Tag: Mark

  • Kritik Keras Zuck untuk Ekosistem Apple: Tidak Ada Sistem Keamanan

    Kritik Keras Zuck untuk Ekosistem Apple: Tidak Ada Sistem Keamanan

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg melontarkan berbagai kritik keras untuk Apple, termasuk soal ekosistemnya yang sangat tertutup.

    Kritik keras ini dilontarkan Zuck dalam podcast Joe Rogan. Dalam podcast berdurasi tiga jam itu, Zuck berbicara banyak soal Apple, namun kritik terkerasnya dilontarkan untuk ekosistem tertutup yang dipakai oleh Apple untuk berbagai perangkatnya.

    Menurutnya, Apple menggunakan dalih keamanan dan privasi untuk melarang perangkat non Apple untuk masuk ke dalam ekosistem mereka. Salah satu contohnya adalah kacamata pintar bikinan Meta dan Ray-Ban, yang menurut Zuck sangat sulit untuk terintegrasi secara mulus dengan iPhone.

    “Mereka merasa tak aman karena tidak membangun sistem keamanan ke dalamnya. Dan kemudian mereka menggunakan justifikasi itu sebagai alasan kenapa hanya produk mereka yang bisa terhubung dengan mudah,” keluh Zuck.

    Padahal menurut Zuck, seandainya Meta bisa melewati aturan aneh Apple soal integrasi hardware itu, mereka bisa melipatgandakan keuntungannya, seperti dikutip detikINET dari Techspot.

    Namun Zuck sepenuhnya menyalahkan Apple, karena menurutnya sektor teknologi ini adalah sektor yang berkembang sangat cepat dan sangat dinamis. Zuck tampaknya meyakini kalau masalahnya bisa terpecahkan karena hal baru di sektor ini muncul dengan cepat.

    Selain soal ekosistem tertutup, Zuck juga mengkritik bahwa Apple sudah lama tak menemukan sesuatu yang hebat. Menurutnya, iPhone mungkin adalah salah satu temuan paling penting dalam sejarah.

    Namun kemudian Zuck menyebut Apple sudah lama tidak mempunyai temuan besar, yaitu sejak Steve Jobs membuat iPhone 20 tahun yang lalu.

    “Mereka tidak menemukan sesuatu yang hebat dalam waktu lama. Ini seperti Steve Jobs membuat iPhone, dan mereka hanya membiarkannya hingga 20 tahun kemudian,” kata Zuck.

    Ia pun menyebut hal ini membuat pengguna iPhone malas membeli iPhone baru, karena peningkatannya yang tak signifikan. Hal ini berdampak pada penjualan Apple, dan untuk menutupi penjualan yang melemah itu, Apple “memeras” konsumen dan pengembang pihak ketiga.

    “Mereka melakukan itu pada dasarnya dengan memeras orang…menetapkan pajak 30% ke pengembang dan memaksa anda untuk membeli aksesoris dan barang yang bisa masuk ke dalam (ekosistem)-nya,” keluh Zuck.

    (asj/afr)

  • Penjualan iPhone di China Turun Tajam pada Desember 2024, Apa Penyebab Utamanya? – Page 3

    Penjualan iPhone di China Turun Tajam pada Desember 2024, Apa Penyebab Utamanya? – Page 3

    iPhone SE 4 semakin ramai jadi perbincangan di internet. Kabar terkini menyebutkan, Apple akan merilis iPhone SE ini dalam waktu dekat, bersamaan dengan iPad 11.

    Informasi iPhone SE 4 dan iPad 11 ini diungkap oleh Mark Gurman dari Bloomberg melalui postingan di media sosial X (Twitter). Menurutnya, peluncuran dua produk ini dijadwalkan pada April 2025.

    Namun, Mark juga membantah rumor iPhone SE 4 dan iPad 11 akan langsung dilengkapi dengan iOS 18.3 dan iPadOS 18.3 saat peluncurannya.

    Bocoran Spesifikasi iPhone SE 4

    Sebagai lini HP terjangkau Apple, iPhones Se 4 disebut-sebut akan membawa peningkatan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya.

    Kabarnya, spesifikasi iPhone SE 4 akan ditengah oleh chipset A18 dan RAM 8GB, mendukung fitur Apple Intelligence. Ponsel ini juga dilengkapi dengan layar OLED 6,1 inci, dan refresh rate 60Hz.

