begini Menurut Ahli China

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kecerdasan buatan super (artificial superintelligence/ASI) diperkirakan akan lahir 5 tahun mendatang atau tepatnya tahun 2030. Hal ini akan mengubah kehidupan manusia di dunia.

    Namun, kemampuan ASI diprediksi hanya akan melampaui manusia dalam beberapa aspek tertentu. Hal itu disampaikan Zhang Peng, CEO Zhipu AI, salah satu startup AI yang lagi naik daun di China.

    Belakangan industri AI global tengah ramai dengan spekulasi soal kapan teknologi ini akan melampaui kecerdasan manusia.

    CEO OpenAI Sam Altman pekan lalu memperkirakan ASI bisa hadir pada akhir dekade ini, sementara CEO SoftBank Masayoshi Son tahun lalu menyebut prediksi 2035.

    Namun Zhang menilai konsep ASI masih terlalu abstrak untuk dipatok pada tenggat waktu tertentu.

    “Menurut saya, pencapaian ASI yang melampaui kecerdasan manusia pada 2030 mungkin bisa diartikan mengungguli manusia dalam satu atau beberapa aspek. Namun, kemungkinan besar ASI masih jauh tertinggal di banyak bidang,” ujarnya saat meluncurkan model bahasa besar terbaru, GLM-4.6, dikutip dari Reuters, Rabu (1/10/2025).

    Didirikan pada 2019 sebagai spinoff Universitas Tsinghua, Zhipu AI kini muncul sebagai pemain terdepan dalam persaingan AI di China. Pada April lalu, perusahaan mengajukan dokumen untuk rencana pencatatan saham di bursa China daratan.

    Pada Juni, OpenAI sempat menyoroti Zhipu sebagai pesaing baru yang cepat berkembang dan dianggap sebagai bagian dari upaya Beijing mendorong AI buatan China ke pasar global.

    Zhang menanggapi hal itu dengan mengatakan pihaknya merasa tersanjung, namun ekspansi internasional yang dilakukan adalah bisnis pada umumnya.

    Zhang menuturkan pendapatan dari pasar luar negeri mulai tumbuh, meski mengakui Zhipu AI belum akan bersaing langsung dengan model-model asal AS di segmen langganan konsumen.

    Sebaliknya, perusahaan kini berkompetisi dengan OpenAI dalam layanan untuk klien korporasi.

    Baru-baru ini, Zhipu AI meluncurkan paket langganan coding untuk pengembang sebagai bagian dari upaya memperluas sumber pendapatan langsung dari konsumen.

    Zhang optimistis minat konsumen China untuk membayar layanan AI akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan, seiring bertambahnya penerimaan nilai AI dan turunnya harga layanan.

    Adapun model terbaru GLM-4.6 disebut sebagai versi peningkatan dari GLM-4.5 yang rilis Juli lalu. Model ini memiliki kemampuan lebih baik dalam pemrograman, penalaran, penulisan, serta aplikasi berbasis agen.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Ditendang, 2 Miliarder Makin Kencang Menjilat Donald Trump

    Elon Musk Ditendang, 2 Miliarder Makin Kencang Menjilat Donald Trump

    Jakarta, CNBC Indonesia – Keretakan hubungan Presiden AS Donald Trump dengan miliarder Elon Musk ternyata membuka peluang bagi ‘orang terkaya’ lain. Menurut laporan Financial Times, CEO Meta Mark Zuckerberg dan CEO OpenAI Sam Altman berupaya mendekatkan diri ke Trump.

    Laporan Financial Times ini berbasis informasi dari sumber dalam pemerintahan AS dan perusahaan terkait. Namun, banyak pihak di pemerintahan Trump yang skeptis dengan Zuckerberg dan Altman, sebab keduanya merupakan mantan pendonor Demokrat.

    Seperti diketahui, hubungan Musk dan Trump renggang gara-gara penetapan ‘One Big Beautiful Bill’ yang memangkas insentif pajak untuk mobil listrik. Musk yang merupakan CEO raksasa mobil listrik Tesla terang-terangan mengkritik aturan tersebut.

    Keduanya terlibat adu mulut terbuka secara online. Sejak Mei 2025, Musk juga resmi mengundurkan diri dari posisinya di pemerintahan Trump sebagai kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE).

    Sejak saat itu, Musk dan Trump tak pernah tampil bersama di hadapan publik, kecuali saat keduanya menghadiri upacara peringatan (memorial service) untuk Charlie Kirk yang tewas ditembak pada 10 September 2025.

