Tag: Mark

  • Bos Meta Mark Zuckeberg Kritik Apple, Tak Ada Inovasi dalam 20 Tahun Terakhir – Page 3

    Bos Meta Mark Zuckeberg Kritik Apple, Tak Ada Inovasi dalam 20 Tahun Terakhir – Page 3

    Di sisi lain, Meta mengambil langkah kontroversial dengan menghentikan penggunaan pemeriksa fakta independen di Facebook dan Instagram.

    Sebagai gantinya, perusahaan menerapkan sistem “catatan komunitas” ala X (sebelumnya Twitter), di mana keakuratan sebuah unggahan dikomentari oleh pengguna.

    Dalam video yang dipublikasikan bersamaan dengan unggahan blog Meta pada Selasa (waktu setempat), CEO Meta Mark Zuckerberg, menyatakan bahwa moderator pihak ketiga ‘terlalu bias secara politik’ dan sudah saatnya kembali ke kebebasan berekspresi.

    Joel Kaplan, yang menggantikan Nick Clegg sebagai Head of Global Affairs Meta, menulis bahwa ketergantungan perusahaan pada moderator independen ‘berniat baik’, tetapi terlalu sering berujung pada penyensoran pengguna.

    Keputusan ini menuai kecaman dari para aktivis anti ujaran kebencian. Mereka menduga perubahan ini didorong oleh keinginan untuk menjalin hubungan baik dengan Presiden AS terpilih, Donald Trump.

    “Pengumuman Mark Zuckerberg adalah upaya terang-terangan untuk mendekati pemerintahan yang akan datang, dengan implikasi yang berbahaya,” kata Ava Lee dari Global Witness, sebuah kelompok kampanye yang bertujuan mengawasi perusahaan teknologi besar, dikutip dari BBC, Rabu (8/1/2024).

    “Klaim menghindari ‘penyensoran’ adalah langkah politik untuk lepas dari tanggung jawab atas ujaran kebencian dan disinformasi yang didorong dan difasilitasi oleh platform,” ia menambahkan. 

  • Mark Zuckerberg Kritik Apple: Minim Inovasi – Page 3

    Mark Zuckerberg Kritik Apple: Minim Inovasi – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta CEO Meta, Mark Zuckerberg, melontarkan kritik tajam terhadap Apple dalam sebuah wawancara podcast pada Jumat (12/1/2025).

    Ia menyoroti minimnya inovasi dari raksasa teknologi tersebut dan menyebut aturan mereka sebagai “random” atau tidak konsisten.

    Minim Inovasi Sejak Era Steve Jobs

    Dalam wawancara di podcast “Joe Rogan Experience”, Zuckerberg memuji dampak besar iPhone dalam mempopulerkan ponsel pintar, namun mengkritik kurangnya perkembangan signifikan dalam inovasi produk.

    “iPhone telah menjadi platform yang memungkinkan banyak hal luar biasa. Namun, saya merasa Apple belum menciptakan sesuatu yang hebat dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Zuckerberg, dikutip dari CNBC, Senin (13/1/2024).

    “Steve Jobs menciptakan iPhone, dan sekarang, 20 tahun kemudian, mereka seperti hanya bertahan dengan itu,” tambahnya.

    Mark Zuckerberg juga menyoroti bahwa penjualan iPhone mengalami stagnasi karena konsumen membutuhkan waktu lebih lama untuk mengganti perangkat. Ia menilai bahwa model terbaru tidak memberikan peningkatan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya.

    Kritik terhadap Kebijakan dan Model Bisnis Apple

    Zuckerberg menuding Apple memaksimalkan keuntungan melalui strategi bisnis yang dinilai memberatkan pengguna dan pengembang aplikasi.

    “Mereka memeras orang dengan kebijakan seperti pajak 30% untuk pengembang dan menjual berbagai aksesori tambahan seperti AirPods,” katanya. Ia juga mengkritik Apple karena membatasi konektivitas perangkat pihak ketiga dengan iPhone.

    Apple sering membela kebijakan mereka dengan alasan menjaga privasi dan keamanan pengguna. Namun, Zuckerberg menilai alasan tersebut kurang kuat.

    “Itu tidak aman karena mereka tidak membangun keamanan yang memadai sejak awal. Lalu, mereka menggunakan itu sebagai alasan untuk membatasi koneksi perangkat lain,” jelasnya.