    Dalam hal fotografi, Apple sudah menyematkan kamera utama 48MP dan kamera selfie 12MP di generasi baru iPhone SE tersebut. Dari segi desain, HP ini diyakini mengadopsi bodi mirip iPhone 14, lengkap degan notch untuk tempat sensor Face ID.

    Menariknya, iPhone SE 4 disebut-sebut bakal menjadi ponsel pertama Apple yang menggunakan chipset modem buatan mereka sendiri, menggantikan modem dari Qualcomm.

    Berapa Harga iPhone SE 4?

    Menurut bocoran dari Lanzuk yang diambil dari operator seluler di Jepang, harga iPhone SE 4 dibanderol mulai dari dari USD 500 atau sekitar Rp 8 jutaan.

    Sebagai perbandingan, iPhone SE generasi sebelumnya dijual seharga USD 429 (Rp 6,9 jutaan). Meski ada kenaikan harga, peningkatan spesifikasinya diyakini akan membuatnya tetap diminati fans Apple.

  • Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

    Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

    Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

  • Lama Nggak Bikin Sesuatu yang Hebat

    Lama Nggak Bikin Sesuatu yang Hebat

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg mengeluarkan komentar pedas untuk Apple. Ia menyebut produsen iPhone itu sudah tidak inovatif dalam beberapa tahun belakangan.

    Komentar itu diutarakan Zuckerberg saat berbicara di podcast Joe Rogan. Dalam podcast berdurasi hampir tiga jam itu, Zuckerberg menyinggung banyak hal mulai dari iPhone, AirPods, App Store, hingga Vision Pro.

    “Di satu sisi, iPhone sangat hebat karena sekarang hampir semua orang di seluruh dunia memiliki ponsel dan itu yang memungkinkan hal-hal luar biasa,” kata Zuckerberg, seperti dikutip dari CNBC, Senin (13/1/2025).

    “Di sisi lain, mereka menggunakan platform itu untuk menetapkan banyak aturan yang menurut saya sewenang-wenang dan saya rasa mereka sudah lama tidak menciptakan sesuatu yang hebat,” sambungnya.

    Menurut Zuckerberg saat ini penjualan iPhone sedang menurun karena konsumen menunggu lebih lama untuk upgrade ponselnya karena model baru tidak membawa banyak peningkatan yang signifikan.

    App Store, toko aplikasi utama di iPhone, juga jadi sasaran kritik Zuckerberg. “Cara mereka melakukannya di toko (aplikasi) Apple di mana mereka mengenakan komisi 30%, itu tampak sangat gila mereka bisa lolos begitu saja,” ujar Zuckerberg.

    Zuckerberg juga menyinggung AirPods, yang menurutnya sangat hebat, tapi hanya bisa terhubung secara seamless ke iPhone karena menggunakan protokol khusus. Menurutnya, jika Apple mau membuka protokolnya ke perusahaan lain, akan ada earbuds yang lebih baik ketimbang AirPods.

    Pria berusia 40 tahun ini turut menyindir Vision Pro, produk terbaru Apple yang bersaing langsung dengan headset Quest milik Meta. Ia awalnya memuji Vision Pro sebagai produk Apple paling inovatif dalam beberapa tahun terakhir, namun generasi pertamanya memiliki banyak masalah.

    “Saya tidak ingin terlalu mempermasalahkannya karena kami melakukan banyak hal di mana versi pertamanya tidak begitu bagus, dan Anda ingin menilainya di versi ketiganya. Namun menurut saya, V1, jelas tidak berhasil,” pungkasnya.

    (vmp/vmp)

  • Bos Epic Games Sindir Apple dan Google yang Dekati Donald Trump

    Bos Epic Games Sindir Apple dan Google yang Dekati Donald Trump

    Jakarta

    CEO Epic Games Tim Sweeney menyindir bos-bos perusahaan teknologi besar yang menjilat Presiden AS Terpilih Donald Trump.

    Menurut Sweeney, para bos perusahaan teknologi itu mendekati Trump untuk memuluskan langkah perusahaan yang mereka pimpin, utamanya untuk mempengaruhi undang-undang anti kompetitif.