    Kebersamaan Musk dan Trump disorot dan menunjukkan hubungan yang melunak. Namun, tetap saja Musk dan Trump tidak sedekat dulu.

    Sementara itu, Zuckerberg dan Altman tampak sering mengunjungi Gedung Putih pada tahun ini. Keduanya juga selalu memuji pemerintahan Trump dalam berbagai kesempatan.

    “Di ranah privat, mereka [Zuckerberg dan Altman] mencari dukungan Gedung Putih untuk memperluas peluang komersil dan menghindari tekanan dalam membangun kerajaan AI,” tulis Financial Times dalam laporannya, dikutip Kamis (25/9/2025).

    Sejauh ini, Financial Times melaporkan bahwa kepentingan Zuckerberg dan Altman sejalan dengan Trump. Zuckerberg telah berkomitmen untuk menginvestasikan setidaknya US$600 miliar ke AS hingga 2028.

    Hal ini memungkinkan Trump untuk memamerkan kesuksesan pemerintahannya dalam menggerakkan korporasi besar AS melawan China. Meta dan OpenAI juga sudah mencabut pembatasan penggunaan teknologi AI mereka untuk kebutuhan militer.

    Kedekatan Trump dengan bos-bos raksasa teknologi AS, termasuk Zuckerberg dan Altman, ditunjukkan dengan jamuan makan malam spesial di Gedung Putih. Selain Zuckerberg dan Altman, turut hadir CEO Apple Tim Cook, CEO Microsoft Satya Nadella, pendiri Microsoft Bill Gates, Co-CEO Oracle Safra Catz, dan Co-Founder Google Sergey Brin.

    Upaya Zuckerberg dan Altman untuk mendekati Trump terbukti membawa berkah. Pemerintah AS berkomitmen untuk mengakselerasi izin untuk pembangunan data center super mahal dan ‘haus’ energi yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi AI.

    Meta dan OpenAI juga masuk dalam daftar yang penyuplai AI untuk pemerintah AS yang sudah disetujui.

    Perubahan Dinamika Bos-bos Raksasa Teknologi dan Trump

    Menarik untuk melihat perubahan dinamika antara Altman-Trump dan Zuckerberg Trump.

    Pada 2016 lalu, Altman pernah menuliskan bahwa kemenangan Trump dalam Pemilu terasa seperti “hal terburuk yang terjadi di hidup saya”. Namun, baru-baru ini Altman justru dekat di ‘ketek’ Trump. Ia mengunjungi Arab dan Inggris bersama Trump dan jejeran pejabat negara.

    Saat Trump baru dilantik pada Januari lalu, Altman berdiri bersama sang Presiden baru, pendiri Oracle Larry Ellison, dan CEO SoftBank Masayoshi Son, untuk mengumumkan proyek data center raksasa ‘Stargate’ senilai US$500 miliar.

    Sama seperti Altman, hubungan Zuckerberg dan Trump juga dulunya tak harmonis. Bahkan, Trump sempat berencana memenjarakan Zuckerberg jika pencipta Facebook itu menghalangi upayanya memenangkan Pilpres.

    Namun, kini Zuckerberg juga tunduk pada keinginan Trump. Ia mengubah beberapa kebijakan perusahaan, salah satunya mencaput sistem pengecekan fakta eksternal di platform Meta.

    Trump juga membantu Zuckerberg melawan legislator Uni Eropa yang menargetkan raksasa teknologi melalui ‘Digital Markets Act’ (DMA) dan pemungutan pajak digital.

    Trump tak segan-segan menuliskan di media sosial bahwa pajak digital, aturan layanan digital, dan regulasi pasar digital (yang digaungkan Uni Eropa), dirancang untuk mendiskriminasi teknologi AS.

    Bahaya Jangka Panjang

    Namun, simbiosis mutualisme yang terjalin antara bos-bos raksasa teknologi dengan Trump dinilai sebagian orang sebagai taktik yang berbahaya untuk jangka panjang.

    “Meta akan dihukum saat meja politik berbalik arah,” kata negosiator Brussels, dikutip dari Financial Times.

    “Komisi Eropa memiliki memori institusional yang panjang,” ia menambahkan.