    Menurut Zuckerberg, jika Apple menghentikan aturan yang arbitrer, laba Meta bisa meningkat dua kali lipat.

     

  • Sekjen Sumu Pastikan Zendo Tak Tarik Admin Fee

    Sekjen Sumu Pastikan Zendo Tak Tarik Admin Fee

    Bisnis.com, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (Sumu) Ghufron Mustaqim menyatakan, layanan ojek online (ojol) yang diinisiasi pihaknya yakni Zendo, tidak menerapkan biaya layanan (admin fee) untuk pemesanan makanan maupun antar-jemput.

    “Kalau pemesanan makanan itu tidak ada admin fee-nya sama sekali. Biaya layanan tidak ada, hanya ongkir saja,” kata dia yang dihubungi di Jakarta, Jumat (10/1/2025).

    Apabila dibandingkan dengan penyedia jasa ojol lainnya di Indonesia yang bisa menerapkan biaya layanan hingga 30 persen, pihaknya memastikan memberikan harga terbaik bagi pelanggan dan pendapatan yang lebih adil bagi para mitra ojek yang terdaftar.

    “Jadi kalau harga makanan Rp10 ribu, ya pelanggan bayarnya Rp10.000 saja, tidak di mark-up,” ujarnya.

    Menurut dia, hal tersebut dikarenakan teknologi yang diterapkan terbilang murah, yakni hanya dengan menggunakan aplikasi pesan singkat WhatsApp.

    “Karena itu secara biaya teknologi bisa murah. Jadi kita juga bisa memberikan harga yang terbaik buat para pelanggan, dan juga fair buat para driver,” katanya pula.

    Serikat Usaha Muhammadiyah (Sumu) menginisiasi pembentukan layanan ojek online (ojol) bernama Zendo yang siap memberikan pelayanan di 70 kota di Indonesia.

    Mengutip laman resmi perusahaan, di Jakarta, Jumat, Zendo merupakan layanan on-demand services berbasis ojek yang hadir untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakat.

    “Zendo berkomitmen untuk memberikan pengalaman terbaik bagi setiap pelanggan dengan layanan yang profesional namun tetap ramah dan bersahabat,” seperti yang tertulis di laman perusahaan.

    Perusahaan menyatakan, saat ini terdapat 700 lebih mitra ojek, 2.000 mitra layanan, serta lebih dari 100.000 pengguna aktif.

    layanan yang disiapkan Zendo antara lain yakni Zendo Bike dan Zendo Car yang melakukan antarjemput, serta Zendo Food dan Zendo Delivery yang berupa pengantaran makanan, dan pengantaran barang.

  • Zuckerberg Kritik Keras Apple: Cari Uang Dengan Kuras Dompet Orang

    Zuckerberg Kritik Keras Apple: Cari Uang Dengan Kuras Dompet Orang

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Meta, Mark Zuckerberg melempar kritik keras kepada Apple karena kurangnya inovasi dan kebijakan App Store. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara di podcast Joe Rogan Experience podcast pada hari Jumat (10/1/2025).

    Menurut Zuckerberg, Apple tidak lagi menghadirkan produk inovatif dan hanya mengandalkan iPhone yang diciptakan oleh Steve Jobs dua dekade lalu. Ia juga mengkritik akses yang tidak adil untuk pengembang lain, termasuk Meta, dalam menciptakan produk yang terhubung dengan perangkat Apple.

    “Di satu sisi, (iPhone) hebat, karena sekarang hampir semua orang di dunia punya telepon, dan itulah yang memungkinkan hal-hal yang luar biasa,” kata Zuckerberg.

    Namun di sisi lain mereka menggunakan platform itu untuk menetapkan banyak aturan yang menurut saya terasa sewenang-wenang dan [saya] merasa mereka sudah lama tidak menciptakan sesuatu yang hebat. Ini seperti Steve Jobs yang menciptakan iPhone, dan sekarang mereka hanya membiarkannya begitu saja setelah 20 tahun,” papar Zuckerberg seperti dikutip CNBC.

    Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa menurutnya penjualan iPhone sedang menurun karena konsumen butuh waktu lebih lama untuk memperbarui ponsel mereka karena model baru tidak memiliki peningkatan besar dari iterasi sebelumnya.

    Menurutnya, bahwa biaya 15%-30% yang dikenakan Apple merupakan cara untuk menyembunyikan penurunan penjualan iPhone. Biaya yang dikenakan Apple kepada pengembang untuk menggunakan App Store, yang dianggap tinggi dan merugikan.