    “Setelah bertahun-tahun berpura-pura jadi pendukung Partai Demokrat, pemimpin Big Tech kini berpura-pura menjadi pendukung Partai Republik, dengan harapan bisa diuntungkan oleh pemerintahan yang baru,” tulis Sweeney di akun X-nya.

    Sindiran pedas ini tentu ditujukan untuk beberapa perusahaan teknologi besar, seperti Apple dan Google, yang masing-masing mendonasikan USD 1 juta untuk acara pelantikan Trump.

    Bahkan CEO Apple Tim Cook ikut menyumbang secara pribadi, dan ia memang dikenal punya hubungan dekat dengan Trump, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (13/1/2025).

    “Waspadalah terhadap kampanye monopoli licik untuk menghancurkan aturan persaingan usaha karena mereka menipu konsumen dan menghancurkan pesaingnya,” tambah Sweeney.

    Seperti diketahui, Epic Games memang punya masalah dengan Apple dan Google terkait distribusi software mereka. Sejak lama Sweeney selalu menggaungkan opsi penjualan game di Android dan iOS yang terpisah dari App Store dan Google Play.

    Tujuannya agar terlepas dari “pajak” yang diterapkan di dua platform itu, termasuk sistem pembayaran yang dipakai di App Store maupun Google Play. Menurutnya, sistem yang ada saat ini memonopoli pasar software mobile.

    Tak cuma Apple dan Google yang mendekati Trump menjelang pelantikannya itu. Amazon dan Meta juga ikut menyumbang untuk acara inagurasi Trump. Bahkan, CEO Meta Mark Zuckerberg mengambil langkah lebih jauh, yaitu melonggarkan aturan moderasi konten di Facebook, sama seperti yang dilakukan X sejak jauh hari.

    Pada Desember lalu, Trump juga menyebut banyak perubahan sikap dari berbagai pihak. Dari yang sebelumnya menjadi lawan, kini menjadi kawan.

    “Pada periode pertama, semuanya melawan saya. Pada periode ini semuanya ingin menjadi teman saya,” kata Trump.

    (asj/asj)

  • Zuckerberg Ingin Meta Lebih Maskulin

    Zuckerberg Ingin Meta Lebih Maskulin

    Jakarta

    Berbagai perusahaan di Amerika Serikat menerapkan program diversitas dan kesetaraan untuk mewadahi semua kalangan. Akan tetapi CEO Meta Mark Zuckerberg tampaknya sudah muak dengan elemen-elemen yang menurutnya ‘dikebiri secara budaya’ dan ingin lebih merangkul energi maskulin.

    “Mengatakan kami ingin ramah dan menciptakan lingkungan yang baik untuk semua orang adalah satu hal, tapi saya pikir mengatakan bahwa maskulinitas itu buruk adalah hal lain, dan saya pikir secara budaya kita telah beralih ke spektrum itu,” kata Zuck dalam wawancara baru-baru ini dengan Joe Rogan.

    Zuckerberg, yang tumbuh hanya dengan saudara perempuan dan sekarang hanya memiliki anak perempuan, mengatakan pada Rogan bahwa ia ingin wanita sukses, tapi tidak menganggap maskulinitas dikategorikan sebagai racun agar hal itu terjadi.

    Ia menilai seni bela diri yang digelutinya membuat hatinya berubah dalam hal maskulinitas. Melakukan sesuatu dengan teman-teman prianya di mana mereka saling mengalahkan jadi pengalaman positif. “Saya pikir memiliki budaya yang lebih merayakan agresi punya kelebihannya sendiri yang sangat positif,” imbuhnya.

    Meta dilaporkan mengakhiri program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. “Istilah ini dipahami sebagian orang sebagai praktik yang menunjukkan perlakuan istimewa terhadap beberapa kelompok daripada yang lain,” tulis Meta’s vice president of human resources, Janelle Gale.

    Perombakan kebijakan Meta mencakup perintah menyingkirkan tampon dari toilet pria. Meta juga mengumumkan berakhirnya kebijakan pengecekan fakta. “Sudah waktunya kembali ke akar kebebasan berekspresi di Facebook dan Instagram,” ujar Zuck.

    Pemeriksa fakta akan digantikan oleh Catatan Komunitas yang mirip dengan X. Zuck mengakui meskipun telah mencoba dengan itikad baik untuk menangani masalah tentang misinformasi, ada terlalu banyak penyensoran.