    Nyatanya, saat ini saja kedekatan Meta dengan Gedung Putih tak mampu menyelamatkan perusahaan dari rentetan kasus yang menimpa perusahaan di AS. Misalnya, kasus anti-monopoli yang sedang berkembang, penyelidikan dari FTC, serta pengujian oleh Senator Republik Josh Hawley terkait chatbot berbasis AI.

    Selain itu, masih ada keraguan terkait sikap politik Zuckerberg dan Altman di masa depan saat dinamika berubah pasca midterm tahun depan.

    “Saya rasa mereka tak punya ideologi yang pasti,” kata seseorang yang dekat dengan pemerintahan Trump kepada Financial Times.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • OpenAI, Oracle, dan SoftBank Bangun Lima Data Center Senilai Rp6.642 Triliun

    OpenAI, Oracle, dan SoftBank Bangun Lima Data Center Senilai Rp6.642 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA— OpenAI bersama Oracle dan SoftBank mengumumkan pembangunan lima pusat data kecerdasan buatan (AI) baru di Amerika Serikat (AS) di bawah proyek Stargate, platform infrastruktur AI utama OpenAI.

    Melansir laman resmi OpenAI pada Rabu (24/9/2025), pembangunan lima pusat data baru di berbagai wilayah Amerika Serikat bersama kampus utama Stargate di Abilene, Texas, serta proyek dengan CoreWeave, akan menambah kapasitas Stargate hingga hampir 7 gigawatt. Nilai investasinya diperkirakan lebih dari US$400 miliar atau sekitar Rp6.642 triliun dalam tiga tahun ke depan.

    Peningkatan kapasitas tersebut membuat OpenAI lebih cepat dalam memenuhi target komitmen US$500 miliar (Rp8.302 triliun) untuk mencapai total kapasitas 10 gigawatt pada akhir 2025, lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.

    Pada Juli lalu, OpenAI dan Oracle menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan kapasitas tambahan hingga 4,5 gigawatt. 

    Kemitraan ini bernilai lebih dari US$300 miliar atau sekitar Rp4.981 triliun dalam lima tahun ke depan. Tiga dari lima lokasi baru akan berada di Shackelford County, Texas; Doña Ana County, New Mexico; serta sebuah lokasi di Midwest yang akan diumumkan kemudian. 

    Ditambah dengan potensi perluasan kapasitas 600 megawatt di dekat Abilene, ketiga lokasi ini diperkirakan dapat menyumbang lebih dari 5,5 gigawatt dan menciptakan lebih dari 25.000 lapangan kerja langsung, serta puluhan ribu pekerjaan tambahan di seluruh AS.

    Dua lokasi Stargate lainnya akan dikembangkan bersama SoftBank, dengan kapasitas hingga 1,5 gigawatt dalam 18 bulan ke depan. 

    Lokasinya berada di Lordstown, Ohio, yang kini tengah dibangun dengan desain pusat data canggih dan dijadwalkan beroperasi tahun depan, serta di Milam County, Texas, bekerja sama dengan SB Energy (anak usaha SoftBank) yang akan menyediakan infrastruktur tenaga listrik.

    Pemilihan lima lokasi baru ini merupakan hasil proses seleksi nasional sejak Januari lalu, di mana lebih dari 300 proposal dari 30 negara bagian dievaluasi. Ini merupakan tahap pertama, dengan rencana penambahan lokasi baru di masa mendatang seiring komitmen investasi Stargate yang ditargetkan menembus US$500 miliar.

    Kampus utama Stargate di Abilene sendiri sudah beroperasi dengan Oracle Cloud Infrastructure (OCI). Oracle bahkan sudah mengirim rak NVIDIA GB200 pertama sejak Juni lalu untuk mendukung pelatihan dan inferensi AI generasi berikutnya.

    CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan kemajuan AI hanya bisa tercapai jika didukung infrastruktur komputasi yang memadai.

    “Komputasi itulah yang menjadi kunci untuk memastikan semua orang dapat memperoleh manfaat dari AI dan untuk membuka terobosan di masa depan. Kita telah membuat kemajuan bersejarah menuju tujuan tersebut melalui Stargate dan bergerak cepat tidak hanya untuk memenuhi komitmen awalnya, tetapi juga untuk meletakkan fondasi bagi langkah selanjutnya,” katanya. 

    Sementara itu, CEO Oracle Clay Magouyrk menyatakan infrastruktur OCI membantu OpenAI berkembang dengan cepat dan efisien. Adapun Chairman dan CEO SoftBank, Masayoshi Son, menambahkan kolaborasi ini memanfaatkan desain pusat data inovatif dan keahlian energi SoftBank untuk menghadirkan infrastruktur komputasi berskala besar yang menopang masa depan AI.