    “Jadi, bagaimana mereka menghasilkan lebih banyak uang sebagai perusahaan? Yah, mereka melakukannya dengan pada dasarnya, seperti, menguras dompet orang, dan, seperti yang Anda katakan, mengenakan pajak 30% pada pengembang dan membuat Anda membeli lebih banyak periferal dan hal-hal yang terhubung ke dalamnya,” ungkap Zuckerberg.

    Zuckerberg mengkritik protokol eksklusif Apple yang menyulitkan pengembang lain untuk bersaing dengan produk seperti AirPods.

    “Anda tahu, mereka membuat barang-barang seperti Air Pods yang keren, tetapi mereka benar-benar menghambat kemampuan orang lain untuk membuat sesuatu yang dapat terhubung ke iPhone dengan cara yang sama,” ujarnya.

    Menurut Zuckerberg, Apple membela diri dari penolakan dari perusahaan lain dengan mengatakan bahwa mereka tidak ingin melanggar privasi dan keamanan konsumen. Namun, dia mengatakan bahwa masalah tersebut akan terpecahkan jika Apple memperbaiki protokolnya, seperti membangun keamanan yang lebih baik dan menggunakan enkripsi.

    “Itu tidak aman karena Anda tidak membangun keamanan apa pun di dalamnya. Dan sekarang Anda menggunakannya sebagai pembenaran mengapa hanya produk Anda yang dapat terhubung dengan cara yang mudah,” kata Zuckerberg.

    Zuckerberg mengatakan bahwa jika Apple berhenti menerapkan aturan yang menurutnya aneh, laba Meta akan berlipat ganda.

    Ia juga mengkritik headset Vision Pro Apple, yang penjualannya mengecewakan di AS. Meta menjual headset virtualnya sendiri yang disebut Meta Quest.

    “Menurut saya, Vision Pro adalah salah satu terobosan besar dalam melakukan hal baru yang sudah lama mereka coba. Dan saya tidak ingin terlalu mempermasalahkannya, karena kami melakukan banyak hal yang versi pertamanya tidak begitu bagus, dan Anda ingin menilai versi ketiganya. Tapi maksud saya, V1, jelas tidak terlalu bagus,” kata Zuckerberg.

    “Saya dengar itu sangat bagus untuk menonton film,” tambahnya.

    Terkait hal ini, Apple belum memberi komentar apapun.

    (mkh/mkh)

  • Getty Images dan Shutterstock Merger, Craig Peters jadi CEO

    Getty Images dan Shutterstock Merger, Craig Peters jadi CEO

    Bisnis.com, JAKARTA – Getty Images Holdings, Inc dan Shutterstock menandatangani perjanjian merger definitif untuk menggabungkan merger transaksi yang setara, menciptakan perusahaan konten visual terkemuka.

    Perusahaan gabungan tersebut, yang akan memiliki nilai perusahaan sekitar $3,7 miliar[i], akan diberi nama Getty Images Holdings, Inc dan akan terus diperdagangkan di Bursa Efek New York dengan simbol ticker “GETY”.

    Dilansir dari laman resmi Getty Images, sebagai perusahaan gabungan, Getty Images dan Shutterstock akan menawarkan perpustakaan konten yang lebih mendalam dan luas demi kepentingan pelanggan, memperluas peluang bagi komunitas kontributor, dan memperkuat komitmen terhadap penerapan konten yang inklusif dan representatif.

    Selain itu, profil keuangan yang lebih kuat dari perusahaan gabungan ini diharapkan dapat menciptakan peningkatan kapasitas investasi produk dan inovasi bagi pelanggan dalam lingkungan yang berkembang pesat dan sangat kompetitif.

    “Pengumuman hari ini sangat menarik dan transformasional bagi perusahaan kami, membuka banyak peluang untuk memperkuat fondasi keuangan kami dan berinvestasi di masa depan—termasuk meningkatkan penawaran konten kami, memperluas cakupan acara, dan menghadirkan teknologi baru untuk melayani pelanggan kami dengan lebih baik,” kata Craig Peters, CEO, Getty Images.