    Menurutnya, pemeriksa fakta karena terlalu bias secara politik. Selain itu, Meta dilaporkan akan menghapus tema kustomisasi transgender dan nonbiner dari aplikasi Messenger-nya dan akan mengubah kebijakan untuk mengizinkan kritik terhadap identitas gender.

    (fyk/fay)

  • Chat WhatsApp Warga RI Bisa Dibaca CIA, Ini Pengakuan CEO Zuckerberg

    Chat WhatsApp Warga RI Bisa Dibaca CIA, Ini Pengakuan CEO Zuckerberg

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Meta Mark Zuckerberg mengungkapkan bahwa chat WhatsApp di HP pengguna bisa dibaca oleh pihak ketiga termasuk badan intelijen seperti CIA. Oleh karena itu, WhatsApp menyediakan fitur hapus otomatis agar chat di HP pengguna tidak bisa diintip.

    Fakta baru soal WhatsApp diungkapkan oleh Zuckerberg dalam wawancara di seri podcast The Joe Rogan Experience. Sebagai CEO Meta, Zuckerberg mengelola platform media sosial Instagram, Facebook, WhatsApp dan Threads.

    Zuckerberg mengatakan fitur end-to-end encryption yang ada di WhatsApp bertujuan agar WhatsApp, sebagai perusahaan penyedia layanan chat, tidak bisa membaca pesan yang dikirim oleh penggunanya.

    “Cara enkripsi bekerja adalah membuat perusahaan yang mengelola layanan tak bisa melihatnya,” katanya.

    Namun, fitur tersebut tidak bisa melindungi data dan chat yang tersimpan di HP tiap pengguna WhatsApp, termasuk di RI. Oleh karena itu, badan intelijen dan hacker fokus untuk memanfaatkan celah yang ada di HP.

    Caranya adalah memanfaatkan perangkat spyware untuk mengakses isi HP penggunanya. Salah satunya adalah sypware Pegasus buatan Israel yang terkenal karena digunakan untuk membobol iPhone milik pejabat pemerintah di seluruh dunia.

    Spyware seperti Pegasus bisa membaca chat, melihat foto, hingga mengakses data panggilan telepon tanpa harus “mencegat” komunikasi antara dua perangkat lewat internet.

    Risiko ini yang mendorong WhatsApp untuk memperkenalkan fitur “hapus otomatis” atau “pesan menghilang” (disappearing message) di WhatsApp.

    Fitur ini secara otomatis menghapus chat dalam bentuk teks, foto, dan video di WhatsApp setelah jangka waktu tertentu.

    “Membuat [chat] terenkripsi dan menghilang adalah standar baik untuk keamanan dan privasi,” kata Zuckerberg.

    (dem/dem)

  • Mark Zuckerberg Kritik Apple yang Dianggap Mandek Inovasi, Tapi Meta Hadapi Tuduhan Serupa

    Mark Zuckerberg Kritik Apple yang Dianggap Mandek Inovasi, Tapi Meta Hadapi Tuduhan Serupa

    JAKARTA – Dalam wawancara dengan Joe Rogan, CEO Meta Mark Zuckerberg melontarkan kritik tajam kepada Apple, menuduh perusahaan tersebut berhenti berinovasi sejak peluncuran iPhone dua dekade lalu. Namun, kritik ini justru memunculkan kembali tuduhan bahwa Meta juga mengalami stagnasi dalam pengembangan produknya, terutama Facebook.

    Zuckerberg menyampaikan pandangan beragam tentang pengaruh Apple, memuji kesuksesan iPhone, tetapi juga mengkritik perusahaan itu karena terlalu bergantung pada produk tersebut sebagai inti inovasinya.

    Dia juga menyerang praktik bisnis Apple, khususnya “Apple tax,” istilah yang mengacu pada komisi 30% yang dikenakan Apple kepada pengembang aplikasi untuk setiap transaksi di platformnya. Zuckerberg mengklaim bahwa biaya ini menghambat inovasi bisnis dan menyebutkan bahwa Meta dapat menggandakan keuntungannya jika tidak ada kebijakan tersebut.