    “Bersama OpenAI, Arm, dan mitra Stargate kami, kami membuka jalan bagi era baru di mana AI memajukan umat manusia,” katanya. 

    Dengan tambahan lima pusat data baru ini, OpenAI, Oracle, dan SoftBank optimistis dapat menghadirkan infrastruktur berskala besar yang tidak hanya memperkuat riset AI generasi berikutnya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah AS.

    Komitmen US$500 miliar tersebut pertama kali diumumkan pada Januari lalu di Gedung Putih bersama Presiden AS Donald Trump sebagai bagian dari upaya mendorong investasi besar-besaran di infrastruktur AI Amerika. 

  • Alihkan Fokus ke Investasi AI, Softbank Pangkas 20% Karyawan

    Alihkan Fokus ke Investasi AI, Softbank Pangkas 20% Karyawan

    Jakarta

    SoftBank Group berencana memangkas hampir 20% karyawan Vision Fund secara global, seiring pergeseran sumber daya ke kecerdasan buatan (AI) berskala besar yang digagas pendiri Masayoshi Son di Amerika Serikat. Rencana ini tertuang dalam memo serta keterangan sumber yang mengetahui rencana tersebut.

    Dikutip dari Reuters, Jumat (19/9/2025), pemangkasan ini menandai gelombang ketiga PHK di Vision Fund sejak 2022. Saat ini, tim Vision Fund memiliki lebih dari 300 pegawai di seluruh dunia.

    Berbeda dari putaran sebelumnya saat perusahaan mencatat kerugian besar, kali ini pemangkasan dilakukan setelah Vision Fund bulan lalu melaporkan kinerja kuartalan terkuat sejak Juni 2021, ditopang kenaikan harga saham publik seperti Nvidia dan perusahaan e-commerce Korea Selatan, Coupang.

    Langkah ini menjadi sinyal pergeseran dari portofolio investasi startup yang luas. Meski Vision Fund masih akan melakukan investasi baru, staf yang tersisa akan lebih difokuskan pada bidang AI, termasuk proyek Stargate senilai US$ 500 miliar untuk membangun jaringan pusat data raksasa bersama OpenAI.

    “Kami terus menyesuaikan organisasi untuk mengeksekusi strategi jangka panjang kami, membuat investasi berani dengan keyakinan tinggi di AI dan teknologi terobosan, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan,” ujar seorang juru bicara Vision Fund yang mengonfirmasi adanya PHK tanpa merinci lebih jauh.

    Restrukturisasi ini menandai kembalinya Son pada gaya klasiknya: strategi berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil besar. SoftBank meninggalkan model ventura yang menyebar luas seperti era awal Vision Fund, dan beranjak dari periode penuh kerugian, penjualan aset, hingga pemulihan kredibilitas usai gagal bertaruh pada startup berbagi kantor WeWork.

    Peralihan menuju infrastruktur AI yang padat modal mencerminkan keyakinan Son bahwa jalur kembali ke puncak ada di sana. Ia kini agresif menggelontorkan dana ke model fondasi dan infrastruktur AI, meski kadang harus membeli dengan valuasi premium.

    Dalam 12 bulan terakhir, Son telah menanamkan US$ 9,7 miliar di OpenAI lewat Vision Fund 2 yang mengelola sekitar 65,8 miliar dolar AS. SoftBank juga menyiapkan strategi infrastruktur padat modal dengan mengandalkan Arm, perusahaan desain chip andalannya.

    Perusahaan telah mengakuisisi Graphcore dan Ampere Computing, serta mengambil saham di Intel dan Nvidia. Langkah ini ditujukan membangun ekosistem lengkap mulai dari chip, pusat data, hingga model AI untuk mendukung adopsi teknologi di masa depan.

    Namun strategi besar ini penuh risiko eksekusi. Hal itu terlihat dari tertundanya proyek Stargate di AS maupun kerja sama serupa dengan OpenAI di Jepang. Pada laporan keuangan Agustus lalu, CFO SoftBank Yoshimitsu Goto menegaskan perusahaan masih memegang kas di level sangat aman sebesar 4 triliun yen atau US$ 27 miliar dolar AS.

    Tonton juga video “SoftBank Batal Investasi, Bagaimana Nasib Pendanaan IKN?” di sini:

    (ily/rrd)