    Dia menambahkan, dengan pesatnya peningkatan permintaan akan konten visual yang menarik di berbagai industri, inilah saat yang tepat bagi kedua bisnis untuk bersatu. Dengan menggabungkan kekuatan yang saling melengkapi, dapat mengatasi peluang pelanggan dengan lebih baik sekaligus memberikan nilai luar biasa kepada mitra, kontributor, dan pemegang saham.

    “Kami sangat gembira dengan peluang yang kami lihat untuk memperluas perpustakaan konten kreatif kami dan meningkatkan penawaran produk kami untuk memenuhi beragam kebutuhan pelanggan,” kata Paul Hennessy, CEO, Shutterstock.

    Dia erharap merger ini dapat menghasilkan nilai bagi pelanggan dan pemegang saham kedua perusahaan dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan yang menarik untuk mendorong pendapatan gabungan, mempercepat inovasi produk, mewujudkan sinergi biaya yang signifikan, dan meningkatkan arus kas. 

    Susunan direksi

    CEO Getty Images, Craig Peters, nantinya akan menjabat sebagai CEO perusahaan gabungan tersebut. Perusahaan gabungan ini akan memiliki sebelas anggota Dewan Direksi, yang terdiri dari CEO Getty Images Craig Peters, enam direktur yang ditunjuk oleh Getty Images, dan empat direktur yang ditunjuk oleh Shutterstock, termasuk Paul Hennessy, CEO Shutterstock. Ketua Dewan Direksi perusahaan gabungan tersebut adalah Mark Getty, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Getty Images.

    Pemilihan pemegang saham Shutterstock pada penutupan tunduk pada prorata untuk memastikan bahwa imbalan agregat yang dibayarkan oleh Getty Images terdiri dari US$9,50 tunai per saham Shutterstock segera sebelum penutupan dan 9,17 lembar saham Getty Images per saham Shutterstock segera sebelum penutupan.

    Berdasarkan saham biasa yang beredar pada tanggal penandatanganan, total imbalan yang harus dibayarkan oleh Getty Images akan terdiri dari US$331 juta tunai dan 319,4 juta lembar saham Getty Images.

    Angka-angka ini tidak termasuk dampak dari kepemilikan ekuitas Shutterstock yang belum diinvestasikan pada tanggal penandatanganan dan tidak mengasumsikan adanya vesting kepemilikan ekuitas Shutterstock yang saat ini belum diinvestasikan antara penandatanganan dan penutupan.

    Pemegang saham Shutterstock dengan hibah RSU dan PSU yang belum diinvestasikan hanya akan memenuhi syarat untuk menerima imbalan campuran yang disebutkan di atas pada saat vesting sehubungan dengan hibah tersebut.

    Pemegang opsi Shutterstock akan menyesuaikan harga opsi dan kesepakatannya dengan rasio yang sama dengan jumlah (i) 9,17 dan (ii) $9,50 dibagi dengan harga penutupan rata-rata saham biasa Getty Images selama 10 hari untuk periode yang berakhir dua (2 ) hari kerja sebelum penutupan sebagaimana dikutip di NYSE. 

    Pada akhirnya, pemegang saham Getty Images akan memiliki sekitar 54,7% dan pemegang saham Shutterstock akan memiliki sekitar 45,3% dari perusahaan gabungan tersebut dengan basis terdilusi penuh. Shutterstock akan, berdasarkan kebijaksanaan Dewan Direksinya, terus mengumumkan dan membayar dividen tunai triwulanan, sesuai dengan kebijakan dividennya, sambil menunggu penutupan transaksi.

    Berdasarkan ketentuan perjanjian, pemegang saham Shutterstock dapat memilih untuk menerima salah satu dari yang berikut:

    US$28,84870 per saham tunai untuk setiap saham biasa Shutterstock yang mereka miliki
    13.67237 lembar saham biasa Getty Images untuk setiap lembar saham biasa Shutterstock yang mereka miliki
    Pertimbangan campuran atas 9,17 lembar saham biasa Getty Images ditambah $9,50 tunai untuk setiap lembar saham biasa Shutterstock yang mereka miliki.

  • Top 3 Tekno : Meta Pakai Materi Bajakan hingga Dimulainya FFNS 2025 Spring – Page 3

    Top 3 Tekno : Meta Pakai Materi Bajakan hingga Dimulainya FFNS 2025 Spring – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Laporan yang menuduh Meta menggunakan materi bajakan untuk melatih model kecerdasan buatan AI besutannya Llama menjadi salah satu artikel terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com, Sabtu (11/1/2025).