    Zuckerberg membandingkan perangkat Vision Pro dari Apple dengan perangkat keras Meta, seperti Meta Quest. Menurutnya, meskipun Vision Pro memiliki layar yang unggul untuk menonton film, perangkat tersebut kalah dalam aspek interaktivitas dan gaming, yang menjadi kekuatan Meta Quest. Namun, Zuckerberg mengabaikan kemampuan Vision Pro sebagai alat produktivitas, area yang belum dapat ditandingi perangkat Meta.

    Tantangan Internal Meta

    Kritik terhadap Apple ini memunculkan ironi, mengingat Meta sendiri juga dituding mandek inovasi. Sejak rebranding menjadi Meta dan berinvestasi besar-besaran di metaverse, Facebook tetap menjadi penggerak utama pendapatan perusahaan.

    Meta juga dikenal sering meniru fitur dari kompetitornya. Mulai dari Stories milik Snapchat, video pendek ala TikTok, hingga Threads yang meniru Twitter, semua ini memperkuat tuduhan bahwa Meta lebih sering mereplikasi daripada berinovasi.

    Apple dan Meta sudah lama berseteru soal privasi pengguna. Kebijakan App Tracking Transparency (ATT) yang diperkenalkan Apple berdampak besar pada pendapatan iklan Meta, memperburuk hubungan kedua perusahaan.

    Kritik Zuckerberg terhadap pendekatan privasi Apple muncul di tengah kontroversi kebijakan Meta sendiri, seperti keputusan untuk menghentikan fact-checking dan melonggarkan aturan moderasi konten. Kebijakan baru yang membolehkan ujaran kebencian terhadap komunitas LGBTQ+ dengan dalih “kebebasan berpendapat” menuai kecaman luas.

    Keputusan Meta ini dianggap sebagai upaya mendekati Presiden AS terpilih Donald Trump, mengingat banyak kebijakan baru Meta sejalan dengan retorika Trump dan partainya. Akibatnya, banyak karyawan Meta mengundurkan diri, dan pencarian Google terkait “cara keluar dari Facebook” meningkat hingga 5.000%.

    Perseteruan antara Apple dan Meta mencerminkan ketegangan yang lebih luas di industri teknologi besar. Dengan pengawasan ketat regulator, strategi masing-masing perusahaan—Apple dengan fokus pada privasi dan Meta dengan deregulasi serta kebebasan berpendapat—dapat membentuk masa depan mereka di tengah perubahan lanskap teknologi.

    Sementara Zuckerberg terus menyerang Apple, pertanyaan besar tetap ada: apakah Meta mampu berinovasi lebih jauh dari platform warisannya, atau justru akan terjebak dalam pola yang sama? Upaya Meta untuk mendominasi metaverse masih menjadi pertaruhan besar yang hasilnya belum jelas.

  • Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Tak Mungkin Bisa Dibobol, Kecuali…

    Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Tak Mungkin Bisa Dibobol, Kecuali…

    Bisnis.com, JAKARTA – CEO META Mark Zuckerberg mengatakan bahwa WhatsApp (WA) merupakan aplikasi saling kirim pesan yang paling aman digunakan di dunia.

    Pesan dan data yang saling dikirimkan pengguna dalam WhatsApp tak mungkin bisa diakses dan dibobol secara mudah.

    Hal ini dikarenakan adanya enkripsi yang melindungi pesan seseorang bisa terbaca oleh orang lain. Bahkan Meta sendiri tak memiliki akses terhadap semua pesan yang dikirimkan pengguna.

    “Karena ada enkripsi di dalamnya, tidak ada (pesan) di dalamnya. Mereka tidak bisa membobol Meta dan mengakses pesan Anda,” kata Mark Zuckerberg dalam podcast The Joe Rogan Experience yang dikutip dari Youtube PowerfulJRE, Senin (13/1/2025).

    Enkripsi merupakan layanan keamanan yang membuat pesan dan data di dalamnya tak bisa dilihat oleh siapapun, bahkan perusahaan pembuatnya.

    “Yang dilakukan enkripsi adalah membuat perusahaan yang menjalankan layanan tidak melihatnya. Ketika aku mengirim pesan melalui WhatsApp, tidak mungkin server Meta melihat konten di dalam pesan tersebut. Kecuali kamu memfotonya, atau mengirim kembali pesan tersebut kepada Meta atau sebaliknya,” lanjut Zuckerberg. .

    Namun enkripsi tersebut tidak berlaku, dan tak bisa melindungi WhatsApp pengguna, apabila terhadap pihak yang membobol menggunakan spyware.

    Pihak-pihak seperti CIA dan FBI bisa langsung melihat isi pesan dan data pengguna secara langsung karena enkripsi tidak berfungsi.

    Enkripsi tersebut dibobol menggunakan spyware seperti Pegasus, yang disematkan di dalam ponsel seseorang.

    Pegasus dapat membaca pesan terenkripsi, foto, data penting, hingga mengakses log panggilan tanpa menyadap komunikasi di jalan.

    “Bila FPI menangkap anda dan meminta ponsel anda, mereka mungkin bisa masuk dan melihat (pesan) yang ada di sana (WhatsApp),” jelas Mark.

    WhatsApp sendiri telah menyiapkan fitur yang bisa digunakan pengguna untuk menghindari hal-hal semacam itu.

    Fitur tersebut yakni Disappearing Messages yang memungkinkan seseorang melindungi privasinya dari pembajakan.

    Zuckerberg menilai bahwa fitur ini menjadi langkah keamanan yang efektif bagi pengguna.

    “Memiliki enkripsi dan disappearing messages merupakan standar keamanan dan privasi yang cukup bagus,” pungkasnya.

  • Mark Zuckerberg Sebut CIA Bisa Akses WhatsApp Pengguna, Termasuk Indonesia?

    Mark Zuckerberg Sebut CIA Bisa Akses WhatsApp Pengguna, Termasuk Indonesia?

    Bisnis.com, JAKARTA – Pemilik META Mark Zuckerberg mengatakan bahwa aplikasi WhatsApp (WA) bisa diakses oleh Central Intelligence Agency (CIA).

    Hal ini diungkapkannya saat berbincang dalam podcast The Joe Rogan Experience pada Jumat (10/1/2025).

    CIA bisa membaca pesan dalam WhatsApp dengan cara mengakses secara fisik ponsel pengguna. Bila hal ini dilakukan, maka enkripsi end-to-end tak lagi berlaku.

    “Yang dilakukan enkripsi adalah membuat perusahaan yang menjalankan layanan tidak melihatnya,” kata Zuckerberg, dikutip dari Youtube PowerfulJRE, Senin (13/1/2025).

    Lebih lanjut Zuckerberg menjelaskan, seseorang yang membobol Meta tetap tak bisa mengakses pesan dan data seorang pengguna.

    “Ketika aku mengirim pesan melalui WhatsApp, tidak mungkin server Meta melihat konten di dalam pesan tersebut. Kecuali kamu memfotonya, atau mengirim kembali pesan tersebut kepada Meta atau sebaliknya,” lanjut Zuckerberg memberikan penjelasan.

    Dengan enkripsi, Meta sendiri tidak bisa melihat seluruh pesan yang saling dikirimkan oleh pengguna.

    “Karena ada enkripsi di dalamnya, tidak ada (pesan) di dalamnya. Mereka tidak bisa membobol Meta dan mengakses pesan Anda,”

    Namun untuk CIA, petugas bisa langsung melihat isi pesan dan data pengguna secara langsung karena enkripsi tidak berfungsi.

    Enkripsi tersebut bisa dibobol menggunakan spyware seperti Pegasus, yang disematkan di dalam ponsel seseorang.

    Pegasus dapat membaca pesan terenkripsi, foto, data penting, hingga mengakses log panggilan tanpa menyadap komunikasi di jalan.

    “Bila FPI menangkap anda dan meminta ponsel anda, mereka mungkin bisa masuk dan melihat (pesan) yang ada di sana (WhatsApp),” jelas Mark.

    WhatsApp sendiri telah menyiapkan fitur yang bisa digunakan pengguna untuk menghindari hal-hal semacam itu.

    Fitur tersebut yakni Disappearing Messages yang memungkinkan seseorang melindungi privasinya dari pembajakan.

    Zuckerberg menilai bahwa fitur ini menjadi langkah keamanan yang efektif bagi pengguna.

    “Memiliki enkripsi dan disappearing messages merupakan standar keamanan dan privasi yang cukup bagus. Ini adalah fitur yang bagus,” pungkasnya.

    Ia pun menekankan bahwa WhatsApp adalah salah satu aplikasi perpesanan yang sangat terjamin keamanannya.