    Laporan itu kian mencuri perhatian, karena CEO Meta Mark Zuckerberg merestui aksi tersebut. Tuduhan ini muncul dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang sedang berlangsung pada perusahaan tersebut.

    Di samping itu, strategis Bitget di tahun ini juga menarik perhatian para pembaca. Menurut CEO Bitget Gracy Chen, perusahaan telah merancang strategis yang fokus pada tiga pilar utama.

    Terakhir, gelaran turnamen Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2025 Spring yang memasuki babak City Qualifier juga menjadi artikel yang mendapat sorotan para pembaca.

    Babak City Qualifer FFNS 2025 dimulai 11 Januari hingga 2 Februari 2025 di 72 kota di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lengkap, simak informasinya berikut ini.

    1. Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg

    Meta dituduh menggunakan materi bajakan untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) besutannya, Llama, bahkan dengan restu langsung dari CEO Mark Zuckerberg.

    Diwartakan Engadget, Sabtu (11/1/2025), tuduhan ini muncul dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang sedang berlangsung terhadap perusahaan tersebut.

    TechCrunch melaporkan, penggugat dalam kasus Kadrey v. Meta mengajukan dokumen pengadilan yang mengungkap penggunaan dataset LibGen untuk pelatihan AI.

    LibGen sendiri dikenal sebagai “perpustakaan bayangan” yang menyediakan akses berbagi berkas untuk buku akademik dan umum, jurnal, gambar, dan materi lainnya.

    Baca selengkapnya di sini. 

  • Makin Mesra, Bos Meta Bertemu Donald Trump di Florida

    Makin Mesra, Bos Meta Bertemu Donald Trump di Florida

    Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan CEO Meta Mark Zuckerberg dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kian mesra. Keduanya dilaporkan bertemu di Mar-A-Lago Florida.

    Pertemuan itu dilaporkan oleh website Semafor yang mengutip seorang sumber. Namun, baik tim transisi Trump dan pihak Meta tidak langsung merespon permintaan berkomentar dari Reuters, dikutip Minggu (12/1/2025).

    Trump dan Zuckerberg bertemu jelang perubahan yang terjadi di Meta sebelum pelantikan Trump pada 20 Januari 2025. Meta baru-baru ini dilaporkan  telah menghapus program cek fakta di dalam platformnya, kebijakan paling drastis selama beberapa tahun terakhir.

    “Kami mencapai titik sehingga terlalu banyak kesalahan dan terlalu banyak sensor. Ini saatnya untuk balik ke akar yaitu kebebasan berekspresi,” kata Zuckerberg.

    Program cek fakta, di Instagram, Facebook hingga Threads akan diganti dengan sistem catatan komunitas, mirip seperti yang diterapkan media sosial X.

    Perubahan kebijakan baru berlaku untuk wilayah AS. Meta belum mengumumkan rencana melakukan hal serupa untuk pasar lain, termasuk Uni Eropa.

    Sebagai catatan, Uni Eropa memiliki aturan Digital Services Act yang berlaku mulai 2023. Di sana dituliskan kewajiban media sosial raksasa menangani konten ilegal dan yang menimbulkan risiko keamanan publik, perusahaan yang gagal akan didenda 6% pendapatan global.

    Trump menyambut baik perubahan kebijakan di Meta. Dia juga memuji Zuckerberg sebagai orang yang sangat mengesankan.

    Ucapan itu cukup berbeda beberapa waktu lalu, saat Trump mengancam memenjarakan Zuckerberg. Menurut Trump, perubahan kebijakan Meta kemungkinan karena merespon ancaman yang dilontarkan olehnya.

    “Mereka sudah berubah banyak, Meta. Orang itu [Zuckerberg] sangat mengesankan,” katanya.

    (hsy/hsy)

  • 7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.

    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.

    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     
    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.

    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.

    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.

    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.

    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.

    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.

    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.
     
    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.
     
    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     

    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.
     
    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.
     
    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.
     
    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.
     
    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.
     
    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.
     
    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (WAN)

  • Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg – Page 3

    Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg – Page 3

    Silverman, bersama penulis lainnya, menggugat Meta dan OpenAI atas pelanggaran hak cipta pada tahun 2023.

    Mereka menuduh perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan materi bajakan dari perpustakaan bayangan untuk melatih model AI mereka.

    Pengadilan sebelumnya menolak beberapa klaim mereka, tetapi para penggugat mengatakan bahwa pengaduan mereka yang telah direvisi mendukung tuduhan mereka dan menjawab alasan pengadilan sebelumnya untuk penolakan.

  • Meta Stop Pemeriksa Fakta, Koalisi: Lemahkan Perangi Hoaks

    Meta Stop Pemeriksa Fakta, Koalisi: Lemahkan Perangi Hoaks

    Jakarta, FORTUNE – Koalisi pemeriksa fakta terbesar di Indonesia, CekFakta.com terkejut dan kecewa atas kebijakan Meta baru-baru ini. Meta telah mengakhiri Program Pemeriksa Fakta Pihak Ketiga yang dimulai di Amerika Serikat (AS).

    Untuk diketahui, CekFakta.com sudah aktif terlibat dalam kegiatan pengecekan fakta di Asia Tenggara sejak tahun 2018 lalu.

    “Keputusan Meta untuk menghentikan program pemeriksaan fakta dengan pihak ketiga di Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampaknya terhadap komitmen Meta di negara lain, termasuk Indonesia,” kata Koordinator Koalisi CekFakta.com, Adi Marsiela lewat keterangan tertulis yang diterima Fortune Indonesia, Jumat (10/1) sore.

    Bisa lemahkan upaya perangi hoaks

    Menurut dia, kebijakan ini dapat melemahkan upaya memerangi penyebaran informasi palsu atau hoaks di platform Meta, terutama di negara-negara dengan tingkat literasi digital yang rendah. Kebijakan ini juga dapat memicu penyebaran hoaks dan propaganda secara masif, mengingat jangkauan pengguna yang sangat luas di Indonesia.

    Selain itu, lanjut Marsiela, mereka pun menyesalkan pernyataan CEO Meta, Mark Zuckerberg yang mengaitkan pengecekan fakta dengan bias politik dan penyensoran. Padahal pemeriksa fakta memiliki standar tertinggi dalam hal pelaporan yang tidak bias, transparansi, integritas, dan akuntabilitas.

    “Kami dipantau oleh publik dan secara teratur dinilai oleh badan independen seperti International Fact Checking Network,” tutur Marsiela.

    Menurut dia, Facebook dan Instagram memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyebaran misinformasi, termasuk di Indonesia. Per Desember 2024, pengguna Facebook di Indonesia mencapai setidaknya 174 juta, atau sekitar 63% dari total populasi Indonesia yang mencapai 275 juta jiwa. Selain itu, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 90,1 juta.

    “Angka-angka ini menunjukkan tanggung jawab besar yang dipegang Meta dalam memastikan platformnya tidak digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan,” kata Marsiela.

    Sementara itu, sejak 2018, program cek fakta oleh Koalisi CekFakta.com yang bekerja sama dengan platform digital telah menjadi langkah penting dalam memerangi misinformasi di Indonesia.

    Program ini melibatkan setidaknya 100 organisasi media, jurnalis, dan pemeriksa fakta independen yang berkomitmen untuk menjaga integritas informasi publik. Kehadiran program tersebut tak hanya membantu mengurangi penyebaran hoaks, tetapi juga meningkatkan literasi digital di masyarakat.

    “Koalisi CekFakta.com percaya bahwa penghentian ini dan penggantinya dengan Community Notes dan program moderasi konten lainnya yang berbasis algoritma, bukanlah solusi yang efektif dibandingkan dengan pengecekan fakta oleh media independen,” pungkas Marsiela.

    Desak Meta batalkan keputusannya

    Oleh karena itu, lebih lanjut dia, Koalisi CekFakta.com mendesak Meta untuk mengklarifikasi dampak dari perubahan kebijakan ini terhadap program pengecekan fakta di negara lain, membatalkan keputusannya dan menggandakan dukungan terhadap program-program pemeriksaan fakta di seluruh dunia, serta terlibat lebih sering dan secara substansial dengan para pemangku kepentingan penting dalam memerangi mis/disinformasi.

    “Kami percaya bahwa langkah proaktif Meta dalam mendukung program pemeriksaan fakta selama ini merupakan wujud nyata dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para penggunanya di seluruh dunia. Kami berharap Meta dapat mempertimbangkan kembali kebijakan ini dan terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga integritas informasi di platformnya, terutama di negara-negara dengan basis pengguna yang besar seperti Indonesia,” tutup Marsiela.